• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan akhir - Repository UNISBA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "laporan akhir - Repository UNISBA"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

Oleh karena itu, tanggung jawab di tingkat internal OPZ dapat dipahami sebagai tanggung jawab kepala penyalur zakat kepada pengurus OPZ. Perilaku pengelola penyalur zakat dapat diwakili oleh orientasi pengelola penyalur zakat terhadap nilai-nilai ekonomi sosial ekonomi, sedangkan perilaku pengelolanya. Laporan keuangan OPZ khususnya laporan sumber dan penggunaan dana zakat merupakan cerminan dari tindakan kepala penyalur zakat.

Akuntabilitas dan Pelaporan pada Organisasi Pengelola Zakat

Pendekatan top down lebih mengakomodasi keinginan manajemen OPZ, sedangkan pendekatan button up lebih mengakomodasi keinginan level manajemen di bawahnya. Apabila manajemen tingkat bawah lebih terlibat khususnya fungsi penyaluran zakat, maka informasi mengenai kebutuhan mustahiq di daerah sebagai aspek daya tarik utama akan lebih teradaptasi dan akurat. Jika pendekatan top-down digunakan, maka postulat kelangsungan usaha dapat terpenuhi, biaya operasional dan pengelolaan akan lebih rendah, dan anggaran akan disiapkan kemudian, namun kebutuhan mustahiq akan kurang terpenuhi.

Muzakki

Secara hukum, mereka tidak berhak menuntut atas uang zakat yang mereka serahkan, bahkan mereka tidak mengharapkan imbalan sama sekali dalam bentuk dividen atau imbalan lainnya. Mereka semua mengeluarkan uang zakat dengan harapan mendapatkan imbalan berupa keberkahan Tuhan yang tidak berwujud. Meskipun mereka tidak mempunyai hak kepemilikan atas dana zakat yang diberikan kepada OPZ, namun mereka mempunyai hak moral untuk memperoleh informasi dari pengurus OPZ apakah dana zakat telah disalurkan kepada yang berhak.

Dewan Penasehat

Menurut Haniff (2002), format akuntansi Islam harus memasukkan aspek sosial ekonomi dan menjamin terciptanya keadilan sosial dan kesejahteraan di dunia dan akhirat. Bentuk tanggung jawab pengurus OPZ kepada dewan pembina tidak hanya sebatas laporan kuantitatif, namun juga laporan kualitatif. Laporan ini dapat berupa laporan pencapaian program-program kualitatif yang telah ditetapkan sebelumnya, atau dapat dikatakan manajemen siap melaksanakan program (tujuan) yang ditetapkan sesuai dengan keinginan syariat Islam. (syariah) diwakili oleh dewan penasehat.

Tuhan

Orientasi Pengurus OPZ Pada Nilai Sosial Ekonomi Pemanfaatan Zakat

Karena besaran dana tersebut harus disesuaikan dengan tujuan yang ada, maka orientasinya secara konvensional (behavioral) dapat tercermin pada proporsi pengalokasian dana zakat pada setiap mustahiq zakat. Tren perilaku penyaluran dana zakat di atas tidak lepas dari kuatnya pengaruh pikiran dan emosi yang berperan dalam diri pengelola bidang penyaluran zakat akibat interaksi dengan pengelola OPZ dan informasi dari lingkungan sekitar. Aspek pemikiran dana emosional tersebut terwakili dalam sikap dan sikap kepala bagian penyaluran zakat yang diuraikan di bawah ini.

Sikap Pengurus OPZ Pada Nilai Sosial Ekonomi Pemanfaatan Zakat

Oleh karena itu, daya tarik dapat diartikan suka atau tidak sukanya seseorang bagian penyaluran zakat terhadap pengelola OPZ karena persepsinya bahwa hubungan pelanggan yang menjadi sumber tanggung jawabnya mempunyai sikap yang sama dengannya dalam hal tujuan. dan tujuan. pendistribusian zakat. Persepsi tersebut merupakan kesamaan relasional yaitu semakin besar proporsi kesamaan sikap terhadap penyaluran zakat yang dimiliki seorang manajer dengan kepala bagian pendistribusian zakat, maka kepala bagian pendistribusian zakat akan semakin disukai oleh manajernya. Saling menilai positif menunjukkan derajat keberpihakan antara pengurus dengan kepala penyalur zakat berdasarkan sejauh mana penilaian positif yang diberikan pengurus kepada kepala bagian penyalur zakat, yang meliputi hal-hal sebagai berikut.

Kebijakan Pimpinan

Budaya Organisasi

  • Pengertian Budaya Organisasi
  • Fungsi Budaya Organisasi
  • Manfaat Budaya Organisasi
  • Karakteristik Budaya Organisasi

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi adalah seperangkat nilai, keyakinan, praktik yang menciptakan pemahaman bersama di antara anggota organisasi. Budaya organisasi merupakan seperangkat nilai dan norma yang mengatur interaksi antara anggota dan anggota suatu organisasi dengan orang-orang di luar lingkungan organisasi. Di sisi lain, Hodge, Anthony dan Gales dalam Nani Imaniyati mendefinisikan budaya organisasi sebagai konstruksi dari dua tingkat karakteristik, yaitu karakteristik organisasi yang terlihat dan tidak terlihat.

Pada tingkat yang tidak dapat diobservasi, budaya organisasi mencakup nilai-nilai, norma, keyakinan, dan asumsi bersama para anggota organisasi untuk menghadapi permasalahan dan kondisi sekitar. Budaya organisasi juga dianggap sebagai alat untuk menentukan arah organisasi, menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta bagaimana caranya. Peran budaya organisasi sebagai alat untuk menentukan arah organisasi, menentukan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, bagaimana mengalokasikan dan mengelola sumber daya organisasi, dan sebagai alat untuk menghadapi permasalahan dan peluang internal serta tingkat eksternal. . lingkungan.

Strategi ini membantu menjaga lingkungan kerja yang positif dalam menghadapi kesulitan dengan meningkatkan stabilitas melalui budaya organisasi. Budaya organisasi tidak hanya menentukan bagaimana karyawan berperilaku, tetapi juga bagaimana organisasi berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hubungan ini budaya organisasi mempunyai manfaat yang tinggi, karena rasa hormat terhadap pelanggan merupakan salah satu indikator bahwa budaya organisasi telah berjalan dengan baik.

Dari pengertian budaya organisasi yang telah disampaikan, belum jelas ada ciri-ciri yang dapat diukur secara konkrit.

Kerangka Pemikiran

Kedua definisi di atas dipecah menjadi suatu nilai yang dicari oleh zakat dan oleh karena itu menjadi tujuan sosio-ekonomi dari pendistribusian zakat. Pihak-pihak yang diperbolehkan menerima zakat berdasarkan syariah (hukum Islam) terdiri dari delapan kelompok atau asnaf yang menjadi sasaran sosial ekonomi pendistribusian zakat. Ketepatan dalam membelanjakan uang sesuai dengan tujuan sosial ekonomi dan sasaran penyaluran zakat merupakan aspek penting akuntabilitas OPZ dalam hal penggunaan dana zakat.

Perilaku penyaluran zakat merupakan proses internal yang terjadi tidak hanya sebagai hasil pengolahan struktur kognitif internal, namun juga akibat interaksi akuntabilitas eksternal dengan pimpinan OPZ. Sebaliknya kecenderungan untuk menghindari atau mendekatinya, atau suka atau tidak suka, yang disebabkan oleh adanya kepentingan dan tanggung jawab pendistribusian zakat kepada pemimpinnya, yang disiapkan oleh pemimpin pendistribusian. zakat mempunyai sikap yang sama. terhadap nilai-nilai sosial ekonomi seperti dirinya, dipandang sebagai variabel yang menarik. Ketertarikan yang bernilai sosial ekonomi ini diukur melalui proporsi sikap serupa yang terjadi serta penilaian positif yang diberikan pimpinan kepada pimpinan penyalur zakat.

Kemudian orientasi pengurus OPZ mengenai nilai sosial ekonomi penggunaan zakat dalam penyaluran dana zakat lembaga merupakan hasil interaksi antara sikap dan ketertarikan kepala pendistribusian zakat dengan keputusan pendistribusian zakat yang dikeluarkan oleh OPZ. kepemimpinan, jadi dua variabel harus berhubungan. Kedua, perilaku kepala penyalur dalam penyaluran dana zakat tidak mempunyai nilai sosial ekonomi yaitu karena adanya perbedaan sikap maka nilai hubungannya akan kecil dan mendekati nol. Ketiga, kebijakan pimpinan mempunyai nilai sosial ekonomi dan perilaku pendistribusian zakat kepala bagian justru mempunyai nilai sosial ekonomi, dimana nilai numerik hubungannya akan besar.

Keempat, kebijakan manajemen pada kenyataannya tidak memiliki nilai sosio-ekonomi, dan perilaku pendistribusian zakat yang dilakukan manajer bagian juga tidak memiliki nilai sosio-ekonomi, sehingga hubungannya akan memiliki nilai numerik yang besar.

Tujuan Penelitian

  • Manfaat Operasional
  • Manfaat Pengembangan Ilmu

Disajikan dalam media publikasi (jurnal internasional) dan media seminar (prosiding) dalam rangka mendiseminasikan hasil penelitian ini baik kepada civitas akademika maupun masyarakat umum. Dengan menguji model perilaku Orientasi Manajemen dan Kebijakan Kepemimpinan terhadap nilai sosio-ekonomi pendayagunaan Zakat yang dibangun dari tiga pilar yaitu sikap, daya tarik sosial dan budaya organisasi serta manajemen kualitas total. Hal ini dapat dijadikan sebagai ujian untuk memastikan bahwa model perilaku orientasi manajemen dan kebijakan kepemimpinan terhadap nilai-nilai sosial ekonomi untuk pemanfaatan zakat secara efektif harus dibangun dengan tiga pilar, yaitu sikap dan daya tarik para amil (manajemen) dan penerapan budaya organisasi untuk meningkatkan kinerja organisasi pengelola zakat (OPZ).

Bagi dunia akademis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada aspek teoritis (ilmiah), yaitu bagi pengembangan ilmu akuntansi pada khususnya.

METODE PENELITIAN

Metode Penelitian Yang Digunakan

Variabel Penelitian dan Operasionalisasi Variabel

Mendorong unsur pimpinan untuk mengawasi pekerjaan bawahan. 28 Mendorong tingkat loyalitas pegawai terhadap atasan dan perusahaan.

Tahap Penelitian

Group Discuss

Desain Draf Model

Saresehan

Monitoring dan evaluating

  • Populasi dan Target Populasi
  • Hasil Penelitian
    • Sikap Pengurus Organisasi Pengelola Zakat
    • Atraksi Pengurus Organisasi Pengelola Zakat
    • Orientasi Pengurus Organisasi Pengelola Zakat
  • Pembahasan Hasil Penelitian
  • Forum Group Discussion, Saresehan dan Wawancara
  • Keluaran Penelitian Yang Dihasilkan

Berikut hasil kategorisasi rata-rata skor jawaban responden dimensi individu variabel sikap pengurus OPZ. Terlihat dari tabel 4.5 hasil perhitungan grand average score jawaban responden tentang sikap pengelola OPZ sebesar 7,62 dan terletak pada interval 5,5 – 7,75. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa sikap para pengurus OPZ pada sebagian besar Organisasi Penyalur Zakat (Organisasi Penyalur Zakat) di Kota, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi cukup positif.

Berikut hasil kategorisasi rata-rata skor jawaban responden setiap dimensi variabel daya tarik pengelolaan OPZ. Terlihat dari Tabel 4.6 bahwa hasil perhitungan grand mean score jawaban responden mengenai aspek menarik dalam pengelolaan OPZ adalah 7,08 dan berada pada interval 5,5 – 7,75. Orientasi pengurus OPZ di Organisasi Penyalur Zakat Kota, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi akan terungkap melalui tanggapan responden terhadap pernyataan yang disampaikan dalam kuesioner.

Berikut hasil kategorisasi rata-rata skor jawaban responden pada masing-masing indikator pada variabel orientasi pengelolaan OPZ. Pada Tabel 5.8 terlihat hasil perhitungan grand mean score responden mengenai orientasi pengurus OPZ adalah 1,82 dan berada pada rentang 1 – 3,25. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa orientasi pengurus OPZ pada sebagian besar organisasi penyalur zakat di Kota, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi masih rendah.

Nilai yang diperoleh menunjukkan tingkat kesesuaian dimensi dalam pembentukan konstruk laten variabel sikap pengurus OPZ. Kedua variabel manifes yang diperoleh menunjukkan bahwa dimensi yang digunakan untuk mengukur penarikan pengurus OPZ valid dan reliabel dalam mencerminkan variabel kualitas laten penarikan pengurus OPZ. Variabel manifes mustahiq kelompok riqob menunjukkan bahwa variabel manifes mustahiq kelompok riqob tidak valid untuk mengukur orientasi pengurus OPZ.

RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA

Kesimpulan

Di antara ketiga variabel independen tersebut, daya tarik pengurus OPZ mempunyai pengaruh paling besar terhadap orientasi pengurus OPZ, sedangkan variabel budaya organisasi mempunyai pengaruh paling kecil terhadap orientasi pengurus OPZ di Organisasi Penyalur Zakat Bandung Raya. Sikap pengurus OPZ, daya tarik pengurus OPZ, budaya organisasi dan orientasi pengurus OPZ mempengaruhi kebijakan pengurus. Di antara keempat variabel independen tersebut, budaya organisasi mempunyai pengaruh paling besar terhadap kebijakan pengelolaan, sedangkan variabel budaya organisasi mempunyai pengaruh paling kecil terhadap kebijakan pengelolaan pada Organisasi Penyalur Zakat Bandung Raya.

Orientasi pengelolaan OPZ mempengaruhi kebijakan pengelolaan Organisasi Penyalur Zakat yang terdaftar di Organisasi Penyalur Zakat Bandung Raya.

Saran

Untuk variabel sikap pengurus OPZ terhadap nilai sosio-ekonomi penggunaan zakat, nilai yang masih dianggap kecil merupakan indikasi semakin meningkatnya jumlah penduduk miskin, artinya porsi zakat yang disalurkan tetap harus dinaikkan menjadi tingkat masyarakat miskin, karena memang porsi zakat bagi masyarakat miskin dalam arti langsung pasti mempunyai kedudukan yang sangat besar. Untuk variabel ketertarikan pengurus OPZ kepada pimpinan, indikator variabel yang masih mempunyai nilai kecil adalah evaluasi yang bersifat timbal balik positif.Untuk mengendalikan operasional OPZ maka harus dilakukan pengawasan baik secara fisik maupun sikap dari sumber daya manusianya. Untuk variabel budaya organisasi, indikator variabel ini yang masih mempunyai nilai kecil adalah Inovasi dan Pengambilan Resiko yang berarti bahwa organisasi pengelola zakat di Kota, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi masih perlu meningkatkan inovasi khususnya pada bidang merancang program pengumpulan dan pendistribusian zakat.

Untuk variabel orientasi pengelola OPZ terhadap nilai sosial ekonomi penggunaan zakat yang masih rendah pada kelompok mustahik, hal ini tentunya terutama disebabkan karena masih banyak OPZ yang belum atau tidak mempunyai visi dalam penyalurannya. dana zakat yang berkaitan dengan prioritas mustahik. Variabel kebijakan pengelolaan yang mempunyai nilai rendah adalah luas penyaluran, sehingga sebaiknya luas penyaluran diperluas baik dari segi program penyaluran maupun jumlah penerima manfaat. Pengaruh kompetensi manajer terhadap kualitas sistem informasi akuntansi manajemen dan konsekuensinya terhadap kualitas informasi akuntansi manajemen.

Dipresentasikan pada Seminar Nasional dan Call For Paper Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya Yogyakarta dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta, penelitian yang didanai oleh LPPM Unisba.

Referensi

Dokumen terkait

Legal Analysis of the Participation of the Prosecutor Agency in Eradication of Narcotics Crime Henry Elenmoris Tewernussa 448 of narcotics abuse, therefore law enforcement

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Lama Waktu Tunggu Pasien Bpjs Di Poli Umum Unit Rawat Jalan Rumah Sakit