• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan akhir - Universitas Hamzanwadi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "laporan akhir - Universitas Hamzanwadi"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

Permasalahan komunitas KNP dan KTBS berkaitan dengan perkembangan usaha kain tenun khas Sasak-Pringgasela yang dilakukan selama ini, seperti manajemen usaha/anggota, sasaran pemasaran, pemanfaatan teknologi, jaringan kerja dan tenaga sehingga masyarakat tidak fokus memasarkan hasil produksinya untuk bersaing dengan pasar daerah, nasional dan internasional. Akibatnya, para perajin kain tenun kehilangan mata pencaharian dan kondisi perekonomian keluarganya menjadi tidak stabil. Dalam kondisi ini, asisten dipanggil untuk membantu penenun menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Di sisi lain, program pendampingan ini dilakukan untuk membantu masyarakat perajin kain tenun Sasak-Pringgasela untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarganya. Kain tenun khas Sasak-Pringgasela ini dikembangkan secara turun temurun sejak zaman Kerajaan Selaparang atau sekitar abad ke-15.

Gambar 1: Struktur Organisasi (Pengurus) KNP dan KTBS
Gambar 1: Struktur Organisasi (Pengurus) KNP dan KTBS

Fokus Program Pengabdian

Tujuan dan Manfaat Pengabdian 1. Tujuan

Manfaat

Alasannya adalah: (a) melalui pengelolaan usaha yang baik di KNP dan KTBS dapat bertahan dalam kondisi apapun, (b) melalui pembinaan kelompok di KNP dan KTBS untuk memperkuat usaha yang dikembangkan secara berkelanjutan tanpa mengenal musim, dan (c) melalui pemanfaatan teknologi berbasis aplikasi memudahkan masyarakat TNK dan KTBS dalam mempromosikan dan memasarkan produk (produksi) tenunnya secara mandiri dan memiliki akses yang kuat ke luar daerah dan negara. Manfaat bantuan ini bagi masyarakat luas di luar komunitas perajin kain tenun Desa Pringgasela, yaitu: (1) meningkatkan kesadaran kritis masyarakat, baik dalam sistem budaya, sosial, politik, ekonomi, dan lain-lain, (2) bersikap kritis terhadap masyarakat. menganalisis dan mengkaji permasalahan perkembangan dari sudut pandang pengrajin kain tenun secara langsung berdasarkan kebijakan (peraturan) dalam pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah, (3) timbulnya rasa memiliki pada masyarakat pengrajin kain tenun dalam pengelolaan dan pemanfaatannya. dari sumber daya yang mereka miliki.

Sasaran yang Terlibat

Target

KNP dan KTBS memiliki jaringan dan agen kerja di seluruh wilayah Indonesia secara online.

KAJIAN TEORETIK

  • Tujuan Pemberdayaan
  • Tahapan pemberdayaan

Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat merupakan suatu cara yang digunakan untuk meningkatkan harga diri manusia, khususnya mereka yang tidak berdaya. Menurut Syafi'i (2005), tujuan pemberdayaan masyarakat adalah mewujudkan masyarakat atau membangun kemampuan untuk memajukan diri menuju kehidupan yang lebih baik secara seimbang. Pada tahap ini ada dua hal yang perlu dilakukan, yaitu retensi petugas (tenaga pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh pekerja masyarakat) dan persiapan lapangan yang pada intinya cenderung dilakukan secara non-direktif.

Dalam hal ini petugas harus berusaha mengidentifikasi masalah kebutuhan yang dirasakan (felt need) dan juga sumber daya yang tersedia pada klien. Pada tahap ini petugas sebagai agen perubahan (exchange agent) berusaha melibatkan warga secara partisipatif untuk memikirkan permasalahan yang mereka hadapi dan cara mengatasinya. Pada tahap ini agen perubahan membantu setiap kelompok untuk merumuskan dan menentukan program dan kegiatan apa yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada.

Upaya penerapan program pemberdayaan masyarakat sebagai kerangka diharapkan dapat menjaga keberlanjutan program yang telah dikembangkan. Kerja sama antara petugas dan masyarakat menjadi penting pada tahap ini, terkadang hal-hal yang direncanakan dengan baik justru menjadi tidak berjalan baik di lapangan. Evaluasi sebagai proses pengawasan warga dan aparat terhadap program pemberdayaan masyarakat yang sedang berjalan hendaknya dilakukan dengan melibatkan warga.

Diharapkan dalam jangka pendek dapat memberikan sistem pengawasan internal masyarakat dan dalam jangka panjang dapat membangun komunikasi masyarakat yang lebih terjalin dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.

Pengrajin

Aplikasi

Dalam konteks ini, program pendampingan masyarakat terhadap perajin kain tenun dilaksanakan agar tetap terjaga, berkelanjutan dan diwariskan kepada setiap generasi. Penelitian tindakan merupakan suatu proses spiral yang mencakup (1) perencanaan tindakan yang melibatkan penyelidikan yang cermat; (2) pelaksanaan tindakan; dan (3) menemukan fakta tentang hasil tindakan dan (3) menemukan makna baru dari pengalaman sosial (Lewin, 1947). Lebih lanjut Corey (1953) menjelaskan bahwa penelitian tindakan adalah suatu proses di mana kelompok sosial berusaha mempelajari permasalahan mereka secara ilmiah untuk memandu, meningkatkan dan mengevaluasi keputusan dan tindakan mereka.

Selain itu, penelitian tindakan merupakan upaya untuk berkontribusi, baik terhadap pemecahan masalah praktis atau terhadap tujuan ilmu-ilmu sosial itu sendiri, dengan berkolaborasi dalam hal-hal yang dapat diterima dalam kerangka etika (Hopkins, 1985). Dalam program penelitian tindakan ini, siklus kegiatannya terdiri dari kegiatan (desain), penyusunan rencana tindakan (action plan), pelaksanaan rencana tindakan (implementation), monitoring dan evaluasi. Hasil monitoring dan evaluasi kemudian disusun kembali kemudian rencana aksi dirumuskan kembali (re-plan), pelaksanaan, monitoring dan evaluasi dan terus dilakukan iterasi.

Implementasi Participatory Action Research (PAR) pada program pendampingan ini terdiri dari beberapa tahapan yang dilanjutkan dengan mengacu pada prinsip kerja PAR sebagai berikut. Mengorganisasikan ide-ide yang muncul untuk mencari kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan bersama-sama untuk menyelesaikan permasalahan dengan memperhatikan pengalaman masa lalu masyarakat (keberhasilan dan kegagalan). Merumuskan rencana aksi strategis untuk memecahkan masalah (menentukan apa, kapan, dimana dan siapa dan bagaimana).

Sepakati dengan masyarakat mengenai teknik atau strategi pelaksanaan program aksi dan skala prioritas berdasarkan permasalahan yang muncul.

Gambar 5: Alur Aktivitas Action Research (AR)
Gambar 5: Alur Aktivitas Action Research (AR)
  • Jumlah Penduduk
  • Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk Kabupaten Pringgasela pada tahun 2019 bekerja pada sektor pertanian, non pertanian, pemerintahan dan pekerja migran di luar negeri. Jumlah penduduk kabupaten Pringgasela pada tahun 2019 yang bekerja pada sektor pertanian dapat dilihat pada tabel berikut. Jumlah penduduk kabupaten Pringgasela pada tahun 2019 yang bekerja pada sektor non pertanian dapat dilihat pada tabel berikut.

Jumlah penduduk Kabupaten Pringgasela tahun 2019 yang bekerja sebagai TKI di luar negeri dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1: Jumlah Penduduk Kecamatan Pringgasela
Tabel 1: Jumlah Penduduk Kecamatan Pringgasela

Tahapan Pelaksanaan Pemberdayaan

  • Tahap I (Bulan Juni – Agustus 2020)
  • Tahap II (September – November 2020)

Pada tahap persiapan awal ini, pendamping terjun langsung dalam kehidupan masyarakat TNK dan KTBS untuk mengamati dan mengidentifikasi realitas sosial, seperti keluhan masyarakat. Tahap rencana aksi strategis; Mengorganisasikan ide-ide yang muncul untuk mencari peluang agar komunitas TNK dan KTBS dapat menyelesaikan permasalahan dengan memperhatikan pengalaman masyarakat di masa lalu. Tahapan aksi: Bersama KNP dan KTBS, masyarakat menyepakati teknik atau strategi pelaksanaan program aksi, serta skala prioritas berdasarkan permasalahan yang muncul.

Tahap evaluasi dan refleksi: Bersama komunitas TNK dan KTBS meninjau pencapaian program aksi, kekuatan dan kelemahan, peluang dan hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan program aksi yang telah dilaksanakan. Kegiatan ini menumbuhkan hubungan emosional yang erat antara komunitas TNP dan KTBS serta tim pendamping yang ditandai dengan adanya kesediaan untuk bersama-sama mendukung berbagai kegiatan. Kegiatan ini menghasilkan: (a) perumusan rencana aksi strategis masyarakat TNK dan KTBS; (b) rencana waktu dan rencana teknis pelaksanaan aksi strategis masyarakat TNK dan KTBS; (c) formula inventarisasi pihak peserta dan sumber daya komunitas TNK dan KTBS yang terlibat, (d) formula pembagian peran dan tugas (pemisahan peran) antar pihak peserta dan sumber daya komunitas TNK dan KTBS yang terlibat.

Pada tahap kegiatan ini telah dilakukan beberapa kali pertemuan antara komunitas TNK dan KTBS, dan hasilnya adalah kesepakatan untuk mengambil beberapa langkah strategis untuk secara bertahap meningkatkan peran komunitas TNK dan KTBS. Secara internal, komunitas penenun TNK dan KTBS berinisiatif membentuk tim yang bertugas menyusun dan mengevaluasi perjanjian tersebut. Bersama komunitas TNK dan KTBS akan meninjau capaian program aksi, kekuatan dan kelemahan, peluang dan hambatan dalam pelaksanaan program aksi yang telah dilaksanakan.

Pada setiap tahapan dan proses, pendamping berusaha membangun suasana dan menciptakan lingkungan yang mendukung, memberikan berbagai masukan (input), meningkatkan kapasitas (capacity), membuka akses terhadap berbagai jaringan kerja (network), peluang dan peluang (opportunity) yang ada. di luar komunitas TNK dan KTBS.

Hasil Pelaksanaan Program Pemberdayaan

Orientasi perajin kain tenun di komunitas TNK dan KTBS mulai berubah, komunitas TNK dan KTBS mulai menyadari perlunya terlibat dalam transformasi sosial di lingkungannya. Hal ini mengisyaratkan bahwa para perajin kain tenun berinisiatif membentuk tim (kelompok) dan cikal bakal lembaga khusus yang bertugas merancang dan melaksanakan kegiatan bersama dengan masyarakat lain. Komunitas TNK dan KTBS memulai proses internalisasi kapasitas komunitas dengan membentuk community hub di setiap desa.

Komunitas TNK dan KTBS mulai membuka diri untuk berinteraksi sosial dan melakukan kegiatan bersama dengan komunitas lain.Beberapa anggota komunitas TNK dan KTBS bersedia membuka diri (berdialog) dengan komunitas lain, sehingga para perajin kain tenun mempunyai komunitas dengan komunitas lain. adanya aturan kapasitas dan kepastian aturan yang terbentuk dalam penentuan harga kain tenun. Masyarakat TNK dan KTBS mulai menyadari bahwa peningkatan kesejahteraan kolektif masyarakat tenun itu penting, syarat utama yang dibutuhkan adalah kejujuran. Komunitas KNP dan KTBS Pengrajin kain tenun tidak dipercaya untuk meminjam modal ke lembaga keuangan karena pemilik modal atau pengelola lembaga keuangan selalu memandang rendah mereka.

Memperkuat jaringan dan aliansi strategis antar penenun; Jaringan kerja masyarakat Desa TNK dan KTBS Pringgasela dengan perajin kain tenun lainnya serta dengan instansi dan lembaga terkait lainnya diyakini masih sangat lemah karena letaknya yang terpencil dan jauh dari hiruk pikuk masyarakat. kota; Dengan baik. Jaringan yang dibangun komunitas TNK dan KTBS melalui tokoh-tokoh dari kelompok dan lembaga di luar komunitas menghadapi persoalan kepercayaan masyarakat terhadap pihak-pihak yang bekerjasama. Permasalahan ini muncul karena selama ini komunitas TNK dan KTBS hanya dijadikan objek program yang mempunyai misi tertentu.

Secara kritis, hal tersebut justru menunjukkan kelemahan sistem yang dibangun selama ini, partisipasi dan kreativitas masyarakat dibatasi oleh persaingan modal yang terus menerus memposisikan masyarakat TNK dan KTBS sebagai penonton.

Analisis Dampak dan Keberlangsungan Program 1. Dampak Program

  • Keberlangsungan Program

Kegiatan pemberdayaan masyarakat KNP dan KTBS dengan menggunakan pendekatan PAR telah diidentifikasi sebagai tujuan kinerja program. Program pemberdayaan pengrajin kain tenun ini dapat dirumuskan, yaitu: (1) adanya kesepakatan antara pendamping dan orang yang dibina, (2) diketahui kelemahan dan kelebihan program kebijakan pemerintah sebelum pelaksanaan pendampingan, (3 ) ) rancangan pemberdayaan masyarakat TNK dan KTBS disusun dengan mengacu pada kerangka pemberdayaan masyarakat desa binaan, pendamping, tujuan, proses pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan program, dan (4) kompilasi hasil program pemberdayaan masyarakat TNK dan KTBS . Program pemberdayaan masyarakat KNP dan KTBS di Desa Pringgasela secara khusus memerlukan keterlibatan semua pihak; merupakan program pemberdayaan dengan pendekatan PAR sebagai upaya mengatasi permasalahan yang dihadapi para penenun.

Desa Pringgasela yang menjadi sasaran pemberdayaan, jika dilihat dari letak dan kondisi geografisnya yang sangat strategis, kuatnya dominasi investor dan lemahnya akses pasar di Desa Pringgasela membuat posisi para penenun sangat lemah terutama dalam menentukan harga jual. produk. Adanya lembaga keuangan informal yang menjebak masyarakat dengan bunga pinjaman yang tinggi sehingga memperparah permasalahan yang ada di masyarakat. Sebaliknya ada pula lembaga keuangan resmi yang memanfaatkan masyarakat sebagai sarana untuk mencari keuntungan dengan cara yang tidak sah atau tidak sesuai dengan hakikat dan asas koperasi, seperti koperasi simpan pinjam yang terjerumus ke dalam koperasi. KNP. dan komunitas KTBS dengan suku bunga yang tinggi, koperasi ini dikenal dengan nama “Bank Rontok”. Konsekuensi dari sistem koperasi ini menambah penderitaan para penenun.

Daya tawar masyarakat perajin kain tenun di desa Pringgasela rendah dalam menetapkan harga jual dan tidak mempunyai akses pemasaran sehingga harga seringkali dipaksakan oleh pembeli dalam kehidupan sehari-hari.

PENUTUP

Lampiran 4: Perancangan Aplikasi AGET pada Program Pendampingan Masyarakat Tenun KNP dan KTBS di Desa Pringgasela, Kecamatan.

Gambar

Gambar 1: Struktur Organisasi (Pengurus) KNP dan KTBS
Gambar 2: Alat Tenun dan Hasil Tenun KNP
Gambar 3: Jenis Usaha Kain Tenun dan Jadwal Kerja KNP
Gambar 4: Jenis Kain Tenun (Sasambo dan Gedogan) Produksi KTBS
+7

Referensi

Dokumen terkait

Keywords: Group Counseling, Modules, Forgiveness Therapy, Behavioral Emotive Rational Therapy REBT How to Cite: Eric, A., Effectiveness of the Psycho Research in Counseling and