LAPORAN PRAKTIKUM
ANALISIS VEGETASI GULMA DI AREA TEACHING AND RESEARCH FARM FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
Kelompok 2:
Jawelson Alfandi Purba (D1A022036) Mhd. Iqbal Masudi Nasution (D1A022282) Jhonatan Brizzy Sirait (D1A022123)
Dosen Pengampu : Ir. Gusniwati, M.P.
Ir. Rinaldi, M.Si.
Asisten Praktikum Arfin Munawari Matondang
Rejois Silaban Khofifah Aulia
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI 2025
i KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik. Laporan ini disusun sebagai salah satu persyaratan dalam pelaksanaan praktikum yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai pengelolaan gulma dalam bidang pertanian.
Terlebih dahulu, penulis mengucapkan terima kasih Ibu Ir. Gusniwati, M.P.
dan Bapak Ir. Renaldi, M.Si. selaku Dosen Teknologi Gulma. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan semua, terima kasih atas bantuannya sehingga sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Dalam penyusunan proposal ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan proposal ini. Semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat, khususnya dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan praktikum mata kuliah Teknologi Gulma.
Semoga laporan praktikum ini dapat bermanfaat, khususnya bagi praktikan dan umumnya bagi para pembaca.
.
Jambi, 2025
Kelompok 2
ii DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR LAMPIRAN ... iv
I. PENDAHULUAN ... 1
1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan Praktikum ... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1. Pengertian Vegetasi ... 3
2.2. Analisa Vegetasi ... 3
III. METODE PRAKTIKUM ... 7
3.1 Waktu dan Tempat ... 7
3.2 Alat dan Bahan ... 7
3.3 Pelaksanaan Praktikum ... 7
3.4 Variabel Pengamatan ... 7
3.4.1 Indek Nilai Penting (INP) ... 7
3.4.2 SDR (Summed Dominance Ratio) ... 8
3.4.3 Koefisien Komunitas ... 8
IV. PEMBAHASAN ... 9
4.1 Hasil ... 9
4.1.1 Jenis dan Jumlah Gulma ... 9
4.1.2 Nilai SDR (Summed Dominance Ratio) ... 9
4.1.3 Tingkat Penyebaran Gulma ... 10
4.1.4 Nilai C Koefisien Komunitas... 11
4.2 Pembahasan ... 12
V. PENUTUP ... 15
5.1 Kesimpulan ... 15
5.2 Saran ... 15
DAFTAR PUSTAKA ... 16
LAMPIRAN ... 17
iii DAFTAR TABEL
Halaman
1. Jenis dan Jumlah Gulma ... 9
2. Nilai SDR (Summed Dominance Ratio) ... 9
3. Tingkat Penyebaran Gulma ... 10
4. Tingkat Penyebaran Gulma ... 11
iv DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Jenis jenis gulma ... 17
2. Gulma per plot ... 21
3. Denah Plot ... 22
4. Dkoumentasi Kegiatan ... 23
5. Perhitungan Hasil Analisis Vegetasi ... 24
1 I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Gulma merupakan tumbuhan yang keberadaannya tidak diinginkan karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman budidaya. Dalam ekosistem pertanian, gulma sering kali menjadi pesaing utama tanaman dalam memperoleh sumber daya seperti air, nutrisi, dan cahaya matahari. Oleh karena itu, pengelolaan gulma menjadi aspek penting dalam meningkatkan produktivitas tanaman budidaya (Widiyani et al, 2023).
Vegetasi gulma memiliki karakteristik yang beragam, mulai dari jenis tumbuhan hingga pola penyebarannya. Analisis vegetasi gulma bertujuan untuk memahami komposisi jenis gulma, dominansi, serta interaksi gulma dengan tanaman budidaya.
Informasi ini sangat penting untuk menentukan strategi pengendalian gulma yang efektif dan ramah lingkungan (Arifin & Sari, 2021).
Gulma dapat bersaing dengan tanaman budidaya untuk mendapatkan cahaya, air, dan nutrisi. Beberapa jenis gulma bahkan dapat memproduksi lebih banyak biji dalam waktu singkat, sehingga mempercepat penyebarannya. Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis vegetasi gulma agar dapat memahami pola pertumbuhannya dan dampaknya terhadap pertanian (Hidayati & Prasetyo, 2022).
Metode analisis vegetasi gulma melibatkan pengamatan langsung di lapangan, penghitungan indeks dominansi, serta analisis keragaman hayati. Data yang diperoleh digunakan untuk merancang strategi pengelolaan gulma yang sesuai dengan kondisi spesifik lahan pertanian (Hidayah & Setiawan, 2022).
Perubahan iklim dan aktivitas manusia juga memengaruhi pola vegetasi gulma.
Gulma yang sebelumnya tidak dominan dapat menjadi ancaman serius bagi tanaman budidaya akibat perubahan kondisi lingkungan. Oleh karena itu, analisis vegetasi gulma harus dilakukan secara berkala untuk menyesuaikan strategi pengelolaan (Alamsyah & Sari, 2021).
Pengelolaan gulma yang tidak tepat dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan. Gulma dapat menurunkan hasil panen hingga 30% atau lebih, tergantung pada tingkat infestasi dan jenis tanaman budidaya. Hal ini menunjukkan pentingnya
2 penelitian dan pengembangan metode pengendalian gulma (Alamsyah & Sari, 2021).
Gulma juga dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem pertanian. Keberadaan gulma tertentu dapat menunjukkan tingkat kesuburan tanah, pola aliran air, dan kondisi mikroklimat. Informasi ini dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan (Rahman & Khan, 2023).
Dalam konteks pertanian modern, teknologi seperti penggunaan herbisida selektif dan alat mekanis telah banyak digunakan untuk mengendalikan gulma.
Namun, pendekatan ini harus diimbangi dengan metode alami untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan (Kurniawan & Lestari, 2020).
Praktikum tentang vegetasi gulma juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang ekologi dan agronomi. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang kebijakan pertanian yang lebih baik.
Dengan demikian, analisis vegetasi gulma merupakan langkah penting dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Praktikum tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas tanaman, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem.
1.2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara analisis vegetasi, mengetahui kerapatan dan jenis tumbuhan yang dominan tumbuh pada suatu vegetasi.
3 II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Vegetasi
Vegetasi dapat diartikan sebagai komunitas tumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Komposisi vegetasi sering kali berubah seiring dengan berjalannya waktu, perubahan iklim, dan aktivitas manusia. Perubahan vegetasi ini mendorong perlu dilakukannya analisis vegetasi. Analisis vegetasi merupakan suatu cara untuk menemukan komposisi jenis vegetasi dari yang paling dominan hingga tidak dominan. Keadaan vegetasi yang diamati berupa bentuk vegetasi seperti rumput, semak rendah, tumbuhan menjalar, herba, maupun tumbuhan dalam hamparan yang luas. Dalam kaitannya dengan gulma, analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui gulma- gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup. Penguasaan sarana tumbuh pada umumnya menentukan gulma tersebut penting atau tidak. Populasi gulma yang bersifat dominan ini nantinya dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengendalian gulma (Surasana,2006).
2.2. Analisa Vegetasi
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui gulma-gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup. Dalam hal ini, penguasaan sarana tumbuh pada umumnya menentukan gulma tersebut penting atau tidak. Namun dalam hal ini jenis tanaman memiliki peran penting, karena tanaman tertentu tidak akanterlalu terpengaruh oleh adanya gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak (Adi, 2013).
Konsepsi dari metode analisa vegetasi sesungguhnya sangat bervariasi, tergantung keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannnya misalnya untuk mengevaluasi hasil pengendalian gulma. Metode yang digunakan untuk analisa vegetasi harus disesuaikan dengan struktur dan komposisi. Ada empat metode yang lazim dalam analisa vegetasi yaitu metode estimasi visual, metode kuadrat, metode garis dan metode titik (Surasana, 2006).
Metode analisis vegetasi yang lazim digunakan ada 4 macam yaitu estimasi visual, metode kuadrat, metode garis dan metode titik sebagai berikut:
4 Metode estimasi visual. Pengamatan dilakukan pada titik tertentu yang selalu tetap letaknya, misalnya selalu di tengah atau di salah satu sudut yang tetap pada petak contoh yang telah terbatas. Besaran yang dihitung berupa dominansi yang dinyatakan dalam persentase penyebaran. Estimasi visual dilakukan berdasarkan pengamatan visual atau dengan cara melihat dan menduga parameter gulma yang akan diamati. Metode estimasi visual memiliki kelemahan yaitu hanya layak dilakukan oleh orang yang berpengalaman.
Metode kuadrat. Kuadrat adalah suatu ukuran luas yang dinyatakan dalam satuan kuadrat (misalnya m2, cm2, dan sebagainya) tetapi bentuk petak contoh dapat berupa segi empat (kuadrat), segi panjang, atau sebuah lingkaran. Dalam pelaksanaan di lapangan sering digunakan bujur sangkar.
Data yang diperoleh dari analis vegetasi dapat digolongkan menjadi, data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif menunjukkan bagaimana suatu jenis tersebar dan berkelompok, stratifikasinya, periodisitas dan sebagainya. Data kualitatif diperoleh dari pengamatan lapangan berdasarkan pengamalan yang luas.
Data kuantitatif diperoleh dari hasil penjabaran dan pengamatan tiap petak contoh di lapangan (Tjitrosoedirdjo, 2005)
Individu-individu yang ada di dalam populasi mengalami distribusi atau penyebaran di dalam habitatnya mengikuti salah satu di antara tiga penyebaran yang disebut pola distribusi intern. Tiga pola distribusi intern yang dimaksudkan yaitu distribusi acak (random), distribusi seragam, dan distribusi bergerombol (Indriyanto, 2006).
Gulma adalah tanaman yang tumbuhnya tidak diinginkan. Gulma di suatu tempat mungkin berguna sebagai bahan pangan, makanan ternak atau sebagai bahan obat- obatan. Dengan demikian, suatu spesies tumbuhan tidak dapat diklasifikasikan sebagai gulma pada semua kondisi. Namundemikian, banyak juga tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma tersebut umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya (Sembodo, 2010).
Kebanyakan Gulma adalah tanaman yang cepat tumbuh dan dapat menghasilkansejumlah besar biji dalam waktu singkat perkembangbiakan gulma sangat mudah baik secara generatif maupun secara vegetatif. Secara generatif, biji-
5 biji gulma yang halus, ringan, dan berjumlah sangat banyak dapat disebarkan oleh angin, air, hewan, maupun manusia. Perkembangbiakan secara vegetatif terjadi karena bagian batang yang berada di dalam tanah akan membentuk tunas yang nantinya akan membentuk tumbuhan baru. Demikian juga, bagian akar tanaman, misalnya stolon, rhizomma, dan umbi, akan bertunas dan membentuk tumbuhan baru Gulma dari golongan monokotil pada umumnya disebut juga dengan istilah gulma berdaun sempit atau jenis gulma rumput- rumputan. Sedangkan gulma dari golongan dikotil disebut dengan istilah gulma berdaun lebar. Ada pula jenis gulma lain yang berasal dari golongan teki- tekian (atau golongan sedges) (Moenandir, 2007).
Daun gulma daun lebar dibentuk pada meristem apikal yang sangat sensitif pada senyawa kimia. Stomata pada daun gulma daun lebar banyak terdapat pada daun bagian bawah yang memungkinkan cairan herbisida dapat masuk. Gulma daun lebar memiliki bentuk daun yang lebih luas, sehingga luas permukaan daun yang kontak dengan senyawa limbah sagu lebih besar. Gulma daun sempit berkedudukan vertikal dan memiliki luas permukaan daun lebih kecil. Analisis vegetasi gulma menunjukkan bahwa gulma daun sempit merupakan gulma yang dominan dibandingkan gulma daun lebar. Hal ini disebabkan karena gulma daun sempit umumnya bereproduksi secara vegetatif dengan stolon dan rhizome yang mampu bertahan di dalam tanah dan akan tumbuh kembali jika kondisi sudah baik (Syakir, 2008).
Pengamatan komposisi gulma berguna untuk mengetahui ada tidaknya pergeseran jenis gulma yaitu keberadaan jenis gulma pada suatu areal sebelum dan sesudah percobaan/perlakuan. Some Dominance Ratio (SDR) atau Nisbah Jumlah Dominan (NJD) berguna untuk menggambarkan hubungan jumlah dominansi suatu jenis gulma dengan jenis gulma lainnya dalam suatu komunitas, sebab dalam suatu komunitas sering dijumpai spesies gulma tertentu yang tumbuh lebih dominan dari spesies yang lain. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma dilakukan antara lain adalah jenis gulma dominan, tumbuhan budidaya utama, alternatif pengendalian yang tersedia serta dampak ekonomi dan ekologi (Mas’ud, 2009).
6 Suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi jika komunitas itu disusun oleh banyak jenis. Sebaliknya suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah apabila komunitas tersebut disusun oleh jenis yang sedikit. Dari hasil pengamatan terdapat perbedaan yang cukup jelas antara kisaran nilai yang ada pada beberapa stasiun pengamatan. Pada setiap stasiun masing- masing plot pengamatan menunjukkan nilai yang hampir sama.
Kemerataan jenis dianggap maksimum jika semua jenis memiliki jumlah individu yang sama. Kemerataan jenis terjadi jika terdapat beberapa jenis hidup bersama dalam satu habitat (Afrianti, 2014).
7 III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis tanggal 10 Maret 2025 pukul 15.30 s/d selesai di Teaching and Research Farm, Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum ini adalah tali rafia, meteran, ajir (patok), karton berwarna putih, buku, pena dan kamera handphone.
3.3 Pelaksanaan Praktikum
1. Praktikum analisis vegetasi yang dilakukan menggunakan metode kuadrat, artinya petak contoh yang akan diguanakan dalam bentuk kuadrat.
2. Tentukan suatu titik lapang yang mempunyai jenis vegetasi terbanyak atau beragam
3. Buatlah plot persegi dengan ukuran 1 × 1 sebanyak 3 plot berdekatan 4. Setiap sisi diberi ajir (patok) kemudian dipisahkan menggunakan tali rapia 5. Catat semua spesies yang ada dalam masing masing plot
6. Cabut satu setiap spesies yang ada kemudian letakkan di atas kertas karton putih
7. Dokumentasikan gulma setiap spesies menggunakan kamera handphone 3.4 Variabel Pengamatan
3.4.1 Indek Nilai Penting (INP)
Dapat digunakan untuk menentukan domisasi jenis tumbuhan terhadap jenis tumbuhan lainnya, jarena dalam suatu komunitas karena pada suatu komunitas yang bersifat heterogen data parameter sendiri-sendiri dari nilai frekuensi, kerapatan, dan dominansinya tidak dapat menggambarkan secara menyeluruh, maka akan menentukan niai pentingnya yang mempunyai kaitan dengan struktur komunitasnya dapat diketahui dari indeks nilai penting.
INP= Kerapatan Nisbih + Frekuensi Nisbih + Dominansi Nisbih
8 3.4.2 SDR (Summed Dominance Ratio)
SDR menjadi parameter yang lebih sederhana karena besaran tersebuat diperoleh dengan membagi nilai indeks penting dengan jumlah nilai parameter yang menyusun. Dominasi gulma pada suatu areal dinyatakan dengan SDR (Summed Dominance Ratio) atau nisbah jumlah dominan. Gulma dapat dinyatakan dominan jika nilai SDR nya lebih tinggi dari gulma jenis lain pada lokasi yang sama.
SDR = 𝐼𝑁𝑃
3
3.4.3 Koefisien Komunitas
Koefisien komunitas digunakan untuk menilai adanya variasi atau kesamaan dari berbagai komunitas dalam suatu area. Koefisien komunitas digunakan untuk membandingkan dua komunitas vegetasi atau dua macam vegetasi dari dua daerah.
Rumus koefisien komunitas, yaitu:
C = 2 𝑊
𝑎 + 𝑏 × 100%
Dimana:
C = koefisien komunitas
W= jumlah dari nilai SDR terendah dari kedua komunitas a = jumlah SDR dari semua spesies komunitas pertama b = jumlah SDR dari semua spesies komunitas kedua
9 IV. PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Jenis dan Jumlah Gulma
Tabel 1 Jenis dan Jumlah Gulma
No Spesies Petak Jumlah
1 2 3
1 Scoparia dulcis 3 2 3 8
2 Asystasia gangetica 7 3 1 11
3 Paspalum conjugatum 25 9 6 40
4 Axonopus compressus 17 9 10 36
5 Euonymus obovatus 5 3 0 8
6 Euphorbia hirta 2 1 1 4
7 Salix cinerea 12 15 8 35
8 Mikania micrantha 6 9 7 22
9 Eleusine indica 12 15 8 35
10 Melastoma malabathricum 12 15 8 35
11 Oplismenus hirtellus 6 9 7 22
12 Boerhavia erecta 1 2 0 3
13 Andrographis paniculata 1 2 0 3
14 Galinsoga quadriradiata 2 1 4 7
Jumlah 111 95 63 269
4.1.2 Nilai SDR (Summed Dominance Ratio)
Tabel 2 Nilai SDR (Summed Dominance Ratio)
Spesies Suku Golongan SDR
Boerhavia erecta Nyctaginaceae Gulma Tahunan 3,1 Andrographis paniculata Acanthaceae Gulma Semusim 3,1 Euonymus obovatus Celastracea Gulma Tahunan 4,1 Euphorbia hirta Euphorbiaceae Gulma Semusim 4,6 Galinsoga quadriradiata Asteraceae Gulma Daun Lebar 5,1 Scoparia dulcis Plantaginaceae Gulma Daun Lebar 5,3 Asystasia gangetica Acanthaceae Gulma Daun Lebar 5,9 Mikania micrantha Asteraceae Gulma Tahunan 7,9
Oplismenus hirtellus Poaceae Gulma Teki 7,9
Salix cinerea Salicaceae Gulma Tahunan 10,4
Eleusine indica Poaceae Gulma Teki 10,4
Melastoma malabathricum Melastomataceae Gulma Tahunan 10,4
Axonopus compressus Poaceae Gulma Teki 10,5
Paspalum conjugatum Poaceae Gulma Teki 11,3
10 4.1.3 Tingkat Penyebaran Gulma
Tabel 3 Tingkat Penyebaran Gulma
Spesies Petakan Penyebaran
1 2 3
Scoparia dulcis 3 2 3 100
Asystasia gangetica 7 3 1 100
Paspalum conjugatum 25 9 6 100
Axonopus compressus 17 9 10 100
Euphorbia hirta 2 1 1 100
Salix cinerea 12 15 8 100
Mikania micrantha 6 9 7 100
Eleusine indica 12 15 8 100
Melastoma malabathricum 12 15 8 100
Oplismenus hirtellus 6 9 7 100
Galinsoga quadriradiata 2 1 4 100
Euonymus obovatus 5 3 - 66,7
Boerhavia erecta 1 2 - 66,7
Andrographis paniculata 1 2 - 66,7
11 4.1.4 Nilai C Koefisien Komunitas
Tabel 4 Tingkat Penyebaran Gulma
No Jenis Gulma SDR 1 SDR 2 W
1 Scoparia dulcis 5,3 6,2 5,3
2 Asystasia gangetica 5,9 0
3 Paspalum conjugatum 11,3 0
4 Axonopus compressus 10,5 0
5 Euonymus obovatus 4,1 0
6 Euphorbia hirta 4,6 0
7 Salix cinerea 10,4 0
8 Mikania micrantha 7,9 0
9 Eleusine indica 10,4 0
10 Melastoma malabathricum 10,4 0 11 Oplismenus hirtellus 7,9 0
12 Boerhavia erecta 3,1 0
13 Andrographis paniculata 3,1 0 14 Galinsoga quadriradiata 5,1 0 15 Rolandra fruticosa (L) kuntze 0 6,2 17 Achyranthes bidentata blume 0 8,1
18 Micona crenata (Vahl) 0 7,7
19 Spermacoce ocymifolia willd.
0 7,0
20 Polygnum hidropiper 0 4,1
21 Lygodium spp. 0 6,6
22 Fimbristylis miliacea 0 3,7
23 Erechtites valerianifolius 0 6,2
24 Echinochloa crus-galli 0 7,4
25 Stachytarpheta indica 0 7,0
26 Sida rhombifolia 0 9,5
27 Ageratum conyzoides L 0 9,9
28 Cyperus rotundus L 0 3,7
29 Synedrella nodiflora 0 7,0
12 4.2 Pembahasan
Dari hasil data analisis vegetasi pada tabel 1 yang telah dilakukan untuk mengetahui keberagaman dan jumlah individu pada suatu areal lahan melalui petakan yang telah dibuat. Dimana dari ketiga petakan terdapat 14 jenis gulma dengan jumlah yang berbeda tiap petakan. Pada petakan 1 terdapat 111 individu dan merupakan petakan dengan jumlah terbanyak, petakan ke-2 terdapat 95 individu dan pada petakan ke-3 terdapat 63 individu. Keberagaman spesies ini menunjukkan bahwa area tersebut memiliki kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan berbagai jenis gulma.
Paspalum conjugatum menempati posisi teratas dengan jumlah individu terbanyak, yaitu 40 individu. Hal ini menandakan bahwa spesies ini sangat dominan dan memiliki kerapatan tinggi di lokasi penelitian. Paspalum conjugatum bisa jadi disebabkan oleh kemampuannya beradaptasi dengan baik terhadap kondisi lingkungan di sekitar lahan penelitian fakultas pertanian serta kemampuan reproduksi yang efisien.
Pada tabel 2 memberikan gambaran tentang dominasi relatif setiap spesies gulma berdasarkan kombinasi frekuensi dan kerapatan, yang dihitung dalam nilai SDR.
Nilai SDR ini sangat penting untuk memahami seberapa besar peran masing- masing spesies dalam komunitas gulma. Gulma Paspalum conjugatum menunjukkan dominasi tertinggi dengan nilai SDR sebesar 11,3%. Dominasi tinggi ini disebabkan oleh kemampuan reproduksi Paspalum conjugatum yang cepat, daya saing yang kuat, dan adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan. Axonopus compressus juga memiliki nilai SDR yang cukup tinggi, yaitu 10,5%, menandakan bahwa selain jumlah individu yang banyak, frekuensi kemunculannya juga tinggi di berbagai petak. Hal ini menunjukkan bahwa Axonopus compressus memiliki peran yang signifikan dalam komunitas gulma dan berpotensi mempengaruhi distribusi serta pertumbuhan spesies lain. Sedangkan gulma dengan dominasi rendah seperti Boerhavia erecta sebesar dan Andrographis paniculate sebesar 1,3%, kemungkinan besar memiliki pengaruh yang kecil terhadap kompetisi sumber daya dengan tanaman lain.
13 Tabel 3 menunjukkan tingkat penyebaran gulma (%) yang menggambarkan seberapa luas sebaran setiap spesies gulma di seluruh petak sampel. Tujuh spesies, yaitu Scoparia dulcis, Asystasia gangetica, Paspalum conjugatum, Axonopus compressus, Euphorbia hirta, Salix cinerea, Mikania micrantha, Eleusine indica, Melastoma malabathricum, Oplismenus hirtellus dan Galinsoga quadriradiata memiliki tingkat penyebaran 100%, artinya spesies-spesies tersebut ditemukan di semua petak yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa spesies tersebut memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik terhadap berbagai kondisi lingkungan di lokasi penelitian serta kemampuan kolonisasi yang efektif. Penyebaran yang merata ini mengindikasikan potensi dominansi mereka dalam komunitas gulma, sehingga mereka mampu bersaing secara optimal dalam memanfaatkan sumber daya seperti cahaya, air, dan nutrisi.
Sebaliknya, spesies seperti Euonymus obovatus, Boerhavia erecta dan Andrographis paniculate hanya ditemukan di petak 1 dan 2 dengan tingkat penyebaran 66,7%. Penyebaran yang terbatas ini mengindikasikan bahwa spesies- spesies tersebut memiliki preferensi habitat yang lebih sempit atau kemampuan adaptasi yang kurang dibandingkan dengan spesies yang tersebar luas. Kondisi ini juga mengisyaratkan bahwa mereka kemungkinan kurang kompetitif dalam menghadapi tekanan lingkungan dan persaingan dengan spesies gulma dominan lainnya.
Tabel 4 menunjukkan hasil perhitungan nilai koefisien komunitas (C) yang digunakan untuk mengukur tingkat kesamaan komposisi spesies gulma antara dua komunitas vegetasi. Dalam tabel ini, Scoparia dulcis memiliki nilai W sebesar 5,3, Nilai W ini merupakan nilai SDR terendah dari spesies yang sama di kedua komunitas yang dibandingkan, sehingga memberikan gambaran kontribusi spesies tersebut dalam kesamaan struktur komunitas gulma antar lokasi.
Nilai koefisien komunitas (C) sangat dipengaruhi oleh jumlah spesies yang sama dan nilai SDR terendah dari spesies-spesies tersebut. Jika banyak spesies yang sama ditemukan di kedua komunitas dengan nilai SDR yang tidak jauh berbeda, maka nilai C akan tinggi, mencerminkan kesamaan struktur komunitas gulma antar lokasi. Sebaliknya, jika hanya sedikit spesies yang sama atau nilai SDR-nya sangat berbeda, maka nilai C akan rendah, yang menunjukkan perbedaan komposisi gulma
14 yang signifikan. Dengan demikian, nilai C menjadi indikator penting untuk menilai homogenitas ekosistem, memberikan wawasan tentang kesamaan dan perbedaan dalam komunitas gulma, dan membantu menentukan strategi pengendalian gulma yang sesuai. Pemahaman yang mendalam tentang nilai C memungkinkan peneliti dan pengelola lahan untuk merancang intervensi yang lebih efektif, menyesuaikan metode pengendalian berdasarkan karakteristik spesifik dari masing-masing lokasi, serta memaksimalkan keberhasilan pengelolaan gulma secara keseluruhan.
Penggunaan nilai koefisien komunitas (C) dalam konteks pengendalian gulma sangat krusial karena komunitas gulma yang seragam, dengan nilai C di atas 70- 75%, memungkinkan penerapan metode pengendalian yang sama di kedua lokasi.
Hal ini memudahkan efisiensi dalam strategi pengelolaan, karena pendekatan yang seragam dapat diterapkan tanpa perlu modifikasi yang signifikan. Sebaliknya, jika nilai C rendah, hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam komposisi gulma antara lokasi-lokasi tersebut. Dalam kasus ini, pengelolaan gulma harus disesuaikan dengan karakteristik spesifik dari masing-masing komunitas, mempertimbangkan faktor-faktor seperti jenis spesies, kepadatan, dan respons terhadap metode pengendalian yang berbeda. Dengan demikian, pemahaman tentang nilai C membantu dalam merumuskan strategi yang lebih tepat dan efektif untuk pengendalian gulma, serta meningkatkan keberhasilan pengelolaan ekosistem secara keseluruhan.
15 V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan,dapat ditemukan empat belas (14) spesies gulma, dengan Paspalum conjugatum sebagai spesies paling dominan.
Penyebaran gulma menunjukkan bahwa sebelas (11) spesies memiliki tingkat penyebaran 100%, menunjukkan adaptasi yang baik dalam lingkungan tersebut.
Indeks nilai penting (INP) dan Summed Dominance Ratio (SDR) digunakan untuk menilai dominasi spesies, yang penting dalam strategi pengendalian gulma.
Hasil analisis vegetasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa komposisi gulma di lokasi cenderung seragam, sehingga strategi pengendalian gulma dapat diterapkan secara menyeluruh.
5.2 Saran
Untuk percobaan selanjutnya, sebaiknya menggunakan variasi ukuran petak kuadrat yang berbeda agar data yang diperoleh mengenai keragaman gulma dan dampaknya terhadap tanaman budidaya lebih akurat.
16 DAFTAR PUSTAKA
Afrianti, 2014. Analisis Vegetasi Gulma Pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis quinensis jacq.) Di Desa Suka Maju Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu. Jurnal Biologi. 1(2): 108-115
Alamsyah, A., & Sari, D. (2021). Dampak perubahan iklim terhadap pola dominansi gulma di lahan pertanian. Jurnal Ilmu Pertanian, 10(3), 145-152.
Arifin, Z., & Sari, D. (2021). Karakteristik dan komposisi gulma pada lahan pertanian di Jawa Barat. Jurnal Agronomi Indonesia, 49(2), 123-130.
Hidayah, N., & Setiawan, A. (2022). Analisis keragaman hayati gulma dan implikasinya terhadap pengelolaan lahan pertanian. Jurnal Pertanian Berkelanjutan, 11(2), 123-130.
Hidayati, N., & Prasetyo, A. (2022). Kompetisi antara gulma dan tanaman budidaya: Analisis pertumbuhan dan hasil panen. Jurnal Ilmu Pertanian, 10(2), 67-75.
Kurniawan, A., & Lestari, D. (2020). Efektivitas herbisida selektif dan metode alami dalam pengendalian gulma: Studi kasus di lahan pertanian. Jurnal Agronomi Indonesia, 49(3), 201-210.
Moenandir, J. 2007. Ilmu Gulma Dalam Sistem Pertanian. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Rahman, M. M., & Khan, M. A. (2023). Analisis gulma sebagai indikator kesehatan tanah dan pengaruhnya terhadap pengelolaan lahan. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 12(2), 75-82.
Widiyani, D. P., Usodri, K. S., & Sari, S. (2023). Analisis Vegetasi Gulma pada Berbagai Tegakan Tanaman Perkebunan. Jurnal Agrotek Tropika, 11(1), 45-60.
17 LAMPIRAN
Lampiran 1. Jenis jenis gulma
Nama Gambar Klasifikasi
Sapu manis Scoparia dulcis
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Streptophyta
Kelas: Equisetopsida Subkelas: Magnoliidae Ordo: Lamiales
Famili: Plantaginaceae Genus: Scoparia
Spesies: Scoparia dulcis L.
Rumput Israel Asystasia gangetica
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Asteridae Ordo: Scrophulariales Famili: Acanthaceae Genus: Asystasia Spesies: Asystasia gangetica (L.) T.
Rumput Kerbau Paspalum conjugatum
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Equisetopsida Subkelas: Commelinidae Ordo: Poales
Famili: Poaceae Genus: Paspalum
Spesies: Paspalum conjugatum
Rumput Gajah Mini Axonopus compressus
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Equisetopsida Subkelas: Commelinidae Ordo: Poales
Famili: Poaceae Genus: Axonopus
18 Spesies: Axonopus compressus
Patikan Kebo Euphorbia hirta
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae Genus: Euphorbia
Spesies: Euphorbia hirta L.
Willow Abu-abu Salix cinerea
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Dilleniidae Ordo: Salicales Famili: Salicaceae Genus: Salix
Spesies: Salix cinereal L
Sambiloto Mikania micrantha
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Asteridae Ordo: Asterales Famili: Asteraceae Genus: Mikania
Spesies:Mikania micrantha Kunth
Rumput Belulang Eleusine indica
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Equisetopsida Subkelas: Commelinidae Ordo: Poales
Famili: Poaceae Genus: Eleusine Spesies: Eleusine indica (L.) Gaertn.
19 Senduduk
Melastoma malabathricum
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae Ordo: Myrtales
Famili: Melastomataceae Genus: Melastoma Spesies: Melastoma malabathricum L.
Rumput Keranjang Oplismenus
hirtellus
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Equisetopsida Subkelas: Commelinidae Ordo: Poales
Famili: Poaceae Genus: Oplismenus Spesies: Oplismenus hirtellus (L.) P.Beauv
Prajurit Berbulu Galinsoga quadriradiata
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Asteridae Ordo: Asterales Famili: Asteraceae Genus: Galinsoga Spesies: Galinsoga quadriradiata Ruiz & Pav.
Serapat Euonymus
obovatus
Kingdom: Plantae Phylum: Tracheophyta Class: Magnoliopsida Ordo: Celastrales Family: Celastraceae Genus: Euonymus
Species: Euonymus obovatus
20 Boerhavia erecta
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Caryophyllidae Ordo: Caryophyllales Famili: Nyctaginaceae Genus: Boerhavia
Spesies: Boerhavia erecta L.
Andrographis paniculata
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta Superdivisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Asteridae Ordo: Scrophulariales Famili: Acanthaceae Genus: Andrographis
Spesies: Andrographis paniculata
21 Lampiran 2. Gulma per plot
Plot 1
Plot 2
Plot 3
22 Lampiran 3. Denah Plot
Plot 1 Plot 2 Plot 3
Keterangan :
Jumlah Plot : 3 Plot Ukuran plot : 1 m x 1 m
23 Lampiran 4. Dkoumentasi Kegiatan
Pasang patok petakan/plot Pemasangan tali untukmembuat petakan
Pencabutan gulma pada tiap plot Hasil gulma yang telah dicabut
24 Lampiran 5. Perhitungan Hasil Analisis Vegetasi
1. Kerapatan Mutlak (KM)
Scoparia dulcis 3+2+3= 8
Asystasia gangetica 7+3+1= 11
Paspalum conjugatum 25+9+6= 40
Axonopus compressus 17+9+10= 36
Euphorbia hirta 5+3+0= 8
Salix cinerea 2+1+1= 4
Mikania micrantha 12+15+8= 35
Eleusine indica 6+9+7= 22
Melastoma malabathricum 12+15+8=35
Oplismenus hirtellus 12+15+8= 35
Galinsoga quadriradiata 6+9+7= 22
Euonymus obovatus 1+2+0= 3
Boerhavia erecta 1+2+0= 3
Andrographis paniculata 2+1+4= 7
Kerapatan Mutlak Seluruh Spesies
8+11+40+36+8+4+35+22+35+35+22+3+3+7= 269
2. Kerapatan Nisbih (KN)
Scoparia dulcis 8/269 X 100% = 3,0
Asystasia gangetica 11/269 X 100% = 4,1
Paspalum conjugatum 40/269 X 100% = 14,9
Axonopus compressus 36/269 XX100% = 13,4
Euphorbia hirta 8+269 X 100% = 3,0
Salix cinerea 4/269 X 100% = 1,5
Mikania micrantha 35/269 X 100% = 13,0
Eleusine indica 22/269 X 100% = 8,2
Melastoma malabathricum 35/269 X 100% = 13,0 Oplismenus hirtellus 35/269 X 100% = 13,0 Galinsoga quadriradiata 22/269 X 100% = 8,2
Euonymus obovatus 3/269 X 100% = 1,1
Boerhavia erecta 3/269 X 100% = 1,1
Andrographis paniculata 7/269 X 100% = 2,6
Jumlah 100,0
25 3. Frekuensi Mutlak (FM)
Scoparia dulcis 3/39 = 0,077
Asystasia gangetica 3/39 = 0,077
Paspalum conjugatum 3/39 = 0,077
Axonopus compressus 3/39 = 0,077
Euphorbia hirta 2/39 = 0,051
Salix cinerea 3/39 = 0,077
Mikania micrantha 3/39 = 0,077
Eleusine indica 3/39 = 0,077
Melastoma malabathricum 3/39 = 0,077
Oplismenus hirtellus 3/39 = 0,077
Galinsoga quadriradiata 3/39 = 0,077
Euonymus obovatus 2/39 = 0,051
Boerhavia erecta 2/39 = 0,051
Andrographis paniculata 3/39 = 0,077
4. Frekuensi Nisbih
Scoparia dulcis 3/39 X 100% = 7,7
Asystasia gangetica 3/39 X 100% = 7,7
Paspalum conjugatum 3/39 X 100% = 7,7
Axonopus compressus 3/39 X 100% = 7,7
Euphorbia hirta 2/39 X 100% = 5,1
Salix cinerea 3/39 X 100% = 7,7
Mikania micrantha 3/39 X 100% = 7,7
Eleusine indica 3/39 X 100% = 7,7
Melastoma malabathricum 3/39 X 100% = 7,7
Oplismenus hirtellus 3/39 X 100% = 7,7
Galinsoga quadriradiata 3/39 X 100% = 7,7
Euonymus obovatus 2/39 X 100% = 5,1
Boerhavia erecta 2/39 X 100% = 5,1
Andrographis paniculata 3/39 X 100% = 7,7 5. Indeks Nilai Penting
Rumus: INP (KN + FN)
Scoparia dulcis 3,0+7,7 = 10,7
Asystasia gangetica 4,1+7,7 = 11,8
Paspalum conjugatum 14,9+7,7 = 22,6
Axonopus compressus 13,4+7,7 = 21,1
Euphorbia hirta 3,0+5,2 = 8,2
Salix cinerea 1,5+7,7 = 9.2
Mikania micrantha 13,0+7,7 =20,7
Eleusine indica 8,2+7,7 = 15,9
26 Melastoma malabathricum 13,0+7,7 = 20,7
Oplismenus hirtellus 13,0+7,7 = 20,7
Galinsoga quadriradiata 8,2+7,7 = 15,9
Euonymus obovatus 1,1+5,1 = 6,2
Boerhavia erecta 1,1+5,1 = 6,2
Andrographis paniculata 2,6+7,7 = 10,3 6. Summed Dominan Rasio (SDR)
Rumus: SDR (INP/2)
Scoparia dulcis 10,7/2 = 5,3
Asystasia gangetica 11,8/2 = 5,9
Paspalum conjugatum 22,6/2 = 11,3
Axonopus compressus 21,1/2 = 10,5
Euphorbia hirta 8,1/2 = 4,1
Salix cinerea 9,2/2 = 4,6
Mikania micrantha 20,7/2 = 10,4
Eleusine indica 15,9/2 = 7,9
Melastoma malabathricum 20,7/2 = 10,4
Oplismenus hirtellus 20,7/2 = 10,4
Galinsoga quadriradiata 15,9/2 = 7,9
Euonymus obovatus 6,2/2 = 3,1
Boerhavia erecta 6,2/2 = 3,1
Andrographis paniculate 10,3/2 = 5,1
7. Penyebaran
Rumus : F
Jumlah Petak 𝑥 100%
Scoparia dulcis 3/3 X 100% = 100
Asystasia gangetica 3/3 X 100% = 100
Paspalum conjugatum 3/3 X 100% = 100
Axonopus compressus 3/3 X 100% = 100
Euphorbia hirta 2/3 X 100% =66,7
Salix cinerea 3/3 X 100% = 100
Mikania micrantha 3/3 X 100% = 100
Eleusine indica 3/3 X 100% = 100
Melastoma malabathricum 3/3 X 100% = 100
Oplismenus hirtellus 3/3 X 100% =100
Galinsoga quadriradiata 3/3 X 100% = 100
Euonymus obovatus 2/3 X 100% = 66,7
Boerhavia erecta 2/3 X 100% = 66,7
Andrographis paniculate 3/3 X 100% = 100
27 8. Nilai C
Rumus: C= 2 W
a+b 𝑥 100
= 2x 5,3
100+100 𝑥 100 = 10,6
200 𝑥 100 = 0,053 x 100 = 5,3