• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Ekskursi Kel 22 Makropaleontologi

N/A
N/A
Rosalinda Siahaan

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan Ekskursi Kel 22 Makropaleontologi"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN EKSKURSI SANGIRAN 2021

Disusun oleh:

Rosalinda Siahaan (111200014) Dwi Suwarno Asih Brahmana Putra (111200037) Nur Idaman Fiyati (111200049) Maulana Putra Adiningrat (111200063) Muhammad Arkaan Dwi Septian (111200121)

LABORATORIUM PALEONTOLOGI UMUM SIE. MAKRO PALEONTOLOGI

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

YOGYAKARTA

2021

(2)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN EKSKURSI SANGIRAN 2021

Disusun sebagai salah satu tugas akhir laporan lapangan Ekskursi Makropaleontologi 2021, Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, tahun akademik 2020/2021.

Di susun oleh:

Rosalinda Siahaan (111200014)

Dwi Suwarno Asih Brahmana Putra (111200037)

Nur Idaman Fiyati (111200049)

Maulana Putra Adiningrat (111200063) Muhammad Arkaan Dwi Septian (111200121)

Disahkan oleh:

Asisten Laboratorium Makropaleontologi LABORATORIUM PALEONTOLOGI UMUM

SIE. MAKRO PALEONTOLOGI JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

YOGYAKARTA 2021

(3)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Kelompok 22

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan nikmat, rahmat, dan karunia-Nya yang sebesar-besarnya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Ekskursi Makropaleontologi Sangiran tepat pada waktu yang telah diberikan.

Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah Makropaleontologi dan asisten laboratorium praktikum Makropaleontologi serta teman – teman kami yang selalu memberikan dukungan serta bimbingannya sehingga Laporan Ekskursi Sangiran dapat disusun sedemikian rupa.

Tentu saja kami juga menyadari bahwa laporan ini tidak luput dari kesalahan – kesalahan dan jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca supaya dapat menyempurnakan laporan ini.

Semoga laporan ini bisa menambah wawasan para pembaca dan bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, Juni 2021 Penyusun,

Kelompok 22

(4)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

I.1. Latar Belakang ... 1

I.2. Maksud dan Tujuan ... 2

I.3. Daerah Penelitian dan Pencapaian Lokasi ... 3

BAB II METODOLOGI PENELITIAN ... 4

II. 1. Jenis Penelitian ... 4

II. 2. Latar Belakang Penelitian... 4

II. 3. Lokasi Pengamatan ... 4

II. 4. Waktu Pengamatan ... 5

II. 5. Pengumpulan Data... 6

II. 6. Perlengkapan ... 6

II. 7. Diagram Alir ... 7

BAB III PEMBAHASAN ... 8

III.1. Geologi Regional Sangiran ... 8

III.2. Formasi Kalibeng ... 12

III.2.1. Lokasi ... 13

III.2.2. Foto Bentang Alam ... 14

III.2.3. Foto Singkapan ... 15

III.2.4. Genesa Lingkungan Pengendapan ... 15

III.2.5. Analisa Litologi dan Fosil ... 16

III.2.6. Stratigrafi (Profil) ... 24

III.2.7. Sketsa Singkapan ... 25

III.3. Formasi Pucangan ... 25

III.3.1. Lokasi ... 26

III.3.2. Foto Bentang Alam ... 26

(5)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Kelompok 22

III.3.3. Foto Singkapan ... 27

III.3.4. Genesa Lingkungan Pengendapan ... 27

III.3.5. Analisa Litologi dan Fosil ... 27

III.3.6. Stratigrafi (Profil) ... 34

III.3.7. Sketsa Singkapan ... 35

III.4. Formasi Kabuh ... 35

III.4.1. Lokasi ... 36

III.4.2. Foto Bentang Alam ... 37

III.4.3. Foto Singkapan ... 38

III.4.4. Genesa Lingkungan Pengendapan ... 38

III.4.5. Analisa Litologi dan Fosil ... 39

III.4.6. Stratigrafi... 42

III.4.7. Sketsa Singkapan ... 43

III.5. Mud Vulcano ... 43

III.5.1. Lokasi ... 43

III.5.2. Foto Bentang Alam ... 44

III.5.3. Foto Singkapan ... 45

III.5.4. Genesa Lingkungan Pengendapan ... 45

III.5.5. Analisa Litologi dan Fosil ... 46

III.5.6. Sketsa Singkapan ... 49

BAB IV ... 50

DOME SANGIRAN ... 50

IV.1. Dome Sangiran... 50

IV.2. Genesa Pembentukan Dome Sangiran ... 51

BAB V ... 54

KESIMPULAN ... 54

DAFTAR PUSTAKA ... vi

(6)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.3. 1. Peta Pencapaian Lokasi ... 3

Gambar I.7. 1 Diagram Alir ... 7

Gambar III.2. 1 Bentang Alam Fomasi Kalibeng ... 14

Gambar III.2. 2 Singkapan Kalibeng ... 15

Gambar III.2. 3. Batulempung Karbonatan ... 16

Gambar III.2. 4. Floatstone ... 17

Gambar III.2. 5. Batulempung Karbonatan ... 18

Gambar III.2. 6. Fosil Pomatiopsis cincinnatiensies ... 19

Gambar III.2. 7. Fosil Pyramidella granulata ... 19

Gambar III.2. 8. Fosil Corbicula fluminea ... 20

Gambar III.2. 9. Fosil Corbicula sp. ... 21

Gambar III.2. 10. Fosil Drillia calvertensis ... 21

Gambar III.2. 11. Fosil Bittium asperum ... 22

Gambar III.2. 12. Fosil Murex vanuxemi ... 23

Gambar III.2. 13. Stratigrafi (Profil) Formasi Kalibeng ... 24

Gambar III.2. 14. Sketsa Singkapan Formasi Kalibeng ... 25

Gambar III.3. 1. Bentang Alam Formasi Pucangan ... 26

Gambar III.3. 2. Singkapan Formasi Pucangan ... 27

Gambar III.3. 3. Batulempung ... 28

Gambar III.3. 4. Batulempung ... 29

Gambar III.3. 5. Batulempung ... 29

Gambar III.3. 6. Fosil Amnicola longiqula ... 30

Gambar III.3. 7. Fosil Goniobasis kettlemanensis woodringi ... 31

Gambar III.3. 8. Fosil Melanella eborea ... 32

Gambar III.3. 9. Fosil Pyramidella granulata ... 32

Gambar III.3. 10. Stratigrafi (Profil) Formasi Pucangan ... 34

Gambar III.3. 11. Sketsa Formasi Pucangan ... 35

Gambar III.4. 1. Bentang Alam Formasi Kabuh ... 37

Gambar III.4. 2. Singkapan Formasi Kabuh ... 38

Gambar III.4. 3. Konglomerat ... 39

Gambar III.4. 4. Batupasir Kasar ... 40

Gambar III.4. 5. Konglomerat ... 41

Gambar III.4. 6. Stratigrafi (profil) Formasi Kabuh ... 42

Gambar III.5. 1. Bentang Alam Mud Vulcano ... 44

Gambar III.5. 2. Singkapan Mud Vulcano ... 45

Gambar III.5. 3. Slate ... 46

Gambar III.5. 4. Marmer ... 46

Gambar III.5. 5. Floatstone/Batugamping Nummulites... 47

Gambar III.5. 6. Fosil Discocyclina sp. ... 48

Gambar III.5. 7. Fosil Nummulites sp. ... 48

Gambar III.5. 8. Sketsa Singkapan Mud Vulcano ... 49

(7)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Kelompok 22

Gambar IV.1. 1 Bentang Alam Dome Sangiran ... 50

Gambar IV.1. 2. Struktur Dome Sangiran ... 51

Gambar IV.1. 3. Mekanisme Tektonik Dome Sangiran ... 51

Gambar IV.1. 4. Proses Erosi Dome Sangiran ... 53

(8)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Situs Sangiran merupakan salah satu situs purbakala di Indonesia yang banyak menyumbangkan fosil makhluk hidup. Sangiran sangat terkenal karena dijumpai temuan fosil makhluk hidup terutama manusia purba Homo erectus sekitar 70 individu dengan masa evolusi lebih dari 1 juta tahun. Jumlah tersebut merupakan 65% dari seluruh fosil hominid yang ditemukan di Indonesia atau 50% dari temuan seluruh fosil Homo erectus di dunia. Di samping ditemukan fosil manusia purba, juga ditemukan fosil binatang-binatang vertebrata zaman purba dan ditemukan alat-alat batu sebagai perangkat penyesuaian diri dengan linkungan, seperti kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, dan alat- alat serpih. (Widianto, 1997)

Sangiran oleh para ahli dinilai sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia (Widianto et al. 1995/1996:1). Potensi tersebut menyebabkan UNESCO menetapkan Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) bernomor 593 pada Desember 1996. Saat ini situs purbakala sangiran telah berganti nama menjadi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) di bawah perlindungan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata bagian Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala (Simanjuntak, 1998;

Bouteaux et al., 2007; Prasetyo, 2011; Narulita, 2011). Selain itu, dalam rangka usaha pelestarian Situs Prasejarah Sangiran, pada tanggal 15 Maret 1988 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan SK No. 070/0.III/1977 yang menetapkan situs Sangiran dan Sekitarnya sebagai benda cagar budaya (BCB).

Dalam ilmu geologi pembahasan mengenai fosil sangat erat kaitannya dengan cabang ilmu paleontologi. Pengertian paleontologi menurut Beates dan Jackson (1987) ialah studi mengenai kehidupan pada waktu lampau geologi, berdasarkan fosil tumbuhan dan binatang termasuk filogeni, hubungannya tentang tetumbuhan, binatang, dan lingkungan yang ada, serta kronologi

(9)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

sejarah bumi. Pada situs Sangiran banyak ditemukan fosil vertebrata maupun invertebrata. Banyak penelitian mengenai formasi batuan, kandungan fosilnya, dan jenis fosilnya yang dilakukan di Sangiran. Oleh sebab itu, Situs Sangiran dijadikan sumber dalam laporan ini, karena mencakup dasar-dasar ilmu paleontologi.

Situs Sangiran secara geografis terletak di wilayah Jawa Tengah, tepatnya berada sekitar 3 km timur Kalioso dan 10 km utara Kota Solo. Secara administratif, situs Sangiran terletak pada dua wilayah Kabupaten, yaitu Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo) dan Sragen (Kecamatan Kalijambe, Gemolong, dan Plupuh). Sangiran memiliki luas sekitar 56 km² (7km x 8 km).

Stratigrafi Sangiran dari yang paling tua hingga muda, membentang mulai dari Pliosen Akhir hingga Pleistosen Tengah. Setidaknya terdapat lima jenis formasi yang menyusun daerah Sangiran, yakni Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan, Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro. Setiap formasi tersebut tersusun oleh jenis batuan yang berbeda dan mengandung beragam fosil makhluk hidup.

I.2. Maksud dan Tujuan

Dalam penyusunan laporan ini kami bermaksud:

1. Mengetahui informasi mengenai sejarah situs sangiran.

2. Mengetahui stratigrafi, litologi, umur, lingkungan pengendapan, dan ketebalan pada tiap formasi di daerah Sangiran.

3. Mengetahui kandungan fosil-fosil yang ada di situs sangiran.

4. Menerapkan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan dan praktikum dan mengaplikasikannya.

Tujuan:

1. Mengetahui tentang geologi daerah Sangiran khususnya geologi regional dan geomorfologi daerah Sangiran.

2. Mengetahui tiap lapisan di tiap formasi daerah Sangiran dan mengetahui lingkungan pengendapan daerah Sangiran, sehingga dapat mendeskrip fosil

(10)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

yang terdapat pada tiap lapisan di masing – masing formasi yang berada di daerah Sangiran.

3. Praktikan dapat mengambil data dengan benar, kemudian diolah menjadi laporan yang informatif dan terperinci, sehingga kedepannya dapat bermanfaat bagi pembaca.

4. Praktikan diharapkan dapat menginterpretasikan data dengan baik sehingga dapat membuat profil, laporan akhir, dan poster dengan baik dan benar.

I.3. Daerah Penelitian dan Pencapaian Lokasi

Sangiran terletak di kaki Gunung Lawu, sekitar 17 km ke arah utara dari Kota Solo dan terletak di Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayahnya sekitar 56 km2 yang mencakup tiga kecamatan di kabupaten Sragen yaitu Kecamatan Kalijambe, kecamatan Gemolong, Kecamatan Plupuh, dan di kabupaten Karanganyar yaitu Kecamatan Gondangrejo.

Di mulai dari kampus 1 UPN “Veteran” Yogyakarta, kemudian bergerak kearah Timur menuju daerah Prambanan. Melewati Kabupaten Boyolali, Klaten, Kota Surakarta dan memasuki Provinsi Jawa Tengah untuk mencapai lokasi ekskursi yang berada di Sangiran.

Gambar I.3. 1 Peta Pencapaian Lokasi Gambar 1.3. 1. Peta Pencapaian Lokasi

(11)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

BAB II

METODOLOGI PENELITIAN

II. 1. Jenis Penelitian

Metodologi penelitian yang digunakan untuk mengeksplorasi daerah sangiran khusus nya secara stratigrafi ini adalah dengan eksplorasi lapangan.

Hal ini dilakukan karena Sangiran memerlukan kajian yang menerus dan proses yang berkesinambungan.

II. 2. Latar Belakang Penelitian

Kegiatan ekskursi makropaleontologi di daerah Sangiran ini dilakukan untuk memenuhi tugas akhir dalam pelaksanaan kegiatan praktikum makropaleontologi. Latar belakang utama kegiatan ekskursi makropaleontogi ini adalah untuk mengetahui tiap lapisan yang berada di masing – masing formasi di daerah Sangiran ini, juga untuk mengetahui geologi regional dan geomorfologi dari Sangiran yang merupakan tujuan utama yang ingin dicapai. Selain itu kegiatan ini juga untuk mengetahui lingkungan pengendapan yang berada di Sangiran sehingga praktikan dapat mendeskrip fosil yang terdapat pada tiap lapisan di masing – masing formasi yang berada di daerah Sangiran. Sebagai seorang geologist kita harus terbiasa berada di lapangan dan mampu untuk mendeskripsikan tentang formasi yang berada di daerah Sangiran ini. Oleh sebab itu dilakukan kegiatan ekskursi yang berada di daerah Sangiran.

II. 3. Lokasi Pengamatan

Sangiran terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Situs ini adalah salah satu situs warisan dunia yang memiliki luas ±56 km2. Wilayah Sangiran ini meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen yaitu Kecamatan Gembolong, Kalijambe, dan Plupuh.

Serta Kecamatan Gondongrejo yang masuk wilayah Karanganyar.

(12)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

• Formasi Kalibeng

Lokasi pengamatan ini harus mencari terlebih dahulu di pinggir sungai sejauh 2 km. Lebih tepatnya berada di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Lokasi ini mempunyai koordinat X=

482482 Y=9176435.

• Formasi Pucangan

Lokasi formasi pucangan ini bisa ditempuh dari museum sangiran dengan berjalan kaki selama 5 menit dengan jarak kurang lebih 240 m ke arah utara. Lebih tepatnya berada di Desa Dukuh Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Lokasi ini mempunyai koordinat X= 4817114 Y= 9176078

• Formasi Kabuh

Formasi Kabuh dapat ditempuh dari Museum Sangiran kurang lebih sekitar 30 m kearah barat. Formasi ini berada di Desa Krikilan, Kecamatan kalijambe, Kabupaten Sragen. Lokasi ini mempunyai koordinat X= 481251 Y= 9176024

• Mud Vulkano

Formasi kabuh yang terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Dengan jarak yang dapat ditempuh dari Museum Sangiran sekitar kurang lebih 600 m ke arah Tenggara. Lokasi ini memiliki koordinat X= 482099 Y= 9175714

II. 4. Waktu Pengamatan

Pengamatan di lakukan secara online pada tanggal 22 Juni 2021 pukul 15.30 WIB. Bahan pengamatan ini sudah disediakan dari asisten laboratorium yang kemudian akan diberikan kepada praktikan untuk diolah datanya.

(13)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

II. 5. Pengumpulan Data

Observasi langsung dg mengambil data sesuai yg dijumpai di lokasi penelitian, kembangin lagi

II. 6. Perlengkapan 1. Clipboard 2. Peta topografi 3. Topi

4. Sepatu lapangan 5. Jas hujan

6. Obat pribadi 7. Meteran 8. Palu geologi 9. Kompas geologi 10. HCL

11. Komparator 12. Parameter

(14)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

II. 7. Diagram Alir

Gambar I.7. 1 Diagram Alir

(15)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

BAB III PEMBAHASAN

III.1. Geologi Regional Sangiran

Daerah sangiran terbentuk akibat aktifitas lempeng seperti terbentuknya Dome Sangiran merupakan aktifitas tektonik lempeng yang terjadi pada 2,4 juta tahun yang lalu terjadi pengangkatan ,gerakan lempeng bumi, letusan gunung berapi dan adanya glasial sehingga terjadinya penyusutan air laut yang akhirnya wilayah sangiran terangkat ke atas,dengan bukti pada endapan sungai puren.

Sangiran berada di Kalijambe, Kabupaten Sragen Jawa Tengah.

Secara fisiografis, menurut Van Bemmelen (1949), Jawa Tengah dapat di bagi ke dalam 6 zona, yaitu:

Dataran Pantai Utara

Zona ini mempunyai lebar masimum 40km kearah Selatan Brebes dimana lembah pemali yang memisahkan Zona Bogor dengan Pegunungan Utara. Sebelah Timur mengalami penyempitan sehingga memiliki lebar sekitar 20km di sebelah Selatan Tegal hingga di sebalah Timur Pekalongan.

Gunung Api Kuarter

Zona ini merupakan serangkaian gunung api yang berumur kuarter di Jawa Tengah Gunung Slamet, Sunung Dieng, Gunungt Sundoro, Gunung Sumbing, Gunung Ungaran, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Muria.

Pegunungan Serayu Utara

Zona ini merupakan lanjutan dari Zona Bogor yang terletak di jawa Barat dengan dibatasi oleh daerah Prupuk Bumiayu hingga Ajibarang tepat di sebelah Barat Gunung Slamet. Di sebelah Selatan

(16)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Tegal di tutupi oleh hasil erupsi Gunung Slamet. Di sebelah Timur Berbatasan dengan Zona Kendeng yang tertutupi oleh hasil erupsi Gunung Regojembang, Gunung Ungaran, dan Kompleks Dieng. Ini memiliki lebar antara 30 hingga 50 km.

Depresi Jawa Tengah

Zona ini berada di bagian Timur Hingga bagian selatan membatasi antara pegunungan serayu utara dengan Pegunungan Serayu Selatan, memiliki lebar antara 10-25km. Zona ini memanjang dari Majenang- Ajibang-Purwokerto Jatilawang hingga Wonosobo. Daerah Purwokerto dan Banjarnegara memiliki lebar zona 15km, lalu meluas disebelah Timur Wonosobo.

Pegunungan Serayu Selatan

Zona ini memiliki dan bagian Barat yang dipisahkan oleh Lembah Jatilawang yang termasuk kedalam Zona Pusat Depresi Jawa Tengah. Bagian Timur Merupakan antiklin sedangkan bagian Baratnya merupakan pengangkatan pada Zona Depresi Bandung dari Jawa Barat.

Antikilin berkembang kea rah timur membentuk serayu selatan merupakan sebuah dome dari Purworejo sampai Lembah Sungai Progo dan dikenal Pegunungan Kulon Progo.

Pegunungan Selatan

Zona ini membujur mulai Yogyakarta ke arah Timur, Wonosari, Wonogiri, Pacitan, dan menerus ke Malang bagian Selatan. Zona ini memiliki lebar antara 10-25 km dengan litologi penyusunnya yang di dominasi material- material volakoklastik.

Daerah Sangiran berada di sebalah Selatan Pegunungan Kendeng. Para ahli yang telah meneliti di daerah Sangiran mengatakan bahwa pada masa purba sangiran merupakan hamparan lautan, lalu dikarenakan adanya pembekuan air laut secara menyeluruh

(17)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

menyebabkan sangiran terangkat dan menjadi daratan. Akibat adanya tenaga endogen dari segala arah menyebabkan sangiran terangkat membentuk sebuah kubah atau dome.

Dimana dome tersebut tidak hanya seperti mangkuk yang terbalik saja, melainkan juga memanjang. Kubah Sangiran memiliki suatu keistimewaan di bagian atas nya yaitu adanya aliran sungai yang masih dapat mengalir walaupun sudah terbentuk kubah. Secara logika, jika sudah membentuk kubah maka air tidak dapat lewat bahkan memotong kubah tersebut, namun di Kubah Sangiran ini, sungai tersebut ialah cemorn, dimana sungai ini memotong kubah sangiran.

Hal yang menyebabkan sungai cemoro masih dapat mengalir karena adanya kesebandingan secara periodik antara pengangkatan dan erosi secara vertical di sungai tersebut.

Kubah sangiran menjadi pusat pembelajaran paleontology karena banyaknya fosil yang tersimpian dalam batuan nya, bahkan dalam setiap formasi dapat ditemukan berbagai macam fosil. Tersebar luas fosil dikarenakan dataran sangiran pernah dibawah permukaan laut dan sekarang bearada di atas permukaan laut atau di daratan. Hal tersebut dapat dikatakan karena fosil yang ditemukan yaitu fosil makhluk hidup yang hidup di air laut dan juga fosil manusia purba yang tentunya hidup di daratan.

Daerah Sangiran memiliki 4 formasi dari tua ke muda (menurut Bemmelan, 1949) yaitu Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan, Formasi Kabuh dan Formasi Notopuro.

➢ Formasi Kalibeng

Formasi kalibeng merupakan endapan tertua di kubah sangiran, terdiri dari batu Napal, dan disisipi batu gamping.

Kandungan fosilnya antara lain foraminifera dan molusca.

Disamping itu juga banyak ditemukan gastropoda dan molusca air payau, ini menunjukan bahwa lingkungan pengendapannya adalah

(18)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

air payau (peralihan antara air asin dan air tawar). Makin keatas lapisan tersebut berubah menjadi semakin pasiran. Lapisan berfasies pasiran diatas ditutupi oleh batugamping. (cek lagi batuannya)

➢ Formasi Pucangan

Formasi ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian breksi dan bagian batulempung hitam. Bagian breksi terdiri dari batu pasir konglomerat dan breksi, lapisan ini berbatasan langsung dengan formasi Kalibeng. Pada bagian breksi ditemukan fosil hewan jenis vertebrata (bertulang belakang). Sementara pada lapisan lempung hitam diduga berasal dari daerah air tawar, dan jenis spesies faunanya serupa dengan bagian breksi. Formasi Pucangan Atas berupa lapisan napal dan lempung yang merupakan pengendapan rawa rawa, pada formasi ini terdapat sisipan endapan molusca marine yang menunjukkan bahwa pada waktu itu pernah terjadi transgresi laut.

➢ Formasi Kabuh

Formasi Kabuh terbentuk pada daerah pengendapan tepi sungai. Hal ini menunjukkan lingkungan pengendapan darat, dimana butiran yang terbentuk bergantung pada arus sungai. Arus yang tenang akan membawa butiran yang halus, sedangkan arus yang deras akan membawa butiran yang lebih besar. Terdiri dari lapisan batu gamping konglomeratan. Formasi kabuh ini terletak di atas formasi pucangan secara tidak selaras. Lapisan pada formasi ini mempunyai tebal antara pulhan sampai ratusan meter, dimana dalama lapisan tersebut terkandung berbagai fosil vertebrata, diantaranya yang terkenal adalah penemuan fosil tengkorak Homo- erectus Dubois di daerah Trinil.

(19)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

➢ Formasi Notopuro

Formasi Notopuro terbentuk dari breksi andesit yang bersifat laharik di bagian bawah dan pasir fluviovulkanik di bagian atas.

Katebalan mencapai 47 meter dan jarang dotemukan fosil karena merupakan tanah daratan. Pada formasi ini dapat dijumoai fragmen mineral kalsedon, kuarsa, camelian, agate, kerikil andesit, dll.

➢ Mud Vulcano

Mud Vulcano terbentuk adanya material lumpur dibawa yang naik ke lapisan paling atas karena adanya tekanan yang kuat serta celah sebagai jalan keluar dari material lumpur tersebut. Fold Thrust Belt letaknya berada di Zona Kendeng Barat kemudian bertemu dengan sesar mendatar (sesar Meratus). Pada singkapan Mud Vulcano terdapat beberapa jenis batuan yakni batuan sedimen dan batuan metamorf. Batuan metamorf diperkirakan berasal dari lapisan paling bawah. Ditemukan fosil Nummulites dan Discocyclina yang berumur Eosen dan lebih tua dari Formasi Notopuro. Sehingga material-material yang lebih tua tersebut dimungkinkan berasal dari lapisan paling bawah yang ikut tersembur ke atas bersama lumpur yang menerobos zona lemah. Mud Vulcano biasanya muncul diantara sesar naik FTB (Fold Thrust Belt) dan sesar mendatar. Sesar naik dipotong oleh sesar mendatar lalu muncul pipa /jalur lemah tempat keluarnya Mud Vulcano.

III.2. Formasi Kalibeng

Menurut Duyfejs (1936), penamaan formasi kalibeng disebut sebagai Kalibeng Beds. Tetapi terdapat beberapa ahli lainnya memberikan nama formasi Puren karena formasi ini tersingkap di daerah Sungai Puren. Formasi ini terletak di sebelah barat daya Museum Sangiran. Formasi Kalibeng merupakan formasi tertua di Sangiran. Litologi penyusunnya yang kami temukan dari yang paling bawah adalah batulempung karbonatan, floatstone,

(20)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

dan batulempung karbonatan. Formasi ini diperkirakan dulunya adalah wilayah perairan yang mengalami regresi pada zaman Pliosen. Formasi ini berumur 5 juta sampai 1.8 juta tahun yang lalu.

III.2.1. Lokasi

Formasi ini terletak di Dukuh Ngampong, Desa krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa tengah.

Lokasi pengamatan berada di sebelah Barat Daya Museum Sangiran.

Singkapan ini berada pada koordinat X=482482 dan Y=917643

(21)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.2.2. Foto Bentang Alam

Keterangan: •Azimuth: N 065° E •Cuaca: Cerah •Kondisi singkapan: Baik

Gambar III.2. 1 Bentang Alam Fomasi Kalibeng

(22)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.2.3. Foto Singkapan

Keterangan:

• Kedudukan : N 310° E/15°

• Cuaca : Cerah

• Kondisi singkapan : baik

• Panjang singkapan : 5,68 m

• Tinggi Singkapan : 3,85 m

III.2.4. Genesa Lingkungan Pengendapan

Formasi Kalibeng merupakan formasi tertua di Sangiran.

Litologi penyusunnya dari yang paling bawah adalah batulempung karbonatan, floatstone, dan batulempung karbonatan. Pada lapisan batulempung ditemukan fosil Moluska klas gastropoda yang menunjukkan lingkungan pengendapan laut neritik pada kedalaman 0 – 200 meter (Laporte, 1968). Oleh karena proses tektonik yang

Gambar III.2. 2 Singkapan Kalibeng

(23)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

berasal dari tenaga endogen, maka lapisan yang terbetuk akan mengalami pengangkatan sehingga dapat tersingkap di permukaan bumi. Ketika singkapan mencapai permukaan bumi, maka singkapan juga dapat mengalami proses geologi kembai seperti erosi dan pelapukan oleh tenaga eksogen. Formasi ini berumur 5 juta sampai 1.8 juta tahun yang lalu.

III.2.5. Analisa Litologi dan Fosil III.2.5.1 Analisa Litologi

1) Lapisan 1

a) Jenis Batuan : Batuan Sedimen Silisiklastik b) Warna : Fresh: Biru, Lapuk: Abu - abu c) Struktur : Masif

d) Tekstur :

▪ Ukuran Butir : Lempung (<0,004 mm)

▪ Derajat Pembundaran : -

▪ Derajat Pemilahan : -

▪ Kemas : -

e) Komposisi Mineral :

▪ Fragmen : Skelethal, Fosil

▪ Matriks : Kuarsa

▪ Semen : -

Gambar III.2. 3. Batulempung Karbonatan

(24)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

f) Nama Batuan : Batulempung Karbonatan (Wentworth, 1922)

2) Lapisan 2

a) Jenis Batuan : Batuan Sedimen Karbonat Klastik b) Warna : Fresh: Coklat, Lapuk: Abu - abu c) Struktur : Biostorm

d) Tekstur :

▪ Ukuran Butir : Kalsilutit – Kalkarenit

(0,062 - 2 mm)

▪ Derajat Pembundaran : Membundar

▪ Derajat Pemilahan : Baik

▪ Kemas : Grain Supported

e) Komposisi Mineral :

▪ Allochem : Skelethal, Intraclast

▪ Mikrit : Kalsit

▪ Sparit : Karbonat

Nama Batuan : Floatstone (Dunham, 1962)

Gambar III.2. 4. Floatstone

(25)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

3) Lapisan 3

a) Jenis Batuan : Batuan Sedimen Silika Klastik b) Warna : Fresh: Biru, Lapuk: Abu - abu c) Struktur : Masif

d) Tekstur :

▪ Ukuran Butir : Lempung (<0,004 mm)

▪ Derajat Pembundaran: -

▪ Derajat Pemilahan : -

▪ Kemas : -

e) Komposisi Mineral :

▪ Fragmen : Skelethal, Fosil

▪ Matriks : Kuarsa

▪ Semen : -

f) Nama Batuan : Batulempung Karbonatan (Wentworth, 1922)

III.2.5.2. Analisa Fosil 1) Lapisan 1

a) Fosil 1

Gambar III.2. 5. Batulempung Karbonatan

(26)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Klas : Gastropoda Sub klas : Prosobranchia Ordo : Mesogastropoda Genus : Pomatiopsis

Spesies : Pomatiopsis cincinnatiensies Umur : Oligocene-recent

Sumber : Raymond C. Moore (1952)

b) Fosil 2

Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Klas : Gastropoda

Gambar III.2. 6. Fosil Pomatiopsis cincinnatiensies

Gambar III.2. 7. Fosil Pyramidella granulata

(27)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Sub klas : Prosobranchia Ordo : Megastropoda Genus : Pyramidella

Spesies : Pyramidella granulata Umur : Paleocene-recent

Sumber : Raymond C. Moore (1952)

2) Lapisan 2 a) Fosil 1

Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Klas : Bivalvia Ordo : Carrdiida Sub ordo : Cardiidina Super family : Corbiculoidea Family : Corbiculidae Genus : Corbicula

Spesies : Corbicula fluminea Umur : Middle pliosen

Sumber : Raymond C. Moore (1952)

Gambar III.2. 8. Fosil Corbicula fluminea

(28)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

b) Fosil 2

Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Klas : Bivalvia Ordo : Carrdiida Sub ordo : Cardiidina Super family : Corbiculoidea Family : Corbiculidae Genus : Corbicula Spesies : Corbicula sp.

Umur : Kapur akhir - resent Sumber : Van Benthem Jutting

3) Lapisan 3 a) Fosil 1

Gambar III.2. 9. Fosil Corbicula sp.

Gambar III.2. 10. Fosil Drillia calvertensis

(29)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Klas : Gastropoda Sub klas : Prosobranchia Ordo : Neogastropoda Super Family : Conacea Genus : Drillia

Species : Drillia calvertensis Umur : Eocene - Recent

Sumber : Raymond C. Moore (1952)

b) Fosil 2

Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Klas : Gastropoda Ordo : Mesogastropoda Genus : Bittium

Species : Bittium asperum Umur : Paleocen - Recent

Sumber : Raymond C. Moore (1952)

Gambar III.2. 11. Fosil Bittium asperum

(30)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

c) Fosil 3

Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Klas : Gastropoda Sub klas : Prosobranchs Ordo : Mesogastropoda Super Family : Muricadea Genus : Murex

Spesies : Murex vanuxemi Umur : Eocene - Recent

Sumber : Raymond C. Moore (1952)

Gambar III.2. 12. Fosil Murex vanuxemi

(31)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.2.6. Stratigrafi (Profil)

Gambar III.2. 13. Stratigrafi (Profil) Formasi Kalibeng

(32)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.2.7. Sketsa Singkapan

III.3. Formasi Pucangan

Duyfjes (1936) menyebut formasi ini dengan nama Pucangan, sedangkan Watanabe dan Darwin (1985) serta Danisworo (1987) menyebut formasi ini dengan nama Cemoro. Formasi ini terletak di gunung Pucangan tepatnya di Sungai Cemoro. Formasi ini berumur 1,8 juta s/d 1 juta tahun lalu.

Pada formasi ini ditemukan fosil hewan vertebrata. Singkapan pada formasi ini tersusun oleh litologi dari yang paling tua berupa Formasi ini berhubungan selaras dengan formasi Kalibeng.

Gambar III.2. 14. Sketsa Singkapan Formasi Kalibeng

(33)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.3.1. Lokasi

Lokasi penelitian terletak di persawahan warga dengan kondisi singkapan yang kurang baik, namun masih bisa diidentifikasi.

Singkapan berada pada koordinat X=481714 dan Y=9176078 III.3.2. Foto Bentang Alam

Keterangan: •Azimuth: N 340° E •Kondisi Cuaca : Cerah

Gambar III.3. 1. Bentang Alam Formasi Pucangan

(34)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.3.3. Foto Singkapan

Keterangan:

• Azimuth : N 340° E

• Kondisi cuaca : Cerah

• Kondisi singkapan : Kurang baik

III.3.4. Genesa Lingkungan Pengendapan

Formasi Pucangan atau disebut juga dengan formasi Cemoro adalah formasi tertua kedua yang berada di Sangiran, tepatnya tertua setelah formasi Kalibeng. Formasi ini tersusun atas batuan sedimen.

Dilihat dari litologi penyusunnya yaitu batuan sedimen dan kandungan fosil moluskanya, formasi ini merupakan formasi dengan lingkungan pengendapan transisi.

III.3.5. Analisa Litologi dan Fosil III.3.5.1. Analisa Litologi

Gambar III.3. 2. Singkapan Formasi Pucangan

(35)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

1) Lapisan 1

a) Jenis Batuan : Batuan Sedimen Silika Klastik b) Warna : Fresh: Abu – abu, Lapuk: Hitam

kecoklatan c) Struktur : Masif

d) Tekstur :

▪ Ukuran Butir : Lempung (<0,004

mm)

▪ Derajat Pembundaran : -

▪ Derajat Pemilahan : -

▪ Kemas : -

e) Komposisi Mineral :

▪ Fragmen : -

▪ Matriks : Material berukuran lempung

▪ Semen : Karbonat

f) Nama Batuan : Batulempung (Wentworth, 1922)

Gambar III.3. 3. Batulempung

(36)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

2) Lapisan 2

a) Jenis Batuan : Batuan Sedimen Silika Klastik

b) Warna : Fresh: Abu – abu, Lapuk: Hitam kecoklatan

c) Struktur : Masif

d) Tekstur :

▪ Ukuran Butir : Lempung (<0,004 mm)

▪ Derajat Pembundaran : -

▪ Derajat Pemilahan : -

▪ Kemas : -

e) Komposisi Mineral :

▪ Fragmen : Fosil moluska

▪ Matriks : Material berukuran lempung

▪ Semen : Karbonat

f) Nama Batuan : Batulempung (Wentworth, 1922) 3) Lapisan 3

Gambar III.3. 4. Batulempung

Gambar III.3. 5. Batulempung

(37)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

a) Jenis Batuan : Batuan Sedimen Silika Klastik b) Warna : Fresh: Abu – abu, Lapuk: Hitam

kecoklatan c) Struktur : Masif

d) Tekstur :

▪ Ukuran Butir : Lempung (<0,004 mm)

▪ Derajat Pembundaran : -

▪ Derajat Pemilahan : -

▪ Kemas : -

e) Komposisi Mineral :

▪ Fragmen : -

▪ Matriks : Material berukuran lempung

▪ Semen : Karbonat

f) Nama Batuan : Batulempung (Wentworth, 1922)

III.3.5.2. Analisa Fosil Lapisan 2

a) Fosil 1

Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca

Gambar III.3. 6. Fosil Amnicola longiqula

(38)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Klas : Gastropoda Sub Klas : Prosobranchia Ordo : Neogastropoda Genus : Amnicola

Spesies : Amnicola longiqula Umur : Cretaceous – Recent Sumber : Raymond C. Moore (1952)

b) Fosil 2

Kingdom : Animalia Filum : Moluska Klas : Gastropoda Sub klas : Prosobranchia Ordo : Mesogastropoda Genus : Goniobasis

Spesies : Goniobasis kettlemanensis

woodringi

Umur : Cretaceous-Recent

Sumber : Raymond C. Moore (1952)

Gambar III.3. 7. Fosil Goniobasis kettlemanensis woodringi

(39)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

c) Fosil 3

Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Klas : Gastropoda Sub Klas : Prosobranchs Ordo : Neosgastropoda Family : Pyramidellacea Genus : Melanella

Species : Melanella eborea Umur : Eocene - Recent

Sumber : Raymond C. Moore (1952)

d) Fosil 4

Gambar III.3. 8. Fosil Melanella eborea

Gambar III.3. 9. Fosil Pyramidella granulata

(40)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Kingdom : Animalia Phylum : Moluska Klas : Gastropoda Sub Klas : Prosobranchia Ordo : Mesogastropoda Genus : Pyramidella

Spesies : Pyramidella granulata Sumber : Raymond C. Moore (1952)

(41)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.3.6. Stratigrafi (Profil)

Gambar III.3. 10. Stratigrafi (Profil) Formasi Pucangan

(42)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.3.7. Sketsa Singkapan

III.4. Formasi Kabuh

Formasi Kabuh diperkirakan berasal dari danau Pleistosen yang telah mengering. Pada formasi ini ditemukan fosil vertebrata salah satunya adalah manusia purba dan banyak disusun oleh material sungai. Pada formasi ini terdapat singkapan yang litologi penyusunnya adalah batu perselingan/silang siur antara batupasir halus dan batupasir konglomeratan. Struktur silang siur pada formasi ini mengindikasikan lingkungan pengendapan yang berbeda arus. Formasi Kabuh berumur 1 juta sampai 250 ribu tahun yang lalu.

Gambar III.3. 11. Sketsa Formasi Pucangan

(43)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.4.1. Lokasi

Formasi ini berlokasi di daerah kebun, sebelah jalan setapak yang ditumbuhi banyak vegetasi. Penciri pada formasi ini adalah ditemukannya fosil vertebrata dan manusia purba. Memiliki ciri khas struktur primer batuan berupa cross bedding dengan lapisan batuan berbutir kasar dan sortasinya buruk. Formasi ini berada pada koordinat X=481251 dan Y=9176024

(44)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.4.2. Foto Bentang Alam

Keterangan: •Azimuth: N 296° E •Kondisi Cuaca : Cerah

Gambar III.4. 1. Bentang Alam Formasi Kabuh

(45)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.4.3. Foto Singkapan

Keterangan:

• Azimuth : N 296° E

• Kondisi Singkapan : Baik

• Kondisi Cuaca : Cerah

• Tinggi Singkapan : 1,7 m

• Panjang Singkapan : 20,13 m

III.4.4. Genesa Lingkungan Pengendapan

Dari data lapangan singkapan Formasi Kabuh banyak ditemukan hewan vertebrata serta fosil manusia purba pada litologi perselingan batupasir dan konglomerat. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa dahulunya daerah ini merupakan daratan yang ditinggali oleh hewan vertebrata serta manusia purba. Litologi berupa batupasir dan konglomerat pada singkapan juga menunjukan bahwa dahulunya singkapan ini terletak tak begitu jauh dari gunung api karena material sedimennya berupa pasir dan konglomerat (kerikil - kerakal). Batuan dengan litologi tersebut biasa ditemukan pada zona medial facies gunung berapi. Pada singkapan juga ditemukan struktur cross-bedding yang menunjukan bahwa mulanya sedimen terbentuk saat terjadi aliran fluida. Dapat ditarik kesimpulan bahwa daerah pada singkapan ini mulanya merupakan

Gambar III.4. 2. Singkapan Formasi Kabuh

(46)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

daerah aliran dapat berupa sungai yang disekitarnya merupakan daratan, karena mahluk hidup umumnya akan hidup pada daerah yang dekat dengan air. Ditambah lagi terdapatnya struktur silang siur yang memperkuat adanya aliran fluida (air) memiliki perbedaan arus pada sungainya. Litologi berupa batupasir dan konglomerat juga menunjukan bahwa formasi ini tidak jauh letaknya dari gunung api atau kemungkinan pada zona medial facies gunung berapi.

III.4.5. Analisa Litologi dan Fosil III.4.5.1 Analisa Litologi 1) Lapisan 1

a) Jenis Batuan : Batuan Sedimen Silika Klastik

b) Warna : Fresh: Abu – abu, Lapuk: Coklat c) Struktur : Masif

d) Tekstur :

▪ Ukuran Butir : Pasir Halus - Kerikil (0,125

- 4 mm)

▪ Derajat Pembundaran : Membundar

▪ Derajat Pemilahan : Terpilah Baik

▪ Kemas : Grain Supported

e) Komposisi Mineral :

▪ Fragmen : Kuarsa, Amphibole, Material ukuran kasar

Gambar III.4. 3. Konglomerat

(47)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

▪ Matriks : Material berukuran pasir sangat halus

▪ Semen : Silika

f) Nama Batuan : Konglomerat (Wentworth, 1922)

2) Lapisan 2

a) Jenis Batuan : Batuan Sedimen Silika Klastik b) Warna : Fresh: Abu – abu, Lapuk: Coklat c) Struktur : Masif (handspeciment) /

Crossbedding (singkapan) d) Tekstur :

▪ Ukuran Butir : Pasir Kasar (0,125 - 4 mm)

▪ Derajat Pembundaran : Agak Membundar

▪ Derajat Pemilahan : Terpilah Baik

▪ Kemas : Grain Supported e) Komposisi Mineral :

▪ Fragmen : Kuarsa, Amphibole, Material

ukuran halus

▪ Matriks : Material berukuran pasir sangat

halus

▪ Semen : Silika

f) Nama Batuan : Batupasir Kasar (Wentworth, 1922)

Gambar III.4. 4. Batupasir Kasar

(48)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

3) Lapisan 3

a) Jenis Batuan : Batuan Sedimen Silika Klastik b) Warna : Fresh: Abu – abu, Lapuk: Coklat c) Struktur : Masif

d) Tekstur :

▪ Ukuran Butir : Pasir Halus - Kerikil (0,125

- 4 mm)

▪ Derajat Pembundaran : Membundar

▪ Derajat Pemilahan : Terpilah Baik

▪ Kemas : Grain Supported

e) Komposisi Mineral :

▪ Fragmen : Kuarsa, Amphibole, Material ukuran kasar

▪ Matriks : Material berukuran pasir sangat halus

▪ Semen : Silika

f) Nama Batuan : Konglomerat (Wentworth, 1922)

Gambar III.4. 5. Konglomerat

(49)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.4.6. Stratigrafi

Gambar III.4. 6. Stratigrafi (profil) Formasi Kabuh

(50)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.4.7. Sketsa Singkapan

III.5. Mud Vulcano III.5.1. Lokasi

Mud Vulcano terletak di sebelah tenggara kubah sangiran berarah timur laut. Pada koordinat X=482099, Y=9175714 Formasi ini terletak 300 m Formasi Pucangan. Mud Volcano atau gunung api lumpur termasuk peristiwa geologi yang merupakan keluarnya material lumpur dari dalam bumi ke permukaan melalui rekahan, endapan lumpur tersebut terakumulasi di sekeliling lubang pada zona lemah yang mengakitbatkan naiknya material yang dibawa oleh lumpur kemudian muncul kepermukaan bumi dan lama-kelamaan membentuk bukit kecil. Singkapan ini merupakan point of interest di sangiran karena ditemukan banyak jenis batuan dan fosil foraminifera.

Gambar III.4.7. Sketsa Singkapan Formasi Kabuh

(51)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.5.2. Foto Bentang Alam

Keterangan •Azimut: N 130° E •Kondisi Cuaca : Cerah

Gambar III.5. 1. Bentang Alam Mud Vulcano

(52)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.5.3. Foto Singkapan

Keterangan:

• Azimuth : N 130° E

• Kondisi Singkapan : baik

• Tinggi Singkapan : 6 m

• Panjang Singkapan : 50 m

• Lebar Singkapan : 19,5 m

III.5.4. Genesa Lingkungan Pengendapan

Mud Volcano terbentuk karena batuan alas yaitu metamorf terangkat kepermukaan, hal ini terjadi karena adanya serangkaian peristiwa endogen yaitu adanya sesar yang mendatar dan sesar naik yang menyebabkan adanya pipa tempat lewat dari lumpur dalam bumi tersebut tersingkap. Massa lumpur tadi bergerak ke atas akibat dorongan gas-gas alam dari bawah permukaan bumi. Hal ini menyebabkan lapisan basement yang berupa batuan metamorf tersingkap ke atas turut membawa fosil-fosil tua foraminifera.

Gambar III.5. 2. Singkapan Mud Vulcano

(53)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.5.5. Analisa Litologi dan Fosil III.5.5.1. Analisa Litologi

1) Litologi 1

a) Jenis Batuan : Batuan Metamorf Foliasi

b) Warna : Fresh: Abu – abu, Lapuk: Coklat c) Struktur : Foliasi: Slatycleavage

d) Tekstur : Palimpset: Blastopelit e) Komposisi Mineral :

▪ Stress : Mika

▪ Antistress : Lempung f) Nama Batuan : Slate

2) Litologi 2

a) Jenis Batuan : Batuan Metamorf Non Foliasi b) Warna : Fresh: Putih, Lapuk: Coklat c) Struktur : Non Foliasi: Granulose d) Tekstur : Kristaloblastik: Granoblastik e) Komposisi Mineral :

Gambar III.5. 3. Slate

Gambar III.5. 4. Marmer

(54)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

▪ Stress : -

▪ Antistress : Kalsit f) Nama Batuan : Marmer

3) Litologi 3

a) Jenis Batuan : Batuan Sedimen Karbonat Klastik b) Warna : Fresh: Coklat, Lapuk: Abu - abu c) Struktur : Biostorm

d) Tekstur :

▪ Ukuran Butir : Kalsilutit - Kalkarenit

(0,062 - 2 mm)

▪ Derajat Pembundaran : Membundar

▪ Derajat Pemilahan : Baik

▪ Kemas : Grain Supported

e) Komposisi Mineral :

▪ Allochem: Fosil Nummulites

▪ Mikrit : Kalsit

▪ Sparit : Karbonat

f) Nama Batuan : Floatstone (Dunham, 1962) / Batugamping Nummulites

Gambar III.5. 5. Floatstone/Batugamping Nummulites

(55)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

III.5.5.2. Analisa Fosil a) Fosil 1

Kingdom : Animalia Phylum : Protozoa Klas : Sarcodina Ordo : Foraminifera Sub Ordo : Rotaliina Super Family : Nummulitoidea Family : Orthophragminidae Sub Family : Discocyclininae Genus : Discocyclina Spesies : Discocyclina sp.

Umur : Mid Paleocene – Late Eocene Sumber : M. K. Boudagher – Fadel, 2008 b) Fosil 2

Kingdom : Animalia Phylum : Protozoa Klas : Sarcodina

Gambar III.5. 6. Fosil Discocyclina sp.

Gambar III.5. 7. Fosil Nummulites sp.

(56)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Ordo : Foraminifera Sub Ordo : Rotaliina Super Family : Nummulitoidea Family : Nummulitidae Sub Family : Nummulitinae Genus : Nummulites Spesies : Nummulites sp.

Umur : Mid Paleocene – Early Oligocene Sumber : M. K. Boudagher – Fadel, 2008

III.5.6. Sketsa Singkapan

Gambar III.5. 8. Sketsa Singkapan Mud Vulcano

(57)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

BAB IV

DOME SANGIRAN

IV.1. Dome Sangiran

Situs sangiran dikenal juga dengan “Dome Sangiran” atau kubah Sangiran. Sangiran berlokasi 17 Km kearah utara dari kota Solo. Secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Sragen dan sebagian terletak di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Situs Sangiran luasnya lebih kurang 56 km2. Situs Sangiran berada pada Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Gemolong, dan Kecamatan Plupuh di Kabupaten Sragen serta terletak di Kecamatan Gondangrejo di Kabupaten Kranganyar.

Dome Sangiran merupakan daerah yang tersingkap. Berdasarkan hasil penelitian terbentuknya Dome Sangiran merupakan peristiwa geologis yaitu diawali pada 2,4 juta tahun yang lalu terjadi pengangkatan,gerakan lempeng bumi,letusan gunung berapi dan adanya masa glasial sehingga terjadi penyusutan air laut yang akhirnya membuat wilayah Sangiran terangkat keatas, hal ini dibuktikan dengan endapan yang bisa kita jumpai di sepanjang Sungai Puren yang tersingkap lapisan lempeng biru dari Formasi Kalibeng yang merupakan endapan daerah lingkungan lautan dan hingga sekarang ini banyak sekali dijumpai fosil-fosil moluska laut.

Gambar IV.1. 1 Bentang Alam Dome Sangiran

(58)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

IV.2. Genesa Pembentukan Dome Sangiran

Pada awalnya sangiran merupakan lautan dangkal. Pada saat itu keadaan bumi masih belum stabil seperti sekarang, di beberapa bagian bumi seringkali mendapatkan pergerakan di dalam perut bumi yang disebabkan adanya dorongan tekanan endogen. Sangiran juga mengalami hal serupa, karena adanya dorongan tenaga endogen (dari dalam bumi) terjadi pengankatan dan pelipatan pada permukaan laut sangiran. Akibat dari pelipatan permukaan maka terbentuklah daratan-daratan yang mengisolasi sebagaian lautan tersebut sehingga menjadi danau dan rawa-rawa.

Gambar IV.1. 2. Struktur Dome Sangiran

Gambar IV.1. 3. Mekanisme Tektonik Dome Sangiran

(59)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Saat terjadinya masa glacial (pembekuan), permukaan air laut menyusut, itu disebabkan karena adanya pembekuan es di kutub utara maka muncullah daratan di permukaan bumi. Danau dan rawa sangiran yang terbentuk dari lautan dangkal juga menjadi daratan kering. Proses pembentukan situs sangiran erat kaitannya dengan aktivitas Gunung Lawu tua. Kubah sangiran diperkirakan terbentuk akibat gaya kompresi dari runtuhan gunung Lawu tua, gaya endogen berupa pengakatan dan pelipatan tanah serta gaya gravitasi bumi. Gaya kompresi yang sama juga menyebabkan terbentuknya kubah-kubah lain seperti: Kubah Gemolong, Kubah Gamping, Kubah Bringinan, Kubah Gesingan, dan Kubah Munggur. Tenaga endogen yang terjadi berulang-berulang mengakibatkan permukan tanah di sangiran naik akibatnya adanya dorongan di dalam dan membentuk bukit.

Kemudian karena aktivitas gunung lawu membuat tanah perbukitan longsor dan membentuk kubah, tanah di sekitar sungai cemarapun ikut longsor. Akibat dari hal tersebut, terbentuklah lapisan tanah yang berbeda dari lapisan tanah permukaan. Lapisan tanah yang terbentuk adalah lapisan dari jaman purbakala dimana hasil dari terbentuknya tanah sangiran membuat para ahli purbakala dan masyarakat sekitar menemukan bukti-bukti kehidupan masa prasejarah. Hingga kini lapisan tanah (stratigrafi) yang dapat ditemukan dan diteliti terdapat 4 lapis. Situs sangiran merupakan daerah perbukitan yang terbentuk dari fragmen-fragmen batu gamping foraminifera dan batu pasir yang tercampur dengan Lumpur saat masa holosen. Selain itu juga terdapat endapan aluvial yang terdiri dari campuran lempung, pasir, kerikil, dan krakal dengan ketebalan kurang lebih 2 meter yang dapat terlihat di sungai cemara.

Sungai cemara yang mengalir didaerah sangiran merupakan sungai anteseden yang menyayat kubah sangiran. Hal ini menyebabkan struktur kubah dan stratifigrafi tanah daerah sangiran dapat dipelajari dengan baik.

Tersingkapnya tanah di tepi sungai cemara menunjukan aktivitas erosi dan sedimentasi yang intensif pada masa sekarang. Proses erosi tersebut mengakibatkan munculnya fosil-fosil binatang maupun manusia purba di permukaan tanah sehingga sering ditemukan fosil-fosil setelah turun hujan.

(60)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Akibat dari dorongan tenaga endogen pada awalnya, aktivitas erosi dan sedimentasi yang tinggi maka menyebabkan pengangkatan dan pelipatan tanah sangiran, sehingga lapisan tanah sangiran terbagi dari 4 lapisan (dari lapisan teratas) yaitu Formasi Notopuro, Formasi Kabuh, Formasi Pucangan dan Formasi Kalibeng. Selain itu, aktivitas erosi juga menyebabkan dome sangiran memiliki kenampakan seperti cekungan diatasnya.

Gambar IV.1. 4. Proses Erosi Dome Sangiran

(61)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

BAB V KESIMPULAN

Daerah Sangiran dulunya merupakan dome, dapat dilihat dari pegunungan yang mengelilingi mempunyai ketinggian yang relatif sama. Puncak kubah ini kemudian melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau. Berdasarkan hasil penelitian terbentuknya dome Sangiran merupakan peristiwa geologis yaitu diawali pada 2,4 juta tahun yang lalu terjadi pengangkatan, gerakan lempeng bumi, letusan gunung berapi, dan adanya masa glasial sehingga terjadi penyusutan air laut yang akhirnya membuat Sangiran terangkat keatas.

Stratigrafi sangiran dari yang paling tua ke muda terbagi atas formasi Kalibeng atau formasi Puren, formasi Pucangan atau Cemoro, formasi Kabuh dan formasi Notopuro. Selain itu, ada fenomena geologi menarik dari sangiran yaitu Mud Vulkano. Pada formasi Kalibeng litologi penyusunnya dari yang paling bawah adalah batulempung karbonatan dan floatstone. Formasi ini berumur 5 juta sampai 1.8 juta tahun yang lalu. Kandungan fosil molusca pada litologinya menunjukkan lingkungan pengendapan laut neritik kedalaman 0-200 m (Laporte, 1968).

Pada Formasi Pucangan, ditemukan litologi berupa batulempung.

Batulempung pada formasi pucangan memiliki kandungan fosil berupa fosil klas gastropoda.

Selanjutnya, pada Formasi Kabuh, ditemukan litologi berupa batupasir dan konglomerat dan ditandai dengan adanya struktur sedimen silang-siur. Silang siur tersebut terjadi karena adanya perbedaan kecepatan arus air. Kecepatan yang berbeda tersebut membuat ukuran butirnya berbeda. Dapat disimpulkan bahwa Formasi Kabuh dahulunya merupakan lingkungan pengendapan darat berupa sungai.

Di Sangiran juga terdapat Mud Vulcano yang bukan merupakan formasi pada daerah Sangiran tetapi merupakan fenomena geologi yang menarik. Mud

(62)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

Vulcano terbentuk akibat aktivitas endogen yaitu adanya sesar yang mendatar dan sesar naik yang menyebabkan adanya pipa tempat lewat dari lumpur dalam bumi tersebut tersingkap. Tersingkapnya lumpur tersebut membawa fosil fosil tua seperti foraminifera ikut terangkat ke atas.

(63)

Laporan Ekskursi Sangiran 2021

DAFTAR PUSTAKA

Bemmelen. Van. 1949. The Geology of Indonesia Vol 1A. Batavia: Government Printing Office

Nasrullah, N. (2012). Geologi Dan Studi Lingkungan Pengendapan Formasi Puren, Daerah Sangiran Dan Sekitarnya, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah (Doctoral Dissertation, Upn"

Veteran" Yogyakarta).

Raymond C. Moore. 1952. Invertebrate Fossils. New York. McGray-Hill Book

Robert R. Schrock. 1953 Principles of Invertebrate Paleontology. Newyork Mc Graw- Hill Book

Sulistyanto, B. 2009. Warisan Dunia Situs Sangiran: Persepsi Menurut Penduduk Sangiran. Wacana, 11 (1), 57-80

Thenu, Ellisa Vista, dkk. (2015). Analisa Lingkungan dan Sejarah Pengendapan Formasi Pucangan berdasarkan Fosil Gastropoda dan Pelecipoda di Dusun Ngampon, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Widuri, Eka Ayu. 2014. Sangiran: Kekayaan Sejarah Bangsa sebagai Warisan Budaya Dunia. Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Referensi

Dokumen terkait