• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL - Perpustakaan Poltekkes Malang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN HASIL - Perpustakaan Poltekkes Malang"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan model keyakinan kesehatan dalam upaya pencegahan ISPA non pneumonia berulang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Wagir. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk memberikan edukasi Health Belief Model (HBM) dalam upaya pencegahan ISPA non pneumonia berulang pada balita.

Faktor resiko balita menderita ISPA

Manifestasi klinis ISPA

Faktor- faktor yang mempengaruhi ISPA

Upaya pencegahan ISPA

Cara mencegah dan perawatan balita dengan masalah ISPA Menurut Depkes (2001) cara mencegah dan perawatan balita dengan masalah

Faktor lingkungan adalah faktor fisik, biologis, dan sosial budaya yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keadaan kesehatan. Faktor lingkungan adalah segala faktor, baik fisik, biologis, maupun sosial budaya, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi keadaan kesehatan.

Gambar  2.1  Faktor  yang  mempengaruhi  perilaku  kesehatan  (Green  LW  dan  Kreuter  MW, 1991)
Gambar 2.1 Faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan (Green LW dan Kreuter MW, 1991)

Definisi Health Belief Model

Model keyakinan kesehatan ini didasarkan pada keyakinan atau keyakinan individu mengenai perilaku sehat atau pengobatan tertentu yang dapat menjadikan individu tersebut sehat atau sembuh. Seperti model lainnya (teori perilaku terencana dan teori tindakan rasional), model keyakinan kesehatan merupakan model nilai-harapan.

Komponen Health Belief Model

Para peneliti ini tertarik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memprediksi keputusan untuk melakukan perilaku sehat. Model keyakinan kesehatan ini berfokus pada persepsi, ancaman, dan evaluasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan sebagai aspek utama dalam memahami bagaimana seseorang melakukan tindakan sehat (Strecher dan Rosenstock, 1997). Potensi aspek negatif dari upaya kesehatan (misalnya ketidakpastian, efek samping) atau hambatan yang dirasakan (misalnya kekhawatiran tentang ketidaksesuaian, ketidaksenangan, kegugupan) yang dapat menjadi penghalang untuk merekomendasikan perilaku tertentu.

Isyarat untuk Bertindak Suatu perilaku dipengaruhi oleh sesuatu yang menjadi isyarat bagi seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau perilaku. Model keyakinan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor demografi (Rosenstock, 1974 dalam Conner & Norman, 2003), karakteristik psikologis (Conner & Norman, 2003), dan juga dipengaruhi oleh variabel struktural, misalnya sains (Sarafino, 1994 ). ). Faktor demografi (Rosenstock, 1974 dalam Conner & Norman, 2003), karakteristik psikologis (Conner & Norman, 2003), dan variabel struktural (Sarafino, 1994) pada akhirnya mempengaruhi model keyakinan kesehatan pada individu yang mengalami patah tulang.

Beberapa faktor dalam model Health Belief berbasis kognitif (seperti keyakinan dan sikap) dan berhubungan dengan proses berpikir yang terlibat dalam pengambilan keputusan individu dalam menentukan gaya hidup sehat individu. Dalam kajian psikologi kesehatan, persepsi individu dalam melakukan atau memilih perilaku sehat dipelajari dalam teori Health Belief Model (HBM).

Kelebihan dan kekurangan Health Belief Model

Kerangka Konseptual

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimen yaitu penelitian yang memberikan perlakuan atau intervensi kepada subjek penelitian kemudian mengukur dan menganalisis pengaruh dari perlakuan tersebut. Desain ini digunakan untuk membandingkan luaran intervensi edukasi dengan teori keyakinan kesehatan terhadap upaya pencegahan ISPA non-pneumonia pada ibu dengan anak kecil yang diukur sebelum dan sesudah intervensi. O1 : pretest untuk mengukur upaya pencegahan ISPA pada ibu dengan anak kecil sebelum mendapat pendidikan dengan menggunakan teori healthbelief.

RQ2 : Posttest untuk mengukur upaya pencegahan ISPA pada ibu balita setelah mendapat edukasi dengan menggunakan teori health believe model. Populasi dalam penelitian ini menggunakan total populasi yaitu seluruh ibu balita yang mempunyai balita dengan riwayat ISPA non pneumonia. Sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diteliti atau sebagian dari ciri-ciri yang dimiliki populasi tersebut (Arikunto, 2010). Sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling.

Purposive sampling merupakan teknik pemilihan sampel dengan cara menentukan subjek yang memenuhi kriteria penelitian diikutsertakan dalam penelitian dalam jangka waktu tertentu, sehingga jumlah pasien yang dibutuhkan terpenuhi. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011).

Instrumen Penelitian

Variabel adalah hal-hal yang menjadi objek penelitian yang dilihat dalam suatu kegiatan penelitian (hal-hal yang perlu diperhatikan) yang menunjukkan variasi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif (Arikunto, 2006). Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau menyebabkan berubahnya atau munculnya variabel dependen (Sugiyono, 2011).

Lokasi dan Waktu Penelitian

Prosedur Pengumpulan Data

Memberikan kuesioner pre-test kepada ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Wagir Kabupaten Malang mengenai (umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan, pendapatan keluarga) dan upaya pencegahan ISPA berulang tanpa pneumonia pada balita. Dalam pengumpulan data ini, peneliti dibantu oleh 2 orang fasilitator (petugas puskesmas) yang telah diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai penelitian ini oleh peneliti. Pemberian kuesioner post test kepada ibu balita tentang upaya pencegahan ISPA berulang tanpa pneumonia pada balita.

Analisis Data

Uji Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas

Untuk mengetahui apakah instrumen dalam penelitian ini dapat digunakan lebih dari satu kali pada responden yang sama dan menghasilkan data yang konsisten digunakan uji reliabilitas. Uji reliabilitas kuesioner pada penelitian ini dengan cara membandingkan nilai r pada Cronbach’s alpha dengan nilai r pada tabel pada taraf signifikansi 5.

Etik Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan hasil survei dampak pendidikan Model Keyakinan Sehat (HBM) terhadap upaya pencegahan kejadian ISPA non pneumonia pada anak balita usia < 5 tahun pada ibu balita di desa Mendalanwangi wilayah kerja Puskesmas Wagir Kabupaten Malang. Uraian pada bab ini meliputi uraian data responden yang meliputi pendidikan, umur, pendapatan, pekerjaan, dan upaya pencegahan ISPA non paru pada balita.

Data Umum Responden Ibu Balita

Konstruk utama persepsi HBM: kerentanan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan model kesehatan pada ibu balita di Desa Mendalanwangi Kec. Berdasarkan Tabel 5.2 terlihat persepsi kerentanan ibu balita di Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir sebelum diberikan pendidikan model keyakinan kesehatan mayoritas responden berada pada kategori cukup yaitu sebanyak 13 responden (43 %), dan setelah diberikan pendidikan model keyakinan kesehatan mayoritas responden sebanyak 22 orang berada pada kategori baik (73%). Konstruk utama persepsi HBM: tingkat keparahan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan model kesehatan pada ibu balita di Desa Mendalanwangi Kec.

Berdasarkan Tabel 5.4 terlihat persepsi tingkat keparahan ibu balita di Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir, sebelum dilakukan edukasi model keyakinan kesehatan sebagian besar responden berada pada kategori kurang yaitu sebanyak 12 responden (40%). , dan setelah dilakukan penyuluhan model keyakinan kesehatan mayoritas responden sebanyak 20 orang berada pada kategori baik (66,7%). %). Konstruk utama persepsi HBM: manfaat sebelum dan sesudah pemberian pendidikan model keyakinan kesehatan pada ibu balita di Desa Mendalanwangi Kec. Berdasarkan Tabel 5.6 terlihat persepsi manfaat pada ibu balita di Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir sebelum dilaksanakannya edukasi model keyakinan kesehatan sebagian responden berada pada kategori kurang baik yaitu sebanyak 15 responden (50%). ). , dan setelah dilakukan pelatihan model keyakinan sehat mayoritas responden sebanyak 23 orang berada pada kategori baik (76,7%).

Konstruk utama persepsi HBM: hambatan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan model health-iman kepada ibu anak kecil di Desa Mendalanwangi Kec. Konstruk utama persepsi HBM: ancaman sebelum dan sesudah pemberian pendidikan model keyakinan kesehatan pada ibu yang memiliki anak kecil di desa Mendalanwangi Kec.

Tabel 5.7  Perbandingan nilai Main constructs of perceived HBM: Manfaat Pre  Test dan Post Test Hasil Pemberian Edukasi Berbasis Health Belief  Model  pada  Ibu  Balita  di  Desa  Mendalanwangi  Kec
Tabel 5.7 Perbandingan nilai Main constructs of perceived HBM: Manfaat Pre Test dan Post Test Hasil Pemberian Edukasi Berbasis Health Belief Model pada Ibu Balita di Desa Mendalanwangi Kec

Pengaruh Edukasi health belief model Terhadap Upaya Pencegahan ISPA Non Pneumonia pada balita di Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir

Menurut teori Health Belief Model (HBM), individu melakukan tindakan kesehatan, seperti melakukan tindakan preventif untuk meningkatkan status kesehatan, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kerentanan penyakit, persepsi keparahan, manfaat yang dirasakan, hambatan yang dirasakan, dan kepercayaan individu terhadap kesehatan. penerapan . perilaku sehat. Berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon nilai signifikansi (0,000) lebih kecil dari alpha < 0,050 sehingga terdapat perbedaan upaya pencegahan ISPA non pneumonia sebelum dan sesudah pendidikan model keyakinan kesehatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu balita, terlihat bahwa sebagian besar anggota keluarga merokok di rumah, menyatakan bahwa saya tidak dapat mencegah anak terkena asap rokok/asap nyamuk/asap dapur.

Sebaliknya, ibu dengan anak kecil pun mengaku sulit mengubah kebiasaan merokok di rumah. Upaya pencegahan ISPA antara lain vaksinasi campak dan pertusis, peningkatan gizi anak, termasuk mendorong penggunaan ASI, meningkatkan kesehatan ibu hamil, mengurangi kepadatan penduduk, meningkatkan ventilasi rumah, meningkatkan kebersihan kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2012). Ibu balita kurang menyadari bahwa ISPA tanpa pneumonia dapat menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik.

Kesimpulan

Saran

Bagi petugas kesehatan

Orang tua memerlukan pendidikan kesehatan tentang ISPA dan pencegahan ISPA non-pneumonia berulang sebagai landasan pengetahuan untuk memberikan dukungan kepada orang tua yang memiliki anak kecil. Orang tua sebaiknya membentuk kelompok sebaya untuk berbagi informasi tentang pengalaman dalam upaya pencegahan ISPA non-pneumonia berulang.

Bagi peneliti selanjutnya

Alfakanisa, 2015, Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Orang Tua Tentang Pneumonia Dengan Angka Kekambuhan Pneumonia Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngesrep Kota Semarang 2015, Skripsi Universitas Negeri Semarang. Ariwibowo A, S, 2008, Analisis peran keluarga dalam penatalaksanaan ISPA kambuhan pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mojo Surabaya, Tesis Keperawatan, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga. Habehan, Eva Maretta, 2009, Hubungan Peran Orang Tua dalam Pencegahan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dengan Kekambuhan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Martubung Medan, Skripsi, Universitas dari Sumatera Utara.

2011, Analisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada anak balita di RSUD Pasar Rebo Jakarta. Nainggalon, 2012, Hubungan Perilaku Ibu Dengan Peran Tenaga Kesehatan Dalam Pemberian Vaksinasi Di Wilayah Kerja Puskesmas Namorambe Kabupaten Deli Tua, Skripsi Universitas Sumatera Utara. Napirah dkk, 2016, Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso, Jurnal Pembangunan Kota.

Nurhidayah, I, Fatimah, S, & Rakhmawati W 2010, Upaya Keluarga dalam Pencegahan dan Pengobatan ISPA di Rumah pada Balita. Susilowati, 2010, Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Orang Tua dengan Kekambuhan ISPA pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Pekalongan Selatan, Skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Identitas Diri

Riwayat Pendidikan

Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Dalam 5 Tahun Terakhir

Saya menyatakan bahwa proposal penelitian saya yang berjudul: Dampak Model Health Belief Education Terhadap Upaya Pencegahan Kekambuhan ISPA Non Pneumonia Pada Balita Yang diusulkan dalam skema penelitian bagi calon dosen tahun anggaran 2020 adalah asli dan belum pernah ada sebelumnya. dibiayai oleh lembaga/sumber pendanaan lain. Judul Penelitian Dampak pendidikan model keyakinan kesehatan terhadap upaya pencegahan ISPA non pneumonia berulang pada balita. Sebagai bagian dari kegiatan penelitian, saya membagikan angket penelitian tentang “Dampak model pendidikan keyakinan kesehatan dalam upaya pencegahan ISPA non pneumonia berulang pada balita.

Hasil yang diperoleh dari rekan-rekan merupakan masukan yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku ibu dalam pencegahan ISPA non pneumonia. Penelitian berjudul “Pengaruh pendidikan model keyakinan kesehatan terhadap pencegahan ISPA non pneumonia berulang pada balita”. Jika saya instruksikan balita untuk tidak terpapar asap dan debu di luar rumah dalam jangka waktu lama, anak bisa terhindar dari ISPA berulang.

Membiarkan anggota keluarga yang merokok untuk tetap merokok di dalam rumah dapat membantu anak terhindar dari ISPA berulang. KUESIONER PENCEGAHAN ISPIA PADA BALITA Petunjuk: Centang (√) pada kolom jawaban di bawah ini (Tidak Pernah, Kadang-kadang, Sering, Selalu). ikan/telur/tahu/tempe) dalam makanan anak.

Gambar

Gambar  2.1  Faktor  yang  mempengaruhi  perilaku  kesehatan  (Green  LW  dan  Kreuter  MW, 1991)
Gambar 2.1     Kerangka Konseptual  Pengaruh Edukasi Health Belief Model Terhadap Upaya  Pencegahan ISPA Non Pneumoni Pada Balita
Tabel 5.1  Karakteristik Responden Pada Penelitian Pengaruh Edukasi Health Belief  Model Terhadap Upaya Pencegahan  Kejadian ISPA Non Pneumonia Pada  Balita  di Desa Mendalanwangi  Kec
Tabel 5.7  Perbandingan nilai Main constructs of perceived HBM: Manfaat Pre  Test dan Post Test Hasil Pemberian Edukasi Berbasis Health Belief  Model  pada  Ibu  Balita  di  Desa  Mendalanwangi  Kec
+2

Referensi

Dokumen terkait

6.1.3 Pemberdayaan Kader Kesehatan Desa Malangsuko efektif dilakukan karena berdampak positif terhadap pengetahuan dan ketrampilan dalam mendeteksi secara dini terhadap penyakit DM