• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KERJA PRAKTEK PENGAMATAN PROSES PEMBUATAN BENANG POLYESTER 100% NE 30

N/A
N/A
Tiara Senjawati

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN KERJA PRAKTEK PENGAMATAN PROSES PEMBUATAN BENANG POLYESTER 100% NE 30 "

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PENGAMATAN PROSES PEMBUATAN BENANG POLYESTER 100% NE 30 DI SPINNING 10 PT. INDORAMA TEKNOLOGIES COMPLEX

Diajukan Sebagai Laporan Pelaksanaan Kerja Praktek

Disusun Oleh : TIARA SENJAWATI

211131001

PROGRAM STUDI TEKNIK TEKSTIL

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI WASTUKANCANA PURWAKARTA

2024

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

PENGAMATAN PROSES PEMBUATAN BENANG POLYESTER 100% NE 30 DI SPINNING 10 PT. INDORAMA TEKNOLOGIES COMPLEX

Oleh : Tiara Senjawati

211131001

Program Studi Teknik Tekstil Sekolah Tinggi Teknologi

Telah diperiksa dan disetujui sebagai laporan kerja praktek pada tanggal Pembimbing

Martiningsih, S.T., M.Si NIDN: 0403097301

Mengetahui Ketua Program Studi

Martiningsih, S.T., M.Si NIDN: 0403097301

(3)

KERJA PRAKTEK

Purwakarta, 26 Agustus 2023

MENYETUJUI : HOF Departemen Spinning 10,

IR. SAHILUN

Pembimbing Lapangan Officer Spinning 10

DINDIN WAHYUDIN, S.Tr.T

(4)

PERNYATAAN

Saya Tiara Senjawati menyatakan dengan sesungguhnya bahwa laporan kerja praktek yang berjudul “Pengamatan Proses Pembuatan Benang Polyester 100% NE 30 di Spinning 10 PT. Indorama Teknologies Complex” adalah benar hasil karya sendiri, serta tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk persyaratan matakuliah kerja praktek dan sepengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Dinyatakan tanggal 26 Agustus 2023 Oleh

Tiara Senjawati NIM : 211131001

(5)

LEMBAR PERSEMBAHAN MOTTO

Hari Ini Berjuang, Besok Raih Kemenangan”

PERSEMBAHAN

Laporan kerja praktek ini saya persembahkan kepada :

1. Orang Tua yang selalu memberi do’a dan dukungannya untuk saya.

2. Untuk diriku sendiri yang telah berjuang sekuat tenaga hingga detik ini.

3. Untuk sosok yang telah membersamai dan memberi semangat untuk saya.

4. Adik – adik yang akan melaksanakan kerja praktek di masa yang akan datang.

(6)

ABSTRAK

Tiara Senjawati, 2024.

PENGAMATAN PROSES PEMBUATAN BENANG POLYESTER 100% NE 30 DI SPINNING 10 PT. INDORAMA TEKNOLOGIES COMPLEX

Laporan kerja Praktek, Program Studi Teknik Tekstil D3, STT Wastukancana.

PT. Indo-Rama Teknologies Complex yang didirikan di Desa Cijaya- Cikumpay, Kec. Campaka, Kab. Purwakarta, Jawa Barat. Merupakan salah satu perusahaan tekstil yang memproduksi benang. Perusahaan ini memproduksi benang dengan beberapa jenis yaitu benang cotton 100%, polyester 100%, TC /tetra cotton (65% polyester : 35% cotton ), CP/cotton polyester (60% polyester : 40% cotton), dengan nomor benang yang berbeda – beda sesuai dengan pesanan customer.

Alur proses pemintalan hampir sama semua yaitu melalui proses di mesin blowing, carding, drawing, simplex, ring spinning, winding, dan packing. Untuk mendapatkan benang yang berkualitas, ada beberapa hal yang harus diperhatikan salah satunya adalah perawatan mesin guna menjaga effisiensi operasional.

Tentunya jika kualitas produk yang didapat baik akan membangun reputasi positif bagi perusahaan, membantu memperoleh kepercayaan konsumen dan mendorong peningkatan penjualan. Karena, konsumen cenderung mencari produk yang dapat diandalkan dan memenuhi ekspektasi mereka.

(7)

ABSTRACT

Tiara Senjawati, 2024.

OBSERVATION OF YARN MAKING PROCESS POLYESTER NE 30 IN SPINNING 10

PT. INDORAMA TEKNOLOGIES COMPLEX

Practical work report, Textile Engineering Study Program D3, STT Wastukancana.

PT. Indo-Rama Teknologies Complex was established in Cijaya- Cikumpay Village, Campaka District, Purwakarta District, West Java. It is one of the textile companies that produce yarn. This company produces yarn with several types, namely 100% cotton yarn, 100% polyester, TC / tetra cotton (65%

polyester: 35% cotton), CP / polyester cotton (60% polyester: 40% cotton), with different thread numbers according to customer orders.

The flow of the spinning process is almost the same, namely through the process in blowing, carding, drawing, simplex, ring spinning, winding, and packing machines. To get quality yarn, there are several things that must be considered, one of which is machine maintenance to maintain operational efficiency.

Of course, if the quality of the product obtained is good, it will build a positive reputation for the company, help gain consumer trust and encourage increased sales. Because, consumers tend to look for products that are reliable and meet their expectations.

(8)

KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT berkat rahmat serta karunia-Nya, penulis dapat menyelasaikan penyusunan laporan kerja praktek di PT. Indorama Teknologies Complex dengan tepat waktu. Adapun judul dari laporan kerja praktek ini yaitu “Pengamatan Alur Proses Pembuatan Benang Polyester 100% NE 30 di Spinning 10 PT. Indorama Teknologies Complex” Penyusunan laporan kerja praktek ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi mata kuliah kerja praktek pada jurusan Teknik Tekstil di Sekolah Tinggi Teknologi wastukancana Purwakarta.

Penulisan laporan kerja praktek ini disusun berdasarkan pengamatan penulis selama melakukan kerja praktek dengan data dan informasi yang didapat dari karyawan, pembimbing lapangan, dan dosen. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Apang Djafar Shieddique, S.T., M.T. sebagai Ketua STT Wastukancana Purwakarta.

2. Ibu Martiningsih, S.T., M.Si. sebagai Ketua Prodi Teknik Tekstil sekaligus Dosen Pembimbing.

3. Bapak Ir Sahilun sebagai HOF Departemenn Spinning 10 sekaligus Dosen Teknik Tekstil yang selalu memberi dukungan dalam proses pelaksanaan kerja praktek ini.

4. Orang tua yang selalu mendoakan dan memberikan semangat serta dukungan.

5. Bapak Dindin Wahyudin, S.Tr.T sebagai pembimbing lapangan yang sangat membantu selama penelitian.

6. Keluarga besar Teknik Tekstil STT Wastukancana Purwakarta.

7. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu yang telah membantu kerja praktek ini baik secara moral dan material.

(9)

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan penulisan laporan di waktu yang akan datang.

Purwakarta, 26 Agustus 2023

Penulis Tiara Senjawati

(10)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...ii

KERJA PRAKTEK...iii

PERNYATAAN...iv

LEMBAR PERSEMBAHAN...v

ABSTRAK...vi

ABSTRACT...vii

KATA PENGANTAR...viii

DAFTAR ISI...x

DAFTAR GAMBAR...xii

DAFTAR TABLE...xiii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek...1

1.3 Batasan Masalah...1

1.4 Manfaat Kerja Praktek...2

1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan...2

1.6 Jadwal Kegiatan...3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...4

2.1 Sejarah Singkat Perusahaan...4

2.1.1 Sejarah PT. Indo-Rama Synthetic Tbk...4

2.1.2 Sejarah Singkat PT Indo-Rama Teknologies Complex...5

2.2 Visi dan Nilai – Nilai...5

2.3 Kegiatan Perusahaan...6

2.3.1 Lingkungan Produksi...7

2.3.2 Lingkungan Engineering...7

2.3.3 Lingkungan Pelayanan / Service...8

2.4 Struktur Organisasi...10

2.5 Kebijakan Kualitas...10

2.5.1 Standarisasi ISO...10

2.5.2 Pengelolaan Limbah...11

(11)

2.6 Kesejahteraan Tenaga Kerja...11

2.6.1 Kebijakan Keselamatan Kerja...11

2.7 Sistem Upah...12

2.8 Peraturan Tenaga Kerja...13

2.9 Analisa Masalah...13

2.10 Landasan Teori...14

2.10.1 Pengertian Serat...14

2.10.2 Serat Polyester...15

2.10.2.1 Proses Pembuatan Serat Polyester...15

2.10.2.2 Karakteristik Serat Polyester...16

2.10.2.3 Penggunaan Akhir Serat Polyester...16

2.11 Twisting...17

2.12 Benang...18

2.12.1 Cara Pembuatan Benang...18

2.13 Penomoran Benang...19

BAB III HASIL PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK dan PEMBAHASAN...22

3.1 Alur Proses Produksi...22

3.2 Raw Material...23

3.3 Blowroom...23

3.4 Carding...28

3.5 Mesin Drawing...29

3.6 Mesin Simplex (Roving)...32

3.7 Mesin Ring Frame...34

3.8 Mesin Winding...36

3.9 Packing...37

3.10 BO-U...38

3.11 Perawatan Mesin...39

3.12 Metode FIFO...40

3.14 Penomoran Benang...41

3.15 Pengambilan sample Ne 30 pada mesin Ring Frame...43

BAB IV PENUTUP...44

Kesimpulan...44

DAFTAR PUSTAKA...45

LAMPIRAN – LAMPIRAN...46

(12)

DAFTAR GAMBA

Gambar 2. 1 Visi dan Nilai...18

Gambar 2. 2 Struktur Organisasi...23

Gambar 2. 3 Sertificat Standarisasi PT.Indorama Teknologies Komplek...23Y Gambar 3. 1 Alur Proses Produksi...35

Gambar 3. 2 Bale Fiber Staple Polyester...36

Gambar 3. 3 Mesin Blendomart...37

Gambar 3. 4 Mesin BRMS...38

Gambar 3. 5 Mesin CL-U...39

Gambar 3. 6 Mesin MX-U...41

Gambar 3. 7 Mesin Carding...41

Gambar 3. 8 Mesin Drawing Breaker...43

Gambar 3. 9 Mesin Drawing Finisher...44

Gambar 3. 10 Mesin Simplex...45

Gambar 3. 11 Mesin Ring Frame...47

Gambar 3. 12 Mesin Winding...49

Gambar 3. 13 Auto Packing...51

Gambar 3. 14 Mesin BO-U...51

Gambar 3. 15 Mesin Wrapping...56

DAFTAR TABL

(13)

Tabel 1. 1 Jadwal Kegiatan Kerja Praktek...16Y Tabel 3. 1 Berat Lea...57

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam perkembangan industri dan teknologi yang semakin maju di era globalisasi saat ini telah menciptakan suatu persaingan yang semakin ketat. Di dalam perkembangan suatu perusahaan, persoalan kualitas suatu produk menjadi cermin keberhasilan suatu perusahaan dalam melakukan kegiatan produksinya.

Berdasarkan hal tersebut, perusahaan – perusahaan tekstil melakukan berbagai cara agar produk mereka menjadi yang terbaik. Dimulai dari kualitas bahan baku, kondisi dan perawatan mesin, karyawan, dll. Salah satunya adalah PT. Indo-Rama Teknologies Complex Tbk., Perusahaan ini melakukan produksi dengan menggunakan mesin – mesin otomatis dan kontinu. Tujuan penulis menyusun tulisan ini untuk melakukan pengamatan pada alur proses pembuatan benang polyester di departemen spinning 10 PT. Indo-Rama Teknologies Complex Tbk.

Pengamatan yang dilakukan penulis bertujuan agar lebih mendalami alur proses.

1.2 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek Maksud dan tujuan kerja praktek ini adalah:

1. Untuk memenuhi persyaratan matakuliah kerja praktek program diploma tiga (D-III) Teknik Tekstil Sekolah Tinggi Wastukancana Purwakarta.

2. Mengetahui dan memahami proses produksi benang polyester NE 30.

3. Mengetahui jenis-jenis mesin yang digunakan pada proses produksi.

1.3 Batasan Masalah

Pada kerja praktek saat ini, saya lebih berfokus pada alur proses pembuatan benang polyester dari blowroom hingga winding di PT. Indo-Rama Teknologies Complex Tbk., dalam upaya mendapatkan informasi yang komplit dalam rentang waktu yang terbatas.

(15)

1.4 Manfaat Kerja Praktek

Manfaat pada kerja praktek ini adalah :

1. Mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar langsung di industri dan bisa melihat kesesuaian teori yang didapat selama di kampus.

2. Mahasiswa dapat merasakan dunia kerja yang sesungguhnya.

3. Meningkatkan Wawasan tentang fungsi dan prinsip kerja mesin produksi.

1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan kerja praktek dimulai pada tanggal 26 Agustus 2023 sampai dengan 26 November 2023.

Tempat pelaksanaan kerja praktek di PT. Indorama Synthetics Tbk, Divisi Indorama Teknologies Complex, Departemen Spinning 10 yang beralat di Desa Cijaya-Cikumpay, Kec.Campaka, Kab.Purwakarta, Jawa Barat, 41181.

1.6 Jadwal Kegiat

N

O Kegiatan

Agustu

s September Oktober November

Minggu Minggu Minggu Minggu

3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Pengajuan

Kerja Praktek

2 Pengumpulan

Data Awal 3 Praktek

Lapangan

4 Bimbingan

Kerja Praktek

5 Studi

Perpustakaan 6 Penyusunan

Laporan

Tabel 1. 1 Jadwal Kegiatan Kerja Praktek

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Singkat Perusahaan

2.1.1 Sejarah PT. Indo-Rama Synthetic Tbk.

Pada tahun 1974, perusahaan ini mulai didirikan oleh Mr. Mohanlal Lohia, seorang pengusaha yang berasal dari India, yang telah mempunyai pengalaman luas di Mancanegara (Jepang, Italy, Myanmar, Singapura, Hongkong, dan Thailand) dalam bidang perdagangan tekstil sejak tahun 1947.

Pada tahun 1975, pabrik pemintalan benang (spinning I) mulai dibangun di desa Ubrug kecamatan Jatiluhur Kabupaten Purwakarta di atas tanah seluas 10,8 Ha dengan luas bangunan 9,918 m2.

Pada tahun 1976, pabrik pemintalan benang (spinning I) Telah selesai dibangun, dan mulai berproduksi komersial pada bulan September 1976 dengan jumlah karyawan +600 orang.

Sejalan dengan keberadaannya, PT. INDO-RAMA SYNTHETIC Tbk. Sekarang menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang memproduksi bahan baku tekstil. Kantor pusat PT. INDO-RAMA SYNTHETIC Tbk. Berada di gedung

“GRAHA IRAMA” lantai 16 – 17, jl H.R. Rasuna Said Blok X, Kav. 1 – 2 Ja karta 12950 Telp. 021-5261-555.

Selain di Indonesia, INDO-RAMA GROUP juga mempunyai pabrik di India, Nepal, Thailand, dan Srilanka. INDO-RAMA GROUP juga mempunyai kantor di London, Amerika, Hongkong, dan Singapura.

2.1.2 Sejarah Singkat PT Indo-Rama Teknologies Complex

Pada tanggal 01 Mei 1997, Mr. Prakash Lohia sebagai Wakil Presiden Direktur PT Indor-Rama Synthetics Tbk. Menghadap Dr. H. E. Gewang dengan maksud untuk membangun sebuah pabrik industri pemintalan, Polyester staple fiber dan polyester filamen yang berlokasi di Desa Cijaya Kecamatan Campaka Kabupaten Purwakarta dengan nomor notaris 1.

(17)

Berdasarkan notararis tersebut PT Indo-Rama Teknologies Complex mendapat persetujuan dari menteri negara penggerak dana investasi / ketua badan koordinasi penanaman modal dengan nomor :3681/1/PMDN/1997 dan nomor proyek nomor : 321/3513-02-013.629 pada tanggal 18 Juni 1998.

Sehingga dapat dimulai pembangunan pabrik industri pemintalan, polyester staple fiber dan polyester filament yang luasnya +48 Ha.

2.2 Visi dan Nilai – Nilai

a. Visi

Visi PT Indorama Teknologies Complex Tbk yaitu Kepemimpinan Bisnis (Business Leadership), yang terdiri dari :

1. People First 2. Customer Delight 3. Operational Excellence 4. Sustainability

b. Nilai-nilai

PT Indorama Teknologies Complex Tbk., memiliki nilai-nilai yang terdiri dari 12 nilai yaitu:

Gambar 2. 1 Visi dan Nilai

(18)

1. Keunggulan (Excellence),

2. Ilmu (Knowledge),

3. Kepemimpinan (Leadership),

4. Keberanian (Courage),

5. Rasa Hormat (Respect),

6. Keterbukaan (Openness),

7. Kerjasama (Team Work),

8. Motivasi (Motivation),

9. Komitmen (Commitment),

10. Inovasi (Innovation),

11. Lingkungan (Environment),

12. Tata Kelola (Govermance).

Nilai menggambarkan keyakinan, atribut, pendekatan dan sikap dimana hal ini menunjukan upaya perusahaan untuk mencapai hal-hal yang telah disebutkan pada visi dan tujuan. Untuk mencapai sukses nilai-nilai tersebut harus ditunjukkan melalui kompetensi teknikal dan manajerial.

Nilai bisa ditinjau saat ini (Komunikasi, manajemen proyek dll) atau nilai masa depan (Desain organisasi, Solusi yang menyeluruh, Kolaborasi, Manajemen bisnis/resiko dll) .

2.3 Kegiatan Perusahaan

(19)

Secara garis besar PT Indo-Rama Teknologies Complex Tbk., dibagi atas tiga lingkungan kerja, dan setiap lingkungan kerja tersebut terdiri dari beberapa departemen, adapun lingkungan kerja tersebut adalah :

1. Lingkungan Produksi 2. Lingkungan Enngineering 3. Lingkungan Service / Pelayanan 2.3.1 Lingkungan Produksi

Departemen dan fungsi dalam lingkungan produksi adalah : a. Departemen : Blowroom

Fungsinya : Mengurai fiber.

b. Departemen : Carding

Fungsinya : Mengurai serat, membentuk serat kapas menjadi sliver.

c. Departemen : Drawing

Fungsinya : Mensejajarkan serat dan perangkapan.

d. Departemen : Comber

Fungsinya : Pelurusan serat, pemisahan serat panjang dan pendek.

e. Departemen : Simplex

Fungsinya : Membuat sliver menjadi roving.

f. Departemen : Ringframe

Fungsinya : Mengubah Roving menjadi benang g. Departemen : Winding

Fungsinya : Menggulung benang dari bobin menjadi bentuk cone h. Departemen : TFO

Fungsinya : Menggulung benang double 2.3.2 Lingkungan Engineering

Departemen dan fungsi dalam lingkungan engineering adalah : a. Departemen : Spinn maintenance

Fungsinya : Memelihara, membongkar, memasang serta Memonitor kelancaran jalannya mesin produksi

b. Departemen : Instrument

(20)

Fungsinya : Memelihara, membongkar, memasang, peralatan,dan instalasi mesin yang berhubungan dengan elektrik (arus lemah).

c. Departemen : Electritian

Fungsinya : Mengendalikan penyediaan listrik arus kuat melalui generator set (genset) memasang dan memelihara penerangan dan tenaga.

d. Departemen : Utility

Fungsinya : Mengendalikan kelancaran Air Conditioning (AC) Chiller, Boiler, Compressor, dan Water Treatment H2 Nitrogen.

e. Departemen : Civil

Fungsinya : Mengawasi proyek dan pengawasan bangunan.

2.3.3 Lingkungan Pelayanan / Service

Departemen dan fungsi dalam lingkungan pelayanan adalah : 1. Departement : Pengembangan sumber daya manusia dan

personalia.

Fungsinya : Merekrut, menyeleksi, menerima, mengerahkan dan Memberhentikan karyawan.

2. Departement : Training (TRG)

Fungsinya : Sebagai wadah untuk membina, membimbing, dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dan sikap mental karyawan

secara terarah.

3. Departement : Research dan Development (RnD)

Fungsinya : Meneliti hasil produksi agar dapat digolongkan Kedalam kualitas tertentu.

4. Departement : Packing

Fungsinya : Melakukan pengepakan hasil produksi.

5. Departement : Finance Acounting (Fac)

Fungsinya : Mengkalkulasikan pemasukan dan pengeluaran Perusahaan.

(21)

6. Departement : Electronic Data Processing

Fungsinya : Menerima data dari semua departement untuk Diolah kedalam komputer.

7. Departement : Storage

Fungsinya : Menerima, menyimpan, dan menyalurkan Barang atau spare part.

8. Departement : General Affairs Officer

Fungsinya : Menangani masalah yang bersifat umum (rumah tangga perusahaan).

9. Departement : Fire and Safety

Fungsinya : Mengendalikan pekerjaan-pekerjaan yang

mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja serta mencegah kebakaran dan ledakan.

10. Departement : waste

Fungsinya : Mengambil, menjaga, mengelola dan menjual

Waste yang berasal dari departemen produksi.

11. Departement : Security

Fungsinya : Mengendalikan segala sesuatu yang berkaitan keamanan dan ketertiban di lingkungan

perusahaan.

12. Departement : Purchase

Fungsinya : Merencanakan dan melaksanakan pengadan atau pembelian barang sesuai dengan indent dan inventry management.

13. Departement : Raw Material

Fungsinya : Mengendalikan material atau bahan baku yang datang

(22)

2.4 Struktur Organisasi

2.5 Kebijakan Kualitas 2.5.1 Standarisasi ISO

Gambar 2. 2 Struktur Organisasi

(23)

PT. Indo-Rama Teknologies Complex Tbk., merupakan salah satu perusahaan yang telah mendapatkan Sertifikat ISO 9001:2000. PT. Indo-Rama Teknologies Complex Tbk., menjalankan kebijakan sesuai dengan standar ISO yang mementingkan kualitas, kebijakan tersebut diantaranya :

1. Melayani dan membangun kerja sama jangka panjang dengan konsumen, baik konsumen dari dalam maupun luar negeri dengan cara strategi pemasaran yang dapat dipercaya, strategi pemasaran yang dinamis.

2. Mengirimkan hasil produksi dengan kualitas yang prima sesuai dengan kebutuhan dan janji kepada konsumen.

3. Meningkatkan kinerja dan memperbaiki proses dan hasil produksi secara seimbaing.

4. Mengutamakan pengetahuan dan keahlian sumber daya manusia

2.5.2 Pengelolaan Limbah

Limbah dari PT. Indo-Rama Teknologies Complex Tbk., dialokasikan dan diperjual belikan dengan beberapa pembeli di sekitar pabrik.

2.6 Kesejahteraan Tenaga Kerja 2.6.1 Kebijakan Keselamatan Kerja

Gambar 2. 3 Sertificat Standarisasi PT.Indorama Teknologies Komplek

(24)

Kebijakan keselamatan kerja ditunjukan agar ketika sedang bekerja harus selalu mengutamakan keselamatan bekerja agar terhindar dari resiko yang tidak diinginkan. Inti dari kebijakan keselamatan kerja perusahaan sebagai berikut :

1. Melaksanakan segala sesuatu sesuai dengan undang – undang dan peraturan yang berlaku.

2. Memberikan training tentang keselamatan bekerja kepada karyawan.

3. Melengkapi dan memelihara segala fasilitas untuk menjamin agar setiap kegiatan berjalan dengan aman.

4. Menggunakan alat pelindung diri bagi seluruh karyawan agar keselamatannya terjamin.

5. Melatih rasa tanggung jawab dan kerjasama karyawan dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja.

2.7 Sistem Upah

Sistem pengupahan adalah sistem bulanan yang terdiri dari upah pokok, upah lembur, tunjangan. Tenaga kerja yang tidak masuk kerena sakit dan mempunyai surat keterangan dari dokter, tetap mendapat upah, sedangkan tenaga kerja yang tidak masuk tanpa ada keterangan dikenakan potongan upah.

Perhitungan kehadiran untuk upah bulanan dihitung dari tanggal 26 yang lalu sampai 25 pada bulnan berikutnya, upah kerja lembur untuk karyawan diatur sesuai dengan keputusan mentri tenaga kerja No. 27/men/1994 yang dihitung sebagai berikut:

• Hari kerja biasa : Satu jam pertama

= jumlah jam lembur x 150% x upah 173

(25)

Jam kedua dan seterusnya

= jumlah jam lembur x 200% x upah 173

•Minggu dan hari kerja : Tujuh jam pertama

= jumlah jam lembur x lembur x 200% x upah 173

Jam kedelapan berikutnya

= jumlah jam lembur x 300% x upah 173

2.8 Peraturan Tenaga Kerja

Setiap karyawan bekerja sesuai jadwal tetap dengan waktu yang sudah ditentukan oleh peraturan perusahaan, waktu kerja tersebut adalah :

a. General shift

Senin – Kamis : 08.00 – 16.00

Jumat : 08.00 – 17.00

Sabtu : 08.00 – 12.00

Istirahat : 12.00 – 13.00 Untuk hari sabtu Gs tidak istirahat

(26)

b. Shift

Shift pagi : 06.00 – 14.00 Shift siang : 14.00 – 22.00 Shift malam : 22.00 – 06.00

Istirahat pada shift diberikan secara bergantian pada pekerja setelah bekerja selama 4 jam, giliran istirahat diatur oleh leader shift sehingga pekerjaan tetap berjalan.

2.9 Analisa Masalah

PT. Indorama Teknologies Complex sebagai salah satu perusahaan yang menghasilkan produk benang. Untuk menghasilkan benang dengan kualitas yang baik dan menghindari kesalahan-kesalahan yang terjadi tentunya perusahaan harus lebih memperhatikan kualitas pada saat produksi benang itu sendiri.

Faktor penyebab terjadinya kesalahan tersebut ialah dikarenakan dari manusia (human error), metode, dan juga faktor mesin sehingga menyebabkan claim yang merugikan perusahaan.

Adapun hambatan yang biasanya terjadi saat proses pengecekan diantaranya ada kesalahan dan rusaknya salah satu bagian mesin dan keteledoran karyawan.

2.10 Landasan Teori 2.10.1 Pengertian Serat

Serat adalah suatu benda yang memiliki perbandingan antara panjang dan diameter sangat besar. Serat Tekstil merupakan bahan dasar pembuatan benang dengan cara dipintal.

Pada umumnya serat tekstil dapat digolongkan kedalam dua jenis yaitu serat alam dan serat buatan.

a. Serat alam

(27)

Serat yang tergolong serat alam yaitu serat yang langsung diperoleh dari alam seperti tumbuhan dan hewan(binatang).

1) Bahan dari serta tumbuhan

a) Dari batang, misalnya serat flax (linen), jute, henep dan rami.

b) Dari buah, misalnya serat sabut kelapa.

c) Dari daun, misalnya serat abaca (manila), sisal, henequ (heneken).

d) Dari biji, misalnya serat kapas dan kapok.

e) Serat-serat tersebut dinamakan serat selulosa (cellulose).

2) Bahan dari rambut / bulu kulit binatang

a) Dari rambut/bulu, misalnya serat Unta (camel), Alpaca, Kashmir, Mohair dan kelinci.

b) Dari bulu domba/biri, misalnya serat wol.

c) Dari kepompong ulat sutera yaitu serat sutera.

Serat-serat tersebut dinamakan serat protein (proteine).

b. Serat Buatan

Serat-serat buatan digolongkan menjadi:

1) Serat setengah buatan

Segala sesuatu yang asli dari selulosa serat alam, biasanya bubur pulp kayu atau sisa-sisa katun dicampur dengan larutan kimia menghasilkan rayon asetat dan rayon viskosa. Serat tersebut disebut selulosa regenerasi.

(28)

2) Serat buatan (sintetis)

a) Keseluruhannya dibuat dari bahan kimia, seperti fenol (batu bara), udara dan air yang menghasilkan serat poliamida, misalnya nylon, brinilon, enkalon, ban-lon, taslon dan sebagainya).

b) Asam tereptalik, etilen glikol (bahan bakar minyak) menghasilkan serat polyester, misalnya terilin, dakron, trevira, tetoron dan sebagainya.

c) Gabungan gas alam dan udara disebut akrilonitril, menghasilkan serat akrilik, misalnya dralon, orlon, courtelle dan sebagainya.

d) Serat-serat buatan bersifat termoplastik, sehingga mudah terlipat atau melekuk ketika dipanasi dan tetap bentuknya ketika di-set.

3) Serat Campuran

Kombinasi dari dua atau lebih serat yang berbeda. Biasanya serat yang menampilkan persentase yang tinggi yang mendominasi bahannya. Namun suatu campuran yang tepat akan menunjukkan keseluruhan dari mutu yang diinginkan.

Jenis Pemintalan Pada Serat Buatan 1. Pemintalan Basah (Wet Spinning)

Pemintalan Basah merupakan pemintalan yang dilakukan dengan menyemprotkan larutan polimer melalui spineret yang berada dalam larutan koagulasi. Dalam larutan

(29)

koagulasi terjadi pertukaran pelarut dan serat memadat. dalam pemintalan basah terdapat pencucian dan after treatment yang bertujuan menghilangkan sisa-sisa larutan koagulasi dan menaikkan derajat putih serat.

2. Pemintalan Kering (Dry Spinning)

Pemintalan kering merupakan pemintalan yang dilakukan dengan memasukkan bahan baku dan pelarut kemudian didorong oleh gear pump menuju spineret, ketika pelarut melalui proses didalam spineret pelarut akan menguap karena adanya udara panas, sehingga ketika serat keluar serat sudah menjadi bentuk padat kemudian serat melalui rol peregang dan rol take up selanjutnya serat digulung.

3. Pemintalan Leleh (Melt Spinning)

Pemintalan Leleh merupakan pemintalan yang dilakukan dengan memasukkan polimer padat (chips) yang akan dilelehkan kemudian lelehan chips akan didorong oleh gear pump menuju spineret kemudian serat keluar melalui lubang spineret. Pada saat keluarnya serat melalui proses pendinginan dengan udara dingin sehingga serat akan memadat, saat proses pendinginan tersebut tidak menggunakan oksigen melainkan menggunakan gas nitrogen agar tidak terbakar.

2.10.2 Serat Polyester

Polyester adalah suatu kategori polimer yang monomernya mengandung gugus fungsi ester. Polyester yang paling umum digunakan untuk keperluan serat adalah poly (etilena tereftalat), atau hanya PET yang juga merupakan polimer yang digunakan untuk banyak botol minuman ringan dan menjadi semakin umum untuk mendaur ulangnya setelah digunakan dengan melebur kembali PET dan mengestruksinya sebagai serat. Mengurangi konsumsi energi dan menghilangkan limbah padat yang dikirim ke tempat pembuangan sampah.

2.10.2.1 Proses Pembuatan Serat Polyester

Serat polyester adalah serat yang terbuat dari Etilena glikol dan asam tereftalat yang dibuat dari hasil penguraian minyak tanah. Asam tereftalat atau esternya dan etilena glikol dipolimerisasikan dalam tempat hampa udara dan suhu tinggi. Polymer

(30)

disemprotkan dalam bentuk pita dan kemudian dipotong – potong dan dikeringkan.

Pemintalan dilakukan dengan pemintalan leleh. Filament yang terjadi ditarik dalam keadaan panas sampai lima kali panjang semula kecuali filament yang kasar ditarik dalam keadaan dingin. Jika hendak dibuat staple, filamentnya dibuat keriting kemudian dipotong-potong dengan panjang tertentu.

2.10.2.2 Karakteristik Serat Polyester

 Kekuatan yang bagus

 Daya serap rendah

 Tahan terhadap peregangan dan penyusutan

 Tahan terhadap sebagian besar bahan kimia

 Mudah dicuci dan mudah kering

 Renyah dan kenyal saat basah dan kering

 Kerut dan tahan abrasi

 Mempertahankan lipatan dan lipatan yang disetel panas 2.10.2.3 Penggunaan Akhir Serat Polyester

Serat polyester memiliki berbagai penggunaan akhir yang luas. Beberapa di antaranya termasuk:

1. Tekstil : Digunakan dalam pembuatan pakaian, serat polyester sering dicampur dengan serat lain untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan pakaian.

2. Tekstil Non-Pakaian : Selain pakaian, serat polyester juga digunakan dalam pembuatan linen, bedsheet, handuk, dan produk tekstil lainnya.

3. Kain dan Kanvas : Serat polyester sering digunakan dalam pembuatan kain dan kanvas yang tahan lama dan memiliki daya tahan terhadap cuaca.

(31)

4. Karpet dan Permadani : Karena sifatnya yang tahan aus dan mudah dirawat, serat polyester sering digunakan dalam pembuatan karpet dan permadani.

5. Bahan Baku untuk Plastik : Serat polyester juga dapat diolah menjadi plastik untuk berbagai produk, termasuk botol air minum dan wadah plastik.

6. Benang Jahit dan Benang Rajut : Dalam dunia kerajinan, serat polyester digunakan untuk membuat benang jahit dan benang rajut yang tahan lama.

7. Tali dan Tali Tambang : Kekuatan dan ketahanan serat polyester membuatnya cocok untuk digunakan sebagai tali dan tali tambang.

2.11 Twisting

Penggintiran benang adalah proses merangkap beberapa helai benang, kemudian diberi puntiran (twist) yang tertentu untuk setiap panjang tertentu. Hasil dari proses ini disebut benang gintir (plied yarn). Ada dua cara proses perangkapan benang, yaitu:

a. Perangkapan langsung dilakukan diatas mesin gintir.

Pada cara ini setiap kelosan benang single diletakkan pada rak bobbin diatas mesin. Beberapa helai benang single ditarik bersama-sama melalui rol pengantar., ke delivery roll, terus digintir dan digulung pada bobbin spindle dari mesin gintir.

Keuntungan cara ini ialah:

1. Prosesnya pendek,

2. Tidak memerlukan mesin perangkap.

Kekurangan nya ialah :

1. Tiap helai benang sukar dikontrol keadaannya maupun tegangannya.

2. Sering diperoleh hasil gintiran yang kurang rata.

(32)

Untuk mesin yang tidak dilengkapi dengan stop motion, pada setiap pengantar benang single, kemungkinan besar terjadi salah gintir, umpamanya karena beberapa helai benang putus yang masih terus digintir.

b. Cara tidak langsung

Beberapa helai benang spindle dirangkap dulu pada mesin rangkap.

Keuntungan dari cara ini antara lain : - Tegangan tiap-tiap helai benang terkontrol.

- Tiap-tiap bobbin telah berisi benang rangkap, sehingga pada waktu diproses (ditarik) pada mesin gintir, kemungkinan putus benang kecil.

- Kemungkinan terjadinya salah gintir (penggintiran tunggal) kecil.

- Efisiensi produksi dapat ditingkatkan, begitu pula dengan mutu benang gintir yang dihasilkan.

Dalam satuan panjang dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

1. Twist Persentimeter (TPC)

Satuan ini biasa digunakan untuk jenis benang kapas.

2. Twisr Perinchi (TPI)

Satuan ini banyak digunakan dalam dunia tekstil karena menganut sistim internasional, juga digunakan untuk benang kapas (Ne1)

3. Twist Permeter (TPM)

Satuan ini biasa digunakan untuk benang dengan nomo Td, untuk benang filamen.

Macam-macam mesin gintir :

Berdasarkan jalannya benang mesin gintir dikelompokkan menjadi : 1. Mesin gintir turun (down twister)

(33)

2. Mesin gintir naik (up twister) 2.12 Benang

Benang adalah susunan serat-serat yang teratur kearah memanjang dengan garis tengah dan jumlah antihan tertentu yang diperoleh dari suatu pengolahan yang disebut pemintalan. Serat-serat yang dipergunakan untuk membuat benang, ada yang berasal dari alam dan ada yang dari buatan. Serat-serat tersebut ada yang mempunyai panjang terbatas (disebut stapel) dan ada yang mempunyai panjang tidak terbatas (disebut filamen).

Benang-benang yang dibuat dari serat-serat stapel dipintal secara mekanik, sedangkan benang-benang filamen dipintal secara kimia. Benang-benang tersebut, baik yang dibuat dari serat-serat alam maupun dari serat-serat buatan, terdiri dari banyak serat stapel atau filamen. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh benang yang fleksibel.

Untuk benang-benang dengan garis tengah yang sama, dapat dikatakan bahwa benang yang terdiri dari sejumlah serat yang halus lebih fleksibel daripada benang yang terdiri dari serat-serat yang kasar. Ada 2 tipe dasar konstruksi benang yaitu spun dan filamen.

a. Spun yarn (benang spun) Benang spun merupakan serat pendek, jika dari serat alam karena sudah terdapat secara alami dalam bentuknya atau filament sintetis yang dipotong untuk memendekkan ukurannya. Proses pemintalan terdiri dari atas beberapa yang pada dasarnya sama untuk semua serat dengan beberapa variasi tipe serat dan hasil akhir yang dikehendaki. Staple alam pertama-tama dibersihkan dan dipilih dalam ikatan sejajar. Menghilangkan staple yang lebih pendek adalah proses yang dinamakan proses carding. Kemudian diproses pemilahan serat yang panjang dan pendek disebut proses combing. Tingkat pemintalan yang terakhir adalah proses drawing yaitu proses menarik serat membujur satu diatas yang lainnya dan proses spinning yaitu proses pemberian antihan atau puntiran pada benang.

(34)

b. Filament yarn (benang filamen) Benang filamen adalah untaian benang hasil dari penyemprotan dari larutan kimiawi dari serat-serat sintetis atau benang dari serat alam yang sangat panjang seperti serat sutera.

2.12.1 Cara Pembuatan Benang

Pembuatan benang telah digunakan sejak zaman dahulu dan masih digunakan hingga saat ini. Proses pembuatan benang terdiri dari peregangan serat, pemberian antihan, dan penggulungan yang disebut proses pemintalan. Proses pemintalan dilakukan setelah serat mengalami proses pendahuluan seperti pembersihan dan penguraian serat dari gumpalan. Dahulu, pembersihan dan penguraian serat dilakukan dengan tangan, tetapi sekarang sudah menggunakan mesin-mesin yang berbeda tergantung pada jenis serat yang digunakan. Untuk mempelajari macam- macam mesin yang digunakan pada proses pintal, perlu diketahui sistem-sistem yang digunakan. Sistem-sistem itu antara lain, ialah :

A. Sistem Pintal dengan Flyer

Dalam system flyer digunakan alat pintal fleyer. Alat ini terdiri dari suatu spindle yang dapat diputar melalui roda pemutar spindel. Pada ujung spindel tersebut diterapkan flyer, sehingga bila spindel ber putar, maka flyer juga turut ber putar. Bobin dimana poros spindel dimasukkan, dapat ber putar bebas dan dapat diputar tersendiri melalui roda pemutar bobin. Waktu proses berlang sung, kelompok serat melalui puncak flyer, keluar melalui lubang saluran benang secara radial, lalu dibelitkan melalui kait pengantar benang dari sayap flyer ke bobin untuk digulung. Bobin dan flyer berputar sama arah nya tetapi bobbin lebih cepat, sehingga terjadi penggulungan. Sedangkan putaran flyer dipakai untuk memberikan antihan pada benang. Sistem ini digunakan untuk memintal serat-serat panjang seperti flax, henep, wol yang panjang dan sebagainya.

Dalam pembuatan benang kapas, biasanya mesin roving sebelum mesin pintal benang yang sesungguhnya.

B. Sistem Pintal Mule

(35)

Sistem pintal mule adalah sistem yang menggunakan prinsip pembuatan benang dengan kincir. Pada proses ini, spindel digerakkan dan mendekatkan pada waktu penggulungan. Sistem ini banyak digunakan untuk membuat benang dari wol yang kasar sampai yang halus.

C. Sistem Pintal Cap

Sistem pintal cap menggunakan topi yang berbentuk seperti bel yang dapat diletakkan pada ujung spindle. Karena poros bobbin menyelubungi spindel, maka bobin dapat diputar walaupun spindelnya diam. Benang berasal dari rol depan melalui pengantar digulungkan pada bobbin dengan bergeser pada bibir Cap. Bibir Cap berfungsi sebagai pengantar benang dan putaran benang menghasilkan putaran atau antihan pada benang. Sistem ini banyak digunakan pada pembuatan benang dari wol.

D. Sistem Pintal Ring

Sistem pintal ring adalah sistem yang paling banyak digunakan untuk pembuatan benang dan hampir semua pabrik penghasil benang di Indonesia menggunakan sistem ini. Prinsipnya adalah spindel diputar melalui pita dan bobin yang berlubang dapat dimasukkan ke spindle sedemikian, sehingga kalau spindel berputar bobin turut pula berputar. Melingkari bobbin tersebut terdapat ring yang terletak pada landasan ring yang dapat naik turun. Pada bibir ring dimasukkan semacam cincin kecil berbentuk “C” yang disebut traveller dan berfungsi sebagai pengantar benang selama penggulungan. Benang dari rol depan melalui pengantar benang selanjutnya digulung ke bobin yang lebih dahulu melalui traveller. Karena bobin berputar maka traveller turut berputar mengelilingi bibir ring. Oleh sebab traveller mengalami gesekan, maka putaran bobin lebih cepat dari pada traveller, sehingga terjadilah penggulungan.

E.Sistem Pintal Open End

Sistem pintal Open-end adalah cara pembuatan benang dimana bahan baku setelah mengalami peregangan seolah-olah terputus (terurai kembali) sebelum menjadi benang. Pada sistem ini pemberian antihan tidak menggunakan putaran

(36)

spindel tetapi dengan cara lain yaitu dengan menggunakan gaya aerodinamik yang dihasilkan oleh putaran rotor. Dalam proses pembuatan benang, bahan baku melalui proses pembukaan, pembersihan, peregangan dan pemberian antihan terbentuklah benang.

Adapun mesin pembuatan benang sebagai berikut :

 Mesin Blowing

 Mesin Carding

 Mesin Drawing

 Mesin Simplex (Flyer

 Mesin Ring Frame

 Mesin Winding

 Mesin Open End.

2.13 Penomoran Benang

Agar semua proses pembuatan kain/ bahan tekstil bisa dihitung dan direncanakan secara pasti, maka ditentukanlah sistem penomeran benang.

Perlu diketahui bahwa kehalusan/fineness (masa benang/bakal benang) diukur dengan nilai Tex, yaitu masa benang dibanding dengan panjangnya.

Tex ini biasa dipakai hanya untuk individual fibres (serat tunggal).

Untuk menyatakan kehalusan benang biasanya dinyatakan dengan perbandingan antara panjang dengan beratnya. Perbandingan ini disebut nomor benang.

Untuk memudahkan perhitungan, terlebih dahulu harus dipelajari satuan- satuan yang digunakan yaitu:

Untuk satuan panjang

1 inch (1”) = 2,54 cm

(37)

12 inches = 1 feet (1’) = 30,48 cm

36 inches = 3 feet = 1 yard = 91,44 cm

120 yards = 1 lea = 109,73 m

7 lea’s = 1 hank = 840 yards = 768 m

Untuk satuan berat

1 grain = 64,799 miligram

1 pound(1 lb) = 16 ounces = 7000 grains = 453,6 gram 1 ounce (1 Oz) = 437,5 grains

Untuk beberapa cara yang dipakai untuk memberikan nomor pada benang. Beberapa negara dan beberapa cabang industri tekstil yang besar, biasanya mempunyai cara-cara tersendiri untuk menetapkan penomeran pada benang. Tetapi banyak negara yang menggunakan cara-cara penomeran yang sama. Pada waktu ini ada bermacam- macam cara penomeran benang yang dikenal, tetapi pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua cara yaitu:

1. Penomeran benang secara tidak langsung

Pada cara ini ditentukan bahwa makin besar (kasar) benangnya makin kecil nomornya, atau makin kecil (halus) benangnya makin tinggi nomornya. Rumus umum untuk mencari nomer benang cara ini ialah:

Nomor=Panjang(P) Berat(B) a. Penomeran cara kapas (Ne1).

Ini adalah penomeran menurut cara Inggris. Cara ini biasanya digunakan untuk penomeran benang kapas, macam-macam benang stapel rayon dan benang stapel sutera. Satuan panjang yang digunakan ialah hank, sedang satuan beratnya ialah pound. Ne1 menunjukkan berapa hanks panjang benang untuk setiap berat 1 pound.

2. Penomeran benang secara langsung.

Cara penomeran ini kebalikan dari cara penomeran benang secara tidak langsung. Pada cara ini makin kecil (halus) benangnya makin rendah nomernya, sedangkan makin kasar benangnya makin tinggi nomernya.

(38)

Rumus untuk mencari nomor benang dengan cara ini ialah:

Nomor= Berat(B) Panjang(P)

a. Penomoran Cara Denier (D atau Td).

Cara ini digunakan untuk penomeran benang-benang sutra, benang filamen rayon dan benang filamen buatan lainnya. Satuan berat yang digunakan ialah gram, sedang satuan panjangnya ialah 9000 meter. D atau Td menunjukkan berapa gram berat benang untuk setiap panjang 9000 meter. Rumusnya dapat ditulis :

D= B(berat)dalam gram P(panjang)dalam9000meter

b. Penomoran Cara Tex.

Cara ini digunakan untuk penomeran macam benang. Satuan berat yang digunakan ialah gram, sedangkan satuan panjangnya ialah 1000 meter. Tex menunjukkan berapa gram berat benang untuk setiap panjang 1000 meter.

Rumusnya dapat ditulis :

Tex= B(berat)dalam gram P(panjang)dalam1000meter

(39)

BAB III

HASIL PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK dan PEMBAHASAN

3.1 PEMBAHASAN

Penelitian ini menyoroti kesesuaian yang kuat antara alur proses yang terjadi di pabrik dan konsep yang diperoleh mahasiswa di kampus. Temuan menunjukkan bahwa langkah-langkah produksi benang polyester 100% yang diamati di industri tekstil sesuai dengan materi yang telah dipelajari, mulai dari bahan baku hingga tahap akhir produksi.

Secara khusus, metode pembuatan benang polyester yang dikaji di pabrik mencerminkan prosedur yang diajarkan di kampus, mengakui peran teknologi dan peralatan modern dalam proses tersebut. Kesesuaian ini menunjukkan bahwa kurikulum di kampus mencakup dengan baik aspek-aspek teknis yang diterapkan dalam industri benang polyester.

Penemuan ini memperkuat pandangan bahwa pendidikan di kampus mampu mempersiapkan mahasiswa dengan pemahaman yang solid tentang alur proses produksi benang polyester. Terdapat keterkaitan yang jelas antara teori yang dipelajari dan implementasinya dalam praktik industri, memastikan mahasiswa memiliki bekal pengetahuan yang relevan dan terkini saat memasuki dunia kerja.

Keseluruhan, temuan ini mencerminkan integrasi yang baik antara dunia akademis dan industri dalam konteks alur proses benang polyester.

(40)

3.1.1 Alur Proses Produksi Benang Polyester

Alur Proses Produksi Pemintalan merupakan serangkaian langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan benang.Berikut adalah langkah-langkah dalam proses pemintalan :

3.2 Raw Material

Gambar 3. 1 Alur Proses Produksi

Gambar 3. 2 Bale Fiber Staple Polyester

(41)

Raw Material, atau Bahan Baku merujuk pada bahan dasar yang digunakan dalam proses produksi. Bahan baku disimpan di gudang dengan teratur menurut jenisnya masing-masing. Pemberian kode pada setiap bal dapat mempermudah untuk mengenali spesifikasi bahan baku, mulai dari panjang staple, asal serat dan lain-lain. Adapun bahan dasar yang digunakan yaitu serat buatan berupa serat polyester. Serat Polyester yang dipakai adalah serat polyester yang dibuat di PT.Indorama Synthetic Tbk, Ubrug-Jatiluhur dengan denier 1,4 dan panjang serat 38 mm dengan berat per bale rata-rata 380 kg. Dalam satu kali proses produksi digunakan sebanyak 38 bale polyester staple fiber yang habis dalam 19 jam.

3.3 Blowroom

Mesin Blowroom adalah mesin yang digunakan untuk mengolah serat yang menggumpal. Sehingga serat yang awalnya berbentuk bale dibuka menjadi serat yang terurai. Adapun fungsi dari proses blowing, yaitu :

1. Membuka gumpalan-gumpalan serat 2. Mencampur serat

3. Membersihkan kotoran-kotoran, seperti: partikel-partikel asing, debu, dll.

Untuk melakukan fungsi tersebut terdadapat beberapa mesin yang ada pada area Blowroom, yaitu :

3.3.1 Blendomat

Gambar 3. 3 Mesin Blendomat

(42)

Spesifikasi Mesin

1) Type : BO-P 3500

2) Merek : TRUTZSCHLER

3) Designation : Bale Opener

4) Type-no : 029-7400

5) Produksi : Jerman

6) Tahun pembuatan : 2020

7) Jumlah mesin : 1 Mesin

Mesin Blendomart berfungsi untuk mencabik-cabik serat serta membuka gumpalan-gumpalan serat agar terurai. Prinsip kerja dari mesin ini ialah berjalan disamping lay down yang sudah tertata sedemikian rupa, serat yang masih dalam bentuk bal disesuaikan dengan letak mesin Automatic Bale Opener yang akan membuka dan mengambil serat secara otomatis.

Kemudian gumpalan serat akan terhisap menuju ke mesin selanjutnya.

3.3.2 Material Separator (BR-MS)

Spesifikasi Mesin

1) Type : BR-MS 1600

Gambar 3. 4 Mesin BRMS

(43)

2) Merek : TRUTZSCHLER 3) Designation : Material Separator

4) Type-no : 378-1003

5) Produksi : Jerman

6) Tahun pembuatan : 2020 7) Jumlah mesin : 1 Mesin

Mesin ini berfungsi untuk membagi serat material untuk 2 line. Pada mesin ini serat yang menggumpal (berat) akan terbuang sedangkan serat yang sudah terurai akan terhisap ke mesin selanjutnya.

3.3.3 Universal Cleaner (CL-U)

Spesifikasi Mesin

1) Type : CL-U

2) Merek : TRUTZSCHLER

3) Designation : Cleaner

4) Type-no : 056-10 01

5) Produksi : Jerman

6) Tahun pembuatan : 2020

7) Jumlah mesin : 2 Mesin

Mesin ini fungsinya untuk menyaring kotoran yang menempel pada serat.

Gambar 3. 5 Mesin CL-U

(44)

3.3.4 Universal Mixer (MX-U)

Spesifikasi Mesin

1) Type : MX – U 10

2) Merek : TRUTZSCHLER

3) Designation : Universal Mixer

4) Type-no : 2381014

5) Produksi : Jerman

6) Tahun pembuatan : 2020

7) Jumlah mesin : 2 Mesin

Mesin MX-U memiliki ruang yang berjumlah 10, mesin ini berfungsi untuk mencampurkan serat-serat yang berbeda menjadi satu campuran

Gambar 3. 6 Mesin MX-U

(45)

homogen. Selain itu mesin MX-U juga digunakan untuk penyimpanan serat sementara.

3.4 Carding

Spesifikasi Mesin

1) Type : TC 19i

2) Merek : TRUTZSCHLER dan SAURER

3) Designation : Card

4) Type-no : 971-70 12

5) Produksi : Jerman

6) Tahun pembuatan : 2020 7) Jumlah mesin : 22 Mesin Fungsi mesin Carding, Yaitu :

1. Membersihkan kotoran-kotoran yang tersangkut pada serat

2. Membuka gumpalan-gumpalan serat lebih lanjut, agar serat terurai satu sama lain.

3. Memisahkan serat pendek dan serat panjang.

4. Membentuk serat-serat menjadi sliver.

Pada Proses carding, bahan baku yang telah diproses di mesin blowing akan disuplai ke mesin carding dengan fan melalui cerobong. Setelah itu bahan

Gambar 3. 7 Mesin Carding

(46)

tersebut akan dihisap oleh fan pada mesin cute feed melalui beater roll dan akan jatuh ke feed ducting. Pada feed ducting inilah gumpalan serat menyerupai bentuk lap.

Lapisan serat yang telah rata disuapkan melalui rol penyuap, kemudian rol penyuap menggerakan lapisan serat pada area kerja liker-in dan disuapkan ke silinder. Pada liker-in ini terjadi proses pembersihan bahan baku yang berupa partikel – partikel limbah, disinilah proses penghilangan limbah dalam carding yang terbesar. Setelah itu gumpalan serat disebarkan pada permukaan silinder menuju daerah kerja Top-Flat, disinilah gumpalan serat diurai menjadi serat individu. Setelah melewati silinder serat akan sejajar, lapisan serat pada permukaan silinder dipindahkan ke doffer kemudian diambil oleh striper, lalu calender rol dan kemudian membentuk sliver dan menggulungnya di can.

Stripping action adalah gerakan pengelupasan/pemindahan. Gerakan ini terjadi apabila arah bagian jarum yang tajam pada kedua permukaan sama dan kecepatannya berbeda diatur sedemikian rupa sehingga bagian yang tajam dari jarum pada bagian permukaan yang bergerak lebih cepat seakan-akan menyapu bagian yang tumpul dari jarum pada permukaan lainnya. Stripping action terjadi di antara taker-in dengan silinder.

Carding action adalah gerakan penguraian. Gerakan ini terjadi apabila arah bagian jarum yang tajam pada kedua permukaan berlawanan arah dan kecepatannya berbeda diatur sedemikian rupa sehingga bagian yang tajam dari jarum pada permukaan yang bergerak lebih cepat seakan-akan berdua dengan bagian yang tajam dari jarum pada permukaan lainnya.

3.5 Mesin Drawing

Sliver yang telah diproses dalam mesin carding tadi, keadaannya belum lurus, belum rata, dan juga belum sejajar. Untuk meluruskan, mensejajarkan, dan juga meratakan slivernya, maka sliver tersebut dirangkap dan disuapkan ke mesin drawing. Jumlah rangkapan biasanya antara enam sampai delapan buah sliver.Proses Drawing terdiri dari 2 bagian, yaitu :

 Drawing Breaker

 Drawing Finisher

(47)

Kedua mesin ini memiliki cara kerja yang sama, hanya saja pada drawing finisher melewati sensor autoleveler, sensor ini berfungsi untuk menjaga kerataan serat.

1. Drawing Breaker

Spesifikasi Mesin :

1) Type : TD 9T

2) Merek : TRUTZSCHLER

3) Designation : Draw Frame

4) Type-no : 720-00 21

5) Produksi : Jerman

6) Tahun pembuatan : 2020 7) Jumlah mesin : 10 Mesin

2. Drawing Finisher

Gambar 3. 8 Mesin Drawing Breaker

(48)

Spesifikasi Mesin :

1) Type : TD 10T

2) Merek : TRUTZSCHLER

3) Designation : Draw Frame

4) Type-no : 857-00 01

5) Produksi : Jerman

6) Tahun pembuatan : 2020 7) Jumlah mesin : 11 mesin Fungsi Mesin Drawing :

1. Mencampur sliver yang berasal dari carding.

2. Meluruskan dan mensejajarkan serat.

3. Memperbaiki kerataan benang.

4. Memperbaiki berat per satuan panjang.

Prinsip kerja mesin Drawing yaitu can yang berisi sliver diletakkan dibelakang mesin Drawing, masing - masing sliver dari can dilewatkan pada sliver guide dan rol pengantar sliver (creel). Kemudian sliver-sliver tersebut disatukan dan dilewatkan pada feed roll . Untuk mesin drawing finisher setelah melewati feed roll, sliver dimasukkan pada auto leveler untuk mengatur variasi nomor sliver yang masuk. Selanjutnya masuk ke area Drafting (Drafting zone) yang tersusun dari 4 roll atas (top roll) dan 4 roll bawah (bottom roll). Masing-masing dari roll

Gambar 3. 9 Mesin Drawing Finisher

(49)

tersebut akan menarik dan menekan sliver yang masuk. Penarikan terjadi karena adanya perbedaan kecepatan antar roll , kecepatan rol-rol semakin ke depan akan semakin cepat. Sehingga mengakibatkan serat lebih sejajar dengan sumbu slivernya dan sliver yang dihasilkan diameter nya lebih kecil dibandingkan dengan sliver yang masuk. Namun, dikarenakan kecepatan putarannya berbeda rotasi top roll harus dilakukan setiap 2 jam sekali. Tujuan nya untuk menghindari panasnya top roll dari gesekan yang akan mengakibatkan sliver terbakar sehingga kualitas sliver akan menurun. Kemudian sliver yang telah mengalami peregang akan diteruskan ke terompet, calender roll, coiler dan ditempatkan pada can yang berputar diatas turn table.

3.6 Mesin Simplex (Roving)

Spesifikasi Mesin :

1) Type : Zinser Ring

2) Merek : Saurer

3) Machine number : 720000100

4) Produksi : Jerman

5) Tahun pembuatan : 2020

6) Gauge : 220

7) Winding position : 144 8) Jumlah mesin : 6 Mesin

Gambar 3. 10 Mesin Simplex

(50)

Setelah melewati proses drawing dan menghasilkan sliver yang lebih rata serta letak seratnya sudah sejajar, sliver harus melewati mesin roving. Pada proses ini akan mengalami proses drafting (penarikan), twisting (antihan), dan winding (penggulungan). Dalam proses roving disetiap mesin dibedakan menurut ukuran dan jenis benang yang ada. Proses roving merupakan proses dimana sliver menjadi sebuah benang setengah jadi. Adapun fungsi dari proses roving , yaitu :

1. Melakukan peregangan dan memberikan puntiran (twist).

2. Merubah sliver menjadi roving.

3. Menggulung roving pada bobbin roving.

Mesin roving bekerja dengan mengisi can dengan sliver drawing dan meletakkannya dibelakang mesin. Sliver kemudian dilewatkan pada Creel yang dibatasi oleh separator untuk memisahkan setiap sliver agar tidak merusak permukaannya, setelah melewati creel sliver akan melewati roll-roll peregang yang terdiri dari 3 top roll dan 3 bottom roll. Pada middle roll, terdapat apron dan collector untuk membantu proses peregangan. Roll cleaner juga ditempatkan pada pasangan roll peregang untuk membersihkan roll-roll tersebut. Setelah melalui proses peregangan, serat akan keluar dalam bentuk web dan masuk ke dalam flyer cop. Kemudian, serat akan melilit pada lengan flyer dan digulung pada bobbin roving. Antihan atau twist terjadi karena putaran flyer lebih cepat daripada putaran bobbin yang berputar searah dengan flyer.

Bentuk gulungan benang diatur oleh naik turunnya kereta yang diatur oleh pembuat mesin tersebut.

3.7 Mesin Ring Frame

Gambar 3. 11 Mesin Ring Frame

(51)

Spesifikasi Mesin :

1) Type : Zinser Ring

2) Merek : Saurer

3) Machine Number : 720000100

4) Produksi : Jerman

5) Tahun Pembuatan : 2020 6) Jumlah Spindle : 1920 7) Jumlah Mesin : 24 Mesin Fungsi Mesin Ring Spinning :

1. Merubah Roving menjadi Benang.

2. Melakukan peregangan dan memberi puntiran.

3. Membentuk gulungan benang pada bobin ring spinning.

Pada hakekatnya mesin spinning dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :

 Bagian penyuapan, terdiri dari : Rak, Penggantung, Topi Penutup, Gulungan Roving, dan Pengantar.

 Bagian peregangan, terdiri dari : tiga pasangan rol peregangan yang dilengkapi dengan Per Penekan, Cleaner, Apron, dan Penghisap.

 Bagian penggulungan.

Prinsip kerja mesin spinning yaitu, gulungan roving hasil mesin simplex dipasang pada penggantung yang terdapat pada rak. Roving tersebut dilewatkan melalui pengantar, pengantar terus melalui pasangan rol peregang, ekor babi, pengontrol balon, traveller, kemudian digulung pada bobbin. Pada waktu roving melalui tiga pasangan rol peregang, roving tersebut mengalami proses peregangan dan setelah keluar dari rol peregang depan, langsung mendapat antihan karena adanya putaran traveller, akhirnya menjadi benang lalu digulung pada bobbin.

Terjadinya peregangan tersebut karena adanya perbedaan kecepatan permukaan rol pemasukan dengan kecepatan permukaan rol pengeluaran. Atau dengan kata lain, bahwa kecepatan permukaan pasangan rol peregang depan lebih cepat dari pada kecepatan permukaan pasangan rol peregang belakang. Banyak nya antihan pada benang tergantung dari kecepatan permukaan rol peregang depan dengan kecepatan putaran traveller.

(52)

Penggulungan benang pada bobbin dapat terjadi karena adanya perbedaan antara putaran spindle(bobib) dengan putaran traveller. Bobbin dipasang pada spindle yang berputar aktif, sehingga bobin juga berputar dengan kecepatan yang sama, sedangkan traveller berputar pasif karena terbawa oleh putaran bobbin pada saat terjadinya penggulungan benang. Setelah gulungan benang pada bobbin penuh , mesin akan berhenti. Kemudian bobbin yang sudah penuh diambil dan diganti dengan bobbin yang kosong. Setelah penggantian bobbin selesai, mesin akan dijalankan kembali.

3.8 Mesin Winding

Spesifikasi Mesin :

1) Type : QPRO EX

2) Merek : MURATEC

3) Serial number : 20XS252790-002 4) Produksi : Jepang

5) Tahun pembuatan : 2020

Gambar 3. 12 Mesin Winding

(53)

6) Jumlah drum : 50 drum 7) Jumlah mesin : 24 mesin Fungsi Mesin Winding :

1. Mengubah bentuk gulungan bobin menjadi gulungan cone.

2. Memperbaiki sambungan benang dari mesin ring frame.

3. Memperbaiki kualitas benang.

4. Memperbaiki kerataan benang.

Mesin winding bekerja dengan menempatkan benang dalam bentuk bobbin kecil di Magazine pocket. Bobbin tersebut jatuh kedalam bobbin peg dan ujung benang diambil oleh section pipe yang berada dalam bobbin untuk ditarik ke atas dan disambung dengan ujung benang yang berada di cone. Benang kemudian dibawa oleh section mouth melewati splicer dan slub cuther ( uster ), sedangkan section pipe membawa benang melewati tensor. Adapun alat untuk menyambung ujung-ujung benang adalah splicer yang menggunakan tekanan udara. Mesin winding dilengkapi dengan sensor panjang benang untuk menghentikan penggulungan secara otomatis ketika panjang benang sudah sesuai yang diinginkan. Pada proses penggulungan juga terjadi perbaikan kualitas benang pada kekuatan, disini benang yang kekuatannya rendah akan putus saat digulung karena adanya tension pada benang tersebut. Hal ini terjadi karena benang yang lemah tidak mampu menahan tekanan saat digulung.

Sevbaliknya, benang yang kuat akan lebih tahan terhadap tension dan tidak mudah putus saat digulung.

Perbaikan kualitas benang meliputi kerataan benang, kebersihan dan sambugan yang kurang baik. Hal ini disebabkan oleh sensor yarn clearer device yang memonitor benang yang lewat pada alur dari bobin ke cone. Jika ada benang yang tidak rata pada sensor, baik itu berdiameter lebih besar atau lebih kecil dari diameter standart, maka benang akan dipotong.

3.9 Packing

Gambar 3. 13 Auto Packing

(54)

Proses Packing di Spinning 10 menggunakan mesin auto pack. Setelah seluruh proses selesai, benang hasil dari mesin winding dibawa ke ruangan packing.

Kemudian benang-benang tersebut dinaikan ke conveyor, selanjutnya benang memasuki alat yang terdapat sinar ultravioletnya. Sinar ultraviolet ini berfungsi untuk mengecek kenampakan benang, apakah benang tersebut belang atau tidak.

Setelah melewati sinar ultraviolet, benang akan masuk ke dalam mesin auto pack.

Disini proses pengemasan dimulai, mesin auto pack akan secara otomatis mengisi wadah (karton) dengan benang sesuai dengan pengaturan yang telah ditentukan.

3.10 Universal Bale Opener (BO-U)

Gambar 3. 14 Mesin BO-U

(55)

Spesifikasi Mesin :

1) Type : BO-U 10

2) Merek : TRUTZSCHLER

3) Designation : Bale Opener

4) Type-no : 2381014

5) Produksi : Jerman

6) Tahun pembuatan : 2020 7) Jumlah mesin : 1 Mesin

Fungsi mesin BO-U adalah mengolah waste dari mesin BRMS sampai dengan mesin simplex. Waste-waste tersebut akan diurai dengan cara dicabik- cabik lalu di proses kembali pada mesin carding.

3.11 Perawatan Mesin

Pemeliharaan dan perbaikan mesin bertujuan untuk menjaga mesin agar selalu dalam kondisi baik dan dapat mendukung produksi yang direncanakan. Kegiatan pemeliharaan meliputi pencegahan dan perawatan oleh bagian maintenance. Bagian maintenance bertanggung jawab atas kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kebijakan yang ada.

1. Pemeliharaan harian

Pemeliharaan harian dilakukan setiap hari untuk mengawasi produksi dan melaporkan kerusakan oleh operator mesin yang bersangkutan.

2. Pemeliharaan Mingguan

Tenaga kerja bagian maintenance melakukan pemeliharaan mesin setiap seminggu sekali. Proses ini dilakukan pada mesin yang tidak beroperasi pada hari minggu. Pemeliharaan meliputi pelumasan, pengecekan, pembongkaran mesin dipasang kembali pada bagian tertentu.

3. Turun Mesin (Over Haul)

Pemeliharaan ini dilakukan secara menyeluruh pada mesin-mesin yang sering mengalami kerusakan dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

(56)

Roller shop adalah bagian penting penting di Departemen Spinning yang bertanggung jawab untuk melakukan perawatan rol-rol mesin spinning.

Pemeliharaan yang dilakukan oleh roller shop meliputi pembersihan, penggantian, dan perbaikan rol-rol. Jenis pemeliharaan yang dilakukan oleh bagian roller shop adalah :

1. Penggerindaa Top Roll

Penggerindaan top roll bertujuan untuk menjaga kerataan dan kekenyalan permukaan top roll agar sesuai dengan standart pabrik. Hal ini penting untuk memastikan proses peregangan berjalan dengan baik dan menghasilkan bahan yang rata. Cacat pada permukaan top roll dapat mengganggu proses peregangan berjalan dengan baik dan menghasilkan bahan yang tidak rata.

Cacat tersebut dapat disebabkan oleh benda tajam dan terlalu masa pemakaian.

2. Pencucian Apron dan Pembersihan Cradle

Pencucian apron dan pembersihan cradle dilakukan pada setiap mesin yang mengalami scouring kecil. Tujuannya adalah agar permukaan apron tidak licin karena adanya zat-zat yang menempel sehingga penarikan serat pada waktu terjadi proses peregangan menjadi sempurna dan tidak slip.

3. Pemberian Pelumas

Pelumasan (Greasing) dilakukan pada bagian poros dan bearing mesin setelah penggerindaan. Tujuannya untuk menjaga kelancaran dan efektivitas mesin agar dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan perencanaan produksi.

3.12 Metode FIFO

Metode FIFO ( First In First Out ) adalah sebuah metode terkait pengelolaan persediaan melalui pemanfaatan stok barang yang ada digudang menyesuaikan waktu masuknya barang tersebut. Barang yang masuk pertama kali ke gudang adalah stok yang harus keluar pertama kali dari gudang.

(57)

Begitupun di PT. Indorama Teknologies Complex, penggunaan material ( serat ) yang digunakan pertama kali adalah stok serat yang pertama kali masuk gudang atau yang sudah lama ada digudang.

Kondisi ruangan dapat memiliki pengaruh signifikan terhadap serat, seperti : a. Relatif Humiditi ( Kelembaban)

Kelembaban udara diruangan dapat mempengaruhi serat. Jika kelembaban terlalu tinggi, serat dapat menjadi lembab dan sulit untuk diproses. Jika kelembaban terlalu rendah, serat akan menjadi kering dan rapuh, sehingga menghasilkan serat yang lebih rentan terhadap kerusakan.

b. Suhu

Suhu ruangan juga dapat mempengaruhi serat. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan perubahan pada struktur serat dan sifat fisiknya.

3.14 Perhitungan Produksi

3.14.1 Perhitungan Produksi Mesin Carding Diketahui :

Speed : 237 Mpm Effisiensi : 94%

NE : 0,105

Jumlah mesin : 22

Ditanya : Berapa produksi pershift?

Penyelesaian :

Rumus = (speed x effisiensi x 0,4536 x 60 x 8x22)/(768 x Ne) = (237 x 0,94 x 0,4536 x 60 x 8x22)/(768 x 0,105)

= 13.233,13 kg/shift

(58)

3.14.2 Perhitungan Produksi Mesin Drawing Diketahui :

Speed : 570 m/menit Effisiensi : 90 %

Ne : 0,105

Jumlah mesin: 5 (2 delivery/mesin) Ditanya : Berapa produksi pershift?

Penyelesaian :

Rumus = (speed/mpm)/ x 0,4536 x effisiensi x t x ∑mesin )/(768 x Ne) = (570 x 0,4536 x 0,9 x 60x8 x 10 )/(768 x 0,105)

= 13.851 kg/shift

3.14.3 Perhitungan Produksi Mesin Simplex Diketahui :

Parameter

Speed : 45 Mpm

Ne : 0,73

Effisiensi : 86%

Spindle : 144 Jumlah mesin: 6

Ditanya: Berapa produksi pershift?

Penyelesaian :

Rumus = (speed/mpm x 0,4536 x eff x t x ∑mesin )/(768 x Ne)

= (25 x 0,4536 x 0,86 x 60 x 8 x 6 x 144 )/(768 x 0,73)

= 12.985 kg/shift

3.14.4 Perhitungan Produksi Mesin Ringframe Diketahui :

Parameter

TPI : 17,50 x 39,37 = tpm 688,975 Ne : 30

Rpm : 20000 Spindle: 1920

(59)

Eff: 95 %

Ditanya: Berapa produksi pershift?

Penyelesaian : Produksi mesin/hari

Rumus = (rpm x 60 x 24 x 0,4536 x eff x spindle)/(tpm x Ne x 768)

= (20000 x 60 x 24 x 0,4536 x 0,95 x 1920)/( 688,975 x 30 x 768)

= 1.501,08 kg /hari

3.15 Pengambilan sample Ne 30 pada mesin Ring Frame

Mesin Wrapping berfungsi untuk mengecek ketepatan No NE dari tiap benang ring frame.

Pada mesin Ringframe, sampel bobbin akan diambil oleh operator produksi.Sampel terdiri dari 10 bobbin dengan nomor spindle yang telah ditentukan.

Tahapan Pengujian meliputi pemasangan 10 sampel di mesin wrapping yang akan berputar s ebanyak 80 putaran atau 120 yard. Hasil dari mesin wrapping (lea) ditimbang satu persatu. Setelah 10 lea ditimbang kemudian diakumulasikan dari 10 sampel untuk mengetahui nilai Ne nya.

Data berat Actual hasil dari Lea mesin wrapping : Gambar 3. 15 Mesin Wrapping

Count Material

Actual (gram) Average

(gram)

1 2 3 4 5

Ne 30 2150 2173 2161 2199 2190

2133 2181 2135 2111 2140 2159

(60)

Perhitungan Ne : Ne= 64,8

berat ratarata x 1000

=

215964,8 x 1000

= 30,01 (Ne 30)

BAB IV PENUTUP

a. Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa penulis dapat dari kerja praktek :

1. Proses pembuatan benang polyester di PT. Indorama Teknologies menggunakan mesin pemintalan. Proses pemintalan melibatkan berbagai proses seperti blowroom, carding, drawing, simpleks, ring spinning , dan winding.

2. PT.Indorama Teknologies Complex adalah perusahaan tekstil yang memproduksi benang dengan berbagai jenis, antara lain 100% katun, 100%

polyester, TC/tetra cotton, dan CP/cotton polyester.

3. Strategi perawatan mesin dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Tabel 3. 1 Berat Lea

(61)

DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/36071346/Laporan_twisting_fahmi https://www.megajaya.co.id/mengenal-metode-fifo-pada- penyimpananbarang-di-gudang/

Pdf-proces-Pembuatan-Benang,n.d

Perancangan Pabrik Benang Combed Ne1 100%, N.D Ir. Sahilun, Spin Plan, 2022.

Martiningsih, S.T., M.Si, Polyester Serat Pendek, 2022.

Dindin Wahyudin , S.Tr.T, Perhitungan Produksi, 2023.

Training Dept., SC.ejarah PT. Indorama Technologies Complex, 2022.

Referensi

Dokumen terkait