• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kerja praktik meliputi 3 item dinding, plesteran, dan kolom

N/A
N/A
Dwi Arsita

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan Kerja praktik meliputi 3 item dinding, plesteran, dan kolom"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

PENGAWASAN RENOVASI RUANG KULIAH DAN WORKSHOP PROGRAM PROFESI S2 DAN S3 PAKET III

PENGAWASAN PEKERJAAN DINDING, PLESTERAN, DAN KUSEN

RUANG KULIAH DAN WORKSHOPPROGRAM PROFESI S2 DAN S3 PAKET III

LAPORAN KERJA PRAKTEK Oleh:

Dwi Arsita T. Rajak NPM : 07262111017

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN TERNATE 2024

(2)

i

PENGAWASAN RENOVASI RUANG KULIAH DAN WORKSHOP PROGRAM PROFESI S2 DAN S3 PAKET III

PENGAWASAN PEKERJAAN DINDING, PLESTERAN, DAN KUSEN

RUANG KULIAH DAN WORKSHOPPROGRAM PROFESI S2 DAN S3 PAKET III

LAPORAN KERJA PRAKTEK Oleh:

Dwi Arsita T. Rajak NPM : 07262111017

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KHAIRUN TERNATE 2024

(3)

ii LEMBAR PENGESAHAN

(4)

iii SURAT PERMOHONAN KERJA PRAKTIK

(5)

iv SURAT BALASAN

(6)

v SURAT KETERANGAN

(7)

vi SELESAI KERJA PRAKTIK

(8)

vii LEMBAR ASISTENSI

(9)

viii KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT sebab karena limpahan rahmat serta anugerah dari-Nya kami mampu untuk menyelesaikan laporan kerja praktik dan judul PENGAWASAN RENOVASI RUANG KULIAH DAN WORKSHOP PROGRAM PROFESI S2 DAN S3 PAKET III ini dengan baik. Sholawat serta salam tidak lupa kami haturkan untuk junjungan Nabi agung kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjuk untuk kita semua.

Laporan praktek ini disusun guna memenuhi persyaratan wajib yang harus ditempu dalam rangkaian kurikulum stara l jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Khairun Ternate. Dalam pelaksanaan kerja praktek dan penyusunan laporan ini tentu saja kami menemui banyak kesulitan, namun berkat rahmat Allah SWT serta bantuan dan pengarah dari pihak-pihak yang terkait kami dapat menyelesaikannya. Oleh sebab itu dengan ketulusan kelompok kami banyak berterimakasi kepada yang terhormat.

1. Bapak Dr. M. Ridha Ajam M,Hum Selaku Rektor Universitas Khairun Ternate.

2. Bapak Endah Harisun ST,. MT Selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Khairun.

3. Bapak Asri A. Muhammad, ST., M.Sc. Selaku Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Khairun.

4. Bapak Hery Purnomo ST., M.Ars Selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah Kerja Praktek.

5. Bapak Dr. Sudarman Samad ST., MT Selaku Dosen Mata Kuliah Kerja Praktek.

6. Tak lupa pula saya menghanturkan Terima Kasih pada CV. ALVA UTAMA CONSULTANT yang telah memberi kesempatan untuk kami berlajar kerja praktek ini.

7. Pengawasan dan Pelaksana lapangan, serta seluruh tim pekerja proyek.

(10)

ix 8. Teman-teman tim kerja praktek yang selalu semangat, dan salin

mengingatkan selama kuliah praktek ini berlangsung.

9. Orang Tua Dan Keluarga Yang Selalu Mendukung kami dan

10. Teman-teman dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu selama proses penyusuan selama proses penyesunan laporan ini. Akhirnya kami menyadari bahwa sebagai manusia mempunyai keterbatasan dan tidak lepas dari keselahan, maka kami sangat berharap saran dan kritik yang membangun dari pembaca. Demikian kami harap semoga dengan adanya laporan ini dapat dapat bermanfaat bagi semua pihak khusunya dalam kalangan Teknik Arsitektur.

Ternate, 16 Desember 2024

Penyusun

Dwi Arsita T. Rajak 07262111017

(11)

x DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

SURAT PERMOHONAN KERJA PRAKTIK ... iii

SURAT BALASAN ... iv

SURAT KETERANGAN...v

SELESAI KERJA PRAKTIK ... vi

LEMBAR ASISTENSI ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ...x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Permasalahan Kerja Praktek ... Error! Bookmark not defined. 1.3 Tujuan Kerja Praktek ...2

1.4 Ruang Lingkup dan Batasan ...2

1.5 Metode ...2

1.6 Sistematika Penulisan ...3

BAB II TINJAUAN TEORI ...4

2.1 Pendahuluan ...4

2.1.1 Pengembangan Desain...4

2.1.2 Perencanaan dan Perancangan ...4

2.1.3 Pelaksanaan Pengawasan...8

2.1.4 Administrasi ...11

2.2 Manajemen Proyek Konstruksi ...20

BAB III TINJAUAN PROYEK ...32

3.1 Latar Belakang Proyek ...32

3.1.1 Lokasi Proyek ...32

3.1.2 Anggaran Proyek ...32

3.1.3 Jadwal Kurva S ...33

3.1.4 Organisasi Konsultan...33

3.2 Identifikasi Obyek Kerja Praktek ...34

3.2.1 Kajian Teori Dinding ... Error! Bookmark not defined. 3.2.3 Kajian Teori Kusen... Error! Bookmark not defined. 3.3 Pelaksanaan ...34

3.3.1 Proses Pengamatan ...34

3.3.2 Metode Pengerjaan ...35

BAB IV PEMBAHASAN ...38

4.1 Permasalahan ...38

4.2 Kelemahan dan Kelebihan ...39

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...37

5.1 Kesimpulan ...37

(12)

xi

5.2 Saran ...37

DAFTAR PUSTAKA ...38

LAMPIRAN ...39

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...40

(13)

xii DAFTAR GAMBAR

Gambar 3. 3 Dinding ... Error! Bookmark not defined.

(14)

xiii DAFTAR TABEL

(15)

xiv DAFTAR LAMPIRAN

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Menurut Soeparno (1988), workshop menjadi sebuah tempat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar keterampilan guna mencapai tujuan pengajaran keterampilan yang lebih efektif dan efisien. Di dalam pelaksanaannya mahasiswa selalu berkaitan erat dengan workshop. Fasilitas tersebut dipergunakan untuk melatih peserta didik sebagai sebuah sarana replika yang menggambarkan dimana peserta didik nanti akan bekerja. Selain pembelajaran di dalam kelas, salah satu sumber belajar yang tidak kalah penting adalah adanya workshop yang memungkinkan para peserta didik memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan dan keterampilan dengan melakukan praktik pembelajaran.

Di lain hal ruang kuliah merupakan sarana mahasiswa untuk belajar di dalam kampus. Mahasiswa memerlukan ruang kuliah yang baik untuk dapat berkonsentrasi dalam belajar. Ruang kuliah haruslah nyaman dan baik untuk digunakan. Ruangan yang nyaman dan baik akan meningkatkan produktivitas belajar. Oleh karena itu ruang kuliah harus memenuhi standar antropometri dan penataan ruang yang baik.

Guna mempersiapkan lulusan tenaga profesional yang siap kerja, mahasiswa harus dipersiapkan sesuai bidang keahliannya yang ditunjang dengan fasilitas memadai. Salah satu fasilitas yang menunjang pembelajaran adalah ruang workshop dan ruang kuliah. Ruang workshop ini yang dapat mewadahi kegiatan pembelajaran praktik mahasiswa.

Pengawasan kerja praktek yang saat ini penulis lakukan yaitu Renovasi ruang kuliah dan workshop program profesi S2 dan S3 paket III.

(17)

2 1.2 Permasalahan

Berikut adalah permasalahan yang di jumpai pada ruang perkuliahan dan workshop :

➢ Fasilitas pada ruang kuliah dan workshop kurang memadai

➢ Elemen fisik pada ruang kuliah dan workshop

➢ Kelengkapan dan kecukupan alat pada ruang kuliah dan workshop 1.3 Tujuan Kerja Praktek

Tujuan dilakukan Renovasi ruang kuliah dan workshop program profesi S2 dan S3 paket III, yaitu sebagai berikut :

➢ Melengkapi fasilitas pada ruang kuliah dan workshop

➢ Memperbaiki elemen fisik pada ruang kuliah dan workshop 1.4 Ruang Lingkup dan Batasan

Sesuai dengan panduan kerja praktek Program studi Arsitektur, waktu pelaksanaan kerja praktek adalah 90 hari kalender.

dengan jam kerja di sesuaikan dengan aturan yang berlaku di instansi. Adapun Batasan tinjauan objek pengawasan pada proyek Renovasi ruang kuliah dan workshop program profesi s2 dan 3 paket III , yaitu :

1. Pekerjaan Dinding 2. Pekerjaan Plesteran 3. Pekerjaan Kusen 1.5 Metode

Dalam pengawasan Kerja Praktek di perlukan data – data yang menjadi acuan dalam menganalisa permasalahan yang terjadi di lapangan, maka di perlukan metode dalam pengerjaan tersebut.

1. Metode pertama, berupa pengawasan secara langsung di lapangan, melihat secara seksama bagaiamana proses pekerjaan secara detail.

2. Metode kedua, wawancara/diskusi dengan pihak pelaksana atau penanggung jawab di lapangan seperti konsultan pengawas dan kontraktor demi mendapatkan data yang lebih akurat terkait tahapan pengerjaan yang sedang berlangsung.

3. Metode Ketiga, mengambil dokumentasi sebagai data fisik, selain itu rekam

(18)

3 gambar yang di ambil dapat membantu dalam menaksir pekerjaan di lapangan.

1.6 Sistematika Penulisan

Secara garis besar sistematika penulisan Laporan kerja praktek ini adalah sebagi berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini membahas tentang latar belakang proyek, tujuan dan sasaran proyek kerja praktek, metode kerja praktek dan sistematika penulisan laporan.

BAB II : TINJAUAN TEORI

Di bab ini berisi tentang proses baik dalam tahap pengembangan desain, perencanaan /perancangan, pengawasan pelaksanaan, administrasi, dan pengelolaan / organisasi proyek secara manajemen proyek konstruksi.

BAB III : TINJAUAN PROYEK

Pada bab tiga memuat tinjauan umum dan tinjauan khusus, tinjauan umum berupa identifikasi tempat kerja praktek secara keseluruhan, organisasi konsultan/kontraktor, jadwal proyek, anggaran proyek, proses berlangsung-nya pekerjaan yang diikuti, identifikasi obyek kerja praktek, proses pengamatan.

Sedangkan tinjauan khusus berupa deskripsi tentang hal- hal yang menjadi penekanan kerja praktek atau hal- hal yang spesifik..

BAB IV : PEMBAHASAN

memuat analisis tentang hal- hal yang telah menjadi focus perhatian selama kerja praktek, misalnya berupa suatu telaah kritis [Permasalahan, kelemahan dan kelebihan, interpretasi, eksplorasi, dan sebagainya. Analisis juga dapat berupa telaah penerapan- penerapan teori dalam proses berlangsungnya pekerjaan.

BAB V : KESIMPULAN

Pada bab ini membahas mengenai kesimpulan dan saran dari hasil pengawasan yang telah di kerjakan selama proses pengawasan.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(19)

4 BAB II

TINJAUAN TEORI 2.1 Pendahuluan

diawali dari tahap survei pembuatan konsep hingga tahap pelaksanaan.

Yang terlibat dalam proyek konstruksi dari fase perencanaan sampai dengan pelaksanaan dapat dikelompokkan menjadi tiga pihak, yaitu : pihak pemilik proyek ( owner / employer / client / bouwheer) ; pihak perencana (designer); serta pihak kontraktor ( aannemer). Orang atau badan yang membiayai, merencanakan, dan melaksanakan proyek tersebut disebut unsur-unsur pelaksana. Masing-masing unsur tersebut mempunyai tugas, kewajiban, tanggung jawab, dan wewenang sesuai dengan posisinya masing-masing. Dalam melaksanakan kegiatan perwujudan bangunan, masing-masing pihak saling berinteraksi satu sama lain sesuai dengan hubungan kerja yang telah ditetapkan.

2.1.1 Pengembangan Desain

Setelah desain skematik diperiksa dan mendapat persetujuan dari klien, arsitek akan melakukankegiatan tahap selanjutnya, yaitu design development (pengembangan desain). Pada tahap ini, desain skematik yang telah dibuat akan di kembangkan Kembali dan disempurnakan menjadi desain akhir yang utuh dan menyeluruh, Barulah desain di berikan ke bagian pelaksana.

2.1.2 Perencanaan dan Perancangan 1. Perencanaan

a.) Definisi Perencanaan

Menurut David (2011) perencanaan adalah proses dimana seseorang menentukan apakah ia akan menyelesaikan tugas dengan cara yang berbeda dari cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan mempersiapkan untuk mengatasi kesulitan tak terduga dengan sumber daya yang memadai.

Berdasarkan pengertian tersebut bisa kita simpulkan antara lain:

• Perencanaan merupakan kegiatan yang harus didasarkan pada fakta, data dan keterangan kongkret.

• Perencanaan merupakan suatu pekerjaan mental yang memerlukan

(20)

5 pemikiran,imajinasi dan kesanggupan melihat ke masa yang akan datang.

• Perencanaan mengenai masa yang akan datang dan menyangkut tindakan apa yang dapat dilakukan terhadap hambatan yang mengganggu kelancaran usaha. Pada intinya perencanaan dibuat sebagai upaya untuk merumuskan apa yang sesungguhnya ingin dicapai oleh sebuah organisasi atau perusahaan serta bagaimana sesuatu yang ingin dicapai tersebut dapat diwujudkan melalui serangkaian rumusan rencana kegiatan tertentu.

b.) Jenis Perencanaan

Berdasarkan luas cakupan masalah yang dihadapi oleh manajer dalam suatu organisasi serta jangka waktu yang berada dalam suatu rencana, maka rencana dapat digolongkan dalam tiga bentuk, yaitu :

• Rencana Global (Global Plan) Rencana global ini berisi tentang penentuan tujuan suatu organisasi secara menyeluruh dan yang menjadi tujuan akhir suatu organisasi yang bersifat jangka panjang. Tujuan global ini dapat dipandang sebagai misi suatu organisasi yang dalam pengembangannya arus memperhatikan situasi dan kondisi serta perkembangan organisasi di waktu yang akan datang, yang tidak lepas dari kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh organisasi.

Analisa penyusunan rencana global terdiri atas :

➢ Strength, yaitu kekuatan yang dimiliki oleh organisasi yang bersangkutan.

➢ Weaknesses, memperhatikan kelemahan yang dimilikki oleh organisasi yang bersangkutan.

➢ Opportunity, yaitu kesempatan terbuka yang dimiliki oleh organisasi.

➢ Treath, yaitu tekanan dan hambatan yang dihadapi organisasi.

• Rencana Strategik Proses perencanaan jangka panjang yang

(21)

6 tersusun dan digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Tiga alasan penggunaan perencanaan strategik, yaitu :

➢ Memberikan kerangka dasar bagi perencanaan lainnya yang akan dilakukan.

➢ Mempermudah pemahaman bentuk perencanaan lainnya.

➢ Titik permulaan pemahaman dan penilaian kegiatan manajer dan organisasi.

c.) Fungsi Perencanaan

Menurut Allen (1982) kegiatan dari fungsi perencanaan yaitu :

• Forecasting yaitu memperkirakan pekerjaan yang akan dilakukan pada saat yang akan datang yang akan dilakukan oleh manajer. Kegiatan yang dilakukan oleh manajer ini atas dasar sistematisasi dan kontinuitas pekerjaan serta berdasarkan dimana ia bekerja.

• Establishing objectives yaitu menentukan tujuan akhir yang akan dicapai dari apa yang telah direncanakan keseluruhannya baik tujuan tiap pekerjaan maupun tujuan globalnya.

• Programming yaitu dibuat suatu program yang terdiri dari serangkaian tindakan kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu berdasarkan pada prioritas pelaksanaan.

• Scheduling yaitu membuat jadwal pekerjaan sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

• Budgeting yaitu penyusunan anggaran untuk mengalokasikan sumber daya yang ada atas dasar efisiensi dan efektifitas, anggaran belanja ini dinyatakan dalam bentuk uang.

• Developing prosedur yaitu menentukan cara yang tepat dalam penyelenggaraan pekerjaan dalam rangka adanya efisiensi, efektivitas dan keseragaman pekerjaan.

(22)

7

• Establishing and interpreting policy yaitu manajer harus dapat menafsirkan kebijakan yang akan diambil agar terjamin dalam keselarasan dan keseragaman kegiatan serta tindakan yang akan dilakukan.

2. Perancangan

a.) Pengertian Perancangan

Perancangan adalah kegiatan awal dari usaha merealisasikan suatu produk yang keberadaanya dibutuhkan oleh masyarakat untuk meringankan hidupnya. rancangan itu sendiri terdiri dari serangkaian kegiatan yang berurutan, oleh karena itu perancangan kemudian disebut sebagai proses perancangan yang mencakup seluruh kegiatan yang terdapat dalam proses perancangan tersebut. Kegiatan kegiatan dalam proses perancangan disebut fase ( Arief, 2007 ).

b.) Prinsip Perancangan

Perancangan yang baik bisa menciptakan solusi yang tepat untuk masalah yang ada, sesuai dengan kemampuan, preferensi, dan kebutuhan pengguna serta harus sesuai dengan pihak yang akan menyediakan solusi tersebut. Menurut Leurs dan Roberts (2017) ada beberapa prinsip yang membantu menciptakan perancangan, yaitu:

• Empati

Empati yang dimaksud adalah dengan menempatkan diri diposisi sebagai pengguna yang akan menggunakan produk atau layanan dalam sebuah situasi. b.

• Iterasi

Iterasi atau perulangan adalah menguji prototipe secara berulang untuk membuktikan bahwa solusi yang diberikan oleh perancang sudah cukup baik untuk mengatasi masalah. c.

• Kolaborasi

Kolaborasi merupakan hal yang penting dilakukan saat melakukan sebuah perancangan, terutama dalam perancangan dalam ranah sosial dan layanan masyarakat.

(23)

8

• Visualisasi

Visualisasi adalah pengungkapan suatu gagasan atau perasaan dengan menggunakan bentuk gambar, tulisan, peta, grafik, dan sebagainya.

Dengan menggunakan prinsip-prinsip perancangan di atas, setiap orang dapat memiliki kemampuan untuk melakukan perancangan yang baik dan benar sehingga bisa menghasilkan solusi yang berguna untuk memecahkan masalah yang ada.

2.1.3 Pelaksanaan Pengawasan

Pihak pengawas atau direksi bertugas dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan jasa konstruksi. Hal-hal yang dilakukan oleh pihak pengawas atau direksi antara lain memberikan petunjuk-petunjuk, memborongkan pekerjaan, memeriksa ketersediaan bahan, memeriksa lamanya waktu pembangunan berlangsung dan terakhir memberikan penilaian terhadap pelaksanaan pekerjaan.

Pihak pengawas yang dimaksudkan di sini adalah CV Alfa Utama yang merupakan perusahan konsultan. Konsultan sendiri terbagi menjadi dua macam yaitu konsultan perencana dan konsultan pengawas.

1.) Konsultan Perencana

Konsultan Perencana adalah pihak yang ditunjuk oleh pemberi tugas untuk melaksanakan pekerjaan perencanaan, perencana dapat berupa perorangan atau badan usaha baik swasta maupun pemerintah. Saat pelaksanaan pembangunan berlangsung, pihak konsultan perencana dapat membuat jadwal pertemuan rutin dengan kontraktor untuk membahas hal-hal yang mungkin perlu mendapat pemecahan dari perencana, misalnya saat aproval material atau pembuatan gambar shop drawing sebagai pedoman pelaksanaan proyek.

Peran Konsultan Perencana:

a.) Mengadakan penyesuaian keadaan lapangan dengan keinginan pemilik bangunan.

b.) Membuat gambar kerja pelaksanaan.

c.) Membuat Rencana Kerja dan Syarat Pelaksanaan Bangunan (RKS) sebagai pedoman pelaksanaan.

(24)

9 d.) Membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB).

e.) Memproyeksikan keinginan atau ide-ide pemilik ke dalam desain bangunan.

f.) Melakukan perubahan desain bila terjadi penyimpangan pelaksanaan pekerjaan di lapangan yang tidak memungkinkan desain terwujud diwujudkan.

g.) Mempertanggungjawabkan desain dan perhitungan struktur jika terjadi kegagalan konstruksi.

2.) Konsultan Pengawas

Konsultan Pengawas adalah pihak yang ditunjuk oleh pemilik proyek (owner) untuk melaksanakan pekerjaan pengawasan. Konsultan pengawas dapat berupa badan usaha atau perorangan. Perlu sumber daya manusia yang ahli di bidangnya masing-masing seperti teknik sipil, arsitektur, mekanikal elektrikal, listrik, dan lain- lain sehingga sebuah bangunan dapat dibangun dengan baik dalam waktu cepat dan efisien.

Peran Konsultan Pengawas:

a.) Menyelenggarakan administrasi umum mengenai pelaksanaan kontrak kerja.

b.) Melaksanakan pengawasan secara rutin dalam perjalanan pelaksanaan proyek.

c.) Menerbitkan laporan prestasi pekerjaan proyek untuk dapat dilihat oleh pemilik proyek.

d.) Konsultan pengawas memberikan saran atau pertimbangan kepada pemilik proyek maupun kontraktor dalam proyek pelaksanaan pekerjaan.

e.) Mengoreksi dan menyetujui gambar shop drawing yang diajukan kontraktor sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan proyek.

f.) Memilih dan memberikan persetujuan mengenai tipe dan merek yang diusulkan oleh kontraktor proyek namun tetap berpedoman dengan kontrak kerja konstruksi yang sudah dibuat sebelumnya.

(25)

10 Berikut merupakan syarat-syarat teknik pelaksanaan pekerjaan:

1.) Syarat-Syarat Teknik Pelaksaan Pekerjaan

Persyaratan teknis bangunan gedung negara harus tertuang secara lengkap dan jelas pada Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) dalam dokumen Perencanaan. Secara garis besar, persyaratan teknis bangunan gedung negara adalah sebagai berikut:

a. Persyaratan Tata Bangunan Dan Lingkungan

Persyaratan tata bangunan dan lingkungan bangunan gedung negara meliputi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan bangunan gedung negara dari segi tata bangunan dan lingkungannya, meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung, arsitektur bangunan gedung, ketinggian maksimum bangunan, kelengkapan sarana dan prasarana bangunan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), dan persyaratan pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan/atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kabupaten/Kota atau Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung Kabupaten/Kota yang bersangkutan.

b. Persyaratan Bahan Banguna

Bahan bangunan untuk bangunan gedung negara harus memenuhi SNI yang dipersyaratkan, diupayakan meng-gunakan bahan bangunan setempat/produksi dalam negeri, termasuk bahan bangunan sebagai bagian dari komponen bangunan sistem fabrikasi.

c. Persyaratan Struktur Bangunan

Struktur bangunan gedung negara harus memenuhi persyaratan keselamatan (safety) dan kelayanan (serviceability) serta SNI konstruksi bangunan gedung, yang dibuktikan dengan analisis struktur sesuai ketentuan.

d. Persyaratan Utilitas Bangunan

Utilitas yang berada di dalam dan di luar bangunan gedung negara harus memenuhi SNI yang dipersyaratkan mulai dari kualitas air minum,

(26)

11 metode pembuangan air kotor, limbah dan sampah, pembuatan saluran air hujan, sarana pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran, instalasi listrik, penerangan dan pencahayaan, penghawaan dan pengkondisian udara, sarana transportasi dalam bangunan gedung, sarana komunikasi, sistem penangkal/proteksi petir, instalasi gas, kebisingan dan getaran, sampai dengan aksesibilitas dan fasilitas bagi penyandang cacat dan yang berkebutuhan khusus.

e. Persyaratan Sarana Penyelamatan

Setiap bangunan gedung negara harus dilengkapi dengan sarana penyelamatan dari bencana atau keadaan darurat, serta harus memenuhi persyaratan standar sarana penyelamatan bangunan sesuai SNI yang dipersyaratkan. Spesifikasi teknis sarana penyelamatan bangunan gedung negara meliputi ketentuan-ketentuan: tangga darurat, pintu darurat, Pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah exit, koridor/selasar, sistem peringatan bahaya, dan fasilitas penyelamatan.

2.1.4 Administrasi 1. Perjanjian Kontrak

Kontrak adalah Perjanjian kerja antara penyedia jasa (kontraktor/konsultan) dengan pengguna jasa / OWNERS yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban para pihak. Perjanjian kerja dibuat untuk waktu tertentu atau untuk waktu tidak tertentu. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu didasarkan atas:

a. Jangka waktu; atau

b. Selesainya suatu pekerjaan tertentu.

2. Hal – hal yang perlu di ketahui pada awal proyek di laksanakan.

a. Syarat Umum Peserta

Perusahaan penyedia barang/jasa (Peserta) wajib tunduk dan mematuhi ketentuan sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh ULP/Panitia Lelang yaitu :

➢ Melaksanakan pendaftaran sebagai Daftar Rekanan Indonesia melalui sistem e proqurement.

(27)

12

➢ Menyerahkan fotocopy Anggaran Dasar sesuai ketentuan yang berlaku dan perubahan perubahannya.

➢ Menyerahkan surat perijinan yang dikeluarkan oleh Asosiasi tertentu (misalnya untuk lawyer ada perijinan dari Peradi, untuk akuntan publik ada kartu anggota dari IAI dan lain-lain).

➢ Menyerahkan foto copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP) yang masih berlaku.

➢ Menyerahkan foto copy SIUP, Surat keterangan Domisili dan Kartu Identitas Pengurus sesuai Anggaran Dasar yang masihberlaku.

➢ Menyerahkan foto copy NPWP dan telah memenuhi kewajiban perpajakan tahun terakhir, bagi badan usaha yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dibuktikan dengan melampirkan foto copy bukti tanda terima penyampaian Surat Pajak Tahunan(SPT), Pajak Penghasilan (PPh) tahun terakhir dan foto copy Surat Setoran Pajak (SSP) PPh Pasal 29.

➢ Fotocopy surat keputusan pengukuhan pengusaha kena pajak(PKP).

➢ Memiliki kinerja baik dan tidak pernah masuk dalam daftar sanksi atau daftar hitam di instansi pemerintah, BUMN maupun perusahaan swasta lainnya, yang dinyatakan dengan surat pernyataan bermeterai.

➢ Peserta tidak dinyatakan pailit melalui suatu Keputusan pengadilan dan kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan sementara, yang dinyatakan dengan surat pernyataan bermeterai.

➢ Peserta menyerahkan company profile perusahaan.

➢ Pihak yang mewakili perusahaan tidak sedang menjalani hukuman / sanksi pidana dan secara hukum mempunyai kapasitas dan wewenang yang sah untuk menandatangani perjanjian.

➢ Peserta bersedia menandatangani Pakta Integritas apabila berdasarkan hasil keputusan dalam proses pengadaan barang dan jasa ini dinyatakan dan ditunjuk sebagai pemenang.

➢ Peserta bersedia untuk memberikan surat jaminan penawaran (bidbond) dengan nilai jaminan dan jangka waktu yang ditentukan oleh Tim

(28)

13 Pengadaan yang dikeluarkan oleh Bank Umum,Lembaga Penjaminan atau Perusahaan Asuransi. Apabila peserta mengundurkan diri dari lelang, maka pihak panitia Lelang / ULP berhak untuk mencairkan surat jaminan tersebut.

Jaminan penawaran harus memenuhi syarat yaitu :

• Nama peserta sama dengan nama yang tercantum.

• Nilai jaminan harus dicantumkan dalam angka dan huruf.

• Mencantumkan nama penerima jaminan (pihak yang melaksanakan lelang).

• Pekerjaan yang dijamin sama dengan pekerjaan yang dilelang.

• Harus dapat dicairkan tanpa syarat.

• Jaminan Penawaran harus asli (akan dklarifikasi kepenerbit).

b.Syarat khusus pesesrta

Perusahaan penyedia barang/jasa (Peserta) wajib tunduk dan memenuhi syarat-syarat khusus peserta lelang yang tercantum dalam Term of Reference (ToR) masing-masing pengadaan, bila ditentukan oleh ULP/Panitia Lelang.

c.) Tahap-tahap Pelaksanaan Lelang

1. Penawaran pelelangan pekerjaan yang dilelang diumumkan pada e-procurment yang ada pada website Pengguna Jasa

2. Keikutsertaan dalam lelang setelah lelang pekerjaan diatas diumumkan, maka kepada calon penyedia barang dan jasa yang telah terdaftar pada Daftar Rekanan dapat mendaftarkan diri pada proses lelang tersebut dengan menyampaikan Surat Pernyataan Minat yang ditanda-tangani oleh pejabat yang berwenang pada calon penyedia sesuai ketentuan anggaran dasarnya. Bagi calon penyedia yang belum terdaftar dan berminat untukmengikuti pelelangan, maka harus mendaftar terlebih dahulu dalam daftar rekanan melalui sistem eproqurement.

(29)

14 3. Penjelasan Pelaksanaan Pelelangan(Aanwijzing)

• Kepada calon penyedia yang telah terdaftar dan telah menyampaikan surat peryataan minat sesuai ketentuan di atas, diundang untuk mengikuti proses pemberian penjelasan (aanwiijzing) atas pekerjaan yang akan dilelang. Pada saat Aanwijzing,ULP/Panitia lelang dan konsultan perencana menjelaskan isi ToR/dokumen lelang dan menjawab pertanyaan peserta undangan tentang isi ToR/dokumen lelang yang kurang jelas.

• ULP/Panitia lelang akan membuat Berita Acara Aanwijzing yang ditanda tangani Ketua dan sekurang- kurangnya 1 (satu) anggota ULP/Panitia lelang serta 2 (dua) wakil peserta undangan dan Berita Acara tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan ToR/dolumen lelang.

• Berita Acara Penjelasan tersebut dilampiri dengan risalah tanya Jawab dan addendum perubahan (bila ada).

• Setelah Aanwijzing, peserta diminta untuk mengirimkan dokumen penawaran yang terdiri dari (1) proposal Penawaran Administrasi & Teknis serta(2) proposal Penawaran Harga. Proposal penawaran Administrasi & Teknis serta proposal Penawaran Harga tersebut harus sudah diterima ULP/Panitia lelang dalam waktu 5 (lima) hari kerja setelah tanggal Aanwijzing.

4. Penyiapan Dokumen Penawaran, Peserta diminta untuk menyusun proposal penawaran secara lengkap yang mencakup hal-hal utama sebagai berikut :

• Dokumen penawaran wajib di susun oleh pesertatender/lelang dengan mengacu pada Syarat Peserta pada Term of Reference/dolumen lelang. Biaya-biaya dan proses penyiapan dokumen penawaran ini sepenuhnya

(30)

15 merupakan beban peserta.

• Peserta diminta untuk menyusun proposal penawaran harga secara lengkap yaitu :

➢ Surat Penawaran harus dibuat dan ditulisdengan bahasa Indonesia, diketik, bernomorsurat, bertanggal, ditandatangani oleh Pejabat/direktur perusahaan yang berwenang,pada asli surat penawaran diberi materaiRp. 6.000,- (enam ribu rupiah) dan distempel /cap perusahaan.

➢ Surat penawaran harus ditandatangani olehPejabat perusahaan yang berwenang sesuai Anggaran Dasar atau oleh pejabat Perusahaan yang ditunjuk berdasarkan Surat Kuasa Direksi.

➢ Apabila surat penawaran ditandatangani oleh pejabat yang ditunjuk berdasarkan surat kuasaDireksi, maka asli surat kuasa harus dilampirkan dalam surat penawaran.

➢ Jumlah harga dalam angka harus sama dengan jumlah harga yang ditulis dengan huruf, danapabila terjadi kesalahan atau perbedaan penulisan maka yang berlaku adalah jumlah harga yang ditulis dengan huruf.

➢ Perbaikan kesalahan penulisan dilakukan dengan mencoret yang salah, tetapi harus tetap terbaca, kemudian ditulis dengan benar dan selanjutnya diparaf oleh Direktur Utama perusahaan.

5. Penyampaian Dokumen Penawaran (bila menggunakan 2 sampul)

• Sampul pertama ditulis ”DATA TEKNIS” berisi kelengkapan data teknis dan jaminan penawaran (bidbond) seperti yang disyaratkan dalam Term of Reference (TOR)/Dokumen lelang.

(31)

16

• Sampul kedua ditulis ”PENAWARAN HARGA” berisi data finansial berupa data penawaran harga,yang dilengkapi dengan:

➢ Surat penawaran yang didalamnya tercantum masa berlaku penawaran yang ditandatangani oleh pihak yang berwenang di perusahaan.

➢ Besaran penawaran dengan mata uang yang ditentukan oleh TIM Pengadaan.

• Sampul pertama dan kedua dimasukan kedalam satu sampul disebut sampul penutup.

• Sampul penutup atau sampul luar mencantumkan alamat pengiriman.

• Proposal Penawaran Teknis selain dikirim sesuai dengan alamat diatas, juga diupload melalui e-procurement yang ada pada website pengguna jasa.

• Proposal diserahkan ke alamat pengiriman pada,atau sebelum batas waktu yang ditetapkan, yaitu 5 (lima) hari kerja setelah tanggal Aanwijzing. Proposal yang diterima setelah batas waktupenyampaian proposal akan ditolak dandikembalikan kepada Perusahaan penyedia barangdan jasa dalam sampul yang masih tertutup/tersegel.

6. Penerimaan Dokumen Penawaran Penerimaan dokumen penawaran dilakukan dengan mekanisme sebagai berikut:

• Peserta wajib mengisi Form Pendaftaran pengadaan pada saat menyerahkan proposal penawaran.

• Setelah batas waktu penyampaian proposal berakhir,maka wajib dilakukan rapat penutupan penerimaan proposal lelang dengan dihadiri oleh ULP/Panitia Pengadaan dan peserta lelang.

• Jika proposal pengadaan yang masuk kurang dari 3 (tiga)

(32)

17 proposal penawaran, maka proses Lelang pengadaan wajib dilakukan pengulangan dengan mengumumkan lelang kembali pada e-procurement d. Bilamana setelah dilakukan pengulangan pengumuman lelang hanya terdapat 2 (dua) peserta,maka proses lelang tetap dilanjutkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

• ULP/Panitia Pengadaan Pengadaan akan membuat Berita Acara Penutupan Penerimaan Proposal Penawaran Lelang dimana akan diumumkan jumlah proposal penawaran lelang yang diterimaULP/Panitia Pengadaan.

7. Evaluasi Dokumen Penawaran Evaluasi dan penilaian dokumen penawaran akan dilakukan secara independent dan profesional.

ULP/Panitia Pengadaan akan melakukan proses evaluasi, klarifikasi terhadap penawaran yang diajukan berdasarkan ToR/dokumen lelang yang sudah disampaikan. Perusahaan penyedia barang dan jasa tidak dibenarkan berhubungan / melakukan kontak dengan pihak ULP/Panitia Pengadaan untuk hal dan kepentingan apapun terhitung sejak batas terakhir pengiriman penawaran sampai dengan penunjukkan pemenang. Setiap usaha untuk mempengaruhi kejernihan dan independensi proses evaluasi dapat menyebabkan diskualifikasi terhadap proposal yang diajukan.

ULP/Panitia Pengadaan akan melakukan evaluasi sebagai berikut:a a.) Evaluasi Kelengkapan Administrasi dan Teknis

1. Proposal penawaran administrasi teknis dan penawaran harga dinyatakan gugur apabila :

➢ Tidak ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang yang namanya tercantum dalam Akta Pendirian dan Perubahannya.

➢ Proposal penawaran tidak mencantumkan masa berlakunya penawaran.

(33)

18

➢ Tidak menyampaikan dokumen

penawaranteknis.

➢ Jaminan Penawaran tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan ULP/Panitia Pengadaan.

2. Penawaran yang lulus Evaluasi Kelengkapan Administrasi dilanjutkan dengan Evaluasi Teknis.

3. Peserta yang lulus evaluasi kelengkapan administrasi harus memberikan pemapara npelaksanaan pekerjaan jika diperlukan.

4. Penilaian terhadap proposal penawaran teknis akan dilakukan oleh ULP/Panitia Pengadaan berdasarkan ketentuan pada ToR/dokumen Pengadaan.

b.) Evaluasi Penawaran Harga

1. Penilaian terhadap proposal penawaran harga akan dilakukan oleh ULP/Panitia Pengadaan berdasarkan ketentuan yang berlaku dengan disaksikan oleh seluruh penyedia barang/jasapeserta pengadaan.

2. Tim akan menghitung nilai kombinasi dari nilai penawaran teknis dan nilai penawaran harga dengan cara perhitungan sebagai berikut :

3. NILAI AKHIR = (Nilai Penawaran Teknis x Bobot Penawaran Teknis) + (Nilai Penawaran Harga x Bobot Penawaran Harga)

4. ULP/Panitia Pengadaan akan menetapkan peringkat berdasarkan Nilai Akhir.

5. Hasil Penilaian akan dituangkan dalam BeritaAcara Hasil Seleksi yang ditanda tangani oleh Ketua Tim dan anggota.

(34)

19 6. Proses negosiasi dilakukan berdasarkan peringkat terbaik dan apabila negosiasi tidak mencapai kesepakatan, ULP/Panitia Pengadaan akan melanjutkan proses negosiasi terhadap peserta peringkat terbaik berikutnya.

8. Masa Sanggah Setelah dilakukan evaluasi secaraadministrasi, tehnis dan biaya sehingga diperoleh peringkat dari peserta maka kepada peserta diberikan hak untuk mengajukan sanggahan dalam jangka waktu yang telah disepakati antara ULP/Panitia Pengadaan dan Peserta pengadaan, dalam hal ada dugaan terjadi adanyarekayasa yang mengakibatkan terjadinya persaingan yangtidak sehat atau adanya penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh ULP/Panitia Pengadaan Barang dan Jasa.Apabila ada sanggahan dari peserta lelang, maka untuk sementara lelang dihentikan/ditunda sampai ada penyelesaian mengenai sanggahan tersebut.

9. Klarifikasi dan Negosiasi Setelah masa sanggah selesaiatau tidak ada sanggahan yang diajukan oleh calon penyedia maka proses klarifikasi dan negosiasi dilakukan dengan mengundang calon penyedia yang memiliki peringkat tertinggi dalam evaluasi yang telah dilakukan.Jika klarifikasi dan negosiasi gagal, maka ULP/Panitia Pengadaan akan mengundang kandidat yang memiliki peringkat score terbaik pada urutan selanjutnya untuk bernegosiasi. Klarifikasi dan negosiasi dilakukan oleh ULP/Panitia Pengadaan dengan pemimpin Perusahaan peserta atau wakilnya yang mendapatkan kuasa (dinyatakan dengan surat kuasa). Tujuan Klarifikasi dan Negosiasi adalah untuk:

➢ Tujuan Klarifikasi Klarifikasi dilakukan untuk memperoleh kemantapan dan kejelasan teknis dan harga.

➢ Tujuan Negosiasi

• Negosiasi dilakukan untuk memperoleh kesepakatan harga dan pelaksanaan aspek teknis yang efektif.

(35)

20

• Mencapai kesepakatan. Selanjutnya Tim akan membuat Berita Acara Hasil Klarifikasi dan Negosiasi yang dilampiri pernyataan pesertatentang telah/tidak tercapainya kesepakatan klarifikasi dan negosiasi.

10. Penetapan dan Pengumunan Pemenang Setelah prosesklarifikasi dan negosiasi tercapai kesepakatan maka :

a.) ULP/Panitia Pengadaan mengusulkan calon pemenangPelelangan kepada Owners/Pengguna Jasa.

b.) Setelah Owners/Pengguna Jasa memutus dan menetapkan pemenang, ULP/Panitia Pengadaan akan menyampaikan Surat Penunjukan kepada pemenang pelelangan yang selanjutnya akan ditindak lanjuti dengan penanda-tanganan kontrak.

c.) Setelah menerima Surat Penunjukan dari ULP/Panitia pengadaan, maka kepada pemenang Lelang disyaratkan untuk menanda-tangani Pakta Integritas Pengadaan

d.) Penanda-tanganan perjanjian/kontrak atau SPK setelah jaminan pelaksanaan apabila dipersyaratkan diserahkan oleh penyedia yang telah ditunjuk.

2.2 Manajemen Proyek Konstruksi

Manajemen bangunan yang dimaksud adalah proses mengelola bangunan sehingga bangunan selalu dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya, misalnya pengelolaan bangunan hotel, pengelolaan kawasan pemukiman skala besar, dsb. Substansi manajemen bangunan dapat terkait dengan: teknis, fungsional, perilaku, administrasi, hukum, kelembagaaan, pembiayaan. Proses manajemen bangunan meliputi: Planning, Organiting, Operating, Controlling, Evaluating.

Keluaran yang dicapai, pengelolaan strategis, taktis dan teknis dari objek.

(36)

21 2.3 Kajian Teori Dinding

a) Pekerjaan Dinding

Dinding merupakan salah satu elemen bangunan yang dipasang secara vertikal yang berfungsi memisahkan ruang dalam dan ruang luar serta membentuk ruang. Teknologi menghadirkan fungsi baru dari dinding dan menyajikan berbagai jenis finishingnya. Berdasarkan fungsinya, dinding terbagi menjadi beberapa bagian yaitu dinding partisi, dinding pembatas, dinding penahan dan masih banyak lagi. Bahan penyusun dinding yaitu antara lain bambu, kayu, papan buatan dari gypsum (partisi), batu bata, batako, dan blok dari beton ringan.

1. Jenis-jenis Dinding

➢ Dinding Partisi : Dinding ringan yang memisahkan antar ruang dalam.

Terbuat dari gipsum, fiber, tripleks atau Duplex

➢ Dinding Pembatas : Untung menandakan batas lahan. Atau bisa disebut dinding Privasi

➢ Dinding Penahan : Digunakan pada tanah yang berkontur dan dibutuhkan struktur tambahan untuk menahan tekanan tanah.

➢ Dinding Struktural : Untuk menopang atap dan sama sekalitidak menggunakan cor beton untuk kolom. Konstruksinya 100% mengandalkan pasangan batubata dan semen

2. Fungsi Dinding

Dinding bangunan memiliki dua fungsi utama, yaitu menyokong atap dan langit-langit, membangi ruang, serta melindungi terhadap intrusi dan cuaca.

Dinding pembatas mencakup dinding privasi, dinding penanda batas, serta dinding kota. Dinding jenis ini kadang sulit dibedakan dengan pagar.

Gambar 3.5 Dinding

(37)

22 Dinding memiliki fungsi secara umum yaitu

• Pendefinisi ruang, artinya mengelompokkan masing-masing ruangan sesuai dengan fungsinya.

• Sebagai peredam suara, baik itu dari dalam maupun dari luar. Contoh suara kendaraan, hewan, suara dari alam maupun suara dalam rumah itu sendiri.

• Pembatas ruang bagian dalam, luar, samping, depan dan belakang.

• Pembentuk daerah fungsi (zoning) dalam bangunan

• Melindungi bagian dalam bangunan dari paparan sinar matahari maupun hujan.

3. Macam-macam Jenis Dinding 1. Dinding Batu Bata

Dinding batu bata adalah dinding yang paling sering digunakan dalam pembangunan baik perumahan sederhana maupun pembangunan gedunng-gedung yang berukuran besar. Karena itu pasangan batu bata memiliki nilai seni tersendiri dalam sistem pemasangannya dalam konstruksi bangunan atau dinding.

2. Dinding Batako/Batako Press

Batako press dibuat dari campuran semen PC dan pasir atau abu batu.

Jenis dinding ini ada yanng dibuat secara manual (menggunakan tangan), ada juga yang menggunakan mesin. Pembuatannya menggunakan cetakan yang di pres secara maksimal, dan dibakar dengan tungku khusus dengan panas yang tinggi. Ukuran harus tepat sehingga pemasangannya tidak perlu diadakan plesteran.

Gambar 3. 6 Dinding Batu Bata

(38)

23 Gambar 3.7 Dinding Batako

3. Dinding Bata Kapur

Ukuran dinding bata kapur 8 cm x 17 cm x 30 cm. Dinding ini banyak digunakan pada rumah-rumah di pedesaan, perumahan rakyat, pagar pembatas tanah, atau rumah sederhana. Dinding bata kapur terbuat dari campuran tanah liat dengan kapur gunung.

4. Dinding Bata Hebel atau Celcon

Bata hebel dibuat dengan mesin pabrik. Dinding bata hebel atau ceclon adalah bahan bangunan pembentuk dinding dengan mutu yang relatif tinggi. Dinding jenis ini bisa tidak di plester, cukup di aci saja karena permukaannya yang sudah rata dan permukaan batu yang lebar. Hanya saja ketebalan kusennya harus disesuaikan. Selain itu, dalam praktik pemasangan sedikit bahan yang terbuang percuma. Bata ini cukup ringan, halus, dan memiliki tingkat kerataan yang baik. Bisa langsung diberi aci tanpa harus diplester terlebih dahulu, dengan menggunakan semen khusus. Bahan dasar acian/semen tersebut adalah pasir silika,

Gambar 3. 8 Dinding Bata kapur

(39)

24 semen, filler, dan zat aditif. Untuk menggunakannya, semen ini hanya dicampur dengan air. Tetapi bisa juga menggunakan bahan seperti pemasangan batako.

5. Dinding Partisi

Sesuai dengan namanya, dinding partisi memang dikhususkan untuk sekat atara ruang. Karena di desain sebagai sekat antara ruang satu dan yang lain, dinding ini memiliki desain kontruksi yang lebih praktis dan lebih ringan dibanding dengan konstruksi dinding yang lain. Dinding macam ini banyak digunakan sebagai bahan pemyekat ruangan, terutama di perkantoran. Bahan yang dipakai umumnya terdiri dari lembaranan multiplek atau papan gipsum dengan ketebalan 9-12 mm.

Dari segi beban terhadap bangunan, dinding partisi dapat diabaikan.

Gambar 3.10 Dinding Partisi

6. Dinding Kayu

Konstruksi dinding kayu umumnya ditemua pada rumah-rumah tradisional. Terdiri dari susunan batang kayu bulat atau balok. Sistem konstruksi seperti ini tidak memerlukan rangka penguat/pengikat lagi

Gambar 3. 9 Dinding Bata Hebel

(40)

25 karena sudah merupakan dinding struktural. Karena langka dan mahalnya kayu dewasa ini, jarang sekali rumah yang memakai dinding jenis ini kecuali rumah-rumah pedesaan atau rumah-rumah yang sengaja didesain bergaya country.

Gambar 3.11 Dinding Kayu 7. Dinding Bambu

Tanaman yang satu ini mempunyai banyak kegunaan, bukan hanya sebagai senjata perang melawan penjajahan. Kegunaan bambu lainnya yang cukup tersihir adalah sebagai bahan konstruksi bangunan.

Contohnya rumah-rumah yang berada diwilayah pedesaan pulau Jawa masih banyak yang memanfaatkannya. Biasanya penduduk desa menggunakan nyaman bambu alias gedek untuk dinding rumah.

Anyaman bambu untuk dinding rumah ini bentuknya berupa kulit atau daging bambu yang sudah diiris sedememikian rupa. Namun seiring dengan hadirnya inovasi di dunia arsitektur dan desain, penggunaanya untuk dinding rumah meluas. Anyaman bambu tidak hanya digunakan oleh rumah-rumah pedesaan, tetapi juga oleh rumah rumah perkotaan.

Gambar 3.12 Dinding Bambu

(41)

26 4. Komponen Penyusun Dinding

• Batu Bata : Batu bata adalah bahan utama yang digunakan dalam konstruksi dinding. Batu bata memiliki kekuatan yang baik dan mampu menahan beban struktural. Batu bata yang umum digunakan memiliki ukuran dan dimensi standar, seperti yang telah kita bahas sebelumnya.

Selain batu bata, anda dapat menggunakan batako atau bata ringan.

• Mortar atau Plasteran : Mortar adalah campuran adukan pasir, semen, dan air yang digunakan untuk menyatukan batu bata. Plesteran adalah lapisan tipis yang diterapkan pada permukaan dinding untuk memberikan perlindungan tambahan, meningkatkan keindahan visual, serta meratakan permukaan. Mortar atau plesteran dapat memberikan kekuatan dan kestabilan pada dinding dengan menjaga bata-bata tetap terikat satu sama lain.

Tulang atau rangka dinding : Pada dinding struktural, terdapat tulangan yang bertugas meningkatkan kekuatan dinding dalam menahan beban.

Tulangan biasanya berupa besi beton yang diletakkan di dalam dinding untuk memberikan kekuatan tambahan.

2.4 Teori Pelaksanaan Pekerjaan

Teori pelaksanaan pekerjaan yang di maksud adalah metode pelaksanaan pekerjaan yang penulis tekuni dari beberapa item pekerjaan yaitu pekerjaan pondasi, slof, kolom, dinding, plesteran, dan kusen, dimana penulis yang hanya terfokus pada beberapa item yaitu dinding, plesteran dan kusen.

2.4.1 Teori Pelaksanaan Pekerjaan Dinding

Dinding batu bata adalah suatu yang membatasi dan melindungi suatu area.

Umumnya, dinding membatasi suatu bangunan, membatasi ruang dalam bangunan menjadi ruangan-nrangan, atau melindungi atau membatasi suatu ruang

a.) Pekerjaan Pasangan Dinding Bata

Fungsi Pasangan batu bata utamanya sebagai dinding penyekat bangunan.

Pekerjaan pasangail batu bata biasanya dengan pekerjaan plesteran, pekerjaan acian, pekerjaan amplas dinding dan finishing cat.

(42)

1 Alat :

➢ Cetok Semen

➢ Roskam Kayu

➢ Tali /Benang Nilon (Ruki)

➢ Sekop

Sumber: Penulis 2024

(43)

14

➢ Ember

Sumber: Penulis 2024

➢ Selang air

Sumber: Penulis 2024

➢ Meteran

➢ Palu Martil

(44)

15 Sumber: Penulis 2024

➢ Kereta Sorong

Sumber: Penulis 2024 Bahan:

➢ Semen

Sumber: Penulis 2024

➢ Batu Bata

(45)

16 Sumber: Penulis 2024

➢ Pasir

Sumber: Penulis 2024

➢ Air

Sumber: Penulis 2024 b.) Pekerjaan Persiapan Adukan

Sebelum kegiatan pemasangan dinding dimulai, terlebih dahulu dipersiapkan perlengkapan dan bahan material yang akan digunakan,

• Persiapan Peralatan. Menyiapkan perlengkapan seperti: ayakan, alas pengaduk atau box, sendok atau cetok, roskam,lokasi rendaman bata, benang, mistar ukur, slang air atau waterpass, plastik sebagai penutup adukan dan bahan yang bakal di pakai (batu bata, semen, pasir).

• Ayak pasir untuk mengasingkan pasir dengan kerikil atau koral yang dapat

(46)

17 mengganggu ketika pemasangan bata.

• Perendaman Batu Bata. Rendam batu bata kira-kira 2-8 menit atau hingga jenuh, yaitu situasi di mana bata tidak menyerapnya air lagi.

• Pembuatan Adukan. Buat adukan mortar (campuran semen dan pasir) pada media pengaduk dengan air secukupnya atau hingga didapat adukan yang merata dengan komparasi semen dan pasir cocok yang diinginkan, contohnya 1:3 (1 semen:3pasir).

Gambar 3.1 Adukan Semen Sumber : Penulis 2024 c.) Pekerjaan Pemasangan Batu Bata

Setelah adukan siap, maka tahapan selanjufrrya ialah memulai pemasangan dinding bata, langkah-langkahnya ialah antara lain ialah:

• Pasang mistar pengukur lapisan bata secara tegak lurus, ukur dengan unting- unting.

• Pasang benang penarik horizontal dan ukurlah dengan perangkat (water pas atau slang air).

• Tentukan ketebalan speci lapisan arah vertikal pada mistar ukur cocok ketebalan bata diperbanyak tebal spesi (6-10 mm).

• Bersihkan permukaan Bata. Pastikan bahwa permukaan bata dalam situasi bersih supaya adukan bisa merekat sempurna.

• Mulailah pemasangan pada lapis kesatu yang didahului pemasangan adukan atau spesi beberapa dasar.

• Lanjutkan lapis berikutnya dan kontrol ketegakan pasangan dengan perangkat unting-unting.

• Bersihkan Sisa adukan.

2.4.2 Teori Pelaksanaan Pekerjaan Plesteran

(47)

18 Plesteran ialah melapisi dinding menggunakan adukan yang tercipta dari gabungan semen, pasir, dan air. Plesteran dilaksanakan setelah bata terpasang rapi dan kering. Agar plesteran mempunyai kualitas baik, permukaannya harus benarbenar rata dan tegak, ketebalan antara 11-16 mm dan tidak terdapat keretakan pada plesteran.

a.) Persiapan

• Persiapan lahan kerja.

• Persiapan material kerja, afitara lain: semen, pasir pasang dan air.

• Persiapan alat bantu kerja, antara lain: waterpass, meteran, unting-unting, jidar, raskam, benang, kertas gosok, dll.

Alat :

➢ Cetokan

➢ Sekop

Sumber: Penulis 2024

➢ Ember

(48)

15 Sumber: Penulis 2024

➢ Kereta Sorong

Sumber: Penulis 2024 Bahan :

➢ Semen

Sumber: Penulis 2024

➢ Pasir

Sumber: Penulis 2024

(49)

15

➢ Air

Sumber: Penulis 2024

b.) Pelaksanaan pekerjaan plesteran dan acian

• Plesteran biasa menggunakan adukan I PC : 5Psr .

• Pekerjaan plesteran dinding harus tepat pada sudut sikunya serta tegak lurus terhadap lantai yang ada di sekitarnya, permukaan rata tidak bergelombang.

• Tentukan dahulu titik/jalur pemasangan pekerjaan mekanikal dan elektrikal.

• Sebelum diplester, lakukan penyiraman/curring terlebih dahulu pada permukaan dinding bata untuk menghindarkan keretakan.

• Buat adukan untuk plesteran dinding bata.

• Buat kepalaan plesteran dengan jarak sekitar 1 m dan lebar 5 cm, dengan alat bantu unting-unting untuk loting, waterpass dan jidar alumunium.

• Lekatkan adukan plesteran pada permukaan dinding, kemudian ratakan dengan raskam dan rol perata pelesteran.

• Perataan plesteran dengan acuan kepalaan yang telah dibuat.

• Acian dapat dilaksanakan setelah permukaan plesteran sudah kering (cukup umur).

• Permukaan plesteran sebelum di aci telebih dahulu disiram air. Untuk memperoleh hasil acian yang halus, setelah plesteran diberi lapisan acian semen, permukaan acian sebelum mengering digosok dengan menggunakan kertas gosok.

(50)

30 Gambar 3.2 Pengerjaan Plesteran

Sumber : Penulis 2024 2.4.3 Teori Pelaksanaan Pekerjaan Kusen

Untuk meletakkan daun pintu atau daun jendela pada dinding, dipasang rangka yang disebutKusen, kusen untuk tempat tinggal terbuat dari kayu atau logam. Kusen kayu memberikan penampilan yang hangat dan indah dari tampilan tekstur serat-serat kayu yang dimilikinya,mempunyai nilai penyekat panas yang baik dan pada umumnya tahan terhadap pengaruh cuaca.Rangka jenis ini dapat berupa produk pabrik yang telah diselesaikan dengan pelapisan cat, pewarnaan atau masih berupa kayu asli tanpa pelapisan. Kusen dari bahan logam berbeda dari kayu,Kusen logam dapat terbuat dari alumunium, baja atau baja tak berkarat (stainless-steel),warna alami logam dapat ditutup dengan lapisan cat dan dirawat engan baik untuk mencegahkorosi.

a.) Bagian-bagian Kusen

• Tiang

• Ambang (dorpel) pada kusen jendela terdapat ambang atas dan ambang bawah sedangkan pada pintu tidak ada ambang bawah

• Sponneng, yaitu tempat perletakan/melekatnya daun pintu atau daun jendela.

• Telinga, yaitu bagian ambang (dorpel) yangmasuk/ditanam kedalam tembok yang berfungsi untuk menahan gerakan kusen kemuka atau kebelakang.

• Alur kapur, bagian dari tiang yang dialur/dicoak dengan fungsi untuk menahan gerakan kusen kemukaatau kebelakang selain itu juga agar apabila terjadi penyusutan, tidak timbul celah.

• Angkur, dipasang pada tiang berfungsi untuk memperkuat melekatnya pada tembok juga menahangerakan ke samping.dan ke muka/ke belakang.

(51)

31

• Duk (neut), dipasang pada tiang di bagian bawah, khusus untuk kusen pintu, berfungsi untuk menahan gerakan tiang ke segala arah danmelindung tiang kayu terhadap resapan air dari latai ke atas.

b.) Pemasangan Kusen Pintu

• Siapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah di jangkau

• Rentangkan benang berjarak separuh dari tebal kusen terhadap as bouplank untuk menentukan kedudukan kusen

• Pasang angker pada kusen secukupnya

• Dirikan kusen dan tentukan tinggi kedudukan kusen pintu yaitu 2 meter dari tinggi bowplank

• Setel kedudukan kusen pintu sehingga berdiri tegak dengan menggunakan unting-unting

• Pasang skur dengan sehingga kedudukannya stabil dan kokoh

• Cek kembali kedudukan kusen pintu, apakah sudah sesuai pada tempatnya, ketinggian dan ketegakan dari kusen.

• Bersihkan tempat sekelilingnya c.) Pemasangan Kusen Jendela

• Siapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah di jangkau.

• Rentangkan benang selebar setengah ukuran batu bata dari as bouwplank.

• Pasang bata setengah batu setinggi dasar kusen jendela .

• Rentangkan benang setinggi 2 meter dari bouwplank.

• Pasang kusen jendela setinggi benang tersebut.

• Pasang kusen jendela sampai betul-betul tegak dengan pertolongan unting- unting.

• Pasang skur agar kedudukannya stabil dan kuat.

• Cek kembali posisi kusen jendela sampai terpasang pada keadaan yang benar.

(52)

32 BAB III

TINJAUAN PROYEK 3.1 Latar Belakang Proyek

Ruang kuliah merupakan sarana mahasiswa untuk belajar di dalam kampus.

Mahasiswa memerlukan ruang kuliah yang baik untuk dapat berkonsentrasi dalam belajar. Ruang kuliah haruslah nyaman dan baik untuk digunakan. Ruangan yang nyaman dan baik akan meningkatkan produktivitas belajar. Oleh karena itu ruang kuliah harus memenuhi standar antropometri dan penataan ruang yang baik.

Menurut Suhardi (2008) antropometri adalah pengetahuan yang menyangkut pengukuran tubuh manusia khusunya dimensi tubuh. Antropometri ini digunakan sebagai dasar pertimbangan ergonomis dalam perancangan produk maupun sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia.

3.1.1 Lokasi Proyek

Gambar 3.3 Lokasi Proyek Sumber : Google Maps

Lokasi Proyek berada di Kawasan Pendidikan kampus Universitas Khairun kec. Ternate Selatan kel.Gambesi provinsi Maluku Utara.

3.1.2 Anggaran Proyek

Nilai kontrak sebesar : Rp. 506.862.640,00

Sumber dana : APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).

(53)

33 3.1.3 Jadwal Kurva S

Jadwal kurva S merupakan diagram yang menggambarkan suatu grafik hubungan antara waktu pelaksanaan proyek di mulai dari awal hingga selesai yang dicapai dalam nilai material. Pembuatan kurva S dilakukan pada tahap awal sebelum proyek dimulai dengan menerapkan asumsi sehingga dihasilkan rencana kegiatan yang rasional.

Pada proyek ini, pengawasan dilaksanakan dari tanggal 8 oktober 2024 sampai dengan. Berikut Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan (Kurva S) pada Proyek Renovasi Ruang Kuliah dan Workshop Program Profesi S2 dan S3 Paket III , Ternate Selatan, Maluku Utara:

Gambar 3. 4 Jadwal Kurva S 3.1.4 Organisasi Konsultan

Pihak/badan yang disebut sebagai konsultan dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

1. konsultan perencana dan konsultan pengawas. Konsultan perencana dapat dipisahkan menjadi beberapa jenis berdasarkan spesialisasinya, yaitu : konsultan yang menangani bidang arsitektur, bidang sipil, bidang mekanikal dan elektrikal dan lain sebagainya. Berbagai jenis bidang tersebut umumnya menjadi satu kesatuan yang disebut sebagai konsultan perencana.

2. Konsultan Perencana/Perancang Konsultan perencana adalah orang / badan yang membuat perencanaan bangunan secara lengkap baik bidang arsitektur, sipil, maupun bidang lain yang melekat erat dan membentuk sebuah sistem bangunan. Konsultan perencana dapat berupa perseorangan/perseorangan berbadan hukum / badan hukum yang bergerak dalam bidang perencanaan pekerjaan bangunan.

Detail pekerjaan yang lebih rinci antara lain :

a. Pra rancangan /pra desain, Design development, Rancangan situasi, site plan, Rancangan denah, Rancangan potongan, Rancangan tampak, Rancangam 3D interior & eksterior, Rancangan rencana atap, pintu, jendela

(54)

34 /bouvenligh, plafond, lampu, pondasi dll,

b. Detail struktur; penulang sloof, kolom,balok,plat , tangga dll,

c. Pekerjaaan system utilitas, sanitasi air kotor,air bersih, air hujan, limbah, d. Pekerjaan detail system mecanical dan electrical (ME), escalator, trafelator, lift, sistem air conditioner (AC), penangkal petir.

e. Penyelesaian rencana anggaran biaya dan owner estimate /OE, detail pekerjaan yang lebih rinci antara lain menghitung: Harga bahan bangunan, Upah tenaga, Menghitung volume (Bill of quantity /BQ), Menghitung Analisa, Menghitung rencana anggaran biaya, Membuat Time schedule, Membuat Rencana kerja dan syarat- syarat, Administrasi dan Teknik.

3.2 Identifikasi Obyek Kerja Praktek

Bidang kerja praktek yang penulis ambil adalah konsultan pengawas, di mana penulis mengawasi tiga item pekerjaan yang ada di proyek Renovasi ruang kuliah dan workshop program profesi S2 dan S3 Paket III, yaitu DINDING, PLESTERAN, dan KUSEN.

3.3 Pelaksanaan Pemasangan Dinding Bata

Pelaksanaan Pekerjaan Berfokus Pada Pekerjaan DINDING, PLESTERAN dan KUSEN, Mengikut jadwal dan proses kerja di lapanngan.

3.3.1 Proses Pengamatan

Pengamatan Pekerjaan Selama 90 hari jadwal kerja praktek dengan mengikut jadwal pelaksaan pekerjaan, Proses Pengamatan meliputi:

Pekerjaan Dinding

• Pemasangan tali ruki

• Campuran

• Penyusunan Batu Bata Pekerjaan Plesteran Dinding

• Pemasangan tali ruki

• Campuran

• Mengaplikasikan pada bata yang telah mengering Pekerjaan Pemasangan Kusen

• Letakkan kusen aluminium ke dinding

(55)

35

• Untuk mencegah kebocoran maka hubungan antara alumunium dengan dinding di isi silicone sealant.

• Setelah kusen aluminium terpasang, dilanjutkan dengan pemasangan frame untuk pintu/jendela, beling dan hardwere. Frame pintu/jendela dipasang pada kusen dengan memakai penggantung engsel yang disekrup ke kusen.

• Pemasangan hardware dikerjakan sehabis kondisi lapangan benar- benar kondusif dan tidak ada lagi pekerjaan yang sanggup merusak kusen dan alumunium dan daunnya.

3.3.2 Metode Pengerjaan 1.) Pekerjaan Dinding Proses pekerjaan dinding :

• Pengerjaan dinding di mulai dengan pemasangan tali ruki

Gambar 3. 15 Pemasangan Tali Ruki Sumber : Penulis 2024

• Pekerjaan selanjutnya adalah campuran untuk cetok/merekatkan bata satu ke bata lainnya.

Gambar 3. 16 Campuran Batu Bata Sumber : Penulis 2024

(56)

36

• Pekerjaan selanjutnya yaitu pemasangan pada lapis kesatu yang didahului pemasangan adukan atau spesi beberapa dasar.

Gambar 3.17 Pemasangan Batu Bata Sumber: Penulis 2024

2.) Pekerjaan Plesteran Dinding

Proses pekerjaan dinding sebagai berikut :

• Pekerjaan plesteran di mulai dengan pemasangan tali ruki

Gambar 3.18 Pemasangan Tali Ruki Sumber: Penulis 2024

• Selanjutnya pembuatan campuran yang terdiri dari pasir,semen dan air lalu di aduk hingga merata.

Gambar 3.19 Adukan Semen Sumber: Penulis 2024

(57)

37

• Pekerjaan selanjutnya yaitu mengaplikasikan campuran pada batu bata yang telah mengering

Gambar 3.20 Proses Pengaplikasian Plesteran Sumber: Penulis 2024

(58)

38 BAB IV

PEMBAHASAN 4.1 Permasalahan

Pada umumnya dalam pekerjan konstruksi sering kali terdapat permaslahan.

Ada beberapa faktor yang menjadi akar permasalahan tersebut mulai dari material, metode pekerjaan, tenaga kerja, urusan administrasi dan lain sebagainya sehingga dalam ini dapat menyebabkan keterlambatan pekerjaan.

Permasalahan yang ditemukan pada pengawasan pembangunan “Renovasi Ruang Kuliah dan Workshop Program Profesi S2 dan S3 Paket III” yaitu:

• Keterlambatan pekerjaan

Permasalahan utama yang penulis temukan di lokasi adalah keterlambatan dalam pekerjaan yang di akibatkan oleh pergantian tukang yang di lakukan kurang lebih tiga kali, hal ini di karenakan tukang yang sebelumnya memiliki kineja sedikit lambat, hal ini juga menyebabkan pekerjaan tertunda.

• Kurangnya Kesadaran Pekerja Untuk Keselamatan Diri

Kuranganya kesadaran dan kepedulian pekerja akan keselamatan diri pada saat bekerja, semua itu dilihat dari banyaknya bahkan hampir seluruh pekerja ketika bekerja tidak menggunakan APD lengkap atau mematuhi RK3K.

Gambar 3. 21 Tidak Menggunakan APD Lengkap Sumber : Penulis 2024

(59)

39 4.2 Kelemahan dan Kelebihan

➢ Kelemahan

• Keterlambatan pekerjaan dalam hal ini yang di maksudkan yaitu keterlambatan pengiriman barang, kekurangan bahan konstruksi dan juga keahlian pekerja sedikit lambat sehingga proses pengerjaan tertunda.

• Kuranganya kesadaran dan kepedulian pekerja akan keselamatan diri pada saat bekerja, semua itu dilihat dari banyknya bhkan hampir seluruh pekerja ketika bekerja tidak menggunakan APD lengkap atau mematuhi RK3K.

➢ Kelebihan

• Memahami Proses Kerja: Mahasiswa akan mendapatkan pemahaman langsung tentang bagaimana proses perencanaan, konstruksi, dan pengawasan proyek yang dilakukan di lapangan.

• Berinteraksi dengan Profesional: Selama magang, mahasiswa dapat berinteraksi dengan profesional yang sudah berpengalaman dalam industri konstruksi.

• Menerapkan Teori dalam Praktek: Mahasiswa dapat melihat bagaimana teori arsitektur dan desain yang mereka pelajari di kelas diterapkan dalam proyek nyata.

(60)

37 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Jenis/item pekerjaan selama 76 Hari, jangka waktu pekerjaan praktek dimulai tanggal 3 Oktober 2024, pada pekerjaan Renovasi Ruang Kuliah Dan Workshop Program Profesi S2 dan S3 Paket III. Lokasi Kelurahan Gambesi Kecamatan Ternate Selatan Kota Ternate. Dalam jangka waktu 76 Hari tersebut beberapa item pekerjaan yang didapatkan diantaranya adalah pekerjaan Pondasi, slof, pemasangan batu bata, pekerjaan plesteran, dan pekerjaan Kolom. Pada pelaksanaan pekerjaan, penulis lebih terfokus pada pekerjaan Dinding dan Kusen.

Dari hasil pengamatan pada saat pelaksanaan kerja praktek dapat diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan atau temuan dilapangan diantaranya :

1. Manajemen pekerjaan yang mana seringnya keterlamabatan material sehingga dapat menguras waktu pekerjaan yang sudah di tetapkan dalam kalender pekerjaan

2. Permasalahan cuaca dalam hal ini hujan yang kurang bersahabat sehingga pekerjaan-pekerjaan pada bangunan belum bisa terselesaikan.

5.2 Saran

• Pihak proyek diharapkan untuk memperhatikan standar K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dan melakukan sosialisasi kepada pekerjanya.

(61)

38 DAFTAR PUSTAKA

Panduan Laporan Kerja Praktek Program Studi Arsitektur Universitas Khairun Ternate 2023

Pengawasan Pekerjaan Pemasangan Dinding Batu Bata Pada Pembangunan Kantor Rapat Pt. Hutama Karya Insfrastruktur Proyek Tol Binjai- Pangkalan Brandan Oleh Arto Prada Manalu

https://coretannduwir.blogspot.com/2016/06/makalah-pembuatan-kusen-pintu- dan.html

https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/17205/2/BAB%20II_M%20Astu%20Narendr a%20Kusuma%20%26%20Rizqi%20Fajar%20Ekananda.pdf

https://repository.unair.ac.id/29715/3/15.%20BAB%20II%20TINJAUAN%20PU STAKA.pdf

https://repository.uir.ac.id/4856/3/bab2.pdf

Jurnal Sipil Statik Vol.8 No.5 Agustus 2020 (695-708) ISSN: 2337-6732 Metode Pemasangan Kusen Pintu dan Jendela Oleh Sara Pebriani

https://eprints.uny.ac.id/63855/3/BAB%20I.pdf

Analisis-Kondisi-Workshop-dan-Studio-Gambar-Desain-Pemodelan-dan- Informasi-Bangunan-SMK-Negeri-4-Sukoharjo-Ditinjau-Dari-Standar- Pelayanan-Minimal-Sekolah-Menengah-Kejuruan-BAB-I.pdf

https://www.situstekniksipil.com/2017/11/definisi-konsultan-proyek.html

Referensi

Dokumen terkait