PENDAHULUAN
Latar Belakang
Program Keluarga Berencana merupakan program yang digunakan untuk mengurangi pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyebutkan bahwa keluarga berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak tanam dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai hak reproduksi menuju keluarga yang berkualitas. (Pusdatin Kementerian Kesehatan, 2014). Kondisi ini berdampak pada kelangsungan pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk pelayanan keluarga berencana (KB) dan kesehatan reproduksi.
Oleh karena itu, PLKB seluruh Indonesia proaktif dalam mendistribusikan alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya jeda KB dalam jumlah besar. Sebab jika jumlah istirahat pada peserta KB tinggi, maka kehamilan yang tidak diinginkan juga akan terjadi pada pasangan usia subur. Begitu pula dengan cakupan peserta KB baru maka akan terjadi penurunan unmet need yang telah ditetapkan secara signifikan (BKKBN, 2020).
Hal ini terjadi karena banyak pengguna alat kontrasepsi yang khawatir akan terpapar COVID-19 saat datang ke fasilitas pelayanan, sehingga mengurungkan niatnya untuk mengakses layanan KB dan tetap berada di rumah. Salah satunya, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait pelayanan KB pada masa pandemi COVID-19 dengan judul “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pasangan Usia Subur dalam Melaksanakan Haknya atas Pelayanan KB”.
Rumusan Masalah
Menurut Sukaryo Teguh Santoso, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur (Kaper) menjelaskan, dari data BKKBN Jatim pada Februari 2020, jumlah PUS yang keluar KB atau keluar KB sebanyak 1,34 per seratus, kemudian pada bulan Maret. meningkat menjadi 4,6 persen dan pada bulan April 7,07 persen. Perilaku adalah segala wujud biologis individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya, mulai dari perilaku yang paling terlihat sampai yang tidak terlihat, mulai dari yang dirasakan hingga yang kurang dirasakan (Oktaviana, 2015). Berdasarkan uraian di atas, maka perlu adanya peningkatan pengetahuan atau sikap dalam mengakses pelayanan KB pada kondisi seperti ini.
TINJAUAN PUSTAKA
- Pasangan Usia Subur (PUS)
- Konsep Teori Konsepsi
- Konsep Teori Perilaku
- Bentuk Perilaku
- Layanan KB
- Regulasi Pelayanan KB selama Pandemi COVID-19
- Kerangka Konsep
- Hipotesis
Terdapat hubungan antara pengetahuan PUS tentang KB dengan perilaku PUS dalam memenuhi haknya atas pelayanan KB. Terdapat hubungan antara persepsi manfaat penggunaan kontrasepsi dengan perilaku PUS dalam memenuhi haknya atas pelayanan KB c. Terdapat hubungan antara ketersediaan pelayanan KB dengan perilaku PUS dalam memenuhi haknya atas pelayanan KB pada masa pandemi Covid-19 p.
Terdapat hubungan antara dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku PUS dalam memenuhi haknya atas pelayanan KB. Identifikasi faktor predisposisi (pengetahuan, manfaat yang dirasakan, hambatan yang dirasakan, efikasi diri) dengan perilaku PUS untuk memperoleh pemenuhan hak atas pelayanan KB. Mengidentifikasi faktor pemungkin (ketersediaan pelayanan KB dan regulasi pelayanan KB) dengan perilaku PUS untuk memenuhi hak atas pelayanan KB.
Hal ini membuktikan adanya hubungan antara dukungan suami dengan perilaku PUS dalam pemenuhan hak atas pelayanan KB. Perilaku PUS dalam memperoleh pemenuhan hak atas pelayanan KB pada masa pandemi Covid-19 kurang baik.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan Penelitian
Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku Pasangan Usia Subur (PUS) dalam pemenuhan haknya atas pelayanan keluarga berencana (KB) di wilayah Puskesmas Sukorama Kediri.
Manfaat Penelitian
Hal ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan KB dengan perilaku PUS dalam pemenuhan hak atas pelayanan KB. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat hubungan antara manfaat yang dirasakan dengan perilaku PUS dalam memperoleh hak atas pelayanan KB. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara persepsi hambatan dengan perilaku PUS dalam memperoleh hak atas pelayanan KB.
Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat hubungan antara ketersediaan pelayanan KB dengan perilaku PUS dalam memenuhi hak atas pelayanan KB. Hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat hubungan antara aturan pelayanan KB dengan perilaku PUS untuk mencapai pemenuhan hak atas pelayanan KB. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan tenaga kesehatan dan kader dengan perilaku PUS dalam pemenuhan hak KB.
Faktor predisposisi perilaku berhubungan dengan persepsi perilaku efikasi diri PUS dalam memperoleh pemenuhan hak atas pelayanan KB. C. Tidak ada faktor pemungkin yang mempengaruhi perilaku PUS dalam memperoleh hak atas pelayanan KB di masa pandemi Covid-19. 7.2 Saran.
METODE PENELITIAN
Tahapan dan Bagan Alir Penelitian
Jenis dan Rancangan Penelitian
Kerangka Operasional
Populasi dan Sampel Penelitian
Teknik Sampling
Tabel 5.11 menunjukkan bahwa perilaku PUS dalam memperoleh hak atas pelayanan KB yang kurang baik terutama terdapat pada responden yang memiliki pengetahuan baik tentang KB yaitu sebesar 45%. Sedangkan responden yang berperilaku baik dalam memenuhi haknya atas pelayanan KB sebagian besar merupakan responden yang juga memiliki pengetahuan baik tentang KB yaitu sebesar 20,5%. Tabel 5.12 menunjukkan bahwa perilaku PUS dalam memperoleh hak atas pelayanan KB paling banyak ditemukan pada responden yang mempunyai persepsi baik terhadap manfaat yaitu 55,7%.
Sedangkan responden yang mempunyai perilaku baik dalam memenuhi haknya atas pelayanan KB sebagian besar responden juga mempunyai persepsi baik terhadap manfaat yaitu sebesar 30,3%. Pada tabel 5.13 terlihat bahwa perilaku PUS dalam memperoleh hak atas pelayanan KB paling banyak terdapat pada responden yang mempunyai persepsi buruk terhadap hambatan yaitu sebesar 41,8%. Sedangkan responden yang mempunyai perilaku baik dalam memenuhi haknya atas pelayanan KB sebagian besar responden juga mempunyai persepsi baik terhadap manfaat yaitu sebesar 21,3%.
Pada tabel 5.14 terlihat bahwa perilaku PUS untuk mencapai pemenuhan hak atas pelayanan KB paling banyak terdapat pada responden yang memiliki efikasi diri yang buruk yaitu sebesar 38,5%. Sedangkan responden yang mempunyai perilaku baik dalam memenuhi hak KBnya sebagian besar merupakan responden yang juga mempunyai kemandirian baik yaitu sebesar 31,1%. Pada Tabel 5.15 terlihat bahwa perilaku PUS dalam memperoleh pemenuhan hak atas pelayanan KB paling banyak ditemukan pada responden yang berpendapat bahwa ketersediaan pelayanan KB kurang yaitu sebesar 35,2%.
Di antara responden yang berperilaku baik dalam menggunakan haknya atas pelayanan KB, sebagian besar responden berpendapat bahwa aksesibilitas pelayanan KB baik, yaitu 24,6%. Terlihat dari Tabel 5.16 bahwa perilaku PUS dalam melaksanakan hak pelayanan KB paling banyak terjadi pada responden yang menilai pengaturan pelayanan KB sudah baik yaitu sebesar 36,1%. Di antara responden yang berperilaku baik dalam menggunakan haknya atas pelayanan KB, sebagian besar terdapat yang berpendapat bahwa pelayanan KB tidak diatur, yaitu sebesar 20,5%.
Sedangkan responden yang mempunyai perilaku baik dalam memenuhi hak pelayanan KB sebagian besar responden juga mempunyai dukungan baik yaitu sebesar 32,8%. Pada tabel 5.16 terlihat bahwa perilaku PUS dalam pemenuhan hak atas pelayanan KB terutama lemah pada responden yang mempunyai dukungan lemah terhadap pasangannya yaitu sebesar 40,2%. Sedangkan responden yang mempunyai perilaku baik dalam memenuhi haknya atas pelayanan KB sebagian besar responden juga mempunyai dukungan baik yaitu sebesar 23,7%.
Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Variabel Penelitian
Variabel ini disebut juga dengan variabel independen yang artinya bebas mempengaruhi variabel lain (Hidayat, 2014). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku PUS dalam pemenuhan hak atas pelayanan KB.
Definisi Operasional
No variabel definisi Alat ukur Skala.. Pelayanan KB Penilaian atau pendapat responden terhadap adanya peraturan pelayanan KB pada masa pandemi, baik bagi tenaga kesehatan maupun akseptor KB.
Teknik Pengumpulan Data
Pengolahan dan Analisa Data
Data tersebut diolah dan dianalisis oleh komputer dalam bentuk tabulasi data dan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dalam pernyataan hipotesis. Kelanjutan dari analisis univariat adalah analisis bivariat yang bersifat lebih menjelaskan, antara lain membandingkan karakteristik suatu variabel yang sama dalam kelompok yang berbeda dan dapat digunakan untuk menjelaskan kuatnya hubungan antara dua variabel. Hubungan antara variabel bebas skala ordinal dengan variabel terikat skala nominal dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square untuk memperoleh hubungan yang signifikan.
Selanjutnya variabel independen yang mempunyai hubungan signifikan dengan variabel dependen dimasukkan dalam analisis multivariat, sedangkan variabel yang tidak mempunyai hubungan signifikan tidak akan digunakan untuk analisis multivariat. Untuk data yang lebih dari dua variabel, dilakukan dengan mencari pengaruh masing-masing variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen dan mencari variabel independen mana yang paling besar pengaruhnya terhadap variabel dependen dengan menggunakan uji analisis regresi logistik. Analisis regresi logistik merupakan analisis yang digunakan untuk menguji variabel-variabel yang diukur dalam skala biner (dikotomi=nominal) untuk menganalisis hubungan dan mengendalikan pengaruh sejumlah faktor serta menemukan model regresi yang paling tepat.
Tujuan analisis ini adalah untuk memprediksi besar kecilnya variabel terikat yang berbentuk variabel biner dengan menggunakan data variabel yang diketahui ukuran dan dimensinya.
Penyajian Data
Etika Penelitian
Berdasarkan hasil analisis regresi logistik berganda dengan metode Stepwise diperoleh hasil bahwa variabel yang mempengaruhi perilaku KB adalah efikasi diri yang mempengaruhi perilaku PUS dalam memperoleh pemenuhan hak atas pelayanan KB. Tabel 5.15 menunjukkan bahwa perilaku PUS dalam memperoleh hak pelayanan KB terutama buruk pada responden yang mendapat dukungan tenaga kesehatan dan kader yang baik yaitu 51,6%. Dengan ini saya menyatakan bahwa usulan penelitian saya yang berjudul: Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku PUS dalam Memperoleh Pemenuhan Hak Pelayanan Keluarga Berencana, yang diusulkan pada program Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi Tahun Anggaran 2021, adalah asli dan belum pernah disetujui oleh pihak lain yang dibiayai. . lembaga/sumber pendanaan.
Kami selaku dosen dari lembaga/jurusan/program studi D4 Kebidanan Kediri dan dengan ini meminta agar bapak dan ibu secara sukarela ikut serta dalam penelitian yang berjudul Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku PUS dalam Memperoleh Pemenuhan Hak Atas Pelayanan Keluarga Berencana 2. Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa saya telah mendapat penjelasan dan pemahaman secara detail mengenai penelitian yang akan dilakukan oleh Shinta Kristianti dkk yang berjudul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku PUS Dalam Memperoleh Pemenuhan Hak Atas Pelayanan Keluarga Berencana.
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
Hasil Penelitian
Luaran yang Dicapai