IDENTITAS PENELITI
SUBSTANSI PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pilihan sistem pemerintahan dalam UUD 1945 dan menganalisis bentuk tanggung jawab pemerintah dalam sistem presidensial untuk memperkuat demokrasi di Indonesia. Dengan adanya perubahan sistem ketatanegaraan pada UUD 1945, maka akuntabilitas pemerintahan dalam sistem pemerintahan presidensial tidak diatur secara jelas dalam UUD 1945. Pemilihan sistem pemerintahan presidensial dalam UUD 1945 berdampak pada perubahan struktur parlemen di Indonesia. . bentuk MPR.
Pemilihan sistem pemerintahan dalam amandemen UUD 1945 menjadi permasalahan tersendiri dalam rekonstruksi konstruksi lembaga negara dalam UUD 1945.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat/Kegunaan Penelitian
Sistematika Pembukuan
STUDI PUSTAKA
- Fungsi Kekuasaan dan Hakekat Kepemimpinan Dalam Perspektif
- Kewenangan Presiden dan Teori Pertanggungjawaban
- Sistem Pemerintahan Negara
- Konsep Demokrasi dan Perkembangannya
Para penyusun UUD mengatur secara rinci tentang substansi-substansi yang harus diatur dalam bentuk undang-undang, yaitu:. 22 Dian Bakti Setiawan, 2011, Pemberhentian kepala daerah Mekanisme pemberhentian menurut sistem pemerintahan di Indonesia, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal. Akuntabilitas ini penting karena penggunaan kewenangan rakyat diwujudkan dalam bentuk undang-undang.
Sistem pemerintahan parlementer merupakan sistem yang lebih tua dari sistem pemerintahan presidensial dan mendahului lahirnya ajaran Montesquieu tentang pemisahan kekuasaan. Lahirnya sistem pemerintahan presidensial tidak lepas dari lahirnya Amerika Serikat yang berusaha melepaskan diri dari jajahan Inggris45. Sistem pemerintahan campuran dan tanggung jawab pemerintahan Ada sistem lain selain yang disebutkan Sri Soemantri mempunyai beberapa kemungkinan, yaitu: 50 Suatu sistem pemerintahan, jika pengaturan dalam konstitusi atau situasi politik cenderung memberikan kekuasaan yang lebih besar kepada presiden , maka sistem campuran ini disebut semi sistem atau kuasi presidensial.
METODE PENELITIAN
- Objek Penelitian
- Pendekatan Penelitian
- Jenis Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis, yaitu penelitian yang ingin memberikan gambaran mengenai pilihan sistem pemerintahan dalam UUD 1945 setelah MPR menyetujui perubahan UUD 1945 dan mengetahui tanggung jawab pemerintah seperti apa yang ditemukan. dalam pemilihan presiden. sistem pemerintahan untuk memperkuat perkembangan demokrasi di Indonesia. Perkembangan pemikiran bernegara diperbincangkan oleh masyarakat yang berkeinginan untuk membangun bangunan ketatanegaraan dengan merekonstruksi tradisi bernegara dalam UUD 1945. Perubahan yang dilakukan terutama melalui pendidikan nasional dan penggunaan bahasa Indonesia telah mendorong kesadaran nasional, yang telah diuraikan. dalam UUD 1945.
Namun kesepakatan penekanan sistem presidensial dalam UUD 1945 menimbulkan pertanyaan apakah pilihan tersebut dalam konteks pilihan beberapa pasal yang diterapkan dalam amandemen UUD 1945, dan dengan undang-undang yang mengaturnya lebih dekat. Transplantasi hukum ketatanegaraan dalam amandemen UUD 1945 dapat ditemukan pada sistem pemerintahan negara dengan kesepakatan sistem presidensialisme Amerika murni tanpa banyak hal. UUD 1945.126 Dengan demikian, amandemen UUD 1945 menerima transplantasi sistem ketatanegaraan Barat, khususnya sistem pemerintahan presidensial Amerika, namun tradisi Islam dan hukum Islam diterapkan sebagai bagian dari ketatanegaraan dalam UUD 1945.
Pemilihan sistem presidensial dalam Amandemen UUD 1945 menimbulkan kedudukan yang kuat bagi Presiden (eksekutif tetap) yang memerintah sampai akhir masa jabatannya, kecuali Presiden melanggar undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dan Pasal 7A. UUD 1945. Susunan organisasi dan tata kerja (SOTK) yang disosialisasikan oleh MPR hingga saat ini diatur dalam UUD 1945 dan UU no. Pertanggungjawaban pemerintahan berupa Pidato Kenegaraan oleh Presiden di hadapan sidang gabungan DPR dan DPD serta dihadiri oleh pimpinan lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945.
Pilihan ideal bagi MPR adalah melakukan amandemen UUD 1945 dengan melakukan restrukturisasi struktur kelembagaan dari UUD 1945. Namun opsi sederhana bisa dilakukan dengan melakukan perubahan beberapa undang-undang terkait hubungan antar lembaga negara dalam UUD 1945 dalam rangka akuntabilitas publik. dan memperkuat demokrasi di Indonesia.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pilihan Sistem Pemerintahan Presidensiil Dalam Undang-Undang Dasar
Tradisi bernegara yang disampaikan oleh Sukarno dan Hatta diwujudkan dalam lembaga negara berupa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang mewakili kehendak seluruh Rakyat Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pasal 2 UUD 1945 83. Dalam perkembangannya, terdapat tuntutan dan tuduhan bahwa UUD 1945 dianggap sebagai penyebabnya, sehingga dengan terjadinya reformasi pada tahun 1998 segera dilakukan perubahan karena beberapa hal :. Keinginan tersebut dilatarbelakangi oleh adanya kekuasaan tertinggi di tangan MPR, kekuasaan yang sangat besar di tangan presiden, pasal-pasal yang terlalu “fleksibel” sehingga menimbulkan multitafsir, kewenangan presiden untuk mengatur persoalan-persoalan penting dengan undang-undang, dan lain-lain. rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara belum cukup didukung oleh ketentuan konstitusi.
Perdebatan tersebut terkait dengan materi yang terkandung dalam sistem tersebut, hingga akhirnya tercapai kesepakatan yaitu tidak mengubah Pembukaan UUD 1945, melanjutkan perlindungan NKRI, menekankan sistem presidensial, menjelaskan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 memuat persoalan-persoalan normatif yang akan dimuat dalam pasal-pasal dan perubahannya akan dilakukan melalui addendum. Tercapainya kelima kesepakatan tersebut didasarkan pada alasan yang pertama, Pembukaan UUD 1945: memuat landasan filosofis dan normatif yang melandasi seluruh pasal UUD 1945. Kelima, amandemen melalui lampiran akan menyatakan bahwa perubahan tersebut dilakukan dengan tetap menjaga naskah aslinya dan naskah perubahan UUD 1945 dilampirkan pada naskah aslinya.
Demikian pula ketika MPR melakukan amandemen UUD 1945, tidak mengacu pada pandangan para founding fathers atau dokumen sejarah dengan melakukan penelitian sebelum menyusun amandemen UUD 1945, yang dilakukan hanya dengan mengacu pada aspek universal demokrasi. . Oleh Aidul Fitriciada Azhari dikatakan bahwa amandemen UUD 1945 mentransplantasikan hukum universal ke dalam struktur nasional dan mengakui hukum116 yang khusus untuk struktur lokal.117. Pengakuan hukum terlihat dari pengakuan dan penghormatan terhadap kekhasan dan keistimewaan daerah serta kesatuan masyarakat hukum adat dan hak tradisionalnya dalam UUD 1945.
MPR dalam melakukan perubahan UUD 1945 menunjukkan adanya pilihan universal teori negara dalam struktur nasional dengan melakukan transplantasi hukum dengan pilihan sistem presidensialisme murni atau presidensialisme Amerika dan pilihan struktur lokal tertentu dengan menerapkan pengakuan hukum. 121 yang diadopsi oleh Republik Indonesia. Pemilihan Presiden secara langsung oleh rakyat yang menjadi ciri sistem presidensial dalam Pasal 6A UUD 1945 dan disertai perubahan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 tentang penyelenggaraan kedaulatan rakyat, mengakibatkan perubahan fundamental struktur ketatanegaraan, dengan perubahan kekuasaan yang bersifat vertikal dan horizontal. Oleh karena itu, amandemen UUD 1945 dimaknai sebagai perubahan alur pemikiran tentang hukum dan kenegaraan dari para pendiri negara oleh MPR hasil reformasi tahun 1998.
Oleh karena itu, apa yang digagas para founding fathers negara tersebut mempunyai alasan ideologis yang menolak liberalisme Barat (baik dalam bidang politik maupun sistem ekonomi), yang dipraktikkan dalam sistem parlementer dan dalam sistem pemerintahan presidensial Amerika. di sisi lain, amandemen UUD 1945 menerapkan hukum Islam di tingkat nasional dengan standarisasi ketentuan hukum Islam tentang peradilan agama.
Bentuk Pertanggungjawaban Pemerintahan Dalam Sistem Presidensiil yang
Amandemen UUD 1945 tidak terlalu mengurangi kekuasaan Presiden, meskipun dibatasi dalam beberapa hal, seperti perubahan kewenangan membuat undang-undang yang dipegang Presiden menjadi kewenangan membuat undang-undang milik DPR sebagaimana dirumuskan dalam Undang-undang. Pasal 20(1) UUD 1945. Namun gagasan besar para founding fathers tersebut sirna ketika rumusan dalam Pasal 1(2) dan Pasal 2(1) diubah isi dan maknanya, yang berbeda dengan paradigma konstitusi. para founding fathers dalam membangun struktur kelembagaan demokrasi politik dalam UUD 1945. Sidang MPR seolah-olah hanya ditafsirkan lima tahun sekali, atau sidang hanya diadakan karena pelaksanaan ketentuan Pasal 3141. dan 37 UUD 1945, kekuasaan MPR berdasarkan pasal ini hanya dapat dilaksanakan setiap lima tahun sekali.
Perlu adanya akuntabilitas publik144 terhadap kinerja (laporan perkembangan) lembaga-lembaga negara, untuk itu Sidang Tahunan MPR dihidupkan kembali sebagaimana diatur dalam Peraturan MPR No. 141 Pasal 3 UUD 1945 memberikan kewenangan kepada MPR untuk melakukan perubahan. dan mengadopsi UUD 1945, mengangkat Presiden dan/atau Wakil Presiden, dan memberhentikan Presiden/atau Wakil Presiden selama masa jabatannya menurut UUD. Secara formal, bentuk pertanggungjawaban lembaga negara seperti MPR, DPR, DPD, BPK, MA, MK, KY dan termasuk Presiden disampaikan kepada rakyat melalui pidato Presiden sebagai kepala negara dalam forum Sidang Tahunan MPR.
Secara formal, pola baru ini merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada rakyat lembaga-lembaga negara seperti MPR, DPR, DPD, BPK, MA, MK, KY dan termasuk Presiden, yang disampaikan dalam pidato Presiden selaku Kepala Negara dalam pidatonya. Forum Sidang Tahunan MPR. Agenda pelaksanaan akuntabilitas presiden dan lembaga negara terus mengalami perubahan secara berkala dalam forum pelaksanaan. Hal ini bergantung pada kesepakatan antarlembaga negara146, namun pada dasarnya bergantung pada pola akuntabilitas. 146 Pada awal reformasi, Pidato Kenegaraan Presiden disampaikan pada sidang tahunan, bersamaan dengan agenda amandemen UUD 1945, dan pada akhir masa jabatannya, Presiden (Megawati) diangkat menjadi Presiden. bertanggung jawab kepada MPR (sesuai dengan sistem ketatanegaraan sebelum selesainya amandemen UUD 1945). Pada awal Reformasi Periode I kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, sidang tahunan ditiadakan, namun konvensi ketatanegaraan berupa Pidato Kenegaraan Presiden dan pidato penyampaian RAPBN dilaksanakan setiap tahun di hadapan DPR.
Penolakan MPR terhadap sistem kuasi-presidensial dalam teks UUD 1945 yang asli serta sistem parlementer dan transplantasi tegas sistem pemerintahan presidensial murni ala Amerika, tampaknya hanya dengan pertimbangan sejarah pada awal kemerdekaan, namun tidak dibarengi dengan alasan ideologis dan kajian sejarah awal tentang keberadaan bangsa yang mempunyai identitas dan tradisi kenegaraan yang digali oleh para founding fathers sebelum kemerdekaan, seperti yang dilakukan oleh Soepomo, Hatta, Yamin dan sebagainya. Arend Lijphat, 1995, Sistem Pemerintahan Parlementer dan Presidensial, Penyadur Ibrahim R, dkk, Raja Grafindo Persada, Bagir Manan Jakarta, Jimly Asshiddiqie, 2006, Perubahan UUD 1945 dan.
PENUTUP
Kesimpulan
Pemulihan tradisi nasional dalam amandemen UUD 1945 dinilai sangat penting untuk menghadapi perubahan sosial dan politik tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Bentuk akuntabilitas pemerintahan yang dilakukan oleh presiden dalam sistem presidensial memang tidak biasa, namun dalam konteks akuntabilitas publik perlu adanya penguatan nilai-nilai demokrasi yang tumbuh di Indonesia. Namun bentuk laporan pertanggungjawaban presiden dan lembaga negara masih sering mengalami perubahan dalam forum pelaksanaan, hal ini tergantung kesepakatan antar lembaga negara, namun secara materi pola akuntabilitas sudah mempunyai model yang baku.
Namun materi pertanggungjawaban Presiden antara RPJP, RPJMN, RKP, atau program pemerintah yang dianggarkan dalam APBN belum ada keselarasan, padahal sudah ada RUU pertanggungjawaban pelaksanaan APBN secara terpisah kepada DPR.
Saran
Bagir Manan, 1995, Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi Suatu Negara, Redaksi Mashudi dan Kuntan Magnar, Mandar Maju, Bandung. Jimly Asshiddiqie, 1994, Gagasan Kedaulatan Rakyat dalam Konstitusi dan Implementasinya di Indonesia, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta. Tom Gunadi, 1995, Perekonomian dan Sistem Perekonomian Menurut Pancasila dan UUD 1945, Buku I Pokok-Pokok Filsafat dan Hukum, Angkasa, Bandung.
1995, Perekonomian dan Sistem Perekonomian Menurut Pancasila dan UUD 1945, Buku II Penyusunan dan Pelaksanaan Kebijakan Ekonomi, Angkasa, Bandung. Widayati, 2015, Merekonstruksi kedudukan Ketetapan MPR dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, Penerbitan GENTA, Yogyakarta Yudi Latif, 2011, Kenegaraan lengkap, historisitas, rasionalitas, dan. Arief Hidayat, 2005, Kebebasan Berserikat di Indonesia, Analisis Pengaruh Perubahan Sistem Politik Terhadap Interpretasi Hukum, disertasi pada Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang.
Attamimi, 1990, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara, Analisis Keputusan Presiden Yang Berfungsi Regulasi Pada Masa Pelita I-Pelita IV, (disertasi), Fak. Suwoto, 1990, Kekuasaan dan Tanggung Jawab Presiden Republik Indonesia, Penelitian Aspek Teoritis dan Yuridis Akuntabilitas Kekuasaan, (disertasi), Fakultas Pascadoktoral, Universitas Airlangga, Surabaya.