21
22
menemukan suatu aturan hukum, prinsip-prinsip hukum maupun doktrin- doktrin hukum untuk menjawab permasalahan hukum yang dihadapi.
Penelitian hukum normatif dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.59 Dengan demikian metode penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya. Logika keilmuan yang ajeg dalam penelitian hukum normatif dibangun berdasarkan disiplin ilmiah dan cara- cara kerja ilmu hukum normatif, yaitu ilmu hukum yang obyeknya hukum itu sendiri.60
3.3.Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah meupakan penelitian deskriptif analisis yakni penelitain yang hendak memberikan gambaran tentang pilihan system pemerintahan dalam UUD 1945 setelah adanya kesepakatan MPR untuk melakukan perubahan terhadap UUD 1945 dan mengetahui bagaimana bentuk pertanggungjawaban pemerintahan dalam system pemerintahan presidensiil untuk memperkuat perkembangan demokrasi di Indonesia.
3.4. Sumber Data
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan melakukan inventarisasi bahan penelitian dengan menggunakan bahan-bahan pustaka hukum yang terkait dengan penelitian ini, dengan cara penelusuran, pengelompokkan bahan kepustakaan secara konvensional dengan melihat, membaca, mendengar, maupun menggunakan teknologi informasi (media internet).
Bahan hukum tersebut diolah dengan tahapan menstruktur, mendiskripsikan, dan mensistematisasikan bahan-bahan hukum.
59 Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana, hlm. 35 dalam Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm.34
60 Johhny Ibrahim, 2005, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang Jawa Timur, hlm. 57
23
Berdasarkan sifat penelitiannya, maka jenis data penelitian ini dapat digolongkan menjadi dua, data sekunder sebagai data utama dan data primer sebagai data pendukung.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Data sekunder berupa data kepustakaan berupa dokumen, arsip, perundang-undangan, dan berbagai literature lainya yang meliputi:
a. Bahan Hukum Primer, terdiri dari:
a) Pancasila
b) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 c) Keputusan MPR No. 4 Tahun 2014
d) UU No 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD e) UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum
f) Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD g) Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional I Tahun 2005-2009 b. Bahan Hukum Sekunder, terdiri dari:
a) Pendapat para sarjana berkaitan dengan pertanggungjawaban pemerintahan, system pemerintahan Presidensiil dan perkembangan demokrasi di Indonesia.
b) Kepustakaan berupa literature ketatanegaraan yang terkait dengan hubungan antar lembaga-lembaga Negara dan hubungan antar lembaga Negara dengan Warga Negara dan mengenai akuntabilitas public pemerintahan.
c. Bahan Hukum Tersier terdiri dari:
a) Kamus Hukum Lengkap Belanda, Indonesia, Inggris, karangan Yan Pramudya Puspa, Aneka Ilmu Semarang.
b) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, Gramedia, Pustaka Utama, Jakarta, 2010
c) Hasil penelitian yang dipublikasikan.
2) Data primer
Data primer merupakan data lapangan yang dilakukan dengan cara mengamati dan mengikuti perkembangan ketatanegaraan melalui
24
perkembangan pengaturan dalam perundang-undangan. Data primer ini hanya sebagai pendukung data sekunder yang telah ada. Bahan kepustakaan sebagai tumpuan utamanya, sedangkan data primer dipergunakan sebagai pelengkap dan pendukung data sekunder yang didapat pula dari para nara sumber yang memiliki keakhlian di bidang hukum tata negara.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Data sekunder dalam bentuk bahan hukum primer, bahan hukum sekunder maupun tersier yang terkumpul akan diinventarisasi dan diidentifikasi yang selanjutnya akan dilakukan analisis secara deduktif dengan pembahasan secara kualitatif, dengan menggunakan metode normatif Data sekunder yang akan digunakan dalam penelitian ini akan dilakukan dengan cara mengumpulkan bahan hukum sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka, dengan mencari dokumen-dokumen berupa peraturan perundang-undangan, dan literature yang terkait dengan pertanggungjawaban pemerintahan dan perkembangan demokrasi di Indonesia.
3.6. Metode Analisis Data
Data yang didapat selanjutnya akan dilakukan analisis dengan memperhatikan kualitas atau mutu dari perkembangan ketatanegaraan yang terjadi dalam prakteknya maupun dalam peraturan perundang- undangan, dokumen-dokumen yang diperoleh dari kepustakaan. Hasil penelitian akan disusun dalam sebuah laporan penelitian secara diskriptif kemudian dianalisis dengan menggunakan teori-teori ketatanegaraan yang mendukung penguatan demokrasi di Indonesia.
25 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Pilihan Sistem Pemerintahan Presidensiil Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
(1) Gagasan Teoritikal Bernegara founding fathers
Warisan autokrasi61 tradisional yang menjadi watak dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesi yang didokumentasikan oleh administrasi kolonial, yang didukung dengan keadaan yang sebagian besar masyarakatnya masih tradisional, hal inilah yang menjadi sebab, dan karena itu diwacanakan para foundings father. Secara teoritis Kelsen menggambarkan tentang autokrasi sebagai the subjects are excluded from the creation of the legal order and harmony between the order and their wills is in no way guaranted. Ukurannya berdasar pada peran serta warga negara dalam pembuatan peraturan atau kebijakan negara. Tidak ikutsertanya rakyat dalam pembentukan peraturan tersebut akan berakibat rendahnya perlindungan HAM, dalam bidang politik, maupun social- ekonomi.62 Meski demikian, ketika itu bersamaan dengan munculnya semangat nasionalisme dengan penolakan atas kapitalisme, liberalisme- individualisme Barat, dengan kesadaran untuk melakukan rekonstuksi tradisi bernegara, dengan gagasan-gagasannya yang masih dipengaruhi, gagasan besar dunia saat itu yang memunculkan bentuk-bentuk autokrasi.63
Seara umum autokrasi melahirkan corak ketatanegaraan otoritarian64 dan corak ketatanegaraan totalitarian65. Wacana pemikiran
61 Istilah autokrasi bermakna sebagai pemerintahan oleh seorang atau sekelompok kecil. Istilah ini dengan mudah dibedakan dari konsep demokrasi yang berarti sebaliknya, yakni pemerintah oleh rakyat banyak. Autokrasi cenderung menambah kekuasaan pemerintahan negara serta mengurangi pengaruh kekuasaan rakyat.
62 Lihat aidul Fitriciada Azhari, 2010, Demokrasi & Autokrasi, Gagasan, Model, Rekonstruksi, Penerbit SI Solo Institute, Solo. Hlm. 81
63 Ibid. hlm. 104
64 Pemerintahan otoritarian secara umum ditandai dengan adanya pemusatan kekuasaan pada penguasa negara sehingga tidak terdapat pembatasan hukum yang sangat kuat terhadap negara.
Pembatasan hukum justru terjadi sebaliknya oleh negara pada kebebasan warga negara. Autokrasi yang bersifat relative dapat digolongkan sebagai bentuk otoritarian.
65 Totalitarianisme adalah autokrasi pemerintahan yang dicirikan oleh banyaknya legislasi yang diperlukan oleh industrialisasi secara teknis dan banyaknya operator yang terlibat dalam masyarakat
26
ketatanegaraan Indonesia tampak pada bentuk otoritarian maupun totalitarian, yang muncul berkaitan dengan meluasnya peran negara dalam mengurusi masalah-masalah warga negara yang berakibat pada perbedaan antara negara dan warga negara. Otoritarian terlihat dalam bentuk neo- patrimonialisme66 dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesia. Pemusatan kekuasaan atau sentralisasi kekuasaan merupakan aspek penting dari keberlangsungan system patrimonialisme, sehingga peran seorang yang berkuasa (otokratis) memiliki nilai yang strategis dalam system social kemasyarakatan di Indonesia ketika itu. Pada jaman kerajaan di Nusantara semua pekerjaan dibebankan kepada sang raja, hal inilah yang menguatkan konsep patrimonialisme yang terpusat pada satu pemimpin, yang pada masa persiapan kemerdekaan, konsep pemimpin diletakkan pada seorang Presiden. Ciri yang terlihat kuat dalam neo-patrimonalisme terlihat pada hubungan patron-klien dalam kehidupan pemerintahan yang menggantikan hubungan pemimpin-pengikut dalam masyarakat tradisional yang tersusun secara hirarkhi. Dalam kehidupan yang modern perlindungan pemimpin dengan memberikan keuntungan materiil, sedangkan loyalitas pengikut ditunjukkan dengan adanya mobilisasi dukungan Politik67
Konsep Patrimonialisme dalam ketatanegaraan Indonesia nampak dari tiga hubungan yang berkelanjutan yang terdapat dalam masyarakat tradisional yaitu, konsep kekuasaan dalam monarki Jawa sebelum kolonial, adanya jaringan patron-klien yang mendasari hubungan social kemasyarakatan, dan adanya “budaya hormat” yang dapat kita temui dalam masyarakat perdesaan.68 Konsep kekuasaan Jawa terlihat dalam
terindustrialisasi tersebut. Dilihat dari jenisnya , terdapat totalitarian sayap-kanan yang terdiri dari fasisme Italia dan naziisme Jerman, serta totalitarian sayap-kiri yaitu komunisme.
66 Patrimonialisme adalah sebuah system bentukan hubungan dari sang”patron” atau induk dengan
“clien” atau anak buahnya. Dalam patrimonialisme sang patron bertindak protektif kepada sang client dengan harapan sang “clent” nantinya dapat menjaga kekuasaan atau hegemoni sang patron yang telah memberi dukungan pada si “clint”, sehingga kekuasaan sang pemimpin sangat tergantung oleh bagaimana kapasitasnya untuk memenangkan dan mempertahankan loyalitas dari para bawahannya yang berbentuk elit politik.
67 David Brown, 1994, The State and Ethnic Politic in Shouth East Asia, New York: Routledge.hlm.
116 dalam Aidul Fitriciada Azhari, 2010, ….Op. Cit. hlm. 104
68 Ibid.
27
konsep yang disampaikan Soepomo ketika berbicara didepan sidang BPUPKI pada tanggal 31 Mei tahun 1945 yang mengajukan konsep tentang negara Integralistik yang mengkonstruksi kembali konsep kawulo-gusti (hamba dan tuan) menggambarkan model pemahaman tentang organisme negara. Konsep ini menggambarkan tiga pandangan pokok yaitu;
1. Hubungan pribadi akrab yang disertai perasaan saling mengasihi dan menghormati dianggap sebagai pola atau model baku dalam komunikasi social.
2. Takdir menetapkan kedudukan manusia dalam masyarakat, apakah ia dilahirkan sebagai abdi atau tuan. Akibatnya manusia tidak memiliki pilihan lain, kecuali melakukan kewajibannya seperti yang telah ditentukan oleh takdir. Kedua factor ini menghasilkan suatu jenis praktek pemerintahan.
3. Penguasa (dan para pejabatnya), dari segi kebijaksanaan pemerintahan praktis, harus memperhatikan para warganya seperti seorang tua mengasuh anak-anaknya. Dengan demikian, sesungguhnya sang penguasa memiliki sikap keunggulan (superioritas) yang melindungi, sedangkan yang diperintah memiliki sikap pengabdian yang tulus.69
Organisme negara adalah gambaran dari alam semesta dimana raja atau ratu sebagai pusat perhatiannya. Terdapat dua hal yang penting dipahami orang Jawa yaitu:
1. Negara dipahami sebagai mikrokosmos dan alam semesta sebagai makrokosmos ada dalam kesejajaran.
2. Saling adanya pengaruh timbal balik antara mikrokosmos dan makrokosmos.
Kedua factor tersebut akan menentukan bahwa ketertiban masyarakat akan mengikuti irama alam semesta dengan raja atau ratu sebagai pusat
69 Soemarsaid Moertono, 1985, Negara dan Usaha Bina Negara di Jawa Masa Lampau Studi Tentang Masa Mataram II Abad XVI sampai XIX, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Hl. 31-32
28
mikrokosmos dan merupakan puncak tertinggi kedudukannya dalam negara.70
Setelah masuknya agama Islam di tanah Jawa, keadaan ini akan mengubah kedudukan Raja-Dewa (pada masa Hindu-Budha) menjadi wakil Tuhan di muka bumi yang kemudian digunakannya gelar kebesaran Islam dengan sebutan:” Prabu Mangku-Rat Senopati Ngalogo Ngabdu’Rahman Syayidin Panatagama Kalipatullah” gelar kebesaran tersebut digunakan pada Raja Amangkurat IV (1719-1724).71
Hubungan kawulo gusti yang terdapat dalam negara Integralistik akan terlihat dalam demokrasi asli yang bersifat partikularistik yaitu demokrasi yang berdasar pada kebulatan kehendak atau mufakat.
Pandangan neo-patrimonialistik ini dapat terlihat dalam konsep Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pancasila. Kedua konsep demokrasi tersebut ditafsirkan dari ketentuan UUD 1945, dimana beberapa pasal menunjukkan adanya pemusatan kekuasaan pemerintahan yang ada pada Presiden.72
Konsep negara Integralistik dari Soepomo yang mendominasi dari gagasan para foundings father lainnya tentang konsep bernegara, dengan cara melakukan rekonstruksi konsep mistik manunggaling kawula gusti yang menggambarkan menyatunya rakyat ke dalam negara, dan kadang pula disebut dengan istilah jumbuhing kawula dan gusti, dengan tujuan hidup tertinggi yaitu tercapainya kesatuan antara hamba dan Tuhan yang disembahnya, seperti yang disebutkan Soepomo sebagai gagasan negara totaliter. Carl Schmit menyebut Soepomo melakukan suatu kajian teologi politik (political theology) yaitu sekularisasi konsep teologi menjadi konsep-konsep pada negara modern. Clifford Geertz, menyebutnya konsep mistis manunggaling kawula gusti merupakan kepercayaan yang dikembangkan oleh beberapa priyayi dalam kebudayaan jawa. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda dengan pengaruh pemikiran Barat, para priyayi memiliki perkumpulan teosofis yang antara lain juga
70 Ibid. hal 34
71 Aidul Fitriziada Azhari, 2010, ….Op. Cit. hlm. 105
72 David Brown, 1994, ….Op. Cit. hlm. 46-50
29
mengembangkan ajaran mistis tersebut. Soepomo sebagai seorang aristokrasi Jawa masuk dalam perkumpulan Theosofische Vereniging Hindia Belanda, suatu perkumpulan kebathinan yang bersifat universal yang berpengaruh besar dalam pemikiran konsep teologi politiknya sebagai gagasan bernegara Soepomo yang digagasnya.
Pidato Soepomo dalam sidang BPUPKI pada 31 Mei 1945 mengemukakan teori bernegara. Soepomo menyampaikan Tiga Teori (aliran) tentang Negara di depan Sidang BPUPKI:
1. Teori Individualis (Thomas Hobes, John Locke, Rouseou, Herbert Spenser, Harold Laski) bahwa negara itu terdiri atas dasar perseorangan. Negara ialah masyarakat hukum (legal society) yg disusun atas kontrak seluruh individu dalam masyarakat (masyarakat yg berdasarkan individualisme) di negara2 Eropa dan Amerika.
2. Teori Golongan dari Negara (Class Theory) Oleh Marx, Engels dan Lenin. Negara ialah alatnya golongan yg mempunyai kedudukan ekonomi yg kuat untuk menindas golongan2 yg lemah secara ekonominya.(dalam negara Kapitalis kaum Borjois menindas kaum buruh). Oleh karenanya Marxis menganjurkan revolusipolitik dari kaum buruh untuk merebut kekuasaan negara agar kaum buruh dapat ganti menindas kaum burjuis.
3. Teori Integralistik (Spinosa, Adam Muler, Hegel)
Negara ialah tidak untuk menjamin kepentingan seseorang atau golongan, tetapi menjamin kepentingan rakyat seluruhnya sebagai persatuan. Negara ialah suatu masyarakat yg integral, segala golongan, segala bagian dan segala anggotanya berhubungan erat satu dengan yang lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organis.73 Aliran ini disebut sendiri oleh Soepomo sebagai “idee totaliter”, yang menurutnya sesuai dengan aliran pikiran ketimuran. Karena itu wajar jika kemudian tidak ada orang yang
73 Ni’matul Huda, 2005, Hukum Tata Negara Indonesia, Rajawali Press, Jakarta
30
menolak dirumuskannya gagasan kekeluargaan dan gotong royong untuk dijadikan dasar paham kenegaraan Indonesia merdeka.74 Siding-sidang BPUPKI ketika itu, dipengaruhi oleh suasana heroisme anti kolonialisme dan imperialism, sehingga ketika itu hal yang terkait dengan individualism dan liberalism, langsung dibenci oleh setiap tokoh pergerakan. Sedangkan gagasan, pendapat atau paham apapun yang menentang kolonialisme Barat akan mendapat perhatian atau dukungan. Kondisi tersebut dapat dimaklumi ketika siding-sidang BPUPKI tokoh-tokoh pergerakan menganggap Jepang sebagai sahabat.75 Konsep negara integralistrik sampai sekarang telah banyak diperdebatkan, ada yang setuju namun ada pula yang menolak konsep tersebut. Bagi mereka yang setuju, Konsep Negara Integralistik adalah merupakan pandangan dari budaya asli Bangsa Indonesia. Sedang mereka yang menolak, Konsep Negara Integralistik menjadikan UUD 1945 cenderung melahirkan kekuasaan otoriter. Pandangan lain mengatakan bahwa Konsep Integralistik harus diletakkan dlm konteks ruang dan waktu saat itu dimana bangsa Indonesia menolak segala sesuatu yang bernuansa kolonial atau Barat termasuk demokrasi liberal76. Aliran atau Teori tentang Negara yang terkait dengan konsep negara Integralistik, Soepomo tidak menyebutkan rujukannya, namun gagasannya tentang negara totaliter, yang disebutnya sebagai pandangan Negara Integralistik adalah merupakan gagasan Schmittian yang dominan ketika itu. Carl Schmitt (1888-1985) mengembangkan gagasan dasar pemikiran yang menolak individualism liberal dan derivasinya dalam doktrin konstitusionalisme dan negara hukum (rechsstaat) yang secara dikotomis membedakan antara negara dan masyarakat. Negara totaliter
74 Jimly Asshiddiqie, 1994, Gagasan Kedaulatan Rakyat Dalam Konstitusi Dan Pelaksanaannya Di Indonesia, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta. Hlm. 64 Istilah totaliter biasanya difahami secara negative, namun apabila dihubungkan dengan keadaan Indonesia dimasa perjuangan kemerdekaan, terutama pada periode antara PD I dan PD II, makna istilah tersebut belum mengandung konotasi yang negative seperti sekarang. Lihat Ibid.
75 Ibid.
76 Ibid.
31
menurut Schmitt merupakan hasil metamorphosis negara modern dari negara hukum liberal kepada suatu negara total (total state).77
Setiap negara mempunyai aturan bernegara sendiri sesuai dengan sejarah perkembangannya dan proses sosial, budaya maupun politik pada tiap-tiap negara tersebut. Masyarakat dan budaya merupakan fenomena yang tidak terpisahkan. Antara unsur-unsur budaya terjalin satu sama lain dan saling berpengaruh, sehingga perubahan pada salah satu unsur saja akan menyebabkan perubahan pada unsur-unsur lainnya. Disadari betapa hukum suatu bangsa merupakan hasil dari proses-proses yang lebih besar yang diyakini oleh suatu bangsa yang bersangkutan.78 Oleh karena itu setiap negara mempunyai hukum tata negara sendiri-sendiri.
Pidato Soepomo menjelaskan bahwa semangat kebatinan, struktur kerokhanian dari bangsa Indonesia bersifat dan bercita-cita persatuan hidup, persatuan kawula dan gusti yaitu persatuan antara dunia luar dan dunia batin, antara mikro kosmos dan makro kosmos, antara rakyat dan pemimpin-pemimpinnya.79 Itulah yang disebut Soepomo dengan idee Intergralistik atau idee totaliter dari bangsa Indonesia.
Para founding fathers nampaknya mempunyai interpretasi yang berbeda tentang faham kekeluargaan. Hamparan metateoritikal yang berbeda tersebut menghasilkan interpretasi yang berbeda pula tentang konsep kekeluargaan. Bung Karno menginterpretasikan kekeluargaan sebagai semangat gotong royong, Bung Hatta memandang kekeluargaan secara etis sebagai interaksi sosial dan kegiatan produksi dalam kehidupan desa, yang bersifat tolong menolong antar sesama.80 Namun makna semuanya akan bermuara dalam upaya mencapai tujuan negara yang dicitakan dengan semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan.
77 Aidul Fitriziada Azhari, 2010, ….. Op., Cit, hlm. 107-108
78 Khudzaifah Dimyati, Teorisasi Hukum Studi tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia 1945-1990, Muhammadiyah University Press, UMS, Surakarta, 2004, hlm. 107
H. Muh Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, dalam A. Hamid S.
Attamimi, Peran Keputusan Presiden Republik Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara, Disertasi, Fakultas Pascasarjana UI, Jakarta, 1990, hlm. 59
80 Sofian Effendi, Sistem Pemerintahan Adalah Jati Diri Bangsa, Makalah, UGM Yogyakarta
32
Dapat dilacak dari notulen rapat-rapat BPUPKI ketika membahas dasar negara pada 28 Mei-1Juli dan dari 10-17 Juli 1945, dan rapat-rapat PPKI pada 18-22 Agustus 1945, dapat diikuti perkembangan pemikiran para pimpinan bangsa tentang dasar negara. Mereka menyatakan pembentukan negara Republik Indonesia didasarkan atas corak hidup bangsa Indonesia yaitu kekeluargaan, yang dapat diartikan sama dengan kolektivisme.81 Wujud dari corak hidup yang menunjukkan identitas bangsa adalah semangat musyawarah untuk mencapai mufakat dan perwakilan yang merupakan tradisi demokrasi yang berkembang di desa-desa sebagai system demokrasi yang merefleksikan kesinambungan dari demokrasi yang berkembang dalam masyarakat Indonesia.82
Tradisi bernegara yang disampaikan Sukarno dan Hatta tersebut diwujudkan dalam suatu kelembagaan negara dalam bentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang merepresentasikan seluruh kehendak rakyat Indonesia sebagaimana dicantumkan dalam Pasal 2 UUD 1945 83. Keberadaan lembaga MPR menjadi penting yang mewujudkan kedaulatan rakyat, namun juga MPR merupakan instrument bagi system perekonomian yang berdasar asas kekeluargaan atau kolektivisme ekonomi yang dirumuskan dalam Pasal 33 UUD 1945.
Aidul Fitriciada Azhari dengan mengutip A.B. Kusuma84 yang mengatakann bahwa Hatta menghubungkan kolektivisme dengan badan kolektivisme yang terwakili dalam suatu wadah lembaga yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Gagasan tersebut sejalan dengan rancangan UUD, bahwa MPR terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang mewakili kepentingan politik ditambah dengan utusan daerah dan utusan golongan. Keberadaan para utusan golngan
81Aidul Fitriciada Azhari, 2014, Rekonstruksi Tradisi Bernegara Dalam UUD 1945, Genta Publishing, Yogyakarta, hlm. xii
23 Ibid
84 RM., A.B. Kusuma (2004), Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dalam Aidulfitriciada Azhari, 2014,….Op Cit. hlm65
33
dalam lembaga MPR mempresentasikan faham kolektivisme dalam susunan negara Indonesia.
Perkembangan pemikiran kenegaraan diperdebatkann para tokoh dengan keinginan membangun bangunan konstitusi dengan merekontruksi tradisi bernegara dalam UUD 1945. Pandangan tersebut tercermin dalam kontestasi antara dua paradigm rekontruksi tradisi yaitu particular absolut85 dan particular relative86 dalam penyusunan UUD di BPUPK dan PPKI. Kontestasi antara dua paradigm tersebut dalam penyusunan UUD di BPUPK dan PPKI akhirnya didapat kesepakatan pada beberapa hal yang terkait dengan rekonstruksi tradisi, pertama, pendiri bangsa menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia kedua,menyetujui untuk menggunakan Republik sebagai bentuk negara yang merupakan kelanjutan dari demokrasi desa. Ketiga, para pendiri negara menerima system permusyawaratan sebagai tradisi yang sesuai dengan susunan negara bangsa modern. Permusyawaratan terkait dengan hikmah kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam system demokrasi modern.
85 Ibid.Soepomo mengusulkan untuk merekonstruksi tradisi yang disebutnya nsebagai struktur tata negara asli pada tingkat negara nasional, tetapi Soepomo menolak rekonstruksi tradisi Islam dalam kehidupan negara Indonesia. Struktur tata negara asli dalam pandangannya mengacu hanya hukum adat, tidak termasuk hukum Islam..berkaitan hubungan antara negara dan ekonomi, Soepomo mengusulkan suatu system sosialisme negara (staatssocialism) yang dipercaya sebagai manifestasi dari negara integralistik.Pandangan ini menunjukkan bahwa Soepomo lebih menekankan pada partikularitas tradisi sebagai bagian dari peradaban Asia Timur yang dibedakan secara diametral dengan tradisi Barat dan Islam. Penolakann tradisi Barat hanya terkait dengan demokrasi yang bercorak liberal, tetapi menerima totalitarisme Jerman.
86 Partikularitas relative direpresentasikan dalam pandangan Soekarno, Moh Hatta dan Muhammad Yamin. Soekarno menolak demokrasi Barat, baik dalam bentuk system parlementarisme Eropa maupun presidensialisme Amerika, yang diyakini sebagai instrument kapitalisme. Soekarno mengusulkan demokrasi politik dengan kemakmuran, suatu sosio demokrasi atau demokrasi social. Hal ini menunjukkan bahwa Soekarno memiliki pandangan yang inklusif dan dinamis berkenaan dengan tradisi Hatta menghubungkan kolektivisme dengan badan koektivisme yang terwakili dalam MPR.
Hatta juga mengatakan Demokrasi desa harus diperluas dalam skala negara dan harus bersesuaikan dengan perkembangan peradapan. Demokrasi asli harus dilanjutkan dalam susunan negara bagsa modern menjadi kedaulatan rakyat. Muhammad Yamin mengusulkan tiga dasar dalam pembentukan negaraIndonesia yaitu: a. permusyawaratan (Qur,an)-mufakat (adat); b. perwakilan (adat) dan c. kebijaksanaan (rasionalisme).
Pemikiran Yamin pada dasarnya mencerminkan pandangan Minangkabau yang melihat integrasi antara adat dan syariah berdasarkan prinsip”adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”