Judul Penelitian: Daya Aktif Enzim Proteolitik, Papain pada Daun Pepaya (Carica Papaya) Sebagai Pengganti AGP (Antibiotic Growth Promoter) pada Pakan Terhadap Produktivitas Ayam Kampung. Bahan pakan yang akan digunakan adalah bahan pakan konvensional yaitu jagung, dedak, tepung ikan, bungkil kedelai, campuran diatas dan penggunaan tepung daun pepaya pada ransum 2%, 4% dan 6%. Tepung daun dicampurkan ke dalam tepung sebagai feed additive pada ayam kampung. Rencana Keluaran HKI, Buku, Prototipe atau Hasil Sasaran Lainnya, Rencana Tahun Perolehan atau Penyelesaian: Judul Buku: Tanaman Herbal Setingkat Penyediaan Tepung Daun Pepaya (Cariva papaya) pada Pakan Ayam Kampung untuk Menurunkan Kadar Kolesterol pada Daging Karkas.
Ayam Desa Balitnak (KUB) merupakan ayam desa unggulan dari Badan Litbang Pertanian yang merupakan hasil seleksi dari keluarga ayam desa selama 6 generasi (Priyanti dkk 2016). Di antara sekian banyak pakan, tanaman daun pepaya merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi telur. Daun pepaya sering digunakan pada peternakan ayam pedaging karena dianggap dapat meningkatkan laju pertumbuhan.
Machasin (2007) bahwa penambahan tepung daun pepaya hingga 18% pada ransum dasar ayam kampung dapat menurunkan biaya pakan. Maka saya tertarik dengan penelitian yang berjudul “Daya Aktif Enzim Proteolitik Papain Pada Daun Pepaya (Carica Papaya) Sebagai Pengganti AGP (Antibiotic Growth Promoter) Pada Pakan Terhadap Produktivitas Ayam Kampung”.
Permasalahan Yang Akan Diteliti
Tujuan Khusus Penelitian
Zat bioaktif dalam herbal bersifat antibakteri antara lain fenol, flavonoid, terpenoid, dan allicin. 2017) menyatakan bahwa perbaikan metabolisme dengan pemberian ramuan herbal secara tidak langsung akan meningkatkan performa ternak melalui zat bioaktif 1.4. Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari bahaya tersebut adalah dengan beralih pada penggunaan bahan tambahan pakan alami yang berbahan herbal. Zat antibakteri pada bahan herbal dapat menjaga keseimbangan mikroflora pada pencernaan ayam, sehingga ransum yang dikonsumsi dapat dicerna secara maksimal dan kualitas daging dapat ditingkatkan.
BAB 2. RENSTRA DAN PETA JALAN PENELITIAN PERGURUAN TINGGI Tahap II (2017-2021) UNAND
Pada tahap ini juga dimulai kerja sama kelembagaan dengan lembaga penelitian di universitas luar negeri. Salah satu bahan alami sebagai antibiotik alami yang dapat digunakan sebagai pengganti AGP adalah daun pepaya. Kamaruddin dan Salim (2003) mengatakan daun pepaya kaya akan alkaloid dan enzim proteolitik seperti papain, chymopapain dan lisozim yang berperan dalam proses pencernaan dan membuat kerja usus lebih lancar.
Kandungan papain pada daun pepaya berfungsi membantu mengatur asam amino dan membantu mengeluarkan racun dari dalam tubuh (Sharma dan Ogbeide, 1991). Daun pepaya juga mengandung β-karoten yang berfungsi sebagai provitamin A sampai dengan 18250 S I dan dapat digunakan sebagai sumber Xanthopyl alami. Beberapa penelitian telah dan akan dilakukan (roadmap penelitian) terkait penelitian ayam kampung dalam pemanfaatan tanaman herbal yang biasa digunakan masyarakat.
TINJAUAN PUSTAKA 3.1. Ayam Kampung (KUB)
Kebutuhan Nutris1 Ayam (KUB)
Sedangkan ayam kampung membutuhkan energi metabolik sekitar 2850 kkal/kg dan memerlukan kandungan protein sekitar 19-20% dalam ransumnya masing-masing pada tahap awal (0-4 minggu). Pada pertumbuhan fase I, kebutuhan energi metabolik ayam meningkat yaitu sekitar 2900 kkal/kg, sedangkan kebutuhan kandungan protein menurun sekitar 18-19%. Begitu pula pada pertumbuhan fase II, kebutuhan energi metabolik ayam meningkat sekitar 3.000 kkal/kg, sedangkan kebutuhan kandungan protein juga menurun sebesar 16-18% (Nawawi dan Nurrohmah, 2011).
Kebutuhan nutrisi ayam kampung Balitnak unggul berdasarkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2019) berdasarkan umur 0-12 minggu dan umur serta masa bertelur >12-20 minggu, seperti terlihat pada Tabel 1 berikut. Konsumsi ransum adalah jumlah ransum yang dikonsumsi ternak jika ransum tersebut diberikan secara ad libitum selama 24 jam. Jumlah ransum yang dikonsumsi merupakan faktor terpenting dalam menentukan jumlah nutrisi yang dikonsumsi ternak dan pengaruhnya terhadap tingkat produksi. Konsumsi ransum yang rendah akan menyebabkan kekurangan zat gizi yang dibutuhkan oleh ternak dan akibatnya menghambat pertumbuhan lemak dan daging.
Menurut Piliang (2000), konsumsi ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain palatabilitas ransum, bentuk fisik ransum, berat badan, jenis kelamin, suhu. Rata-rata konsumsi ayam super bebas umur 3-7 minggu dengan ransum ad libitum adalah 400,98 g/ekor/minggu (Wicaksono, 2015). Ransum yang dikonsumsi pada malam hari lebih banyak, sangat hemat, dan ransum yang dikonsumsi pada malam hari akan dialokasikan untuk pembentukan jaringan tubuh, sedikit ransum pada siang hari akan mengurangi panas yang hilang akibat proses metabolisme, sehingga . ayam tidak mengalami cekaman panas tinggi (Fijana et al., 2012).
Konsumsi pakan yang tinggi pada ayam ras peranakan berhubungan dengan pertambahan berat badan (PBB) yang tinggi dan postur tubuh yang berat. Ayam dengan bobot badan tinggi memerlukan konsumsi pakan yang lebih banyak untuk kebutuhan pokok dan pertumbuhannya. Banyaknya ransum yang dikonsumsi tergantung kebutuhan yang dipengaruhi oleh ukuran tubuh dan pertambahan berat badan (Rahayu et al., 2010).
Mengkonsumsi dalam porsi besar akan mempercepat laju makanan melewati usus, karena banyak porsi akan memenuhi saluran cerna, semakin cepat laju makanan keluar dari saluran cerna maka semakin sedikit zat gizi yang dapat diserap tubuh ternak. .
Ramuan Herbal
Tanaman Daun Pepaya
Daun pepaya ketika masih muda juga diolah menjadi sayuran sehingga menjadi makanan lezat dan bergizi tinggi.Selain itu, daun pepaya juga dapat digunakan sebagai obat beberapa jenis penyakit. Menurut Ardina (2007), daun pepaya mengandung enzim papain yang berperan sebagai antimikroba dan alkaloid yang berperan sebagai antibakteri. Enzim papain merupakan enzim proteolitik yang berperan dalam memecah jaringan ikat, dan mempunyai kemampuan tinggi dalam menghidrolisis protein eksoskeleton dengan cara memutus 12 ikatan peptida pada protein sehingga protein tersebut putus.
Enzim papain juga mempunyai sifat antimikroba yang dapat menghambat aktivitas beberapa mikroorganisme, dan komponen aktif β-karoten dapat berperan sebagai antioksidan (Sutarpa, 2008). Daun pepaya juga mengandung beberapa vitamin, menurut Sutarpa (2008), daun pepaya mengandung 2,1 mg niasin, 140 mg vitamin C dan 136 mg vitamin E dalam setiap 100 mg daun pepaya.
Kolesterol Daging Karkas Ayam Kampung
Menurut Piliang dan Djojosoebagia (2006), kolesterol tubuh berasal dari dua sumber, yaitu kolesterol yang diproduksi oleh tubuh sendiri yang disebut kolesterol eksogen dan yang berasal dari makanan.
METODE PENELITIAN
- MATERI DAN METODE PENELITIAN .1. Materi Penelitian
- Ternak Percobaan
- Kandang Percobaan dan Peralatan Percobaan
- Bahan Pakan Ransum Penelitian
- Pemberian Ransum Perlakuan
- Metode Penelitian 1. Rancangan Penelitian
- Tempat dan Waktu Penelitian
- Pengaruh Perlakuan Terhadap Intake Protein
- Pengaruh Perlakuan Terhadap Rasio Efisisensi Protein
- Pengaruh Perlakuan Terhadap Laju Pertumbuhan
Pada tabel 7 terlihat rata-rata asupan protein pada saat penelitian yaitu A sebesar 97,66 gram/ekor/minggu, pada perlakuan B 99,93 gram/ekor/minggu, pada perlakuan C 94,63 gram/ekor/minggu. Analisis varians diketahui bahwa penggunaan ransum yang dicampur tepung daun pepaya tidak memberikan pengaruh nyata (P > 0,05) terhadap asupan energi selama penelitian. Menurut Aisjah et al., (2007) energi metabolik yang sama yang diberikan pada ransum akan menghasilkan konsumsi ransum yang sama, begitu pula pada ransum yang mengandung protein yang sama, maka konsumsi proteinnya juga akan sama. Pada penelitian Nuraeni dkk (2002) menggunakan enzim papain, sedangkan pada penelitian ini digunakan tepung daun pepaya.
Makanan amba dapat menyebabkan saluran cerna ayam cepat terisi sehingga ayam mengurangi konsumsi makanan tersebut. Kandungan serat kasar yang tinggi mengakibatkan pencernaan menjadi lebih cepat, sehingga nilai kecernaan zat gizi lain yang keluar bersama sekret juga berkurang sehingga berdampak pada berkurangnya konsumsi makanan yang secara tidak langsung berdampak pada konsumsi protein. Hasil analisis varian menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun pepaya sampai dengan 6% dalam ransum tidak memberikan pengaruh nyata (P > 0,05) terhadap rasio efisiensi protein ayam kampung (KUB).
Pada penelitian ini ransum yang dicampur tepung daun pepaya mengandung energi metabolik sebesar 3000 kkal dan protein sebesar 20%. Dengan kandungan energi metabolik dan protein sebesar tersebut belum mampu menghasilkan rasio efisiensi protein yang baik bagi ternak. Rata-rata laju pertumbuhan ayam kampung (FCC) pada setiap perlakuan yang diberi tepung daun pepaya selama penelitian, datanya dapat dilihat pada Tabel 8 dibawah ini. Laju pertumbuhan ayam yang diberi tepung daun pepaya tidak berbeda nyata karena komposisi ransum yang dikonsumsi ayam tidak jauh berbeda, cara pemeliharaannya sama, dan umur itik yang dipelihara juga sama. 1971), laju pertumbuhan suatu hewan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain spesies, jenis kelamin, ketersediaan pakan yang cukup dan jumlah pakan yang dikonsumsi, selain faktor lingkungan juga tidak ada perbedaan laju pertumbuhan akibat kepadatan kandang. disediakan dalam penelitian ini pada tingkat normal dimana kepadatan kandang tertinggi adalah 4 ekor/0,45m2.
Sedangkan menurut Dewanti et.al (2009), pengaruh ransum digunakan sebagai faktor non genetik dimana ransum mampu mempengaruhi berat badan dan laju pertumbuhan yang erat kaitannya dengan konsumsi ransum. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tilman dkk (1998) yang mengatakan bahwa laju pertumbuhan ternak tergantung pada ransum yang dikonsumsi, jika ransum yang dikonsumsi relatif lebih banyak maka pertumbuhannya akan semakin cepat begitu pula sebaliknya. Hal ini disebabkan karena ransum yang dikonsumsi tinggi dan pertambahan bobot badan ayam KUB rendah, dimana pertambahan bobot badan menjadi salah satu kriteria pengukuran laju pertumbuhan.
Secara numerik rata-rata pertumbuhan ayam selama penelitian hampir sama karena diberi pakan daun pepaya sejak umur 8 hari. Pengaruh penambahan daun pepaya pada ransum ayam pedaging terhadap massa daging dapat dilihat pada Tabel 8 di atas. Berdasarkan hasil analisis varians diketahui bahwa penggunaan ransum yang dicampur tepung daun pepaya sampai dengan 7,5% tidak memberikan pengaruh nyata (P > 0,05) terhadap massa daging ayam kampung.
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan
Penampakan daging dada dan kulit ayam broiler tanpa tulang pada penelitian ini terlihat berwarna kuning, semakin tinggi kandungan daun pepaya maka warna daging dan kulit ayam broiler semakin kuning, serta teksturnya berserat jika dimasak. bertentangan dengan pernyataan Owens (2001) yang menyatakan bahwa daging dada tanpa tulang memiliki tekstur yang lembut, seragam, dan warnanya terang. Pengembangan formulasi gel anti jerawat dan penentuan konsentrasi hambat minimum dari ekstrak Daun Carica Pepaya (Carica Papaya Linn.). Pengaruh penambahan tepung daun pepaya (Carica papaya L.) pada ransum terhadap status dan kadar asam urat darah ayam kampung super.
Konversi ransum dan pendapatan versus pakan dan biaya ayam pedaging pada ayam pedaging yang diberi ransum dengan kandungan rimpang jahe (Curcumin xanthorrhizaoxb) yang berbeda-beda. Pengaruh penambahan tepung daun katuk (saoropus Androgynus) pada ransum berbasis pakan lokal terhadap performa ayam broiler. Pengaruh penambahan fitobiotik meniran (Phyllanthus niruri, L.) pada pakan terhadap kecernaan protein kasar dan energi metabolisme pada ayam broiler.
Pemuliaan dan peningkatan mutu genetik ayam lokal dalam keanekaragaman ayam lokal Indonesia pada sumber daya hayati. Suplementasi berbagai enzim dan ragi pada pakan tinggi serat (biji kakao) untuk menurunkan kolesterol pada daging broiler. Kecernaan protein pakan, kandungan protein daging dan pertambahan bobot badan ayam broiler setelah pemberian pakan fermentasi dengan mikroorganisme efektif (EM-4).