• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENGENDALIAN VEKTOR

N/A
N/A
Amelia Dwi Ayu

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN PENGENDALIAN VEKTOR"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

PENGENDALIAN VEKTOR

“ Pengukuran Kepadatan Lalat Menggunakan Fly Grill ”

Dosen Pengampu:

Jihan

Disusun Oleh:

Aditya Nur Fadilah (122210001)

Muhamad Sehan (122210004)

Silka Mulyati (122110005)

Andita Dwi Praswaty (122110008)

Amelia Dwi Ayu Siti Zuhairini (122110011)

PROGRAM STUDI SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

WIJAYA HUSADA BOGOR TAHUN 2023

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha kuasa karena telah memberikan kesempatan pada penyusun untuk menyelesaikan laporan ini. Atas rahmat dan hidayah-Nya lah penyusun dapat menyelesaikan laporan yang berjudul “Laporan Pengukuran Kepadatan Lalat Menggunakan Fly Grill ” tepat waktu.

Laporan ini disusun guna memenuhi tugas dalam mata kuliah Pengendalian Vektor. Selain itu, penyusun juga berharap agar laporan ini dapat memperluas pengetahuaan mahasiswa khususnya bagi penyusun.

Penyusun mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Jihan selaku dosen mata kuliah Pengendalian Vektor. Tugas yang telah diberikan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan penyusun terkait Pengukuran Kepadatan Lalat Menggunakan Fly Grill.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya.

Oleh karena itu, dengan lapang dada kami membuka pintu bagi para pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki laporan ini.

Bogor, 08 November 2023

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Status masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang kurang memenuhi syarat sanitasi dapat mengundang berbagai macam penyakit menular. Upaya untuk mencegah dan memberantas penyakit menular dengan cara meningkatkan atau memperbaiki sanitasi lingkungan dan telah diketahui bahwa salah satu sebab penyebaran penyakit menular adalah melalui serangga (Arthropoda) dari semua jenis ini yang paling besar adalah jenis insektisida yaitu lalat.

Lalat merupakan salah satu insekta (serangga) yang termasuk ordo Dipthera, yaitu insekta yang mempunyai sepasang sayap berbentuk membran. Lalat mempunyai sifat kosmopolitan, artinya kehidupan lalat dijumpai merata hampir diseluruh permukaan bumi. Diperkirakan diseluruh dunia terdapat lebih kurang 85.000 jenis lalat, tetapi sema jenis lalat terdapat di Indonesia.

Jenis lalat yang paling banyak merugikan manusia adalah jenis lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Lucilia sertica), lalat biru (Calliphora vomituria) dan lalat latrine (Fannia canicularis). Lalat juga merupakan spesies yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat yaitu sebagai vektor penularan penyakit saluran pencernaan. Vektor adalah arthropoda yang dapat memindahkan atau menularkan agent infection dari sumber infeksi kepada host yang rentan (Kusnoputranto, 2000).

Kepadatan lalat disuatu tempat perlu diketahui untuk menentukan apakah daerah tersebut potensial untuk terjadinya fly borne diseases atau tidak. Metode pengukuran kepadatan lalat yang populer dan sederhana adalah dengan menggunakan alat flygrill. Prinsip kerja dari alat ini didasarkan pada sifat lalat yang menyukai hinggap pada permukaan benda

(5)

yang bersudut tajam vertikal. Keuntungan penggunaan flygrill diantaranya adalah mudah, cepat dan murah.

Dengan demikian dapat dengan cepat menentukan kriteria suatu daerah potensial atau tidak. Kendati demikian, flygrill mempunyai beberapa kelemahan. Utamanya adalah bahwa flygrill sangat tidak cocok untuk menghitung kepadatan lalat, dimana populasinya sangat banyak atau sangat sedikit. Dalam kondisi seperti itu, penghitungan kepadatan lalat dengan flygrill, hasilnya tidak dapat mewakili keadaan yang sesungguhnya. Lokasi yang perlu dilakukan pengukuran kepadatan lalat, utamanya adalah perumahan, rumah makan dan tempat pembuangan sampah. Selain itu, bisa juga dilakukan di kandang ternak yang berdekatan dengan pemukiman manusia.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, makan rumusan masalah dalam laporan ini adalah sebagai berikur:

1. Apa pengertian lalat?

2. Bagaimana siklus dan pola hidup lalat ? 3. Bagaimana pemberantasan lalat ?

4. Bagaimana cara mengukur kepadatan lalat menggunakan fly grill ?

1.3 Tujuan

Tujuan penulisan laporan ini adalah Tujuan Umum:

Dari penulisan laporan ini diharapkan mahasiswa atau pembaca dapat menambah wawasan mengenai cara mengukur kepadatan lalat menggunakan fly grill.

Tujuan Khusus:

1. Mengetahui pengertian lalat.

2. Mengetahui siklus dan pola hidup lalat.

(6)

3. Mengetahui pemberantasan lalat.

4. Mengetahui cara mengukur kepadatan lalat menggunakan fly grill.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Lalat A. Definisi Lalat

Lalat termasuk dalam kelompok serangga yang berasal dari subordo Cyclorrapha dan ordo Diptera. Secara morfologi, lalat mempunyai struktur tubuh berbulu, mempunyai antena yang berukuran pendek dan mempunyai sepasang sayap asli serta sepasang sayap kecil (berfungsi menjaga kestabilan saat terbang). Lalat mampu terbang sejauh 32 km dari tempat perkembangbiakannya. Meskipun perkembangbiakannya. Meskipun demikian, biasanya l demikian, biasanya lalat hanya terbang alat hanya terbang 1,6-3,2 km 1,6-3,2 km dari tempat dari tempat tumbuh dan berkembangnya lalat.

Lalat juga dilengkapi dengan sistem penglihatan yang sangat canggih, yaitu adanya mata majemuk. Sistem penglihatan lalat ini terdiri dari ribuan lensa dan sangat peka terhadap gerakan. Bahkan ada beberapa jenis lalat yang memiliki penglihatan tiga dimensi yang akurat. Model penglihatan penglihatan lalat ini juga menjadi “ilham”

bagi ilmuwan kedokteran untuk menciptakan sebuah alat pencitraan (scan) baru.

Mata lalat dapat mengindra getaran cahaya 330 kali per detik.

Ditinjau dari sisi ini, mata lalat enam kali lebih peka daripada mata manusia. Pada saat yang sama, mata lalat juga dapat mengindra frekuensi-frekuensi ultraviolet pada spektrum cahaya yang tidak terlihat oleh kita. Perangkat ini memudahkan lalat untuk menghindar dari musuhnya, terutama di lingkungan gelap.

B. Jenis-jenis Lalat

(7)

1. Lalat Rumah ( Musca domestica)

Lalat rumah berukuran sedang, panjangnya 6-7,5 mm, berwarna hitam keabu-abuan dengan empat garis memanjang pada bagian punggung. Bagian mulut atau probosis lalat seperti paruh yang menjulur digunakan untuk menusuk dan menghisap makanan berupa cairan atau sedikit lembek.Sayapnya mempunyai empat garis (strep) yang melengkung ke arah kosta/rangka sayap mendekati garis ketiga. Garis (strep) pada sayap merupakan ciri pada lalat rumah dan merupakan pembeda dengan musca jenis lainnya.

2. Lalat kecil ( Fannia canicularis)

Lalat rumah kecil ini menyerupai lalat rumah biasa, tetapi ukuran mereka jauh lebih kecil. Mereka membiak di kotoran manusia dan hewan dan juga dibagian- bagian tumbuhan yang membusuk, misalnya di tumpukan rumput yang membusuk.

3. Lalat kandang (Stomaxys calcitrans)

Mereka menyerupai lalat rumah biasa, tetapi mereka mempunyai kebiasaan untuk menggigit. Tempat pembiakan hanya di tumbuhan-tumbuhan yang membusuk. Siklus hidupnya 21-25 hari. Jenis lalat ini tidak penting untuk tranmisi penyakit manusia tetapi mereka bisa memindahkan penyakit-penyakit pada binatang.

4. Lalat hijau (Chrysomya bezziana)

Jenis-jenis ini meletakkan telur-telur mereka pada daging.

Jenis-jenis lalat ini lebih daging. Jenis-jenis lalat ini lebih jarang masuk dalam rumah-rumah dan restoran-restoran daripada lalat rumah biasa, karena itu mereka dianggap tidak terlalu penting sebagai vektor penyakit manusia.

5. Lalat daging (Sarcophaga)

Jenis-jenis lalat ini termasuk dalam genus Sarcophaga, artinya pemakan daging. Ukuran mereka besar dan terdapat bintik meraka pada ujung badan mereka. Larva dari banyak jenis- jenis

(8)

lalat ini hidup dalam daging, daging, tetapi pembiakan pembiakan bisa juga terjadi terjadi dalam kotoran kotoran binatang. binatang.

Beberapa jenis tidak bertelur tetapi mengeluarkan larva. Mereka jarang masuk dalam rumahrumah dan restoran-restoran dan karena itu mereka tidak penting sebagai vektor mekanis penyakit manusia.

Tetapi mereka bisa menyebabkan myasis pada manusia.

2.2 Siklus Hidup Lalat

Siklus hidup semua lalat terdiri dari 4 tahapan, yaitu telur, larva, pupa dan lalat dewasa. Lalat dewasa akan menghasilkan telur berwarna putih dan berbentuk oval. Telur ini lalu berkembang berkembang menjadi menjadi larva (berwarna (berwarna coklat keputihan) keputihan) di feses yang lembab (basah). (basah). Setelah Setelah larva menjadi dewasa, larva ini keluar dari feses atau lokasi yang lembab menuju daerah yang relatif kering untuk berkembang menjadi pupa. Dan akhirnya, pupa yang berwarna coklat ini berubah berubah menjadi menjadi seekor lalat dewasa.

dewasa. Pada kondisi kondisi yang optimal optimal (cocok untuk perkembangbiakan perkembangbiakan lalat), lalat), 1 siklus hidup lalat tersebut tersebut (telur menjadi menjadi lalat dewasa) dewasa) hanya memerlukan waktu sekitar 7-10 hari dan biasanya lalat dewasa memiliki usia hidup selama 15-25 hari.

Dalam waktu 3-4 hari, seekor lalat betina mampu menghasilkan telur sebanyak 500 butir. Dengan kemampuan bertelur ini, maka dapat diprediksikan dalam waktu 3-4 bulan, sepasang lalat dapat beranak-pinak menjadi 191,01 x 1018 ekor (dengan asumsi semua lalat hidup). Bisa kita bayangkan, dengan kemampuan berkembang biak lalat tersebut dapat memberikan ancaman tersendiri.

2.3 Pola Hidup Lalat

Adapun pola hidup lalat adalah sebagai berikut : a. Tempat Perindukan

(9)

Tempat yang disenangi lalat adalah tempat basah, benda-benda organik, tinja,sampah basah, kotoran binatang, tumbuh-tumbuhan busuk. Kotoran yang menumpuk secara kumulatif sangat disenangi oleh lalat dan larva lalat, sedangkan yang tercecer dipakai tempat berkembang biak lalat.

b. Jarak Terbang

Jarak terbang sangat tergantung pada adanya makan yang tersedia.Jarak terbang efektif adalah 450 - 900 meter. Lalat tidak kuat terbang menantang arah angin, tetapi sebaliknya lalat akan terbang mencapai 1 km.

c. Kebiasaan Makan

Lalat dewasa sangat aktif sepanjang hari, dari makanan yang satu ke makanan yang lain. Lalat sangat tertarik pada makan yang dimakan oleh manusia sehari-hari, seperti gula, susu, dan makanan lainnya, kotoran manusia serta darah. Sehubungan dengan bentuk mulutnya, lalat hanya makan dalam bentuk cair atau makan yang basah, sedangkan makan yang kering dibasahi oleh ludahnya terlebih dahulu lalu dihisap.

d. Tempat Istirahat

Pada siang hari, bila lalat tidak mencari makan, mereka akan beristirahat pada lantai, dinding, langit-langit, jemuran pakaian, rumput-rumput, kawat listrik, serta tempat-tempat dengan yang tepi tajam dan permukaannya vertikal. Biasanya tempat istirahat ini terletak berdekatan dengan tempat makannya atau tempat berkembang biaknya, biasanya terlindung dari angin. Tempat istirahat tersebut biasanya tidak lebih dari 4,5 meter di atas permukaan tanah.

e. Lama Hidup

Pada musim panas, berkisar antara 2-4 pekan.Sedangakan pada musim dingin bisa mencapai 20 hari.

f. Temperatur

(10)

Lalat mulai terbang pada temperatur 15oC dan aktifitas optimumnya pada temperatur 21oC.Pada temperatur di bawah 7,5oC tidak aktif dan diatas 45oC terjadi kematian.

g. Kelembaban

Kelembaban erat kaitannya dengan temperatur setempat.

h. Cahaya

Lalat merupakan serangga yang bersifat fototrofik, yaitu menyukai cahaya. Pada malam hari tidak aktif, namun dapat aktif dengan adanya sinar buatan.

2.4 Pemberantasan Lalat

Pemberantasan lalat melibatkan masyarakat secara keseluruhan.

Sampah sangat erat hubungannya dengan timbul dan berkembangnya lalat itu sendiri. Oleh karena itu pemberantasan lalat akan melibatkan kegiatan – kegiatan yang berkaitan dengan sampah, maka masalah lalat juga merupakan masalah sosial.

Karena itu dalam penanganannya perlu melibatkan masyarakat secara bersama – sama. Sampah yang mudah membusuk ( garbage ) merupakan media tempat berkembang biaknya lalat. Bahan – bahan organik yang membusuk, baunya merangsan lalat untuk dating mengerumuni, karena bahan – bahan yang membusuk tersebut merupakan makanan mereka.

Pengendalian lalat dapat berjalan dengan baik karena system pengelolaan sampah yang baik pula. Adapun komponen komponen – komponen dalam sistem pengelolaan sampah yang harus mendapat perhatian agar lalat tidak ada kesempatan untuk bersarang dan berkembang biak adalah mulai dari :

1. Penyimpanan setempat ( onsite storage ) yang tempat penyimpana sampahdimana sampah dihasilkan ( biasanya berbentuk bak – bak di rumah tangga dsb ), yang harus memenuhi syarat agar lalat tidak dapat

(11)

menjangkaunya diantaranya adanya bak – bak yang tertutup rapat, baik pada waktu kosong maupun terisi.

2. Pengumpulan sampah dari tempat penyimpanan setempat ke tempat pengumpulan sampah ( TPS ) atau langsung ke tempat pembuangan akhir, yang setidak – tidaknya alat pengumpul/pengangkut dipersyaratkan tertutup rapat agar tidak terjangkau lalat.

3. Transfer dan transport, yaitu tempat pengumpulan sampah dan pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir, yang di persyaratkan untuk TPS harus bersih/tersangkut ( tak ada sisa sampah pada waktu sore/malam hari, atau sebaiknya TPS terlindung tak terjangkau lalat dan binatang pengganggu lainnya.

4. Tempat pembuangan akhir ( TPA ) yang sebaiknya menggunakan metode sanitary landfill.

Keterlambatan pengangkutan sampah juga akan menjadi peluang bagi bersarangnya lalat. Kebersihan di rumah tangga atau instansi – instansi pemerintah, perkantoran, tempat – tempat umum sebagainya merupakan syarat mutlak agar lembaga – lembaga tersebut terbebas dari lalat. Oleh karena itu kesadaran akan perlunya berperilaku sehat dan lingkungan menjadi kewajiban seluruh komponen masyarakat. Yang perlu mendapat perhatian adlah pola berfikir bahwa lalat harus diisolasi diisolasi dari makanan makanan mereka yang pada dasarnya dasarnya lalat akan terangsan terangsan oleh bau yang busuk, amis, anyir, dan sejenisnya.

sejenisnya. Di sampi itu pemberantasan pemberantasan lalat dapat juga dilakukan dengan menggunakan insektisida, sekalipun hal inii kurang efektif. Biasanya ini dilakukan di tempat – tempat khusus seperti tempat pembuangan akhir sampah. Secara singkat tindakan – tindakan yang diperlukan untuk pemberantasan lalat adalah :

1. Menjaga kebersihan secara umum,

2. Menempatkan sampah pada container yang tertutup rapat sebelum sampah diangkut dan dibuang ke TPA,

(12)

3. Mengadakan TPS sampah yang dilengkapi dengan kontener – kontener besar yang tertutup rapat,

4. Menghindari adanya dan timbulnya open dumps,

5. Menggunakan kakus yang saniter ( water sealed latrine ).

2.5 Penyakit Yang Disebabkan Oleh Lalat

 Kolera

 Thypus

 Disentri

 Parathypus

 Conjunctivitis

 Trachoma dan Poliomyelitis

 Myasis

 Tulameria

 Anthrax

2.6 Menghitung Kepadatan Lalat A. Pengertian Fly Grill

Fly grill merupakan seperangkat alat yang digunakan untuk mengukur kepadatan lalat di suatu tempat. Fly grill dapat dibuat dari bilah – bilah kayu yang lebarnya 1,9 cm dan tebalnya 1,5 cm dengan panjang masing – masing 82 cm sebanyak 21 dan dicat warna putih.

Bilah – bilah yang telah disiapkan dibentuk berjajar dengan jarak 2,2 cm pada kerangka kayu yang telah disiapkan dan pemasangan bilah kayu pada kerangkanya sebaiknya memakai sekrup sehingga dapat dibongkar pasang.

Fly grill dipakai untuk mengukur tingkat kepadatan lalat dengan cara meletakkan Fly grill pada tempat yang akan diukur kepadatan lalatnya. Kemudian dihitung jumlah lalat yang hinggap di atas Fly grill dengan menggunakan alat penghitung (hand counter)

(13)

selama 30 detik. Sedikitnya pada setiap lokasi dilakukan 10 kali perhitungan kemudian dari 5 kali hasil perhitungan lalat yang tertinggi dibuat rata – ratanya dan dicatat dalam kartu hasil perhitungan.

B. Kepadatan Lalat

Kepadatan lalat disuatu tempat perlu diketahui untuk menentukan apakah daerah tersebut potensial untuk terjadinya fly borne diseases atau tidak. Metode pengukuran kepadatan lalat tidak.

Metode pengukuran kepadatan lalat yang populer populer dan sederhana sederhana adalah dengan menggunakan menggunakan alat flygrill. flygrill. Prinsip Prinsip kerja dari alat ini didasarkan pada sifat lalat yang menyukai hinggap pada permukaan benda yang bersudut tajam vertikal.

Lokasi yang perlu dilakukan pengukuran kepadatan lalat, utamanya adalah perumahan, rumah makan dan tempat pembuangan sampah.

Keuntungan penggunaan flygrill diantaranya adalah mudah, cepat dan murah. Dengan demikian dapat dengan cepat menentukan kriteria suatu daerah potensial atau tidak.

Untuk mengetahui angka kepadatan lalat disuatu wilayah dilakukan dengan cara mengukur angka kepadatan lalat. Pengukuran populasi lalat hendaknya dapat dilakukan pada:

a. Setiap kali dilakukan dilakukan pengendalian pengendalian lalat (sebelum (sebelum dan sesudah) sesudah)

b. Memonitoring secara berkala, yang dilakukan set Memonitoring secara berkala, yang dilakukan setidaknya 3 bulan sekali. nya 3 bulan sekali.

Angka rata-rata penghitungan lalat merupakan petunjuk (indeks) populasi pada suatu lokasi tertentu. Sedangkan sebagai

(14)

interprestasi hasil pengukuran indeks populasi lalat pada setiap lokasi atau fly grill adalah sebagai berikut :

a. 0 – 2 : Rendah atau tidak menjadi menjadi masalah masalah, b. 3 – 5 : Sedang dan Sedang dan perlu dilakukan pengamanan

dilakukan pengamanan terhadap tempat-tempat terhadap tempat- tempat berkembang berkembang biakan lalat (tumpukan sampah, kotoran hewan, dan lain-lain),

c. 6 – 20 : Tinggi/padat dan Tinggi/padat dan perlu pengamanan terhadap perlu pengamanan terhadap tempat- tempat berkembang tempat- tempat berkembang biakan lalat dan bila mungkin direncanakan upaya pengendaliannya.

d. > 21 : Sangat tinggi/sangat tinggi/sangat padat dan perlu dilakukan dilakukan pengamanan pengamanan terhadap terhadap tempat – tempat perkembangbiakan lalat perkembangbiakan lalat dan tindakan dan tindakan pengendalian lalat

(15)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Waktu dan Lokasi 3.2 Alat dan Bahan

A. Alat

Ä Alat Tulis

Ä Alat Penghitung ( Hand Counter ) Ä Fly Grill

Ä Stopwatch B. Bahan

Ä Lalat 3.3 Prosedur Kerja

1. a. titik pengamatan dilakukan di pusat b. Pasang fly grill pada tempat yang akan ditentukan kepadatan lalatnya. c. Hitung jumlah lalat yang hinggap pada fly grill sebanyak 10 kali dalam 30 detik d. Ambil sebanyak 5 hasil perhitungan kepadatan lalat yang tertinggi, kemudian dirataratakan. e. Hasil rata-rata adalah angka kepadatan lalat atau indeks lalat f. Hitung juga kelembaban, suhu dan arah angin selama pengamatan

3.4 Hasil Pengamatan 3.5 Pembahasan

(16)

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan 4.2 Saran

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan lalat Musca domestica pada berbagai warna fly grill di Tempat Pembuangan Sampah Karangrejo Semarang, sehingga

(1) Kepadatan lalat dapat bergantung pada kondisi iklim seperti suhu dan kelembaban tinggi, sanitasi yang buruk, tempat pembuangan sampah yang tidak memadahi,

Berdasarkan tabel 11 di atas menunjukan bahwa hasil penelitian dalam pengambilan sampel pengukuran kepadatan lalat dan wawancara terhadap responden yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keberadaan kandang ternak, angka kepadatan lalat serta personal higiene dengan kejadian diare pada balita.. Jenis

Pengukuran kepadatan lalat dilakukan menggunakan instrumen fly grill. Pengukuran kepadatan lalat dengan cara meletakkan fly grill di sekitar luar rumah responden

Permasalahan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan jarak rumah dengan kepadatan lalat di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang

Pada jarak perumahan jauh terdapat 4 responden dengan tingkat kepadatan lalat yang tinggi.Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sarana sanitasi perumahan pada

Dari hasil yang didapatkan yaitu adanya hubungan antara pengelolaan sampah dengan tingkat kepadatan lalat, karena pengelolaan sampah di rumah makan Pasar