• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM HYGIENE INDUSTRI PENERANGAN

N/A
N/A
Febta Alkarin Putri

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM HYGIENE INDUSTRI PENERANGAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM HYGIENE INDUSTRI PENERANGAN

Disusun oleh :

Nama Febta Alkarin Putri

NRP 0520040067

Kelas K3-2C

Tanggal 20 Mei 2021

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2021

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari manusia pasti tidak akan terlepas dari suatu kegiatan maupun pekerjaan di dalam ruangan. Suatu ruangan atau tempat kerja yang nyaman tanpa disadari dapat meningkatkan produktivitas dalam beraktivitas maupun bekerja.

Sebaliknya jika kondisi tempat kerjanya tidak nyaman malah akan membuat para pekerjanya akan merasa bertambah beban kerjanya. Faktor kenyamanan suatu tempat kerja salah satunya adalah penerangan di dalam ruangan tersebut.

Penerangan yang baik adalah penerangan yang memungkinkan tenaga kerja melihat pekerjaan dengan teliti, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu. Dengan tingkat

penerangan yang terlalu tinggi atau malah terlalu rendah bisa membuat para pekerja terpaksa untuk membungkuk badan mereka dan mencoba memfokuskan penglihatan mereka. Mayoritas pekerja mengaku penerangan yang buruk di tempat kerja

mengakibatkan mata lelah, kelelahan kerja (fatigue), sakit kepala, stres, dan kecelakaan kerja. Di sisi lain, penerangan berlebih juga berpengaruh pada keselamatan dan kesehatan pekerja seperti silau, sakit kepala dan stres.Untuk mencegah atau mengurangi potensi kerugian dari penerangan yang buruk, maka penerangan di tempat kerja harus memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan.

Dalam jurnal ILO yang berjudul “Improving Working Condition and Productivity in the Garment Industry”, menunjukkan bahwa perbaikan penerangan di tempat kerja dapat meningkatkan produktivitas (10%) dan pengurangan kesalahan kerja (30%).Penerangan yang baik adalah penerangan yang memungkinkan tenaga kerja melihat pekerjaan dengan teliti, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu. Penerangan yang cukup dan diatur secara baik juga akan membantu menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.

Oleh karena itu, pada praktikum ini dilakukan pengukuran penerangan di bengkel las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya agar dapat mengetahui seberapa besar paparan penerangan di dalam bengkel las yang dapat mengganggu. Sehingga kita dapat

menganalisis dan meminimalisir potensi bahaya yang mungkin bisa terjadi.

(3)

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara mengukur penerangan di bengkel las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya?

2. Bagaimana cara menganalisa kebutuhan penerangan di bengkel las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya?

3. Bagaimana rekomendasi yang diberikan terkait penerangan di bengkel las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya?

1.3 Tujuan Praktikum

1. Memahami cara mengukur penerangan di bengkel las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

2. Memahami cara menganalisa kebutuhan penerangan di bengkel las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

3. Memahami rekomendasi yang diberikan terkait penerangan di bengkel las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

1.4 Ruang Lingkup

Pengukuran dilakukan di bengkel las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya. Data yang diambil berdasarkan kondisi penerangan atau pencahayaan di lingkungan kerja.

Subjek pengukuran adalah lokasi praktikum. Alat yang digunakan untuk pengukuran data yaitu alat Lux Meter.

(4)

BAB II DASAR TEORI

2.1 Definisi Penerangan

Penerangan atau pencahayaan merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan keadaan lingkungan yang aman dan nyaman serta berkaitan erat dengan produktifitas manusia. Pencahayaan (iluminasi) adalah kepadatan dari suatu berkas cahaya yang mengenai suatu permukaan (Wibiyanti, 2008). Pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif (RI, 2002). Pencahayaan yang baik memungkinkan orang dapat melihat obyek-obyek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat. Penerangan memiliki dua aspek yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Kedua aspek tersebut antara lain :

a. Penerangan yang suram (intensitas rendah)

Penerangan suatu ruangan dapat dikatakan suram, jika intensitas cahaya pada ruangan terlihat berada masih dibawah standar yang diijinkan. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan penerangan pada suatu ruangan dikatakan suram adalah kurangnya lampu pada ruangan tersebut, lampu yang ada mengalami kerusakan, lampu yang ada tidak memiliki jumlah lux yang cukup, atau lampu ruangan kotor dikarenakan kurangnya perawatan dan pembersihan.

b. Penerangan yang silau (intensitas berlebihan)

Penerangan suatu ruangan dapat dikatakan intensitasnya berlebihan jika jumlaj lux yang dipancarkan oleh lampu dalam ruangan melebihi standar yang ada.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan penerangan pada suatu ruangan antara lain jumlah lampu terlalu banyak pada suatu ruangan, daya lampu terlalu besar, atau banyak peralatan yang bersifat memantulkan cahaya.

2.2 Sumber Penerangan

Penerangan adalah salah satu faktor penentu nyaman tidaknya suatu ruangan atau tempat kerja. Berdasarkan sumbernya pencahayaan dibagi menjadi 2 (Indriati, 2016) yaitu :

a. Pencahayaan alami

(5)

Pencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang berasal dari sinar matahari.

Untuk mendapatkan pencahayaan alami pada suatu ruangan diperlukan jendela- jendela yang besar atau dinding kaca minimal 1/6 kali luas ruangan.

b. Pencahayaan buatan

Pencahayaan buatan adalah sumber pencahayaan yang bukan berasal dari sinar matahari. Pencahayaan buatan dapat berupa lampu yang dipasang di ruangan.

2.3 Jenis Lampu

Tujuan pencahayaan di industry yang terpenting adalah tersedianya lingkungan kerja yang aman untuk melakukan prosedur kerja, melakukan control, mengobservasi, dan memelihara berbagai jenis peralatan . Beberapa jenis lampu yang dapat kita gunakan, antara lain :

a. Lampu Pijar

Lampu pijar bertindak sebagai “badan abu-abu” yang secara selektif memancarkan radiasi dan hamper seluruhnya dapat terjadi pada daerah Nampak. Bola lampu terdiri dari hampa udara atau berisi gas yang dapat mengentikan oksidasi dari kawat pijar tungsten.

Gambar 1 Lampu Pijar b. Lampu halogen

Lampu halogen adalah sejenis lampu pijar. Lampu ini memiliki kawat pijar seperti lampu pijar biasa, namun terisi oleh gas halogen. Atom tungsten menguap dari kawat pijar panas dan bergerak naik ke dinding pendingin bola lampu.

Gambar 2 Lampu Halogen c. Lampu sodium

Berdasarkan tekanannya, lampu sodium dibagi menjadi 2 jenis, yaitu lampu sodium tekanan tinggi dan lampu sodium tekanan rendah. Lampu sodium tekanan

(6)

tinggi digunakan untuk penerangan di luar ruangan dan industry. Lampu sodium tekanan rendah sama dengan sistem neon, biasnaya digunakan pada taman, jalanan, dan jalan umum dalam gedung karena penggunaan wattnya rendah.

Gambar 3 Lampu Sodium

d. Lampu fluorescent

Beberapa jenis lampu fluorescent, antara lain : a) Lampu Neon

b) Lampu Helium c) Lampu Natrium d) Lampu Xenon e) Lampu Hg

Gambar 4 Lampu Fluorescent e. Lampu LED

Lampu Light Emitting Diode (LED) adalah lampu yang sering digunakan, karena memiliki beberapa kelebihan, antara lain usia yang lebih panjang dan lebih efisien

Gambar 5 Lampu LED

2.4 Sistem Penerangan

Berdasarkan SNI 03-6575-2001 penerangan buatan dapat dibedakan menjadi 3 macam, antara lain (BNSP, 2001) :

a. Sistem Pencahayaan Merata

Sistem ini memungkinakan seluruh ruangan memperoleh iluminasi cahaya teratur secara merata di seluruh ruangan. Tingkat pencahayaan didapatkan dengan

(7)

memasang armature secara merata langsung maupun tidak langsung di seluruh langit-langit.

b. Sistem Pencahayaan Setempat

Sistem ini mengkonsentrasikan penemapatan armature pada langit-langit di atas tempat yang mememrlukan pencahayaan yang tinggi, contohnya tugas visual.

c. Sistem Pencahayaan Gabungan

Sistem ini menambahkan sistem pencahayaan setempat pada sistem pencahayaan merata dengan armature yang dipasang di dekat tugas visual.

2.5 Distribusi Penerangan

Pencahayaan dapat dibedakan menjadi 5 macam berdasarkan cara distribusinya, antara lain (Wibiyanti, 2008) :

Distribusi pencahayaan langsung

Distribusi pencahayaan semi langsung

Distribusi pencahayaan umum

Distribusi pencahayaan semi tidak langsung

Distribusi pencahayaan tidak langsung

Distribusi Cahaya Keterangan

Langsung 90-100% sinar ke bawah dan 0-10

% sinar ke atas

Semi Langsung 60-90% sinar ke bawah dan 10-40

% sinar ke atas

Tidak Langsung 90-100% sinar ke atas dan 0-10 % sinar ke bawah

Semi Tidak Langsung 60-90% sinar ke atas dan 10-40 % sinar ke bawah

2.6 Pengukuran Penerangan

Intensitas penerangan dapat diukur menggunakan 2 cara, yaitu pengukuran penerangan umum dan penerangan local. Pengukuran penerangan umum dilakukan dengan cara mengukur pada titik tertentu sesuai dengan luas lantai, digunakan pada sistem pencahayaan merata. Pengukuran penerangan local dilakukan dengan cara mengukur pada meja kerja, digunakan pada sistem pencahayaan setempat.

Pengukuran penerangan umum dilakukan dengan acuan luas lantai (BNSP, 2004), yaitu :

(8)

a. Luas ruangan kurang dari 10 m2

Titik potong garis horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak setiap 1 m2 . Contoh daerah pengukuran intensitas penerangan umum untuk luas ruangan kurang dari 10 m2 ditunjukkan pada Gambar 6

Gambar 6 Penentuan Titik Pengukuran pada Luas Ruangan Kurang dari 10 m2 b. Luas ruangan antara 10 m2 hingga 100 m2

Titik potong garis horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak setiap 3 m2. Contoh daerah pengukuran intensitas penerangan umum untuk luas ruangan kurang dari 10 m2 ditunjukkan pada Gambar 7

Gambar 7 Penentuan Titik Pengukuran pada Luas Ruangan Antara 10 - 100 m2 c. Luas ruangan lebih dari 100 m2

Titik potong garis horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak setiap 6 m2 . Contoh daerah pengukuran intensitas penerangan umum untuk luas ruangan kurang dari 10 m2 ditunjukkan pada Gambar 8

Gambar 8 Penentuan Titik Pengukuran pada Luas Ruangan Lebih dari 100 m2

2.7 Standar-Standar Penerangan

Standar penerangan untuk berbagai macam ruangan sesuai dengan Permenaker No. 05 Tahun 2018, antara lain :

(9)

Tabel 1 Cuplikan Standar Pencahayaan berdasarkan Permenaker No. 05 Tahun 2018

No. Keterangan Intensitas (Lux)

1 Penerangan darurat 5

2 Halaman dan jalan 20

3 Pekerjaan membedakan barang kasar seperti : a. Mengerjakan barang-barang kasar b. Mengerjakan arang atau abu-abu c. Menyisihkan barang-barang yang besar d. Mengerjakan bahan tanah atau batu.

e. Gang-gang, tangga di dalam gedung yang selalu dipakai

50

4 Pekerjaan yang membedakan barang-barang kecil secara sepintas lalu

100

5 Pekerjaan membeda-bedakan barang-barang kecil yang agak teliti

200

6 Pekerjaan pembedaan yang teliti daripada barang-barang kecil dan halus

300 7 Pekerjaan membeda-bedakan barang-barang halus dengan

kontras yang sedang dan dalam waktu yang lama

500 - 1000

8 Pekerjaan membeda-bedakan barang-barang yang sangat halus dengan kontras yang sangat kurang untuk waktu yang lama

1000

2.8 Perhitungan Jumlah Lampu

Untuk dapat menentukan suau kualitas dari penerangan diperlukan perhitungan tingkat pencahayaan rata-rata :

Erata-rata = 𝐹 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑥 𝑘𝑝 𝑥 𝑘𝑑 𝐴

Sumber : IES, 2019 Keterangan :

F = Fluks luminous total dari semua lampu yang menerangi benda kerja (lumen) A = luas bidang kerja (m2)

kp = koefisien penggunaan kd = koefisien depresiasi

(10)

Untuk mengetahui koefisien penggunaan maka dapat dilihat dari Gambar 10 atau Gambar 11 dengan mencari pertemuan garis antara rasio tinggi langitlangit atau lantai.

Gambar 9 Tinggi Lantai, Langit-langit, dan Meja Kerja

Rasio tinggi langit-langit, lantai, dan meja kerja dapat dicari menggunakan perhitungan di bawah ini :

Keterangan :

hRc = tinggi meja kerja ke armatur hCc = tinggi armature ke langit-langit hFc = tinggi lantai ke meja kerja L = panjang ruangan

W = lebar ruangan

(11)

Gambar 10 Nilai Koefisien Penggunaan untuk Armatur Umum

Gambar 11 Nilai Koefisien Penggunaan untuk Armatur Isi 4 Lampu

Untuk mengetahui koefisien depresiasi maka dapat menggunakan rumus berikut ini : MF = LLMF X LSF X LMF (x SMF)*

Keterangan :

LLMF = Lamp lumen maintenance factor LSF = Lamp survival factor

LMF = Luminaire maintenance factor

SMF = Surface maintenance factor (digunakan jika penerangan dipasang di outdoor, contohnya trotoar)

(12)

Data didapatkan dari tabel dengan menarik garis antara umur lampu dengan jenis lampu. Tabel ditunjukkan pada Gambar 12, 13, dan 14.

Gambar 12 Pilihan LLMF

Gambar 13 Pilihan LSF

Gambar 14 LMF untuk Armature Open Distribution

(13)

2.9 Alat Ukur Penerangan

Luxmeter adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya atau tingkat pencahayaan. Biasanya digunakan dalam ruangan. Kebutuhan pencahayaan setiap ruangan terkadang berbeda, semuanya tergantung dan

disesuaikan dengan kegiatan yang dilakukan. Dalam penerapannya, ada beberapa metode pengukuran yang harus diperhatikan :

1. Persiapan pengukuran, diantaranya : memastikan baterai alat lux meter memiliki daya yang cukup untuk pengukuran dan alat luxmeter berfungsi dengan baik, memastikan luxmeter sudah terkalibrasi oleh laboratorium kalibrasi yang terakreditasi serta menyiapkan alat bantu ukur dimensi ruangan (meteran), formulir pengukuran dan denah tempat kerja yang akan diukur.

2. Persyaratan pengukuran, yakni kondisi tempat kerja dalam keadaan sesuai dengan pekerjaan yang biasa dilakukan.

3. Penerangan setempat dilakukan pada benda-benda, obyek kerja, peralatan atau mesin dan proses produksi serta area kerja tertentu. Penentuan titik pengukurannya sensor ditempatkan sejajar dengan permukaan objek dan pengukuran pada bidang vertikal. Jika pengukuran pada meja kerja dibagi menjadi 4 titik penempatan luxmeter dan pada stasiun kerja komputer berjarak 10 cm dari layar komputer.

4. Penerangan umum; Jika luas ruangan kurang dari 50 m2 : jumlah titik pengukuran dihitung dengan mempertimbangkan bahwa 1 titik pengukuran mewakili area maksimal 3 m2. Titik pengukuran merupakan titik temu antara dua garis diagonal panjang dan lebar ruangan. Jika luas ruangan antara 50- 100 m2 : Jumlah titik pengukuran minimal 25 titik, titik pengukuran merupakan titik temu antara dua garis diagonal panjang dan lebar ruangan dan jika luas ruangan lebih dari 100 m2 : Jumlah titik pengukuran minimal 36 titik, titik pengukuran merupakan titik temu antara dua garis diagonal panjang dan lebar ruangan.

5. Ketinggian pengukuran pencahayaan umum adalah sensor alat berjarak 0.8 m dari lantai.

6. Dan hal-hal lainnya adalah seperti petugas tidak menggunakan pakaian yang dapat memantulkan cahaya yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran dan

(14)

juga petugas memposisikan diri sedemikian rupa agar tidak menghalangi cahaya yang jatuh ke sensor luxmeter.

Keterangan:

1. Opto-sensor protection cover : Penutup untuk melindungi sensor cahaya 2. Opto-sensor : Sensor cahaya

3. LCD Display Screen : Layar LCD yang menunjukkan hasil pengukuran 4. Power on/off : Tombol untuk menyalakan alat

5. Max/min : Tombol untuk menunjukkan nilai tertinggi dan terendah dari pengukuran 6. Lux/fc : Tombol untuk mengganti satuan unit

7. Hold : Tekan singkat untuk menunjukkan data atau masuk ke mode pengukuran kembali

Zero : Tekan selama 1 detik untuk mengkalibrasi alat

8. Rel : Tekan singkat untuk menunjukkan nilai pengukuran relative

Peak : Tekan selama 1 detik untuk menunjukkan nilai pengukuran dalam range tertinggi

9. Ran:

- Tekan singkat untuk mengubah range dari 20.00 Lux > 200.0 Lux > 2000 Lux >

20000 Lux > 200000 Lux (atau 20.00 Fc > 200.0 Fc > 2000 Fc > 20000 Fc) - Tekan selama 1 detik untuk keluar dari mode pemilihan range

(15)

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Prosedur Penggunaan Alat

Prosedur penggunaan digital lux meter adalah sebagai berikut : 1. Ubahlah power on/off pada posisi ”ON”

2. Kalibrasi alat dengan cara menekan tombol REL/ZERO selama 1 detik

3. Pilih range yang sesuai dengan menekan tombol RAN (20 lux, 200 lux, 2000 lux, 20000 lux, 200000 lux)

4. Pilih mode pengukuran relatif dengan menekan singkat tombol REL/PEAK 5. Pilih satuan unit lux dengan menekan tombol lux/fc

6. Sebelum melakukan pengukuran, biarkan sensor terpapar cahaya selama 2 menit.

7. Perhatikan jangan sampai bayangan operator tertangkap oleh sensor.

8. Tandai jarak antar titik pengukuran sesuai dengan peraturan yang berlaku.

9. Lakukan pengukuran pada titik pengukuran yang telah ditandai ( 1 titik pengukuran dilakukan 3 kali pengukuran).

10. Catat aspek lain yang perlu diperhatikan sesuai dengan teori perhitungan tingkat intensitas penerangan.

3.2 Prosedur Pengukuran

1. Menentukan titik pengukuran dan waktu praktikum 2. Mempersiapkan alat

3. Melakukan pengukuran menggunakan alat lux meter 4. Mencatat data yang diperlukan

5. Melakukan 3 kali pengukuran pada masing-masing titik pengukuran agar data yang diperoleh bersifat akurat

3.3 Flow Chart Praktikum

(16)

Mempersiapkan alat lux meter

Melakukan pengukuran penerangan

Mencatat data yang diperlukan

Menghitung hasil pengukuran

Selesai Apakah sudah sesuai dengan

standar ?

Menentukan Rekomendasi Tidak

Mulai

Menentukan titik pengukuran dan waktu praktikum

Ya

(17)

BAB IV

PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

4.1 Data Pengukuran

SURVEI PENERANGAN A. Gambaran Umum

Nama Ruang : Bengkel Las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya Tanggal : 20 Mei 2021

Survei dilakukan pada : Siang hari Keadaan Cuaca : Cerah

Team Pengukur : Febta Alkarin Putri Alat yang dipakai : Lux Meter

B. Karakteristik Tempat Kerja 1. Identifikasi tempat/ruang kerja

Panjang : 16 m Lebar : 14 m Tinggi : 6 m

Identifikasi dimensi Tool Store Panjang : 3 m

Lebar : 3 m Tinggi : 4 m

2. Gambaran dinding, langit-langit, dan lantai tempat kerja

Gambaran Bahan Warna Texture Keadaan Permukaan Bersih Sedang Kotor

Dinding Beton Putih Datar V

Langit – langit

Stainless Steel

Abu – Abu

Bergelombang V

Permukaan kerja

Besi Abu – Abu

Datar V

Lantai Plester Semen

Hijau Datar V

(18)

Jenis lampu : Philips BY088P LED20/NW OL Jumlah lampu per armature : 1 lampu per armatur

Jumlah armature : 8 armature Keadaan armature : Berdebu Gambar layout armature Bengkel Las

Uraikan tentang kondisi ruangan :

Ruangan digunakan untuk praktek las OAW, SMAW, dan GTAW. Kondisi penerangan baik pada siang hari karena jendela yang ada di bengkel jumlahnya memadai sehingga sinar matahari bisa masuk ke ruangan. Namun perawatan langit-langit kurang baik karena terlalu tinggi.

Gambaran dinding, langit-langit, dan lantai Tool Store

Gambaran Bahan Warna Texture Keadaan Permukaan Bersih Sedang Kotor

Dinding Beton Putih Datar V

Langit – langit

Stainless Steel

Abu – Abu

Bergelombang V

Permukaan kerja

Besi Coklat Datar V Lantai Plester

Semen

Hijau Datar V

Jenis lampu : TL LED 40 watt Jumlah lampu per armature : 2 lampu per armatur Jumlah armature : 1 armature

(19)

Keadaan armature : Bersih

Gambar layout armature Tool Store

Uraikan tentang kondisi ruangan :

Ruangan difungsikan sebagai tempat penyimpanan peralatan dan pengisian dokumen terkait praktikum. Kondisi penerangan baik pada siang hari karena jendela yang ada di tool store jumlahnya memadai sehingga sinar matahari bisa masuk ke ruangan.

C. Informasi Penting Lainnya

1. Berapakah jumlah lampu yang telah rusak? Tidak ada

2. Apakah ditemukan sumber kesilauan pada tempat kerja? Tidak ada 3. Apakah penataan meja kerja sesuai dengan penerangan eksisting? Tidak,

penataan meja mengikuti denah di lapsem kebisingan

D. Tabel Data Hasil Pengukuran Bengkel Las Titik

Pengukuran

Pengukuran 1 (Lux)

Pengukuran 2 (Lux)

Pengukuran 3 (Lux)

Rata-Rata (Lux)

Titik 1 300 325 350 325

Titik 2 500 500 450 483.3

Titik 3 250 300 275 275

Titik 4 475 450 500 475

Titik 5 268 218 443 309.7

(20)

Titik Pengukuran

Pengukuran 1 (Lux)

Pengukuran 2 (Lux)

Pengukuran 3 (Lux)

Rata-Rata (Lux)

Titik 6 286 339 294 306.3

Titik 7 413 311 410 378

Titik 8 447 443 203 364.3

Titik 9 229 391 366 328.7

Titik 10 387 300 296 327.7

Titik 11 367 410 410 395.7

Titik 12 224 333 245 267.3

Titik 13 224 336 205 255

Titik 14 251 294 421 322

Titik 15 364 322 410 365.3

Titik 16 363 341 406 370

Titik 17 392 385 379 385.3

Titik 18 329 205 293 275.7

Titik 19 264 353 395 337.3

Titik 20 216 349 249 271.3

Titik 21 434 445 240 373

Titik 22 274 387 358 339.7

Titik 23 261 222 219 234

Titik 24 339 250 354 314.3

Titik 25 400 367 295 354

Titik 26 444 422 427 431

Titik 27 312 329 204 281.7

Titik 28 327 396 369 364

Titik 29 237 209 277 241

Titik 30 322 210 240 257.3

Titik 31 439 374 432 415

Titik 32 408 231 256 298.3

Titik 33 301 258 245 268

Titik 34 409 230 267 302

Titik 35 255 436 302 331

Titik 36 242 234 295 257

Σrata-rata 11.879,2

(21)

Tabel Data Hasil Pengukuran Tool Store No. Titik

Pengukuran

Pengukuran 1 (Lux)

Pengukuran 2 (Lux)

Pengukuran 3 (Lux)

Rata- Rata (Lux)

1 Titik 1 200 200 200 200

2 Titik 2 350 300 325 325

3 Titik 3 175 225 210 203.3

4 Titik 4 300 310 305 305

Σrata-rata 1.033,3

E. Gambar Layout Ruangan

4.2 Analisis Data 4.2.1 Bengkel Las

Rata-Rata Pencahayaan di Bengkel Las Erata-rata = 11.879,2

36 = 329.9 lux

Pada kegiatan di bengkel las ini kita asumsikan pekerjaan pembedaan yang teliti daripada barang-barang kecil dan halus. Standar pencahayaan menurut Permenaker 05/2018 adalah 300 lux.

Asumsi bagian-bagian ruangan hCc = 1

hRc = 4 hFc = 1.2 L = 16 W = 14

Pw = 70 (putih biasa) Pc = 50 (abu-abu kotor)

(22)

RCR = 5ℎ𝑅𝑐 (𝐿+𝑊)

𝐿 𝑊

= 5 𝑥 4 (16+14) 16 𝑥 14

= 2.7 FCR = RCR ℎ𝐹𝑐

ℎ𝑅𝑐

= 2.7 x 1.2

4

= 0.8 Kp = 47% = 0.47

Asumsikan waktu kerja Waktu kerja = 8 jam/hari Waktu pengoperasian = 2 tahun Operating time = 6 thousands of hours

Jenis lampu : Philips BY088P LED20/NW OL Jumlah lampu per armature : 1 lampu per armatur

Jumlah armature : 8 armature Keadaan armature : Berdebu

LLMF (FS) = 0.88

LSF (FS) = 0.94

LMF (high karena kotor) = 0.45 Kd = LLMF x LSF x LMF

= 0.88 x 0.94 x 0.45

= 0.37

Erata-rata = 𝐹 𝑡𝑜𝑡 𝑥 𝑘𝑝 𝑥 𝑘𝑑 𝐴

329.9 = 𝐹 𝑡𝑜𝑡 𝑥 0.47 𝑥 0.65 224

Ftot = 329.9 𝑥 224 0.47 𝑥 0.37

= 424.943,1

N = 𝐹 𝑡𝑜𝑡

𝐹 = 424.943,1

1600 = 266 lampu

Penambahan lampu = 266 – 8 = 258 lampu

4.2.2 Tool Store

➢ Rata-Rata Pencahayaan di Bengkel Las Erata-rata = 𝟏.𝟎𝟑𝟑,𝟑

4 = 258.3 lux

Pada kegiatan di bengkel las ini kita asumsikan Pekerjaan yang membedakan barang-barang kecil secara sepintas lalu. Standar pencahayaan menurut Permenaker 05/2018 adalah 100 lux.

(23)

Asumsi bagian-bagian ruangan hCc = 0.7

hRc = 2.1 hFc = 1 L = 3 W = 3

Pw = 50 (putih kotor) Pc = 30 (abu-abu kotor)

RCR = 5ℎ𝑅𝑐 (𝐿+𝑊)

𝐿 𝑊

= 5 𝑥 2.3 (3+3) 3 𝑥 3

= 7.7 CCR = RCR ℎ𝐶𝑐

ℎ𝑅𝑐

= 7.7 x 0.7

2.1

= 2.6 Kp = 23% = 0.23

Asumsikan waktu kerja Waktu kerja = 8 jam/hari Waktu pengoperasian = 2 tahun Operating time = 6 thousands of hours

Jenis lampu : TL LED 40 watt

Jumlah lampu per armature : 2 lampu per armatur Jumlah armature : 1 armature

Keadaan armature : Bersih

LLMF (FD) = 0.94

LSF (FD) = 0.99

LMF (low bersih) = 0.90 Kd = LLMF x LSF x LMF

= 0.94 x 0.99 x 0.90

= 0.83

Erata-rata = 𝐹 𝑡𝑜𝑡 𝑥 𝑘𝑝 𝑥 𝑘𝑑 𝐴

258.3 = 𝐹 𝑡𝑜𝑡 𝑥 0.23 𝑥 0.83 9

Ftot = 258.3 𝑥 9

0.23 𝑥 0.83

= 12.177,6

(24)

N = 𝐹 𝑡𝑜𝑡

𝐹 = 12.177,6

1350 = 9 lampu

Penambahan lampu = 9 – 2 = 7 lampu

4.3 Pembahasan (Analisa AREP)

1. Antisipasi

Identifikasi bahaya dan resiko praktikum penerangan di bengkel las dan rool store Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya. Upaya antisipasi dapat dilakukan dengan cara mendata potensi bahaya yang mungkin terjadi berdasarkan

pengalaman langsung maupun jurnal-jurnal yang berkaitan. Potensi bahaya yang diidentifikasi meliputi pencahayaan yang terjadi apakah melebihi NAB atau tidak.

Selain itu, apakah muncul risiko yaitu timbulnya penyakit akibat kerja seperti kelelahan mata, kelelahan syaraf, stress, dan lainnya.

2. Rekognisi

Mengenali bahaya atau hazard lingkungan yang lebih detail. Pada tahap ini upaya yang dilakukan adalah pengukuran dengan menggunakan alat agar

memperoleh data yang dibutuhkan, pemeriksaan kesehatan serta inspeksi K3

3. Evaluasi

Setelah melalui tahap rekognisi berupa pengukuran, pada tahap ini hasil pengukuran dilihat apakah sudah memenuhi standar yang ditetapkan apakah belum. Standar hasil perhitungan menurut Permenaker 05/2018 tentang nilai standar paparan penerangan sebagai berikut :

Ruang Hasil Pengukuran Intensitas Standar Keterangan

Bengkel las 329.3 300 Melebihi standar

Tool store 258.3 100 Melebihi standar

Karena data yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar Permenaker 05/2018 maka dilakukan pengendalian

4. Pengendalian a. Eliminasi

Pada tahap ini tidak bisa dilakukan karena sumber pencahayaan atau penerangan seperti lampu tidak mungkin bisa dieliminasi atau dihilangkan karena dalam melakukan suatu pekerjaan pasti butuh adanya penerangan.

b. Subtitusi

(25)

Pada tahap ini dapat dilakukan upaya penggantian alat-alat yang kurang berfungsi dengan baik dengan alat yang spesifikasinya lebih baik seperti - Mengganti lampu yang memiliki daya kecil ke yang lebih besar dengan kata

lain masih sesuai dengan standar ruangan

- Mengganti warna cat dinding dengan warna-warna cerah - Meggganti meja dengan warna cerah

c. Engineering Control

Pada tahap ini bisa dapat dilakukan upaya seperti : - Menata tatak letak lampu

- Menata tata letak peralatan yang sering digunakan seperti meja dan kursi pada tempat dengan intensitas cahaya yang sesuai

- Membersihkan armature secara rutin - Membersihkan dinding dan langit-langit

- Menambahkan jendela sebagai pencahayaan alami

- Menambahkan jumlah lampu sesuai perhitungan dengan standar NAB.

Untuk di bengkel las disarankan menambahkan lampu sebanyak 258 lampu dan tool store 7 lampu. Namun jika dirasa 258 lampu terlalu banyak untuk ruangan dengan ukuran 16 x 14 bisa kita kurangi dan cara lainnya dengan mengecat dinding dengan warna putih atau cerah.

d. Administrasi Control

Karena pada tahap evaluasi penerangannya tidak sesuai dengan standar NAB menurut Permenaker 05/2018 maka upaya yang dilakukan adalah membatasi atau mengurangi waktu kerja.

e. APD

Karena pada praktikum kali ini dilakukan di bengkel las maka pekerjaan yang dilakukan pasti adalah proses pengelasan. Untuk APD yang digunakan seperti helmet, earplug, safety shoes, wearpack, masker, kacamata pelindung, dan lain-lain. Namun untuk pengurangan paparan penerangan lebih fokus kepada penggunaan kacamata pelindung.

(26)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. Cara melakukan pengukuran penerangan menggunakan alat lux meter yaitu

dengan cara memasang atau menghadapkan sensor alat pada titik pengukuran penerangan yang akan diukur. Setelah itu dilakukan pengukuran, lalu disarankan pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali agar data yang dihasilkan akurat

2. Cara cara menganalisa kebutuhan penerangan di bengkel las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya dapat dilakuakn dengan melalui pengukuran menggunakan alat lux meter pada titik pengukuran yang sudah ditentukan. Kemudian dari data yang diperoleh kita dapat melakukan perhitungan dan disesuaikan dengan peraturan NAB yang ada yaitu Permenaker 05/2018. Setelah dilakukan perhitungan, terhitung pada bengkel las dan tool store penerangannya tergolong tidak sesuai standar dan harus dilakukan suatu pengendalian karena berisiko terkena penyakit akibat kerja.

3. Rekomendasi yang diberikan terkait penerangan di bengkel las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya yaitu

- Penempatan tata letak lampu yang tepat

- Penambahan armature atau lampu pada ruangan - Penambahan jendela sebagai pencahayaan alami

- Pembersihan berkala armature serta dinding langit-langit - Pemilihan warna dinding dan meja dengan warna yang cerah - Membatasi waktu kerja

- Penggunaan APD seperti kacamata pelindung

5.2 Saran

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan terdapat beberapa saran untuk meningkatkan praktikum selanjutnya yaitu :

1. Perlu melakukan praktikum secara langsung agar kita bisa mengetahui lebih jauh tentang cara pengukurannya serta cara kerja alat yang digunakan.

2. Melakukan praktikum sesuai tata cara yang telah ditentukan 3. Pada saat pengambilan data dilakukan secara teliti dan fokus

(27)

4. Alat ukur dilakukan kalibrasi secara teratur sehingga data yang didapatkan lebih akurat dan benar

5. Rutin memeriksa kelayakan alat ukur yang akan digunakan

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Santiasih, Indri, dkk.2019.Job Sheet Penerangan: PPNS

SNI 7062:2019 tentang Pengukuran Intensitas Pencahayaan di Tempat Kerja Prabu.2009.Sistem dan Standar Pencahayaan Ruangan diakses dari

https://putraprabu.wordpress.com/2009/01/06/sistem-dan-standar-pencahayaan-ruang/

pada tanggal 18 Mei 2021

Sign, Safety.2017.7 Poin Penting Tentang Penerangan di Tempat Kerja, Bagaimana Penerangan yang Baik Sesuai Standar? diakses dari

https://www.safetysign.co.id/news/298/7-Poin-Penting-Tentang-Penerangan-di-Tempat- Kerja-Bagaimana-Penerangan-yang-Baik-Sesuai-

Standar#:~:text=Penerangan%20yang%20baik%20adalah%20penerangan,kerja%20yang

%20aman%20dan%20nyaman. pada tanggal 19 Mei 2021

Marketing.2019.Pentingnya Pencahayaan di Tempat Kerja diakses dari

http://nusantaratraisser.co.id/responsiveweb/blog/2019/07/31/pentingnya-pencahayaan-di- tempat-

kerja/#:~:text=Penerangan%20yang%20baik%20adalah%20penerangan,kerja%20yang%2 0aman%20dan%20nyaman. pada tanggal 19 Mei 2021

(29)

LAMPIRAN

Tugas Pendahuluan

1. Sebutkan peraturan yang berlaku di Indonesia yang mengatur tentang syarat penerangan di tempat kerja, serta berikan contoh salah satu aturannya!

Pengaturan tentang syarat penerangan di tempat kerja : 1) Permenaker 05/2018

No. Keterangan Intensitas (Lux)

1 Penerangan darurat 5

2 Halaman dan jalan 20

3 Pekerjaan membedakan barang kasar seperti : a. Mengerjakan barang-barang kasar b. Mengerjakan arang atau abu-abu c. Menyisihkan barang-barang yang besar d. Mengerjakan bahan tanah atau batu.

e. Gang-gang, tangga di dalam gedung yang selalu dipakai

50

4 Pekerjaan yang membedakan barang-barang kecil secara sepintas lalu

100 5 Pekerjaan membeda-bedakan barang-barang kecil yang

agak teliti

200

6 Pekerjaan pembedaan yang teliti daripada barang-barang kecil dan halus

300

7 Pekerjaan membeda-bedakan barang-barang halus dengan kontras yang sedang dan dalam waktu yang lama

500 - 1000

8 Pekerjaan membeda-bedakan barang-barang yang sangat halus dengan kontras yang sangat kurang untuk waktu yang lama

1000

2) SNI 7062:2019

2. Suatu ruangan kerja dengan ukuran 10 x 20 m dengan tinggi 5 m diberi

penerangan dengan jenis lampu 2 x TL 40 W. Bila tiap armature memberikan 2 x 3000 lumen. Tentukan jumlah armature yang diperlukan dan gambarkan

denahnya!

(30)

Keterangan:

• Bidang kerja 0,85 m dari lantai

• Faktor refleksi adalah rp = 0,7 rw = 0,5 rm = 0,1

• Faktor depresiasi = 0,7

• Pekerjaan yang dilakukan adalah menjahit

• Rendemen/efisiensi armature adalah penerangan langsung

Diket :

A = 10 x 20 = 200 m2 h = 5 m

hRc = 5 – 0.85 = 4.15 m E (menjahit) = 500 lux

rp = 0,7 rw = 0.5 rm = 0.1

Q = 2 x 3000 = 6000

Dit : jumlah armature

Jawab : K = 𝑝 𝑥 𝑙

ℎ𝑅𝑐 𝑥 (𝑝+𝑙)

K = 20 𝑥 10

4.15 𝑥 (20+10)

K = 200

124.5

K = 1.6 Interpolasi

1.5 = 0.51

(31)

1.6 = x 2 = 0.56

2 − 1.6

2 − 1.5 = 0.56 − 𝑥

0.56 − 0.51 0.4

0.5 = 0.56 − 𝑥

0.05

0.28 – 0.5x = 0.02 x = ef = 0.52

Menentukan jumlah armature (N) N = 𝐸 𝑥 𝐴

𝑄 𝑥 𝑒𝑓 𝑥 𝑑

N = 500 𝑥 200

6000 𝑥 0.52 𝑥 0.7

N = 45.7 = 46 lampu Gambar Denah

Gambar

Gambar 7 Penentuan Titik Pengukuran pada Luas Ruangan Antara 10 - 100 m 2 c. Luas ruangan lebih dari 100 m 2
Gambar 6 Penentuan Titik Pengukuran pada Luas Ruangan Kurang dari 10 m 2 b. Luas ruangan antara 10 m2 hingga 100 m2
Gambar 8 Penentuan Titik Pengukuran pada Luas Ruangan Lebih dari 100 m2
Tabel 1 Cuplikan Standar Pencahayaan berdasarkan Permenaker No. 05 Tahun 2018
+7

Referensi

Dokumen terkait