PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SAMARINDA
2024/2025
LAPORAN STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR VI PERENCANAAN URBAN ENTERTAINMENT CENTER
DI SAMARINDA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOPHILIC
Disusun Oleh:
Nur Harliyana
22.11.1001.7312.004
Laporan STUPA VI| 1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kota Samarinda, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, mengalami pertumbuhan jumlah penduduk yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan pemerintah daerah, jumlah penduduk di Samarinda telah mencapai sekitar 1,1 juta jiwa pada tahun 2023, dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar 1,5% hingga 2%. Pertumbuhan ini didorong oleh faktor-faktor seperti urbanisasi, migrasi dari daerah lain, dan rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur, yang mempercepat arus migrasi dan investasi ke wilayah ini.
Dengan pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas urban, masalah kesehatan mental di Samarinda semakin mencuat. Kelelahan bekerja dan kesibukan sehari-hari menjadi penyebab utama masalah ini. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat stres dan kecemasan di kalangan warga kota meningkat akibat jam kerja yang panjang, kemacetan, dan kurangnya waktu untuk relaksasi. Survei yang dilakukan oleh Universitas Mulawarman pada tahun 2023 menunjukkan bahwa banyak warga Samarinda mengalami gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi, yang diperburuk oleh keterbatasan fasilitas rekreasi dan ruang terbuka hijau.
Samarinda menghadapi kekurangan ruang publik dan tempat rekreasi yang memadai.
Laporan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menunjukkan bahwa kota ini memiliki sekitar 60 ruang terbuka hijau, tetapi banyak dari fasilitas tersebut memerlukan revitalisasi dan perbaikan. Penelitian oleh Forest Watch Indonesia pada tahun 2023 mencatat bahwa kualitas dan aksesibilitas ruang publik sering kali tidak memenuhi kebutuhan masyarakat. Sekitar 70% warga merasa bahwa fasilitas rekreasi yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sosial dan rekreasi mereka.
Kekurangan ruang publik ini berdampak negatif pada kualitas hidup dan kesehatan mental masyarakat, yang menambah urgensi untuk pengembangan lebih banyak area rekreasi.
Kegiatan pertambangan di Kalimantan Timur, khususnya di sekitar Samarinda, telah menyebabkan kerusakan hutan yang signifikan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa deforestasi di Kalimantan Timur
Laporan STUPA VI| 2 mencapai lebih dari 1 juta hektar sejak tahun 2000, dengan sekitar 50.000 hingga 70.000 hektar hutan rusak di sekitar Samarinda akibat pertambangan batu bara. Deforestasi ini tidak hanya mengancam habitat alami tetapi juga berkontribusi pada pencemaran lingkungan dan perubahan iklim, serta memperburuk kualitas hidup masyarakat.
Menghadapi tantangan-tantangan ini, perencanaan Urban Entertainment Center di Kota Samarinda dengan pendekatan arsitektur biophilic menawarkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan. Arsitektur biophilic mengintegrasikan elemen alami dan prinsip-prinsip desain yang menghubungkan manusia dengan alam dan aspek tradisional sekitar, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental pengguna.
Pendekatan ini tidak hanya memberikan tempat rekreasi yang menyenangkan tetapi juga membantu mengatasi masalah kesehatan mental dengan menciptakan lingkungan yang menenangkan dan menyegarkan.
Konsep Kunci dari Pendekatan Biophilic:
a. Integrasi Ruang Hijau: Mengintegrasikan elemen alami seperti taman, kebun vertikal, dan ruang terbuka hijau ke dalam desain Urban Entertainment Center untuk menyediakan area rekreasi yang menyegarkan dan meningkatkan kualitas udara.
b. Desain yang Menyambungkan dengan Alam dengan gaya arsitektur masa kini dengan memperhatikan aspek tradisional sekitar: Menggunakan material alami, pencahayaan alami, dan desain yang mengoptimalkan pandangan ke luar ruang dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental.
Memadukan arsitektur biophilic dengan aspek tradisional lingkungan.
Perencanaan Urban Entertainment Center di Kota Samarinda dengan pendekatan arsitektur biophilic adalah langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan ruang rekreasi yang mendesak, meningkatkan kualitas hidup, dan mengatasi dampak negatif dari pertambangan. Dengan mengintegrasikan elemen alami dalam desain, proyek ini dapat menyediakan fasilitas yang mendukung kesehatan mental, memperbaiki kualitas ruang publik, dan berkontribusi pada pemulihan lingkungan yang rusak. Upaya ini tidak hanya akan mengatasi masalah saat ini tetapi juga dapat membantu meningkatkan daya tarik kota samarinda dalam sektor parawisata, pendapatan daerah, peluang pekerjaan dan mempersiapkan Samarinda untuk masa depan yang lebih berkelanjutan dan sehat.
Laporan STUPA VI| 3 1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan yang menjadi pertimbangan untuk dibahas dalam perencanaan ini adalah:
a. Bagaimana cara merancang Urban Entertainment Center di Kota Samarinda dengan pendekatan arsitektur biophilic yang dapat mengatasi kekurangan ruang publik dan tempat rekreasi yang ada saat ini?
b. Apa saja elemen desain biophilic yang paling efektif untuk meningkatkan kesehatan mental masyarakat kota Samarinda, dan bagaimana memadukan aspek tradisional kedalam arsitektur biophilic sehingga identitas daerah akan terus dilestarikan?
c. Bagaimana Urban Entertainment Center dengan pendekatan arsitektur biophilic dapat berfungsi sebagai solusi berkelanjutan yang mendukung pemulihan lingkungan dan mengurangi dampak negatif dari deforestasi dan pencemaran akibat kegiatan pertambangan di sekitar Samarinda?
d. Apa peran Urban Entertainment Center dalam menanggapi pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat di kota Samarinda dan memastikan penyediaan ruang publik yang memadai untuk komunitas yang berkembang?
1.3. Batasan Masalah
Berikut adalah batasan masalah untuk perencanaan Urban Entertainment Center di Kota Samarinda dengan pendekatan arsitektur biophilic:
a. Fokus Desain Arsitektur Biophilic:
Penelitian ini akan fokus pada integrasi elemen biophilic dalam desain Entertainment Center, termasuk penggunaan material alami, pencahayaan alami, dan elemen tanaman dalam interior dan eksterior bangunan dengan memerhatikan aspek tradisional sekitar.
b. Lingkup Kebutuhan Ruang Publik:
Perencanaan akan terbatas pada pengembangan ruang publik yang berfokus pada rekriasi dan sosial di kota Samarinda seperti taman bermain, area olaraga, ruang terbuka hijau, dan retail.
c. Aspek Kesehatan Mental:
Perencanaan ini akan menitikberatkan pada dampak desain biophilic terhadap kesehatan mental masyarakat, seperti pengurangan stres dan kecemasan.
Laporan STUPA VI| 4 d. Pengelolaan Dampak Lingkungan:
Perencaan ini akan mencakup uapaya mitigasi dampak lingkungan dari deforestasi dan pencemaran akibat kegiatan pertambangan, seperti pemulihan ekosistem dan pengelolaan limbah, dengan fokus pada integrasi dalam desain Urban Entertainment Centar.
1.4. Tujuan Dan Sasaran 1.4.1. Tujuan
Adapun tujuan dari Perencanaan Urban Entertainment Center di Kota Samarinda dengan Pendekatan Arsitektur Biophilic:
a. Merancang Urban Entertainment Center dengan Pendekatan Arsitektur Biophilic.
b. Meningkatkan kesehatan mental masyarakat dengan adanya wadah rekriasi yang baru bahkan dapat dinikmati seluruh kalangan dan memadukan aspek tradisional.
c. Mendukung pemulihan lingkungan dan mengurangi dampak negatif.
d. Menanggapi pertumbuhan penduduk dan penyediakan ruang publik yang memadai.
1.4.2. Sasaran
Adapun sasaran dari Perencanaan Urban Entertainment Center di Kota Samarinda dengan Pendekatan Arsitektur Biophilic:
a. Merancang dan menerapkan elemen biophilic untuk menciptakan ruang publik yang nyaman dan alami.
b. Meningkatkan kesehatan mental dengan desain yang menenangkan dan melestrarikan identtas budaya lokal.
c. Mengurangi dampak lingkungan dari deforestasi dan pencemaran, serta mendukung pemulihan ekosistem.
d. Menyediakan ruang publik yang memadai untuk komunitas yang berkembang dan pertumbuhan populasi.
1.5. Manfaat
Adapun manfaat dari Perencanaan Urban Entertainment Center di Kota Samarinda dengan Pendekatan Arsitektur Biophilic:
Laporan STUPA VI| 5 a. Urban Entertainment Center yang dirancang dengan pendekatan biophilic akan
menyediakan ruang rekriasi dan publik yang menyegarkan, mengurau stess, dan menigkatkan keejahteraan mental masyarakat Kota Samarinda. Intergrasi elemen alami dalam desain dapat mendukung rekriasi dsn pemulihan psikilogis
b. Dengan penambahan dan perbaikan ruang publik yang sesuai dengan perinsip- perinsip biophilic, masyarakat akan memiliki akses yang lebih baik ke fasilitas rekreasi yang berkualitas, sehingga meningkatkan interakasi sosial, aktivitas fisik, dan kualitas hidup secara kesuluruhan.
c. Integrasi elemen desain yang mencerminkan budaya dan tradisi lokal dalam Urban Entertainment Center akan menbantu melestasrikan identitas daerah, mempromosikan warisan budaya, dan menciptakan ruang yang memperkuat rasa komunitas dan kebanggan lokal.
d. Desain yang memperhatikan aspek lingkungan akan mendukung pemulihan ekosistem yang rusak akibat kegiatan pertambangan dan mengurangi dampak negatif terhdap lingkungan. Ini termasuk penggunaan teknologi ramah lingkungan.
e. Urban Entertainment Center yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan ruang publik akan memberikan solusi yang efektif untuk mengatasi tantangan pertumbuhan populasi di Kota Samarinda dengan menyediakan ruang yang memadai untuk berbagai kegiatan sosial dan rekreasi dalam komunitas yang berkembang pesat.
f. Pengembangan Urban Entertainment Center dengan desain inovatif dan berkelanjutan akan meningkatkan citra kota Samarinda sebagai tempat yang modern dan ramah ingkungan, menarik pengunjung dan investor, serta mendukung perkembangan ekonomi lokal.
Laporan STUPA VI| 6 1.6. Keaslian Judul
Tabel 1.1 Keaslian Judul
Peneliti dan Judul Persamaan Perbedaan Orisinilitas Judul 1. Jefferson
Fritzgerald Karnadi, Sutrisnowati Machdijar, Urban
Entertainment HUB di
Kawasan Indah Kapuk. (2019)
• Merancang tempat rekriasi nuansa perkotaan (urban
entertainment)
• Karena adanya modernists dan globalisasi yang mempengaruhi cara hidup jadi padat dan berdampak pada mental health
• Berfokus pada fungsi retail
• Sasaran utama anak muda hingga usia produktif kerja
• Isi laporan berfokus pada perencanaan shopping center yang di sesuaikan dengan gaya milenial.
Menggunakan konsep open space.
2. Hegar Pratiwi, Ida Ayu Dawitri Dian Mawarni, Hanugrah Adhi Buwono, Healing Architecture dalam Urban Entertainment Hub
• Merancang tempat rekreasi dalam satu komplek yang di dalamnya
terdapat retail dan hiburan
• Karena adanya modernisasi dan globalisasi yang mempengaruhi cara hidup jadi padat dan berdampak pada mental health
• Merancang wadah yang berfokus pada komunitas dan pelaku usaha ekonomi kreatif.
• Pendekatan healing architecture
• Isi laporan berfokus pada perancangan wadah untuk komunitas, pelaku ekonomi kreatif, dan kesehatan mental yang dihadapi masyarakat perkotaan dengan konsep healing architecture dan metode evidance- based design.
Laporan STUPA VI| 7 Peneliti dan Judul Persamaan Perbedaan Orisinilitas Judul 3. Jerry J.Antou,
Windy J.
Mononimbar Rieneke L. E.
Sela Urban Entertainment Center Di Manado dengan Pendekatan The Arsitektur Of Happiness.
• Meningkat sektor pariwisata di daerah tertentu
• Karena tuntutan pekerjaan dan kurang tempat rekreasi sehingga tidak ada tempat untuk merilis stress karena tekanan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.
• Pendekatan the architecture of happiness
• Is laporan berfokus pada menghadirkan Urban
Entertainment Center dengan metode
perancangan glass box dan mengusung tema The Architecture Of Happiness.
1.7. Metodologi 1.7.1. Metode Umum
Dalam penulisan laporan studio perancangan arsitektur VI perlu dilakukan pengumpulan data-data dan informasi umum hingga khasus dari berbagai sumber terpercaya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan dan persyaratan dalam merancang Urban Entertaiment Center sehingga tercapai suatu gagasan yang dapat menjawab permasalahan dan tujuan dari perancangan dengan penekanan arsitektur biophilic.
Setelah data dikumpulkan, langkah berikutnya adalah menyiapkan perancangan dengan memeriksa informasi yang diperoleh, melakukan analisis serta pengolahan data primer dan sekunder. Hasil dari proses ini adalah sebuah konsep rancangan yang menjadi dasar pertimbangan dari berbagai aspek yang berkaitan baik secara struktural maupun arsitektural.
1.7.2. Tahapan Perencanaan
Tahapan perancangan yang dilakukan dalam menyelesaikan laporan studio perancangan arsitektur VI dengan judul Perencanaan Urban Entertainment Center dengan Pendekatan Arsitektur Biophilic adalah:
Laporan STUPA VI| 8 a. Identifikasi masalah
Identifikasi masalah dilakukan untuk menekankan fakta yang didasari oleh latar belakang, yang menjadi dasar penentuan pokok permasalahan, dengan fokus pada penerapan arsitektur biophilic.
b. Pengumpulan Data
Pengumpulan informasi terkait permasalahan dalam perencanaan urban entertainment center dapat dilakukan melalui dua jenis data utama: data primer dan data sekunder. Data primer mencakup studi lapangan dan wawancara, yang diperoleh melalui observasi langsung dan interaksi dengan pihak-pihak terkait di lokasi. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari studi literatur dan analisis perbandingan, yang mencakup karya-karya sebelumnya dari mahasiswa arsitektur, buku-buku, internet, dan jurnal yang relevan.
c. Analisa Data
Data dan informasi yang telah dikumpulkan akan dianalisis untuk memenuhi kebutuhan perencanaan urban entertainment center di Kota Samarinda. Analisis ini akan menerapkan pendekatan arsitektur biophilic dan akan menjadi dasar dalam proses pengembangan konsep serta perancangan bangunan.
d. Konsep
Hasil analisis data dan informasi menghasilkan solusi yang efektif untuk mengatasi tantangan dalam perencanaan, yang selanjutnya akan dijadikan dasar dalam pengembangan konsep untuk urban entertainment center.
e. Perancangan
Setelah konsep perencanaan terbentuk, langkah berikutnya adalah memasuki tahap perancangan untuk mengembangkan ide desain awal.
1.7.3. Data Primer
Data primer diperoleh melalui studi lapangan, yang melibatkan pengamatan langsung terhadap lokasi untuk mengevaluasi kondisi kontur tanah dan potensi yang relevan dengan perancangan. Observasi di lingkungan sekitar dan wawancara dengan penduduk setempat bertujuan untuk memahami seberapa penting keberadaan urban entertainment center di Kota Samarinda serta harapan mereka terhadap fasilitas tersebut. Wawancara ini dirancang untuk mengumpulkan informasi dan data yang akurat dan terkini. Studi
Laporan STUPA VI| 9 lapangan harus dilakukan pada site yang telah dipilih, dengan mempertimbangkan data eksisting dan referensi yang telah dikumpulkan.
1.7.4. Data Sekunder
Studi literatur sebagai referensi mencakup sumber-sumber seperti internet, buku, karya-karya mahasiswa arsitektur sebelumnya, jurnal, data pribadi, dan berbagai sumber lainnya. Berikut berupa sumber yang menjadi literatur dalam menyusun laporan studio perancangan arsitektur IV ini, yaitu:
a. ?
1.7.5. Metode Pengolahan Data
Data yang diperoleh selanjutnya akan diolah menggunakan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan lingkup analisis, kemudian keputusan akan diambil berdasarkan alternatif pemecahan masalah yang telah dianalisis. Pemecahan masalah ini akan diterjemahkan ke dalam bentuk konsep-konsep perancangan. Langkah-langkah metode pengolahan data adalah sebagai berikut:
1. Membuat analisa perancangan yang meliput:
a. Analisa peruangan : kegiatan, kebutuhan ruang beserta besarannya dan perzoningannya.
b. Analisa tapak : pemelihan tapa, kondisi tapak, matahari, noise, pencapaian, sirkulasi, view, dan vegetasi.
c. Analisa Utilitas : air bersih, air kotor, proteksi kebakaran, dan persampahan baik bangunan maupun lingkungan.
2. Membuat konsep perancangan
3. Membuat transformasi desain sebelum mulai merancang gambar kerja.
Laporan STUPA VI| 10 1.8. Kerangka Berfikir
Gambar 1.1 : Skema Kerangka Berfikir
Perencanaan urban entertainment center di Samarinda dengan pendekatan arsitektur biophilic
Menentukan Tapak Mengumpul Data Konsep Bangunan
• Data Eksisting lokasi site
• Besaran/luas site
• Menghitung KDB, GSJ, GSB, KDH site.
• Data eksisting lokasi.
• Data Primer, Survei lapangan
• Data sekunderr, literatur dan studi perbandingan
• Konsep perencanan urban entertainment center di Samarinda dengan pendekatan arsitektur biophilic.
Transformasi desain
Analisis Gambar Kerja
• Kebutuhan Ruang
• Matriks
• Bubble
• Blok plan
• Lingkungan
• Pencapaian
• Sirkulasi
• Matahari
• Gubahan massa
• Gaya Arsitektur
• vegetasi
• Site plan
• Situasi
• Denah
• Tampak
• Potongan
• Detail
• Rencana pondasi, lantai, plafond, dll
• Utilitas air bersih, air kotor, air hujan dll
• 3d
Laporan STUPA VI| 11 1.9. Sistematika Penulisan
Gambaran singkat mengenai pembahasan masing-masing bab laporan adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab 1 menguraikan tentang Latar Belakang judul Perencanaan urban entertainment center di Samarinda pendekatan Arsitektur Biophilic. tujuan dan manfaat, permasalahan, batasan masalah, keaslian judul, metodologi, serta kerangka berfikir.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab II berisikan data-data dan refrensi yang berasal dari buku- buku, jurnal, yang mebahas, tinjauan umum mengenai urban entertainment center, penjelasan tentang pendekatan arsitektur biophilic.
BAB III GAMBARAN UMU LOKASI
Bab III berisi studi yang berkaitan langsung dan spesifik dengan perencanaan urban entertainment center menggunakan pendekatan arsitektur biophilic. Bab ini mencakup judul, kondisi eksisting yang ideal, serta teori-teori terkait yang relevan.
BAB IV ANALISA PERENCANAAN
Bab IV membahas analisis dan pertimbangan dalam menentukan aspek-aspek yang relevan dengan kebutuhan yang diperlukan.
BAB V KONSEP PERENCANAAN
Bab V membahas dan menguraikan konsep lebih detail dari perencanaan urban entertainment center di Samarinda dengan pendekatan arsitektur biophilic
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisikan tentang hasil kesimpulan dan saran dari laporan yang telah dibuat.
Laporan STUPA VI| 12 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Definisi Judul
"Perencanaan Urban Entertainment Center di Kota Samarinda dengan Pendekatan Arsitektur Biophilic" adalah judul yang akan dibahas dalam bab ini. Definisi dari judul tersebut adalah sebagai berikut:
a) Perencanaan
Menurut KBBI secara umum, perencanaan adalah proses, cara, atau tindakan merencanakan. Ini melibatkan penyusunan rencana dan pengaturan langkah- langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu.
b) Urban
• Menurut Kamur Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
"Urban" merujuk pada segala sesuatu yang berhubungan dengan atau berasal dari lingkungan kota, mencakup aspek-aspek kehidupan, struktur sosial, dan infrastruktur khas kawasan perkotaan.
• Menurut para Ahli
M. K. H. S. Anshari (2002) : Anshari menjelaskan bahwa “urban”
mencakup wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, struktur sosial dan ekonomi yang kompleks, serta adanya fasilitas dan infrastruktur yang mendukung kehidupan kota.
David Harvey (2008) : Harvey mendefinisikan “urban” sebagai area dengan konsentrasi tinggi aktivitas ekonomi dan sosial, di mana proses urbanisasi memengaruhi struktur sosial, budaya, dan penggunaan ruang.
William H. White (1988) : White menggambarkan “urban” sebagai wilayah dengan karakteristik penggunaan tanah dan ruang yang khas, termasuk permukiman padat, kawasan bisnis, dan fasilitas publik yang menunjang kehidupan perkotaan.
Laporan STUPA VI| 13 c) Entertainment
“Entertainment” atau hiburan menurut KBBI merujuk pada segala bentuk kegiatan atau acara yang dirancang untuk memberikan kesenangan dan menghibur, seperti pertunjukan, film, musik, atau permainan yang dapat menyegarkan pikiran dan memberikan kepuasan.
d) Center
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “center” diartikan sebagai pusat atau tempat yang menjadi titik utama dalam suatu area atau kegiatan.
Dalam konteks ini, "center" merujuk pada lokasi atau bangunan yang berfungsi sebagai titik fokus atau tempat utama untuk aktivitas tertentu, seperti pusat perbelanjaan, pusat layanan, atau pusat kegiatan.
e) Arsitektur Biophilic
Arsitektur biophilic adalah pendekatan desain yang menggabungkan elemen alam ke dalam ruang bangunan untuk meningkatkan kesejahteraan penghuninya.
Ini melibatkan penggunaan material alami, penambahan fitur seperti taman dan elemen air, serta optimalisasi pencahayaan dan ventilasi alami untuk memperkuat koneksi antara manusia dan lingkungan alami.
• Menurut Para Ahli
Stephen Kellert : pendekatan desain yang menghubungkan manusia dengan lingkungan alami melalui integrasi elemen alam dalam ruang buatan, termasuk penggunaan material alami dan desain yang mencerminkan pola- pola alami.
Edward O. Wilson : pendekatan ini memenuhi kebutuhan manusia untuk koneksi evolusi dengan alam,
Julian Treasure : menekankan pentingnya elemen seperti suara dan pencahayaan alami untuk meningkatkan kualitas hidup Bill Browning : menambahkan bahwa desain biophilic juga memperhatikan fungsi, dengan tujuan meningkatkan kenyamanan dan produktivitas melalui elemen yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan penghuni.
Laporan STUPA VI| 14 Sehubung dengan definisi yang ada diatas maka, Perencanaan Urban Entertainment Center (UEC) di Kota Samarinda yang menekankan pada penciptaan ruang yang tidak hanya memenuhi kebutuhan hiburan, tetapi juga mengutamakan kesejahteraan dan kebahagiaan pengunjung. Dengan pendekatan arsitektur biophilic, UEC ini dirancang untuk memaksimalkan integrasi dengan alam sekitar dan memanfaatkan keuntungan dari kehadiran alam untuk meningkatkan kualitas pengalaman.
Desain UEC akan menggabungkan elemen-elemen alami seperti material organik, penggunaan air, serta tata ruang terbuka hijau. Bangunan akan menonjolkan keberadaan taman-taman vertikal, atap hijau, dan fasilitas air yang tidak hanya menghijaukan lingkungan sekitar tetapi juga memberikan udara segar dan suasana yang menenangkan bagi pengunjung. Selain itu, pencahayaan alami dan ventilasi yang optimal akan meningkatkan kenyamanan dan daya tarik ruang interior.
UEC ini bukan hanya menjadi tempat untuk aktivitas rekreasi dan hiburan, tetapi juga sebagai titik fokus untuk komunitas lokal dan destinasi wisata yang menarik.
Dengan menggabungkan elemen-elemen biophilic. Perencanaan ini bertujuan untuk mengubah kota Samarinda menjadi lingkungan yang lebih berkelanjutan, harmonis, dan memenuhi kebutuhan akan kehidupan yang lebih baik bagi penduduknya.
2.2. Tinjauan Umum
Dari definisi-definisi diatas, ditinjau dari beberapa sumber yang dapat dipercaya dan akan dibahas lebih rinci mengenai arti judul tersebut. Berikut penjabaran definisin judul diatas:
2.2.1. Urban Entertainment Center
Urban Entertainment Center (UEC) adalah kompleks komersial besar yang menggabungkan ruang hiburan dan ritel, yang membuatnya sulit untuk mendefinisikan sifatnya secara spesifik. Para profesional di bidang ritel dan hiburan memiliki pandangan yang berbeda, dengan fokus pada merchandising dan desain fisik. Bahkan dalam portofolio satu pengembang, variasi pada setiap pusat perbelanjaan sengaja diciptakan untuk menarik kunjungan awal dan berulang, didorong oleh kebutuhan akan pengalaman baru. Literatur menawarkan beragam definisi, salah satunya dari Urban Land Institute yang mendeskripsikannya sebagai pusat perbelanjaan dengan komponen hiburan, tempat makan, dan ritel dalam
Laporan STUPA VI| 15 lingkungan yang ramah. Namun, definisi ini tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa mereka disebut sebagai pusat hiburan "urban". (GSJ, 2023)
Setiap kata memiliki maknanya sendiri: "urban" menunjukkan bahwa pusat- pusat ini bisa berada di daerah perkotaan atau pinggiran kota, dengan elemen- elemen yang meniru karakteristik perkotaan untuk mendorong eksplorasi dan keramaian; "hiburan" bersifat subjektif, mencerminkan pengalaman yang menyenangkan dan bernilai untuk dikonsumsi; dan "pusat" mencakup lebih dari sekadar bangunan fisik, tetapi juga area yang dapat diakses dengan berjalan kaki.
Ketika digabungkan, istilah-istilah ini menggambarkan pusat hiburan perkotaan sebagai tempat yang menawarkan pengalaman perkotaan yang menyenangkan, menggabungkan hiburan, makan, dan ritel dalam jarak yang mudah diakses. Karena konsep ini terus berkembang untuk tetap kompetitif, mendefinisikannya secara tepat menjadi tantangan. Definisi yang telah dimodifikasi di sini bertujuan untuk membantu menggambarkan dan menganalisis dampaknya terhadap masyarakat.
(GSJ, 2023)
1. Urban Entertainment Center Menurut Para Ahli
Urban Land Institute (ULI) : UEC adalah kompleks komersial yang menggabungkan elemen-elemen hiburan, tempat makan, dan ritel dalam lingkungan yang ramah dan mudah diakses. ULI menekankan bahwa UEC merupakan tempat yang menyediakan pengalaman menyeluruh dalam satu lokasi yang dirancang untuk menarik pengunjung.
Baker (1997) : Baker mengidentifikasi UEC sebagai bentuk toserba perkotaan yang berfungsi sebagai pusat hiburan. Toserba ini menyediakan tiga komponen utama hiburan, ritel, dan tempat makan dalam satu lokasi di pusat kota, yang mendukung kualitas urban dan aksesibilitas.
Banerjee : Banerjee menyebutkan bahwa UEC dapat mengalami penurunan kualitas ruang publik jika didominasi oleh sektor swasta. Definisi ini menggarisbawahi pentingnya keseimbangan
Laporan STUPA VI| 16 antara komponen komersial dan kualitas ruang publik dalam pengembangan UEC.
Kotler dan Keller : Menurut Kotler dan Keller, UEC adalah destinasi yang dirancang untuk menawarkan pengalaman multifaset kepada pengunjung, dengan fokus pada penciptaan nilai tambah melalui kombinasi ritel, hiburan, dan fasilitas sosial dalam satu area yang terintegrasi.
Miller : Miller menyatakan bahwa UEC menciptakan ruang yang mendorong interaksi sosial dan kegiatan rekreasi, dengan desain yang memungkinkan pengunjung untuk menikmati berbagai pengalaman dalam satu kunjungan tanpa perlu berpindah tempat.
2. Faktor Membentuk Urban Entertainment Center
Berikut faktor-faktor yang membentuk urban entertainment center bidang arsitektur:
1) Integrasi fasilitas
Menggabungkan hiburan, ritel, dan tempat makan dalam satu kompleks.
2) Aksebilitas
Terletak di lokasi yang mudah dijangkau dan sering berada di daerah perkotaan.
3) Desain Ruang Publik
Menyediakan ruang terbuka seperti plaza, taman, dan koridor yang mendorong interaksi sosial.
4) Pengalaman Pengunjung
Fokus pada menciptakan pengalaman menyenangkan dan menarik untuk pengunjung.
5) Fleksibilitas
Memiliki desain yang dapat beradaptasi dengan berbagai acara dan kegiatan.
6) Konektivitas
Terhubung dengan transportasi umum dan jalur pejalan kaki.
7) Estetika Urban
Laporan STUPA VI| 17 Mengadopsi elemen desain perkotaan untuk menarik perhatian dan mendorong eksplorasi.
2.3. Tinjauan Arsitektur 1. Sejarah Biophilic
Istilah "biofilia" pertama kali diperkenalkan oleh psikolog dan filsuf Amerika, Erich Fromm, pada tahun 1973 dalam bukunya "The Anatomy of Human Destructiveness." Fromm menggambarkan biofilia sebagai orientasi psikologis manusia yang secara alami tertarik pada segala sesuatu yang hidup dan vital. Namun, beberapa peneliti berpendapat bahwa konsep biofilia sebenarnya telah ada jauh lebih lama, berakar dari filsafat Yunani kuno, terutama dalam pemikiran Aristoteles, yang mempromosikan ide 'cinta akan kehidupan' dan kekaguman terhadap bentuk-bentuk alami. Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh naturalis Harvard, Dr. Edward O. Wilson, yang mendefinisikan biofilia sebagai "kecenderungan bawaan manusia untuk terfokus pada kehidupan dan proses yang menyerupai kehidupan," serta daya tarik dan cinta terhadap alam. (Natalie Angier).
Konsep biofilia mengusulkan bahwa interaksi dengan alam memiliki peran penting dalam kesejahteraan fisik dan mental manusia, menunjukkan adanya hubungan inheren antara manusia dan lingkungan alami (Wilson, 1984). Pada abad ke-20, khususnya pada paruh kedua setelah Perang Dunia II, ketika desain arsitektur industrialis mulai mendominasi dan modernisme arsitektur menjadi dominan, pendekatan desain yang anti-biofilik mulai menyebar secara global.
Vegetation lost → artificial environment / architecture and environment→harmony and balance
Elemen Vegetasi Pada Bangunan
(sumber: jurnal arsitektur ARCADE, 2021)
Laporan STUPA VI| 18 2. Definisi Umum
Arsitektur biophilic adalah pendekatan desain yang menggabungkan elemen-elemen alam ke dalam lingkungan buatan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Berakar pada konsep biofilia, yaitu kecenderungan alami manusia untuk terhubung dengan alam, arsitektur ini memanfaatkan cahaya alami, vegetasi, air, dan material organik, serta pola yang terinspirasi oleh alam. Tujuannya adalah menciptakan ruang yang tidak hanya berfungsi, tetapi juga memperkuat kesehatan fisik, mental, dan emosional melalui kehadiran elemen-elemen alami dalam kehidupan sehari-hari.
3. Definisi Menurut Para Ahli
W.D. Browning (2014) : Desain arsitektur biofilik berfokus pada integrasi unsur alam dengan ruang buatan untuk mendukung kesehatan manusia dan lingkungan.
Pendekatan ini memelihara keterhubungan alami antara manusia dan alam, menciptakan harmoni dalam kawasan perkotaan yang berkembang, serta terbukti mengurangi stres, meningkatkan kinerja kognitif, mempercepat penyembuhan, dan mempengaruhi emosi serta suasana hati secara positif.
Edward O. Wilson (1984) : menyebut “biofilia” sebagai kecenderungan manusia untuk terhubung dengan kehidupab dan proses alami, mendasari arsitektur biophilic yang mengintergrasi elemen alami dalam desain.
Stephen R.Kellert (2008) : Menggambarkan arsitektur biophilic sebagai desain yang menggabungkan unsur-unsur alami untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, baik fisik maupun emosional.
Timothy Beatley (2011) : Fokus pada penerapan arsitektur biophilic dalam kota untuk memperkuat hubungan antara penduduk dan alam, serta meningkatkan kualitas hidup.
Laporan STUPA VI| 19 Judith Heerwagen (1998) : Menekankan pentingnya elemen alami dalam
desain lingkungan kerja untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan.
4. Elemen Dasar Arsitektur Biophilic
Terdapat 6 elemen dasar yang membentuk arsitektur biofila menurut Stephen R. Kellert yaitu:
a. Environment Features (Fitur Lingkungan) :
Mengintegrasikan unsur vegetasi ke dalam dan sekitar lingkungan binaan merupakan salah satu cara paling efektif untuk memperkuat hubungan antara manusia dan alam dalam desain. Keberadaan tanaman dapat mengurangi stres dan meningkatkan kenyamanan, sementara ruang hijau menambah warna, tekstur, dan ketenangan visual dalam ruang hunian. Arsitektur biophilic menekankan keterlibatan yang konsisten dengan alam. Unsur air, seperti air mancur dan kolam, memperkaya pengalaman dengan stimulasi visual, auditori, dan taktil.
b. Natural Shapes and Forms (Bentuk Natural) :
Prinsip kedua menekankan pada pengalaman sensorik melalui transisi dan kontras yang saling melengkapi. Alam menunjukkan kompleksitas dalam berbagai skala, dari langit yang luas hingga pola dedaunan yang rinci. Variasi bentuk ini memenuhi kebutuhan manusia akan keragaman bentuk alami. Bentuk dan pola biomorfik berfungsi sebagai simbol dari alam yang dapat diterapkan dalam desain biophilic.
Kontur, tekstur, pola, dan pengaturan numerik alami memiliki keindahan tersendiri yang bisa diintegrasikan dalam desain.
c. Restorative Patterns and Processes (Proses Restoratif) :
Evolusi manusia selalu memerlukan interaksi dengan lingkungan yang merangsang berbagai indra, seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, dan sentuhan. Penting untuk mengeksplorasi cara menghubungkan kekayaan sistem sensorik baik di alam maupun dalam lingkungan buatan. Melalui penggunaan bahan, warna, dan tekstur yang berbeda, perasaan taktil dan visual dapat diciptakan. Prinsip desain menunjukkan bahwa variasi warna dan peralihannya antara ruang dapat
Laporan STUPA VI| 20 mempengaruhi suasana hati—misalnya, biru dan hijau sering dikaitkan dengan ketenangan, sementara merah dan oranye dapat menambah semangat. Kontras ini tidak hanya menarik perhatian tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas secara tidak langsung.
d. Place Based Relationship (Hubungan dengan ruang) :
Prinsip ini menekankan desain yang mempertimbangkan konteks budaya, spiritual, ekologi, dan sejarah. Aktivitas manusia sering kali terkait erat dengan lokasi pelaksanaannya, sehingga penting untuk merancang bangunan yang menciptakan pengalaman yang mendekatkan pengguna dengan alam. Penelitian selama berabad-abad menunjukkan bahwa ruang fisik memainkan peran krusial dalam perkembangan pribadi dan kesejahteraan manusia.
e. Light and Space (Pencahayaan Ruang):
Pencahayaan merupakan kebutuhan utama untuk mendukung berbagai aktivitas, baik di dalam maupun luar ruangan. Faktor seperti arah dan intensitas cahaya sangat penting untuk disesuaikan dengan fungsi ruang. Cahaya dan bayangan dapat memengaruhi suasana hati dan ritme harian dengan menciptakan perubahan yang menenangkan, serta meningkatkan kenyamanan visual. Bayangan dari bukaan dan variasi intensitas cahaya menawarkan kesempatan untuk menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan.
f. Evolved Human-Nature Relationship (Hubungan alam dan manusia):
Dalam desain biophilic, hubungan antara manusia dan alam dieksplorasi melalui pemanfaatan sumber daya alam dan upaya mitigasi dampak lingkungan dalam pengelolaan dan rehabilitasi habitat. Arsitektur dan desain interior harus mempertimbangkan lingkungan dengan mengutamakan koneksi antara manusia dan alam. Ini mencakup menciptakan rasa aman dan perlindungan, keseimbangan antara variasi dan keteraturan, serta mendorong rasa ingin tahu, eksplorasi, dan pencapaian dalam penguasaan lingkungan kita.
Laporan STUPA VI| 21 2.4. Tinjauan Peraturan dan Perundangan-undangan
Untuk merancang bangunan komersial seperti Urban Entertainment Center di Kota Samarinda, terdapat sejumlah peraturan perundang-undangan dan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang relevan untuk menjadi acuan dalam perencanaan.
Berikut adalah beberapa peraturan yang perlu diperhatikan:
1. Peraturan perundang-undangn:
a. Undang-undang nomor 28 Tahun 2002 tentang Bengunan Gedung:
Mengatur ketentuan umum mengenai standar bangunan gedung, termasuk persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan aksesibilitas.
b. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang:
Menyediakan pedoman untuk tata ruang dan pemanfaatan lahan, termasuk zonasi untuk area komersial dan rekreasi
c. Peraturan Daerah Kota Samarinda:
Setiap daerah biasanya memiliki peraturan daerah (Perda) yang spesifik, seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Ini mengatur zonasi bangunan dan pedoman terkait KDB (Koefisien Dasar Bangunan), KLB (Koefisien Lantai Bangunan), GSB (Garis Sempadan Bangunan), dan GSJ (Garis Sempadan Jalan).
d. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat:
Beberapa peraturan teknis dari kementerian ini berkaitan dengan standar bangunan komersial, seperti efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan.
2. Standar Nasional Indonesia (SNI)
a. SNI 03-1733-2004 (Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan):
Meskipun fokus pada perumahan, beberapa prinsip tata ruang bisa diterapkan untuk bangunan komersial, terutama dalam hal perencanaan lingkungan dan tata letak.
b. SNI 03-2396-2001 (Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung):
Penting untuk memastikan pencahayaan yang optimal dan sesuai standar untuk gedung komersial.
Laporan STUPA VI| 22 c. SNI 03-6572-2001 (Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan
Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung):
Mengatur ventilasi dan sistem HVAC yang harus diperhatikan untuk kenyamanan pengunjung dan operasional bangunan.
d. SNI 03-1726-2019 (Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung):
Penting untuk merancang bangunan tahan gempa, terutama di kawasan yang rawan gempa.
e. SNI 03-6571-2001 (Tata Cara Perancangan Sistem Plumbing pada Bangunan Gedung):
Mengatur sistem perpipaan, termasuk air bersih dan sanitasi, yang harus memenuhi standar higienis.
3. Regulasi yang perlu dipertimbangkan a. Peraturan terkait Aksesibilitas
Sesuai dengan Peraturan Menteri PUPR tentang persyaratan aksesibilitas pada bangunan gedung untuk penyandang disabilitas.
b. Peraturan terkait Pengelolaan Lingkungan dan Energi
Peraturan mengenai penggunaan energi dan dampak lingkungan, seperti pemakaian material ramah lingkungan dan sistem efisiensi energi (contoh: Peraturan Menteri ESDM).
2.5. Tinjauan Terkait Tapak
Dalam perencanaan tapak, perlu dilakukan analisis menyeluruh terhadap kelebihan dan kekurangan dari tapak yang ada agar tapak tersebut dapat memenuhi syarat untuk mendukung pembangunan objek yang direncanakan. Beberapa aspek yang harus dianalisis pada sebuah tapak meliputi:
1. Lokasi dan Peruntukan Lahan
Lokasi merupakan elemen penting dalam membentuk identitas dan karakter utama yang mudah dikenali oleh manusia, baik dari segi lokasinya maupun komponen yang ada di dalamnya. Tapak dapat diberi atribut yang mencerminkan karakter utamanya.
Penggunaan lokasi juga menjadi faktor penting dalam menilai apakah fungsi dari objek yang direncanakan cocok dengan tapak tersebut. Lokasi tapak harus
Laporan STUPA VI| 23 disesuaikan dengan peruntukan lahan yang diatur berdasarkan zonasi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
2. Ukuran dan Batas Tapak
Menentukan luas lahan yang akan dirancang serta memahami batas-batas resmi dari tapak tersebut.
3. Orientasi Matahari dan Arah Angin
Dua elemen penting yang harus diperhatikan dalam desain bangunan adalah pencahayaan dan ventilasi, dengan tujuan untuk memastikan orientasi terbaik yang memungkinkan masuknya cahaya alami dan ventilasi yang optimal. Hal ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna saat melakukan aktivitas di dalam bangunan.
Penentuan orientasi yang tepat dapat dilakukan dengan menempatkan bangunan sesuai arah lintasan matahari dan aliran angin. Arah Timur-Barat sering kali lebih menguntungkan, sementara fasad yang menghadap ke Utara dan Selatan dapat membantu menghindari paparan sinar matahari langsung secara berlebihan.
4. Pencapaian dan aksesbilitas
Analisis ini menentukan akses terbaik melalui jalan-jalan di sekitar tapak serta moda transportasi yang dapat digunakan untuk mencapai lokasi.
5. Sirkulasi
Sirkulasi berperan sebagai elemen penting yang menghubungkan pengguna dengan berbagai aktivitas di dalam sebuah tapak. Analisis sirkulasi mencakup gambaran keseluruhan pola pergerakan kendaraan, barang, serta pejalan kaki baik di dalam maupun saat keluar masuk tapak.
Sistem sirkulasi tapak juga berfungsi menghubungkan tapak dengan jaringan sirkulasi di luar area tersebut. Dalam merancang sirkulasi, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan:
a. Kualitas
Sistem sirkulasi akan banyak digunakan jika terbukti aman, fungsional, efisien, dan memiliki petunjuk yang jelas. Oleh karena itu, sirkulasi harus memenuhi standar tertentu dan dirancang dengan pertimbangan matang, termasuk asal dan tujuan yang dihubungkan, sistem sekitar, topografi, iklim, waktu tempuh, jumlah pengguna, infrastruktur pendukung, serta detail perancangannya.
Laporan STUPA VI| 24 b. Estetika:
Jalan dapat dibuat lebih menarik dengan mengatur rute, akses ke bangunan, serta pemandangan dan vista. Sebagai bagian dari ruang eksterior, sirkulasi harus dirancang dengan memperhatikan prinsip estetika seperti warna, keseimbangan, bentuk, garis, tekstur, dan irama untuk menciptakan keindahan.
c. Kecepatan:
Sistem sirkulasi harus dirancang agar dapat beroperasi dengan kecepatan yang efisien, terutama di area dengan lalu lintas padat. Faktor-faktor seperti posisi tikungan, percabangan, kecuraman, jenis perkerasan, dan lokasi pusat aktivitas yang dilewati jalur perlu dipertimbangkan.
6. Pandangan / View
Menganalisis pandangan dari dalam dan luar tapak adalah aspek penting dalam meningkatkan kualitas visual, terutama bagi pengguna dan pengunjung bangunan.
Ada dua jenis pandangan yang mempengaruhi visualitas sebuah tapak dan bangunan:
a. Pandangan dari Dalam
Pandangan ini menawarkan peluang bagi pengunjung di dalam tapak untuk menikmati visual menarik ke arah luar, seperti pemandangan sungai, pantai, atau pegunungan.
b. Pandangan dari Luar
Pandangan ini berfungsi untuk menyoroti elemen fisik, ukuran, atau estetika arsitektur bangunan yang mencolok, memudahkan pengunjung dari luar mengenali dan mengidentifikasi bangunan tersebut.
7. Topografis
Analisis topografi atau kontur tapak digunakan untuk mengetahui elevasi dan kemiringan tanah. Melalui analisis ini, pengolahan tapak dengan kontur akan lebih mudah dilakukan serta membantu menentukan strategi yang tepat dalam pengelolaannya.
8. Kebisingan
Mengidentifikasi sumber kebisingan yang berpotensi memengaruhi objek perencanaan di tapak sangat penting. Analisis kebisingan menjadi faktor krusial dalam menentukan penempatan dan kebutuhan ruang untuk merespons
Laporan STUPA VI| 25 kebisingan tersebut. Biasanya, beberapa metode diterapkan untuk mengurangi kebisingan, salah satunya dengan menggunakan buffer atau peredam suara.
Secara arsitektural, ini melibatkan penggunaan material peredam suara dan penataan ruang berdasarkan zona kebutuhannya. Selain itu, secara alami, vegetasi berdaun lebat juga dapat digunakan sebagai penghalang suara.
2.6. Studi Preseden
2.6.1. Urban Entertainment District di PIK 2
Urban Entertainment District (UED) di PIK 2 adalah sebuah kawasan hiburan terintegrasi yang dirancang untuk menyediakan berbagai fasilitas rekreasi dan komersial dalam satu lokasi. Terletak di kawasan Pantai Indah Kapuk 2, Jakarta Utara, proyek ini bertujuan untuk menciptakan destinasi hiburan yang menarik dan multifungsi.
1. Luasan Kawasan
Kawasan Urban Entertainment District di PIK 2 mencakup area seluas sekitar 300 hektar. Luasan ini dirancang untuk menampung berbagai fasilitas dan infrastruktur yang mendukung fungsi sebagai pusat hiburan dan komersial.
2. Fasilitas
Kawasan ini direncanakan akan memiliki lebih dari 200 pertokoan dan tenan yang terdiri dari berbagai jenis usaha, termasuk restoran, kafe, toko ritel, dan pusat hiburan seperti bioskop, arena permainan, dan pusat olahraga.
Gambar 2: Urban Entertainment Distrik Desain (sumber: Beritasatu.com)
Laporan STUPA VI| 26 3. Zoning
Urban Entertainment District di PIK 2 terbagi menjadi beberapa zona fungsional:
a. Zona Hiburan dan Rekreasi: menyediakan fasilitas seperti bioskop, arena bowling, dan taman bermain.
b. Zona Kuliner: menghadirkan b erbagai pilihan restoran, kafe, dan foodcourt
c. Zona Ritel: menampung toko-toko fashion, elektronik, dan pusat perbelanjaan.
d. Zona Kegiatan Sosial dan Budaya: mengakomodasi event-event budaya, pameran, dan ruang pertunjukan.
4. Fungsi
Fungsi utama dari kawasan ini adalah sebagai pusat hiburan dan rekreasi yang menyediakan berbagai pilihan aktivitas bagi pengunjung dari berbagai kalangan. Selain itu, kawasan ini juga berfungsi sebagai destinasi belanja dan kuliner yang menarik, mendorong aktivitas sosial dan budaya di komunitas sekitarnya.
5. Sasaran Pengunjung
Sasaran utama kawasan ini meliput:
a. Keluarga: Menawarkan berbagai fasilitas yang ramah anak dan kegiatan yang dapat dinikmati oleh semua anggota keluarga.
Gambar 3: Urban Entertainment District Area (sumber: Beritasatu.com)
Laporan STUPA VI| 27 b. Pekerja urban: Menyediakan tempat untuk bersantai dan menikmati
waktu luang di liar jam kerja.
c. Wisatawan: Menyajikan berbagai atraksi dan pengalaman yang dapat menarik pengunjung dari luar kota.
d. Masyarakat umum: Memberikan tempat yang nyaman untuk berkumpul dan berinteraksi.
6. Aspek Arsitektur
Dari segi arsitektur, Urban Entertainment District di PIK 2 mengusung konsep desain modern dan futuristik dengan:
a. Desain Terbuka: Mengintegrasikan elemen ruang terbuka yang luas dan lanskap yang ramah lingkungan.
b. Fasad Dinamis: Menggunakan material yang mencolok dan berwarna- warni untuk menciptakan tampilan yang menarik dan mengundang.
c. Penerangan yang menarik: Implementasi pencahayaan malam hari yang spektakuler untuk meningkatkan daya tarik visual dan suasana.
d. Fokus Pada Konektivitas: Desain yang memudahkan akses dan mobilitas antara berbagai zona di dalam kawasan
e. Pengguna Teknologi Canggih: Implementasi teknologi modern dalam sistem informasi dan interaksi pengunjung.
Gambar 4: Urban Entertainment District Area 2 (sumber: bisnis.com)
Laporan STUPA VI| 28 2.6.2. Mall Of Amerika, Minnesota
Mall of America (MOA) yang terletak di Bloomington, Minnesota, adalah salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan paling ikonik di Amerika Serikat. Dikenal tidak hanya sebagai mal, tetapi juga sebagai pusat hiburan dan atraksi wisata, MOA menawarkan berbagai fasilitas untuk pengunjung dari seluruh dunia.
1. Luasan Kawasan
Mall of America mencakup 5,6 juta kaki persegi (sekitar 520.000 meter persegi) luas total, dengan 2,87 juta kaki persegi (sekitar 266.000 meter persegi) ruang ritel yang dapat disewa. Ini menjadikannya salah satu pusat perbelanjaan terbesar di dunia dalam hal total luas.
2. Fasilitas
Mall of America menawarkan berbagai fasilitas dan atraksi, termasuk:
a. Lebih dari 500 toko: Berbagai toko ritel dari merek internasional, nasional, dan lokal, menawarkan segala sesuatu mulai dari fashion, elektronik, hingga barang-barang rumah tangga.
b. Nickelodeon Universe: Taman hiburan indoor seluas 7 hektar yang berada di tengah-tengah mal, dengan berbagai wahana dan atraksi bertema karakter Nickelodeon.
c. Sea Life Minnesota Aquarium: aquarium besar yang menampilkan kehidupan laut dan dari seluruh dunia, termasuk terowongan bawah air dan pameran interaktif.
d. Teater IMAX dan Bioskop: menyediakan film dengan teknologi layar terbesar dan terbaru.
Gambar 5: Mall Of America, Minnesota (sumber: Pinterest.com)
Laporan STUPA VI| 29 e. Tempat Makan: lebih dari 50 restoran dan foodcourt dengan berbagi pilihan
kuliner, mulai dari makanan cepat saji hingga restoran kelas atas.
f. Museum Crayola Experience: museum interaktif untuk keluarga dan anak-anak yang berfokuas pada krativitas dan seni.
g. Mini Golf dan Game Arcade: Hiburan untuk anak-anak dan dewasa.
h. Hotel: Tersedia hotel terintegrasi, termasuk Radisson Blu dan JW Marriott, yang memberikan kenyamanan bagi pengunjung yang ingin menginap.
i. Area Acara dan Pameran: Tempata untuk berbagai acara, seperti pertunjukan musik, peluncuran produk, dan acara komunitas.
3. Zoning
Mall of America terbagi menjadi beberapa zona atau lantai, dengan masing- masing zona dikhususkan untuk fungsi tertentu:
a. Zona Ritel:
Sebagian besar area diisi oleh toko-toko yang menjual berbagai produk, mulai dari pakaian, aksesoris, elektronik, hingga barang rumah tangga.
b. Zona Hiburan:
area ini mencakup Nicklodeon Universe, bioskop, dan atraksi hiburan lainnya.
c. Zona Kuliner:
Terdiri dari food court dan restoran, baik di dalam mal maupun di sekitar kawasan luar.
d. Zona akomodasi:
Hotel dan fasilitas terkait bagi pengunjung yang datang dari luar kota.
4. Fungsi
Fungsi utama Mall of America adalah sebagai pusat perbelanjaan, hiburan, dan destinasi wisata. Mal ini menyediakan tempat untuk:
a. Berbelanja : Dengan ribuan merek dan produk yang ditawarkan.
b. Rekriasi :Taman hiburan, akuarium, bioskop, dan atraksi lainnya menciptakan pengalaman rekreasi yang lengkap.
c. Acara dan Pameran : Sering digunakan sebagai tempat untuk berbagai acara besar, baik yang bersifat komersial maupun publik.
Laporan STUPA VI| 30 5. Aspek Arsitektur
Dari segi arsitektur, Mall of America menggabungkan desain fungsional dan modern yang mendukung pengunjung dalam menikmati berbagai atraksi dan fasilitas dengan nyaman. Beberapa elemen utama dalam desain arsitekturalnya adalah:
a. Desain Simetris dan Terintegrasi
Memudahkan navigasi pengunjung dengan koridor yang jelas dan terhubung ke berbagai atraksi serta toko.
b. Taman Hiburan Indoor
Nickelodeon Universe sebagai daya tarik utama, dengan struktur tinggi dan terbuka yang memungkinkan wahana seperti roller coaster dan atraksi besar lainnya berfungsi dengan baik.
c. Pencahayaan Alami
Penggunaan atap kaca dan jendela besar untuk memaksimalkan pencahayaan alami, terutama di area taman hiburan dan atrium.
d. Fleksibilitas Ruang
Mal ini dirancang untuk memungkinkan pengaturan ulang ruang dalam sesuai kebutuhan acara atau perubahan toko.
e. Fasad Modern
Eksterior mall memiliki desain yang minimalis dan modern, dengan penggunaan kaca, logas, dan beton,yang menciptakan tampiran bersih dan elegan
Mall of America telah menjadi ikon arsitektur dan perencanaan pusat perbelanjaan modern, dengan menggabungkan fungsi hiburan, belanja, dan wisata dalam satu kompleks besar yang mampu menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya 2.6.3. Green Heart | Marina One, Singapore
Green Heart Marina One di Singapura adalah salah satu proyek bangunan ikonik yang menerapkan prinsip arsitektur biophilic secara ekstensif. Proyek ini menggabungkan hunian, perkantoran, dan ritel dengan ruang hijau yang luas di pusatnya.
Laporan STUPA VI| 31 1. Arsitek
Marina One dirancang oleh firma arsitektur terkenal Ingenhoven Architects yang berbasis di Jerman, bekerja sama dengan firma arsitektur lokal Singapura, A61 Ingenhoven Architects dikenal karena dedikasinya pada desain hijau dan berkelanjutan.
2. Luasan kawasan
Marina One mencakup luas 3,67 hektar (sekitar 37.000 meter persegi), dengan luas total lantai bangunan mencapai 400.000 meter persegi. Ini terdiri dari empat bangunan utama yang mengelilingi ruang terbuka hijau besar, yang dikenal sebagai Green Heart.
3. Fasilitas
Marina One menawarkan berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan, bekerja, dan rekreasi di kawasan tersebut:
a. Greean Heart : Taman pusat yang berfungsi sebagai oase hijau di jantung kompleks, menampilkan lebih dari 350 spesies tanaman dari Asia Tenggara. Area ini menyerupai hutan tropis dengan fitur air terjun, aliran air, dan pepohonan besar.
b. Ruang Perkantoran : Menyediakan 190.000 meter persegi ruang kantor premium di dua menara.
c. Apartment Residensial : Terdapat dua menara hunian yang menawarkan 1.042 unit apartemen mewah dengan berbagai ukuran, mulai dari satu hingga empat kamar tidur, serta penthouse.
d. Ritel dan Hiburan : 140.000 meter persegi ruang komersial yang diisi oleh restoran, kafe, dan toko ritel, serta beberapa fasilitas hiburan.
Gambar 6: Green Heart, Marina one Singapore (sumber: archdaily.com)
Laporan STUPA VI| 32 e. Pusat Kebugaran : Pusat kebugaran modern yang lengkap untuk
penghuni dan pekerja di Marina One.
f. Konversi Energi : Desain yang menggunakan teknologi berkelanjutan, seperti ventilasi alami, pencahayaan alami, dan sistem pengelolaan air yang efisien.
4. Zoning
Marina One terbagi menjadi empat bagian utama:
a. Dua Menara Perkantoran : Menyediakan ruang kantor kelas A dengan teknologi modern dan desain hemat energi
b. Dua Menara Hunian : Menyediakan apartemen mewah dengan akses langsung ke fasilitas dan taman pusat.
c. Ruang Komersial dan Ritel : Terdiri dari toko-toko, restoran, kafe, dan fasilitas gaya hidup lainnya.
Gambar 7: Level plan Marina One (sumber: archdaily.com)
Laporan STUPA VI| 33 d. Green Heart : Ruang hijau yang merupakan inti dari desain
Marina One, menghubungkan keempat menara dan menyediakan lingkungan hijau yang menenangkan.
5. Aspek Arsitektur
Dari segi arsitektur, Marina One menonjol karena penerapan prinsip arsitektur biophilic dan desain yang berkelanjutan. Beberapa elemen utama meliputi:
a. Green Heart : Merupakan jantung dari desain biophilic, taman tropis yang dirancang untuk menciptakan suasana alam di tengah-tengah kompleks perkotaan. Dengan air terjun, kolam, dan vegetasi tropis, ini adalah contoh sempurna dari integrasi alam dalam ruang perkotaan.
b. Desain Terbuka : Gedung-gedung dirancang dengan fasad yang terbuka, memaksimalkan ventilasi alami dan aliran udara di seluruh kompleks.
c. Pencahayaan Alami : Struktur bangunan memungkinkan masuknya cahaya alami ke setiap sudut ruangan, mengurangi ketergantungan pada pencahayaan buatan.
d. Efisiensi Energi : Penggunaan teknologi hijau seperti pemanenan air hujan, ventilasi alami, dan penggunaan material bangunan yang ramah lingkungan.
e. Penggunaan Lansekap Vertikal : Taman vertikal dan balkon hijau menambah nuansa alami, memberikan kesejukan dan estetika yang menyatu dengan Green Heart.
Gambar 8: Green Heart (sumber: archdaily.com)
Laporan STUPA VI| 34 Marina One adalah contoh ideal arsitektur biophilic yang menggabungkan elemen alam dalam desain perkotaan. Proyek ini tidak hanya menyediakan ruang kerja dan hunian, tetapi juga menciptakan hubungan erat antara manusia dan alam dengan memprioritaskan ruang hijau yang luas dan berkelanjutan di pusatnya.
Gambar 9: view from green heart (sumber: archdaily.com)
Gambar 10: Render (sumber: archdaily.com)
Laporan STUPA VI| 35 BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI
3.1. Tinjauan Kriteria Lokasi Perencanaan
Dalam menentukan lokasi tapak untuk perencanaan Urban Entertainment Center, terdapat beberapa kriteria pemilihan tapak yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Lokasi perencanaan Urban Entertainment Center harus berada pada Kawasan Peruntukan Perdagangan dan Jasa berdasarkan Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda.
2. Kemudahan akses menuju Urban Entertainment Center harus diperhatikan, termasuk ketersediaan jalan yang lebar dan dapat diakses oleh pejalan kaki serta kendaraan roda delapan, roda empat, dan roda dua.
3. Lokasi berada di daerah tengah kota yang muda di capai, padat dan sering dilewati.
4. Tersedia jaringan infrastruktur kota seperti jaringan listrik PLN, air bersih PDAM, sistem drainase lingkungan, dijangkau oleh jaringan internet.
5. Kondisi lahan perencanaan urban entertainment center harus meiliki kondisi yang relatif datar.
3.2. Tinjauan RTRW/RDTR Kota Samarinda
Rencana pembangunan Urban Entertainment Center ini direncanakan berlokasi di eks Bandara Temindung, Kelurahan Bandara, Kecamatan Sungai Pinang. Lokasi ini terletak di tepi Jalan S. Parman yang baru dibuka dan menghubungkan jalan tersebut dengan Jalan KH. Samanhudi.
Setiap provinsi memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW), Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Dasar Hijau (KDH), Garis Sempadan Jalan (GSJ), dan Garis Sempadan Bangunan (GSB). Sebelum menentukan lokasi suatu perencanaan, sangat penting untuk memeriksa peta RTRW terlebih dahulu dan memastikan kesesuaiannya dengan tujuan proyek. Misalnya, untuk pembangunan Urban Entertainment Center yang berfungsi sebagai kawasan perdagangan dan jasa, lokasi harus berada dalam wilayah
Laporan STUPA VI| 36 yang diperuntukkan bagi perdagangan dan jasa, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Perda Nomor 2 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda. Adapun ketentuan terkait terdapat pada:
1. Pasal 57 ayat 3 huruf d : Mengatur program pengembangan kawasan perdagangan dan jasa di setiap kecamatan.
Penjelasan:
Lokasi rencana pembangunan berada di Kecamatan Sungai Pinang, di mana pengembangan kawasan perdagangan dan jasa masih diperlukan, terutama di area eks Bandara Temindung yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.
2. Pasal Nomor 10:
a. Ayata 1: pusat lingkungan kota sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf c dilengkapi dengan sarana lingkungan perkotaan skala pelayanan linkungan.
b. Ayat 2: Pusat lingkungan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf c terdapat di:
• Pusat Lingkungan I di Kelurahan Sempaja Utara dan sebagian Kelurahan Sempaja Selatan Kecamatan Samarinda Utara.
Gambar 11: Peta RTRW Kota Samarinda (sumber: bappeda.kaltimprov.go.id
Laporan STUPA VI| 37
• Pusat lingkungan II Kelurahan Temindung Permai, Kelurahan Bandara dan Sebagian Kelurahan Sungai Pinang Dalam Kecamatan Sungai Pinang.
Penjelasan:
Pusat Lingkungan yang di maksud dalam pasal tersebut adalah mengacu pada kawasan yang memiliki peran dalam melayani kebutuhan dasar suatu lingkungan pemukiman atau area sekitarnya. Pusat lingkungan umumnya mencakup fasilitas-fasilitas yang mendukung aktivitas sehari-hari warga, seperti perbelanjaan, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan ruang terbuka hijau.
Pusat ini direncanakan untuk mendukung keberlanjutan ekosistem sosial dan fisik di wilayah perkotaan, dengan memperhatikan aspek kenyamanan dan aksesibilitas bagi penduduk setempat.
Pusat lingkungan juga sering terhubung dengan konsep pengembangan wilayah yang mempertimbangkan keterjangkauan sarana dan prasarana untuk kehidupan urban yang lebih baik, terutama dalam hal akses terhadap perdagangan dan jasa yang terintegrasi dengan kawasan perumahan dan ruang hijau.
3. Pasal 44 huruf a dan b: kawasan ruang terbuka non hijau sebagaimana dimaksud Pasal 38 huruf f, meliputi:
a. Ruang terbuka pada bangunan publik maupun swasta dengan fungsi perkantoran, perdagangan dan jasa yang tersebar di seluruh wilayah kota:
b. Ruang terbuka peruntukan area penyediaan lahan parkir, plasa dan tempat bermain di Kelurahan Gunung Kelua, Kelurahan Bugis, Kelurahan Pasar Pagi, Kelurahan Pelabuhan, Kelurahan Sidodadi, Kelurahan Air Hitam, Kelurahan Sambutan, Kelurahan Pelita, Kelurahan Bandara, dan kelurahan Karang Asam ilir
Penjelasan:
Urban Entertainment Center (UEC) dengan pendekatan arsitektur biophilic dapat dibangun di kawasan ruang terbuka non hijau sesuai dengan Perda Kota Samarinda No. 2 Tahun 2014 karena arsitektur biophilic memungkinkan integrasi elemen alam seperti pencahayaan alami, ventilasi, dan air, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada vegetasi. Pendekatan ini juga mendukung fungsi sosial dan ekologis yang diharapkan dari ruang terbuka non hijau,
Laporan STUPA VI| 38 meningkatkan kualitas lingkungan, estetika, dan kesejahteraan psikologis pengunjung. Selain itu, desain biophilic dapat memperkuat tujuan kawasan perdagangan dan jasa yang diatur dalam Perda tersebut.
4. Pasal 72 huruf: Ketentuan Umum Peraturan zonasi kawasan peruntukan perdangangan dan jasa sebagaimana dimaksud dalam pasal 70 huruf b meliputi:
a. Zonasi kawasan perdagangan dan jasa terdiri atas:
• Zona perdangan dan jasa skala regional difungsikan untuk kegiatan perdagangan besar dan eceran, jasa keuangan, jasa perkantoran usaha dan profesional, jasa hiburan dan rekreasi serta jasa kemasyarakatan;
• Zona perdagangan dan jasa skala lokal difungsikan untuk kegiatan perdagangan eceran, jasa keuangan, jasa perkantoran usaha dan profesional, jasa hiburan dan rekreasi
b. Pelarangan kegiatan industri dan kegiata lain yang dapat mengganggu kegiatan perdangangan dan jasa:
c. Penerapan instensitas bangunan meliputi:
• Intensitas ruang untuk kawasan perdagangan dan jasa Regional KDB paling tinggi 40 (empat puluh) persen dan KDH paling rendah 30 (tiga puluh) persen:
• Intesitas ruang untuk kawasan perdagangan dan jasa lokal adalah KDB paling tinggi 50 (lima puluh) persen dan KDH paling rendah 30 (tiga puluh) persen.
d. penyediaan prasarana dan sarana umum pendukung seperti sarana pejalan kaki yang menerus, sarana peribadatan dan sarana perparkiran, sarana kuliner, sarana transportasi umum, ruang terbuka; serta jaringan utilitas;
e. penyediaan prasarana dan sarana umum pendukung aksesibilitas bagi manula dan penyandang cacat
f. penyediakan zona penyangga berupa RTH untuk kawasan peruntukan perdagangan dan jasa yang berbatasan langsung dengan kawasan lindung;
dan
g. sarana media ruang luar komersial harus memperhatikan tata bangunan dan tata lingkungan, kestabilan struktur serta keselamatan.
Penjelasan:
Laporan STUPA VI| 39 Urban Entertainment Center (UEC) masuk dalam kawasan perdagangan dan jasa regional berdasarkan Perda Kota Samarinda Nomor 2 Tahun 2014, karena fasilitas ini dirancang untuk melayani masyarakat dalam skala yang lebih luas daripada perdagangan dan jasa lokal. UEC menyediakan berbagai layanan hiburan, komersial, dan rekreasi yang menarik pengunjung dari luar daerah, serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi regional. Kawasan perdagangan dan jasa regional dalam Perda ini diatur untuk mengakomodasi fasilitas skala besar yang berdampak pada ekonomi wilayah lebih luas, sesuai dengan fungsi UEC sebagai pusat aktivitas regional yang mencakup hiburan dan bisnis.
3.3. Tinjauan Gambaran Lokasi Perencanaan
Tapak Perencanaan Urban Entertainment Center di rencanakan berlokasi di dekat jalan Pipit kelurahan Bandara Kecamatan Sungai Pinang. Lebih tepatnya di tapak Ex bandara Temindung. Berikut detail gambaran dari rencana lokasi perencanaan, antara lain:
Gambar 12: Gambaran lokasi Perencanaan (sumber: Penulis,2024)
Laporan STUPA VI| 40 1. Luas Lahan ex bandara temindung yang akan digunakan untuk perencanaan
seluas 4 hektar atau sama dengan 40000m2.
2. Kemudahan dan Pencapaian
a. Berada tepat di samping jalan utama yang menghubungkan jalan S. parman dengan jalan KH. Samanhudi.
b. Jalan utama terdapat dua jalur dan 4 lajur dengan total lebar 20 meter.
c. Tidak dilalui oleh angkutan umum
3. Terdapat jaringan infrastruktur kota seperti jaringan listrik PLN, air bersih PDAM, sistem drainase lingkungan, dijangkau oleh jaringan internet.
4. Kondisi tapak relatif datar.
5. Batas lahan/kapling:
a. Utara : jalan utama, permukiman warga, sebagian kawasan ex bandara Temindung
b. Selatan : permukiman warga, sebagian kawasan ex bandara temindung
c. Timur : permukiman warga, gedung komersial
d. Barat : permukiman warga, pertokoan, lapangan futsal, BMKG
6. Data Eksisting
Gambar 13: Batas utara (sumber: Penulis,2024)
Laporan STUPA VI| 41 Gambar 14: Batas selatan
(sumber: Penulis,2024)
Gambar 15: Batas Timur (sumber: Penulis,2024)
Gambar 16: Batas Barat (sumber: Penulis,2024)
Laporan STUPA VI| 42