Melalui transformasi kesehatan, penanggulangan dengue ini akan lebih mensinergiskan langkah kita semua untuk bekerja sama menanggulangi dengue menuju zero death pada tahun 2030. Laporan Tahunan ini mengambarkan situasi Dengue pada tahun 2022, upaya yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pengalaman masyarakat, best practice, serta berbagai dukungan yang diperoleh dalam penanggulangan dengue dari berbagai pihak, baik sektor pemerintah, dunia usaha, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi, dan masyarakat. Dengan tersebarnya informasi dalam laporan tahunan ini diharapkan kita bisa saling belajar dan saling berbagi pengalaman yang sangat diperlukan dalam penanggulangan Dengue sehingga kedepan kita akan lebih responsif, antisipatif dan bergerak cepat di dalam penanngulangan Dengue terutama untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus dan kejadian luar biasa.
Program penanggulangan dengue telah memulai lembaran baru dengan menetapkan target nasional yang lebih ambisius dan meningkatkan pencegahan dengan dukungan teknologi baru. Pada tahun 2023, diharapkan enam strategi tersebut dapat terimplementasi dalam penanggulangan dengue nasional, serta dapat diadopsi menjadi rencana aksi daerah terutama pada daerah prioritas. Isi laporan tahunan ini menggambarkan pengalaman masyarakat, situasi Dengue pada tahun 2022, upaya yang dilakukan oleh pemerintah pusat, serta berbagai dukungan yang diperoleh dalam penanggulangan dengue.
Selanjutnya dijabarkan upaya yang telah dilakukan dan dukungan yang diperoleh berbasis enam strategi dalam program nasional penanggulangan dengue Kementerian Kesehatan, 2021) serta mengacu pada enam pilar transformasi sistem kesehatan nasional (Kementerian Kesehatan, 2022).
Suara Masyarakat
Dengan angka trombosit yang kian menurun, Deni memperoleh terapi cairan yang diberikan petugas kesehatan melalui infus, serta merujuknya ke rumah sakit terdekat, yaitu RSUD TC. Berawal dari berobat jalan di Puskesmas, hingga yang terakhir harus dirawat di rumah sakit yang letaknya 13 km dari tempat tinggal mereka. Meskipun keluarga Deni merasa telah rutin membersihkan bak penampungan air di rumah dan menaburkan bubuk abate di bak penampungan air, namun hal tersebut tampaknya belum cukup untuk mencegah mereka dari dengue.
Situasi Dengue 2022
Beban dengue semakin meningkat
Perjalanan Upaya Penanggulangan Dengue di Indonesia
- Penyebaran wilayah
- Distribusi usia dan jenis kelamin
Kejadian dengue (incidence rate) dan kematian akibat dengue (case fatality rate) di Indonesia Sumber: Data Rutin Kementerian Kesehatan 1968-2022. Wilayah yang termasuk dalam kategori endemis rendah (yaitu yang memiliki jumlah kasus <10 per 100.000 penduduk) sangat sedikit jumlahnya dan cukup tersebar wilayahnya. Meskipun jumlah kasus yang rendah tersebut dapat merupakan gambaran kondisi yang sesungguhnya di wilayah tersebut, namun terdapat pula kemungkinan bahwa jumlah kasus yang rendah merupakan cerminan dari hambatan dalam mendeteksi kasus oleh karena fasilitas diagnosis yang kurang memadai dan sistem surveilans yang lemah sehingga terkendala dalam melaporkan kasus dengue yang sebenarnya terjadi (underreporting).
Pada akhir tahun 2022 jumlah kasus dengue di Indonesia mencapai 143.000 kasus, dengan angka kejadian dengue terbanyak berada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Secara nasional, angka jumlah kasus dengue jauh lebih rendah dibanding estimasi angka kejadian dengue di Indonesia. Bhatt et al (2013) memprediksi bahwa di Indonesia, jumlah kasus dengue simtomatis mencapai 7,590,213 kasus atau 50 kali lebih tinggi dibanding jumlah kasus yang terlaporkan di tahun 2022.
Kesenjangan yang sangat lebar ini disebabkan oleh karena diantara yang memiiki gejala dengue, hanya sekitar 30% yang mencari pelayanan kesehatan dan sebagian besar mengalami misdiagnosis. Hambatan operasional, logistik dan teknis di RS dan Dinas Kesehatan mengakibatkan kasus dengue kurang terlaporkan. Selain variasi geografis yang sangat berpengaruh pada infrastruktur kesehatan dan ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten, serta faktor di luar kesehatan seperti mobilitas dan iklim juga berkontribusi menyebabkan kesenjangan ini.
Distrbusi kematian akibat dengue terkonsentrasi tiga besar propinsi (yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah) yang memiliki 58% dari total 1.236 kematian. Jawa Timur Jawa Tengah Sumatera Utara DKI Jakarta Kalimantan Timur Bali Banten Lampung Sumatera Barat Sulawesi Selatan Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Sumatera Selatan Riau Kepulauan Riau Sulawesi Utara D.I.Yogyakarta D.I.Aceh Bangka Belitung Sulawesi Tengah Kalimantan Barat Jambi Bengkulu Kalimantan Utara Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Kalimantan Tengah Sulawesi Barat Maluku Utara Gorontalo Papua Papua Barat Maluku. Pola ini berbeda dengan kematian akibat dengue, yang lebih dominan pada perempuan (55%) dan di kelompok usia yang lebih muda, yaitu 5-14 tahun (45%) (grafik 4-7).
Upaya Kita
Strategi nasional penanggulangan Dengue 2021-2025
- Penguatan manajemen vektor yang efektif, aman, dan berkesinambungan
- Pelaksanaan mini workshop implementasi teknologi wolbachia
- Workshop awal Implementasi Teknologi Wolbachia di Kota Semarang dan Kota Bandung
- Peningkatan akses dan mutu tatalaksana dengue
- Strategi Penguatan surveilans dengue yang
Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan pencegahan melalui pengendalian vektor yang efektif, aman dan berkesinambungan, dengan melibatkan partisipasi masyarakat dan pemanfaatan teknologi tepat guna yang lokal spesifik. Strategi ini lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan fogging yang seringkali tidak sesuai dengan prosedur, sehingga dapat memicu terjadinya resistensi vektor terhadap insektisida dan mengurangi efektifitasnya untuk mengatasi penularan setempat dan penanganan kejadian luar biasa. Pencapaian strategi ini dapat diukur dengan angka bebas jentik menggunakan aplikasi Silantor (Sistem surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit) yang telah digunakan di Puskesmas sejak tahun 2019 (Gambar 1).
Sehingga meskipun 94,6% dari >46 juta rumah dinyatakan bebas jentik nyamuk, namun angka kejadian dengue tetap tinggi. Demikian pula G1R1J sebagai inovasi yang diluncurkan pada tahun 2015, perlu dikembangkan pengukuran indikatornya yang menggambarkan proses implementasinya di lapangan. Untuk meningkatkan efektivitas strategi manajemen vektor dan sebagai tindak lanjut hasil riset efikasi teknologi Aedes aegypti ber-Wolbachia di Yogyakarta (bab 4), pada tahun 2022 Kementerian Kesehatan mulai melakukan persiapan untuk menerapkan teknologi Wolbachia di beberapa kota, yaitu Semarang, Bandung, Jakarta Barat, Bontang dan Kupang1 serta bekerja sama dengan World Mosquito Program untuk menerapkan teknologi tersebut di Denpasar.
Strategi ini mencakup peningkatan kapasitas dan mutu layanan dengue di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan rumah sakit, baik di fasilitas kesehatan milik pemerintah maupun swasta dengan meningkatkan ketepatan rujukan kasus dengue, meningkatkan mutu diagnosis dan penanganan kasus dengue, meningkatkan ketersediaan dan kompetensi-keterampilan klinis tenaga kesehatan dalam menerapkan panduan penatalaksanaan dengue di fasilitas kesehatan, serta meningkatkan kapasitas dan kepatuhan tenaga kesehatan dalam pelaporan kasus. Pada tahun 2022 kegiatan untuk meningkatkan akses dan mutu tatalaksana oleh tenaga kesehatan dilakukan melalui beberapa kegiatan diseminasi melalui webinar. Topik yang diselenggarakan adalah tata laksana infeksi Dengue dalam rangka Asian Dengue Day, menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan dan berbagai institusi lainnya untuk membahas tema “Yang terbaru dari strategi pencegahan dan intervensi Dengue di Indonesia”.
Webinar lainnya diselenggarakan bekerja sama dengan IDI dengan topik Manajemen Klinik Infeksi Dengue untuk Regional Barat dan Timur. Tantangan utama strategi kedua ini adalah ketersediaan dan pemanfaatan fasilitas untuk tes cepat dengue di layanan primer dan fasilitas swasta (baik di tingkat primer dan rumah sakit). Dengan pelaporan dengue yang sebagian besar masih berbasis data DBD di rumah sakit, maka inisiatif public-private mix melalui pelibatan rumah sakit perlu dioptimalkan serta layanan primer swasta perlu terlibat dalam jejaringnya.
Peningkatan pelibatan masyarakat yang berkesinambungan
Tujuan strategi ini adalah meningkatkan pemahaman dan perilaku masyarakat yang berkesinambungan tentang vektor dengue, gejala dan tanda bahaya penyakit dengue, dan kesehatan lingkungan secara umum dan melakukan kolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) peduli lingkungan, organisasi masyarakat, dan komunitas dalam pencegahan dengue. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan tiga area intervensi, yaitu meningkatkan pelibatan masyarakat yang berkesinambungan, menjalin kolaborasi dengan LSM peduli lingkungan, organisasi masyarakat, dan komunitas, menguatkan peran media dalam mengedukasi masyarakat (Germas, kesehatan lingkungan dan pencegahan dengue). Sampai dengan saat ini tantangan utama partisipasi masyarakat dalam pencegahan dengue (PSN, 3M Plus, G1R1J) adalah kontinuitas kegiatan yang belum terlaksana secara terus menerus di sepanjang musim.
Berbagai LSM peduli lingkungan, organisasi masyarakat, dan kelompok-kelompok yang terdapat di masyarakat juga belum menaruh perhatian khusus pada penyakit dengue. Untuk mendukung peran masyarakat dalam pencegahan dengue, Kementerian kesehatan menyediakan mobil edukasi dengue yang secara resmi dilepas oleh Wakil Menteri Kesehatan RI pada 5 Juli 2022. Secara bertahap mobil edukasi dengue ini akan beroperasi di 100 titik di Indonesia dengan sasaran utama di sekolah dasar, pasar, rumah sakit, dan PKK di beberapa kota seperti Bandung, Cirebon, Yogya, dan Malang.
Dukungan
Komitmen, kebijakan-manajemen, dan kemitraan
- Dukungan komitmen, kebijakan dan kemitraan
- Dukungan informasi
- Dukungan Pembiayaan
Target semula yaitu 90% kabupaten/kota memiliki laju insidensi DBD <49 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2024, telah diperbarui komitmen dan kebijakannya menjadi 95% kabupaten/kota dengan insidensi DBD <10 kasus per 100.000 serta menurunkan angka kematian dengue menjadi 0,5% pada tahun 2024. Suatu aplikasi berbasis web untuk penguatan surveilans arbovirosis (SIARVI) telah dikembangkan pada tahun 2021 untuk penguatan surveilans arbovirosis. Pada tahun 2022, telah disusun petunjuk teknis SIARVI untuk memudahkan penggunaan aplikasi oleh pengelola data di daerah, dengan menghadirkan narasumber dari Asosiasi Dinas Kesehatan, DTO, Pusdatin serta lintas sektor lainnya.
Ke depan, aplikasi SIARVI diharapkan dapat digunakan untuk kegiatan pencatatan dan pelaporan Dengue dan arbovirosis lainnya, menampilkan data secara real time sehingga respons penanggulangan Dengue dan Arbovirosis lainnya dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Di luar pembiayaan pelayanan kesehatan oleh BPJS dan pemerintah daerah, dukungan pembiayaan pemerintah pusat untuk program Dengue pada tahun 2022 mencapai Rp. Sebagian besar sumber pendanaan APBN (76 Milyar rupiah, 95%) digunakan untuk pembelian alat dan bahan, seperti RDT DBD Combo (hampir 200.000 boks), larvasida (62.000 kg), insektisida (50.000 LTR), 200 unit mesin fogging, serta alat pelindung diri untuk penyemprot dan kit jumantik yang selanjutnya sebagian besar didistribusikan ke kabupaten dan kotamadya melalui pemerintah provinsi.
Pendanaan WHO digunakan untuk tiga jenis kegiatan, yaitu penyelenggaraan the Indonesian Dengue Congress dalam rangka ASEAN Dengue Day (sebesar 43 juta rupiah), kegiatan validasi data pada tahun 2022 (219 juta rupiah) dan penanggulangan KLB di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua (296 juta rupiah). Yayasan Tahija, filantropis Indonesia, memberikan kontribusi pendanaan untuk riset teknologi Aedes aegypti ber-Wolbachia di Yogyakarta, Sleman dan Bantul pada tahun 2011-2023. Secara paralel, hasil penelitian teknologi Wolbachia tersebut juga didiseminasikan ke delapan kabupaten-kota prioritas dengue di Indonesia untuk peningkatan kapasitas daerah (dengan pendanaan dari Islamic Development Bank).
Setiap tahun BPJS membayarkan klaim perawatan kasus dengue (A90) dan Demam berdarah dengue (A91) melebihi 350 milyar rupiah. Bahkan pada puncak kejadian dengue di tahun 2016, BPJS membayarkan lebih dari 1,5 trilyun untuk seluruh kasus dengue. Berdasarkan data tersebut, diperkirakan bahwa biaya yang dikeluarkan BPJS pada tahun 2022 melebihi 800an milyar Rupiah.
Pengembangan kajian, invensi, inovasi, dan riset sebagai dasar kebijakan dan manajemen program
Pengendalian vektor yang telah diterapkan untuk pencegahan dengue belumlah cukup efektif untuk mengendalikan kasus dengue. Selain vaksin yang telah dihasilkan oleh Sanofi, telah tersedia vaksin QDENGA (Takeda) dengan ijin edar dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pada 22 Agustus 2022.
Penutup
Integrating neglected tropical diseases into global health and development : fourth WHO report on neglected tropical diseases.