LAPORAN PRAKTIKUM PERSEMAIAN HUTAN
ACARA III
PENGENALAN MEDIA DAN POROSITAS MEDIA TANAM
Disusun Oleh:
Nama : Hafis Eka Satria NIM : 23/513929/SV/22269 Kelompok : 3
Coass : Fariz Ikhsan
LABORATORIUM BUDIDAYA HUTAN
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN PENGELOLAAN HUTAN DEPARTEMEN TEKNOLOGI HAYATI DAN VETERINER
SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
2024
Diperiksa pada
ACARA III
PENGENALAN MEDIA DAN POROSITAS MEDIA TANAM
I. TUJUAN
Tujuan acara praktikum kali ini adalah:
1. Mengenali beragam jenis media tanam di persemaian 2. Membandingkan porisitas media persemaian
II. DASAR TEORI
Media tanam adalah material atau bahan yang digunakan sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman. Media tanam berfungsi sebagai pendukung pertumbuhan tanaman dengan menyediakan unsur hara, air, serta tempat untuk akar agar dapat bernafas dan berkembang dengan baik. Media tanam adalah salah satu faktor penting yang sangat menentukan dalam proses bercocok tanam. Media tanam akan menentukan baik buruknya pertumbuhan tanaman yang pada akhirnya mempengaruhi hasil produksi. Media tanam memiliki fungsi untuk menopang tanaman, memberikan nutrisi dan menyediakan tempat bagi akar tanaman untuk tumbuh dan berkembang.
Melalui media tanam tumbuh-tumbuhan mendapatkan sebagian besar nutrisinya (Buana, et al., 2019). Media tanam dapat berasal dari bahan organik maupun anorganik, dan dapat berupa media alami atau buatan.
Contoh media alami meliputi tanah, pasir, dan humus, sementara media buatan mencakup rockwool, cocopeat, dan perlit (Sutanto, 2017).
Media tanam memiliki fungsi penting dalam pertumbuhan tanaman, yaitu menyediakan ruang bagi perakaran, menjaga kelembaban, memasok unsur hara, dan mendukung perkembangan fisik tanaman. Untuk memilih media tanam yang tepat, perlu dipertimbangkan beberapa sifat fisik dan kimia dari media tersebut, termasuk tekstur, kapasitas menahan air, aerasi, dan drainase (Sasmita & Haryanto, 2021). Ahli pertanian menyebutkan tanah merupakan media alami tempat tumbuhnya tanaman. Untuk kehidupan tanaman, tanah mempunyai fungsi sebagai tempat berdiri tegak dan bertumpunya tanaman, sebagai media tumbuh yang menyediakan hara dan
pertukaran hara antara tanaman dengan tanah, dan sebagai penyediaan dan gudangnya air bagi tanaman (Jumin, 2002).
Saat ini banyak alternatif media pengganti tanah yang telah dikenal dan digunakan masyarakat. Alternatif media tanam selain tanah adalah media non tanah. Penggunaan media non tanah mempunyai beberapa keuntungan, antara lain keseragaman mutu lebih tinggi, dan tidak mengandung inokulum penyakit. Beberapa media tanam non tanah yang dapat digunakan sebagai alternatif media tanam termasuk dalam kategori bahan organik dan bahan anorganik. Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibanding dengan bahan anorganik. Hal ini disebabkan bahan organik mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Selain itu, bahan organik juga memiliki pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik serta memiliki daya serap air yang tinggi (Sasmita & Haryanto, 2021).
Porositas media tanam adalah ukuran kapasitas media tersebut untuk menampung udara dan air dalam pori-porinya. Porositas sangat penting dalam menentukan seberapa banyak air dan oksigen yang tersedia untuk akar tanaman. Menurut Hanuf, et al., (2022) Porositas tanah yaitu volume tanah yang ditempati oleh larutan tanah dan udara, serta menyediakan ruang untuk akar dan mikroorganisme untuk bernapas dan unfuk penyimpanan air.
Porositas tanah ini erat kaitannya dengan tekstur dan struktur (agregasi) tanah, permeabilitas tanah, dan kapasitas infiltrasi (Hanuf, et al., 2022).
Media tanam yang memiliki porositas tinggi memungkinkan air dan udara bergerak dengan bebas, sehingga tanaman tidak mudah mengalami genangan air atau kekurangan oksigen.
Faktor penentu keberhasilan budidaya tanaman adalah penentuan komposisi media tanam yang tepat dan porositasnya yang sangat berperan penting dalam tumbuhan. Untuk itu, ragam media tanam dan porositas perlu dipelajari dalam rangka sebagai petunjuk dalam pemilihan dan penggunaan media tanam karena penggunaan media tanam yang tepat merupakan awal usaha dari budidaya tanaman.
III. ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan dalam acara praktikum kali ini antara lain : 1. Gelas Ukur
2. Polybag
3. Wadah penampung air
Bahan yang diguanakan dalam acara praktikum kali ini antara lain : 1. Tanah
2. Sekam bakar 3. Sekam padi 4. Pasir
5. Seresah bambu
6. Pakis cacah 7. Cocopeat 8. Cocofiber 9. Kompos 10. Kulit Pinus IV. CARA KERJA
Uji jenis media tanam
Media tanam dimasukkan ke dalam
polybag berukuran 10x15 cm
Tuangkan air sebanyak 500 ml ke dalam media tanam dalam waktu 3
menit
Hitung porositas media dengan rumus, jumlah
volume air keluar/jumlah volume
keluar x 100%
Ukur jumlah air yang tertampung dalam wadah menggunakan
gelas ukur
Tampung air menggunaka gayung
V. DATA DAN HASIL PENGAMATAN
Table 5.1 Jenis Media Tanam
NO Media tanam Keterangan
Tabel 5.2 Hasil Perhitungan Porositas No Jenis Meda Tanam Volume air masuk
(ml)
Volume air keluar (ml)
Porositas media tanam (%)
VI. PEMBAHASAN
Media tanam adalah material atau bahan yang digunakan sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman. Media tanam berfungsi sebagai pendukung pertumbuhan tanaman dengan menyediakan unsur hara, air, serta tempat untuk akar agar dapat bernafas dan berkembang dengan baik. Media tanam adalah salah satu faktor penting yang sangat menentukan dalam proses bercocok tanam. Media tanam akan menentukan baik buruknya pertumbuhan tanaman yang pada akhirnya mempengaruhi hasil produksi. Media tanam memiliki fungsi untuk menopang tanaman, memberikan nutrisi dan menyediakan tempat bagi akar tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Melalui media tanam tumbuh-tumbuhan mendapatkan sebagian besar nutrisinya (Buana, et al., 2019).
Salah satu hal penting dalam teknik budidaya adalah pemilihan media tanam yang tepat (Sari & Fasta, 2020). Pemilihan media tanam sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena media tanam menyediakan tempat bagi akar untuk menyerap air, nutrisi, serta udara yang dibutuhkan oleh tanaman. Media tanam yang baik akan mendukung pertumbuhan optimal, sedangkan media yang tidak sesuai dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat atau bahkan kematian tanaman Penggunaan media tanam dengan komposisi yang sesuai bagi suatu jenis tanaman akan memberikan respon dan pengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman (Nora, et al., 2019). Sebagaimana dikemukakan oleh Augustien (2016), bahwa media tanam harus dapat mendukung pertumbuhan dan
perkembangan tanaman sehingga produktivitasnya dapat menjadi lebih baik.
Pada praktikum kali ini dilakukan uji coba porositas terhadap 10 jenis media tanam, setiap media tanam menunjukan hasil yang berbeda beda karena perbedaan tekstur dan struktur (agregasi) tanah, permeabilitas, dan kapasitas infiltrasi pada masing masing media, berdasarkan pengamatan tersebut didapatkan hasil sebagai berikut. Tanah adalah media tanam alami yang mengandung partikel mineral (pasir, lanau, liat), bahan organik, air, dan udara. Tanah sering digunakan karena kandungan unsur hara alaminya..
Pada pengujian porositas menunjukkan bahwa tanah merah yang di uji hanya memiliki porositas 5% dari uji coba 500 ml air hanya 25 ml air saja yang dapat keluar. Hal ini dapat terjadi karena tanah ini mengandung kadar liat yang tinggi. Tanah liat memiliki kemampuan yang baik dalam menyimpan air karena sebagian besar dari teksturnya tersusun atas pori mikro. Menurut Islami dan Utomo (1995), pori mikro pada tanah liat menyebabkan daya hantar air dan sirkulasi udara yang kurang baik.
Pada pengamatan media tanam pasir, seresah bambu, cocofiber dan kompos memiliki hasil presentase porositas yang sama yaitu sebesar 80%, dari 500 ml air yang dimasukkan media tanam tersebut dapat mengeluarkannya sebanyak 400 ml. Pasir adalah bahan anorganik yang terdiri dari partikel mineral yang sangat kecil. Seresah bambu adalah sisa daun dan batang bambu yang diolah menjadi media tanam. Cocofiber adalah serat kasar dari sabut kelapa yang lebih kasar dibanding cocopeat. ompos adalah hasil dekomposisi bahan organik yang mengandung banyak unsur hara yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Media tanam tersebut memiliki nilai porositas yang tinggi, yang artinya media tersebut memiliki ruang udara yang banyak, sehingga aerasi dan drainase sangat baik, namun retensi air atau kemampuannya menyimpan air rendah. Untuk mengatasi masalah ini, media dengan porositas tinggi perlu dicampur dengan media yang mampu menahan air guna menjaga keseimbangan antara drainase, aerasi, dan kapasitas menyimpan air (Santosa, et al., 2020).
Cocopeat, pakis cacah, sekam bakar dann sekam padi secara berurutan memiliki porositas yang semakin tinggi, mulai dari 84%, 85%, 88% dan 90%. Dengan nilai rata rata 50% porositas dari bahan tersebut sangatlah tinggi sehingga perlu diberikan bahan campuran agar media tanam dapat menahan air secara normal (Saputra, et al., 2018). Media dengan porositas tinggi sangat baik untuk meningkatkan aerasi dan drainase, tetapi memerlukan campuran dengan bahan yang dapat menahan air dan menyediakan nutrisi untuk menciptakan kondisi optimal bagi pertumbuhan tanaman.
VII. KESIMPULAN
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Augustien, N., & Suhardjono, H. (2016). Peranan berbagai komposisi media tanam organik terhadap tanaman sawi (Brassica juncea L.) di polybag. Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian (Journal of Agricultural Science), 14(1).
Buana, Z., Candra, O., & Elfizon, E. (2019). Sistem pemantauan tanaman sayur dengan media tanam hidroponik menggunakan arduino. JTEV (Jurnal Teknik Elektro Dan Vokasional), 5(1), 74-80.
Hanuf, A. A., Ifadah, N. F., Nurin, Y. M., Yunita, D. M., Andreansyah, B., Fitria, L., & Nisa, U. K. (2022). Pengelolaan Tanah untuk Produksi Tanaman. Universitas Brawijaya Press.
Islami, T. & Utomo, W.H. (1995). Hubungan Tanah Air dan Tanaman.
Malang: IKIP Semarang Press. 293 hlm.
Jumin, H. B. (2002). Agronomi. PT RajaGrafindo Persada.
Nora, M., Amir, N., & Aminah, R. I. S. (2015). PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PEMBIBITAN TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) DI POLYBAG. Klorofil: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Pertanian, 10(2), 90-92.
Oktafri, Y. A. N., & Novita, D. D. (2015). Pembuatan Hidroton Berbagai Ukuran Sebagai Media Tanam Hidroponik dari Campuran Bahan Baku Tanah Liat dan Digestate. Jurnal Teknik Pertanian Lampung Vol, 4(4), 267-274.
Saputra, D. D., Putrantyo, A. R., & Kusuma, Z. (2018). Hubungan kandungan bahan organik tanah dengan berat isi, porositas dan laju infiltrasi pada perkebunan salak di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan, 5(1), 647-654.
Sari, V. I., & Fasta, R. (2020). Pemberian Berbagai Bahan Organik sebagai Media Tanam untuk Pertumbuhan Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor L.). Agrosintesa Jurnal Ilmu Budidaya Pertanian, 3(2), 38- 45.
Sasmita, E. R., & Haryanto, D. (2021). Ragam Media Tanam Tanah dan Non Tanah.
Sutanto, S. (2017). Media Tanam dan Faktor Pendukung Pertumbuhan Tanaman. Penerbit Pertanian Hijau.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3
Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6
Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9