UNIVERSITAS FALETEHAN
EFEKTIVITAS DENTAL HEALTH EDUCATION MENGGUNAKAN MEDIA VIDEO ANIMASI TERHADAP PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI PADA ANAK USIA
SEKOLAH DI MI NAGAJAYA CILOGRANG TAHUN 2025
PROPOSAL PENELITIAN
KEMAL RAMADHAN 1021031112
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS FALETEHAN
1
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI...ii
BAB 1...1
PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...3
C. Tujuan Penelitian...3
D. Manfaat Penelitian...4
E. Ruang Lingkup Penelitian...5
BAB II... 6
TINJAUAN PUSTAKA... 6
A. Konsep Anak Usia Sekolah Dasar... 6
1. Definisi anak usia sekolah... 6
2. Karakteristik anak usia sekolah...6
3. Pertumbuhan anak usia sekolah... 7
4. Perkembangan anak usia sekolah...8
B. Konsep Kesehatan Gigi...10
1. Definisi kesehatan Gigi... 10
2. Faktor Faktor yang mempengaruhi kesehatan Gigi...10
3. Masalah pada gigi... 12
4. Penyebab Masalah Gigi... 13
5. Perawatan Kesehatan Gigi...13
5. Cara sikat gigi yang benar...17
C. Konsep Dental Health Education...18
1. Definisi dental health education...18
2. Pengaruh dental health education...19
D. Konsep Pengetahuan... 19
1. Definisi Pengetahuan... 19
2. Tingkat pengetahuan... 19
3. Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan...21 ii
F. Kerangka teori ... 23
BAB III...24
KERANGKA KONSEP...24
A. Kerangka Konsep...24
B. Definisi Operasional...25
C. Hipotesis Penelitian... 26
iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan gigi adalah kondisi di mana gigi dan jaringan pendukungnya, seperti gusi dan tulang rahang, berada dalam keadaan sehat, bebas dari penyakit, dan berfungsi optimal (American Dental Association, 2020). Menurut World Health Organization (WHO, 2021), kesehatan gigi merupakan bagian integral dari kesehatan umum, yang mencakup kebersihan mulut, ketiadaan penyakit gigi dan gusi, serta fungsi gigi yang optimal. Jika tidak dirawat, penyakit gigi dan mulut pada anak dapat menyebabkan infeksi, gangguan aktivitas, rasa sakit, serta menghambat pertumbuhan dan perkembangan (Aulia et al., 2021).
Data WHO (2022) menunjukkan bahwa sekitar 50% populasi dunia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Penyakit seperti karies gigi dan periodontitis menjadi masalah utama yang memengaruhi sekitar 3,5 miliar orang di dunia. Di Indonesia, masalah ini juga masih menjadi perhatian utama, terutama pada anak- anak dan remaja. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2023), sekitar 80–90% anak di bawah usia 18 tahun mengalami gangguan kesehatan gigi dan mulut. Selain itu, Survey Kesehatan Indonesia (SKI, 2023) mengungkapkan bahwa prevalensi karies gigi cukup tinggi di berbagai kelompok usia, yaitu 63,8% pada anak berusia 10–14 tahun dan 84,6% pada anak berusia 5–9 tahun. Sayangnya, kesadaran akan kebersihan gigi masih rendah. Pada kelompok usia 10–14 tahun, hanya 5,3% anak yang mampu menyikat gigi dengan benar.
Hasil SKI (2023) di Provinsi Banten menunjukkan bahwa 42,3% penduduk mengalami gigi rusak dan berlubang, tetapi hanya 4,2% yang memahami waktu menyikat gigi yang benar. Di Kabupaten Lebak, prevalensi gigi rusak dan berlubang mencapai 52,83% (Riset Kesehatan Dasar [Riskesdas] Banten, 2023).
Kondisi ini menegaskan perlunya peningkatan edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut, terutama terkait praktik menyikat gigi yang benar.
1
Penelitian oleh Sampouw, (2023) menemukan bahwa metode bermain lebih efektif dibandingkan metode ceramah dalam meningkatkan pengetahuan anak mengenai kesehatan gigi. Namun, di era digital, metode ini mulai dianggap kurang relevan karena anak-anak lebih akrab dengan media digital. Oleh karena itu, diperlukan metode edukasi yang lebih interaktif, seperti video animasi, yang tidak hanya menarik perhatian tetapi juga lebih mudah dipahami oleh anak.
Salah satu cara meningkatkan kesehatan gigi adalah melalui edukasi yang mengubah pengetahuan menjadi perilaku positif. Dental Health Education bertujuan memberikan pemahaman komprehensif tentang kesehatan gigi serta faktor-faktornya, serta mendorong kebiasaan baik secara individu maupun kelompok. Metode seperti simulasi dan video terbukti efektif dalam penyampaian informasi, terutama dengan media audiovisual yang menggabungkan suara dan gambar (Pitoy et al., 2021).Metode pemutaran video menggunakan media yang menampilkan gambar dan suara secara bersamaan, sehingga dapat merangsang indra penglihatan dan pendengaran dalam memahami pesan edukasi. Dalam hal ini, video animasi dianggap sebagai media yang paling efektif karena memenuhi kriteria sasaran, pembahasan materi, serta kemudahan akses. Video animasi juga dapat dibuat semenarik mungkin, sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa (Suseno et al., 2021).
Animasi sendiri adalah seni menghidupkan objek melalui urutan gambar bergerak yang menarik dan interaktif. Keunggulannya terletak pada kemampuannya menyampaikan informasi secara visual dengan kombinasi warna, gerak, dan suara, sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif. Dalam pendidikan, animasi membantu menyederhanakan konsep kompleks agar lebih mudah dipahami siswa (Afrilia et al., 2022). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas animasi digital dalam edukasi kesehatan gigi, guna meningkatkan pemahaman dan kesadaran anak dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Hasil Observasi melalui wawancara langsung dengan seorang guru di sekolah pada tanggal 14 Maret 2025 mengungkapkan bahwa pemahaman siswa tentang kesehatan gigi masih sangat rendah, Minimnya kesadaran ini tercermin dari kebiasaan sehari-hari yang kurang mendukung kesehatan gigi, seperti kebiasaan
3
mengkonsumsi makanan yang manis. Sekolah ini belum pernah dilakukan penyuluhan mengenai kesehatan gigi sebelumnya hanya pernah dilakukan kunjungan pemberian vaksin, setiap setahun sekali. Setelah dilakukan pemeriksaan secara langsung terhadap 15 siswa/I diperkirakan ada 10 siswa mengalami masalah gigi, seperti karies gigi, dan malokusi yang disebabkan kurang pahamnya mengenai pentingnya kesehatan gigi. Hal ini menunjukkan perlunya edukasi lebih lanjut agar siswa memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi sejak usia sekolah dasar.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dan fenomena masalah yang telah diuraikan, peneliti tertarik untuk mengeksplorasi efektivitas penggunaan media digital dalam edukasi kesehatan gigi. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji efektivitas dental health education menggunakan media video animasi terhadap pengetahuan kesehatan gigi pada anak usia sekolah di MI Nagajaya Cilograng. Dengan pendekatan yang berbeda dari segi metode, jumlah sampel, dan lokasi penelitian, diharapkan hasil studi ini dapat memberikan wawasan baru serta menemukan metode edukasi yang lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran anak mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi.
B. Rumusan Masalah
Kesehatan gigi merupakan bagian penting dari kesehatan umum yang mencakup kebersihan mulut, ketiadaan penyakit gigi dan gusi, serta fungsi gigi yang optimal. Namun, prevalensi gangguan kesehatan gigi pada anak-anak masih tinggi, dengan karies gigi sebagai masalah utama. Data menunjukkan bahwa kesadaran anak dalam menjaga kesehatan gigi masih rendah, sehingga diperlukan metode edukasi yang lebih efektif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan media video animasi dalam edukasi kesehatan gigi pada anak sekolah dasar. Metode audiovisual dinilai lebih menarik dan interaktif dibandingkan metode ceramah, karena menggabungkan gambar, warna, gerak, dan suara untuk meningkatkan pemahaman anak.
Kesehatan Gigi, Fenomena,pendidikan animasi video, Pengetahuan,
Berdasarkan dari uraian latar belakang tersebut maka peneliti merumuskan masalah
“Bagaimana Efektivitas Dental Health Education menggunakan media video animasi terhadap pengetahuan kesehatan gigi pada anak usia sekolah di MI Nagajaya Cilograng?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya Efektivitas Dental Health Education menggunakan media video animasi terhadap pengetahuan kesehatan gigi pada anak usia sekolah di MI Nagajaya Cilograng
2. Tujuan Khusus
a) Menganalisis tingkat pengetahuan siswa sebelum dan sesudah diberikan edukasi DHE menggunakan media video animasi.
b) Mengidentifikasi dampak penggunaan media video animasi terhadap pemahaman siswa/i mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi.
c) Mengevaluasi pengaruh efektivitas metode video animasi dalam edukasi kesehatan gigi.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Universitas Faletehan
Diharapkan penelitian ini dijadikan sebagai bahan masukan dan rujukan untuk mahasiswa lain, untuk penelitian lebih lanjut mengenai Efektivitas Dental Health Education menggunakan media video animasi terhadap pengetahuan kesehatan gigi pada anak usia sekolah.
2. Bagi Sekolah MI Nagajaya Cilograng
Hasil penelitian ini diharapkan mampu di gunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa/siswi tentang pengetahuan kesehatan gigi, Dental Health Education (DHE) menggunakan media video animasi, serta memberikan kesadaran yang berlebih dalam menjaga kesehatan gigi. Penggunaan video animasi menawarkan cara baru yang inovatif dalam metode pengajaran di tingkat sekolah dasar. Media ini membantu guru untuk menyampaikan
5
materi dengan cara yang lebih menarik dan lebih mudah dimengerti oleh anak-anak. Pendekatan ini juga sesuai dengan metode pembelajaran visual dan auditori yang sering digunakan oleh anak-anak pada usia ini di era digital.
3. Bagi Peneliti
Menambah pengalaman, wawasan, dan pemahaman terkait efektivitas media video animasi dalam meningkatkan edukasi kesehatan gigi anak.
penelitian ini juga dapat menjadi referensi untuk mengembangkan intervensi keperawatan anak terutama dalam upaya mengatasi masalah kesehatan gigi, serta memberikan peningkatan pengetahuan pada penelitian dalam pengembangan metode edukasi kesehatan gigi berbasis media digital. Penelitian ini dapat menjadi acuan penting bagi peneliti lain yang tertarik untuk mengkaji efektivitas media digital dalam konteks pendidikan kesehatan. Selain itu, penelitian ini juga membuka peluang untuk penelitian lanjutan tentang penggunaan media lain dalam meningkatkan perilaku kesehatan pada anak usia sekolah dasar.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah Efektivitas Dental Health Education menggunakan media video animasi terhadap pengetahuan kesehatan gigi pada anak usia sekolah di MI Nagajaya Cilograng, penelitian ini di laksanakan pada bulan april - juni 2025, jenis penelitian ini adalah Kuantitatif dengan desain quasi- exsperimental one group pretest-posttest, tempat penelitian ini dilaksanakan di MI Nagajaya Cilograng, sample yang digunakan yaitu anak sekolah dasar dari kelas 1 - 6 dengan metode total sampling. Variabel independent adalah Dental Health Education menggunakan media video animasi, Variabel dependent adalah Pengetahuan kesehatan gigi pada anak. Analisa data dengan Tekhnik editing, coding, scoring, dan tabulating, di uji menggunakan Uji Statistik Paired t-test (jika data berdistribusi normal) dan Uji Wilcoxon (jika data tidak berdistribusi normal) dan skala pengukuran yang diguinakan adalah skala likert untuk mengukur sikap dan perilaku anak serta Skala Interval untuk mengukur perubahan pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi dengan video animasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Anak Usia Sekolah Dasar 1. Definisi anak usia sekolah
Menurut World Health Organization (WHO, 2023), anak usia sekolah dasar adalah anak yang berusia antara 7-15 tahun. Pada usia ini, anak mengalami perkembangan fisik, sosial, dan psikologis. Mereka juga mulai berpikir abstrak dan mencari pengakuan dari orang-orang di sekitarnya. Pada masa anak usia sekolah, anak membutuhkan asupan makanan yang bergizi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya.Anak adalah individu yang berada dalam tahap perkembangan antara masa bayi dan remaja.
Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Pada tahap ini, anak mengalami perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang signifikan, sehingga memerlukan perhatian khusus dalam aspek kesehatan, termasuk kesehatan gigi dan mulut (Kemenkes RI, 2022).
2. Karakteristik anak usia sekolah
Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan adalah karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cendrung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Adapun Karakteristik anak usia sekolah umur 6-12 tahun terbagi menjadi empat bagian terdiri dari Supariasa (2013) dalam (Qisthi et al., 2020) :
a. Fisik/Jasmani
1) Pertumbuhan lambat dan teratur.
7
2) Anak wanita biasanya lebih tinggi dan lebih berat dibanding laki- laki dengan usia yang sama.
3) Anggota-anggota badan memanjang sampai akhir masa ini.
4) Peningkatan koordinasi besar dan otot-otot halus.
5) Pertumbuhan tulang, tulang sangat sensitif terhadap kecelakaan.
6) Pertumbuhan gigi tetap, gigi susu tanggal, nafsu makan besar, senang makan dan aktif.
7) Fungsi penglihatan normal, timbul haid pada akhir masa ini.
b. Emosi
1) Suka berteman, ingin sukses, ingin tahu, bertanggung jawab terhadap tingkah laku dan diri sendiri, mudah cemas jika ada kemalangan di dalam keluarga.
2) Tidak terlalu ingin tahu terhadap lawan jenis.
c. Sosial
1) Senang berada di dalam kelompok, berminat di dalam permainan yang bersaing, mulai menunjukkan sikap kepemimpinan, mulai menunjukkan penampilan diri, jujur, sering punya kelompok temanteman tertentu.
2) Sangat erat dengan teman-teman sejenis, laki-laki dan wanita bermain sendiri-sendiri.
d. Intelektual
1) Suka berbicara dan mengeluarkan pendapat minat besardalam belajar dan keterampilan, ingin coba-coba, selalu ingin tahu sesuatu.
2) Perhatian terhadap sesuatu sangat singkat.
3. Pertumbuhan anak usia sekolah
Anak usia sekolah dasar (6-12) tahun adalah kelanjutan dari pertumbuhan dan perkembangan anak usia bawah lima tahun (balita) baik fisik maupun psikis.
Anak pada usia sekolah dasar telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Fisiknya mulai dapat bergerak secara sempurna seperti tangan, kaki dan lainnya. Begitu pula dengan psikis, anak sudah mulai berpikir kritis karena rasa ingin tahu, sudah dapat melihat dan mendengar dengan jelas serta sudah dapat melakukan sesuatu dengan baik. Orangtua seringkali tidak mengerti tentang pertumbuhan
9
dan perkembangan anaknya walaupun ia sering melihat anaknya di rumah, tetapi tidak mengerti apa yang sedang tumbuh dan berrkembang pada anak.
Menurut Zakiah Derajat (2001) dalam (R. Lubis et al., 2024) membagi 2 (dua) tahap perkembangan fisik anak pada usi sekolah dasar yaituusia 6-9 tahun dan 10-12 tahun.
a. Pertumbuhan dan perkembangan fisik anak 1) Anak pada usia 6-9 tahun
Anak pada usia ini mengalami pertumbuhan dan perkembangan otot besar untuk mengembangkan otot-otot yang halus yang sudah tumbuh dan berkembang sejak masa kanak-kanak. Anak pada usia 6-9 tahun telah memiliki keserasian gerak. Ia bermain dengan menggunakan organ jasmani seperti tangan, kaki, dengan berlari, melompat dengan lebih baik. Itulah sebabnya ia sudah dapat dilatihdan dibiasakan dengan kebiasaan yang baik dan memiloiki manfaat bagi dirinya
2) Anak pada usia 10-12 tahun
Anak pada usia ini fisiknya sudah lebih baik dan kuat. Gerakannya sudah semakin sempurna. Anak pada usia ini dapat menirukan sikap dan perilaku orangtua secara baik
4. Perkembangan anak usia sekolah
Perkembangan anak usia sekolah dasar, yang umumnya berkisar antara 6 hingga 12 tahun, adalah periode penting dalam kehidupan mereka. Selama periode ini, anak-anak mengalami pertumbuhan dan perubahan dalam berbagai aspek, termasuk fisik, kognitif, sosial, dan emosional. Teori Ekologi Sistem Bronfenbrenner (1917) dalam (Suryani, 2023) menekankan pengaruh lingkungan sosial dan konteks makro pada perkembangan anak. Anak-anak usia sekolah dasar berada dalam lingkungan mikrosistem (keluarga, sekolah, teman) yang dapat berdampak besar pada perkembangan mereka. Berikut adalah beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam perkembangan anak usia sekolah dasar :
a. Perkembangan fisiologis: Anak usia sekolah dasar mempunyai perkembangan fisik yang signifikan. Anak-anak sering kali mengalami
kenaikan berat badan dan tinggi badan lebih lambat dibandingkan saat masa kanak-kanak. Anak-anak pada usia ini juga mengembangkan otot dan keterampilan motorik halus yang lebih baik, sehingga membantu mereka melakukan aktivitas fisik dengan lebih lancar.
b. Kesadaran : Kemampuan kognitif anak usia sekolah dasar juga terus berkembang. Anak semakin mampu berpikir abstrak, memahami konsep waktu yang lebih kompleks, dan mengembangkan kemampuan berpikir logis. Keterampilan membaca, menulis, dan berhitung semakin meningkat di sekolah dan anak-anak mulai mengembangkan kecintaan menjelajahi dunia pengetahuan.
c. Kasih sayang sosial: Perkembangan sosial emosional anak usia sekolah dasar seringkali dipengaruhi oleh interaksinya dengan teman sebaya dan lingkungan sekolah. Mereka mulai belajar tentang kerja sama, konflik, dan interaksi sosial yang lebih kompleks. Pengendalian emosi juga meningkat, meski penderita masih bisa mengalami perubahan suasana hati yang cepat.
d. Kemampuan bahasa: Kemampuan berbahasa anak usia sekolah dasar semakin hari semakin meningkat. Mereka dapat mengekspresikan diri mereka dengan lebih baik dan menggunakan bahasa untuk berpikir lebih abstrak. Kosakata mereka bertambah dan mereka mulai memahami nuansa bahasa dalam konteks yang lebih dalam.
e. Kemerdekaan: Anak-anak usia sekolah dasar juga mulai mengembangkan kemandirian yang lebih besar. Mereka dapat melakukan tugas sehari-hari seperti berpakaian, bersih-bersih, dan manajemen waktu yang lebih baik.
Orang tua dan pendidik dapat mendukung perkembangan ini dengan memberi mereka tanggung jawab sesuai usia.
f. Imajinasi dan kreativitas: Imajinasi dan kreativitas anak usia sekolah dasar terus berkembang. Mereka cenderung bermain peran, membuat cerita, dan mengekspresikan diri melalui seni, musik, dan aktivitas kreatif lainnya.
g. Nilai dan etika: Anak usia sekolah dasar mulai mengembangkan pemahaman sejak dini mengenai nilai, norma, dan perbedaan antara benar dan salah. Anak-anak mempelajari konsep moralitas dan keadilan, meskipun pemahaman tersebut masih dalam tahap awal dan cenderung dipengaruhi oleh lingkungan dan orang dewasa di sekitarnya. (Suryani, 2023)
11
B. Konsep Kesehatan Gigi 1. Definisi kesehatan Gigi
Menurut Permenkes RI 2015 dalam (Gede Surya Kencana & Ayu Dewi Kumala Ratih, 2023), Kesehatan Gigi dan Mulut adalah keadaan sehat dari jaringan keras dan jaringan lunak gigi serta unsur-unsur yang berhubungan dengan rongga mulut, yang memungkinkan individu makan, berbicara dan berinteraksi sosial tanpa mengalami disfungsi, gangguan estetik, dan ketidaknyamanan karena adanya penyakit, penyimpangan oklusi dan kehilangan gigi sehingga mampu hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Kesehatan tubuh dipengaruhi oleh kesehatan gigi dan mulut.
2. Faktor Faktor yang mempengaruhi kesehatan Gigi
Berikut adalah penjelasan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan gigi dan mulut berdasarkan Teori Blum (1979) dalam (Ilmianti et al., 2025):
a. Faktor Genetik (Keturunan)
Kondisi gigi dan mulut seseorang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor keturunan. Struktur dan kekuatan enamel gigi, jumlah serta kualitas air liur, hingga tingkat kerentanan terhadap penyakit gigi seperti karies dan periodontitis dapat diwariskan dari orang tua.
Beberapa individu mungkin memiliki enamel yang lebih tipis atau susunan gigi yang kurang rapat, sehingga lebih mudah mengalami kerusakan meskipun sudah menjaga kebersihan dengan baik. Selain itu, faktor genetik juga dapat memengaruhi bentuk rahang dan posisi gigi, yang berpengaruh terhadap kesejajaran gigi serta kemudahan dalam membersihkannya.
b. Faktor Lingkungan
Lingkungan tempat seseorang tinggal sangat berperan dalam kesehatan gigi dan mulut. Akses terhadap fasilitas kesehatan, kualitas air minum
—terutama kandungan fluoride dalam air—serta pola makan yang berkembang dalam masyarakat menjadi faktor penting. Kondisi sosial
ekonomi juga berdampak besar; individu dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi cenderung lebih sulit mendapatkan perawatan gigi yang memadai. Selain itu, paparan zat berbahaya seperti timbal (Pb) dalam lingkungan dapat melemahkan struktur gigi dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan gigi.
c. Faktor Perilaku
Gaya hidup dan kebiasaan seseorang dalam merawat gigi juga berpengaruh besar. Faktor ini mencakup tiga aspek utama:
1) Pengetahuan: Sejauh mana seseorang memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi, seperti dampak konsumsi gula, manfaat fluoride, dan cara menyikat gigi yang benar.
2) Sikap: Kesadaran individu terhadap pentingnya perawatan gigi, misalnya kebiasaan memeriksakan gigi secara rutin ke dokter atau tidak.
3) Tindakan: Langkah nyata dalam menjaga kebersihan gigi, seperti rutin menyikat gigi minimal dua kali sehari, menggunakan benang gigi, serta menghindari kebiasaan buruk seperti menggigit kuku atau mengunyah benda keras.
Membangun kebiasaan baik sejak dini dapat membantu menjaga kesehatan gigi di masa depan.
d. Faktor Pelayanan Kesehatan
Akses terhadap layanan kesehatan gigi juga menjadi faktor yang sangat berpengaruh. Ketersediaan dokter gigi, fasilitas klinik, serta program kesehatan gigi dari pemerintah atau swasta dapat menentukan sejauh mana seseorang bisa mendapatkan perawatan gigi yang dibutuhkan.
Edukasi dari tenaga kesehatan mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi, serta layanan seperti tambal gigi, pembersihan karang gigi, dan perawatan ortodontik, berperan besar dalam mencegah berbagai permasalahan gigi. Daerah dengan keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan cenderung memiliki angka kejadian karies yang lebih tinggi dibandingkan daerah dengan layanan kesehatan yang lebih baik.
13
3. Masalah pada gigi
Perawatan gigi yang kurang baik dan tidak adekuat dapat menyebabkan masalah kesehatan gigi. Masalah yang biasa muncul pada anak-anak adalah gigi berlubang (karies), maloklusi, dan penyakit periodontal.
a. Karies Gigi (Kavitis)
Karies gigi atau yang lebih dikenal dengan gigi berlubang merupakan salah satu penyakit kronik yang paling sering dipengaruhi individu.
Karies gigi pada anak usia sekolah memiliki prevalensi yang cukup tinggi dari tahun ke tahun. Karies merupakan penyakit multifactorial yang melibatkan kerentanan gigi, microflora kariogenik, dan lingkungan oral yang sesuai. Karies gigi dimulai dengan larutnya mineral email sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan adam microbial dari makanan yang tersisa di gigi dan menimbulkan destruksi komponen organik yang akhirnya terjadi kavitasi atau pembentukan lubang gigi. Karies gigi meruoakan penyakit yang paling banyak diderita anak usia 6-14 tahun merupakan kelompok usia kritis terkena karies gigi karena terjadi transisi dari gigi sus uke gigi permanen.
b. Maloklusi
Maloklusi terjadi jika gigi rahang atas dan rahang bawah tidak dapat berhubungan atau bertemu dengan tepat. Hal ini menyebabkan proses mengunyah makanan menjadi kurang efektif dan menimbulkan efek yang kurang menyenangkan. Maloklusi gigi atau kelainan kontak pada gigi seperti gusi pun dapat rusak. Kondisi lebih berat akibat maloklusi adalah kerusakan pada sendi temporo mandibula (sendi antara tulang rahang dan tulang wajah). Yang bisa menimbulkan sakit kepala yang terus menerus atau masalah pencernaan.
c. Penyakit periodontal
Penyakit periodontal merupakan kondidi peradangan dan degeneratif yang mengenai gusi dan jaringan penyokomh gigi. Penyakit ini disebbakan oleh respon imun, penyakit lain seperti diabetes, stress, mengonsumsi obat. Masalah yang sering muncul terkait periodontal adalah gingivitis (inflamasi ringan pada gusi) dan periodontal (inflamasi
gusi dan kehilangan jaringan ikat serta tulang yang menyokong struktur gigi). Gingivitis diakibatkan oleh peradangan reversible yang mulai pada sebagian anak usia dini yang berkaitan dengan pembentukan plak gigi.
Pembentukan plak gigi menyebabkan pelepasan eksotoksin destruktif dan enzim. Enzim inilah yang mengakibatkan gusi menjadi merah, bengkak, nyeri tekan, dan mudah iritasi (Suwelo, 2008) dalam (N. A. Lubis, 2021).
4. Penyebab Masalah Gigi
Penyebab penyakit gigi antara lain mikroorganisme mulut, substrat makanan, dan waktu. Faktor lain adalah usia, jenis kelamin, tingkat ekonomi, tingkat Pendidikan, lingkungan, kesadaran dan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan gigi (Suwelo, 2008) dalam (N. A. Lubis, 2021).
5. Perawatan Kesehatan Gigi
Perawatan gigi merupakan usaha penjagaan untuk mencengah kerusakan gigi dan penyakit gusi. Perawatan gigi sangat penting dilakukan karena dapat menyebabkan rasa sakit pada anak, infeksi, bahkan malnutrisi. Gigi yang sehat adalah gigi yang bersih tanpa ada lubang atau penyakit gigi lainnya. Perawatan gigi dapat dilakukan untuk mencegah masalah kesehatan gigi antara lain :
a. Menggosok gigi (Brushing) Masalah yang sering kali ditemui pada masyarakat Indonesia adalah cara menggosok gigi yang salah. Pada prinsipnya menggosok gigi yang benar harus dapat membersihkan semua sisa-sisa makanan terutama pada ruang intradental.
1) Tujuan menyikat gigi :
Menyikat gigi bertujuan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan mulut terutama gigi serta jaringan sekitarnya. Menyikat gigi dapat menimbulkan rasa segar dalam mulut dan lebih dari itu untuk mencengah terjadinya karies gigi dan penyakit periodontal.
Menyikat gigi mencegah tertimbunnya sisa-sisa makanan pada sela-sela gigi dan permukaan gigi dimana penimbunan sisa-sisa makanan ini dapat merupakan media yang baik untuk pertumbuhan organisme, sehingga dapat menyebabkan terjadinya karies dan reaksi peradangan pada jaringan periodontium. Menyikat gigi dapat membersihkan gigi dan berfungsi juga memijat gusi. Pemijatan
15
gusi bertujuan untuk meningkatkan daya tahan jaringan gusi pada tempat pemijatan. Karena secara fisiologis pemijatan ini menimbulkan stimulasi dari pembuluh darah setempat yang mengakibatkan hyperaemi pembuluh darah, nutrisi baik, sekresi, ekskresi dan absorbs yang baik sehingga jaringan gusi di daerah itu menjadi sehat dan berfungsi dengan baik, maka jaringan gusi di daerah tersebut kurang mendapat nutrisi, sehingga akibat alergi geligi mudah goyah dan lepas karena jaringan pendukung kurang sehat.
2) Waktu menyikat gigi
Beberapa sarjana mengatakan bahwa gigi sebaiknya dibersihkan tiga kali sehari segera sesudah makan dan sebelum tidur, tetapi ternyata hal ini sukar diikuti karena kurang praktis bila pasien dikantor, sekolah dan sebagainya. Menyikat gigi dua kali sehari sehari cukup baik pada jaringan periodontium yang sehat, tetapi pada jaringan periodontium yang tidak sehat dianjurkan menyikat gigi tiga kali sehari. Telah dibuktikan bahwa asam dari plak gigi akan turun dari normal sampai mencapai Ph 5 dalam waktu 3-5 menit sesudahkan memakan makanan yang mengandung karbohidrat, dimana pada pH ini sangat membahayakan gigi tetapi lambat laun pH ini jadi normal kembali setelah satu jam. Hal ini merupakan bukti bahwa menyikat gigi segera sesudah makan atau paling lambat 10 menit sesudah makan, besar manfaatnya untuk mencegah timbulnya karies gigi. Menyikat gigi dua kali sehari sudah cukup untuk pencengahan penyakit periodontal asalkan pasien dapat melakukannya secara teratur. Menyikat gigi sebelum tidur sangat dianjurkan untuk menjaga kebersihan gigi dam mulut sepanjang malam sehingga proses karies dapat dihindarkan.
3) Lamanya menyikat gigi
Lamanya menyikat gigi dianjurkan minimal 5 menit, tetapi umumnya orang menyikat gigi maksimum selama 2-3 menit. Bila menyikat gigi dilakukan dalam waktu yang singkat, maka hasilnya tidak begitu baik dari pada bila menyikat gigi dilakukan dalam waktu yang lebih lama, mengigat banyaknya permukaan gigi yang
harus dibersihkan. Tetapi hal ini tidak dapat diambil sebagai patokan berhasil atau tidaknya seseorang menyikat gigi, sebab hal ini masih tergantung pula pada caracara menyikat gigi dan bentuk sikat gigi yang digunakan, serta waktu menyikat gigi.
4) Bentuk sikat gigi
Bermacam bentuk sikat gigi dikenal ada dipasaran tetapi hanya beberapa yang baik. Ada bentuk sikat gigi yang permukaan serabut sikatnya membentuk lurus, cembung dan cekung sehingga dapat mencapai daerah-daerah tertentu pada lengkung rahang. Oleh karena hanya beberapa orang saja yang memakai lebih dari satu bentuk sikat gigi waktu sikat gigi, maka umumnya kita menganjurkan pemakaian sikat gigi yang serabutnya lurus dan sama panjang dengan tangkal yang lurus pula, oleh karena sikat seperti ini akan bekerja cukup baik pada semua bagian mulut.
American Dental Associaton menganjurkan bentuk sikat gigi yang baik harus mempunyai :
a) Kepala sikat gigi kecil, panjangnya 1-1,25 inci lebarnya 5/16- 3/8 inci dengan 2 sampai 4 baris serabut sikat gigi 5 sampai 12 tufted.
b) Permukaan serabut sikat yang datar/rata
c) Serabut sikat yang elastis Beberapa paha ahli menganjurkan sikat gigi sebagai berikut :
1. Sikat gigi dengan tangkai yang lurus dan mudah dipengang sehingga dapat mencapai seluruh permukaan gigi dan jaringan sekitarnya terutama daerah-daerah yang sulit dibersihkan.
2. Kepala sikat gigi harus yang kecil Sebagai patokan Panjang kepala sikat gigi harus sama dengan jumlah lebar keempat gigi dengan rahang bawah (lebar keempat gigi seri bawah).
Kalau kepala sikat gigi terlalu Panjang, maka bulu sikat gigi dibagian tangkai boleh dipotong atau dicabut.
3. Bulu sikat gigi harus sama panjangnya, sehingga membentuk permukaan yang datar. Yang baik adalah sikat
17
gigi dengan bulu yang berderet tiga dan bulu sikat terbuat dari nilon yang tidak kaku.
4. Dapat mengadakan pemijatan gusi untuk memperbaiki aliran darah setempat.
5) Cara menyikat gigi Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyikat gigi sebagai berikut :
a) Teknik menyikat gigi harus dapat membersihkan semua permukaan gigi dan gusi secara efisien terutama daerah interdental.
b) Pergerakan dari sikat gigi tidak boleh menyebabkan kerusakan jaringan gusi atau abrasi gigi.
c) Teknik menyikat harus sederhana, tepat dan efisien dalam waktu.
d) Memijat gusi untuk melancarkan peredaran darah . Ada macam-macam cara penyikatan gigi, yaitu metode fisiologi, fone, Teknik roll, metode charter, metode bass, metode stillman, dan Teknik kombinasi.
Banyak cara yang tidak sesuai untuk anak-anak, salah satu cara yang dirasakan lebih baik untuk anak-anak ialah metode fone, karena cara ini sangat mudah dipelajari dan cukup efektif untuk anak-anak.
b. Pemeriksaan ke Dokter Gigi
Persatuan Dokter Gigi Indonesia (2006) dalam (N. A. Lubis, 2021) mengatakan pemeriksaan gigi ke dokter gigi masih sangat minim dilakukan pada masyarakat Indonesia. Padahal apabila sejak dini anak diajarkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan gigi secara rutin, maka angka kejadian karies gigi akan berkurang. Pemeriksaan ini 23 sangat dianjurkan pada anak usia sekolah, karena pada anak usia sekolah mengalami pergantian dari gigi susu menjadi gigi permanen.
c. Mengatur makanan Anak pada usia sekolah sering mengonsumsi makanan manis seperti cokelat, permen, kue, dan lain sebagainya.
Makanan manis mengandung larutan gula yang memiliki konsentrasi tinggi. Larutan tersebut dapat menembus plak gigi dam metabolisme untuk menghasilkan asam sebelum dinetralisasi oleh saliva. Oleh karena
itu pada anak usia sekolah dianjurkan diet rendah gula dan tinggi nutrisi serta memperhatikan perawatan gigi lainnya.
d. Penggunaan fluoride
Fluoride dibutuhkan oleh gigi untuk menjaga gigi dari dari kerusakan, namun kadarnya harus diperhatikan. Fluoride dapat menurunkan produksi asam dan meningkatkan pembentukan mineral pada dasar enamel. Pasta gigi yang sekarang beredar mengandung 0,15 % fluoride yang sebelumnya mengandung 0,10 % . fluoride dapat ditemukan dalam berbagai bentuk.
e. Flossing
Flossing membantu pencegahan karies gigi dengan menyingkirkan plak dan sisa makanan pada sela gigi. Waktu yang tepat untuk melakukan dental flossing adalah setelah menggosok gigi karena saat itu pasta gigi masih ada dalam mulut. Dental flossing yang dilakukan setelah menggosok gigi akan membantu penyebaran pasti gigi ke sela-sela gigi (N. A. Lubis, 2021)
5. Cara sikat gigi yang benar
Secara umum, anak dapat menggosok gigi tanpa pengawasan orang tuanya mulai umur 9 tahun, akan tetapi sampai umur 14 tahun sebaiknya orang tua selalu memeriksa apakah anak dapat menggosok gigi dengan baik dan benar.
Kegiatan menjaga kebersihan dan kesehatan gigi, dianjurkan untuk rutin menyikat gigi setidaknya tiga kali dalam sehari. Namun banyak anak- anak yang keliru melakukan aktivitas ini yaitu menggosok gigi berbarengan dengan aktivitas mandi.
Menurut Sariningsih (2014), Menggosok gigi yang baik adalah tiga kali sehari yakni sesudah makan pagi, sesudah makan siang, dan sebelum tidur.
Menggosok gigi selama 120 detik dapat menghapus plak 26% lebih banyak dibandingkan menggosok gigi selama 45 detik. (Santi & Khamimah, 2019).
Cara Menggosok Gigi yang Benar menurut Kementrian Kesehatan RI (2012) dalam (Santi & Khamimah, 2019) adalah sebagai berikut ;
19
a. Menyiapkan sikat gigi dan pasta yang mengandung Fluor (salah satu zat yang dapat menambah kekuatan pada gigi). Banyaknya pasta kurang lebih sebesar sebutir kacang tanah (1/2 cm).
b. Berkumur-kumur dengan air bersih sebelum menyikat gigi.
c. Seluruh permukaan gigi disikat dengan gerakan maju mundur pendek- pendek atau memutar selama ± 2 menit (sedikitnya 8 kali gerakan setiap 3 permukaan gigi).
d. Berikan perhatian khusus pada daerah pertemuan antara gigi dan gusi.
e. Lakukan hal yang sama pada semua gigi atas bagian dalam. Ulangi gerakan yang sama untuk permukaan bagian luar dan dalam semua gigi atas dan bawah.
f. Untuk permukaan bagian dalam gigi rahang bawah depan, miringkan sikat gigi. Setelah itu, bersihkan gigi dengan gerakan sikat yang benar.
g. Bersihkan permukaan kunyah dari gigi atas dan bawah dengan gerakan- gerakan pendek dan lembut maju mundur berulang- ulang.
h. Sikatlah lidah dan langit-langit dengan gerakan maju mundur dan berulangulang.
i. Janganlah menyikat terlalu keras terutama pada pertemuan gigi dengan gusi, karena akan menyebabkan email gigi rusak dan gigi terasa ngilu.
j. Setelah menyikat gigi, berkumurlah 1 kali saja agar sisa fluor masih ada di gigi.
k. Sikat gigi dibersihkan dengan air dan disimpan tegak dengan kepala sikat di atas.
l. Waktu menyikat gigi sebaiknya setiap setelah makan kita menyikat gigi, tapi hal ini tentu saja agak merepotkan. Hal yang terpenting dalam memilih waktu menyikat gigi adalah pagi hari sesudah makan dan malam hari sebelum tidur.
C. Konsep Dental Health Education 1. Definisi dental health education
Dental health education adalah pemberian informasi berupa pemahaman yang komprehensif tentang kesehatan gigi dan mulut serta faktor
penentu,berbagai metode,dan membutuhkan rencana tindakan yang tepat oleh semua pihak. Salah satu cara yang dipakai dalam dental health education ialah menggunakan media audio visual (Pitoy et al., 2021).
2. Pengaruh dental health education
Pendidikan kesehatan menggunakan media video memberikan perubahan positif terhadap keterampilan siswa. karena dengan media video mempunyai banyak manfaat yang sangat membantu dalam memberikan informasi kepada siswa, dapat membantu siswa dalam memahami sebuah materi atau ilmu, para siswa akan lebih berkonsentrasi dan berimplikasi pada pemahaman mereka sendiri karena alat pendengaran dan penglihatan digunakan bersamaan sehingga para siswa lebih berkonsentrasi. Media video memiliki beberapa kelebihan, yaitu pesan yang disampaikan lebih menarik perhatian, gambaran visual dapat menyampaikan pesan dengan cepat, penyajian pesan secara visual dapat mendorong anak untuk berkonsentrasi, dapat membantu mengembangkan daya imajinasi yang abstrak, dan dapat membangkitkan motivasi.
Video efektif dimanfaatkan untuk pendidikan kesehatan gigi dan mulut pada anak prasekolah. Selain itu penelitian juga me-nunjukkan anak-anak yang menonton video tentang kesehatan gigi dan mulut memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku positif terhadap kebersihan gigi dan mulut. Video efektif diterapkan pada anak karena pesan yang disampaikan lebih menarikm perhatian, mempercepat pemahaman pesan, dan dapat membuat anak lebih berkonsetrasi.(Ardhani & Haryati, 2022) D. Konsep Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Notoatmodjo, 2021) dalam (Ardhani & Haryati, 2022)
2. Tingkat pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2021) dalam (Ardhani & Haryati, 2022), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu :
21
a. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (Comprehension) Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tenang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yag dipelajari.
c. Aplikasi (Application) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
d. Analisis (Analysis) Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis (Synthesis) Sintesis merupakan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaianpenilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada
3. Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Budiman dan Riyanto (2014) dalam (Kadek, 2019) yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan antara lain:
a. Pendidikan
Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan diri melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan memengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang, makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.
b. Informasi/media massa
Informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu.
c. Sosial, budaya, dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu sehingga status sosial ekonomi akan memengaruhi pengetahuan seseorang.
d. Lingkungan
Lingkungan adalah sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan juga berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak, yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.
e. Pengalaman
Sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu
23
f. Usia
Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik 4. Kriteria tingkat pengetahuan
Kriteria tingkat pengetahuan merurut Arikunto, (2006) dalam (Kadek, 2019) dibagi menjadi 3 yaitu:
Baik : hasil presentase 76%-100%
Cukup : hasil presentase 56%-75%
Kurang : hasil presentase <56%
E. Penelitian yang terkait
Menurut (Sampouw, 2023) didapatkan bahwa pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan dengan metode bermain nilai signifikansi 0,005 (p<0,05), dan metode ceramah nilai signifikansi 0,002 (p<0,05). Hasil uji independent t-test perbedaan pengetahuan antara metode bermain dan ceramah nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Ada perbedaan signifikan lebih tinggi pada kelompok dengan penyuluhan menggunakan metode bermain.
Hasil Penelitian (Siwi et al., 2025) didapatkan dalam uji Wilcoxon terhadap kelompok penyuluhan metode simulasi dan metode pemutaran video menunjukkan nilai p=0,00 (p<0,05) yang berarti pada kedua metode terdapat perbedaan bermakna sebelum dan setelah diberikan perlakuan. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p=0,689 (p>0,05), yang berarti tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua metode. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbedaan bermakna pada efektivitas antara Dental Health Education metode simulasi dan metode pemutaran video.
Adapun Hasil Penelitian (Nurhamidah et al., 2024) didapatkan Hasil uji T Paired terjadi kecenderungan peningkatan pengetahuan sesudah edukasi rata-rata 0,776, dan sikap 22.782. dengan nilai probabilitas atau p value uji T Paired = 0,000.
Artinya ada perbedaan antara sebelum dan sesudah perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa edukasi menggunakan media video animasi tentang cara menyikat gigi memberikan pengaruh yang signifikan pada pengetahuan dan sikap siswa/i.
F. Kerangka teori
Pengetahuan - Tingkat
pengetahuan - Faktor yang
mempengaruhi pengetahuan - Kriteria tingkat
pengetahuan Anak
- Karakteristik anak usia sekolah - Pertumbuhan anak
usia sekolah - Perkembangan
anak usia sekolah
Dental health Education
- Pengaruh dental health education Kesehatan Gigi
- Faktor- faktor yang mempengaruhi kesehatan gigi - Maslah pada gigi - Perawatan
kesehatan gigi
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Konsep adalah ide atau abstraksi yang tidak dapat diukur secara langsung, sedangkan kerangka merupakan struktur yang menghubungkan konsep-konsep dalam suatu penelitian, baik dalam bentuk teori maupun konsep penelitian.
Kerangka konsep menjelaskan secara konseptual hubungan antara variabel penelitian, kaitan masing-masing teori serta menjelaskan hubungan dua atau lebih variabel seperti variabel bebas dan variabel terikat. Penelitian yang hanya mengemukakan variabel secara mandiri perlu dilakukan deskripsi teori antara masing-masing variabel dengan memberikan pendapat terhadap variasi besarnya yang diteliti. Kerangka konsep penelitian menunjukkan hubungan terhadap konsep-konsep yang akan diukur dan diamati melalui penelitian yang akan dilakukan. Pemaparan kerangka konsep berbentuk diagram menunjukkan hubungan antar variabel yang akan diteliti. Penyusunan kerangka konsep yang baik akan memberikan informasi jelas pada peneliti serta dapat memberikan gambaran pemilihan desain penelitian yang akan digunakan (Adiputra et al., 2021)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Efektivitas dental health education menggunakan media video animasi terhadap pengetahuan kesehatan gigi pada anak usia sekolah di MI Nagajaya Cilograng. Adapun variabel yang akan diteliti yaitu dental health education menggunakan media video animasi dan pengetahuan kesehatan gigi. Hubungan variabel-variabel tersebut dapat divisualisasikan dalam bagan kerangka konsep sebagai berikut:
25
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Efektifitas pendidikan kesehatan dengan video DHE terhadap peningkatan pengetahuan tentang kesehatan gigi di MI Nagajaya Cilograng.
Keterangan :
: Variabel yang di teliti
O₁ : Pengukuran sebelum intervensi O₂ : Pengukuran setelah intervensi X : Intervensi
B. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah suatu penjelasan mengenai konsep, objek, atau kondisi penelitian dalam bentuk yang spesifik, terukur, dan dapat diuji secara empiris.
Definisi ini digunakan untuk mengubah hipotesis konseptual yang bersifat abstrak menjadi hipotesis operasional yang dapat diuji secara langsung.Definisi operasional sangat diperlukan karena konsep, objek atau kondisi penelitian dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda untuk setiap peneliti (Adiputra et al., 2021)
3.2 Tabel Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional
Alat Ukur Cara Ukur Skala Variabel Independen
Pemberian edukasi DHE ( dental health
education) menggunakan media
video animasi
Tingkat pengetahuan anak tentang kesehatan Gigi Pre test
Tingkat pengetahuan anak tentang kesehatan Gigi
Post test O₁ X
O₂
27
1.
No Variabel Definisi Operasional
Variabel Dependen 1.
C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian merupakan sebuah pernyataan atau jawaban yang dibuat sementara dan akan diuji kebenarannya. Pengujian hipotesis penelitian dilakukan melalui uji statistik. Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara dari tujuan penelitian. Hipotesis dapat disimpulkan berhubungan atau tidak, berpengaruh atau tidak diterima atau ditolak (Adiputra et al., 2021) Berdasarkan masalah yang diperoleh maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H1: ada pengaruh setelah diberikan dental health education dengan menggunakan video animasi terhadap pengetahuan kesehatan gigi pada anak usia sekolah di MI Nagajaya Cilograng
Ho: Tidak ada pengaruh setelah diberikan dental health education dengan menggunakan video animasi terhadap pengetahuan kesehatan gigi pada anak usia sekolah di MI Nagajaya Cilograng
Adiputra, I. M. S., Trisnadewi, N. W., Oktaviani, N. P. W., & Munthe, S.
A. (2021). Metodologi Penelitian Kesehatan.
Afrilia, L., Neviyarni, Arief, D., & Amini, R. (2022). Efektivitas Media Pembelajaran Berbasis Video Animasi Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas Iv Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendas, 8(3), 710–721. https://doi.org/10.31949/jcp.v8i3.2559
American Dental Association. (2020). Definisi kesehatan gigi.
RedaSamudera.id. Retrieved
fromhttps://redasamudera.id/definisi- kesehatan-gigi-menurut-para-ahli
Ardhani, R. A., & Haryati, S. (2022). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Media Video terhadap Pengetahuan Menggosok Gigi pada Siswa. JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat, 3(2), 151–157. https://doi.org/10.47575/jpkm.v3i2.371 Aulia, H., Laksmiastuti, S. R., Widhianingsih, D., Gigi, F. K., Trisakti, U.,
Tapa, J. K., Petamburan, K. G., & Barat, K. J. (2021). Pengetahuan Anak Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum dan Sesudah Dilakukan DHE dengan Pembuatan Video Edukasi ( Kajian pada Siswa Kelas III SDIT Alamy Subang ). ISSN, 2(1), 55–62.
Gede Surya Kencana, I., & Ayu Dewi Kumala Ratih, I. (2023). Aplikasi Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Keluarga Bapak I WY. S dengan Anak Menderita Karies Gigi di Wilayah Kerja Puskesmas Denpasar Selatan tahun 2023. Dental Health Journal), 10(2), 131–
142. https://doi.org/10.33992/jkg.v
Ilmianti, Selviani, Y., Pertiwisari, A., Sembiring, I. A., & Hasanah, U.
(2025). HUBUNGAN PERILAKU MENYIKAT GIGI TERHADAP STATUS. 07(1), 22–30.
Kadek, D. L. (2019). Efektifitas Pendidikan Kesehatan Dengan Media Video Bergambar Terhadap Peningkatan Pengetahuan Tentang Kesehatan Gigi Dan Mulut Di Sd Saraswati 1 Denpasar. Repository Itekes Bali.
28
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana impaksi gigi. Kemenkes RI.
https://repository.kemkes.go.id/book/1274
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Laporan nasional Riskesdas 2023. Kemenkes RI.
Lubis, N. A. (2021). Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap Anak Usia Sekolah Dasar Dalam Penerapan Kesehatan Gigi dan Mulut Di SDN 200111 Kota Padangsidimpuan. DSpace, 6, 3.
Lubis, R., Rahmi, D. A., Kania, D. A., Pawira, E. A. S. S., Imelda, I., Andini, N., & Nadella, N. (2024). Masa Sekolah dan Perkembangan Anak Usia 6-12 Tahun. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(2), 22304–
22314.
Nurhamidah, N. N., Nuratni, N. K., & Wirata, I. N. (2024). Pengaruh Edukasi dengan Media Video Animasi tentang Cara Menyikat Gigi terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa- Siswi SD Swasta Riad Madani Kecamatan Percut Sei Tuan. Jurnal Kesehatan Gigi (Dental
Health Journal), 11(1), 59–64.
https://doi.org/10.33992/jkg.v11i1.3182
Pitoy, A. D., Wowor, V. N. S., & Leman, M. A. (2021). Efektivitas Dental Health Education Menggunakan Media Audio Visual dalam Meningkatkan Pengetahuan Siswa Sekolah Dasar. E-GiGi, 9(2), 243.
https://doi.org/10.35790/eg.v9i2.34903
Qisthi, S. A., Septiani, P., Awalia, W., & Tannia, W. (2020). Karakteristik Siswa Sekolah Dasar dan Pendidikan Inklusif. As-Sabiqun, 2(1), 7–
17.
Sampouw, N. L. (2023). Pengaruh Metode Bermain Dan Ceramah Terhadap Pengetahuan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Anak Sekolah Dasar. Klabat Journal of Nursing, 5(2), 1.
https://doi.org/10.37771/kjn.v5i2.948
Jurnal Kesehatan Gigi, 1(5), 16–25.
https://jurnal.umj.ac.id/index.php/SEMNASFIP/index
Siwi, J. A. C., Mariati, N. W., & Wowor, V. N. S. (2025). Efektivitas Dental Health Education Metode Simulasi dan Metode Pemutaran Video terhadap Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Siswa Sekolah Dasar. 13(2), 330–335.
Suryani, I. (2023). Analisis Tahap Perkembangan Karakteristik pada Anak Usia Pendidikan Dasar. Health Information: Jurnal Penelitian, 15(2), 1–8.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Tersedia [online]
https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/
Suseno, M. R., Fitri Hamidiyanti, B. Y., & Ayu Ningsih, W. (2021).
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Video Dan Alat Peraga Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Tentang Personal Hygiene Pada Masa Menstruasi Dalam Layanan Homecare.
Jurnal Kebidanan, 10(2), 59–69.
https://doi.org/10.35890/jkdh.v10i2.216
World Health Organization. (2021). Kesehatan gigi dan kesehatan umum.
RedaSamudera.id. Retrieved from https://redasamudera.id/definisi- kesehatan-gigi-menurut-para-ahli
World Health Organization. (2022). Global Oral Health Status Report:
Towards Universal Health Coverage for Oral Health by 2030.
Diakses dari
https://www.who.int/publications-detail-redirect/9789240061484 World Health Organization. (2022). WHO highlights oral health neglect
affecting nearly half of the world's population. Diakses dari
https://www.who.int/news/item/18-11-2022-who-highlights-oral-
health-neglect-affecting-nearly-half-of-the-world-s-population