• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBAGA PENEGAKAN HUKUM

N/A
N/A
iman Harrio Putmana

Academic year: 2023

Membagikan "LEMBAGA PENEGAKAN HUKUM"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Pendahuluan

Pemilu dan Pemilukada sebagai perwujudan pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan dalam suatu sistem demokrasi langsung.

Salah satu sayarat pokok demokrasi adalah adanya sistem pemilihan umum yang jujur dan adil (free and fair elections).

Dalam setiap tahapan Pemilu besar kemungkinan terjadi sengketa, pelanggaran, maupun kejahatan yang disebabkan oleh :

- Kecurangan (fraud) - Kekhilafan (Mistake)

- Startegi pemenangan pemilu yang tidak melanggar hukum tetapi menurunkan kepercayaan public (non-Fraudulent misconduct)

PERAN LEMBAGA PENEGAKAN HUKUM

Pemilu jujur dan adil dapat dicapai apabila tersedia perangkat hukum yang mengatur proses pelaksanaan pemilu; sekaligus melindungi para penyelenggara, kandidat, pemilih, pemantau, dan warga negara pada umumnya

Oleh karena itu, pemilu yang jujur dan adil membutuhkan peraturan perundang- undangan pemilu beserta aparat yang bertugas menegakkan peraturan perundang- undangan pemilu tersebut.

Eric Barent menyatakan, peran peradilan tidak hanya menyelesaikan sengketa biasa tetapi juga harus memastikan terlaksananya prinsip-prinsip pemilu sehingga dapat diselamatkan dari upaya penyalahgunaan dan pelanggaran sistem pemilihan.

Instrumen Penegakan Hukum Yudikatif berkaitan persoalan Hukum Pemilihan/Pemilihan Umum

 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Menjadi Undang-Undang;

 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Menjadi Undang-Undang;

 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2020 Tentang Penetapan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Menjadi Undang-Undang;

 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum;

 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Tata Cara Penyelesaian Tindak Pidana Pemilihan dan Pemilihan Umum;

 Serta peraturan Perundang-undangan yang mengatur tentang Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Kekuasaan Kehakiman, Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara, dan lain sebagainya;

(2)

Dalam proses penegakan hukum Pemilu dan Pemilukada meliputi berbagai aspek hukum yaitu tata Negara, administrasi Negara, pidana dan perdata menyebabkan penanganannyapun di Lembaga yudikatif melibatkan beberapa lembaga peradilan yaitu Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, Pengadilan Tata Usaha Negara dan Peradilan umum.

Berbagai Peraturan perundang-undang yang mengatur tentang Pemilihan Umum yang telah ditetapkan sebagai aturan main pelaksanaan Pemilu, ketentuan yang mengatur tentang penyelesaian sengketa dan pelanggaran Pemilu di Lembaga Peradilan diantaranya :

Mahkamah Agung

Pasal 76 Undang-Undang Pemilihan Umum :

Dalam hal peraturan KPU diduga bertentangan dengan Undang-Undang ini, Pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung;

Pasal 146 Undang-Undang Pemilihan Umum :

Dalam hal peraturan Bawaslu diduga bertentangan dengan Undang-Undang ini, Pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung;

Mahkamah Konstitusi

Kewenangan mahkamah Konstitusi adalah memeriksa, mengadili, dan memutuskan perselisihan hasil Pemilu sebagai perselisihan antara Komisi Pemilihan Umum dengan peserta pemilu, mengenai penetapan perolehan suara hasil pemilu yang dapat mempengaruhi perolehan suara peserta Pemilu (pasal 474, 475 undang- undang Pemilu).

Pengadilan Tata Usaha Negara

Pengadilan Tata Usaha Negara yang memiliki kewenangan memeriksa, mengadili dan memutuskan sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha Negara pemilu antara peserta Pemilu (calon anggota DPR, DPD, DPRD

provinsi,

DPRD

kabupaten/kota, atau partai politik

caton Peserta

Pemilu, atau bakal

Pasangan

Calon /

Calon Gubernur, Calon Bupati, dan Calon Walikota

)

dengan Komisi Pemilihan Umum sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Bawaslu (pasal 469 Undang-Undang Pemilihan Umum), KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota (Pasal 470 Undang-Undang Pemilihan Umum dan Pasal 153 Undang-Undang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota);

Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi

Pengadilan negeri yang memiliki kewenangan memeriksa, mengadili dan mumutuskan tindak pidana Pemilu dan gugatan perdata berkaitan dengan Pemilu seperti tuntutan ganti rugi (pasal 481 Undang-Undang Pemilihan Umum, Pasal 147 Undang-Undang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota dan Pasal 2 Huruf b Perma Nomor 1 Tahun 2018).

Tindak Pidana Pemilu

(3)

Tindak pidana yang sering juga disebut sebagai delik (delict) merupakan perbuatan pidana yang di dalamnya terdapat unsur kejahatan maupun unsur pelanggaran, yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang yang melakukan perbuatan yang melanggar nilai ketertiban masyarakat tersebut.

Rumusan atau defenisi tindak pidana pemilu secara umum tidak dijelaskan secara rinci, namun di dalam rumusan pasal-pasal dan penjelasan dari berbagai peraturan perundang-undang mengenai Pemilihan/Pemilihan Umum mengatur hal-hal yang termasuk rumusan unsur Tindak Pidana dalam Pemilihan/Pemilihan Umum;

Ruang lingkup tindak pidana pemilu memang amat luas cakupannya, meliputi semua tindak pidana yang terjadi pada proses penyelenggaraan pemilu.

Topo Santoso memberikan defenisi tindak pidana pemilu dalam tiga bentuk meliputi:

1.

Semua tindak pidana yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu yang diatur di dalam Undang-undang Pemilu.

2.

Semua tindak pidana yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu yang diatur di dalam maupun di luar Undang-undang Pemilu (misalnya dalam Undang-undang Partai Politik ataupun di dalam KUHP).

3.

Semua tindak pidana yang terjadi pada saat pemilu (termasuk pelanggaran lalu lintas, penganiayaan, kekerasan, perusakan dan sebagainya.

Ketentuan Pidana

Berbagai macam tindak pidana pemilu yang diatur secara khususu di dalam Undang-undang Pemilihan/Pemilihan Umum serta tindak pidana lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undang lainnya seperti sebagaimana diatur dalam KUHP;

Tindak pidana Pemilu dibagi dalam 2 (dua) kategori yaitu tindak pidana pelanggaran dan tindak pidana kejahatan.

Didalam Undang-Undang Pemilihan Umum

Tindak Pidana Pemilu secara lengkap diatur dalam Pasal 488 sampai Pasal 554 .

Didalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Menjadi Undang-Undang diatur dalam BAB Ketentuan Pidana Pasal 177 sampai dengan Pasal 198.

(4)

Dalam Perubahannya di Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 terdapat penambahan, perubahan, dan penghapusan Pasal diantaranya :

Penambahan Pasal 177A, Pasal 177B, Pasal 178 A sampai Pasal 178 H, Pasal 182 A dan Pasal 182 B, Pasal 185 A dan Pasal 185 B, Pasal 186 A, Pasal 187 A sampai Pasal 187 D, Pasal 190 A, Pasal 193A =Pasal 193B, dan Pasal 198 A;

Perubahan Pasal 180, Pasal 193;

Penghapusan Pasal 196;

Sebagaian besar tindak pidana pemilu yang dianggap penting dan perlu diperhatikan oleh masyarakat, sebagai berikut:

Dilarang memberikan keterangan tidak benar dalam pengisian data diri daftar pemilih;

Kepala desa dilarang yang melakukan tindakan menguntungkan atau merugikan perserta pemilu;

Setiap orang dilarang mengacaukan, menghalangi atau mengganggu jalannya kampanye pemilu;

Setiap orang dilarang melakukan kampanye pemilu di luar jadwal yang telah ditetapkan KPU;

Pelaksana kampanye pemilu dilarang melakukan pelanggaran larangan kampanye;

Dilarang memberikan keterangan tidak benar dalam laporan dana kampanye pemilu;

Majikan yang tidak membolehkan pekerjanya untuk memilih;

Dilarang menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya;

Orang yang baik ancaman, baik kekerasan atau kekuasaan yang ada padanya menghalangi seseorang untuk terdaftar sebagai Pemilih dalam Pemilu;

Dilarang menetapkan jumlah surat suara yang dicetak melebihi jumlah yang ditentukan;

Dilarang menjanjikan atau memberikan uang kepada Pemilih;

Dilarang memberikan suaranya lebih dari satu kali.

 Dilarang memalsukan

data dan daftar pemilih;

Ancaman Pidana terdiri dari pidana Penjara dan Kurungan dari ketentuan pidana penjara atau ketentuan pidana kurungan paling lama 6 bulan hingga ketentuan paling lama 6 tahun dan di dalam tindak pidana Pemilu Ketentuan penjatuhan Pidana bersifat Komulatif dengan adanya pidana denda yang dijatuhkan dari ketentuan denda paling banyak

(5)

Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) hingga ketentuan Denda paling banyak Rp240.000.000,00 (dua ratus empat puluh juta rupiah).”

Penegakan Hukum Tindak Pidana Pemilu di Lembaga Peradilan Umum.

Penyelesaian Tindak pidana pemilu peradilannya permanen berada di Pengadilan Negeri dan Pengadilan tingkat banding di Pengadilan Tinggi dengan keputusan yang berisifat final and binding.

Pengadilan Negeri menerima pelimpahan berkas dari Kejaksaan oleh Jaksa yang menuntut tindak pidana pemilu tersebut sehingga Perkara tindak pidana pemilu bermuara di pengadilan yang akan menyelesaikan perkara tersebut sesuai waktu yang ditentukan.

Sebagaimana selain diatur dalam Undang-Undang Pemilu dan Undang-Undang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota mengenai Penanganan Tindak Pidana Pemilu di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi (Peradilan Umum) juga diatur secara khusus di dalam Perma Nomor 1 Tahun 2018 tentang Tentang Tata Cara Penyelesaian Tindak Pidana Pemilihan dan Pemilihan Umum.

Hal-Hal Khusus di dalam system Peradilan Tindak Pidana Pemilihan/Pemilihan Umum :

Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi berwenang memeriksa, mengadili dan memutus Tindak Pidana Pemilihan/Pemilihan Umum yang timbul karena laporan dugaan tindak pidana pemilihan yang diteruskan Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Panwas Kabupaten/Kota kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (pasal 2 huruf a dan B Perma 1 Tahun 2018);

Secara Pengadilan Negeri memeriksa, mengadili dan memutus paling lama 7 (tujuh) Hari setelah Pelimpahan berkas Perkara - dapat bersidang malam hari (pasal 3 Perma 1 Tahun 2018);

Pemeriksaan dapat dilakukan tanpa kehadiran Terdakwa (pasal 3 Perma 1 Tahun 2018);

Permohonan Banding 3 (tiga) hari sejak putusan dibacakan atau sejak putusan disampaikan (pasal 3 Perma 1 Tahun 2018);

Pengadilan Negeri melimpahkan berkas ke Pengadilan Tinggi 3 (tiga) hari setelah permohonan banding diterima (pasal 3 Perma 1 Tahun 2018);

Pengadilan Tingkat Banding mengadili paling lama 7 (tujuh) hari setelah permohonan banding diterima (pasal 3 Perma 1 Tahun 2018);

Putusan Pengadilan Tingkat Banding merupakan putusan terakhir dan mengikat (final and Binding) tidak dapat dilakukan upaya hukum apapun (pasal 3 Perma 1 Tahun 2018);

Putusan disampaikan kepada Penuntut Umum paling lambat 3 (tiga) hari setelah putusan dibacakan dan paling lambat 3 (tiga) hari putusan sudah dilaksanakan setelah diterima Jaksa (pasal 3 Perma 1 Tahun 2018);

(6)

Putusan tindak pidana Pemilihan/Pemilu yang dapat mempengaruhi perolehan suara peserta pemilihan/Pemilu harus selesai paling lama 5 (lima) hari sebelum ditetapkan hasil pemilihan dan pemilu secara Nasional (pasal 3 Perma 1 Tahun 2018);

Majelis Khusus Tindak Pidana Pemilihan dan Pemilihan Umum yang memeriksa, mengadili dan memutus yang merupakan hakim Karir pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung (pasal 4 Perma 1 Tahun 2018);

Friedman, menyatakan bahwa sistem hukum terdiri dari substansi hukum (legal substance), struktur hukum (legal structure) dan budaya hukum (legal cultut).

Sinergistas bekerjanya ketiga komponen hukum tersebut, diharapkan membuat proses Pemilu/Pemilukada semakin baik, agar tidak ada lagi “pembiaran” proses pelanggaran yang terjadi dalam Pemilu/Pemilukada yang menciderai asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

Referensi

Dokumen terkait

bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi

Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota