UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059); Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta No. 3 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2015 Edisi 5, Tambahan Lembaran Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Edisi 5); Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup karena perbuatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup dalam menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. Surat pernyataan pengelolaan lingkungan hidup yang selanjutnya disingkat SPPL adalah surat pernyataan dari penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup dan pemantauan dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan.
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disebut Limbah B3 adalah sisa suatu perusahaan dan/atau kegiatan yang mengandung B3. Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang timbul karena adanya kegiatan yang berpotensi dan/atau berdampak terhadap lingkungan hidup.
PPLH bertujuan untuk
Ruang lingkup PPLH meliputi
PERENCANAAN
Daerah Istimewa RPPLH Yogyakarta; dan B. 4) Penyusunan RPPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memperhatikan: keanekaragaman karakter dan fungsi ekologi; sebaran potensi sumber daya alam;
PEMANFAATAN
PENGENDALIAN
Pemulihan Kerusakan
Pengendalian kerusakan ekosistem tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) huruf b meliputi:. mengatasi kerusakan ekosistem tanah; dan C. Pencegahan kerusakan ekosistem daratan Pasal 46 Pencegahan kerusakan ekosistem daratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 huruf a dilakukan dengan upaya :. penetapan kriteria baku kerusakan tanah; dan B. 1) Penetapan kriteria baku kerusakan lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf a dapat dilakukan lebih ketat dibandingkan kriteria baku kerusakan lahan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan/atau nasional. Bupati menetapkan izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf b untuk penggunaan ekosistem lahan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan hidup.
Pengendalian kerusakan ekosistem karst sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) huruf c meliputi: mengatasi kerusakan ekosistem karst; dan C. memulihkan fungsi kawasan ekosistem karst. Pencegahan kerusakan ekosistem karst sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 huruf a dilakukan melalui upaya yang meliputi: penetapan kriteria baku kerusakan ekosistem karst kawasan;
Umum
Pemerintah Daerah dan Dewan Rakyat Daerah mengalokasikan anggaran yang cukup untuk membiayai kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
PEMELIHARAAN
Pencadangan Air
Konservasi
Pencadangan
Pelestarian Fungsi
Pelestarian ekosistem karst sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat (1) huruf a meliputi kegiatan: a. pemanfaatan ekosistem karst secara berkelanjutan. Pelestarian fungsi ekosistem karst untuk pengendalian dampak perubahan iklim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat (1) huruf c, dilakukan dengan upaya. Pelestarian ekosistem hutan di luar kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 huruf a meliputi kegiatan :. perlindungan ekosistem hutan di luar kawasan hutan; pelestarian ekosistem hutan di luar kawasan hutan; Dan. pemanfaatan berkelanjutan ekosistem hutan di luar kawasan hutan.
Pemeliharaan fungsi ekosistem hutan di luar kawasan hutan untuk mengendalikan dampak perubahan iklim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 huruf c dilakukan dengan upaya. Kewajiban Pasal 90 Setiap orang wajib: menjaga stabilitas daya dukung dan daya dukung lingkungan hidup; pencegahan, pengurangan dan pemulihan pencemaran air, udara dan tanah; Dan. mencegah, mengatasi, dan memulihkan kerusakan ekosistem mangrove, tanah, karst, dan hutan di luar kawasan hutan.
Setiap orang dilarang
Pengawasan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) huruf a meliputi: mengawasi pelaksanaan kebijakan dan program/kegiatan PPLH yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah; pemantauan dampak lingkungan hidup yang timbul akibat pelaksanaan usaha dan/atau kegiatan, serta program dan kegiatan Pemerintah Daerah; Bentuk pengawasan sosial yang lain boleh dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan kegiatan PPLH yang dilakukan secara mandiri, bermitra dengan Pemerintah Daerah, dan/atau lembaga lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) huruf d dapat berupa: pencegahan, pengendalian, dan pemulihan akibat pencemaran lingkungan hidup; pencegahan, mitigasi, dan pemulihan kerusakan lingkungan hidup; remediasi lahan yang terkontaminasi limbah B3; dan e. SISTEM INFORMASI LINGKUNGAN Bagian 102.
PERIZINAN
EKOLOGI WISATA
PENGHARGAAN
PEMBINAAN
PENGAWASAN
KETENTUAN PIDANA
PASAL DEMI PASAL Pasal 1
Daerah menjamin pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat, baik generasi sekarang maupun generasi mendatang. Daerah mencegah pelaksanaan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan asas konservasi dan keberlanjutan adalah setiap manusia mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi yang akan datang dan terhadap sesamanya dalam satu generasi, dengan melakukan upaya untuk menjaga daya dukung ekosistem dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. .
Yang dimaksud dengan “asas keselarasan dan keseimbangan” adalah pemanfaatan lingkungan hidup harus memperhatikan berbagai aspek seperti kepentingan ekonomi, sosial, budaya, serta perlindungan dan pelestarian ekosistem. Yang dimaksud dengan “asas kesejahteraan sosial” adalah upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dapat membantu terciptanya kondisi terpenuhinya kebutuhan materil, rohani, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri. sedemikian rupa. sehingga mereka dapat menjalankan fungsi sosialnya. Yang dimaksud dengan “asas kemurahan hati” adalah segala upaya dan/atau kegiatan pembangunan yang dilakukan disesuaikan dengan potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan harkat dan martabat manusia selaras dengan lingkungan hidup.
Yang dimaksud dengan “asas keadilan” adalah perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus mencerminkan keadilan yang proporsional bagi setiap warga negara, baik lintas wilayah, lintas generasi, dan lintas gender. Yang dimaksud dengan “asas keanekaragaman hayati” adalah perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan upaya terpadu untuk melestarikan keberadaan, keanekaragaman, dan kelestarian sumber daya alam hayati, yang terdiri atas sumber daya alam tumbuhan dan sumber daya alam hewan serta unsur non hayati. dalam lingkungan Hidup lingkungan secara keseluruhan membentuk suatu ekosistem. Asas “pencemar membayar” mengandung arti bahwa setiap penanggung jawab yang usaha dan/atau kegiatannya menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup wajib menanggung biaya pemulihan lingkungan hidup.
Yang dimaksud dengan “asas partisipatif” adalah setiap anggota masyarakat didorong untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang dimaksud dengan geospasial adalah aspek ruang yang menunjukkan letak, letak dan kedudukan suatu benda atau peristiwa yang berada di bawah, di atas, atau di atas permukaan bumi, yang dinyatakan dalam suatu sistem koordinat tertentu. Yang dimaksud dengan “udara ambien” adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfer dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia yang diperlukan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup, dan unsur lingkungan hidup lainnya.
Yang dimaksud dengan “berhentinya sumber pencemar” adalah terhentinya siklus pencemaran bagi setiap usaha dan/atau kegiatan yang melepaskan bahan pencemar ke dalam tanah sehingga menyebabkan tanah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Yang dimaksud dengan “remediasi” adalah upaya pemulihan pencemaran lingkungan hidup untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan “restorasi” adalah upaya mengembalikan lingkungan hidup atau bagian-bagiannya agar dapat berfungsi seperti semula.