A. Pendahuluan
Perjalanan dinas merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh penyelenggara negara baik pusat maupun daerah karena berbagai kepentingan antara lain, studi komparasi, rapat, seminar, diklat dan berbagai kegiatan lainnya.
Perjalanan dinas dengan sumber dana APBN/APBD menjadi isu dalam pengelolaan keuangan daerah karena dalam banyak entitas pemerintah daerah, jumlah belanja perjalanan dinas cenderung tidak wajar dan tidak efisien dalam pelaksanaan perjalanan dinas.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.05/2012 tentang Perjalanan Dinas Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap pada Pasal 1 menyatakan bahwa perjalanan dinas dalam negeri yang selanjutnya disebut perjalanan dinas adalah perjalanan ke luar tempat kedudukan yang dilakukan dalam wilayah Republik Indonesia untuk kepentingan negara.
Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (birokrasi), perjalanan dinas menjadi salah satu pemicu komponen biaya penyelenggaraan daerah dan memiliki peran penting dalam mencapai tujuan daerah. Belanja perjalanan dinas merupakan belanja langsung dalam APBD yang artinya ada target kinerja khusus yang ingin dicapai oleh Pemerintah Daerah dalam melaksanakan perjalanan dinas tersebut.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.05/2012 juga telah mengatur Tentang Standar Perjalanan Dinas Jabatan. Namun di Daerah, besaran biaya satuan perjalanan dinas ditetapkan sendiri oleh masing-masing pemerintah daerah melalui Keputusan Kepala Daerah tentang Standar Satuan Harga/Biaya Perjalanan Dinas. Ketidakseragaman prinsip dan tarif perjalanan dinas merupakan hal yang terjadi di seluruh entitas sebagai efek dari otonomi daerah dimana masing- masing pemerintah daerah (Provinsi, Kabupaten, Kota) menetapkan sendiri-sendiri prinsip dan tarif yang diberlakukannya, sehingga memicu berbagai kepentingan di dalamnya. Kesenjangan prinsip dan tarif juga mengarah pada perbedaan perlakuan dan gaya hidup pelaksana perjalanan dinas, dapat menimbulkan kecemburuan antar pelaksana perjalanan dinas pada saat para pelaksana perjalanan dinas dari berbagai
entitas pada tujuan dan lokasi yang sama tetapi fasilitas dan perlakuan yang diterima dari pemberi tugas berbeda-beda.
Pemerintah Kota Bandung, telah memetapkan standar biaya perjalanan dinas luar daerah melalui Keputusan Walikota Bandung Nomor 027/Kep.832- DPKAD/2015 tanggal 1 September 2015 Standarisasi Harga Tertinggi Satuan Barang/Jasa di Lingkungan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2016. Komponen biaya perjalanan dinas jabatan tersebut meliputi Uang harian (transportasi lokal, uang makan dan uang saku), biaya transport (tiket, taksi dari dan ke bandara/pelabuhan/tol/retribusi), biaya penginapan (hotel atau tempat lainnya), uang representasi, sewa kendaraan dalam kota (pejabat negara).
Penentuan biaya perjalanan dinas luar daerah di Kota Bandung perlu dievaluasi melalui kajian akademis, agar memenuhi Prinsip Perjalanan Dinas yaitu selektif, yaitu hanya untuk kepentingan yang sangat tinggi dan prioritas yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan; ketersediaan anggaran dan kesesuaian dengan pencapaian kinerja Kementerian Negara/Lembaga; efisiensi penggunaan belanja negara; serta akuntabilitas pemberian perintah pelaksanaan perjalanan dinas dan pembebanan biaya perjalanan dinas.
Penganggaran belanja perjalanan dinas dalam rangka kunjungan kerja dan studi banding, dilakukan secara selektif, frekuensi dan jumlah harinya dibatasi serta memperhatikan target kinerja dari perjalanan dinas dimaksud sehingga relevan dengan substansi kebijakan pemerintah daerah. Belanja perjalanan dinas yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip efisien dan ekonomis mengakibatkan anggaran belanja perjalanan dinas tidak mencerminkan kebutuhan dan kenyataan yang sebenarnya serta menjadi tidak efektif.
Berdasarkan uraian tersebut, maka pada Tahun Anggaran 2017, Bappelitbang Kota Bandung akan melaksanakan Kajian Evaluasi Biaya Perjalanan Dinas Luar Daerah. Untuk itu, dengan adanya pengendalian anggaran belanja perjalanan dinas yang efisien diharapkan pemenuhan kebutuhan/ urusan wajib Pemerintah Daerah bisa dimaksimalkan terutama pada pelayanan dasar seperti sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Adapun maksud dari kajian ini adalah melakukan evaluasi biaya Perjalanan Dinas Luar Daerah di Kota Bandung. Dengan tujuan untuk menyusun rekomendasi biaya Perjalanan Dinas Luar Daerah yg efektif dan efisien sesuai kebutuhan.
Adapun target/sasaran dari kajian ini adalah tersedianya dokumen kajian evaluasi Biaya Perjalanan Dinas Luar Daerah yang berisi rekomendasi biaya Perjalanan Dinas Luar Daerah agar penggunaan anggaran belanja perjalanan dinas menjadi lebih efektif dan efisien, sehingga pemenuhan kebutuhan/urusan wajib Pemerintah Daerah dapat dimaksimalkan. Kajian evaluasi Perjalanan Dinas Luar Daerah ini dilaksanakan di Kota Bandung dengan alokasi waktu 60 (enam puluh) hari kalender, yaitu pada 21 Februari 2017 – 21 April 2017
B. Metodologi
Metode Pengumpulan Data
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah dengan metode peramalan.
Peramalan (forecasting) adalah kegiatan memperkirakan apa yang terjadi pada masa yang akan datang berdasarkan data yang relevan pada masa lalu dan menempatkannya ke masa yang akan datang dengan suatu bentuk model yang sistematis. Bisa juga merupakan prediksi intuisi yang bersifat subjektif atau dengan menggunakan kombinasi model matematis yang disesuaikan dengan pertimbangan yang dilakukan. Metode peramalan yang baik adalah memberikan hasil peramalan yang tidak berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Adapun metode dan model yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Metode Kuantitatif dan Kualitatif
Metode kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik (Sugiyono, 2013: 14). Kemudian, Sugiyono (2013: 15) juga menjelaskan bahwa metode kualitatif digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, menggunakan metode pengambilan sampel tertentu, teknik pengumpulan data dengan gabungan, analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makda dari pada generalisasi. Metode gabungan
yang digunakan berupaya memasukkan faktor-faktor subyektif dalam model peramalan.
2. Model Runtut Waktu (Time Series)
Model ini berusaha untuk mempresiksi masa depan dengan menggunakan data historis. Data time series merupakan data yang dikumpulkan, dicatat atau diobservasi sepanjang waktu secara berurutan. Periode waktu observasi dapat berbentuk tahun, kuartal, bulan, minggu dan dibeberapa kasus dapat juga hari atau jam. Time series dianalisis untuk menemukan pola variasi masa lalu yang dapat digunakan untuk memperkirakan nilai masa depan serta membantu dalam membuat perencanaan. Menganalisis time series berarti membagi data masa lalu menjadi komponen-komponen dan kemudian memproyeksikannya ke masa depan. Analisis time series dipelajari karena dengan mengamati data time series akan terlihat 4 (empat) komponen yang mempengaruhi suatu pola data masa lalu dan sekarang, yang cenderung berulang dimasa mendatang.
Peramalan usulan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan model time series yang mengasumsikan bahwa pola belanja perjalanan dinas akan berlanjut dan berulang dimasa yang akan datang. Dimulai dengan pengumpulan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Keputusan Walikota terkait belanja perjalanan dinas, kemudian diidentifikasi pola datanya, dan dilakukan peramalan dengan metode yang sesuai dengan pola data. Setelah itu dilakukan uji akurasi untuk kemudian dibandingkan dengan biaya perjalanan dinas pada Kabupaten/Kota lain.
Teknik Pengumpulan Data yang Digunakan
Dari segi cara atau teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Sumber informasi data dalam bentuk dokumen yang sangat membantu dan bermanfaat dalam proses penelitian, yaitu data belanja perjalanan dinas 5 (lima) tahun kebelakang dan data-data pendukung lainnya seperti data belanja perjalanan dinas pada beberapa Kabupaten/Kota di Indonesia, data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten/Kota se-Indonesia dan Kota Bandung secara khusus, serta Peraturan terkait.
Metode Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisis data adalah kegiatan menyeleksi data/informasi atas dasar reliabilitas dan validitas. Data yang telah diperoleh melalui surveyor kemudian diproses lebih lanjut dalam pengolahan dan analisis data yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1
Alur Proses Pengolahan dan Analisis Data
Data historis Belanja Perjalanan Dinas dan data pendukung lainnya yang telah diperoleh kemudian dilakukan penyeleksian data. Setelah melakukan penyeleksian data dengan memilah data yang lengkap dan kurang lengkap, selanjutnya data yang lengkap akan dianalisis menggunakan metode peramalan.
Moleong (dalam Prastowo, 2011: 238) mendefinisikan analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Selanjutnya teknik analisis data yang digunakan dalam kajian evaluasi ini dengan metode peramalan dan time series.
Model time series berusaha untuk mempresiksi masa depan dengan menggunakan data historis. Data time series merupakan data yang dikumpulkan, dicatat atau diobservasi sepanjang waktu secara berurutan. Periode waktu observasi dalam penelitian ini berbentuk tahun. Time series dianalisis untuk menemukan pola variasi masa lalu yang dapat digunakan untuk memperkirakan nilai masa depan serta membantu dalam membuat perencanaan. Menganalisis time series berarti membagi data masa lalu menjadi komponen-komponen dan kemudian memproyeksikannya ke masa depan. Analisis time series digunakan karena dengan mengamati data time series akan terlihat 4 (empat) komponen yang mempengaruhi
Metode Peramalan
Data Historis Belanja Perjalanan Dinas dan data pendukung lainnya
Penyeleksian Data
suatu pola data masa lalu dan sekarang, yang cenderung berulang dimasa mendatang.
Peramalan usulan menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif dengan metode time series dengan asumsi bahwa pola belanja perjalanan dinas akan berlanjut dan berulang dimasa yang akan datang. Dimulai dengan pengumpulan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Keputusan Walikota terkait belanja perjalanan dinas, kemudian diidentifikasi pola datanya, dan dilakukan peramalan dengan metode yang sesuai dengan pola data. Setelah itu dilakukan uji akurasi untuk kemudian dibandingkan dengan biaya perjalanan dinas pada Kabupaten/ Kota lain.
C. Analisis Data dan Pembahasan
Setelah melakukan pengumpulan data berupa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Jawa Barat dan Kota Bandung, juga tabulasi data Perjalanan Dinas Kota Bandung dan Kabupaten/Kota lainnya, maka tahap selanjutnya yang akan dilaksanakan adalah pengolahan data dan peramalan belanja Perjalanan Dinas untuk tahun 2017 sehingga akan menghasilkan satuan biaya Perjalanan Dinas yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
PDRB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. Berikut ini adalah data laju PDRB di Jawa Barat:
Tabel 2
Laju PDRB ADH Konstan Menurut Pengeluaran Tahun 2011-2015
(dalam %)
NO NAMA
KAB/KOTA
TAHUN
JUMLAH RATA- RATA 2011 2012 2013 2014 2015
1 Kab Bogor 5.86 6.01 6.14 6.01 6.09 24.24 4.85
2 Kab Sukabumi 4.42 6.38 5.51 5.98 4.91 22.77 4.55 3 Kab Cianjur 4.89 5.60 4.89 5.06 5.46 21.01 4.20 4 Kab Bandung 5.82 6.28 5.92 5.91 5.89 23.99 4.80
5 Kab Garut 4.95 4.07 4.76 4.81 4.51 18.15 3.63
6 Kab Tasikmalaya 4.25 4.02 4.65 4.78 4.31 17.77 3.55 7 Kab Ciamis 5.23 5.41 5.34 5.07 5.58 21.41 4.28 8 Kab Kuningan 5.62 5.71 6.25 6.32 6.38 24.66 4.93 9 Kab Cirebon 5.23 5.46 4.96 5.07 4.87 20.37 4.07 10 Kab Majalengka 4.71 6.06 4.93 4.91 5.33 21.23 4.25 11 Kab Sumedang 4.79 6.56 4.84 4.70 5.23 21.34 4.27
NO NAMA KAB/KOTA
TAHUN
JUMLAH RATA- RATA 2011 2012 2013 2014 2015
12 Kab Indramayu 4.06 3.18 2.86 4.93 2.16 13.13 2.63 13 Kab Subang 3.27 0.60 4.09 5.02 5.29 15.00 3.00 14 Kab Purwakarta 6.70 6.83 7.15 5.72 4.75 24.45 4.89 15 Kab Karawang 6.56 4.94 7.96 5.37 4.49 22.77 4.55 16 Kab Bekasi 6.60 6.53 6.23 5.88 4.46 23.11 4.62 17 Kab Bandung Barat 5.68 6.04 5.94 5.77 5.01 22.76 4.55 18 Kab Pangandaran 4.34 5.18 4.95 4.19 4.98 19.30 3.86 19 Kota Bogor 6.22 6.31 6.04 6.01 6.13 24.49 4.90 20 Kota Sukabumi 6.18 5.80 5.41 5.43 5.10 21.74 4.35 21 Kota Bandung 7.91 8.53 7.84 7.71 7.63 31.71 6.34 22 Kota Cirebon 5.78 5.92 4.90 5.71 5.80 22.33 4.47 23 Kota Bekasi 6.45 6.74 6.04 5.61 5.57 23.97 4.79 24 Kota Depok 6.81 8.06 6.85 7.28 6.63 28.81 5.76 25 Kota Cimahi 5.50 6.24 5.65 5.49 5.43 22.82 4.56 26 Kota Tasikmalaya 5.02 5.80 6.17 6.16 6.29 24.43 4.89 27 Kota Banjar 5.47 5.32 5.45 4.97 5.32 21.06 4.21 Provinsi Jawa Barat 6.50 6.50 6.33 5.09 5.03 22.96 4.59
Tabel 2 menunjukkan bahwa secara keseluruhan, Provinsi Jawa Barat memiliki laju PDRB rata-rata sebesar 4,59%. Kabupaten/Kota dengan nilai laju PDRB tertinggi adalah Kota Bandung, Kota Depok, dan Kab. Kuningan. Hal tersebut menunjukkan bahwa Kota Bandung memiliki pertumbuhan ekonomi secara riil dari tahun ke tahun atau pertumbuhan ekonomi yang tidak dipengaruhi oleh faktor harga yang semakin meningkat. Rata-rata pertumbuhan laju PDRB Kota Bandung adalah 6,34%, lebih tinggi dibandingkan laju PDRB Prov. Jawa Barat secara keseluruhan.
Untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi perkapita penduduk di Prov. Jawa Barat dapat terlihat pada tabel 3 berikut:
Tabel 3
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2011-2015
(dalam Juta Rupiah)
NO NAMA
KAB/KOTA
TAHUN
JUMLAH RATA- RATA 2011 2012 2013 2014 2015
1 Kab Bogor 21.13 23.72 26.12 28.38 30.79 109.00 21.80 2 Kab Sukabumi 13.19 14.18 15.97 17.55 19.28 66.99 13.40 3 Kab Cianjur 9.89 10.74 11.91 12.94 14.42 50.02 10.00 4 Kab Bandung 16.45 17.98 19.93 22.01 24.28 84.19 16.84 5 Kab Garut 11.47 12.26 13.46 14.68 15.96 56.36 11.27 6 Kab Tasikmalaya 10.33 11.13 12.37 13.44 14.79 51.73 10.35 7 Kab Ciamis 13.37 14.60 16.16 17.55 19.58 67.90 13.58 8 Kab Kuningan 10.55 11.53 12.91 14.30 16.10 54.83 10.97
NO NAMA KAB/KOTA
TAHUN
JUMLAH RATA- RATA 2011 2012 2013 2014 2015
9 Kab Cirebon 11.56 12.66 14.05 15.44 16.81 58.97 11.79 10 Kab Majalengka 12.20 13.47 14.99 16.32 17.98 62.75 12.55 11 Kab Sumedang 14.77 16.23 18.01 19.75 21.83 75.81 15.16 12 Kab Indramayu 32.74 35.70 37.85 40.20 38.66 152.41 30.48 13 Kab Subang 15.27 15.57 16.52 17.72 19.16 68.97 13.79 14 Kab Purwakarta 35.77 40.20 45.22 49.99 54.41 189.82 37.96 15 Kab Karawang 52.10 56.50 63.64 69.47 73.51 263.13 52.63 16 Kab Bekasi 62.26 65.24 68.64 72.88 75.80 282.56 56.51 17 Kab Bandung Barat 13.81 15.40 17.24 19.06 20.85 72.55 14.51 18 Kab Pangandaran 14.32 15.59 17.32 18.74 20.92 72.57 14.51 19 Kota Bogor 21.26 23.37 25.75 28.28 30.88 108.27 21.65 20 Kota Sukabumi 19.44 21.11 23.44 25.84 28.18 98.58 19.72 21 Kota Bandung 47.43 53.99 61.74 69.89 78.91 264.54 52.91 22 Kota Cirebon 37.77 41.11 45.11 49.37 54.32 189.91 37.98 23 Kota Bekasi 19.01 20.69 22.45 24.26 26.10 93.50 18.70 24 Kota Depok 16.23 17.59 19.69 21.54 23.05 81.87 16.37 25 Kota Cimahi 26.94 29.32 32.20 35.52 38.61 135.65 27.13 26 Kota Tasikmalaya 15.70 17.10 18.87 20.81 23.17 79.94 15.99 27 Kota Banjar 12.69 13.80 15.36 16.68 18.36 64.19 12.84 Provinsi Jawa Barat 23.25 25.27 27.77 30.12 32.65 115.81 23.16
Berdasarkan PDRB per kapita di Prov. Jawa Barat yang ditunjukan pada tabel 3, rata-rata pendapatan tiap penduduk di Prov. Jawa Barat mencapai Rp23.160.000.
Pendapatan tiap penduduk di Kabupaten/Kota tertinggi di Prov. Jawa Barat adalah Kabupaten Bekasi, Kota Bandung, dan Kabupaten Karawang. Kota Bandung memiliki rata-rata pendapatan tiap penduduk sebesar Rp52.910.000 pertahun.
Tabel 4
Perekonomian Kota Bandung Tahun 2011-2015
NO KETERANGAN TAHUN
2011 2012 2013 2014 2015
1 Laju Pertumbuhan Ekonomi 7.91% 8.53% 7.84% 7.71% 7.63%
2 Inflasi 2.75 4.02 7.97 7.76 3.93
3
PDRB 110,234,437.46 119,632,249.59 129,005,461.88 138,958,094.12 149,566,785.03
%Kenaikan 8.53% 7.84% 7.71% 7.63%
%Rata-Rata Kenaikan 7.93%
Dapat terlihat pada tabel 4 terkait perekonomian Kota Bandung bahwa perekonomian di Kota Bandung terus mengalami meningkatan, walaupun laju pertumbuhannya mengalami fluktuatif. Rata-rata laju perekonomian selama 4 (empat) tahun terakhir adalah 7.93%. Nilai tersebut akan dijadikan landasan
dilakukannya metode peramalan terhadap komponen pada Perjalanan Dinas luar daerah di Kota Bandung.
Analisis belanja Perjalanan Dinas yang telah dilakukan pada beberapa Provinsi/Kabupaten/Kota yang diperoleh, dapat terlihat bahwa dalam peraturan Perjalanan Dinas yang berlaku di daerah masing-masing, komponen yang terdapat dalam Perjalanan Dinas adalah sebagai berikut:
1. Satuan biaya perjalanan dinas dalam daerah
2. Satuan biaya perjalanan dinas luar daerah dalam provinsi.
3. Satuan biaya perjalanan dinas luar daerah luar provinsi 4. Hal-hal yang melekat pada perjalanan dinas dalam negeri
a. Uang representasi
b. Biaya makan dalam perjalanan
c. Moda transportasi perjalanan dinas dalam negeri d. Klasifikasi kelas kamar penginapan
5. Satuan biaya perjalanan dinas luar negeri
Perjalanan dinas dalam daerah dan luar daerah dilakukan dalam rangka pelaksanaan kegiatan-kegiatan Seminar, Lokakarya, Monitoring dan Pengendalian, Studi Banding, Rapat Koordinasi, Diklat/ Pelatihan, Pemutakhiran Data, Kegiatan Promosi, Kunjungan Kerja dan lain-lain. Komponen uang harian yang tidak terlepas dari perjalanan dinas adalah sebagai berikut:
1) Uang Saku
Uang saku adalah uang yang diberikan pada saat keberangkatan untuk keperluan sewaktu-waktu dalam melaksanakan perjalanan dinas.
2) Uang Makan dan Snack
Uang makan dan snack adalah uang yang diberikan untuk biaya makan di kota tujuan dalam melakukan tugas pada saat melaksanakan perjalanan dinas.
3) Transport Lokal
Transport lokal adalah uang yang diberikan untuk biaya transportasi di kota tujuan dengan menggunakan angkutan setempat.
Berikut ini adalah uang harian dalam negeri di Kota Bandung pada Tahun 2013-2017 yang terdiri atas perjalanan dinas dalam Kota Bandung, perjalanan dinas
luar Kota Bandung dalam Provinsi, dan perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi:
Tabel 5
Uang Harian Dalam Negeri Kota Bandung Tahun 2013-2017 (Sebelum Revisi)
(dalam Rp)
NO KETERANGAN SAT. TAHUN
2013 2014 2015 2016 2017
1
Perjalanan dinas dalam Kota Bandung Jarak 2 - 5 km
Golongan A OH 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000
Golongan B OH 80,000 80,000 80,000 80,000 80,000
Golongan C OH 75,000 75,000 75,000 75,000 75,000
Golongan D OH 60,000 60,000 60,000 60,000 60,000
Golongan E OH 60,000 60,000 60,000 60,000 60,000
Golongan F OH 40,000 40,000 40,000 40,000 40,000
Non PNS OH 250,000
Jarak > 5 km
Golongan A OH 125,000 125,000 125,000 125,000 125,000
Golongan B OH 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000
Golongan C OH 90,000 90,000 90,000 90,000 90,000
Golongan D OH 75,000 75,000 75,000 75,000 75,000
Golongan E OH 70,000 70,000 70,000 70,000 70,000
Golongan F OH 50,000 50,000 50,000 50,000 50,000
Non PNS OH 250,000
2
Perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi
Golongan A OH 975,000 975,000 975,000 975,000 975,000
Golongan B OH 975,000 975,000 975,000 975,000 975,000
Golongan C OH 930,000 930,000 930,000 930,000 930,000
Golongan D OH 760,000 760,000 760,000 760,000 760,000
Golongan E OH 760,000 760,000 760,000 760,000 760,000
Golongan F OH 710,000 710,000 710,000 710,000 710,000
Non PNS OH 450,000 450,000 450,000 450,000 450,000
3
Perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi
Golongan A OH 1,900,000 1,900,000 1,900,000 1,900,000 1,900,000 Golongan B OH 1,700,000 1,700,000 1,700,000 1,700,000 1,700,000 Golongan C OH 1,500,000 1,500,000 1,500,000 1,500,000 1,500,000 Golongan D OH 1,200,000 1,200,000 1,200,000 1,200,000 1,200,000 Golongan E OH 1,050,000 1,050,000 1,050,000 1,050,000 1,050,000
Golongan F OH 950,000 950,000 950,000 950,000 950,000
Non PNS OH 450,000 450,000 450,000 450,000 450,000
Tabel 5 menunjukan bahwa uang harian dalam negeri di Kota Bandung yang terdiri atas perjalanan dinas dalam Kota Bandung, perjalanan dinas luar Kota
Banudng dalam Provinsi dan perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi, selama 5 (lima) Tahun terakhir tidak mengalami perubahan. Hal tersebut tidak sesuai dengan perekonomian di Kota Bandung yang semakin meningkat setiap tahunnya, akan tetapi biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan dinas masih sama.
Untuk lebih jelasnya laju uang harian dalam negeri Kota Bandung dapat terlihat pada tabel berikut:
Tabel 6
Laju Uang Harian Dalam Negeri Kota Bandung Tahun 2013-2017 (Sebelum Revisi)
(dalam %)
NO KETERANGAN SAT. TAHUN
2013 2014 2015 2016 2017
1
Perjalanan dinas dalam Kota Bandung
Jarak 2 - 5 km
Golongan A OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan B OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan C OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan D OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan E OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan F OH 0% 0% 0% 0% 0%
Non PNS OH -
Jarak > 5 km
Golongan A OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan B OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan C OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan D OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan E OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan F OH 0% 0% 0% 0% 0%
Non PNS OH -
2
Perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi
Golongan A OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan B OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan C OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan D OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan E OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan F OH 0% 0% 0% 0% 0%
Non PNS OH 0% 0% 0% 0% 0%
3
Perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi
Golongan A OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan B OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan C OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan D OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan E OH 0% 0% 0% 0% 0%
Golongan F OH 0% 0% 0% 0% 0%
Non PNS OH 0% 0% 0% 0% 0%
Tabel 6 menunjukan bahwa tidak ada laju perubahan selama 5 (lima) Tahun terakhir yang disesuaikan berdasarkan PDRB atau hal lainnya yang menjadi landasan untuk perubahan uang harian dalam negeri di Kota Bandung.
Untuk perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi dan perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi bagi golongan tertentu, selain memperoleh uang harian, juga rerdapat uang representasi. Berikut ini adalah besaran uang representasi dalam negeri di Kota Bandung:
Tabel 7
Uang Representasi Dalam Negeri Kota Bandung Tahun 2013-2017 (Sebelum Revisi)
(dalam Rp)
NO KETERANGAN SAT. TAHUN
2013 2014 2015 2016 2017
1
Perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi
Golongan A OH 125,000 125,000 125,000 600,000 600,000 Golongan B OH 100,000 100,000 100,000 400,000 400,000 Golongan C OH 75,000 75,000 75,000 200,000 200,000 Perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi
Golongan A OH 250,000 250,000 250,000 600,000 600,000 Golongan B OH 200,000 200,000 200,000 400,000 400,000 Golongan C OH 150,000 150,000 150,000 200,000 200,000
Uang representasi bagi golongan tertentu untuk perjalanan dinas dalam negeri di Kota Bandung tidak mengalami peningkatan selama tahun 2013-2015.
Kenaikan uang representasi terjadi pada tahun 2016, sedangkan pada tahun 2017 masih mengacu pada tahun 2016. Laju uang representasi dalam negeri Kota Bandung dapat terlihat pada tabel berikut:
Tabel 8
Laju Uang Representasi Dalam Negeri Kota Bandung Tahun 2013-2017
(dalam %)
NO KETERANGAN SAT. TAHUN
2013 2014 2015 2016 2017
1
Perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi
Golongan A OH 0% 0% 0% 380% 0%
Golongan B OH 0% 0% 0% 300% 0%
Golongan C OH 0% 0% 0% 167% 0%
Perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi
Golongan A OH 0% 0% 0% 140% 0%
Golongan B OH 0% 0% 0% 100% 0%
NO KETERANGAN SAT. TAHUN
2013 2014 2015 2016 2017
Golongan C OH 0% 0% 0% 33% 0%
Kenaikan uang representasi terjadi pada tahun 2016, pada perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi bagi Golongan A kenaikan sebesar 380%, Golongan B kenaikan sebesar 300%, dan Golongan C kenaikan sebesar 167%.
Kemudian untuk perjalanan dinas luar kota Bandung luar Provinsi bagi Golongan A kenaikan sebesar 140%, Golongan B sebesar 100%, dan Golongan C sebesar 33%. Perubahan pada uang representasi dianggap wajar dilakukan, karena menyesuaikan kondisi perekonomian yang terjadi. Akan tetapi, akan dilakukan perhitungan kembali kesesuaian perubahan tersebut.
Setelah memperoleh data perjalanan dinas Kota Bandung, maka selanjutnya adalah membandingkan antara Kota Bandung dengan Provinsi/Kabupaten/Kota lainnya. Berdasarkan data yang diperoleh untuk Provinsi/Kabupaten/Kota lainnya, data yang tersedia hanya pada Tahun 2017. Berikut ini adalah uang harian dalam negeri pada Tahun 2017:
Tabel 9
Uang Harian Dalam Negeri Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun 2017
(dalam Rp)
NO KAB/KOTA KETERANGAN SAT. JUMLAH
1 Kota Bandung
Perjalanan dinas dalam Kota Bandung Jarak 2 - 5 km
Golongan A OH 100,000
Golongan B OH 80,000
Golongan C OH 75,000
Golongan D OH 60,000
Golongan E OH 60,000
Golongan F OH 40,000
Non PNS OH
Jarak > 5 km
Golongan A OH 125,000
Golongan B OH 100,000
Golongan C OH 90,000
Golongan D OH 75,000
Golongan E OH 70,000
Golongan F OH 50,000
Non PNS OH
Perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi
Golongan A OH 975,000
NO KAB/KOTA KETERANGAN SAT. JUMLAH
Golongan B OH 975,000
Golongan C OH 930,000
Golongan D OH 760,000
Golongan E OH 760,000
Golongan F OH 710,000
Non PNS OH 450,000
Perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi
Golongan A OH 1,900,000
Golongan B OH 1,700,000
Golongan C OH 1,500,000
Golongan D OH 1,200,000
Golongan E OH 1,050,000
Golongan F OH 950,000
Non PNS OH 450,000
2 Kota Cimahi
Perjalanan dinas dalam daerah Kota Cimahi
Pengantaran surat OH 50,000
Menghadiri kegiatan OH 75,000
Pengumpulan data dsb OH 100,000
Perjalanan dinas luar Kota Cimahi dalam Provinsi
Golongan A OH 950,000
Golongan B OH 800,000
Golongan C OH 700,000
Golongan D OH 600,000
Non PNS OH 300,000
Perjalanan dinas luar Kota Cimahi luar Provinsi
Golongan A OH 1,500,000
Golongan B OH 1,200,000
Golongan C OH 950,000
Golongan D OH 750,000
Non PNS OH 550,000
3 Kab. Bandung Barat
Perjalanan dinas dalam Kab. BB (KBB, Cimahi. Bandung & Kab.
Bandung)
Golongan A OH 350,000
Golongan B OH 325,000
Golongan C OH 300,000
Golongan D OH 275,000
Golongan E OH 250,000
Golongan F OH 225,000
Perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi
Golongan A OH 1,100,000
Golongan B OH 1,000,000
Golongan C OH 875,000
Golongan D OH 750,000
Golongan E OH 610,000
Golongan F OH 500,000
Non PNS OH 250,000
Perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi
Golongan A OH 1,900,000
Golongan B OH 1,700,000
Golongan C OH 1,500,000
NO KAB/KOTA KETERANGAN SAT. JUMLAH
Golongan D OH 1,200,000
Golongan E OH 1,050,000
Golongan F OH 950,000
Non PNS OH 450,000
4 Prov. Jawa Barat
Perjalanan dinas dalam daerah
dari daerah asal ke tujuan jarak 4 km - 30 km
Golongan IV OH 360,000
Golongan III OH 350,000
Golongan II OH 340,000
Golongan I OH 330,000
dari daerah asal ke tujuan jarak 31 km - 100 km
Golongan IV OH 500,000
Golongan III OH 475,000
Golongan II OH 450,000
Golongan I OH 425,000
dari daerah asal ke tujuan jarak 101 km - 150 km
Golongan IV OH 600,000
Golongan III OH 575,000
Golongan II OH 550,000
Golongan I OH 525,000
dari daerah asal ke tujuan jarak > 151 km
Golongan IV OH 750,000
Golongan III OH 700,000
Golongan II OH 650,000
Golongan I OH 600,000
+ lebih dari 8 jam
Golongan IV OH 300,000
Golongan III OH 275,000
Golongan II OH 250,000
Golongan I OH 200,000
Uang saku yang melekat pada perjalanan dinas
Golongan IV OH 250,000
Golongan III OH 200,000
Golongan II OH 150,000
Golongan I OH 100,000
Perjalanan dinas luar Provinsi dari wilayah Jabar ke DKI Jakarta
Golongan IV OH 680,000
Golongan III OH 630,000
Golongan II OH 580,000
Golongan I OH 530,000
+ lebih dari 8 jam
Golongan IV OH 270,000
Golongan III OH 250,000
Golongan II OH 230,000
Golongan I OH 210,000
dari wilayah Jabar ke selain DKI Jakarta
Golongan IV OH 820,000
Golongan III OH 740,000
Golongan II OH 660,000
NO KAB/KOTA KETERANGAN SAT. JUMLAH
Golongan I OH 580,000
Perjalanan dinas u/ Gub, Wagub, Sekda, & DPRD Perjalanan dinas dalam daerah
Gub, Wagub, K DPRD, Sekda OH 1,450,000
WK DPRD OH 1,150,000
Anggota DPRD OH 900,000
Perjalanan dinas DKI Jakarta & Banten
Gub, Wagub, K DPRD, Sekda OH 2,050,000
WK DPRD OH 1,600,000
Anggota DPRD OH 1,200,000
Perjalanan dinas luar Provinsi
Gub, Wagub, K DPRD, Sekda OH 2,250,000
WK DPRD OH 1,800,000
Anggota DPRD OH 1,550,000
5 DKI Jakarta
tujuan seluruh Prov.
Gub, Wagub, Pimp & Angg DPRD, Pejabatan Eselon I &
II
OH 1,500,000
Pejabat Eselon III, IV &
Fungsional, PPPK & Bukan Pegawai
OH 580,000
tujuan khusus Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi Gub, Wagub, Pimp & Angg
DPRD, Pejabatan Eselon I &
II
OH 1,500,000
Pejabat Eselon III, IV &
Fungsional, PPPK & Bukan Pegawai
OH 430,000
6 Kota Semarang
Perjalanan dinas luar daerah
DKI/Jabar/Jatim/Banten/Luar Jawa Walikota / wakil walikota /
Ketua DPRD OH 1,750,000
Wakil Ketua DPRD OH 1,650,000
Sekda/Eselon II / Anggota
DPRD OH 1,500,000
PNS Eselon III OH 1,100,000
PNS Eselon IV / V OH 1,000,000
PNS/CPNS Gol III / IV OH 900,000
PNS/CPNS Gol II /
PNS/CPNS Gol 1 dan TPHL OH 800,000
Jateng/DIY
Walikota / wakil walikota /
Ketua DPRD OH 1,100,000
Wakil Ketua DPRD OH 1,050,000
Sekda/Eselon II / Anggota
DPRD OH 100,000
PNS Eselon III OH 700,000
PNS Eselon IV / V OH 650,000
PNS/CPNS Gol III / IV OH 550,000
PNS/CPNS Gol II /
PNS/CPNS Gol 1 dan TPHL OH 450,000
Data yang diperoleh menunjukan bahwa uang harian perjalanan dinas setiap daerah memiliki nilai yang berbeda-beda, hal tersebut disesuaikan dengan kemampuan daerah itu sendiri. Pada uang harian dalam daerah, Kota Bandung masih berada dibawah Kabupaten Bandung Barat dan Provinsi Jawa Barat.
Kemudian untuk uang harian luar daerah dalam Provinsi, Kota Bandung memiliki nilai terendah sebelum Kota Cimahi dibandingkan dengan daerah lainnya. Sama halnya dengan perjalanan dinas luar daerah dalam Provinsi, Kota Bandung masih berada dibawah Provinsi Jawa Barat. Hal ini menunjukan bahwa biaya perjalanan dinas Kota Bandung harus disesuaikan dengan keadaan perekonomian yang terjadi saat ini.
Berikut ini adalah uang representasi antara Kota Bandung dan daerah lainnya:
Tabel 10
Uang Representasi Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun 2017
(dalam Rp)
NO KAB/KOTA KETERANGAN SAT. JUMLAH
1 Kota Bandung
Perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Prov.
Golongan A OH 600,000
Golongan B OH 400,000
Golongan C OH 200,000
Perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi
Golongan A OH 600,000
Golongan B OH 400,000
Golongan C OH 200,000
2 Kota Cimahi
Perjalanan dinas luar Kota Cimahi dalam Provinsi
Golongan A OH 200,000
Golongan B OH 150,000
Golongan C OH 125,000
Golongan D OH 100,000
Perjalanan dinas luar Kota Cimahi luar Provinsi
Golongan A OH 250,000
Golongan B OH 200,000
Golongan C OH 175,000
Golongan D OH 150,000
3 Kab. Bandung Barat
Perjalanan dinas luar KBB dalam Provinsi
Golongan A OH 600,000
Golongan B OH 400,000
Golongan C OH 200,000
dalam KBB lebih dari 8 jam
Bupati & Wak Bupati OH 125,000
Pimp. Anggo DPRD & Sekda OH 100,000
NO KAB/KOTA KETERANGAN SAT. JUMLAH
Pejabat Eselon II OH 75,000
Perjalanan dinas luar KBB luar Provinsi
Bupati & Wak Bupati OH 250,000
Pimp. Anggo DPRD & Sekda OH 200,000
Pejabat Eselon II OH 150,000
4 Prov. Jawa Barat
Luar Kota/Luar Prov/DKI Jakarta/Banten
Gub, Wagub, K DPRD, Sekda OH 1,000,000
WK DPRD OH 750,000
Angg DPRD OH 500,000
Pejabat Eselon II OH 100,000
5 DKI Jakarta
Perjalanan dinas dlm Negeri tujuan seluruh Prov.
Gub, Wagub, Pimp DPRD OH 250,000
Pejabat Eselon I OH 200,000
Eselon II & Angg DPRD OH 150,000
6 Kota Semarang
Perjalanan dinas luar daerah
DKI/Jabar/Jatim/Banten/Luar Jawa
Walikota & Wakil Walikota OH 350,000
Sekda OH 300,000
Eselon III OH 250,000
Eselon IV OH 200,000
Tabel 10 menunjukan bahwa, perubahan uang representasi yang terjadi pada tahun 2016 dan dijadikan nilai pada tahun 2017, masih rendah dan berada jauh dibawah Provinsi Jawa Barat. Untuk itu, akan dilakukan perhitungan kembali uang representasi yang disesuaikan dengan situasi perekonomian yang terjadi.
Berdasarkan tabel 9 dan 10, maka diperoleh Take Home Pay perjalanan dinas antar daerah sebagai berikut:
Tabel 11
Take Home Pay Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun 2017
(dalam Rp)
NO PERJALANAN DINAS SAT. KOTA BANDUNG
KOTA CIMAHI
KAB. BDG BARAT
PROV.
JAWA BARAT
DKI JAKARTA
KOTA SEMARANG
1 Dalam Daerah OH 125,000 100,000 350,000 1,450,000 1,500,000 -
2 Luar Daerah Dalam Provinsi OH 975,000 950,000 1,100,000 2,050,000 1,500,000 1,100,000 3 Luar Daerah Luar Provinsi OH 1,900,000 1,500,000 1,900,000 2,250,000 - 1,750,000 4 Representasi Dalam Prov. OH 600,000 200,000 600,000 1,000,000 250,000 - 5 Representasi Luar Prov. OH 600,000 725,000 975,000 1,000,000 - 350,000
Berdasarkan take home pay yang diperoleh, dalam perjalanan dinas dalam daerah Kota Bandung masih tergolong rendah, jauh dibandingkan dengan Prov.
Jawa Barat dan DKI Jakarta. Sama halnya dengan perjalana dinas dalam daerah, untuk perjalanan dinas luar daerah dalam Provinsi, Kota Bandung menempati posisi ke 2 (dua) terendah sebelum Kota Cimahi dibandingkan dengan daerah lainnya.
Kemudian pada perjalanan dinas luar daerah luar Provinsi, Kota Bandung berada dibawah Provinsi Jawa Barat, sama halnya dengan uang representasi.
Setelah dilakukan analisis terhadap setiap komponen perjalanan dinas Kota Bandung dan daerah lainnya sebagai perbandingan. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa, perlu adanya penyesuaian kembali perihal biaya perjalanan dinas Kota Bandung yang tidak mengalami perubahan selama 5 (lima) Tahun terakhir yang disesuaikan dengan kondisi perekonomian yang terjadi.
Perubahan yang dilakukan mengacu pada biaya perjalanan dinas yang terbaru dan berlaku saat ini, yaitu Tahun 2017. Hasil perhitungan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
Tabel 12
Uang Harian Dalam Negeri Kota Bandung Tahun 2017 (Setelah Revisi)
(dalam Rp)
NO KETERANGAN SAT. PERHITUNGAN
2017 x PDRB 2017 Revisi
1
Perjalanan dinas dalam Kota Bandung
Jarak 2 - 5 km
Golongan A OH 100,000 123,180 120,000 Golongan B OH 80,000 98,544 100,000 Golongan C OH 75,000 92,385 95,000 Golongan D OH 60,000 73,908 75,000 Golongan E OH 60,000 73,908 75,000 Golongan F OH 40,000 49,272 60,000
Non PNS OH 40,000
Jarak > 5 km
Golongan A OH 125,000 153,975 150,000 Golongan B OH 100,000 123,180 125,000 Golongan C OH 90,000 110,862 115,000 Golongan D OH 75,000 92,385 100,000 Golongan E OH 70,000 86,226 90,000 Golongan F OH 50,000 61,590 80,000
Non PNS OH 50,000
2
Perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi
Golongan A OH 975,000 1,201,005 1,175,000 Golongan B OH 975,000 1,201,005 1,175,000 Golongan C OH 930,000 1,145,574 1,140,000 Golongan D OH 760,000 936,168 965,000
NO KETERANGAN SAT. PERHITUNGAN
2017 x PDRB 2017 Revisi
Golongan E OH 760,000 936,168 940,000 Golongan F OH 710,000 874,578 875,000 Non PNS OH 450,000 554,310 550,000
3
Perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi
Golongan A OH 1,900,000 2,340,420 2,200,000 Golongan B OH 1,700,000 2,094,060 2,125,000 Golongan C OH 1,500,000 1,847,700 2,050,000 Golongan D OH 1,200,000 1,478,160 1,425,000 Golongan E OH 1,050,000 1,293,390 1,210,000 Golongan F OH 950,000 1,170,210 1,085,000 Non PNS OH 450,000 554,310 550,000
Tabel 12 menunjukan uang harian dalam negeri Kota Bandung yang terdiri atas perjalanan dinas dalam Kota Bandung, perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi dan perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi. Nilai uang harian perjalanan dinas tahun 2017 yang berlaku dikalikan dengan jumlah kenaikan PDRB selama 3 (tiga) tahun terakhir berdasarkan nilai rata-rata PDRB Kota Bandung, sehingga hasil yang diperoleh dilakukan pembulatan dan penyesuaian jenjang.
Selain uang harian perjalanan dinas, uang representasi bagi golongan tertentu dilakukan perhitungan kembali. Sama halnya dengan uang harian perjalanan dinas, uang representasi tahun 2017 yang berlaku dikalikan dengan jumlah kenaikan PDRB selama 3 (tiga) tahun terakhir berdasarkan nilai rata-rata PDRB Kota Bandung, sehingga menghasilkan nilai uang representasi yang baru dengan dilakukan pembulatan dan penyesuaian jenjang sebagai berikut:
Tabel 13
Uang Representasi Dalam Negeri Kota Bandung Tahun 2017 (Setelah Revisi)
(dalam Rp)
NO KETERANGAN SAT. PERHITUNGAN
2017 x PDRB 2017 Revisi
1
Perjalanan dinas luar Kota Bandung dalam Provinsi
Golongan A OH 600,000 739,080 900,000 Golongan B OH 400,000 492,720 800,000 Golongan C OH 200,000 246,360 700,000 Perjalanan dinas luar Kota Bandung luar Provinsi
Golongan A OH 600,000 739,080 900,000 Golongan B OH 400,000 492,720