• Tidak ada hasil yang ditemukan

Limbah Laundri Terhadap Ikan Mujair (Oreochromis sp.)

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan " Limbah Laundri Terhadap Ikan Mujair (Oreochromis sp.) "

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Toksisitas Akut LC

50-96 Jam

Limbah Laundri Terhadap Ikan Mujair (Oreochromis sp.)

Nur Azizah Kartikasari1*, Dedy Suprayogi2, Amrullah3

123 Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Indonesia

*Koresponden email: [email protected]

Diterima: 28 September 2022 Disetujui: 27 Oktober 2022

Abstract

Laundry waste is one of the wastes that is wasted when it is disposed of continuously and continuously.

This results in the destruction of aquatic ecosystems, especially fish. This study aims to determine the value of LC50-96 hours of laundry waste on tilapia fish (Oreochromis sp.). This study begins by knowing the parameters of BOD, COD, TSS, NH3, and detergent at the stage of Range Finding Test and Acute Toxicity Test. In addition, pH, temperature, and DO parameters were also tested every day. After that, acclimatization was carried out for 7 days without feeding the fish. Then continued with the range Finding test stage for 96 hours with variations of 0% (control), 5%, 10%, 20%, 40%, 60%, 80%, and 100%. The range obtained in the range Finding test stage is 20%. So that the variations in the acute toxicity test stage used include 6%, 9%, 12%, 15%, and 18%. After observing fish mortality approaching 50%, then these results were analyzed using Microsoft Excel. The LC50 value obtained in this test is 60002,5.

Keywords: toxicity, laundry, tilapia, LC50, liquid waste

Abstrak

Limbah laundri merupakan salah satu limbah yang mencemari perairan apabila dibuang secara sembarangan dan secara terus menerus. Hal tersebut berakibat pada rusaknya ekosistem air, terutama ikan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC50-96 jam limbah laundri terhadap ikan mujair (Oreochromis sp.). Penelitian ini diawali dengan mengetahui parameter BOD, COD, TSS, NH3, dan deterjen pada tahap Range Finding Test dan Uji Toksisitas Akut. Selain itu juga dilakukan uji parameter pH, suhu, dan DO setiap hari. Setelah itu dilakukan aklimatisasi selama 7 hari tanpa memberi makanan pada ikan. Lalu dilanjut dengan tahap Range Finding Test selama 96 jam dengan variasi 0% (kontrol), 5%, 10%, 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Kisaran yang didapatkan pada tahap Range Finding Test ialah 20%

sehingga variasi pada tahap uji toksisitas akut yang digunakan meliputi 6%, 9%, 12%, 15%, dan 18%.

Setelah itu mengamati kematian ikan yang mendekati 50%, hasil tersebut dianalisis menggunakan Microsoft Excel. Nilai LC50 yang didapat pada pengujian ini adalah 60002,5.

Kata Kunci: toksisitas, laundri, mujair, LC50, limbah cair

1. Pendahuluan

Aktivitas manusia dapat menyebabkan efek samping bagi lingkungan hidup. Hal tersebut dikarenakan peningkatan jumlah penduduk yang juga menyebabkan peningkatan pada limbah dari kegiatan manusia [1]. Salah satu aktivitas manusia yang mengakibatkan pencemaran adalah adanya jasa laundri.

Limbah atau buangan dari kegiatan tersebut berupa air limbah deterjen. Bahan kimia yang berada dalam limbah deterjen ialah fosfat, amonia, surfaktan, BOD, COD. Kandungan amonia tinggi dalam air yang menyebabkan pencemaran salah satunya disebabkan oleh adanya limbah laundri [2].

Limbah tersebut apabila masuk ke perairan akan menyebabkan peningkatan fosfat pada air, gangguan pada kesehatan manusia, terganggunya ekosistem perairan [3]. Hal tersebut dikarenakan limbah laundri bersifat toksik bagi lingkungan. Untuk mengetahui tingkat toksik atau racun dalam suatu perairan, perlu dilakukan uji toksisitas akut dengan cara mengamati kematian hewan uji sebanyak 50%. Pengujian tingkat toksik suatu limbah bisa dilakukan menggunakan hewan uji seperti ikan air tawar. Hal tersebut dikarenakan ikan mampu menyerap limbah yang ada di perairan sebanyak 75% dan sisanya ikan akan menyerap makanannya [4]. Pada penelitian ini dilakukan menggunakan ikan mujair (Oreochromis sp.) karena ikan tersebut banyak ditemukan di perairan Indonesia, mudah didapatkan dalam jumlah banyak dan bukan merupakan ikan yang punah atau dilindungi dan memiliki nilai yang ekonomis [5]. Pada penelitian kali ini, dilakukan analisis toksisitas akut LC50-96 jam limbah laundri terhadap ikan Mujair (Oreochromis sp.) agar mengetahui nilai LC50-96 jam limbah laundri.

(2)

2. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yang memiliki 3 tahap perlakukan. Perlakuan tersebut yakni tahap aklimatisasi, tahap Range Finding Test, dan tahap uji toksisitas akut. Penelitian dilakukan di Laboratorium Integrasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya di Jl. Ahmad Yani No.117, Jemur Wonosari, Kec. Wonocolo, Kota SBY, Jawa Timur 60237. Untuk lokasi pengambilan hewan uji berada di Jl. Simo Sidomulyo 2 Nomor 14, Surabaya. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hinga Mei 2022. Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini meliputi aquarium/reaktor (25 cm x 25 cm x 20 cm), pipet, gelas beker, penggaris, neraca analitik, sampel limbah laundri, ikan Mujair dengan ukuran 4-6cm [6], air PDAM sebagai air pengencer, DO meter dan pH meter. Perhitungan mortalitas hewan uji menggunakan rumus berikut.

% Mortalitas = 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑎𝑛 ℎ𝑒𝑤𝑎𝑛 𝑢𝑗𝑖

𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 ℎ𝑒𝑤𝑎𝑛 𝑢𝑗𝑖 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑟𝑒𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑥 100%...(1)

Tahap Aklimatisasi

Pada tahap ini hewan uji dimasukkan ke dalam reaktor yang telah diisi air PDAM dengan diberi aerator dan makanan seminggu minimal 3 kali [7]. Tujuannya adalah agar mengetahui apakah hewan uji mampu bertahan hidup di lingkungan yang baru. Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap hewan uji yang mati, pengukuran pH, suhu dan DO setiap hari selama 7 hari. Berikut merupakan kelayakan tahap aklimatisasi [8]:

- Apabila jumlah hewan uji yang mati 5% dari total populasi hewan uji, maka air pengencer boleh digunakan untuk penelitian.

- Apabila jumlah hewan uji yang mati 5-10% dari total populasi hewan uji, tahap ini kemudian akan dilanjutkan hingga 14 hari.

- Apabila hewan uji yang mati mewakili lebih dari 10% dari total populasi hewan uji, air pengenceran tidak cocok untuk penelitian.

Pengenceran Toksikan

Pengenceran toksikan didasari oleh variasi konsentrasi yang digunakan. Variasi dalam penelitian minimal 5 variasi [9]. Variasi yang digunakan dalam tahap Range Finding Test ini adalah 0% (kontrol), 5%, 10%, 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Contoh pengenceran pada konsentrasi 5% dilakukan seperti pada perhitungan di bawah ini [10].

Volume total di tiap reaktor = 10 liter

Konsentrasi limbah 5% = konsentrasi x total air tiap reaktor

= 5% x 10 liter

= 0,5 liter

Air pengencer PDAM = 10 liter – 0,5 liter

= 9,5 liter

Perhitungan Kandungan Limbah Laundri Pada Tiap Konsentrasi

Perhitungan kandungan limbah ini berdasarkan pada hasil analisis limbah laundri yang telah diujikan pada Gambar 1. Berikut contoh perhitungan kandungan limbah laundri tiap konsentrasi. Nilai COD dalam 5% limbah laundri pada tahap Range Finding Test.

a) Nilai 100% COD (N1) = 1314 mg/liter b) Volume limbah (V1) = 0,5 liter c) Volume air total (V2) = 10 liter d) Nilai 5% COD (N2)

N2 = 𝑁1 𝑥 𝑉1

𝑉2 ...(2)

= 1314

𝑚𝑔 𝐿 𝑥 0,5𝐿 10 𝐿

= 65,7 mg/L Tahap Range Finding Test

Tahap ini mengamati hewan uji yang mati dan mengakibatkan kematian sebesar 100% selama 96 jam. Selain itu juga dilakukan pengukuran pH, suhu dan DO setiap hari bertujuan mengetahui apakah hewan

(3)

uji yang mati disebabkan oleh toksikan atau pengaruh pH, suhu dan DO tersebut. Jumlah variasi konsentrasi yang digunakan adalah minimal 5 variasi [10]. Range finding test menggunakan variasi konsentrasi dengan jarak atau interval yang cukup besar [11]. Pada tahap Range finding test menggunakan variasi konsentrasi 0%, 5%, 10%, 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%. Selain itu pada tahap ini tidak dilakukan pemberian makanan pada hewan uji. Setiap reaktor berisi 10 liter air dengan total hewan uji 10 per reaktor, hal tersebut sesuai yakni perbandingan ikan dengan air yang digunakan adalah 1 gram ikan/1 liter air [9].

Tahap Uji Toksisitas Akut

Pada tahap ini diamati kematian hewan uji sebanyak 50% selama 96 jam, dan mengukur suhu, DO dan pH selama 96 jam pada tiap reaktor. Tahap ini hampir sama dengan tahap Range finding test, yang membedakan adalah variasi konsentrasi yang lebih kecil dari Range finding test. Variasi konsentrasi yang digunakan adalah 0%, 6%, 9%, 12%, 15%, 18%. Pada tahap ini hewan uji tidak diberi makanan agar hewan uji tidak memakan kotorannya sendiri yang menyebabkan penyakit. Setelah itu diamati kematian 50%

hewan uji dengan mencatat kematian pada tiap konsentrasi. Setelah itu dianalisis menggunakan Microsoft Excel. Persamaan yang digunakan dalam analisis probit sebagai berikut.

Y = a + b.x...(3) Keterangan:

Y = jumlah hewan uji a = nilai regresi linear “a”

b = nilai regresi linear “b”

x = nilai LC50

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Uji Parameter Limbah Laundri

Parameter limbah laundri disesuaikan dengan tentang baku mutu air limbah. Sehingga sebelum melakukan penelitian, air limbah yang digunakan untuk Range finding test dan uji toksisitas akut diuji terlebih dahulu. Berikut hasil uji limbah laundri pada tahap Range finding test dan uji toksisitas akut.

Gambar 1. Grafik analisis limbah laundri Sumber: Hasil analisis laboratorium, 2022

Hasil analisis yang dilakukan di Analisa Laboratorium Perusahaan Daerah Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya menunjukkan bahwa sampel limbah laundri melebih ketetapan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 2014. Keadaan tersebut mampu mengakibatkan pencemaran sungai yang berakibat pada kematian pada biota air, serta mampu mengurangi kemampuan air untuk menjaga ekosistem perairan [12].

3.2. Aklimatisasi

Aklimatisasi bertujuan agar mengetahui hewan uji dapat adaptasi terhadap kondisi lingkungan pengujian, dengan cara memindahkan hewan uji dari air pemeliharaan ke air yang digunakan untuk pengujian [13]. Pada tahap aklimatisasi ini dilakukan selama 7 hari dengan memberi makanan pada hewan uji. Selain itu juga menguji pH, suhu, DO, serta kematian hewan uji selama 7 hari. Tabel 1 berikut merupakan hasil uji pH, suhu, DO dan kematian ikan selama tahap aklimatisasi.

276 44,7 4,5

677

1314

480 56

9,19

892,5

1761

0 500 1000 1500 2000

Total Suspended Solid (TSS) Amonia (NH3) Deterjen (MBAS) Biologycal Oxygen Demand (BOD) Chemical Oxygen Demand (COD)

Hasil analisis

Parameter

Hasil Uji Toksisitas Akut Hasil RFT

(4)

Tabel 1. Parameter aklimatisasi

Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7

pH 7,54 7,75 7,72 7,95 8,07 8,30 8,33

Suhu (ºC) 26,64 25,71 26,23 27,67 27,50 27,24 27,41

DO (mg/L) 7,36 7,39 5,10 6,91 8,36 8,44 8,43

Kematian 0 5 8 3 0 0 0

Sumber: Hasil analisis, 2022

Berdasarkan Tabel 1 rata-rata nilai pH, suhu, dan DO masih tergolong optimum untuk keberlangsungan hidup ikan mujair. Karena pH masih terdapat di antara 6,5 – 9. Pada suhu juga masih tergolong di angka yang aman kecuali pada hari ke-2 rata-rata suhunya di angka 25,71ºC, suhu yang rendah menyebabkan nafsu makan ikan menurun sehingga dapat menyebabkan kematian. Hasil rata-rata DO juga masih menunjukkan di angka yang aman yaitu lebih dari 5 mg/L. Meskipun nilai rata-rata tiap parameter sudah memenuhi standar, kematian ikan juga masih terjadi. Pada hari ke-2 ikan mengalami kematian dikarenakan suhu yang terlalu rendah yang mengakibatkan nafsu makan ikan menurun. Pada hari ke-3 juga ikan mengalami total kematian yaitu 8 ikan. Hal tersebut dikarenakan beberapa aerator yang mati sehingga DO menurun dan ikan mengalami kematian. Begitu juga di hari ke-4, ikan mengalami kematian dikarenakan asupan oksigen yang terlalu kecil.

3.3 Range Finding Test

Range finding test atau bisa disebut dengan uji pendahuluan merupakan suatu uji untuk menentukan kisaran nilai konsentrasi yang digunakan untuk menentukan LC50, dengan mengamati konsentrasi yang menyebabkan kematian hewan uji 100%. Berikut merupakan hasil uji pengukuran pH, suhu, DO, dan pengamatan kematian ikan. Selain itu juga menganalisis parameter air limbah yang diuji sebelum melakukan penelitian, seperti BOD, COD, TSS, NH3, dan deterjen.

Gambar 2. Grafik nilai pH tahap range finding test Sumber: Hasil analisis, 2022

Nilai pH pada Gambar 2 berkisar antara 7 hingga 8 dan batas pH yang mengakibatkan kematian pada ikan Mujair adalah pada pH ≤ 4 dan pH ≥ 11 [14]. Oleh karena itu, pada tahap Range Finding Test kematian ikan bukan dikarenakan oleh nilai pH.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

0% (Kontrol) 5%

10%

20%

40%

60%

80%

100%

Nilai pH

Konsentrasi

pH dalam RFT

96 jam 72 jam 48 jam 24 jam

(5)

Gambar 3. Grafik nilai suhu tahap Range Finding Test Sumber: Hasil analisis, 2022

Nilai suhu pada penelitian ini dipengaruhi oleh suhu ruangan yang digunakan. Hewan uji atau ikan yang mati dapat disebabkan oleh suhu, apabila nilai suhu berada di bawah 25ºC [15]. Suhu di bawah 25ºC akan menyebabkan kematian pada ikan karena dinginnya air. Pada tahap ini, kematian di jam 96 dikarenakan suhu yang terlalu rendah.

Gambar 4. Grafik nilai DO pada tahap Range Finding Test Sumber: Hasil analisis, 2022

Salah satu faktor terpenting bagi keberlangsungan hidup ikan adalah kandungan DO, karena sangat dibutuhkan dalam proses respirasi ikan, pertumbuhan ikan dan sebagainya. Pada tahap Range Finding Test ini, nilai DO telah memenuhi syarat untuk keberlangsungan hidup ikan mujair yakni tidak kurang dari 5.

Oleh karena itu, kematian ikan mujair pada tahap Range Finding Test bukan disebabkan oleh DO.

0 5 10 15 20 25 30 35

0% (Kontrol) 5%

10%

20%

40%

60%

80%

100%

Nilai Suhu

Konsentrasi

96 jam 72 jam 48 jam 24 jam

0 2 4 6 8 10 12

0% (Kontrol) 5%

10%

20%

40%

60%

80%

100%

Nilai DO

Konsentrasi

96 jam 72 jam 48 jam 24 jam

(6)

Gambar 5. Grafik kematian ikan pada tahap Range Finding Test Sumber: Hasil analisis, 2022

Kematian ikan pada konsentrasi 10%, 20%, 40%, 60%, 80%, 100% disebabkan oleh tingginya nilai COD, BOD, NH3 dan deterjen. Pada konsentrasi 80% dan 100% juga bisa dikarenakan TSS. Hal tersebut menunjukkan apabila ikan mati dalam waktu yang relatif singkat, maka bisa dikatakan bahwa air limbah tersebut toksik bagi ikan.. Oleh karena itu, pada tahap Range Finding Test ini kematian 100% ikan terjadi pada konsentrasi 20% hingga 100% limbah laundri.

3.4. Uji Toksisitas Akut

Tahap uji pendahuluan atau Range Finding Test mendapatkan kisaran di angka 20%. Sehingga variasi yang digunakan dalam uji toksisitas akut berada di bawah 20%. Variasinya yaitu 6%, 9%, 12%, 15%, dan 18%. Seperti halnya uji pendahuluan, uji toksisitas akut (uji utama) juga mengukur pH, suhu, DO dan mengamati kematian ikan. Selain itu juga menganalisis parameter air limbah yang diuji sebelum melakukan penelitian, seperti BOD, COD, TSS, NH3, dan deterjen. Berikut merupakan hasil pengukuran pH, suhu, DO dan pengamatan kematian pada ikan.

Gambar 6. Grafik nilai ph pada tahap uji utama Sumber: Hasil analisis, 2022

Berdasarkan Gambar 6, nilai pH pada uji utama berkisar antara 7,1 hingga 8,44. Sedangkan batas aman untuk kehidupan ikan berkisar antara 6,5 hingga 9. Kematian ikan pada uji utama bukan disebabkan oleh pH.

0 2 4 6 8 10 12

0% (Kontrol) 5%

10%

20%

40%

60%

80%

100%

Jumlah Kematian Ikan

Konsentrasi

96 jam 72 jam 48 jam 24 jam

6,5 7 7,5 8 8,5 9

0% (Kontrol) 6%

9%

12%

15%

18%

Nilai pH

Konsentrasi

96 jam 72 jam 48 jam 24 jam

(7)

Gambar 7. Grafik nilai suhu pada tahap uji utama Sumber: Hasil analisis, 2022

Berdasarkan Gambar 7 tersebut, suhu mampu mematikan ikan dikarenakan suhu yang terlalu rendah. Pada konsentrasi 9% dan pada jam ke 48 mampu mematikan 3 ekor ikan. Oleh karena itu, suhu yang rendah sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup ikan. Ikan akan hidup namun nafsu makan menurun [16].

Gambar 8. Grafik nilai DO pada tahap uji utama Sumber: Hasil analisis, 2022

Seperti halnya pada uji pendahuluan (Range Finding Test), DO yang optimum untuk kehidupan ikan adalah lebih dari 5 mg/L. Dari Gambar 8, nilai DO seluruhnya melebihi 5 mg/L oleh karena itu kematian ikan bukan disebabkan oleh DO.

Beberapa parameter lainnya seperti COD, BOD, TSS, NH3, dan deterjen mampu mematikan beberapa ikan pada penelitian ini. Pada konsentrasi 6%, 9%, 12%, 15%, dan 18% nilai COD di atas baku mutu yang telah ditetapkan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 2014 sehingga kemungkinan kematian ikan pada konsentrasi tersebut disebabkan oleh nilai COD yang terlalu tinggi.

Selain itu nilai BOD dan TSS pun melebihi baku mutu yang telah ditentukan, sehingga kematian pada ikan juga bisa disebabkan oleh BOD ataupun TSS. Pada parameter NH3, konsentrasi yang melebihi baku mutu

23 23,5 24 24,5 25 25,5 26 26,5 27 27,5 28 0% (Kontrol)

6%

9%

12%

15%

18%

pH

Konsentrasi

96 jam 72 jam 48 jam 24 jam

0 2 4 6 8 10

0% (Kontrol) 6%

9%

12%

15%

18%

Nilai DO

Konsentrasi

96 jam 72 jam 48 jam 24 jam

(8)

adalah 9%, 12%, 15%, dan 18%. Sehingga kematian pada konsentrasi tersebut dikarenakan nilai NH3 yang terlalu tinggi.

3.5 Analisis Regresi Probit Menggunakan Microsoft Excel

Berikut merupakan hasil kematian ikan pada tahap uji utama atau uji toksisitas akut.

Tabel 2. Hasil kematian ikan pada uji toksisitas akut Konsentrasi Probit Mati (%) Mati Total

6 5 50% 5 10

9 6,64 95% 9,5 10

12 8,09 100% 10 10

15 8,09 100% 10 10

18 8,09 100% 10 10

Sumber: Hasil analisis, 2022

Setelah mengetahui persentase kematian ikan, selanjutnya menganalisis log ppm dan nilai probit yang didapat dari tabel Transformation of percentage to Probits.

Gambar 9. Grafik analisis probit menggunakan excel Sumber: Hasil analisis, 2022

Berdasarkan Gambar 9, nilai a sebesar 9,3134 sedangkan nilai b sebesar 39,501. Nilai kematian 50% pada tabel Transformation of percentage to Probits adalah 5. Sehingga pada persamaan y=a+bx, nilai y adalah 5. Untuk nilai x (logaritma probit) yang dicari, telah didapatkan sebesar 4,77. Kemudian nilai tersebut diubah menjadi antilog x10, sehingga nilai LC50 untuk ikan mujair pada limbah laundri sebesar 60002,5.

4. Kesimpulan

Limbah laundri yang diujikan terhadap ikan mujair (Oreochromis sp.) memberikan efek toksik dengan nilai LC50 sebesar 60002,5 yang dapat mengakibatkan kematian 50% terhadap hewan uji.

Kematian ikan mujair (Oreochromis sp.) disebabkan oleh beberapa parameter yang diuji pada penelitian ini, seperti BOD, COD, TSS, NH3, dan deterjen. Kematian keseluruhan pada hewan uji terjadi di atas konsentrasi 6%, sehingga pada konsentrasi tersebut memiliki karakteristik yang tidak mampu ditolerir oleh hewan uji atau ikan mujair (Oreochromis sp.). Masuknya limbah laundri ke badan sungai mampu menyebabkan pencemaran yang mengakibatkan kerusakan pada ekosistem perairan, sehingga agar mengurangi pencemaran air perlu adanya pengolahan lanjutan.

5. Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak Universitas Islam Negeri Sunan Ampel yang telah membantu dan mempermudah proses penelitian hingga penyusunan jurnal ini.

6. Singkatan

LC50 Suatu uji untuk mengetahui 50% kematian hewan BOD Biologycal Oxygen Demand

COD Chemical Oxygen Demand

y = 9,3134x - 39,501 R² = 1

0 1 2 3 4 5 6 7

4,75 4,80 4,85 4,90 4,95 5,00

(9)

DO Dissolved Oxygen

pH Power of Hydrogen (derajat keasaman) TSS Total Suspended Solid

7. Referensi

[1] Dewata, I., & Danhas, Y. H. (2021). Toksikologi Lingkungan. Konsep dan Aplikatif

[2] Palilingan, S. C., Pungus, M., & Tumimomor, F. (2019). Penggunaan Kombinasi Adsorben Sebagai Media Filtrasi Dalam Menurunkan Kadar Fosfat Dan Amonia Air Limbah Laundry. Fullerene Journal Of Chemistry, 4(2), 48. Https://Doi.Org/10.37033/Fjc.V4i2.59

[3] Utomo, W. P., Nugraheni, Z. V., Rosyidah, A., Shafwah, O. M., Naashihah, L. K., Nurfitria, N., &

Ullfindrayani, I. F. (2018). Penurunan Kadar Surfaktan Anionik Dan Fosfat Dalam Air Limbah Laundry Di Kawasan Keputih, Surabaya Menggunakan Karbon Aktif. Akta Kimia Indonesia, 3(1), 127. Https://Doi.Org/10.12962/J25493736.V3i1.3528

[4] Mustofa, A., Hastuti, S., & Rachmawati, D. (2018). Pengaruh Periode Pemuasaan Terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan, Pertumbuhan Dan Kelulushidupan Ikan Mas (Cyprinus Carpio). Pena Akuatika : Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan, 17(2). Https://Doi.Org/10.31941/Penaakuatika.V17i2.705 [5] Suyantri, E., Aunurohim, & Abdulgani, N. (2011). Sintasan (Survival Rate) Ikan Mujair (Oreochromis

Mossambicus) Secara In-Situ Di Kali Mas Surabaya. Skripsi. Institut Teknologi Sepuluh November.

Surabaya.

[6] Ali, Y. T., & J. A. R., N. R. (2018). Ikan Patin (Pengasius Sp) Untuk Uji Toksisitas Akut Air Lindi.

Jurnal Envirotek, 9(1). Jurnal Envirotek, Https://Doi.Org/10.33005/Envirotek.V9i1.1050

[7] Noviana, I., & Prinajati, D. (2021). Tingkat Toksisitas Limbah Laundry Terhadap Ikan Mas (Cyprinus Carpio). Arus Jurnal Sosial dan Humaniora, 1(3), 131-139.

[8] OECD. (1992). OECD Guideline For Testing Of Chemicals. Council Of United Kingdom.

[9] Hoffman, D. J. (Ed.). (2003). Handbook Of Ecotoxicology (2nd Ed). Lewis Publishers.

[10] Rohmani, I. (2014). Uji Toksisitas Akut Limbah Cair Pabrik Tahu Pada Ikan Nila (Oreocromis niloticus) dan Tumbuhan Kayu Apu (Pistia stratiotes) (Doctoral dissertation, Institut Teknologi Sepuluh Nopember).

[11] Wiyanti, R. I., & AR, N. R. J. (2018). Uji Toksisitas Lindi TPA Benowo Menggunakan Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus) Sebagai Biota Uji. Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol, 8(2), 69.

[12] Nugroho, S. Y., Sumiyati, S., & Hadiwidodo, M. (2014). Penurunan Kadar COD dan TSS pada Limbah Industri Pencucian Pakaian (Laundry) dengan Teknologi Biofilm Menggunakan Media Filter Serat Plastik dan Tembikar dengan Susunan Random (Doctoral dissertation, Diponegoro University).

[13] Ihsan, T., Edwin, T., Husni, N., & Rukmana, W. D. (2018). Uji Toksisitas Akut Dalam Penentuan Lc50-96h Insektisida Klorpirifos Terhadap Dua Jenis Ikan Budidaya Danau Kembar, Sumatera Barat.

Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 98. Https://Doi.Org/10.14710/Jil.16.1.98-103

[14] Andria, A. F., & Rahmaningsih, S. (2018). Kajian Teknis Faktor Abiotik pada Embung Bekas Galian Tanah Liat PT. Semen Indonesia Tbk. untuk Pemanfaatan Budidaya Ikan dengan Teknologi KJA [Technical Study of Abiotic Factors in Clay Embankment Used at PT. Semen Indonesia Tbk for Utilization of Fish Cultivation with KJA Technology]. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 10(2), 95-105.

[15] Rachmah, Y. N. (2020). Uji toksisitas akut linear alkylbenzene sulfonate (las) dan timbal (Pb) terhadap ikan mas (cyprinus carpio) (Doctoral dissertation, UIN Sunan Ampel Surabaya).

[16] Mahyudin, K., & S PI, M. M. (2013). Panduan lengkap agribisnis Lele. Niaga Swadaya.

Referensi

Dokumen terkait

Pada Gambar diperoleh pH optimum adsorpsi merkuri(II) oleh biomassa daun enceng gondok adalah 6, karena pada pH 6 keadaan merkuri(II) belum mengendap menjadi HgO dan

Apabila pH air yang bercampur nutrisi tidak sesuai dengan standar nilai pH yang dibutuhkan oleh tanaman, maka mikrokontroler akan merespon pembacaan sensor pH dan mengatur pompa air