Perancangan Sarana Kerja Untuk Mengurangi Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Dengan Pendekatan Ergonomis Pada Petani Kopi Di Desa Arul Item”. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan fasilitas kerja pada proses pemetikan buah kopi di Desa Arul Item Aceh Tengah. Tugas akhir yang dilaksanakan di Desa Arul Item ini bertujuan untuk mengembangkan pola pikir, pengetahuan dan wawasan.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Batasan Masalah
- Manfaat Penelitian
- Sistematika Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah Perkebunan Kopi Desa Arul Item, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Anda ingin merancang ruang kerja yang ergonomis untuk proses panen kopi bagi petani.
KAJIAN PUSTAKA
Memudahkan pekerjaan dan memberikan keamanan lebih bagi kesehatan fisik petani, sehingga mencegah risiko cedera fisik jangka pendek dan panjang selama proses pemetikan kopi pasca panen. Bab pendahuluan berisi tentang latar belakang diangkatnya peneliti ini, disamping permasalahan yang akan diangkat, batasan masalah, tujuan penelitian, hasil penelitian dan sistematika penulis.
METODE PENELITIAN
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
PEMBAHASAN
KESIMPULAN DAN SARAN
Ergonomi
- Pengertian Ergonomi
- Tujuan Ergonomi
Ergonomi adalah penerapan teknologi untuk menyeimbangkan seluruh fasilitas yang digunakan baik untuk bekerja maupun istirahat dengan segala kemampuan dan keterbatasan manusia, baik fisik maupun psikis, guna mencapai kualitas hidup yang lebih baik secara keseluruhan (Tarwaka, 2013). Keluhan muskuloskeletal merupakan keluhan pada otot rangka yang dirasakan seseorang, mulai dari keluhan yang sangat ringan hingga sangat nyeri. Memaksimalkan kesejahteraan fisik dan psikologis melalui upaya mencegah cedera dan penyakit akibat kerja, mengurangi beban kerja fisik dan psikologis, serta mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek teknis, ekonomi, antropologi dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan untuk menciptakan kualitas kerja dan kualitas hidup yang lebih tinggi (Tarwaka et al., 2011).
Nordic Body Map (NBM)
Beban Kerja
- Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja
10. membawa beban, peralatan kerja, perangkat informasi, termasuk layar kendali, alur kerja, dan lain-lain), serta tugas-tugas yang bersifat mental, seperti kompleksitas pekerjaan atau tingkat kesulitan pekerjaan, yang mempengaruhi tingkat emosi pekerja dan tanggung jawab untuk bekerja. Organisasi kerja meliputi waktu kerja, waktu istirahat, kerja shift, kerja malam, sistem penggajian, sistem kerja, struktur organisasi dan lain-lain. Lingkungan kerja yang dapat memberikan tekanan tambahan pada pekerja adalah lingkungan fisik kerja, seperti iklim mikro (suhu dan kelembaban), intensitas pencahayaan dan kebisingan; lingkungan kimia (debu, asap logam, asap di udara, dll.); lingkungan biologis (bakteri, virus, jamur, dll); lingkungan psikologis (seleksi dan penempatan pekerja, pekerja dan atasan, pekerja dan keluarga, serta lingkungan pekerja dan sosial yang mempengaruhi prestasi kerja di tempat kerja.
Sedangkan penilaian subjektif dapat dilakukan melalui perubahan reaksi psikologis dan perubahan perilaku, oleh karena itu penilaian subjektif berkaitan dengan harapan, keinginan, kepuasan dan penilaian subjektif lainnya.
Keluhan Muskuloskeletal
- Definisi Keluhan Muskuloskeletal
- Faktor Risiko Keluhan Muskuloskeletal
Potensi bahaya ergonomi adalah potensi bahaya yang diakibatkan oleh penerapan ergonomi yang tidak baik atau tidak memenuhi kaidah ergonomi yang sesuai dalam pelaksanaan pekerjaan (Tarwaka, 2014). Kegiatan yang berulang merupakan pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus seperti mencangkul, membelah kayu besar dan mengangkat (Tarwaka, 2015). Postur kerja tidak ilmiah adalah postur kerja yang menyebabkan posisi bagian tubuh menjauh dari posisi ilmiah, dimana semakin jauh posisi bagian tubuh tersebut dari pusat gravitasi tubuh maka semakin besar pula resiko terjadinya keluhan musculoskeletal (Tarwaka, 2015).
Potensi bahaya fisik adalah potensi bahaya yang menimbulkan gangguan kesehatan bagi pekerja, seperti: ruangan terlalu panas, terlalu dingin, kebisingan, penerangan kurang, getaran berlebihan, radiasi dan sejenisnya (Sucipto, Cecep, 2014). Kemungkinan timbulnya masalah muskuloskeletal dapat dipengaruhi oleh faktor risiko individu yang berbeda-beda menurut penelitian yang dilakukan, namun faktor risiko. Usia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya masalah muskuloskeletal, karena pada usia paruh baya kekuatan dan daya tahan otot mulai menurun sehingga risiko terjadinya masalah otot meningkat (Tarwaka, 2015).
Masa kerja merupakan salah satu faktor risiko terjadinya keluhan muskuloskeletal karena keluhan muskuloskeletal akibat kerja bersifat kumulatif, artinya semakin lama seseorang terpapar faktor risiko tersebut maka orang tersebut juga akan mengalami keluhan fisik akibat pekerjaannya. Penelitian yang menunjukkan bahwa pengalaman kerja merupakan faktor risiko terjadinya keluhan muskuloskeletal adalah penelitian yang dilakukan oleh Bedu, dkk. 2013) menunjukkan bahwa masa kerja berpengaruh terhadap keluhan musculoskeletal.
REBA ( RapidiEntire Body Assessment )
Ukuran tubuh dan karakteristik tubuh dalam keadaan istirahat (statis) untuk posisi yang telah ditentukan atau standar. Ukuran tubuh atau ciri-ciri tubuh pada saat bergerak, atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi pada saat pekerja sedang melakukan aktivitas. Persentase menunjukkan persentase penduduk dalam suatu populasi yang memiliki ukuran tubuh tertentu (lebih kecil atau lebih besar).
Tiga nilai persentil yang digunakan dalam perancangan yaitu persentil kecil, persentil besar, dan persentil tengah. Karena data antropometri sering diartikan sebagai data yang berdistribusi normal, maka persentil tengah (persentil ke-50) mempunyai nilai yang sama dengan nilai rata-rata suatu distribusi. Pemilihan persentil bergantung pada karakteristik dimensi desain; biasanya persentil ke 5 digunakan sebagai nilai persentil kecil dan persentil ke 95 sebagai persentil besar, untuk menampung 95% penduduk.
Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa sekitar 5% dari 34 penduduk akan memiliki antropometri yang ekstrim. Persentil kecil digunakan untuk orang yang mempunyai ukuran tubuh kecil atau pendek, hal ini akan menimbulkan masalah jika menggunakan desain yang dimensinya dibuat terlalu besar, lebar atau terlalu tinggi, misalnya diameter pegangan sambungan, tinggi dudukan. bantalan kursi, dll.
Uji Keseragaman Data
Perhitungan persentase dapat dihitung dengan menggunakan metode distribusi normal. Jika diketahui nilai mean dan simpangan baku suatu kumpulan data, maka dapat dihitung dengan menggunakan rumus persentase sebagai berikut. Hasil uji keseragaman data dengan menggunakan rumus atau persamaan diatas selanjutnya akan dimasukkan ke dalam tabel kendali untuk memastikan apakah data tersebut berada dalam batas kendali atau tidak. Data dapat dikatakan seragam apabila data tersebut berada dalam batas kendali yang telah ditentukan yaitu antara BKA = Batas Kendali Atas dan BKB = Batas Kendali Bawah.
Sebaliknya jika data berada di luar BKA dan BKB maka datanya belum terkontrol atau belum seragam.
Uji Kecukupan Data
Uji Kenormalan Data
Data antropometri yang digunakan merupakan data federal (hasil pengukuran), dan jumlah sampel cukup sehingga metode Kolmogorov-Smirnov dapat digunakan untuk menguji normalitas data. Data berdistribusi normal apabila lolos uji normalitas dengan hasil uji signifikansi (2-tailed sig) lebih besar dari 0,05, dan dinyatakan tidak berdistribusi normal apabila nilai signifikansi (2-tailed sig) kurang dari atau sama dengan 0,05. Tes ini dapat memberikan informasi apakah data yang dikumpulkan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Jenis Penelitian
Objek Penelitian
Identifikasi Masalah
Populasi dan Sampel
Metode Pengumpulan Data 1. Studi Pustaka
- Studi Lapangan
Observasi merupakan suatu metode yang dilakukan dengan cara mengamati langsung obyek penelitian untuk memperoleh data sebenarnya yang dibutuhkan.
Tekniki Pengolahan Data
Kuesioner yang dilakukan pada penelitian ini adalah Nordic Body Map untuk mengidentifikasi keluhan petani mengenai gangguan musculoskeletal. Pengujian keseragaman data diperlukan untuk mengendalikan proses bagian-bagian data yang ditolak atau tidak seragam (out of control) karena tidak memenuhi batas yang telah ditentukan. Peta kendali merupakan alat yang tepat digunakan untuk menguji keseragaman data yang diperoleh dari rata-rata hasil observasi.
Jika N' < N maka data hasil pengukuran sudah mencukupi dan tidak perlu dilakukan pengukuran lebih lanjut. Data Uji normalitas data dimaksudkan untuk memeriksa apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau berasal dari populasi yang sama. Uji normalitas data pada penelitian ini dilakukan dengan metode Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan software SPSS 22.0 for Windows.
Data berdistribusi normal apabila lolos uji normalitas dengan hasil uji signifikansi (2-tailed sig) lebih besar dari 0,05 dan dikatakan tidak berdistribusi normal jika nilai signifikansi (2-tailed sig) kurang dari atau sama dengan 0,05. Tes ini dapat memberikan informasi apakah data yang diperoleh berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Instrument Penelitian
Dan referensi lainnya yang dapat digunakan untuk menggali teori-teori guna mendukung pemecahan masalah. Kamera memotret postur petani saat menjalankan serangkaian tugas, yang kemudian dinilai menggunakan metode REBA.
Variabel Penelitian
Kerangka Konseptual
Sarana kerja sebenarnya adalah media kerja atau tempat kerja yang digunakan petani pada saat memetik kopi yaitu penggunaan karung/karung. Pengukuran antropometri petani merupakan pengukuran tubuh petani pada posisi tertentu yang dijadikan pedoman dalam merancang sarana kerja yang ergonomis. Letak geografis merupakan kondisi jalan di perkebunan kopi yang bergunung-gunung dan tidak rata sehingga menambah beban petani pada saat proses pemetikan kopi.
Postur kerja sebenarnya adalah kondisi atau posisi tubuh pekerja pada saat menggunakan fasilitas kerja sebenarnya.
Analisis Pemecahan Masalah
Flow Chart penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka kesimpulan yang diperoleh dari 56 orang pekerja pemetik buah kopi di Desa Arul Item pada tahun 2021 adalah sebagai berikut. Hasil kuesioner Nordic Body Map (NBM) terhadap 56 pekerja menunjukkan bahwa keluhan muskuloskeletal yang dialami pekerja pemetik buah kopi terbanyak adalah nyeri pada leher bagian atas dan pergelangan tangan kiri sebanyak 39 orang (70%). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap sikap kerja pekerja pemetik buah kopi di Desa Arul Item dengan metode REBA diperoleh bahwa sikap kerja pekerja pemetik buah kopi berada pada kategori risiko sedang.
Risiko ini terlihat dari hasil akhir skor REBA yang menunjukkan bahwa sikap kerja dalam proses pemanenan buah kopi berada pada poin 6 dan diperlukan perbaikan atau perubahan sikap kerja. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka diperoleh hasil perancangan dengan dimensi, lebar tas 50,28 cm, tinggi tas 13,2 cm, panjang tali tengah 98,78 cm, panjang tali utama 149,6 cm, jarak sabuk utama 17,6 cm, lebar sabuk utama 7,54 cm. Dari hasil rancangan usulan diketahui bahwa skor REBA berada pada poin 2 yang merupakan kategori risiko rendah sehingga perlu dilaksanakan.
Menggunakan fasilitas kerja yang sesuai dengan kebutuhan pekerja untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan nyaman. Jika pergelangan tangan tertekuk atau terpelintir dari garis tengah: Tambahkan +1 Langkah 10: Cari Skor Postur pada Tabel B. Skor Postur B Langkah 5: Tambahkan Skor Kekuatan/Beban Skor Postur Pegangan yang pas dan cengkeraman kekuatan jarak menengah , bagus: + 0.
Coupling Rating Adjustment: If it's a hit or a quick force increase: add +1 to the force/strain score.