Amma ba'du...Sesungguhnya buku ini dihadirkan kepada pembaca sebagai pelampiasan perasaan khawatir, cemas, dan takut yang ekstrem akibat merebaknya pandemi Covid-19.
Relasi Manusia dengan Pendidikan
Manusia selalu berusaha mewujudkan dirinya menjadi manusia ideal baik dalam interaksi atau komunikasi secara horizontal maupun vertikal. Dan bahwa masyarakat dapat memperoleh bantuan atau pengaruh pendidikan juga melalui interaksi atau komunikasi timbal balik.
Relasi Pendidikan dengan Manajemen
Dalam hal ini motif atau model gambarnya adalah sekolah dan latar belakangnya adalah masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan penerapan “lingkaran konsentris manajemen pendidikan” diperlukan dan merupakan satu-satunya alternatif, agar dapat terjadi peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan standar dan harapan seluruh pelaku.
Esensi Manajemen Pendidikan
Dari uraian teoritis para ahli mengenai hakikat manajemen pendidikan di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan adalah suatu proses yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan tindakan dalam bidang pendidikan agar tujuan pendidikan yang telah ditentukan dapat tercapai. Syafaruddin dan Asrul misalnya memaparkan bahwa tujuan manajemen pendidikan ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan secara produktif, kualitatif, efektif dan efisien.
Fungsi dan Manfaat Manajemen Pendidikan
Hakikat perencanaan pembelajaran adalah menentukan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Rencana pembelajaran harus disusun secara sistematis agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Prinsip-prinsip Manajemen Pendidikan
Supervisi sebagai tugas berarti supervisi pendidikan yang dilakukan oleh guru pembimbing sekolah di sekolah tempat ia ditugaskan. Penerapan dalam manajemen pendidikan adalah kepala departemen memimpin tim yang terdiri dari unsur pejabat dan fungsional departemen serta pemangku kepentingan untuk merumuskan visi, misi dan tujuan departemen pendidikan. Prinsip-prinsip tersebut mempunyai hakikat bahwa manajemen dalam ilmu dan prakteknya harus memperhatikan tujuan, manusia, tugas dan nilai-nilai.
Matlamat digubal dengan tepat mengikut hala tuju organisasi, garis panduan masa dan nilai-nilai yang berlaku.
Urgensi Kepemimpinan
Seorang pemimpin tidak hanya mempengaruhi bawahannya tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi bawahannya. Penganut teori gentis mengatakan bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dua teori karakter/kepribadian (trait theory) yang mengandaikan pemimpin dan kepemimpinan mengasumsikan pentingnya karakter/kepribadian.
Sedangkan faktor ekologi, yang pada dasarnya berarti seseorang akan berhasil menjadi pemimpin yang efektif hanya jika sejak lahir ia sudah memiliki bakat kepemimpinan. Faktor genetik memang sangat diperlukan, namun yang terpenting adalah bagaimana karakter kepemimpinan dapat hadir dalam diri individu seorang pemimpin. Dengan kerjasama diharapkan seorang manajer mempunyai keterampilan kerja yang serba guna, efektif dan mampu bekerja sesuai kebutuhan dan tuntutan organisasi tempatnya bekerja.
Untuk menjadi pemimpin yang utuh, pemimpin dalam menjalankan kepemimpinan dituntut untuk menjalankan peran kepemimpinan secara efektif, baik sebagai penentu arah, agen perubahan, juru bicara atau pelatih, guna meningkatkan kemampuan sumber daya pegawai dalam suatu organisasi.
Esensi Kepemimpinan
Keputusan yang diambil dalam gaya kepemimpinan ini merupakan hasil kesepakatan bersama melalui diskusi dan pemikiran kolektif. Gaya manajemen yang berbeda-beda ini mempunyai perbedaan dan kelebihan tersendiri untuk diterapkan dalam suatu organisasi. Pada dasarnya gaya manajemen ini dapat diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada suatu organisasi.
Gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam suatu organisasi juga menarik perhatian Luthan dan mengelompokkannya menjadi gaya transformasional, transaksional, dan karismatik. Gaya kepemimpinan transaksional merupakan gaya kepemimpinan yang dapat meningkatkan semangat kerja pengikut melalui transaksi atau penghargaan. Gaya kepemimpinan ini mengasumsikan adanya hubungan antara pemimpin dan bawahan, yang didasarkan pada serangkaian kegiatan negosiasi antara keduanya.
Untuk memenuhi kebutuhan setiap orang atau pengikutnya, unsur kepemimpinan dapat menerapkan gaya kepemimpinan transaksional atau transformasional.
Kepemimpinan Sekolah
Peran kepala sekolah sebagai pemimpin mencerminkan tanggung jawab kepala sekolah untuk mengerahkan sumber daya yang ada di sekolah. Dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik, kepala sekolah harus mempunyai strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah. Kepala sekolah harus dapat bekerja melalui orang lain dan berusaha untuk selalu mempertanggungjawabkan setiap tindakannya.
Oleh karena itu salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu pengawasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Kepala sekolah sebagai pengawas terlihat pada kemampuannya menyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan, serta memanfaatkan hasilnya. Tugas direktur sebagai pengawas diwujudkan dalam kemampuannya menyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan serta memanfaatkan hasilnya.
Dalam fungsi ini, pemimpin sekolah harus mampu melakukan diskusi dan debat dengan pihak eksternal.
Esensi Organisasi
Asumsi ini didasarkan pada asumsi bahwa tujuan didirikannya suatu organisasi adalah agar para anggotanya dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu, selama mereka masih mau bergabung dalam organisasi tersebut, berarti mereka ingin saling membantu mencapai tujuannya masing-masing. Dari pandangan tersebut, Muhyadi berasumsi bahwa organisasi adalah kumpulan orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Sebagai sebuah entitas, organisasi memungkinkan masyarakat mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai oleh seorang individu. Secara sederhana, organisasi diartikan sebagai kumpulan orang-orang yang bekerja sama dalam suatu pembagian kerja untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Suatu organisasi disebut organisasi apabila mempunyai dua orang atau lebih anggota yang dapat berperilaku dalam organisasi untuk mencapai tujuan secara sadar sesuai dengan tujuan organisasi.
Faktor lingkungan eksternal sangat mempengaruhi kemajuan atau kegagalan suatu organisasi dalam upaya mencapai tujuannya.
Esensi Organisasi Sekolah
Di sekolah, seorang kepala sekolah mungkin mempunyai tanggung jawab sebagai pemimpin dan otoritas formal tertinggi. Dalam struktur sosial sekolah, kepala sekolah menempati kedudukan tertinggi dan petugas kebersihan menempati kedudukan terendah. Kepala sekolah juga merupakan perantara antara atasan, yaitu kepala jurusan di sekolah negeri atau pengurus yayasan di sekolah swasta, serta guru dan siswa.
Selain itu kepala sekolah juga mempunyai kepemimpinan di sekolah dengan harapan mampu memberikan kepemimpinan dalam segala hal yang berkaitan dengan sekolah, permasalahan yang timbul dalam interaksi dengan masyarakat, siswa dan guru. Dalam hal ini, kepala sekolah harus mampu menavigasi harapan-harapan yang saling bertentangan tersebut. Kepala sekolah pada akhirnya dituntut untuk menjadi teladan dalam bidang moralitas, etika, dan masalah sosial.
Secara formal, kedudukan tenaga administrasi, petugas kebersihan dan keamanan lebih rendah dibandingkan dengan kepala sekolah dan tenaga pengajar.
Budaya Organisasi Sekolah
Secara umum penerapan konsep budaya organisasi di sekolah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penerapan konsep budaya organisasi lainnya. Mengenai dukungan budaya organisasi di sekolah, Stolp menyatakan bahwa “keyakinan bersama guru, siswa dan kepala sekolah”. Budaya organisasi di sekolah ditandai dengan keteraturan cara bertindak seluruh warga sekolah yang dapat diamati. .
Budaya organisasi di sekolah ditandai dengan adanya norma-norma yang memuat standar perilaku bagi warga sekolah, baik siswa maupun guru. Pentingnya membangun budaya organisasi di sekolah terutama berkaitan dengan upaya mencapai tujuan pendidikan sekolah dan meningkatkan kinerja sekolah. Budaya organisasi di sekolah dikaitkan dengan peningkatan motivasi dan kinerja belajar siswa, serta kepuasan kerja dan produktivitas guru.
Yang tidak kalah pentingnya adalah budaya organisasi di sekolah mempunyai korelasi dengan sikap guru dalam bekerja.
Perilaku Organisasi
Menurut Gitosudarm, perilaku organisasi penting untuk memahami, menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi serta mengendalikan perilaku manusia dalam organisasi agar tujuan didirikannya organisasi dan tujuan orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya dapat tercapai secara optimal. Namun jika lamaran perempuan, bahkan yang cemerlang sekalipun, selalu ditolak dan diabaikan oleh laki-laki; mengidentifikasi dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dalam organisasi. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa menggambarkan apa yang terjadi dalam suatu organisasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah dan sekaligus menjelaskan perilaku manusia.
Tujuan kedua mempelajari perilaku organisasi adalah untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam organisasi dan apa kemungkinan serta konsekuensinya di masa depan. Oleh karena itu, perilaku manusia dalam organisasi harus dikendalikan dengan pemahaman bahwa perilaku disfungsional harus dihindari. Fokus perilaku organisasi adalah perilaku individu-individu dalam organisasi, sehingga untuk memahami perilaku organisasi harus terlebih dahulu memahami perilaku berbagai individu dalam organisasi.
Struktur organisasi mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku individu atau orang-orang dalam organisasi dan terhadap efektivitas organisasi.
Perilaku Individu dan Kelompok dalam Organisasi
Dengan keterbatasan kemampuan tersebut, maka tidak setiap orang akan sama dalam menjalankan tugasnya. Dan karena perbedaan kemampuan tersebut, maka dapat digunakan untuk memprediksi kinerja dan hasil kerja seseorang yang bekerja sama dalam suatu organisasi tertentu. Memahami perbedaan kebutuhan seseorang sangat membantu dalam memahami konsep perilaku seseorang dalam suatu organisasi.
Ini dapat digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan perilaku yang diarahkan pada tujuan dalam kolaborasi organisasi. Dalam banyak kasus, seseorang dihadapkan pada sejumlah kebutuhan potensial yang harus dipenuhi melalui perilakunya. Selain itu, evaluasi adalah salah satu faktor yang paling sulit dalam mempengaruhi perilaku di masa depan.
Kelompok kecil nampaknya hanya berkaitan dengan kriteria besar kecilnya jumlah anggota kelompok, yaitu kecil.
Sumber Daya Manusia
Upaya peningkatan mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan dan manajemen efektif kepala sekolah. Manajemen mutu terpadu mengharuskan seluruh kepala sekolah menjadi pemimpin dan teladan dalam proses mutu. Dalam konteks ini, direktur sekolah melatih tenaga pengajarnya dalam berbagai hal yang berkaitan dengan sikap batin dan karakter.
Sebagai seorang manajer, kepala sekolah harus mau dan mampu memanfaatkan seluruh sumber daya sekolah untuk mewujudkan visi, misi dan mencapai tujuan. Dalam hal ini kepala sekolah harus bertindak demokratis dan memberikan kesempatan kepada seluruh tenaga kependidikan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan lebih efektif dan mampu memanfaatkan seluruh potensi sumber daya yang ada di sekolah, maka kepala sekolah harus memahami perannya.
Kepala sekolah sebagai supervisor dimaksudkan untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap guru dan staf lainnya guna meningkatkan kinerjanya. Kepala sekolah sebagai pengawas mempunyai tugas mengelola seluruh aspek kurikulum yang berlaku di sekolah agar dapat dicapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Upaya pengembangan budaya organisasi di sekolah khususnya mengenai tugas kepala sekolah sebagai pemimpin dan manajer di sekolah perlu lebih ditingkatkan.
Sumber Daya Informasi
Sumber Daya Sarana dan Prasarana
Sumber Daya Pembiayaan