• Tidak ada hasil yang ditemukan

Literatur Publikasi 2 RPJMN 2015-2019 070723

N/A
N/A
Debs Jewel

Academic year: 2024

Membagikan "Literatur Publikasi 2 RPJMN 2015-2019 070723"

Copied!
419
0
0

Teks penuh

(1)

pg. 1

ANALISIS PRINSIP LAND USE, LAND DEVELOPMENT, LAND TENURE, DAN LAND VALUE DALAM PENATAAN RUANG DAN PENGELOLAAN AGRARIA ABSTRAK

Pada RPJMN 2015-2019, pemerintah mendorong pembangunan 14 kawasan industri prioritas di luar Jawa. “Artinya dalam lima tahun ke depan, pemerintah konsisten untuk terus mendorong pengembangan industri di luar Pulau Jawa,” tambahnya. Pada RPJMN 2020-2024, pemerintah mengusulkan 19 kawasan industri prioritas di luar Jawa. Ke-19 kawasan industri itu meliputi Kawasan Industri Sei Mangkei (Simalungun, Sumatera Utara), Kawasan Industri Kuala Tanjung (Batubara, Sumatera Utara), Kawasan Industri Galang Batang (Bintan, Kepulauan Riau), Kawasan Industri Bintan (Bintan, Kepulauan Riau), dan Kawasan Industri Kemingking (Muaro Jambi, Jambi). Kemudian Kawasan Industri Tanjung Enim (Muara Enim, Sumatera Selatan), Kawasan Industri Pesawaran (Pesawaran, Lampung), Kawasan Industri Way Pisang (Way Pisang, Lampung), Kawasan Industri Sadai (Bangka Selatan, Bangka Belitung), Kawasan Industri Ketapang (Ketapang, Kalimantan Barat), dan Kawasan Industri Surya Borneo (Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah). Berikutnya, Kawasan Industri Buluminung (Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur), Kawasan Industri Tanah Kuning (Bulungan, Kalimantan Utara), Kawasan Industri Batulicin (Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan), Kawasan Industri Jorong (Tanah Laut, Kalimantan Selatan), dan Kawasan Industri Bangkalan (Madura, Jawa Timur). Selanjutnya, Kawasan Industri Weda Bay (Halmahera Tengah, Maluku Utara), Kawasan Industri Palu (Palu, Sulawesi Tengah), dan Kawasan Industri Bintuni (Teluk Bintuni, Papua Barat). Agus mengutarakan pengembangan kawasan industri prioritas tahun 2020-2024 ini difokuskan pada industri berbasis agro, minyak dan gas bumi, logam dan batubara serta industri teknologi tinggi dan aerospace.

Pada RPJMN 2015-2019, pemerintah mendorong pembangunan 14 kawasan industri prioritas di luar Jawa. “Artinya dalam lima tahun ke depan, pemerintah konsisten untuk terus mendorong pengembangan industri di luar Pulau Jawa,” tambahnya. Pada RPJMN 2020-2024, pemerintah mengusulkan 19 kawasan industri prioritas di luar Jawa. Ke-19 kawasan industri itu meliputi Kawasan Industri Sei Mangkei (Simalungun, Sumatera Utara), Kawasan Industri Kuala Tanjung (Batubara, Sumatera Utara), Kawasan Industri Galang Batang (Bintan, Kepulauan Riau), Kawasan Industri Bintan (Bintan, Kepulauan Riau), dan Kawasan Industri Kemingking (Muaro Jambi, Jambi). Kemudian Kawasan Industri Tanjung Enim (Muara Enim, Sumatera Selatan), Kawasan Industri Pesawaran (Pesawaran, Lampung), Kawasan Industri Way Pisang (Way Pisang, Lampung), Kawasan Industri Sadai (Bangka Selatan, Bangka Belitung), Kawasan Industri Ketapang (Ketapang, Kalimantan Barat), dan Kawasan Industri Surya Borneo (Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah). Berikutnya, Kawasan Industri Buluminung (Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur), Kawasan Industri Tanah Kuning (Bulungan, Kalimantan Utara), Kawasan Industri Batulicin (Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan), Kawasan Industri Jorong (Tanah Laut, Kalimantan Selatan), dan Kawasan Industri Bangkalan (Madura, Jawa Timur). Selanjutnya, Kawasan Industri Weda Bay (Halmahera Tengah, Maluku Utara), Kawasan Industri Palu (Palu, Sulawesi Tengah), dan Kawasan Industri Bintuni (Teluk Bintuni, Papua Barat). Agus mengutarakan pengembangan kawasan industri prioritas tahun 2020-2024 ini difokuskan pada industri berbasis agro, minyak dan gas bumi, logam dan batubara serta industri teknologi tinggi dan aerospace.

Faktor kunci industrialisasi meliputi tanah, tenaga kerja, modal, teknologi dan koneksi. Tanpa pasokan besar dari elemen-elemen tersebut dan kemampuan mengaturnya, masyarakat tidak dapat berkembang menjadi masyarakat industri. Tanah Tanah merujuk bukan hanya permukaan yang digunakan untuk pertanian, pabrik atau sarana transportasi. Apa yang ada di

(2)

pg. 2

Penulis Yohanes Enggar Harususilo | Editor Yohanes Enggar Harususilo KOMPAS.com - Kebudayaan dipandang menjadi kunci masa yang berdampak luas bagi masa depan Indonesia dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. "Kebudayaan menjadi kunci masa depan yang memiliki dampak luas, termasuk dampak ekonomi. Dan budaya bisa menjadi nilai sumber kehidupan, membangun integritas moral yang berbasis nilai budaya," ujar Gubernur Bali I Wayan Koster saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Kebudayaan di Bali (18/12/2019).

I Wayan Koster meyakini jika kebudayaan akan menjadi penentu masa depan Indonesia dalam menghadapi arus global revolusi industri 4.0. Kebudayaan juga dinilai sebagai salah satu elemen dasar dimiliki Indonesia, bilamana dikelola dengan tata yang baik menjadi penentu masa depan. Namun sayangnya, ia melihat kekayaan kebudayaan Indonesia masih belum dikelola secara serius.

Pemerintah Fokus Bangun 19 Kawasan Industri Prioritas Kompas.com - 19/12/2019, 19:34 WIB . Dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah gencar meningkatkan investasi di sektor industri. Hal ini direalisasikan lewat pembangunaan kawasan industri. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasismita pada acara Temu Dialog Pengembangan Industri Prioritas di Jakarta, Selasa (10/12/2019). Saat ini, terdapat 103 kawasan industri yang telah beroperasi dengan cakupan wilayah seluas 55.000 hektare. Sebanyak 58 di antaranya berada di Pulau Jawa, sisanya tersebar di Pulau Sumatera (33 kawasan industri), Kalimantan (8), dan Sulawesi (4). “Terdapat 15 kawasan industri yang masih dalam proses konstruksi dan 10 kawasan industri pada tahap perencanaan,” ujarnya. Agus menuturkan langkah tersebut diambil sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo kepadanya untuk menciptakan atau mengembangkan kawasan industri di seluruh wilayah Indonesia. “Sejak tahun 2014, ada peningkatan hingga 20 kawasan industri atau sebesar 28,15 persen,” ungkapnya. Melihat kawasan industri yang masih terpusat di Pulau Jawa, pemerintah berupaya untuk mengembangkan kawasan-kawasan industri baru di luar Jawa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Hal tersebut adalah upaya pemerintah untuk mendorong pemerataan ekonomi yang inklusif dan mewujudkan Indonesia sentris. Pemerintah berencana untuk memfokuskan kawasan industri di Pulau Jawa untuk pengembangan industri teknologi tinggi, industri padat karya, dan industri dengan konsumsi air rendah. Sementara itu, kawasan industri di luar Jawa akan dititikberatkan pada industri berbasis sumber daya alam dan peningkatan efisiensi sistem logistik. Selain itu, pengembangan kawasan industri ini juga diharapkan dapat mendorong terciptanya pusat ekonomi baru. Agus mengungkapkan pengembangan pusat-pusat ekonomi baru ini perlu terintegrasi dengan pengembangan perwilayahan, termasuk pembangunan infrastruktur. “Sehingga dapat memberi efek positif yang maksimal dalam pengembangan ekonomi wilayah,” ujarnya. Kawasan Industri Prioritas dalam RPJMN 2020-2024 Komitmen pemerintah untuk membangun sejumlah kawasan industri prioritas di luar Jawa tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Upaya tersebut, menurut Agus, telah dilakukan sejak periode sebelumnya.

Pada RPJMN 2015-2019, pemerintah mendorong pembangunan 14 kawasan industri prioritas di luar Jawa. “Artinya dalam lima tahun ke depan, pemerintah konsisten untuk terus mendorong pengembangan industri di luar Pulau Jawa,” tambahnya. Pada RPJMN 2020-2024, pemerintah mengusulkan 19 kawasan industri prioritas di luar Jawa. Ke-19 kawasan industri itu meliputi Kawasan Industri Sei Mangkei (Simalungun, Sumatera Utara), Kawasan Industri Kuala Tanjung (Batubara, Sumatera Utara), Kawasan Industri Galang Batang (Bintan, Kepulauan Riau), Kawasan Industri Bintan (Bintan, Kepulauan Riau), dan Kawasan Industri Kemingking (Muaro Jambi, Jambi). Kemudian Kawasan Industri Tanjung Enim (Muara Enim,

(3)

pg. 3

Pada RPJMN 2015-2019, pemerintah mendorong pembangunan 14 kawasan industri prioritas di luar Jawa. “Artinya dalam lima tahun ke depan, pemerintah konsisten untuk terus mendorong pengembangan industri di luar Pulau Jawa,” tambahnya. Pada RPJMN 2020-2024, pemerintah mengusulkan 19 kawasan industri prioritas di luar Jawa. Ke-19 kawasan industri itu meliputi Kawasan Industri Sei Mangkei (Simalungun, Sumatera Utara), Kawasan Industri Kuala Tanjung (Batubara, Sumatera Utara), Kawasan Industri Galang Batang (Bintan, Kepulauan Riau), Kawasan Industri Bintan (Bintan, Kepulauan Riau), dan Kawasan Industri Kemingking (Muaro Jambi, Jambi). Kemudian Kawasan Industri Tanjung Enim (Muara Enim, Sumatera Selatan), Kawasan Industri Pesawaran (Pesawaran, Lampung), Kawasan Industri Way Pisang (Way Pisang, Lampung), Kawasan Industri Sadai (Bangka Selatan, Bangka Belitung), Kawasan Industri Ketapang (Ketapang, Kalimantan Barat), dan Kawasan Industri Surya Borneo (Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah). Berikutnya, Kawasan Industri Buluminung (Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur), Kawasan Industri Tanah Kuning (Bulungan, Kalimantan Utara), Kawasan Industri Batulicin (Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan), Kawasan Industri Jorong (Tanah Laut, Kalimantan Selatan), dan Kawasan Industri Bangkalan (Madura, Jawa Timur). Selanjutnya, Kawasan Industri Weda Bay (Halmahera Tengah, Maluku Utara), Kawasan Industri Palu (Palu, Sulawesi Tengah), dan Kawasan Industri Bintuni (Teluk Bintuni, Papua Barat). Agus mengutarakan pengembangan kawasan industri prioritas tahun 2020-2024 ini difokuskan pada industri berbasis agro, minyak dan gas bumi, logam dan batubara serta industri teknologi tinggi dan aerospace.

Modal memungkinkan pekerja mendapatkan izin untuk mengeola dan memproses materi menjadi produk. Baca juga: Cita-cita Jokowi: Jadikan Indonesia Pusat Industri Mobil Listrik Dunia 4. Teknologi Teknologi adalah ilmu pengetahuan terapan untuk penggunaan industri maupun komersil. Ribuan penemuan pada abad ke-19 membantu mekanisasi dan memperbaiki proses manufaktur. Penemuan-penemuan tersebut membuat lebih efisien dan meningkatkan produktivitas. 5. Koneksi Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Koneksi adalah elemen kunci dalam perkembangan industrial. Transportasi menghubungan antara materi mentah, produsen dan konsumen. Koneksi adalah infrastruktur yang merupakan kombinasi jaringan transportasi dan komunikasi. Koneksi adalah pondasi dan bingkai pertumbuhan ekonomi. Baca juga: Dorong Daya Saing UMKM di Era Industri 4.0, Ini Langkah Pemerintah Halaman Selanjutnya Karakteristik IndustrialisasiIndustrialisasi adalah proses transformasi…

Karakteristik Industrialisasi Industrialisasi adalah proses transformasi ekonomi dari pertanian menjadi berbasis pada produksi barang. Kerja manual individu sering digantikan oleh produksi massal mekanis dan pengrajin diganti oleh jalur perakitan. Dikutip dari Investopedia, berikut ini adalah karakteristik atau ciri-ciri industrialisasi: Pertumbuhan ekonomi meliputi peningkatan total pendapatan dan standar hidup dalam masyarakat. Pembagian kerja yang lebih efisien. Penggunaan inovasi teknologi untuk memecahkan masalah dari ketergantungan pada kondisi di luar kendali manusia. Baca juga: Industri Fashion Penyumbang Devisa Terbesar Ketiga di Indonesia, Capai Rp 122 T Menurut PK O'Brien, proses industrialisasi ditandai dengan: Perubahan teknologi dan organisasi yang mengarah ke tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Peningkatan standar hidup. Pertumbuhan penduduk. Urbanisasi. Perubahan budaya. Pergeseran keseimbangan di antara negara-negara. Proses industrialisasi Esensi proses industrialisasi pada masyarakat kapitalis dan juga masyarakat yang didominasi negara dengan perencanaan pusat (seperti bekas Uni Soviet) memiliki kesamaan. Berikut ini bagaimana proses industrialisasi terjadi menurut R Biernacki: Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Awalnya industrialisasi ditandai dengan transfer besar-besaran tenaga kerja dari pertanian dan ke pabrik-pabrik yang memiliki konsentrasi peralatan modal.

(4)

pg. 4

Kawasan Industri Hijau tersebut baru saja diresmikan peletakan batu pertama pembangunannya (groundbreaking) oleh Presiden Joko Widodo, pada Selasa (21/12/2021).

"Peran pemerintah dalam pengembangan kawasan industri hijau ini adalah memfasilitasi percepatan perizinan dan insentif sesuai ketentuan aturan yang ada, supaya pembangunan kawasan industri ini dapat menjadi kawasan yang kondusif dan ramah bagi investor," kata Juru Bicara Menko Marves Jodi Mahardi melalui siaran persnya, Kamis (23/12/2021).

Jodi bilang, Luhut sendiri telah diinstruksikan oleh Presiden untuk mengawal dan mempercepat proses perizinan sehingga tidak timbul permasalahan dalam proses pembangunannya.

Pemerintah, lanjut Jodi, sangat serius untuk mengawal pembangunan kawasan industri ini karena dapat memulai transformasi ekonomi melalui hilirisasi industrialisasi bahan mentah dan pemanfaatan energi hijau.

Kawasan ini juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang diperoleh melalui penerimaan negara yang juga akan turut meningkat.

B. TINJAUAN PUSTAKA

Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Nibras Nada Nailufar KOMPAS.com - Industrialisasi awalnya terjadi di Eropa dan Amerika Utara pada abad ke-18 dan 19 kemudian di negara-negara lain di dunia termasuk Indonesia. Sebenarnya apa pengertian industrialisasi, bagaimana ciri-ciri, faktor dan prosesnya? Pengertian Industrialisasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), industrialisasi adalah usaha menggalakan industri dalam suatu negara. Menurut Kamus Oxford, industrialisasi adalah pengembangan industri di suatu negara atau wilayah dalam skala luas. Baca juga: Gencarkan Investasi, Pemerintah Bangun 19 Kawasan Industri Prioritas.

Menurut Kamus Cambridge, industrialisasi adalah proses pengembangan industri dalam sebuah negara. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Dilansir dari Encyclopaedia Britannica, industrialisasi adalah proses konversi menuju tatanan sosial ekonomi yang didominasi industri.

Dikutip dari Ekonomi Pembangunan (2004) karya Lincolin Arsyad, industrialisasi adalah proses modernisasi ekonomi yang mencakup seluruh sektor ekonomi yang berkaitan satu sama lain dengan industri pengolahan. Artinya, industrialisasi bertujuan meningkatkan nilai tambah seluruh sektor ekonomi dengan sektor industri pengolahan sebagai sektor utama.

Maksudnya, dengan adanya perkembangan industri maka akan memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya. Baca juga: Kementan Dorong Geliat Industri Benih Dalam Negeri SR Parker dalam The Sociology of Industry (1967) menjelaskan industrialisasi adalah proses segala hal yang berkaitan dengan teknologi, ekonomi, perusahaan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya

Revolusi industri kedua Revolusi industri kedua bermula dari penggunaan listrik secara meluas dan mesin pembakaran internal pada 1870. Revolusi industri kedua ini mendorong perkembangan kapitalisme di dunia barat. 3. Revolusi industri ketiga Revolusi industri ketiga dimulai setelah Perang Dunia II akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biologi, komputer, digital, nuklir, ruang angkasa dan lainnya. Revolusi industri ketiga adalah lompatan besar lain yang mengubah masyarakat informasi modern. Baca juga: Universitas dan

(5)

pg. 5

Pembangunan Daerah 2. Tenaga kerja Tenaga kerja adalah elemen manusia dalam industrialisasi. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Pada awal perusahaan bekerja, banyak tenaga dibutuhkan. Faktor manusia ini juga meliputi para pelaku usaha, atau orang yang membuat keuangan, mengelola materi dan pekerja, operasional dan lainnya. 3. Modal Modal adalah uang, mesin produksi, dan perusahaan itu sendiri. Halaman Selanjutnya Modal memungkinkan pekerja mendapatkan izin.

KONSEP DAN DEFINISI PDB PENGELUARAN 1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

2. Pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) merupakan pengeluaran atas barang dan jasa oleh rumah tangga untuk tujuan konsumsi. Dalam hal ini rumah tangga berfungsi sebagai pengguna akhir (final demand) dari berbagai jenis barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian. Rumah tangga didefinisikan sebagai individu atau kelompok individu yang tinggal bersama dalam suatu bangunan tempat tinggal. Mereka mengumpulkan pendapatan, memiliki harta dan kewajiban, serta mengkonsumsi barang dan jasa secara bersama- sama utamanya kelompok makanan dan perumahan (UN, 1993).

•Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

• Pengeluaran Konsumsi Pemerintah adalah nilai seluruh jenis output pemerintah dikurangi nilai output untuk pembentukan modal sendiri dikurangi nilai penjualan barang/jasa (baik yang harganya signifikan dan tdk signifikan secara ekonomi) ditambah nilai barang/jasa yang dibeli dari produsen pasar untuk diberikan pada RT secara gratis atau dengan harga yang tidak signifikan secara ekonomi (social transfer in kind-purchased market production).

3. Pembentukan Modal Tetap Bruto

Secara garis besar PMTB didefinisikan sebagai pengeluaran unit produksi untuk menambah aset tetap dikurangi dengan pengurangan aset tetap bekas. Penambahan barang modal meliputi pengadaan, pembuatan, pembelian barang modal baru dari dalam negeri dan barang modal baru maupun bekas dari luar negeri (termasuk perbaikan besar, transfer atau barter barang modal). Pengurangan barang modal meliputi penjualan barang modal (termasuk barang modal yang ditransfer atau barter kepada pihak lain). Disebut sebagai pembentukan modal tetap bruto karena menggambarkan penambahan serta pengurangan barang modal pada periode tertentu. Barang modal mempunyai usia pakai lebih dari satu tahun serta akan mengalami penyusutan. Istilah ”bruto” mengindikasikan bahwa didalamnya masih mengandung unsur penyusutan. Penyusutan atau konsumsi barang modal (Consumption of Fixed Capital) menggambarkan penurunan nilai barang modal yang digunakan pada proses produksi secara normal selama satu periode.

KONSEP DAN DEFINISI PDB PENGELUARAN

1. Inventori Inventori adalah persediaan yang dikuasai oleh unit yang menghasilkan untuk digunakan dalam proses lebih lanjut, dijual, atau diberikan pada pihak lain, atau digunakan dengan cara lain. Merupakan persediaan yang berasal dari pihak lain, yang akan digunakan sebagai input antara atau dijual kembali tanpa mengalami proses lebih lanjut.

(6)

pg. 6

3. Untuk menghitung angka-angka PDB ada tiga pendekatan yang dapat digunakan, yaitu :

1. Menurut Pendekatan Produksi PDB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dalam penyajian ini dikelompokkan menjadi 9 lapangan usaha (sektor) yaitu :

• Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan

• Pertambangan dan Penggalian

• Industri Pengolahan

• Listrik, Gas dan Air Bersih

• Konstruksi

• Perdagangan, Hotel dan Restoran

• Pengangkutan dan Komunikasi

• Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan

• Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah. Setiap sektor tersebut dirinci lagi menjadi sub-sub sektor.

• Y = [(Q1 X P1) + (Q2 X P2) + (Qn X Pn) ……]

2. Menurut Pendekatan Pendapatan PDB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan; semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam definisi ini, PDB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi).

• Y = r + w + i + p

4. Menurut Pendekatan Pengeluaran PDB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari :

• pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba

• pengeluaran konsumsi pemerintah

• pembentukan modal tetap domestik bruto

• perubahan inventori, dan

• ekspor neto (ekspor neto merupakan ekspor dikurangi impor).

• Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan angka yang sama. Jadi, jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksi. PDB yang dihasilkan dengan cara ini disebut sebagai PDB atas dasar harga pasar, karena di dalamnya sudah dicakup pajak tak langsung neto.

(7)

pg. 7

bentuk data atau indikator suplai yang diperoleh dari berbagai sumber di luar Susenas. Cara yang dilakukan adalah menggantikan (me-replace) hasil Susenas dengan hasil penghitungan data sekunder atas komoditas, kelompok komoditas, atau jenis pengeluaran tertentu. Asumsinya, bahwa penghitungan data sekunder lebih mencerminkan PKRT yang sebenarnya. Langkah penghitungan di atas akan menghasilkan besarnya PKRT atas dasar harga (adh) berlaku. Untuk memperoleh konsumsi rumah tangga harga konstan 2010, PKRT harga berlaku terlebih dahulu dikelompokkan menjadi 12 kelompok COICOP. Konsumsi rumah tangga konstan 2010 diperoleh dengan metode deflasi, dengan deflator IHK 12 kelompok COICOP yang sesuai.

• PDB Triwulanan Penghitungan PKRT triwulanan atas dasar harga (adh) berlaku didasarkan pada nilai PKRT triwulan sebelumnya dikalikan dengan Indeks Konsumsi Triwulanan hasil SKKRT. Untuk memperoleh PKRT triwulanan atas dasar harga (adh) konstan digunakan metode deflasi, dengan deflator IHK 12 kelompok COICOP yang sesuai.

2. METODOLOGI PENGELUARAN KONSUMSI PEMERINTAH

• Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Baik penghitungan tahunan maupun triwulanan, metodologinya sbb: Pengeluaran Konsumsi Pemerintah atas dasar harga berlaku (ADHB) = output-penjualan barang dan jasa + social transfer in kind purchased market production. Output non pasar dihitung melalui pendekatan biaya-biaya yang dikeluarkan, seperti belanja pegawai, belanja barang, belanja bantuan sosial dan belanja lain-lain.

• Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Baik penghitungan tahunan maupun triwulanan, metodologinya sbb: Pengeluaran Konsumsi Pemerintah atas dasar harga konstan diperoleh dengan menggunakan Metode Deflasi dan Ekstrapolas

Dinamika Pertumbuhan Wilayah dan Peningkatan Kebutuhan Lahan Written By Tasrif Landoala on Minggu, 22 September 2013 | 00.22

Dinamika pertumbuhan wilayah perkotaan dan peningkatan kebutuhan lahan adalah suatu rangkaian yang satu sama lain saling mempengarunhi. Menurut Zahnd, 1999 (dalam Hamzah, 2010) kehidupan kota sudah lebih disamakan dengan ekologi kota yang melibatkan tiga pokok yang hubungannya sangat erat yakni dinamika secara ekonomi, politis dan budaya kota.

Sementara perencanaan suatu kota tidak bisa lepas dari aspek tata ruangnya, dimana tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik yang direncanakan maupun tidak.

Penggunaan lahan pada suatu kota umumnya berbentuk tertentu dan pola perkembangannya dapat diestimasikan. Keputusan-keputusan pembangunan kota biasanya berkembang bebas, tetapi diupayakan sesuai dengan perencanaan penggunaan lahan. Motif ekonomi adalah motif utama dalam pembentukan struktur penggunaan tanah suatu kota dengan timbulnya pusat-pusat bisnis yang strategis.

Selain motif bisnis terdapat pula motif politik, bentuk fisik kota, seperti topografi, drainase. Meskipun struktur kota tampak tidak beraturan, namun kalau dilihat secara seksama memiliki keteraturan pola tertentu. Bangunan-bangunan fisik membentuk zona-zona internkota. Teori-teori struktur kota yang ada digunakan mengkaji bentukbentuk penggunaan lahan yang biasanya terdiri dari penggunaan tanah untuk perumahan, bisnis, industri, pertanian dan jasa (Koestoer, 2001).

(8)

pg. 8

masyarakat (ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan) maka pemerintah mempunyai legitimasi kuat untuk mengatur kepemilikan/penguasaan tanah. Peran pemerintah dalam alokasi lahan sumberdaya lahan dapat berupa kebijakan yang tidak langsung seperti pajak, zonasi (zoning), maupun kebijakan langsung seperti pembangunan waduk dan kepemilikan lahan seperti hutan, daerah lahan tambang, dan sebagainya. Dengan demikian peranan pemerintah melalui system perencanaan wilayah (tata guna) ditujukan untuk: (1) menyediakan sumberdaya lahan untuk kepentingan umum, (2) meningkatkan keserasian antar jenis penggunaan lahan, dan (3) melindungi hak milik melalui pembatasan aktivitas-aktivitas yang membahayakan.

Rumah dan perumahan seyogyanya dipandang sebagai bagian dari lingkungan permukiman dan lingkungan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup. Perluasan areal untuk permukiman dan perumahan mengakibatkan terjadinya perubahan lingkungan alam yang semua berfungsi sebagai area penyerapan air menjadi lingkungan buatan yang menolak resapan air.

Kontradiksi antara perlunya perumahan dan permukiman dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan upaya pelestarian lingkungan ibarat dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya (Wiradisuria dalam Budihardjo, 2009).

Menurut Catanesse (1986), bahwa dalam perencanaan penggunaan lahan sangat dipengaruhi oleh manusia, aktivitas, dan lokasi. Dimana hubungan antar ke tiganya sangat berkaitan, sehingga dapat dianggap sebagai siklus perubahan penggunaan lahan.

Dari uraian kajian teori di atas maka dapat dipahami bahwa dengan berpedoman pada pertumbuhan wilayah kota yang diinterpretasikan pada kota sebagai proses, hal ini menunjukkan bahwa dinamika pertumbuhan wilayah perkotaan tidak bisa lepas dari 3 (tiga) unsur pokok yakni dinamika ekonomi, dinamika politik dan dinamika budaya, yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Dinamika ekonomi dapat berupa;

a. Status tanah yang berhubungan dengan situasi topografi dan intervensi manusia, b. Hirarki nilai yang berhubungan dengan nilai pakai dan nilai tukar,

c. Tingkat strutur yang berkaitan dengan global dan lokal.

2. Dinamika politik atau sistem pengelolaan, merupakan peran dari pihak yang terlibat dalam suatu dimensi kehidupan perkotaan atau pewilayahan. Politik dalam hal ini juga dapat dirumuskan dalamlingkup yang lebih sederhana dengan arti kebijakan. Suatu kebijakan menjadi hal yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan kota karena proses tersebut merupakan pelaksanaan sejumlah keputusan oleh individu maupun kelompok demi kepentingan masyarakat banyak.

3. Dinamika budaya, adalah unsur budaya sebagai pembentuk ruang fisik kota lebih kepada sifat dan karakter masyarakat baik di perdesaan maupun di perkotaan. Biasanya kehidupan yang saling berinteraksi antar komunitas tertentu akan membentuk lingkungan permukiman dimana terdapat berbagai etnis budaya yang berbaur.

(9)

pg. 9

(10)
(11)

pg. 11

d. Menata Kembali kewenangan terkair penyediaan layanan public yang dapat dilakukan oleh swasta untuk memastikan tercapainya skala ekonomi; serta

(12)

pg. 12

3. Implementasi prinsip Value for Money ( VFM) melalui strategi:

a. Menerapkan prinsip VFM dalam prioritisasi dan perencanaan proyek -proyek infrastruktur baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah;

b. Menggunakan hasil analisis VFM sebagai acuan alokasi anggaran pembangunan infrastruktur beserta mekanisma pelaksanaan yang mampu memberikan nilai terbaik dalam keseluruhan siklus hidup proyek ( whole project life cycle costs);

c. Membuat pedoman ( toolkit) untuk penggunaan metode VFM dan metode perencanaan yang terkait dengan KPS dalam perencanaan insfrastrktur di tingkat nasional maupun daerah.

4. Penguatan proses pengambilan keputusan kebijakan KPS melalui strategi:

a. Pembentukan pusat KPS yang berfungsoi sebagai gate keeper perencanaan dan pelaksanaan proyek KPS;

b. Regionalisasi pelaksanaan pembangunan infrastruktur :

a) Perluasan fungsi penanggung jawab proyek Kerjasama yang saat ini ada di pusat;

b) Mengefektifkan fungsi PJPK yang sudah ada tetapi belum berjalan; serta

c) Pembentukan fungsi PJPK baru lintas wilayah di tingkat regional untuk sector yang membutuhkan sinergi pada tingkat regional seperti listrik, air minum dan sanitasi.

5. Pengembangan alternatif pembiayaan infrastruktur melalui strategi:

a. Mengadopsi sistem penganggaran tahun jamak jangka Panjang ( lebih dari 5 tahun) dalam UU No. 17 / 2003 tentang kejungan negara;

b. Mengkaji dan mengujicobakan berbagai model KPS berbasis pendanaan pemerintah ( innovative financing scheme);

c. Mendorong peningkatan kapasitas pendanaan BUMN / BUMD infrastruktur khususnya dalam proyek perliasaan prasarana yang sudan beroperasio ( brownfield) dan menyerdiakan dukungan pemerintah dalam bentuk penambahan modal serta jaminan pemerintah ( sovereign guarantee) untuk pembangunan baru yang merupakan penugasan khusus pemerintah.

d. Menyempurnakan mekanisme pemberian berbagai bentuk dukungan pemerintah termasuk vialibility gap funding ( VGF) untuk proyek KPS berbasis pendanaan swasta.

e. Penyediaan dana untuk dukungan ( VGF, dana tanah, dll) dan jaminan pemerintah untuk proyek – proyek KPS, baik yang bersifat dana bergulir ( revolving) maupun yang bersifat habis pakai ( sinking fund);

f. Pemnbetnukan fasilitas pemnbiayaan infrastruktur berupa pembentukan bank pembangunan / infrastruktur, dana Amanah ( trust fund) inffrastruktur, obligasi infrastruktur, dan instrument pembiayaan lain khusus untuk infrastruktur.

6. Peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan melalui strategi :

a. Pembentukan simpul - simpul KPS pada kementerian sector dan seluruh provinsi di Indonesia;

b. Peningkatan kapasitas SDM aparatur negara pada K/L/D yang menjadi PJPK;

c. Penguatan peramn Lembaga pertanahan agar mampu menjawab permasalahan pengadaan tanah dalam proyek KPS;

d. Peningkatan kapasitas SDM sector swasta yang terlibat dalam pelaksanaan KPS seperti konsultan, sector keuangan, sector konstruksoi dan operator melalui pola berbagi dan manajemen pengetahuan ( knowledge management and sharing) yang dapat difasilitasi oleh Pusat KPS maupun simpul – simpul KPS.

7. Pengemnbangan proyek dan daftar proyek ( Project Development and Pipelines) melalui strategi:

(13)

pg. 13

eksisting dari masing-masing variabel yang secara signifikan mempengaruhi aliran FDI. Pengembangan semua industri diutamakan untuk wilayah yang distribusi listrik industri dan ukuran pasarnya tinggi, yaitu DKI Jakarta dan Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan DI Yogyakarta. Pengembangan industri padat karya untuk wilayah dengan distribusi listrik dan jalan lebih tinggi, yaitu Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan DI Yogyakarta. Pengembangan industri padat modal untuk provinsi yang distribusi listrik industri dan ukuran pasarnya lebih tinggi, yaitu 55 Universitas Indonesia DKI Jakarta dan Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan DI Yogyakarta. Sementara itu, pengembangan jumlah perusahaan asing untuk provinsi dengan distribusi listrik industri, jalan, dan ukuran pasar lebih tinggi, yaitu Jawa Barat, DKI, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan DI Yogyakarta. Untuk arahan pendanaan persektor, perlu menitikberatkan pada signifikansi dan nilai koefisien masing-masing provinsi. Seperti yang tercantum di bab 4, bahwa variabel–variabel yang signifikan adalah listrik, jalan, dan ukuran pasar. Dengan demikian, pendanaannya mengikuti urutan nilai koefisien dari variabel-variabel tersebut. Untuk provinsi Banten sebaiknya melakukan pengurangan anggaran listrik, serta memperhatikan variabel jalan dan ukuran pasar. Sementara itu, untuk provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta perlu melakukan penambahan anggaran listrik, jalan, dan ukuran pasar. Sementara untuk provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur tidak ada perubahan anggaran listrik, jalan, dan ukuran pasar. (Permatasari, Destarita Indah,et.al.2019 Dampak Ubah terhadap Investasi Asing Langsung Sektor Industri di Pulau Jawa).

6.6..5. Penguatan Investasi Sasaran

Sasaran yang hendak dicapai dalam rangka penguatan investasi lima tahun ke depan, adalah sebagai berikut :

1. Menurunnya waktu pemrosesan perijinan investasi nasional di pusat dan di daerah menjadi maksimal 15 hati per jenis perizinan pada tahun 2019;

2. Menurunnya waktu dan jumlah prosedur dan jumlah prosedur untuk memulai usaha ( starting a business) menjadi 7 hari dan 5 prosedur pada tahun 2019, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan peringkat Indonesia sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan peringkat Indonesia pada Ease of Doing Bussiness ( EoDB);

3. Meningkatnya pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto ( PMTB) menjadi sebesar 12,1 persen pada tahun 2019;

4. Meningkatnya investasi PMA dan PMDB menjadi 933 triliun pada tahun 2019 dengan kontribusi PMDN yang meningkat menjadi 38,9 persen.

(14)
(15)

pg. 15

(16)

pg. 16

(17)

pg. 17

Realisasi investasi PMA dan PMDN ( Rp Triliun) 519,5 594,8 678,8 792,5 933,0

Rasio PMDN ( %) terhadap total realisasi investasi 33,8 35,0 36,3 37,6 38.9

Sumber : RPJMN 2015 - 2019 Arah Kebijakan dan Strategi

Penguatan investasi ditempuh melalui dua pilar kebijakan yaitu :

1) Peningkatan iklim investasi dan iklim usaha untuk meningkatkan efisiensi proses perijinan bisnis; dan 2) Peningkatan Investasi yang inklusif terutama dari investor domestic.

Kedua pilar kebijakan ini akan dilakukan secara terintegrasi baik di tingkat pusat maupun di daerah.

(18)

Kantor Pertanahan Kota Salatiga 2022 1. Peningkatan kepastian hukum terkait investasi dan usaha, yang terutama dilakukan melalui :

a. Sinkronisasi dan harmonisasi peraturan pusat dan daerah agar kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah daerah dapat selaras dengan kebijakan pemerintah pusat.Salah satu upayanya adalah dengan penyusunan peta jalan harmonisasi regulasi investasi;

b. Penghapusan regulasi dan peraturan di pusat dan daerah yang menghambat dan mempersulit dunia usaha untuk berinvestasi dan berusaha;

c. Penghapusan rente ekonomi yang menyebabkan tingginya biaya perijinan, baik di pusat maupun di daerah;

d. Penyeediaan tata ruang wilayah kabupaten / kota yang telah dijabarkan ke dalam Rencana Detail Tata Ruang untuk untuk kepastian perijinan lokasi usaha dan investasi.

2. Penyederhanaan prosedur perijinan investasi dan usaha di pusat dan di daerah, terutama untuk sector pengolahan dan jasa, antara lain : sector migas, jasa transportasi laut, serta sector industri manufaktur berbasis sumber daya alam.

3. Pengembangan layanan investasi yang memberikan kemudahan, kepastian, dan transparansi proses perijinan bagi investor dan pengusaha, melalui:

a. Optimalisasi penyelenggaraan PTSP di daerah, antara lain dengan pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari Lembaga / instansi yang memiliki kewenangan;

b. Pendirian pelayanan terpadu satu pintu – tingkat pusat (PTSP-Pusat), untuk menyatukan perijinan tingkat pusat pada satu tempat layanan perijinan. Adapun Langkah yang akan dilakukan antara lain adalah:

 Pengembangan kelembagaan PTSP-Pusat;

 Penyederhanaan dan standarisasi prosedur, pengembangan proses perijinan secara paralel untuk menghemat waktu, serta pengembangan layanan pengaduan permasalahan perijinan;

 Penciptaan transparanssi dan akuntabilitas proses perijinan, sehingga dapat meningkatkan kepastian waktu dan kredibilitas layanan;

 Pengembangan tracking system perijinan di PTSP-Pusat.

4. Pemberian insentif dan fasilitasi investasi ( berupa : insentif fiscal dan non fiscal) yang lebih selektif dan proses yang transparan, yang bertujuan untuk:

a. Mendorong pengembangan investasi sector manufaktur dengan mengedepankan keseimbangan sebaran investasi antara Pulau Jawa dan Luar Pulau Jawa;

b. Mendorong pengembangan investasi untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dan pengembangan sector kelautan;

c. Mendorong pihak swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan insfrastruktur energi nasional;

d. Mendorong pengembangan industri yang dalat menghasilkan bahan baku atau barang modal sederhana;

e. Mendorong investor terutama investor dalam negeri untuk mengembangkan industri pengolahan bahan tambang dalam negeri;

f. Mendorong investasi sector minyak dan gas yang mempertimbangkan aspek kesulitas geologi dan meningkatkan produktivitas sumur – sumur tua, daerah baru, dan laut dalam.

5. Pendirian forum investasi, yang beranggotakan lintas kementerian dan lintas pemangkutan kepentingan yang secara rutin mengeadakan pertemuan untuk memonitor, mengatasi permasalahan investasi, dan mencarikan ssolusi terbaik agar dapat terus menjaga iklim investasi dan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku usaha dan investor.

6. Peningkatan iklim ketenagakerjaan yang lebih kondusif, ( dimana rincian strateginya dituangkan dalam bagian ketenagakerjan).

7. Peningkatan persaingan usaha yang sehat melalui pencegahan dan penegakan hukum peprsaingan usaha dalam rangka penciptaan kelembagaan ekonomi yang mendukung iklim persaingan usaha yang sehat, penyehatan struktur pasar serta penguatan sistem logistic nasional yang bertujuan untuk menciptakan efisiensi yang berkeadilan, melalui:

a. Reposisi dan penguatan kelembagaan KPPU;

b. Pencegahan dan penegakan hukum terhadap praktek anti persaingan usaha yang sehat ( seperti : monopoli dan kartel) uyang mendistorsi pasar;

c. Pengawasan yang dititikberatkan pada komoditas pangan, energi, keuangan, Kesehatan dan Pendidikan,serta infrastruktur dan logistic;

(19)

Kantor Pertanahan Kota Salatiga 2022 Wilayah

Laju Pertumbuhan PDB Industri Manufaktur

2015 2016 2017 2018

Indonesia 4.33 4.26 4.29 4.27

Tabel 1.1. Fluktuasi Pendapatan Domestik Bruto Indonesia pada periode 2015 – 2018

sumber : bps.go.id, 2019

Terjadi fluktuasi Pendapatan Domestik Bruto di Indonesia pada kurun waktu 2015 sampai dengan 2018. Titik tertinggi pada 2015 adalah sebesar 4,33 % dan titik terendah pada 2016 yaitu 4,26 %. Sedangkan pada 2016 – 2017 meningkat 3 % dan pada 2017 – 2018 mengalami penurunan 0,02 %.

Sebagaimana dikemukakan oleh …. pada…. ( ), menunjukkan bahwa modal tenaga kerja sebagai salah satu faktor penting dalam pembentukan PDB. Yang dimaksud sini PDB yang diukur berdasarkan nilai tambah.

Pada tabel di bawah kita dapat mengetahui bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor industri pada tahun 2015 – 2018 terbanyak pada Industri Makanan, Kayu, diikuti oleh Industri Pakaian Jadi dan Tekstil sebesar masing – masing : 2,89 % – 3,68 % ; 1,22 % – 1,37 % ; 1,89 % - 2,04 % ; dan 1,09 % - 1,11 %.

Dilain pihak, dari sisi nilai jual , keluaran dari industri sebagaimana dilihat dari tabel 1.3 terkait dengan Indeks Harga Perdagangan Besar pada tahun 2016 - 2018, terlihat bahwa harga bahan baku, barang konsumsi dan barang modal untuk sektor industri selalu berada di peringkat ke-2 setelah pertanian dan lebih tinggi dari pertambangan.

Dengan rincian sebagai berikut : 122,54; 129,36;132,21 untuk bahan baku pertambangan. Lebih tinggi adalah bahan baku industri sebesar 136,57; 141,66; dan 142,74. Teringgi 138,82;

143,58; 144,78 tercatat dari bahan baku sektor pertanian. 170,78; 170,25;173,91 untuk barang konsumsi pertambangan. Lebih tinggi adalah barang konsumsi industri sebesar 148,36; 152,81;

dan 154,91. Teringgi 523,47; 524,13; 526,19 tercatat dari barang konsumsi sektor pertanian. 93,07; 104,36;106,73 untuk barang modal pertambangan. Lebih tinggi adalah barang modal industri sebesar 118,93; 123766; dan 1125174. Teringgi 205,91; 179,33; 154,57 tercatat dari barang modal sektor pertanian.

Arah kebijakan yang ditempuh dalam pilah kedua penguatan investasi adalah mengembangkan dan memperkuat investasi di sector riil, terutama yang berasal dari sumber investaso domestic, yang dapat mendorong pengembangan investasi dan usaha di Indonesia secara inklusif dan berkeadilan terumata pada sector produktif yang mengutamakan sumber daya local yang akan dilaksanakan melalui strategi:

1. Pengutamaan peningkatan investasi pada sector:

a. Pengolah sumber daya alam mentah menjadi produk yang lebih bernilai tambah tinggi, terutama sector pengolah hasil pertanian, produk turunan migas, dan hasil pertambangan;

b. Pendorong penciptaan lapangan kerja, terutama yang dapat menyerap tenaga kerja local;

c. Pendorong penyediaan barang konsumsi untuk kebutuhan pasar dalam negeri;

d. Ekspor, terutama produk olahan non – migas berbasis sumber daya alam;

e. Pendorong pengembangan partisipasi Indonesia dalam jaminan produksi global ( Global Production Network), baik sebagai perusahaan subsidiary, contract manufacturer, maupun independent supplier.

(20)

c. Pemberian insentif investasi di daerah, sesuai dengan kewenanangan daerah, terutama UKM;

d. Pengembangan mekanisme konsultasi Pemerintah dan Pelaku Bisnis ( terutama UKM).

3. Peningkatan kemitraan antara PMA dan UKM local, melalui:

a. Pembinaan kemitraan antara PMA dengan UKMM dengan mengedepankan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan;

b. Penguatan rangkaian proses kemitraan yang dimulai dengan pengenalan calon mitra usaha, pemahaman posisi keunggulan dan kelemahan usaha, pengembangan strategi kemitraan, fasilitasi pelaksanaan kemitraan usaha, serta monitoring dan evaluasi kemitraan PMA dan UKM.

4. Peningkatan efektivitas strategi dan upaya promosi investasi melalui:

a. Pengembangan mekanisme promosi investasi yang lebih efektif yang antara lain meliputi penyelerasan kegiatan promosi Tourism, Trade, and Investment, pengembangan kantor promosi terpadu di negara - negara tertentu, serta optimalisasi peran kantor perwakilan investasi di luar negeri.

b. Pengembangan strategi promosi yang lebih efisien dan efektif untuk :

 Mendukung pengembangan sector industri dalam negeri dalam jangka pendek, menengah dan Panjang.

 Mendorong persebaran investasi di Luar Pulau Jawa dengan emmperimbangkan karakter dan kondisi geografis daerah.

c. Peningkatan keikutsertaan daerah dalam ajang pertemuan bisnis antara pelaku usaha dengan pemerintah pusat . daerah.

5. Peningkatan koordinasi dan Kerjasama investasi antara pemerintah dan dunia usaha. Kerjasama pemerintah dan swasta ( KPS) merupakan salah satu altenatif pembaiayaan dalam penyediaan infrastruktur untuk memberikan pelayanan public yang lebih baik secara kualitas maupun kuantitas.

6. Pengembangan investasi local terutama melalui investasi antar wilayah yang dapat emndiring pengembangan ekonomi daerah.

7. Pengembangan investasi keluar ( outward investment), diutamakan pada ketahanan energi ( energy security) dan ketahanan pangan ( food security) dengan mengutamakan kegiatan investasi yang dapat memberikan efek pengganda ( multiflier effect) yang besar terhadap perekonomian nasional.

8. Pengurangan dampak negative dominasi PMA terhadap perekonomian nasional, yang akan secara bertahap akan dilakukan melalui tiga jalur proses pengalihan, yaitu:

1) Alih kepemilikan ke masyarakat domestic mellaui pasar modal;

2) Alih teknologi / keahlian kepada pengusaha an pekerja domestic; serta

3) Alih proses produksi dengan secara bertahap meningkatkan porsi pemasok domestic bagi kebutuhan bahan baku, barang setengah jadi, serta jasa – jasa industri.

Strategi dan kebijakan bidang investasi ini akan didukung oleh pengembangan kualitas layanan manajemen birokrasi pemerintah baik di pusat maupun di daerah agar dapat berdaya saing terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Wilayah

Laju Pertumbuhan PDB Industri Manufaktur

2015 2016 2017 2018

Indonesia 4.33 4.26 4.29 4.27

(21)

Terjadi fluktuasi Pendapatan Domestik Bruto di Indonesia pada kurun waktu 2015 sampai dengan 2018. Titik tertinggi pada 2015 adalah sebesar 4,33 % dan titik terendah pada 2016 yaitu 4,26 %. Sedangkan pada 2016 – 2017 meningkat 3 % dan pada 2017 – 2018 mengalami penurunan 0,02 %.

Sebagaimana dikemukakan oleh …. pada…. ( ), menunjukkan bahwa modal tenaga kerja sebagai salah satu faktor penting dalam pembentukan PDB. Yang dimaksud sini PDB yang diukur berdasarkan nilai tambah.

Pada tabel di bawah kita dapat mengetahui bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor industri pada tahun 2015 – 2018 terbanyak pada Industri Makanan, Kayu, diikuti oleh Industri Pakaian Jadi dan Tekstil sebesar masing – masing : 2,89 % – 3,68 % ; 1,22 % – 1,37 % ; 1,89 % - 2,04 % ; dan 1,09 % - 1,11 %.

Dilain pihak, dari sisi nilai jual , keluaran dari industri sebagaimana dilihat dari tabel 1.3 terkait dengan Indeks Harga Perdagangan Besar pada tahun 2016 - 2018, terlihat bahwa harga bahan baku, barang konsumsi dan barang modal untuk sektor industri selalu berada di peringkat ke-2 setelah pertanian dan lebih tinggi dari pertambangan.

Dengan rincian sebagai berikut : 122,54; 129,36;132,21 untuk bahan baku pertambangan. Lebih tinggi adalah bahan baku industri sebesar 136,57; 141,66; dan 142,74. Teringgi 138,82; 143,58;

144,78 tercatat dari bahan baku sektor pertanian. 170,78; 170,25;173,91 untuk barang konsumsi pertambangan. Lebih tinggi adalah barang konsumsi industri sebesar 148,36; 152,81; dan 154,91. Teringgi 523,47; 524,13; 526,19 tercatat dari barang konsumsi sektor pertanian. 93,07; 104,36;106,73 untuk barang modal pertambangan. Lebih tinggi adalah barang modal industri sebesar 118,93; 123766; dan 1125174. Teringgi 205,91; 179,33; 154,57 tercatat dari barang modal sektor pertanian. (Permatasari, Destarita Indah. 2020. Kajian Peninjauan Kembali Indikasi Lokasi Kawasan Andalan di Indonesia).

6.6.8. Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional dicapai melalui :

1) Peningkatan agroindustry, hasil hutan dan kayu, perikanan, dan hasil tambang.

2) Akselerasi pertumbuhan dan industri manufaktur;

3) Akselerasi pertumbuhan pariwisata;

4) Akselerasin pertumbuhan ekonomi kreatif; serta 5) Peningkatan daya saing UMKM dan koperasi.

Aliran foreign direct investment (selanjutnya disingkat FDI) ke Indonesia berfluktuasi. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal pada tahun 2016, dalam kurun waktu tahun 2011-2014, realisasi aliran FDI secara umum meningkat. Titik tertinggi terdapat pada tahun 2013 sebesar 7,4 triliun dolar AS, sedangkan titik terendah adalah tahun 2011 sebesar 5,1 triliun dolar AS. Dengan demikian, jumlah aliran FDI pada tahun 2011-2014 meningkat 33,33%. Namun demikian, tren peningkatan tersebut semakin menurun dari tahun ke tahun dengan angka 23,53% pada periode 2011-2012, 17,46% pada 2012- 2013, dan menurun pada angka 8,11% pada 2013-2014. Komposisi sektor-sektor yang menerima aliran FDI pada tahun 2014 didominasi oleh sektor manufaktur, yaitu sebesar 45,6%. Sektor jasa berada pada peringkat kedua sebesar 29,9%. Tempat ketiga adalah pertambangan sebesar 16,4%, dan tempat keempat adalah tanaman pangan dan perkebunan sebesar 7,7%, sedangkan yang terendah adalah kehutanan, perikanan, dan peternakan, masing-masing 0,1%. ( Permatasari, Destarita Indah,et.al.2019. Dampak Upah terhadap Investasi Asing Lansung pada Sektor Industri di Pulau Jawa).

(22)

Gambar 1.1 Komposisi Sektor Penerima Aliran Asing Langsung pada Tahun 2014 Sumber: bkpm.go.id

Pada tahun 2014, sebagian besar aliran FDI yang diienvestasikan di Pulau Jawa adalah sebesar 65%. Pada tempat kedua adalah di Pulau Sumatera sebesar 16% kemudian diikuti oleh Pulau Sulawesi sebesar 12%.

Ketiga terakhir adalah Kalimantan sebesar 7%, Bali dan Nusa Tenggara sebesar 0%, serta Maluku dan Papua sebesar 0%.

Gambar 1.2 Realisasi Investasi Berdasarkan wilayah

Sumber: bkpm.go.id 1. Peningkatan agroindustry, hasil hutan kayu, perikanan, dan hasil tambang

a. Peningkatan agroindustry Sasaran

Sasaran pokok peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditas pertanian tahun 2015 – 2019 adalah:

1) Meningkatnya PDB industri pengolahan makanan dan minuma n serta produksi komoditas andalah ekspor dan komoditas prospektif;

2) Meningkatnya jumlah sertifikasi untuk produk pertanian yang diekspor;

3) Berkembangnya agroindustry terutama di perdesaan.

(23)

No Komoditi 2014 (baseline)

2019 2015 – 2019

( rata – rata per tahun) 1. Produksi Perkebunan ( ribu ton)

Kelapa sawit 29.344 36.420 4,3

Karet 3.153 3.810 3,5

Kakao 709 870 3,0

The 144 163 0,3

Kopi 685 778 1,8

Kelapa 3.031 3.491 1,4

2. Hortikultura ( ribu ton)

Manga 2.236 2.519 2,4

Nenas 1.851 2.042 2,0

Manggis 142 155 1,8

Salak 1.038 1.146 2,0

Kentang 1.296 1.431 2,0

Sumber : RPJMN 2015 – 2019, Kementerian PPN / Bappenas, 2015

NO PROVINSI NAMA KAWASAN ANDALAN

1. Nanggroe Aceh Darussalam

Kawasan Banda Aceh dsk

Kawasan Lhokseumawe dsk

2. Sumatera Utara

Kawasan Perkotaan Metropolitan Medan – Binjai – Deli Serdang – Karo

Kawasan Pematang Siantar dsk

Kawasan Rantau Prapat – Kisaran

Kawasan Tapanuli dsk

Kawasan Nias dsk

3. Sumatera Barat

Kawasan Padang Pariaman dsk

Kawasan Agam – Bukittinggi

Kawasan Mentawai dsk

4. Riau

Kawasan Pekanbaru dsk

(24)

6. Jambi

Kawasan Muara Bulian Timur Jambi dsk 7. Sumatera Selatan

Kawasan Muara Enim dsk

Kawasan Lubuk Lingau dsk

Kawasan Palembang dsk

8. Bengkulu

Kawasan Bengkulu dsk

Kawasan Manna dsk 9. Bangka Belitung

Kawasan Bangka

Kawasan Belitung

10. Lampung

Kawasan Bandar Lampung – Metro

Kawasan Mesuji dsk 11. Daerah Khusus Ibukota

Jakarta – Jawa Barat – Banten

Kawasan Perkotaan Jakarta

12. Banten

Kawasan Bojonegaram- Merak - Cilegon 13. Jawa Barat

Kawasan Bogor – Puncak – Cianjur

Kawasan Purwakarta – Subang – Karawang

Kawasan Cekungan Bandung

Kawasan Cirebon – Indramayu – Majalengka – Kuningan

Kawasan Priangan Timur - Pangandaran

14. Jawa Tengah

Kawasan Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Klaten

Kawasan Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, Purwodadi

Kawasan Bregas

Kawasan Juwana, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora

Kawasan Purwokerto, Kebumen, Cilacap dsk 15. Daerah Istimewa Yogyakarta

Kawasan Yogyakarta dsk

16. Jawa Timur

Kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan

Kawasan Malang dsk

(25)

Kawasan madiun dsk

Kawasan Madura dan kepulauan

17. Bali

Kawasan Denpasar – Ubud – Kintamani

18. Nusa Tenggara Barat

Kawasan Lombok dsk

Kawasan Bima

Kawasan Sumbawa dsk 19. Nusa Tenggara Timur

Kawasan Kupang dsk

Kawasan Meumere – Ende

Kawasan Komodo dsk 20. Kalimantan Barat

Kawasan Pontianak dsk

Kawasan Singkawang dsk

Kawasan Ketapang dsk

21. Kalimantan Tengah

Kawasan Sampit – Pangkalan Bun 22. Kalimantan Selatan

Kawasan Banjarmasin Raya dsk

Kawasan Batulicin

23. Kalimantan Timur

Kawasan Tanjung Redeb dsk

Kawasan Sangkuriang, Sangata, dan Muara Wahau

Kawasaan Tarakan, Tanjung Salas, Nunukan, Pulau Bunyu, dan Malinau dsk

Kawasan Bontang – Samarinda – Tenggarong, Balikpapan Penajam dsk 24. Sulawesi Utara

Kawasan Manado dsk

25. Sulawesi Tengah

Kawasan Poso dsk

Kawasan Kolonedale dsk

Kawasan Palu dsks

26. Sulawesi Selatan

Kawasan Mamminasata dsk

Kawasan Bulukumba – watampone

Kawasan Pare pare dsk

27. Sulawesi Barat

Kawasan Mamuju dsk

(26)

Kawasan Kepulauan Sula 31. Papua Barat

Kawasan Fak – Fak dsk

Kawasan Sorong dsk

32. Papua

Kawasan Timika dsk

Kawasan Biak

Kawasan Merauke dsk

Tabel 1.12. Indikasi Lokasi Kawasan Andalan Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

sumber : Direktorat Penataan Ruang Wilayah Nasional, 2008

NO PROVINSI 2010 2011 2012 2013 2014

1. Nanggroe Aceh Darussalam

2. Sumatera Utara

3. Sumatera Barat

4. Riau

5. Kepulauan Riau

6. Jambi

7. Sumatera Selatan

8. Bengkulu

9. Bangka Belitung

(27)

12. Banten

13. Jawa Barat

14. Jawa Tengah

15. Daerah Istimewa Yogyakarta

16. Jawa Timur

17. Bali

18. Nusa Tenggara Barat

19. Nusa Tenggara Timur

20. Kalimantan Barat

21. Kalimantan Tengah

22. Kalimantan Selatan

23. Kalimantan Timur

24. Sulawesi Utara

25. Sulawesi Tengah

26. Sulawesi Selatan

(28)

29. Maluku

30. Maluku Utara

31. Papua Barat

32. Papua

33. Gorontalo

34. Kalimantan Utara

Tabel 1.12. Realisasi Nilai Tambah Sektor Industri Tekstil dan Pakaian Jadi per Provinsi pada periode 2010 - 2014

sumber : Kementerian Perindustrian, 2016

Berdasarkan Tabel 1.12. Indikasi Lokasi Kawasan Andalan Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Tabel 1.12. Realisasi Nilai Tambah Sektor Industri Tekstil dan Pakaian Jadi per Provinsi pada periode 2010 - 2014 menunjukkan bahwa masih terdapat ketidak sesuaian antara indikasi lokasi kawasan andalan dan realisasi nilai tambah per provinsi dalam kurun waktu tersebut. Sebanyak 27 dari 32 provinsi sesuai (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Daerah Ibukota Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Ibukota Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat), dan 5 provinsi lainnya tidak sesuai (Bengkulu, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua).

Sedangkan terdapat tambahan 1 provinsi (Gorontalo) yang telah berkontribusi dalam pengumpulan nilai tambah yang belum diakomodir pada dokumen RTRWN.

Dilihat lebih detil lagi, kesesuaian dan ketidaksesuaian tersebut erat kaitannya dengan tingkat survivabilitas pengusaha industri tekstil dan pakaian jadi. Sebagaimana dapat dicermati dari

kedua tabel tersebut, walaupun izin lokasi yang ada di RTRWN berlaku untuk selama periode 2010 – 2014, masih ada provinsi yang menunjukkan ketidak adaaan kontribusi di tahun- tahun tertentu

dan ada juga yang menambahkan perluasan industri tekstil saja menjadi industri pakaian jadi. Ketidakstabilan nilai tambah terdapat di 5 provinsi berikut, yaitu Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan

Tengah, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat. Sedangkan provinsi – provinsi lainnya menunjukkan kondisi yang stabil.

(29)

Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat) menunjukkan lineraritas kedua industri tersebut.

Arah Kebijakan dan Strategi

Untuk mencapai sasaran pokok peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditas pertanian yang telah ditetapkan tersebut, maka arah kebijakan difokuskan pada : 1. Peningkatan produktivitas, mutu hasil pertanian komoditi andalan ekspor, potensial untuk ekspor dan substitusi impor akan dicapai melalui strategi:

a. Revitalisasi perkebunan dan hortikultura rakyat diarahkan terutama pada kebun yang sudah tua dan menurun produktivitasnya, melalui : 1) Dukungan peremajaan tanaman perkebunan dan hortikultura rakyat,serta komoditi andalan ekspor dan memiliki potensi ekspor;

2) Intensifikasi pemeliharaan dan pemupukan sesuai kebutuhan.

b. Peningkatan mutu, pengembangan standarisasi mutu hasil pertanian, dan peningkatan kualitas pelayanan karantina dan pengawasan keamanan hayati, melalui:

1) Penguatan dan perbaikan teknologi produksi dann pasca panen / pengolahan;

2) Pengembangan / penerapan standar mutu komoditas pertanian dan standar mutu pada penanganan produk segar dan produk olahan pertanian, serta pada kaomoditas prospektif ekspor;

3) Peningkatan pengawasan mutu produk pertanian;

4) Peningkaktan jumlah dan peran Lembaga sertifikasi; dan 5) Peningkatan kualitas layanan pengawasan perkarantinaan.

c. Peningkatan aksesibilitas petani terhadap teknologi, sumber – sumber pembiayaan, serta informasi pasar dan akses pasar termasuk pengembangan infrastruktur pengolahan dan pemasaran melalui:

1) Diseminasi informasi teknologi melalui penyuluhan dan media informasi;

2) Penyediaan skim kredit yang mudah diakses oleh petani dan pelaku usaha pertanian;

3) Pengembangan jaringan pasar, dan pelayanan informasai pasar, pasar lelang komoditi, dan market intelligence; serta 4) Pembangunan science park dan techno park.

2. Pengembangan industri pengolahan termasuk di perdesaan serta peningkatan ekspor hasil pertanian akan dilaksanakan dengan strategi : a. Pengembangan agroindustry perdesaan, diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah ertanian yang akan dilakukan melalui:

1) Perbaikan teknologi agroindustry perdesaan yang sudah ada;

2) Penumbuhan agroindustry perdesaan yang dapat memanfaatkan hasil samping secara optimal;

3) Penumbuhan industri pengolahan pertanian yang dilaksanakan oleh kelompok tani dan koperasi; serta 4) Pengembangan industri perdesaaan yang menangani produk segar hortikultura;

b. Penguatan kemitraan antara petani dengan pelaku / pengusaha pengolahan dan pemasaran ( eksportir) melalui kemitraan Gapoktan dengan industri pengolahan dan eksportir serta membangun dan memperkuat jaringan ( networking) denga asosiaisi, industri, dan sector jasa terkait lainnya.

c. Akselerasi ekspor untuk komoditas – komoditas unggulan serta komoditas prospektif melalui:

1) Identifikasi daerah – daerah potensial untuk pengembangan komoditi ekspor;

2) Harmonisasi standar mutu;

3) Optimalisasi negosiasi dan diplomasi perdagangan hasil pertanian;

(30)

(seri 2010)

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Pengeluaran Konsumsi

Rumah Tangga 3.786.062,90 3.977.288,56

4 195 787.60 4.423.416,91 4.651.480,16 4.882.258,73

Makanan dan Minuman, selain Restoran

1.457.599,41

1.489.545,17 1 545 635.52 1.612.838,79

1.684.169,87 1.776.284, 28

Pakaian, Alas Kaki dan

Jasa Perawatannya 154.222,23 162.350.,14 172 878.37 182.010,20 190.255,21 197.277,22

Perumahan dan

Perlengkapan Rumahtangga

516.319,76

543.181, 14 575 044.01

608.426,68 636.099,71 666.816,74

Kesehatan dan

Pendidikan 255.276,89 268 .833, 74 284 508.54 300.791,33 319.311,35 338.991,38 Transportasi dan

Komunikasi 894.897,67 953. 673, 88

1 018 099.20 1.085.322,20 1.148.242,38 1.201.170,33

Restoran dan Hotel 337.157,88 355.868, 48 381 366.61 403.321,45 430.865,48 452.030,50

Lainnya 170.589,07 203 .836, 01 218 255.35 230.706,26 242.536,48 249.688,28

In reality, the PDB according the expenditure of household consumption on transport and telecomunication are showing that the amount increasing constantly from 2010 – 2015, same condition also happened on the other sectors.

(31)

PDB PENGGGUNAAN (seri 2010) Tahun

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Makanan dan Minuman, selain Restoran 38,50% 37,45% 36,84% 36,46% 36,21% 36,38%

Pakaian, Alas Kaki dan Jasa Perawatannya 4,07% 4,08% 4,12% 4,11% 4,09% 4,04%

Perumahan dan Perlengkapan Rumahtangga 13,64% 13,66% 13,71% 13,75% 13,68% 13,66%

Kesehatan dan Pendidikan 6,74% 6,76% 6,78% 6,80% 6,86% 6,94%

Transportasi dan Komunikasi 23,64% 23,98% 24,26% 24,54% 24,69% 24,60%

Restoran dan Hotel 8,91% 8,95% 9,09% 9,12% 9,26% 9,26%

Lainnya 4,51% 5,12% 5,20% 5,22% 5,21% 5,11%

Percentage of contribution to household consumption:

(32)

• Increased slighty until 2013 then decreased on 2014 - 2015 : housing and household equipments;

• Increased slighty until 2012 then decreased on 2013 - 2015 : meals and beverages, exclude restaurant, clothes, slippers, and care service d. Peningkatan hasil hutan kayu

Sasaran

Sasaran yang ingin dicapai dari peningkatan hasil hutan kayu adalah : 1. Peningkatan kualitas tata Kelola :

a. Berkurangnya Kawasan hutan berstatus open access dengan mengembangkan kesatuan pengelola hutan produksi menjadi 347 unit;

b. Meningkatnya penerapan prinsip pengelolaan hutan produksi lestari untuk KPHP dan hutan produksi di bawah izin usaha pemnfaatan hasil hutan kayu – hutan alam.

2. Peningkatan produksi kayu dlam periode 2015 – 2019 ( 5 tahun ) adalah:

e. Meningkatnya produksi kayu bulat dari hutan alam menjadi 29 juta m3;

f. Meningkatnya produksi kayu bulat dari hutan tanaman menjadi 160 juta m3;

g. Meningkatnya produksi kayu hutan rakyat menjadi 100 juta m3;

h. Meningkatnya nilai ekspor produk kayu menjadi USD 40,37 miliar.

Tabel 6.8.

Sasarann Peningkatan Kualitas Tata Kelola dan Produksi kayu Tahun 2015 - 2019

Indikator Satuan 2014 2019 Rata – rata kenaikan

KPHP Unit 80 347 53,4

Produksi Kayu bulat HA Juta m3 5,5 6,0 0,10

Produksi kayu bulat HT Juta m3 26 35 1,80

Hutan Rakyat Juta m3 3 22 3,80

Nilai Ekspor Produk Kayu US$ miliar 6,95 9,28 0,47

Sumber : RPJMN 2015 - 2019

Arah Kebijakan dan Strategi

Arah kebijakan dan strategi yang akan dilaksanakan untuk meningkatkan hasil hutan kayu adalah : 8. Meningkatkan tata Kelola kehutanan ( good forest governance) yaitu dengan melakukan :

a. Pemisahan peran administrator ( regulator) dengan pengelola ( operator) Kawasan hutan melalui pembentukan kesatuan pengelolaan hutan produksi dan operasionalisasinya;

b. Penerapan prinsip pengelolaan hutan lestari;

c. Pemberian jaminan legalitas hasil hutan kayu dan produk kayu;

(33)

9. Meningkatkan produksi dan produktivitas sumber daya hutan :

a. penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah produk kayu serta diversifikasi produk; dan

b. peningkatkan keterlibatan masyarakat sebagai mitra usaha dalam bentuk hutan tanaman rakyat, hutan kemasyarakatan, hutan desa, hutan adat dan hutan rakyat.

10. Mengembangkan industri pengolahan hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah sector kehutanan melalui :

c. Deregulasi dan debottlenecking peraturan perundang – undangan yanhg birokratis dan tidak pro investasi serta mendesentralisasikan keputusan kemitraan dalam pengelolaan Kawasan hutan pada tingkat tapak; dan

d. Optimalisasi pemanfaatan sumber daya hutan untuk industri hulu hingga industri hilir dengan mengembangkan keterpaduan industri berbasis hasil hutan ( forest based cluster industry) guna meningkatkan nilai tambah, meningkatkan efisiensi industri serta meningkatkan value supply chain.

Rekapitulasi Luas Penutupan Lahan Hutan dan Non Hutan Menurut Provinsi Tahun 2014-2019 (Ribu Ha)

No Provins i

2014 2015 2016 2017 2018 2019

Hutan Non Hutan

Jumlah

Hutan Non Hutan

Jumlah

Hutan Non Hutan

Jumlah

Hutan Non Hutan

Jumlah

Hutan Non Hutan

Jumlah

Hutan Non Hutan

Jumlah PenutLuas

Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

PenutLuas Lahanupan (Ribu Ha)

%

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (23) (24) (25) (26) (27)

1 ACEH 3

156,7 55, 9

490,62 44, 1

647,35 3

161,9 56, 0

485,42 44, 0

647,35 3

270,9 57, 9

376,42 42, 1

647,35 3

120,2 55, 3

527,12 44, 7

647,35 3

110,2 55, 1

537,12 44, 9

647,35 3

155,6 55, 9

491,72 44, 1

647,35

2 SUMATE RAUTARA

826,91 25, 7

275,15 74, 3

102,07 1

759,9 24, 8

342,15 75, 2

102,07 1

813,1 25, 5

288,95 74, 5

102,07 1

785,9 25, 1

316,15 74, 9

102,07 1

778,4 25, 0

323,65 75, 0

102,07 1

853,4 26, 1

248,65 73, 9

102,07

3 SUMATE RABARAT

927,71 46, 1

256,22 53, 9

183,94 1

934,7 46, 2

249,22 53, 8

183,94 1

924,1 46, 0

259,82 54, 0

183,94 1

936,6 46, 3

247,32 53, 7

183,94 1

931,0 46, 2

252,92 53, 8

183,94 1

907,1 45, 6

276,82 54, 4

183,94

4 RIAU 2

562,3 28, 8

320,66 71, 2

882,88 2

350,0 26, 5

532,96 73, 5

882,88 2

617,6 29, 5

265,26 70, 5

882,88 2

304,3 25, 9

578,66 74, 1

882,88 2

260,5 25, 4

622,36 74, 6

882,88 2

459,2 27, 7

423,66 72, 3

882,88

5 JAMBI 1

358,2 28, 1

474,13 71, 9

832,34 1

341,3 27, 8

491,13 72, 2

832,34 1

385,6 28, 7

446,83 71, 3

832,34 1

283,4 26, 6

549,03 73, 4

832,34 1

274,2 26, 4

558,23 73, 6

832,34 1

253,2 25, 9

579,23 74, 1

832,34

6

SUMATE RASELATA

Gambar

Tabel 1.1. Fluktuasi Pendapatan Domestik Bruto Indonesia pada periode 2015 – 2018 sumber : bps.go.id, 2019
Gambar 1.1 Komposisi Sektor Penerima Aliran Asing Langsung pada Tahun 2014 Sumber: bkpm.go.id
Gambar 1.2 Realisasi Investasi Berdasarkan wilayah
Tabel 1.12. Indikasi Lokasi Kawasan Andalan Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional sumber : Direktorat Penataan Ruang Wilayah Nasional, 2008
+7

Referensi

Dokumen terkait