LAPORAN PENDAHULUAN Striae Gravidarum
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Asuhan Kebidanan Fisiologi Holistik Kehamilan
Oleh:
Catharina Suhartini NIM P07124521101
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
2021
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan Striae Gravidarum
Oleh:
Catharina Suhartini NIM P07124521101
Menyetujui,
Pembimbing Klinik Merry Juwita, S. ST
NIP. 197005271990032002
(...) Pembimbing Akademik
Nanik Setyawati, SST., M.Kes NIP. 198010282006042002
(...) Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan
Hesty Widyasih, SST., M.Keb NIP. 197910072005012004
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan Laporan Pendahuluan ini.
Penulisan tugas ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu Tugas Praktik Asuhan Kebidanan Fisiologi Holistik Kehamilan untuk memperoleh gelar profesi bidan pada Program Studi Profesi Bidan pada Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Tugas ini dapat diselesaikan atas bimbingan, masukan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak:
1. Bapak Joko Susilo, SKM.., M.Kes selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
2. Dr.Yuni Kusmiyati,SST.,MPH selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
3. Hesty W, M.Keb selaku Ketua Prodi Profesi Kebidanan Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
4. Merry Juwita, S. ST selaku pembimbing klinik
5. Nanik Setyawati, SST., M.Kes selaku pembimbing akademik.
6. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik secara moril maupun material yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari Laporan Pendahuluan ini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan masukan, kritikan, dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak. Penulis berharap semoga Tugas ini dapat bermanfaat di kemudian hari.
Yogyakarta, 28 September 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN...ii
KATA PENGANTAR...iii
DAFTAR ISI...iv
BAB I TINJAUAN TEORI...1
A. Definisi...1
B. Etiologi...5
C. Patofisiologi...5
D. Faktor Risiko Striae Gravidarum...5
E. Penatalaksanaan ...6
F. Dampak...7
G. Kewenangan Bidan Terhadap Kasus...7
BAB II TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN...9
A. Pengkajian data subjektif...… 9
B. Pengkajian data objektif... 12
C. Rencana Tindakan... 17
DAFTAR PUSTAKA ...18
BAB I
TINJAUAN TEORI
A. Definisi 1. Kehamilan
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional.
Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40).1
a. Perubahan fisiologi wanita hamil 1) Sistem reproduksi
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama dibawah pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Berat uterus itu normal lebih kurang 30 gram. Pada akhir kehamilan (40 minggu), berat uterus itu menjadi 1.000 gram. Perubahan tersebut meningkatkan tekanan pada lordosis lumbaldan tekanan pada otot paraspinal. Tekanan gravitasi uterus pada pembulun besar mengurangi aliran darah pada tulang belakang dan menyebabkan nyeri punggung terutama pada masa akhir kehamilan.2 Membesarnya rahim dan meningkatnya berat badan menyebabkan otot bekerja lebih berat sehingga dapat menimbulkan stress pada otot dan sendi.3 2) Sistem darah
Volume darah pada ibu hamil meningkat sekitar 1500 ml terdiri dari 1000 ml plasma dan sekitar 450 ml eritrosit. Peningkatan volume terjadi sekitar minggu ke 10 sampai ke 12. Peningkatan volume darah ini sangat penting bagi pertahanan tubuh, hipertrofi sistem vaskuler akibat pembesaran uterus dan cadangan cairan untuk mengganti darah yang hilang
pada saat persalinan dan masa nifas.3 3) Sistem pencernaan
Estrogen dan HCG meningkat dengan efek samping mual dan muntah- muntah. Selain itu terjadi juga perubahan peristaltikdengan gejala sering kembung, dan konstipasi. Pada keadaan patologik tertentu dapat terjadi muntah-muntah banyak sampai lebih dari 10 kali per hari (hiperemesis gravidarum).Aliran darah ke panggul dan tekanan vena yang meningkat dapat mengakibatkan hemoroid pada akhir kehamilan.3
4) Sistem endokrin
Pada awal kehamilan sumber utama estrogen adalah ovarium.
Selanjutnya estrone dan estradiol dihasilkan oleh plasenta dan kadarnya meningkat beratus kali lipat, out putestrogen maksimum 30 –40 mg/hari.
Aktivitas estrogen yaitu memicu pertumbuhan dan pengendalian fungsi uterus, bersama dengan progesterone memicu pertumbuhan payudara merubah konsitusi komiawi jaringan ikat sehingga lebih lentur dan menyebabkan servik elastis, kapsul persendian melunak, mobilitas persendian meningkat, retensi air dan menurunkan sekresi natrium.4 Perubahan hormonal yang menimbulkan perubahan pada jaringan lunak penyanggadan penghubung sehingga menurunnya elastisitas dan fleksibilitas otot sehingga otot lebih kaku dan mudah tegang.5
5) Sistem muskuloskeletal
Pada akhir bulan sembilan atau minggu ke-36, rahim ibu mulai mencapai daerah tulang rusuk dan ibu mungkin merasa tidak nyaman, khususnya ia makan dalam jumlah banyak pada malam hari. Beban di tubuh semakin berat, tulang belakang semakin ke arah depan sehingga ibu mengalami kesulitan ketika memiringkan tubuhnya saat berbaring dan duduk lama.6 Sikap tubuh lordosis merupakan keadaan yang khas karena kompensasi posisi uterus yang membesar dan menggeser daya berat ke belakang lebih tampak pada masa trimester III yang menyebabkan rasa sakit bagian tubuh belakang karena meningkatnya beban berat dari bayi dalam kandungan yang dapat memengaruhi
postur tubuh. Bayi yang semakin membesar selama kehamilan meningkatlan tekanan pada daerah kaki dan pergelangan kaki ibu hamil dan dapat mengakibatkan edema pada tangan yang disebabkan oleh perubahan hormonal akibat retensi cairan.7
6) Sistem Integument
Ibu hamil sering mengalami perubahan pada kulit yaitu terjadi hiperpigmentasi atau warna kulit kelihatan lebih gelap. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan Melanosit Stimulating Hormon (MSH).
Hiperpigmentsi dapat terjadi pada muka , leher, payudara, perut, lipat paha dan aksila. Hiperpigmentasi pada muka disebut kloasma gravidarum biasanya timbul pada hidung, pipi dan dahi. Hiperpigmentasi pada perut terjadi pada garis tengah berwarna hitam kebiruan dari pusat kebawah sampai sympisis yang disebut linea nigra.
Perubahan keseimbangan hormon pada ibu hamil dapat juga menimbulkan perubahanberupa penebalan kulit, pertumbuhan rambut maupun kuku. Perubahan juga terjadi pada aktifitas kelenjar meningkat sehingga wanita hamil cenderung lebih banyak mengeluarkan keringat maka ibu hamil sering mengeluh kepanasan. Peregangan kulit pada ibu hamil menyebabkan elastis kulit mudah pecah sehingga timbul striae gravidarum yaitu garis–garis yang timbul pada perut ibu hamil. Garis–garis pada perut ibu berwarna kebiruan disebut striae livide. Setelah partus striae livide akan berubah menjadi striae albikans. Pada ibu hamil multigravida biasanya terdapat striae livide dan striae albikans.3
2. Definisi Striae Gravidarum
Striae gravidarum adalah kelainan kulit yang umum terjadi saat kehamilan.
Penyebab striae gravidarum secara umum dan epidemiologinya tidak diketahui secara pasti. Striae gravidarum dikenal juga dengan sebutan strecth marks umum muncul pada usia kehamilan 24 minggu memiliki karakteristik garis-garis sepanjang minimal 5 cm, dengan warna kemerahan, keunguan dan secara bertahap akan berubah menjadi warna putih atau gari atrophic hipopigmentasi pada masa post partum. Garis-garis striae gravidarum ini dapat berupa garis
yang tipis ataupun garis yang lebar berada di abdomen, payudara, betis, dan paha. Beberapa hormon seperti estrogen, relaxin, dan hormon adrenokortikoid, menurunkan kerapatan antara kolagen, serat, dan substansi dasar, yang menyebabkan suatu area peregangan yang dikenal sebagai striae.8
Striae gravidarum terdapat 2 jenis, yaitu a. Striae Rubra
Gambar 1: Striae rubra
Striae muncul di akhir trimester 2 atau diawal trimester 3, namun beberapa penelitian 43% wanita muncul pada usia 24 minggu kehamilan.
Striae rubra terasa gatal, perih, dan tidak nyaman.
b. Striae Alba
Gambar 2: Striae alba
Striae selama periode berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, tanda striae akan memudar dan menjadi hipopigmentasi. Tampak garis-garis ketegangan kulit seperti bekas luka, keriput, putih, dan ada tanda atrofi.12 B. Etiologi
Peregangan mekanik pada kulit selama kehamilan, perubahan hormon dan adanya aktivitas korteks adrenal yang berlebihan.9 Sebagian besar perubahan
pada ibu hamil disebabkan oleh hormonal (estrogen, progesteron, human chorionic gonadotropin (HCG), dan relaksin). Pada minggu ke 18-32 terjadi over distance dinding abdomen dan striae gravidarum sangat berhubungan dengan hormon relaksin. Sekresi relaksin tersebut akan ditingkatkan oleh human chorionic gonadotropi. Sekresi hormon HCG akan menurun setelah minggu ke 24 sehingga risiko munculnya striae gravidarum menjadi lebih tinggi.10
C. Patofisiologi
Peregangan kulit pada serat elastin dan perubahan hormon yaitu terjadi peningkatan reseptor estrogen dan androgen pada kulit selama kehamilan.
Adrenocorticotropin Hormon (ACTH) dan kortisol juga dikaitkan dengan aktivitas fibroblast sehingga meningkatkan katabolik protein, perubahan kolagen dan jaringan elastin selama kehamilan. Peningkatan enzim oleh sel mast termasuk alastase memicu degranulasi sel mast dan aktivasi makrofag menyebabkan elastolisis pada daerah subdermis. Proses inflamasi ini merubah kolagen, elastin, dan komponen fibrillin. Penumpukan fibrillin dan elastin berperan penting sebagai patogenesis timbulnya striae gravidarum.9
D. Faktor Risiko
1. Perubahan berat badan yang cepat
Peregangan kulit yang cepat dan melebihi elastisitas mengakibatkan terjadinya stres mekanik serta inflamasi yang mengaktivasi mastositosis dan makrofag sehingga terjadi peningkatan enzim proteolitik yang mengakibatkan penurunan aktivitas fibroblas serta komponen extracellular matrix (ECM), hal tersebut berpengaruh pada matrix di dermis dan mengakibatkan kolagen berkurang sehingga terbentuk striae.11
2. Hormonal
Faktor hormonal 2 kali lebih banyak disebabkan oleh reseptor estrogen dan peningkatan androgen pada reseptor glukokartikoid pada striae daripada kulit sehat. Hormon kehamilan diperkirakan mempengaruhi jaringan ikat yang rentan terhadap striae gravidarum saat terjadi peregangan.12
3. Riwayat striae
Penelitan menunjukan bahwa riwayat striae pada payudara, pinggul, dan paha dikaitkan dengan pembentukan striae gravidarum. Penelitian terhadap 299 wanita Kaukasia menunjukan bahwa wanita dengan riwayat striae di payudara atau di paha berpeluang 8.6 kali mengalami striae gravidarum dibandingkan wanita tidak memiliki striae dipayudara atau paha (OR: 8.6, 95% CI: 3.8, 19,9).12
E. Penatalaksanaan 1. Obat topikal
Krim tretinoin dan kombinasi 20% asam glikolat + 10% asam askorbat terbuti dalam penanganan striae gravidarum. Pnggunaan krim tretinoin 0,05% dan 0,1% setiap hari selama 3 sampai 7 bulan secara konsisten dapat mengurangi striae gravidarum hingga 47%. Tretinoin meningkatkan kandungan elastin di papiler dan retikuler dermis. Kedua perawatan meningkatkan ketebalan epidermis dan penurunan ketebalan dermal papiler pada lesi striae gravidarum.12
2. Perawatan Laser
Laser fraksional non ablatif 1540 nm menunjukan peningkatan klinis yang signifikan secara statistik pada striae gravidarum yang berkisar dari 1- 24% dan perbedaan yang dapat diamati dengan pengobatan 3 bulan. Studi histologis menunjukan peningkatan serat elastis dan produksi kolagen. Laser umumnya aman, perawatan ini ditoleransi dengan baik oleh pasien. 12
3. Intense Pulsed Light (IPL)
Terapi cahaya seperti IPL sinar inframerah 800 sampai 1800 nm dapat menghasilkan 25 sampai 50% perbaikan striae setelah 4 sesi terapi. 12
4. Pemberian Virgin Coconut Oil (VCO) dan Zaitun.
VCO diyakini baik untuk kesehatan kulit karena mudah diserap kulit dan mengandung vitamin E. Kandungan asam lemak terutama asam laurat dan oleat dalam VCO bersifat melembutkan kulit. Perawatan kulit dalam upaya pencegahan terjadinya kerusakan dapat menggunakan minyak VCO dan Zaitun sebagai pelembab yang sangat dibutuhkan oleh kulit terutama
pada masa kehamilan karena kelembapan merupakan kondisi yang baik untuk menjaga sel-sel kulit danmembuatnya tidak cepat tua dan tidak pecah- pecah. Kelembapan dan elastisitas kulit sekaligus memperlancar proses regenerasi kulit, sehingga kulit tidak mudah kering dan berkerut. 13
5. Prenatal Yoga
Gerakan senam yoga merupakan latihan relaksasi pikiran dan roh yang dapat menenangkan dan mengurangi tingkat stress sehingga ketidaknyamanan yang dirasakan ibu hamil dapat berkurang. Tubuh mengalami peregangan otot lebih rileks, sehingga peredaran darah bekerja dengan baik dan tubuh memproduksi hormon Endorphin.15
F. Dampak
Striae gravidarum menimbulkan dampak psikologis bagi seseorang dengan profesi seperti model atau aktris sehingga dapat menganggu pekerjaan ataupun kehidupan sosial. Peregangan yang terjadi menganggu fungsi sawar kulit bahkan menganggu transepidermal water loss (TEWL) .11
Striae gravidarum dalam kehamilan yang umum dapat menjadi stres yang subtansial. Terlepas dari identifikasi faktor risiko dan penanganan striae gravidarum. Pencegahan striae gravidarum tetap menantang.12
G. Kewenangan bidan terhadap kasus
Kewenangan bidan menurut Undang-Undang tahun 2019 tentang Kebidanan Pasal 46 dalam menyelenggarakan Praktik Kebidanan, bidan bertugas memberikan pelayanan kesehatan ibu. Pasal 47 dalam undang-undang tersebut menjelaskan dalam menyelenggarakan Praktik Kebidanan, Bidan berperan sebagai pemberi Pelayanan Kebidanan, penyuluh, dan konselor. Pasal 49 menjelaskan tugas memberikan pelayanan kesehatan dimaksud adalah memberikan Asuhan Kebidanan pada masa kehamilan normal. Pasal 47 menjelaskan bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada ibu berwenang melakukan komunikasi, informasi, edukasi, konseling, dan memberikan pelayanan kontrasepsi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.14
Berdasarkan penjelasan dalam undang-undang kebidanan dalam kehamilan normal bidan berwenang memberikan pelayanan kebidanan berupa penyuluhan dan
konselor dengan cara komunikasi, informasi, edukasi, dan konseling.
BAB II
TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN
A. Pengkajian Data Subyektif 1. Identitas
a) Nama : Mengetahui nama klien berguna untuk memperlancar komunikasi dalam asuhan sehingga tidak terlihat kaku dan lebih akrab.
b) Umur : Umur perlu dikaji guna mengetahui umur klien yang akan diberikan asuhan.
c) Agama : Menanyakan agama klien dan berbagai praktik agama yang dijalani. Informasi ini dapat menuntun ke suatu diskusi tentang pentingnya agama dalam kehidupan klien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan kelahiran, perasaan tentang jenis kelamin tenaga kesehatan, dan pada beberapa kasus, penggunaan produk darah.
d) Pendidikan : Menanyakan pendidikan tertinggi yang klien tamatkan. Informasi ini membantu klinis memahami klien sebagai individu dan memberi gambaran kemampuan baca tulisnya
e) Suku/ Bangsa : Ras, etnis, dan keturunan harus diidentifikasi dalam rangka memberikan perawatan yang peka budaya kepada klien dan mengidentifikasi wanita atau keluarga yang memiliki kondisi resesif otosom dengan insiden yang tinggi pada populasi tertentu.
Jika kondisi yang demikian diidentifikasi, wanita tersebut diwajibkan menjalani skrining genetik.
f) Pekerjaan : Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui apakah klien berada dalam keadaan masih sekola, bekerja, dan status ekonomi keluarga
g) Alamat : Alamat rumah klien perlu diketahui bidan untuk lebih memudahkan saat pertolongan persalinan dan untuk mengetahui jarak rumah dengan tempat rujukan.
2. Data Subyektif
a) Alasan Kunjungan : Dikaji untuk mengetahui alasan wanita datang ke tempat bidan/ klinik, yang diungkapkan dengan kata-katanya sendiri. Tujuan kunjungan biasanya untuk mendapatkan diagnosis ada/tidaknya kehamilan, mendapatkan perawatan kehamilan, menentukan usia kehamilan dan perkiraaan persalinan, menentukan status kesehatan ibu dan janin, menentukan rencana pemeriksaan/penatalaksanaan lainnya.
b) Keluhan Utama : alasan kenapa klien datang ke tempat bidan.
Dituliskan sesuai dengan yang diungkapkan oleh klien serta menanyakan sejak kapan hal tersebut dikeluhkan klien.
Mendengarkan keluhan klien sangat penting untuk pemeriksaan.
c) Riwayat Kesehatan : Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai penanda (warning akan adanya penyulit). Riwayat Kesehatan ini meliputi riwayat kesehatan klien sekarang dan terdahulu, dan riwayat kesehatan keluarga.
d) Riwayat Obstetri :
1) Menarce : Menarche adalah usia pertama kali mengalami menstruasi. Wanita haid pertama kali umumnya sekitar 12-16 tahun.. Hal ini dipengaruhi oleh keturunan, keadaan gizi, bangsa, lingkungan, iklim, dan keadaan umum.
2) Siklus Haid : Siklus haid adalah jarak antara haid yang dialami dengan haid berikutnya, dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23-32 hari, siklus haid yang normal adalah 28 hari.
3) Lamanya Haid : Lamanya haid yang normal adalah ± 7 hari.
Apabila sudah mencapai 15 hari berarti sudah abnormal dan kemungkinan adanya gangguan ataupun penyakit yang mempengaruhi.
4) Volume : Data ini menjelaskan seberapa banyak darah yang dikeluarkan. Sebagai acuan biasanya digunakan kriteria banyak, sedang, dan sedikit. Biasanya untuk menggali lebih
dalam pasien ditanya sampai berapa kali ganti pembalut dalam sehari.Normalnya yaitu 2 kali ganti pembalut dalam sehari.
Apabila darahnya terlalu berlebih, itu berarti telah menunjukan gejala kelainan banyaknya darah haid.
e) Pola pemenuhan sehari-hari
1) Nutrisi : Data ini penting untuk diketahui agar bisa mendapatkan bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya 2) Eliminasi :
(1) BAB : Dikaji frekuensinya (BAB nya teratur atau tidak, jika mengatakan terlalu sering dan feses cair bisa dicurigai mengalami diare, dan jika terlalu jarang BAB serta feses kering dan keras, dicurigai klien mengalami konstipasi), warnanya (normalnya warna feses berwarna kuning kecoklatan)
(2) BAK : Dikaji frekuensinya (seberapa sering ia berkemih dalam sehari. Meningkatnya frekuensi berkemih dikarenakan meningkatnya jumlah cairan yang masuk, atau juga karena adanya tekanan dinding vesika urinaria.
Apabila ternyata wanita hamil kesulitan berkemih berarti bidan harus segera mengambil tindakan,misal memasang kateter),warna urine (normalnya urine berwarna bening, jka urine berwarna keruh dicurigai klien menderita DM karena urin keruh disebabkan adanya penumpukan glukosa), bau urine (bau urine normalnya seperti bau Amonia (NH3)
3) Aktivitas : Data ini memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas yang biasa dilakukan pasien di rumah.
4) Istirahat : Jadwal istirahat perlu diperhatikan karena istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.
5) Personal Hygiene : Kebersihan jasmani sangat penting karena saat hamil banyak berkeringat terutama di daerah lipatan kulit.
Mandi 2-3x sehari membantu kebersihan badan dan mengurangi infeksi. Pakaian sebaiknya dari bahan yang dapat menyerap keringat, sehingga badan selalu kering terutama di daerah lipatan kulit.
f) Data Pengetahuan
Perlu dikaji dengan berbekal pengetahuan maka pasien akan lebih mudah diajak memecahkan masalah yang mungkin terjadi.
B. Pengkajian Data Obyektif
Pengkajian data obyektif dilakukan melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi.
Langkah-langkah pemeriksaannya adalah sebagai berikut8: 1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum
Data ini didapat dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan yang dilaporkan kriterianya adalah sebagai berikut :
1) Baik
Jika pasien memperlihatkan respons yang baik terhadap lingkungan dan orang lain serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.
2) Lemah
Pasien dimasukkan dalam criteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respons yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri.
b. Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien,
kita dapat melakukan pengkajian tingkat kesadaran mulai dari keadaan komposmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar).
c. Tanda – Tanda Vital
a) Tekanan darah : normal 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg
b) Nadi : Denyut nadi60-100 kali per menit c) Pernafasan: normal 12 - 20 kali per menit d) Suhu : suhu normal 36,5-37,2 derajat Celcius e) Berat badan
f) Tinggi badan
g) LILA : normal ≥ 23,5 cm d. Status Present
a) Kepala : Dikaji ukuran, bentuk, kontur, kesimetrisan kepala, kesimetrisan wajah, lokasi struktur
b) Rambut : Dikaji warna, kebersihan, mudah rontok atau tidak
c) Muka : Dikaji apakah pucat atau tidak
d) Telinga : Dikaji ada pembesaran atau tidak, ketajaman pendengaran, letak telinga di kepala, bentuk, ada tonjolan atau tidak, ada rabas pada aurikula dan autium atau tidak, edema atau tidak, ada lesi atau tidak, adanya sumbatan atau benda asing pada saluran pendengaran eksterna atau tidak.
e) Mata : Dikaji kelopak mata edema atau tidak, ada tanda- tanda infeksi atau tidak, warna konjungtiva, warna sklera, ukuran dan bentuk serta kesamaan pupil.
f) Hidung : Dikaji ada nafas cuping hidung atau tidak, kesimetrisan, ukuran, letak, rongga hidung bebas sumbatan atau tidak, ada polip atau tidak, ada tanda-tanda infeksi atau tidak.
g) Mulut, Dikaji :
1) bibir (warna dan integritas jaringan seperti lembab / kering),
2) lidah (warna, kebersihan)
3) gigi (kebersihan, karies, gangguan pada mulut).
h) Leher : Dikaji kesimetrisan, ada/tidak nya nyeri tekan, ada/tidaknya pembesaran kelenjar tiroid, pembesaran kelenjar limfe, dan ada/tidaknya bendungan vena jugularis.
i) Ketiak : Dikaji tentang ada/tidaknya pembesaran kelenjar limfe.
j) Abdomen
a. Melakukan pemeriksaan inspeksi: warna kulit, warna striae, dan tekstur kulit.
b. Memeriksa bekas luka: dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya bekas luka oprasi, leci, dan banyaknya striae.
c. Leopold 1 : Leopold I digunakan untuk menentukan usia kehamilan dan bagian apa yang ada dalam fundus, dengan cara pemeriksa berdiri sebelah kanan dan menghadap ke muka ibu, kemudian kaki ibu di bengkokkan pada lutut dan lipat paha, lengkungkan jari-jari kedua tangan untuk mengelilingi bagian atas fundus, lalu tentukan apa yang ada di dalam fundus.
Bila kepala sifatnya keras, bundar, dan melenting.
Sedangkan bokong akan lunak, kurang bundar, dan kurang melenting.tinggi normal fundus selama kehamilan dapat di tentukan.
d. Leopold 2 : Leopold II digunakan untuk menetukan letak punggung anak dan letak bagian kecil pada anak.
Caranya :
1. Kedua tangan pemeriksa berada di sebelah kanan dan kiri perut ibu.
2. Ketika memeriksa sebelah kanan, maka tangan kanan menahan perut sebelah kiri kea arah kanan.
3. Raba perut sebelah kanan menggunakan tangan kiri dan rasakan bagian apa yang ada di sebelah kanan (jika teraba benda yang rata, atau tidak teraba bagian kecil, terasa ada tahanan, maka itu adalah punggung bayi, namun jika teraba bagian-bagian yang kecil dan menonjol maka itu adalah bagian kecil janin) e. Leopold 3 : Leopold III digunakan untuk menentukan
bagian apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian anak sudah atau belum terpegang oleh pintu atas panggul. Caranya :
1. Tangan kiri menahan fundus uteri.
2. Tangan kanan meraba bagian yang ada di bagian bawah uterus. Jika teraba bagian tang bulat, melenting keras, dan dapat digoyangkan maka itu adalah kepala. Namun jika teraba bagian yang bulat, besar, lunak, dan sulit digerakkan, maka itu adalah bokong. Jika dibagian bawah tidak ditemukan kedua bagian seperti yang diatas, maka pertimbangan apakah janin dalam letak melintang.
3. Pada letak sungsang (melintang) dapat dirasakan ketika tangan kanan menggoyangkan bagian bawah, tangan kiri akan merasakan ballottement (pantulan dari kepala janin, terutama ini ditemukan pada usia kehamilan 5-7 bulan).
4. Tangan kanan meraba bagian bawah (jika teraba kepala, goyangkan, jika masih mudah digoyangkan, berarti kepala belum masuk panggul, namun jika tidak dapat digoyangkan, berarti kepala sudah masuk panggul). Lalu lanjutkan pada pemeriksaan Leopold
VI untuk mengetahui seberapa jauh kepala sudah masuk panggul.
f. Leopold 4 :Leopold IV digunakan untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan seberapa masuknya bagian bawah tersebut ke dalam rongga punggung. Caranya :
1. Pemeriksa menghadap ke kaki pasien
2. Kedua tangan meraba bagian janin yang ada dibawah
3. Jika teraba kepala, tempatkan kedua tangan di dua belah pihak yang berlawanandi bagian bawah 4. Jika kedua tangan konvergen (dapat saling
bertemu) berarti kepala belum masuk ke panggul 5. Jika kedua tangan divergen (tidak saling bertemu)
berarti kepala sudah masuk ke panggul
k) Dada : Dikaji bentuk, simetris atau tidak, bentuk dan kesimetrisan payudara, inspeksi puting tenggelam atau tidak bunyi/denyut jantung, ada/tidaknya gangguan pernafasan (auskultasi). Palpasi apakah ada masa atau sudah keluar ASI atau belum.
l) Ekstremitas
Inspeksi kaki dan tangan adakah pembengkakan Feflek hamer untuk kaki.
m) Genitala eksterna tidak dilakukan (kecuali ada keluhan) n) Anus (tidak dilakukan)
2. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar Hb
C. Rencana Tindakan / Penatalaksanaan
Pelaksanaan asuhan yang dilakukan sesuai dengan apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan,
dari kerangka pedoman antisipasi terhadap ibu hamil tersebut, apa yang akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial ekonomi, kultural, atau masalah psikologis. Dengan kata lain, asuhan terhadap klien tersebut harus mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo, S., 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
2. Emília, M., Costa, C., Cavalcanti, L., Alves, C., Terceiro, De, L., Deyvid, P., Lacerde, N., Marcelo, A., Gustavo, C., Tania, C. 2017.
Low Back Pain During Pregnancy. Brazilian Journal of Anesthesiology.
3. Tyastuti, S. 2016. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta: Kemenkes RI.
4. Fatimah. 2017. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta:
Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas.
5. Prabowo, P. 2011. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo
6. Astuti, Maya. 2010.Buku Pintar Kehamilan. Jakarta : EGC
7. Rusmita, E. 2015. Pengaruh Senam Hamil Yoga Terhadap Kesiapan Ibu Hamil Menghadapi Persalinan di RSIA Limijati Bandung. Jurnal Ilmu Keperawatan, 3(2), pp. 38-46
8. Khrisnamurti, S., Nurdiati, D. S., & Setiyarini, W. I. (2018). Memeriksa Striae Gravidarum untuk Memperkirakan Laserasi Perineum. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 5(2), 96-104.
9. Manullang, W. S. (2017). GAMBARAN PERUBAHAN-PERUBAHAN KULIT PADA IBU HAMIL TRIMESTER TIGA DI PUSKESMAS HAMPARAN PERAK KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2016.
10.Pratami, E., Permadi, W., & Gondodiputro, S. (2014). Efek Olive Oil dan Virgin Coconut Oil terhadap Striae Gravidarum. Majalah Kedokteran Bandung, 46(1), 1-5.
11.Harnanti, D. V., Listiawan, M. Y., Astari, L., & Sandhika, W. (2019).
Evaluasi Penggunaan Terapi Topikal Tretinoin 0, 1% pada Striae Albae. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, 31(2), 98-103.
12. Farahnik, B., Park, K., Kroumpouzos, G., & Murase, J. (2017). Striae gravidarum: Risk factors, prevention, and management. International journal of women's dermatology, 3(2), 77-85.
13.Fenny, F., & Desriva, N. (2020). EFEKTIVITAS PEMBERIAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) TERHADAP PENCEGAHAN STRIAE GRAVIDARUM PADA KEHAMILAN DI RS PMC. Al-Insyirah Midwifery: Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Sciences), 9(1), 8-13.
14. UU RI No. 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan.(2019)
15.Rafika, R. (2018). Efektifitas Prenatal Yoga terhadap Pengurangan Keluhan Fisik pada Ibu Hamil Trimester III. Jurnal Kesehatan, 9(1), 86-92