• Tidak ada hasil yang ditemukan

LTM 2 Maria Vianny 2206083962 Transkultural D

N/A
N/A
Maria Vianny

Academic year: 2024

Membagikan "LTM 2 Maria Vianny 2206083962 Transkultural D"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

KASUS 2 : Tradisi Iris Tubuh Suku Asmat Papua

Konsep Asuhan Keperawatan Holistik pada Diagnosis Defisit Pengetahuan (D.0111) Maria Vianny, 2206083962, FG 2, Keperawatan Transkultural D

Dosen pengampu: Dessie Wanda, Skp., MN., PhD Fakultas Ilmu Keperawatan

A. Pengkajian Kasus 2 : Tradisi Iris Tubuh Suku Asmat Papua

Faktor sosial dan keterikatan keluarga (Kinship and Social Factors)

Di wilayah Suku Asmat Papua, seperti di banyak masyarakat adat lainnya, hubungan keluarga dan komunitas sangat penting. Keluarga memiliki peran yang kuat dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam hal perawatan kesehatan. Orang tua anak B mungkin telah mengambil keputusan untuk membawa anak mereka ke dukun karena kepercayaan dan norma-norma sosial dalam komunitas mereka.

Dalam masyarakat tersebut, dukun dianggap memiliki otoritas dan pengetahuan yang lebih besar dalam hal pengobatan tradisional daripada fasilitas kesehatan modern. Keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan juga dapat menjadi faktor dalam keputusan tersebut.

Faktor nilai budaya dan gaya hidup (Cultural Values and Lifeways) Tradisi iris tubuh adalah bagian dari sistem kepercayaan dan budaya Suku Asmat. Ini mungkin dianggap sebagai cara yang tepat untuk mengobati penyakit menurut keyakinan budaya mereka. Dukun dihormati sebagai penjaga kearifan tradisional dan dianggap memiliki kemampuan untuk mengobati penyakit secara holistik, tidak hanya secara fisik tetapi juga spiritual.

(2)

Nilai-nilai budaya seperti kepercayaan pada pengobatan alamiah dan spiritualitas dapat mempengaruhi pemilihan perawatan kesehatan.

Pemahaman akan budaya lokal dan menghargai kepercayaan serta praktik tradisional menjadi penting dalam merancang pendekatan perawatan yang sesuai.

● Faktor ekonomi (Economical Factors)

Akses terbatas terhadap fasilitas kesehatan modern seperti Puskesmas dapat menjadi masalah ekonomi. Biaya transportasi atau waktu yang diperlukan untuk mencapai puskesmas bisa menjadi hambatan bagi keluarga dengan sumber daya terbatas.

Mungkin juga ada faktor ekonomi dalam memilih dukun, di mana biaya pengobatan tradisional mungkin lebih terjangkau atau lebih mudah diakses daripada perawatan medis modern.

Faktor pendidikan (Educational Factor)

Tingkat pendidikan dalam masyarakat Suku Asmat mungkin bervariasi, dan pengetahuan tentang kesehatan modern dan praktik medis mungkin terbatas. Pemahaman akan penyakit seperti disentri dan pengobatannya mungkin kurang dalam keluarga-keluarga tersebut.

Pendidikan yang terbatas dapat mempengaruhi persepsi terhadap perawatan kesehatan modern dan membuat mereka lebih cenderung mengandalkan pengobatan tradisional. Edukasi tentang pentingnya perawatan kesehatan yang tepat dan pengobatan medis mungkin perlu disampaikan dengan cara yang mudah dipahami dan sesuai dengan budaya lokal.

B. Diagnosis Keperawatan

Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d Kurang terpapar informasi d.d Anak B memiliki luka di perut yang tak kunjung sembuh akibat prosesi iris tubuh.

(3)

Pengetahuan merupakan hasil dari penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan di mana pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan. Dengan adanya pendidikan yang tinggi diharapkan seseorang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Dengan pengetahuan seseorang dapat memilih atau mengambil keputusan mana yang baik dan mana yang tidak. Dalam mengambil keputusan tidak hanya dengan bermodal dengan perasaan atau feeling saja namun juga sangat dibutuhkan rasional dari keputusan tersebut. Sehingga dibutuhkan sebuah pengetahuan atau ilmu yang dapat merasionalkan dari keputusan tersebut.

C. Asuhan Keperawatan

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis defisit pengetahuan adalah: edukasi kesehatan. Edukasi kesehatan adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengajarkan pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih serta sehat. Tindakan yang dilakukan pada intervensi edukasi kesehatan berdasarkan SIKI, antara lain:

1. Observasi

● Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi

● Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat

2. Terapeutik

● Sediakan materi dan media Pendidikan Kesehatan

● Jadwalkan Pendidikan Kesehatan sesuai kesepakatan

● Berikan kesempatan untuk bertanya 3. Edukasi

● Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi Kesehatan

● Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat

● Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat

● Tujuan dan Kriteria Hasil

Setelah dilakukan pendekatan keperawatan selama 2x24 jam masalah defisit pengetahuan dapat teratasi dengan kriteria hasil adalah :

1. Keluarga menyatakan pemahaman tentang efek dari tradisi iris tubuh Suku Asmat

(4)

2. Keluarga mampu memahami risiko yang terkait dengan praktik tradisional iris tubuh serta manfaat dari perawatan medis modern.

3. Keluarga mampu memahami tanda dan gejala penyakit serta pentingnya penanganan yang tepat untuk mencegah komplikasi.

4. Keluarga memahami pentingnya fasilitas kesehatan modern untuk perawatan yang tepat dan berkualitas.

● Intervensi dan Implementasi Keperawatan

1. Cultural care perservation atau maintenance

a. Beri dukungan keluarga mengenai pengetahuan keluarga tentang praktik tradisional iris tubuh, termasuk prosedur, tujuan, dan peran dukun dalam budaya Suku Asmat. Ini membantu mempertahankan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal.

b. Identifikasi sejauh mana pengetahuan keluarga tentang efek dari tradisi iris tubuh.

c. Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinteraksi dengan keluarga.

d. Diskusikan kesenjangan budaya pengobatan yang dianut keluarga dan perawat.

e. Penting untuk menghormati keyakinan dan nilai-nilai yang mendasari praktik tradisional tersebut. Perawat perlu mengakui kepentingan dukun dalam masyarakat tersebut dan tidak menghakimi atau mengecilkan praktik mereka.

2. Cultural care accomodation or negosiation

a. Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh keluarga saat melakukan pendekatan keperawatan

b. Libatkan semua anggota keluarga dalam perencanaan perawatan terkait dengan pemahaman tentang efek tradisi iris Suku Asmat

c. Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negoisasi di mana kesepakatan berdasarkan pengetahuan, pandangan keluarga dan standar etik.

3. Cultural care repartnering or reconstruction

a. Beri kesempatan pada keluarga untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya

b. Tentukan tingkat perbedaan keluarga dari budaya kelompok

(5)

c. Terjemahkan terminologi gejala keluarga ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh keluarga

D. Evaluasi Keperawatan

● S : Keluarga mengatakan paham tentang efek dari tradisi iris Suku Asmat

● O : Keluarga mampu memahami efek dari tradisi iris Suku Asmat

● A : masalah defisit pengetahuan teratasi

● P : terminasi intervensi

Komunikasi Terapeutik sebagai Prinsip dalam Memberikan Pengetahuan

Di dalam buku karangan (Mubarak et al., 2009), tahapan komunikasi terapeutik terdiri dari:

a. Tahap Pra-Interaksi

(6)

Pada tahap ini perawat menggali kondisi pasien yang berhubungan dengan kecemasan yang menyelimuti pasien. Hal-hal yang perlu dipelajari dari diri sendiri yaitu:

1. Pengetahuan yang dimiliki terkait penyakit

Perawat harus mengetahui terkait penyakit yang pasien derita sebagai bekal interaksi dan apabila perawat belum mengetahui soal penyakit, maka perawat harus belajar tentang penyakit yang diderita pasien.

2. Kecemasan diri

Kecemasan pada perawat dapat mengakibatkan perawat tidak bisa mendengarkan dari keluhan pasien. Selain itu perawat harus membedakan kepentingan pribadi dengan kepentingan sebagai perawat.

3. Analisis kekuatan diri

Sebelum bertemu pasien perawat harus mengevaluasi kekuatan dan kesiapan perawat. Mengevaluasi kekuatan diri diperlukan untuk tidak mudah berpengaruh dengan emosi yang terjadi setelah berinteraksi.

4. Waktu pertemuan

Perawat harus menentukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan pasien sesuai waktu kebiasaan atau istirahat pasien supaya tidak mengganggu kegiatan pasien. Selain itu menentukan waktu bertemu yang biasanya 15-30 menit.

Hal-hal yang perlu dipelajari dari pasien sebagai berikut:

1. Perilaku pasien dengan penyakitnya

Pada saat pasien sedang menghadapi penyakitnya, pasien akan sulit untuk diajak berkomunikasi. Seperti halnya sikap yang menutup diri atau isolasi sosial akan menyusahkan perawat dalam memperoleh informasi dari pasien.

2. Adat istiadat pasien

Kebiasaan budaya pasien yang dibawa saat dirawat membuat kesulitan bagi perawat dalam hubungan antara perawat dengan pasien. Selain itu juga kebiasaan bahasa yang digunakan setiap hari akan berdampak salah persepsi.

3. Pengetahuan pasien

(7)

Pengetahuan pasien tentang penyakit dapat membantu perawat maupun pasien dalam penerimaan dirinya. Dengan adanya penerimaan diri membuat pasien lebih kooperatif dalam berperilaku.

b. Tahap Perkenalan

Pada tahap perkenalan ini perawat sudah melakukan kegiatan yang pertama yaitu bertemu dengan pasien. Pada tahap ini juga tidak ada pembatasan bagi perawat-pasien dalam komunikasi terapeutik yang menjadikan perawat sebagai rujukan pertama dalam mengutarakan keluhan yang dirasakan pasien.

Memodifikasi lingkungan yang kondusif dengan memperhatikan kenyamanan pasien untuk bisa berpikir jernih dalam menyampaikan keluhannya secara terbuka, sistematis, objektif dan lengkap.

c. Tahap Orientasi

Pada tahap orientasi ini perawat mendengarkan keluhan keluhan dari pasien dan akan divalidasikan dengan tanda dan gejala yang ditemukan dalam memperkuat diagnosa keperawatan. Pada tahap ini juga perawat dituntut mempunyai keahlian dalam mengungkapkan keluhan pasien. Pada tahap orientasi dapat meliputi beberapa tahapan yaitu:

1. Tahapan pertama yaitu membuat kontrak dengan pasien yang isinya berupa tempat, topik dan waktu yang akan dilakukan suatu pertemuan dengan pasien

2. Tahapan kedua yaitu dapat mengeksplorasi diri, pikiran maupun perasaan dalam mengidentifikasi masalah keperawatan untuk mengetahui tingkat kecemasan dari pasien.

3. Tahapan terakhir yaitu menetapkan tujuan yang akan dicapai yaitu kita sebagai perawat harus bisa memberikan semangat bagi pasien dalam kesehatannya.

d. Tahap Kerja

Tahap kerja merupakan tahapan yang dilakukan perawat dalam mengimplementasikan dari rencana keperawatan yang sudah dibuat pada tahapan orientasi. Mengingat pentingnya tindakan dalam proses kesembuhan pasien, hal ini tidak dapat kita hindari akan tetapi dapat kita sikapi dan terima

(8)

untuk kesembuhan pasien. Pada tahap kerja ini juga, perawat diharapkan bisa menyimpulkan dari percakapan dengan pasien. Selain itu pada tahap kerja perawat berperan dalam tanggung jawab, kemandirian dari kesembuhan penyakit pasien.

e. Tahap Terminasi

Tahap terminasi merupakan tahap yang dilakukan perawat dalam mengakhiri pertemuannya saat dilakukan tindakan keperawatan. Terminasi dilakukan untuk menyadarkan pasien bahwa ada pertemuan dan ada perpisahan yang hubungannya antar perawat-pasien. Pada hubungan antara perawat-pasien terdiri dari dua terminasi yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir, terminasi sementara dilakukan perawat setelah berakhirnya suatu tindakan, sedangkan terminasi akhir dilakukan perawat karena pasien akan meninggalkan rumah sakit. Dalam tahapan terminasi ini kegiatanya adalah

1. Evaluasi Subjektif

Merupakan evaluasi yang dilakukan sesuai suasana hati pasien.

Kegiatan ini penting agar perawat tahu kondisi psikologi pasien dalam upaya mencegah dari sikap menarik diri maupun defensif.

2. Evaluasi Objektif

Merupakan evaluasi yang dilakukan dalam mengevaluasi respon objektif terhadap hasil yang diharapkan. Pada evaluasi ini perawat menggunakan pedomannursing outcome clasificationdari tujuan yang ingin perawat capai.

3. Tindak Lanjut

Tindak lanjut yaitu kegiatan yang dilakukan dalam penyampaian pesan terhadap pasien mengenai lanjutan kegiatan yang sudah dilakukan.

Pesan yang disampaikan akan lebih baik jika singkat, padat dan jelas supaya tidak terjadimiscommunication.

Aspek Konsep Holistik Transkultural Nursing

Perawatan holistik adalah perawatan yang menggunakan konsep holistik, yaitu integrasi tubuh dan jiwa melalui berbagai metode, dimana tubuh manusia merupakan sistem terintegrasi yang sangat kompleks dan berinteraksi sangat erat dan otomatis. Terganggunya salah satu fungsi/elemen/elemen tubuh manusia dapat mengganggu fungsi lainnya.

(9)

A. Konsep Holistik Transkultural Nursing Spiritual

1. Penyelarasan dengan Keyakinan Budaya: Perawat dapat memberikan dukungan spiritual dengan menghormati keyakinan dan praktik spiritual Suku Asmat. Ini bisa meliputi upacara atau ritual yang membantu keluarga menemukan ketenangan dan kekuatan dalam menghadapi situasi yang sulit.

2. Pertimbangkan Pertanyaan Spiritual: Bertanya pada keluarga tentang kepercayaan dan nilai-nilai spiritual mereka dapat membantu memahami bagaimana aspek spiritual mempengaruhi persepsi mereka tentang kesehatan dan penyembuhan.

B. Konsep Holistik Transkultural Nursing Fisik

Perawatan holistik adalah perawatan yang menggunakan konsep holistik, yaitu integrasi tubuh dan jiwa melalui berbagai metode, dimana tubuh manusia merupakan sistem terintegrasi yang sangat kompleks dan berinteraksi sangat erat dan otomatis.

Terganggunya salah satu fungsi/elemen/elemen tubuh manusia dapat mengganggu fungsi lainnya. Pada kasus perawat perlu melakukan intervensi pada Anak B, yaitu : 1. Perawatan Luka: Memberikan perawatan yang tepat untuk luka-luka akibat praktik

iris tubuh, termasuk membersihkan luka dan mencegah infeksi.

2. Perawatan Disentri: Mengobati disentri dengan antibiotik dan memastikan hidrasi yang cukup untuk mengatasi dehidrasi.

3. Pencegahan Penyakit Lain: Memberikan imunisasi dan edukasi tentang praktik kebersihan untuk mencegah penyakit lain yang mungkin terjadi karena luka terbuka atau lingkungan yang tidak higienis.

C. Konsep Holistik Transkultural Nursing Sosiokultural

1. Dukungan Keluarga: Mendorong keluarga untuk memberikan dukungan satu sama lain dalam mengatasi kesulitan, serta memfasilitasi komunikasi yang terbuka dan dukungan antara anggota keluarga.

2. Koneksi dengan Komunitas: Membantu keluarga untuk terhubung dengan sumber daya di komunitas mereka, seperti dukungan sosial dari tetangga atau bantuan dari organisasi lokal.

3. Pendidikan dan Pemberdayaan: Memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya perawatan kesehatan yang tepat dan memberdayakan mereka untuk mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri.

(10)

Dengan mengintegrasikan intervensi yang mencakup aspek spiritual, fisik, psikologis, dan sosial, perawat dapat memberikan asuhan holistik yang komprehensif dan berdaya guna bagi anak B dan keluarganya dalam kasus iris tubuh Suku Asmat.

DAFTAR PUSTAKA

Andrew. M & Boyle. J.S,. (1995). Transcultural Concepts in Nursing Care, 2nd Ed, Philadelphia: JB Lippincot

Company Fitzpatrick. J. & Whall. A.L,.(1989). Conceptual Models of Nursing: Analysis and Application, USA: Appleton & Lange.

Harefa, K. (2020) ‘Modul Transcultural Nursing’, pp. 1–32. Ibrahim, K. (2012) ‘asuhan keperawatan holistic di area keperawatan kritis’, Simposium Nasional Himpunan perawat critical care (HIPERCCI), 5(3), pp. 248–253.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2018) ‘PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2018’, Journal of Materials Processing Technology, 1(1), pp. 1–8. Available at:

http://dx.doi.org/10.1016/j.cirp.2016.06.001%0Ahttp://d

Kementerian Kesehatan RI (2007) ‘PerMenKes-2007-1109- Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer - Alternatif.pdf’, p. 29. Available at:

http://www.lafai.org/lafai35/files/regulasi/permen/PerMenKes-2007-1109-

Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer - Alternatif.pdf. Nurlaily, A.P. (2020) ‘Modul 1 KONSEP KEPERAWATAN TRANSKULTURAL’, pp. 1–148.

Putri, D.M.P. (2017) ‘Buku Keperawatan Transkultural Lengkap.pdf’, pp. 26–36. Stöcker, W.

(2018) Komplement, Lexikon der Medizinischen Laboratoriumsdiagnostik. Available at: https://doi.org/10.1007/978-3-662-49054-9_1734-1.

Widyatuti, W. (2008) ‘Terapi Komplementer Dalam Keperawatan’, Jurnal Keperawatan Indonesia, 12(1), pp. 53–57. Available at:https://doi.org/10.7454/jki.v12i1.200.

Referensi

Dokumen terkait