111 Riwayat Artikel
Diterima : 10 April 2021 Disetujui : 18 Mei 2021 Dipublikasi : 26 Juni 2021
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK, DEPRESI DAN BODY IMAGE TERHADAP KEGEMUKAN REMAJA PUTRI DI SMAN 1 TAPAKTUAN
Rohadatul Aisy 1, Agus Hendra AL Rahmad 2
1Mahasiswa Prodi D-IV Kesehatan Bidang Gizi
2Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Aceh Program Sarjana Terapan dan Dietetika
Alamat Korespondensi : Desa Balai, kec. Samadua, kab. Aceh Selatan/ [email protected] / 082165034228
ABSTRAK
Masa remaja merupakan masa pertumbuhan yang sangat cepat setelah masa balita. Pada masa remaja terjadinya perkembangan yang sangat pesat dalam perkembangan hidup manusia. Remaja putri termasuk kelompok yang rentan mengalami permasalahan gizi, masalah gizi pada remaja putri dapat diakibatkan oleh aktivitas fisik yang dilakukan, depresi, dan body image. Penelitiian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik, depresi, dan body image terhadap kegemukan remaja putrid di SMAN 1 Tapaktuan Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain crossectional.
Penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 27 februari 2021 di SMAN 1 Tapaktuan. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 44 orang. Data di kumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan penilaian kegemukan melalui pengukuran berat badan tinggi badan. Analisis data menggunakan uji chi-square.
Hasil dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara aktivitas fisik terhadap kegemukan remaja putri dengan p-value 0,287, tidak ada hubungan anatara depresi terhadap kegemukan remaja putri dengan p value 1.000, dan tidak ada hubungan anatara body image terhadap kegemukan pada remaja putrid dengan p value 0,692. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada nya hubungan antara aktivitas fisik, depresi, dan body image terhadap kegemukan remaja putrid di SMAN 1 Tapaktuan. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan dari pihak orangtua dan guru terhadap remaja putri yang memiliki ketidakpuasan terhadap bentuk tubuhnya yaitu mengenai presepsi, sikap dan perilaku.
Kata kunci: Aktivitas fisik, depresi, body image, kegemukan.
http://ojs.serambimekkah.ac.id/index.php/makma
MaKMA Volume 4, Nomor 2, Juni 2021. Hlm. 111-117 E-ISSN: 2621-8178 P-ISSN: 2654-5934
Majalah Kesehatan Masyarakat
Aceh (MaKMA)
112 PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan masa pertumbuhan yang sangat cepat setelah masa balita. Pada masa remaja terjadinya perkembangan yang sangat pesat dalam perkembangan hidup manusia. Selama masa remaja, terjadinya peningkatan kecepatan pertumbuhan dari pada masa anak-anak. Pertumbuhan yang terjadi pada masa remaja dapat berfungsi untuk kompensasi kegagalan pertumbuhan yang terjadi pada masa anak-anak, walaupun potensi untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan secara signifikan itu terbatas (Prisilia et al., 2019).
Kegemukan menjadi suatu permasalahan pada remaja putri, karna pada umumnya mereka ingin tampil sempurna yang seringkali diartikan dengan memiliki tubuh yang ideal, langsing, dan ramping. Remaja yang kurang melakukan aktifitas fisik, seperti olahraga dan melakukan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan banyak gerak tubuh merupakan hal yang harus diwaspadau
terhadap terjadinya
obesitas.(Wahyuningsih & Pratiwi, 2019).
Badan kesehatan dunia yaitu WHO menyebutkan bahwa obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebihan ataupun abnormal yang dapat menganggu kesehatan.Selama tiga decade, prevalensi kegemukan dan obesitas telah meningkat secara substansial. Menurut survey riset kesehatan dasar (Riskesdas), pada tahun 2013 anak usia 16-18 7,3%, dan meningkat menjadi 9,5% pada tahun2018, dan juga ditemukan sebesar 4,0% remaja pada usia 16-18 tahun mengalami obesitas.
Berdasarkan data Word Health Organization (WHO) obesitas di seluruh dunia bertambah cukup pesat menjadi lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1980.
Prevalensi remaja pada tahun 1990 dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) ≥2 SD meningkat dari 4,2% menjadi 6,7% pada tahun 2010 dan diperkirakan akan meningkat lagi menjadi 9,1% pada tahun 2020. Tahun 2014, lebih dari 1,9 miliar orang dewasa berusia ≥ 18 tahun
mengalami overweight dan lebih dari 600 juta orang du dunia mengalami obesitas (Antara et al., 2020). Sedangkan untuk prevalensi gizi kurang di dunia adalah 14,9% dan regional dengan prevalensi tertinggi Asia Tenggara sebesar 27,3%.
Persatuan Bangsa-Bangsa menyebutkan bahwa sekitar 800 juta penduduk di dunia menderita gizi kurang dan sebagian besar terjadi di Negara berkembang.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013,di Indonesia Prevalensi status gizi lebih pada remaja usia 13-15 tahun sebesar 10,8% terdiri dari 8,3% overweight dan 2,5% obesitas.
Prevalensi gemuk pada remaja usia 16-18 tahun sebesar 7,3% yang terdiri dari 5,7%
overweight dan 1,6% obesitas. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa di Indonesia prevalensi obesitas sebesar 16,0% pada remaja usia 13-14 tahun dan 13,5% pada remaja usia 16-18 tahun.
Selain itu terdapat 8,7% remaja usia 13-15 tahun dan 8,1% remaja usia 16-18 tahun dengan kondisi kurus dan sangat kurus.
Aceh merupakan salah satu provinsi dengan prevalensi status gizi sangat kurus dan kurus yaitu 5% dan 10%
pada remaja usia 13-15 tahun. Status gizi gemuk di provinsi Aceh memiliki prevalensi sebesar 8,3% (Andika &
Kridawati, 2016).
Pada masa remaja ini pula, pada umumnya seseorang menjadi lebih aktif dalam melalukan kegiatan sehari-hari.
Remaja banyak melakukan aktivitas fisik mulai dari aktifitas ringan, hingga aktivitas yang berat. Salah satu aktivitas umum yang dilakukan remaja adalah olahraga.
Jika asupan energy yang berlebih dan tidak di imbangi dengan pengeluaran energy yang seharusnya (dengan kurang melakukan aktivitas fisik) akan menyebabkan terjadinya penambahan berat badan. Perubahan gaya hidup mengakibatkan terjadinya perubahan pola makan masyarakat yang merujuk pada makanan-makanan tinggi kalori, kolesterol dan lemak, serta tidak diimbangi denga aktivitas fisik yang cukup sehingga
113 menimbulkan masalah gizi lebih (Di et al.,
2018).
Berdasarkan survey yang di lakukan oleh WHO, persentasi remaja putri dengan aktifitas fisik yang kurang dibandingkan pada remaja putra yaitu sebesar 87,7% (WHO.2018). Aktifitas fisik sangat mempengaruhi status gizi remaja, Kurangnya aktifitas fisik menyebabkan banyak energi yang tersimpan sebagai lemak, sehingga remaja yang kurang melakukan aktifitas fisik
menjadi gemuk. Hal ini menjelaskan bahwa tingkat aktifitas fisik berkontribusi terhadap kejadian berat badan lebih misalnya kebiasaan duduk lama, menonton televisi (Noviyanti & Marfuah, 2017).
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Hubungan Aktivitas Fisik, BodyImage, dan Depresi Terhadap Kegemukan Remaja Putri Di SMA Negeri 1 Tapaktuan“.
METODE
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Desain studi cross sectional yang bersifat analitik. Penelitian ini dilakukan pada bula Februari 2021.
Populasi dalam penelitian ini adalah adalah siswa/i yang berada di SMAN 1 Tapak Tuan. Sampel dalam penelitian yaitu ditentukan berdasarkan kriteria-
kriteria tertentu (purposive sampling) yang merupakan bagian dar populasi. Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah siswa/I SMAN 1 Tapak Tuan sebanyak 44 sampel. Analisa data yang digunakan yaitu uji analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square pada tingkat kemaknaan90%.
HASIL
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara proporsional menunjukkan bahwa remaja putri dengan aktifitas ringan memiliki kategori gemuk sebanyak 5 orang (35,7).Sedangkan remaja putri dengan aktifitas sedang memiliki kategori yang gemuk sebanyak 6 orang (20,0%).
Berdasarkan Uji Statistik di peroleh nilai p=0,287, dapat disimpulkan bahwa p>0,05, bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara aktifitas fisik dengan kegemukan pada remaja putrid di SMAN 1 Tapaktuan. [Tabel 1].
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara proporsional menunjukkan bahwa remaja putri dengan depresi memiliki kategori gemuk sebanyak 2 orang (28,6%). Sedangkan remaja putri dengan tidak depresi memiliki kategori
yang gemuk sebanyak 9 orang (24,3%).
Berdasarkan Uji Statistik di peroleh nilai p=1.000, dapat disimpulkan bahwa p>0,05, bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara Depresi dengan kegemukan pada remaja putrid di SMAN 1 Tapaktuan.[Tabel2].
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara proporsional menunjukkan bahwa remaja putri dengan Body image positif memiliki kategori gemuk sebanyak 3 orang (30,0%). Sedangkan remaja putri dengan Body image negatif memiliki kategori gemuk sebanyak 8 orang (23,5%). Berdasarkan Uji Statistik di peroleh nilai p=0,692 dapat disimpulkan bahwa p>0,05, bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara body image dengan kegemukan pada remaja putri di SMAN 1 Tapaktuan.[Tabel3].
PEMBAHASAN
1. Hubungan Aktivitas Fisik Terahadap Kegemukan Pada Remaja Putri Di SMAN 1 Tapaktuan.
Berdasarkan uji chi Square yang telah dilakukan dalam penelitian ini didapatkan nilai p-value 0,287, dimana nilai p-value> 0,005, bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara aktivitas
114 fisik dengan kegemukan pada remaja putri.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sudikno yang dilakukan pada siswa SMPN Di Pekan Baru menyatakan tidak terdapat dampak yang bermakna antara aktivitas fisik dengan Kegemukan.
Aktivitas fisik merupakan faktor penyebab kegemukan yang dapat dimodifikasi dalam kehidupan.Aktivitas fisik memberikan dampak yang positif terhadap kesehatan dan penjagaan berat badan ideal.Aktivitas fisik dianjurkan WHO pada remaja 1 jam meliputi aktivitas sedang.
Tidak terdapat nya hubungan antara aktivitas fisik dengan kegemukan terhadap remaja putri di SMAN 1 Tapaktuan mungkin dikarenakan kebanyakan aktivitas yang dilakukan oleh siswa SMAN 1 ini kecenderungan sama dari pagi hingga sore yang sudah terjadwal seperti wajib mengikuti jam pelajaran yang telah di sediakan yang lebih banyak memakan waktu seperti duduk disetiap jam pelajaran berlangsung berkisar 45 menit perjam mata pelajaran.
Selain itu, tidak terdapatnya hubungan aktivitas fisik dengan kegemukan disebabkan oleh faktor lain seperti pendapatan keluarga, dan asupan nutrisi. Pendapatan keluarga yang memadai atau lebih dari cukup merupakan faktor yang mendorong terjadinya Kegemukan pada remaja, remaja yang memiliki orang tua berpenghasilan tinggi akan menghasilkan uang jajan yang tinggi kepada anaknya dan juga transportasi yang mudah. Asupan nutrisi yang dimakan berlebihan akan menghasikan kegemukan yang cukup signifikan.
Aktivitas fisik pada remaja juga terdapat faktor ekstra personal yang dapat mempengaruhi aktivitas fisik yaitu adanya hambatan budaya, kebanyakan remaja putri di Asia menginginkan warna kulit yang putih, sehingga mereka lebih suka untuk menghindari kegiatan di luar ruangan karena mereka mengasumsikan bahwa cuaca yang panas dapat membuat warna kulit menjadi gelap, sehingga hal
tersebut dapat mempengaruhi tingkat aktivits fisik pada remaja putri.
2. Hubungan Depresi Terhadap Kegemukan Remaja Putri Di SMAN 1 Tapaktuan .
Berdasarkan uji chi Square yang telah dilakukan dalam penelitian ini didapatkan nilai p-value 1.000, dimana nilai p-value> 0,005, bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara depresi dengan kegemukan pada remaja putri.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Darmadi yang dilakukan pada mahasiwa menyatakan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara depresi dengan Kegemukan.Dan penelitian ini sejalan juga dengan penelitian oleh Chandra dari Departemen psikiatri FKUI (2007) melihat hubungan antara depresi dengan obesitas tidak terdapat hubungan antara depresi dengan obesitas.Hal ini mungkin terjadi karena jumlah sampel yang sedikit, dan mungkin terjadi karena SRQ-20 kurang sensitive untuk menilai tingkat depresi dibandingkan instrument yang lainnya.
Depresi merupakan salah satu gangguan jiwa yang dipengaruhi oleh stress psikososial. Depresi dapat berupa gejala, sindrom dan diagnosis tergantung sejauh mana stressor psikososial yang dialami oleh seseorang mempengaruhi diri seseorang orang tersebut.Orang-orang yang menderita depresi memiliki kecenderungan tidak memperhatikan pola makan dan aktivitas fisiknya berkurang sehingga mengakibatkan berat badan menjadi gemuk(DI, 2014).
3. Hubungan Body Image Terhadap Status Gizi Remaja Putri Di SMAN 1 Tapaktuan.
Berdasarkan uji chi Square yang telah dilakukan dalam penelitian ini didapatkan nilai p-value 0,692 dimana nilai p-value> 0,005, bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara Body image dengan kegemukan pada remaja putri. Hasil penelitian ini sejalan dengan
115 penelitian Herlina bahwa tidak ada
hubungan antara body image dengan status gizi pada remaja putrid di SMA Batik 1 Surakarta.Hal tersebut dikarenakan kegemukan tidak hanya di pengaruhi oleh Body image tetapi kegemukan juga di pengaruhi oleh asupan makan.
Bodyimage adalah persepsi, pemikiran dan perasaan seseorang tentang tubuhnya. Secara konsep psikologi bodyimage berarti persepsi dan perilaku terhadap tubuh yang merupakan perwujudan dari pengalaman. Bodyimage mempengaruhi pandangan positif dan negatif terhadap individu tersebut. Perilaku ini dapat dikelompokkan sebagai perilaku normal hingga ekstrim. Ketidakpuasaan terhadap bodyimage, seperti merasa kegemukan akan memotivasi seseorang untuk melakukan aktivitas fisik.
Ketidakpuasan bodyimage juga mendorong seseorang untuk menggunakan steroid anabolik dan obat lainya untuk meningkatkan massa otot yang beresiko mengakibatkan kerusakan hati dan ginjal.
Body image juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pemilihan oleh remaja putri, tetapi body image bukanlah faktor yang pertama Pola konsumsi dan pemilihan makanan yang
dilakukan oleh remaja putri juga banyak dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor sosial ekonomi, faktor pengetahuan tentang gizi, dan penyakit-penyakit infeksi yang juga dapat mempengaruhi pola konsumsi seorang remaja putri.
Penelitian Bani (2010) juga menyatakan bahwa body image seseorang remaja juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan seperti teman sebaya, figure idola dan juga media massa, tetapi ketika seorang remaja sadar akan kebutuhan gizinya, hal-hal tersebut tidak akan menjadi penghalang bagi remaja untuk tetap memenuhi kebutuhan gizinya.
Persepsi terhadap tubuh ideal yang salah tidak lantas membuat seorang remaja mengonsumsi makanan dengan cara yang salah. Hal tersebut dibuktikan dari besarnya presentasi jumlah remaja putrid yang berpersepsi salah terhadap tubuh ideal tetapi tetap mengonsumsi makanan yang sesuai yang memang sesuai dengan jenis dan jumlah kebutuhan mereka.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa benar atau salahnya cara seorang remaja putri dalam mengonsumsi makanan tidak banyak terkait dengan benar atau salahnya persepsi mereka terhadap tubuh ideal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini yaitu Tidak terdapat hubungan aktivitas fisik, depresi, body image terhadap kegemukan remaja putri di SMAN 1 Tapaktuan. Berdasarkan penelitian diatas, peneliti memberikan saran yaitu Perlu adanya bimbingan dari
pihak orangtua dan guru terhadap remaja putri yang memiliki ketidakpuasan terhadap bentuk tubuhnya, yaitu mengenai persepsi, sikap dan perilaku tetapi khususnya dalam hal perilaku makan sehingga tidak menimbulkan masalah gizi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Andika, F., & Kridawati, A. (2016).
Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi IMT Murid SMP Negeri 5 Kota Banda Aceh Determinants of BMI Nutritional Status of Students at SMPN 5 Banda Aceh. 2(1), 76–89.
2. Antara, H., Lemak, K., Dan, A., &
Serum, K. (2020). Journal of
Nutrition College,. 8.
3. DI, A. (2014). Hubungan Depresi dengan Status Gizi. Medula Unila, 2(2), 39–46.
4. Di, L., Negeri, S. M. A., & Semarang, K. (2018). No Title. 6, 404–412.
5. Noviyanti, R. D., & Marfuah, D. (2017).
Hubungan Pengetahuan Gizi , Aktivitas Fisik , dan Pola Makan Terhadap Status Gizi Remaja Di Kelurahan Purwosari Laweyan
116 Surakarta. 421–426.
6. Nurvita, V. (2015). Hubungan Aantara Self-esteem dengan Body Image pada Remaja Awal yang Mengalami Obesitas. 4(1), 1–9.
7. Olahraga, P., Indonesia, U. T., Olahraga, P., Indonesia, U. T., Olahraga, P., & Indonesia, U. T.
(2020). ANALISIS IMT ( INDEKS MASSA TUBUH ) ATLET UKM SEPAKBOLA. 3, 9–13.
8. Prisilia, C., Rachmi, E., & Aminyoto, M. (2019). Hubungan Aktivitas Fisik Dan Body Image Dengan Status Gizi Siswi Sma Yayasan Pupuk Kaltim Bontang. Jurnal Kebidanan Mutiara Mahakam, 7(2), 99–112.
https://doi.org/10.36998/jkmm.v7i2.6 4
9. Ridwan, M., Kusuma, H., Krianto, T., Pendidikan, D., Perilaku, I., Kesehatan, F., & Universitas, M.
(2018). Pengaruh Citra Tubuh , Perilaku Makan , dan Aktivitas Fisik Terhadap Indeks Massa Tubuh ( IMT ) pada Remaja : Studi Kasus pada SMA Negeri 12 DKI Jakarta Effects of Body Image , Eating Behavior and Physical Activity on Body Mass Index of Teenagers : A Case. 1(1), 23–31.
10. Ruslie, R. H., & Darmadi, D. (2012).
Analisis Regresi Logistik Untuk Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Remaja. Majalah Kedokteran Andalas, 36(1), 62.
https://doi.org/10.22338/mka.v36.i1.p 62-72.2012
11. Serly, V. (2014). HUBUNGAN BODY IMAGE , ASUPAN ENERGI DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI PADA MAHASISWA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS RIAU ANGKATAN 2014. 2(2).
12. Silvana, C., Oliveira, D., Federal, U., Paulo, D. S., & Paulo, S. (2019).
Perception of body image and nutritional status in adolescents of public schools. 72(Suppl 2), 229–235.
13. Sudikno, Herdayati, M., & Besral.
(2010). Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Obesitas pada Orang Dewasa di Indonesia. Gizi Indonesia, 33(1), 37–49.
14. Wahyuningsih, R., & Pratiwi, I. G.
(2019). MATARAM ( The relationship of physical activity with incidence of obesity in adolescents in the Nutrition Department of Health Polytechnic Ministry of Health Mataram ). 4, 163–167.
117 LAMPIRAN
1. [Tabel 1]. Hubungan Aktifitas Fisik Terhadap Kegemukan Remaja Putri di SMA Negeri 1 Tapaktuan.
Aktifitas fisik Kegemukan P Value
Gemuk Tidak Gemuk Jumlah
n % n % n %
Ringan 5 35,7 9 64,3 14 100,0 0,287
Sedang 6 20,0 24 80,0 30 100,0
Jumlah 11 25,0 33 75,0 44 100,0
2. [Tabel 2. ]Hubungan Depresi Terhadap Kegemukan Remaja Putri di SMA Negeri 1 Tapaktuan
Depresi Kegemukan P Value
Gemuk Tidak Gemuk Jumlah
n % n % n %
Depresi 2 28,6 5 71,4 7 100,0 1,000
Tidak Depresi 9 24,3 28 75,7 37 100,0
Jumlah 11 25,0 33 75,0 44 100,0
3. [Tabel 3] .Hubungan Body image Terhadap Kegemukan Remaja Putri di SMA Negeri 1 Tapaktuan
Body Image Kegemukan P Value
Gemuk Tidak Gemuk Jumlah
n % n % N %
Positif 3 30,0 7 70,0 10 100,0 0,692
Negatif 8 23,5 26 76,5 34 100,0
Jumlah 11 25,0 33 75,0 44 100,0