MAKALAH
AKUNTANSI SEKTOR PUPLIK
“AKUNTANSI DESA”
OLEH
Athiyyah Maisaan Ms ( 2110020106 ) Agustino Niron Ryan ( 2110020102 ) Leony Nawahoke ( 2110020128 ) Pande Ketut Ardra Pattryarsa ( 2110020136 )
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NUSA CENDANA TAHUN 2023
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
"Akuntansi desa" sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah Akuntansi Sektor Publik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan tanpa ada hambatan yang berarti.
Makalah ini dapat kami selesaikan karena mendapat bantuan atau dorongan dari berbagai pihak, maka tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam penyelesaian makalah ini.
Kami berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua serta menambah wawasan mengenai Akuntansi Sektor Publik yang berhubungan dengan Akuntansi desa. Walaupun makalah ini sudah diusahakan dengan sebaik-baiknya, namun tentu tak luput dari kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan pembaca dapat memberikan kritik yang membangun.
Kami juga berharap semoga makalah ini dapat diterima dan memberikan hasil nilai yang terbaik.
Kupang, Oktober 2023
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...
KATA PENGANTAR……….
DAFTAR ISI...
BAB I PENDAHULUAN………
1.1. Latar Belakang...
1.2. Rumusan Masalah...
1.3. Tujuan...
BAB II PEMBAHASAN………
1.1. Pengertian Akuntansi Desa...
1.2. Laporan Keuangan Desa...
1.3. Pengelolaan Keuangan Desa……….
1.4. Pemerintahan Desa………..
1.5. Penatausahaan Keuangan Desa……….
1.6. Laporan Realisasi Anggaran……….
BAB III PENUTUP ………
3.1. Kesimpulan...
DAFTAR PUSTAKA……….
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Desa merupakan perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis politik, serta kultural setempat dalam hubungan dan pengaruh timbal balik dengan daerah lain (R. Bintarto dalam Indra Bastian 2015:6), untuk itu dalam pelaksanaan kegiatannya memerlukan pengawalan, maka pemerintah bersama legislatif mengesahkan UndangUndang No.6 Tahun 2014 tentang Desa dan Permendagri No.35 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Tata Cara Pelaporan dan Pertanggungjawaban Penyelenggaraan Pemerintah Desa, maka pemerintah desa memiliki wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan pemerintahannya secara luas dan bertanggungjawab. Pemerintah desa merupakan tingkat pemerintahan terkecil yang berhadapan langsung dengan rakyat maka pemerintah desa dapat membantu pemerintah pusat dalam melaksanakan pembangunan, pelayanan publik dan pemberdayaan kepada masyarakat secara langsung. Selanjutnya pengertian desa menurut Permendagri RI Nomor 113 Tahun 2014 BAB 1 Pasal 1 ayat 1 tentang Pengelolaan Keuangan Desa disebutkan bahwa: desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mengacu pada pengertian di atas, menempatkan desa sebagai suatu organisasi pemerintahan yang secara politis memiliki kewenangan tertentu untuk mengurus dan mengatur warga atau komunitasnya. Sejalan dengan kewenangan tersebut pemerintah desa diharapkan dapat mengatur dan mengurus rumah tangganya sesuai dengan kewenangan yang telah diberikan oleh pemerintah pusat. Untuk melaksanakan kewenangan tersebut pemerintah desa memiliki sumber-sumber penererimaan yang digunakan untuk membiayai kegiatan- kegiatan yang dilakukan. Pemerintah desa perlu melakukan pertanggungjawaban atas kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan tersebut dengan menyusun laporan keuangan, Laporan keuangan yang disajikan harus memuat informasi yang berkualitas agar dapat bermanfaat bagi pemakainya. Informasi yang berkualitas ialah informasi yang relevan, andal, dapat diperbandingkan.
Informasi dikatakan relevan apabila informasi tersebut memiliki umpan balik, memiliki nilai prediktif serta disampaikan tepat waktu, sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan. Informasi dikatakan andal apabila informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi. Ketepatan waktu menunjukkan kecepatan atau rentang waktu antara permintaan dan frekuensi pelaporan informasi yang diinginkan.
Informasi yang tepat waktu akan menjadikan manajer mampu menghadapi ketidakpastian lingkungan yang dihadapinya secara efektif (Gordon dan Narayanan dalam jurnal Desmiyawati, 2014) agar memudahkan dalam pengambilan keputusan.
1.2.RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian akuntansi desa ? 2. Apa saja laporan keuangan desa?
3. Bagaimana pengelolaan keuangan desa?
4. Bagaimana struktrur dan pemerintahan desa?
5. Bagaimana penatausahaan keuangan desa?
6. Bagaimana laporan realisasi anggaran?
1.3. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian akuntansi desa 2. Untuk mengetahui Laporan Keuangan Desa 3. Untuk mengetahui Pengelolaan Keuangan Desa 4. Untuk mengetahui Pemerintahan Desa
5. Untuk mengetahui Penatausahaan Keuangan Desa 6. Untuk mengetahui Laporan Realisasi Anggaran
BAB II PEMBAHASAN
1.1.PENGERTIAN AKUNTANSI DESA
Pengertian akuntasi menurut American Accounting Assosiation adalah proses mengidentifikasi, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi, untuk memungkinkan adanya penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut. Tujuan utama akuntasi adalah menyajikan informasi ekonomi (economic information) dari suatu kesatuan ekonomi (economic entity) kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Akuntansi desa dapat diartikan sebagai pencatatan dari suatu proses transaksi yang telah terjadi atau dilakukan di desa, serta dibuktikan dengan adanya nota nota selanjutnya dilakukan pencatatan dan berakhir dengan pelaporan keuangan sehingga nantinya akan menghasilkan informasi ekonomi dalam bentuk laporan keuangan yang digunakan pihak pihak yang tentunya berhubungan dengan desa (Sujarweni 2015). Pihak-pihak yang menggunakan informasi keuangan desa diantaranya adalah:
1. Masyarakat desa 2. Perangkat desa 3. Pemerintah daerah 4. Pemerintah pusat
Sedangkan laporan keuangan desa yang wajib dilaporkan oleh pemerintahan desa menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 113 Tahun 2014, diantaranya adalah:
1. Anggaran 2. Buku kas 3. Buku pajak 4. Buku bank
5. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
Menurut Permendagri No. 113 Tahun 2014 keuangan desa adalah seluruh hak dan atau kewajiban desa yang bisa diukur dengan uang serta segala sesuatu berupa uang atau barang yang selalu berkaitan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa. Sedangkan pengelolaan keuangan desa merupakan serangkaian seluruh kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan desa.
1.2. LAPORAN KEUANGAN DESA
Laporan keuangan yang digunakan sebagai pertanggungjawaban kepala desa kepada Bupati/Walikota adalah Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APB Desa.
Laporan tersebut berisi informasi pendapatan, belanja, dan pembiayaan desa. Laporan pertanggungjawaban juga dilampiri dengan Laporan Kekayaan Milik Desa yang isinya mirip dengan neraca, yaitu berupa informasi tentang aset lancar dan tidak lancar; kewajiban jangka pendek; dan kekayaan bersih yang diperoleh dari selisih antara aset dengan kewajiban. Tahap dalam pembuatan suatu laporan keuangan desa sebagai berikut:
1. Membuat rencana yang didasarkan pada visi misi Yang tertuang di dalam penyusunan suatu anggaran.
2. Anggaran yang dibuat terdiri dari akun pendapatan, Belanja, dan pembiayaan. Setelah anggaran mendapat Pengesahan maka dapat dilaksanakan.
3. Dalam pelaksanaan anggaran timbul transaksi. Transaksi tersebut harus dicatat lengkap kedalam Beberapa buku antara lain: buku kas umum, buku Kas pembantu, buku bank, buku pajak, buku Inventaris dengan disertai pengumpulan bukti-bukti Transaksi.
4. Untuk memperoleh informasi posisi keuangan, Kemudian berdasarkan transaksi yang terjadi dapat Dihasilkan sebuah neraca. Neraca ini fungsinya untuk Mengetahui kekayaan/ posisi keuangan desa.
5. Selain menghasilkan neraca bentuk Pertanggungjawaban pemakaian anggaran dibuatlah Laporan realisasi anggaran desa.
Laporan keuangan yang disajikan dalam buku ini adalah:
1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) 2. Buku kas umum
3. Buku kas harian pembantu 4. Buku bank
5. Buku pajak
6. Buku inventaris desa 7. Buku persediaan 8. Buku modal 9. Buku piutang
10. Buku Hutang/kewajiban 11. Neraca
12. Laporan Realisasi Anggaran (LRA) desa
Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) merupakan instrumen penting yang sangat menentukan dalam rangka perwujudan tata pemerintahan yang baik (good governance) dan pelaksanaan pembangunan di tingkat desa. Sebagai sebuah dokumen publik, APBDes seharusnya disusun dan dikelola berdasarkan prinsip partisipatif, transparan, dan akuntabilitas. Penyusunan APBDes disusun berdasarkan RKPDes, yaitu
rencana pembangunan tahunan yang ditetapkan dengan Peraturan Desa (Perdes). Dalam menyusun APBDes ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi:
APBDes disusun berdasarkan Peraturan Desa tentang RKPDes.
APBDes disusun untuk masa 1 (satu) tahun anggaran, terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berikutnya.
Rancangan APBDes harus dibahas dan disepakati antara Kepala Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
APBDes dapat disusun sejak bulan September dan harus ditetapkan dengan Perdes, selambat-lambatnya pada tanggal 31 Desember pada tahun yang sedang dijalani.
Sebelum ditetapkan, Rancangan APBDes harus dievaluasi terlebih dahulu oleh Camat/Bupati.
Selain itu, secara teknis penyusunan APBDes juga harus memperhatikan struktur APBDes, yaitu Pendapatan Desa, Belanja Desa, dan Pembiayaan Desa.
1. Pendapatan Desa: Pendapatan Desa adalah sumber-sumber dana atau penerimaan yang diperoleh oleh desa untuk membiayai berbagai kegiatan dan program.
Pendapatan desa dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk:
Pendapatan Asli Desa (PAD): Pendapatan yang dihasilkan dari sumber- sumber di dalam desa, seperti pajak dan retribusi desa.
Dana Perimbangan: Dana yang diterima dari pemerintah pusat atau provinsi sebagai bagian dari alokasi dana untuk desa.
Hasil Usaha Desa: Pendapatan dari usaha-usaha desa, seperti hasil pertanian, kehutanan, dan lainnya.
Sumber Pendapatan Lain: Sumber pendapatan lainnya, seperti hibah dan sumbangan.
Pendapatan Desa harus dikelola dengan hati-hati dan disusun dalam APBDes untuk memastikan bahwa dana tersebut akan digunakan secara efisien dan efektif untuk kepentingan masyarakat desa.
2. Belanja Desa: Belanja Desa adalah pengeluaran atau alokasi dana yang direncanakan untuk membiayai berbagai program, proyek, dan kegiatan di desa. Belanja Desa harus memperhatikan prinsip penggunaan dana yang transparan, akuntabel, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Komponen-komponen utama Belanja Desa meliputi:
Belanja Langsung: Pengeluaran untuk proyek dan kegiatan yang langsung menguntungkan masyarakat desa, seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan lainnya.
Belanja Tidak Langsung: Biaya administrasi dan pengeluaran lain yang mendukung pelaksanaan proyek dan kegiatan.
Penyusunan Belanja Desa harus memperhatikan alokasi dana yang seimbang dan sesuai dengan prioritas pembangunan desa.
3. Pembiayaan Desa: Pembiayaan Desa adalah komponen yang menggambarkan cara desa membiayai defisit antara Pendapatan Desa dan Belanja Desa. Pembiayaan Desa bisa bersumber dari:
Pinjaman Desa: Dana yang diperoleh desa melalui pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya.
Saldo Anggaran: Selisih antara Pendapatan dan Belanja Desa dari tahun- tahun sebelumnya.
Sumber pembiayaan lainnya: Sumber pembiayaan tambahan seperti hibah atau bantuan dari pemerintah.
Pembiayaan Desa harus diatur dengan bijak untuk meminimalkan risiko keuangan desa dan memastikan keberlanjutan keuangan desa dalam jangka panjang.
Contoh Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa
ANGGAARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA
PEMERINTAH DESA PLANDIREJO TAHUN ANGGARAN 2022 KODE
REK
URIAN ANGGARAN (Rp) KETERANGA
N
1 2 3 4
4. Pendapatan
4.1. Pendapatan Asli Desa 975.783.850,00 4.2. Pendapatan Transfer 1.272.894.944,90
4.3. Pendapatan Lain-lain 2.000.000,00
Jumlah Pendapatan 2.260.678794,80 5. Belanja
5.1. Belanja Pegawai 871.281.000,00
5.2. Belanja Barang dan jasa 553.123.944,80
5.3. Belanja Modal 497.873.850,00
5.4. Belanja Tidak terduga 338.400.000,00 Jumlah Belanja 2.260.678.794,80
Surplus/(defisit) 0,00
6. Pembiayaan
6.1. Penerimaan Pembiyaan 0,00
6.1.1. SILPA Tahun Sebelumnya
0,00
6.2. Pengeluaran Pembiyaan 0,00
6.2.2. Penyertaan Modal Desa 0,00
Pembiyaan Netto 0,00
Sisa Lebih Pembiyaan
Anggaran 0,00
1.3. PENGELOLAAN KEUANGAN DESA
Keuangan desa wajib dikelola dalam masa 1 (satu) tahun anggaran yakni mulai 1 Januari sampai dengan 31 Desember. Desa berkewajiban menyelenggarakan akuntansi untuk mendukung proses akuntabilitas pengelolaan keuangannya kepada publik. Standar akuntansi yang cocok untuk akuntansi desa adalah Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Dalam hal ini terdapat 2 (dua) alasan yang dapat memperkuat pendapat tersebut; Pertama, desa mempunyai tanggung jawab untuk mengurus urusan rumah tangga pemerintahan (UU 6/2014, Pasal 1) dan untuk itu kepala desa wajib menyampaikan sebuah laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada bupati atau walikota (UU 6/2014, Pasal 27).
Alasan kedua, desa memperoleh pendapatan yang di antaranya bersumber dari APBN dan APBD (UU 6/2014, Pasal 72).
Keuangan desa dikelola berdasarkan asas asas transfaransi, akuntanbel, partisipatif serta dilaksanakan secara tertib dan disiplin anggaran.
1. Transparansi
Menurut Bahtiar (2009) transfaransi memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwamasyarakat memiliki hak untuk mengetahui secra terbuka dan menyeluruh atas pertanggung-jawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang undangan.
2. Akuntabel
Mursyidi (2013) menyatakan Akuntabilitas dan pertanggungjawaban adalah suatu bentuk yang merupakan keharusan seseorang (pimpinan/pejabat/pelaksana) untuk menjamin bahwa tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Partisipatif
Menurut Hoesada (2019) partisipatif adalah prinsip dimana bahwa setiap warga pada desa yang bersangkutan mempunyai hak untuk ikut serta terlibat dalam suatu bagian pengambilan keputusan pada setiap penyelenggaraan kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintahan dimana mereka tinggal.
1.4. PEMERINTAHAN DESA
Pemerintahan desa adalah tingkat pemerintahan yang terdekat dengan masyarakat di suatu wilayah pedesaan. Di dalam pemerintahan desa, terdapat berbagai peran dan fungsi yang dijalankan oleh pejabat-pejabat desa untuk mengatur berbagai aspek kehidupan di desa, termasuk pengelolaan keuangan desa. Pemerintahan desa biasanya terdiri dari beberapa tokoh dan pejabat desa, dengan peran dan tanggung jawab yang berbeda.
Dalam konteks pengelolaan keuangan desa, terdapat beberapa peran utama, yaitu Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kepala Seksi, dan Bendahara Desa. Masing-masing pejabat ini memiliki kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengelola keuangan desa, termasuk perencanaan, penganggaran, pengeluaran, dan pertanggungjawaban keuangan desa.
Kepala Desa
Kepala Desa adalah Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa dan mewakili pemerintah desa dalam kepemilikan kekayaan milik desa yang dipisahkan.
Dalam hal ini, Kepala Desa memiliki kewenangan:
1. Menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APB Desa;
2. Menetapkan Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD);
3. Menetapkan petugas yang melakukan pemungutan penerimaan desa;
4. Menyetujui pengeluaran atas kegiatan yang ditetapkan dalam APB Desa;
5. Melakuka n tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban APB Desa Kepala Desa memegang jabatan selama 6 (enam) tahun terhitung tanggal pelantikan dan dapat menjabat paling lama 3 (tiga) kali masa jabatan secara berturut- turut atau tidak secara berturut-turut. Dalam melaksanakan kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa, Kepala Desa menguasakan sebagian kekuasaannya kepada perangkat desa.
Sekretaris Desa
Sekretaris Desa selaku Koordinator PTPKD membantu Kepala Desa dalam melaksanakan Pengelolaan Keuangan Desa, dengan tugas:
1. Menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan APB Desa
2. Menyusun rancangan peraturan desa mengenai APB Desa, perubahan APB Desa dan pertanggungjawaban pelaksanaan APB Desa
3. Melakukan pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan yang telah ditetapkan dalam APB Desa
4. Menyusun pelaporan pelaksanaan APB Desa dan pertanggungjawaban Melakukan verifikasi terhadap Rencana Anggaran Belanja (RAB), bukti- bukti penerimaan dan pengeluaran APB Desa (SPP).
Sekretaris Desa mendapatkan pelimpahan kewenangan dari Kepala Desa dalam melaksanakan Pengelolaan Keuangan Desa, dan bertanggungjawab kepada Kepala Desa.
Kepala Seksi
Kepala Seksi merupakan salah satu unsur dari PTPKD yang bertindak sebagai pelaksana kegiatan sesuai dengan bidangnya. Sesuai pasal 64 PP Nomor 43 Tahun 2014 dinyatakan bahwa desa paling banyak terdiri dari 3 (tiga) seksi. Kepala Seksi mempunyai tugas:
1. Menyusun RAB kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya;
2. Melaksanakan kegiatan dan/atau bersama Lembaga Kemasyarakatan Desa yang telah ditetapkan di dalam APB Desa;
3. Melakukan tindakan pengeluaran yang menyebabkan atas beban anggaran belanja kegiatan;
4. Mengendalikan pelaksanaan dengan melakukan pencatatan dalam Buku Pembantu Kas Kegiatan;
5. Melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan kepada Kepala Desa;
6. Mengajukan SPP dan melengkapinya dengan buktibukti pendukung atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan
Bendahara Desa
Bendahara Desa merupakan salah satu unsur dari PTPKD yang dijabat oleh kepala/staf urusan keuangan dan memiliki tugas untuk membantu Sekretaris Desa.
Bendahara Desa mengelola keuangan desa yang meliputi penerimaan pendapatan desa dan pengeluaran/ pembiayaan dalam rangka pelaksanaan APB Desa.
Penatausahaan juga dilakukan oleh bendahara dengan menggunakan Buku Kas Umum, Buku Kas Pembantu Pajak, dan Buku Bank. Penatausahaan yang dilakukan antara lain meliputi yaitu:
1. Menerima, menyimpan, menyetorkan/membayar;
2. Memungut dan menyetorkan PPh dan pajak lainnya;
3. Melakukan pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran serta melakukan tutup buku setiap akhir bulan secara tertib;
4. Mempertanggung jawabkan uang melalui laporan pertanggung jawaban
1.5. PENATAUSAHAAN KEUANGAN DESA
Penatausahaan Menurut Permendagri No.113 Tahun 2014.
Kepala desa dalam melaksanakan penatausahaan keuangan desa harus menetapkan bendahara desa. Penetapan bendahara desa harus dilakukan sebelum dimulai tahun anggaran bersangkutan dan berdasarkan keputusan kepala desa.
Bendahara adalah perangkat desa yang ditunjuk oleh kepala desa untuk menerima, menyimpan, menyetorkan, menatausahakan, membayar, dan mempertanggung jawabkan keuangan desa dalam rangka pelaksanaan APBDesa
Menurut Permendagri No. 113 tahun 2014 Bendahara Desa wajib melakukan pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran serta melakukan tutup buku secara periodik atau setiap akhir bulan secara tertib. Bendahara desa wajib mempertanggungjawabkan dana yang dikelolanya melalui laporan pertanggungjawaban. Laporan pertanggungjawaban bendahara tersebut disampaikan secara periodik atau setiap bulan kepada Kepala Desa paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Penatausahaan penerimaan dan pengeluaran menggunakan buku sebagai berikut:
Buku Kas Umum
Buku kas umum adalah buku yang digunakan untuk mencatat berbagai aktivitas yang berhubungan dengan penerimaan dan pengeluaran kas, baik secara tunai ataupun kredit, termasuk mencatat mutasi perbankan atau kesalahan dalam pembukuan. Buku kas ini dapat juga dikatakan sebagai sumber dokumen transaksi.
Semua transaksi yang telah dilakukan, untuk awalnya perlu mencatatkan pada buku kas umum, selanjutnya mencatat di buku pembukuan masing-masing. Format buku kas umum desa adalah nomor, tanggal, uraian, penerimaan dan pengeluaran, kemudian saldo, seperti di bawah ini;
Buku Kas Harian Pembantu
Buku kas harian pembantu adalah buku yang digunakan untuk mencatat transaksi penerimaan dan pengeluaran yang berhubungan dengan kas saja. Format buku kas harian pembantu adalah tanggal, nomor bukti, uraian, penerimaan dan pengeluaran, dan saldo, seperti di bawah ini;
Buku Kas Pembantu Pajak
Buku pajak digunakan untuk membantu kas umum. dalam rangka penerimaan dan pengeluaran yang berhubungan dengan pajak. Format buku kas pembantu pajak adalah tanggal, nomor buku (buku kas umum), uraian, pemotongan, penyetoran, dan saldo, seperti di bawah ini:
Buku Bank
Buku Bank digunakan untuk membantu buku kas umum, dalam rangka penerimaan dan pengeluaran yang berhubungan dengan uang bank. Format buku bank adalah tanggal, nomor bukti, uraian, pemotongan, penyetoran, dan saldo, seperti di bawah ini:
Neraca Desa
Menurut Permendagri No. 113 tahun 2014 penatausahaan hanya terdiri dari buku buku diatas dengan dilengkapi bukti-bukti transaksi. Selain itu bendahara dpat membuat laporan keuangan berupa neraca. Neraca mengambarkan posisi keuangan desa mengenai aset atau harta, kewajiban, dan modal dana pada suatu periode. Pos- pos dalam neraca terbentuk dari transaksi-transaksi yang terjadi di desa. Komponen komponen yang ada di neraca ialah sebagai berikut:
a) Aset
Aset adalah kekayaan yang dimiliki oleh desa dapat berupa:
1) Aset lancar adalah kekayaan yang likuid atau mudah diuangkan, contoh kas, kas di bank, investasi jangka pendek, piutang, persediaan.
2) Aset lancar adalah kekayaan yang likuid atau mudah diuangkan, contoh kas, kas di bank, investasi jangka pendek, piutang, persediaan.
3) Kewajiban
b) Kewajiban adalah berbagai macam utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya menyebabkan aliran pengeluaran dari pemerintah desa.
c) Ekuitas
Ekuitas adalah Kekayaan bersih pemerintah desa yang merupakan selisih antara aset dan kewajban pemerintah desa pada tanggal laporan.
Berikut ini adalah contoh neraca desa Kode
Akun
Nama Akun Rp
1-0000 Aset
1-1000 Aset Lancar
1-1100 Kas 28.600.000,00
1-2000 Investasi Jangka Pendek 0,00
1-3000 Piutang 1.500.000,00
1-1400 Persediaan 63.000.000
Total Aset Lancar 31.163.000,00 1-2000 Investasi Jangka Panjang
1-2100 Investasi jangka panjang Permananen
0,00 1-3000 Aset tetap
1-3100 Tanah 453.000.000,00
1-3200 Peralatan dan mesin 43.000.000,00 1-3300 Gedung dan bangunan 354.000.000,00 1-3400 Jalan,irigasi, dan jaringan 653.000.000,00 1-3500 Aset tetap laiinya 3.450.000,00 1-4000 Dana cadangan 0,00
Total Aset Tetap 1.509.900.000,00 Total aset 1.541.063.000,00 2-0000 Kewajiban
2-1000 Kewajiban jangka pendek
2-1100 Utang perhitungan pihak ketiga 6.972.000,00
2-1200 Utang bunga 5.000.000,00
2-1300 Bagian lancar utang jangka panjang
40.000.000,00 Total kewajiban jangka
Pendek
51.972.000,00 2-2000 Kewajiban jangka panjang
2-2100 Utang Dalam Negeri 135.000.000,00 Total Kewajiban 186.972.000,00 3-0000 Ekuitas
3-1000 Ekuitas Dana Lancar
3-1100 Selisih lebih pembiayaan
anggaran(SILPA) 28.600.000,00
Total Ekuitas 28.600.000,00 Total Kewajiban &ekuitas 215.572.000,00
Untuk dapat menghasilkan neraca, bendahara desa perlu membuat buku-buku tambahan seperti di bawah ini:
Buku Inventaris Desa
Buku inventaris desa digunakan untuk membantu buku kas umum, dalam mencatat barang-barang atau aset yang dimiliki oleh desa. Format buku inventaris desa sebagai berikut:
Buku Persediaan
Buku inventaris desa digunakan untuk membantu buku kas umum, dalam mencatat barang- barang atau aset yang dimiliki oleh desa. Format buku inventaris desa sebagai berikut:
Buku Modal/ Ekuitas Dana
Buku modal/ekuitas adalah buku yang digunakan untuk mencatat dana-dana dari hibah yang mengalir ke desa. Format buku modal/ ekuitas dana sebagai berikut:
Buku Piutanng
Buku piutang adalah buku yang digunakan untuk mencatat piutang desa. Sedangkan yang dimaksud dengan piutang adalah harta desa yang timbul karena terjadinya transaksi penjualan
barang dan atau jasa yang pembayarannya masih tertunda, artinya dilakukan kredit oleh perorangan atau badan usaha. Format buku piutang desa sebagai berikut:
Buku Hutang/ Kewajiban
Buku hutang/ kewajiban adalah buku yang digunakan untuk mencatat hutang atau kewajiban desa. Format buku hutang/ kewajiban sebagai berikut:
1.6. LAPORAN REALISASI ANGGARAN Laporan Realisasi Angggran
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) yang terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
Pendapatan desa meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang merupakan hak desa dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh desa. Pendapatan desa diakui pada saat kas diterima dan didukung dengan bukti yang lengkap dan sah.
Pendapatan desa disajikan menurut klasifikasi kelompok dan jenis pendapatan yang terdiri dari pendapatan asli daerah, transfer, pendapatan lain-lain. Pendapatan asli desa dapat berupa hasil usaha, hasil aset swadaya, partisipasi dan gotong royong. Transfer terdiri dari (1) dana desa; (2) bagian dari hasil pajak daerah kabupaten/kota dan retribusi daerah; (3) alokasi dana desa; dan (4) bantuan keuangan dari APBD provinsi dan kabupaten/kota. Pendapatan lain- lain dapat berupa hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat.
Belanja desa meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh desa, dipergunakan dalam rangka mendanai penyelenggaraan kewenangan desa. Belanja desa diakui pada saat kas dikeluarkan dan didukung dengan bukti yang lengkap dan sah. Belanja desa disajikan berdasarkan kelompok bidang, kegiatan dan jenis belanja (klasifikasi ekonomi).
Klasifikasi kelompok terbagi menjadi lima meliputi:
1) penyelenggaraan pemerintahan desa;
2) pelaksanaan pembangunan desa;
3) pembinaan kemasyarakatan desa;
4) pemberdayaan masyarakat desa; dan 5) belanja tak terduga.
Pembiayaan desa meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan desa diakui pada saat kas diterima/dikeluarkan dan didukung dengan bukti yang lengkap dan sah. Pembiayaan disajikan berdasarkan kelompok penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.Berikut ini adalah contoh secara singkat dari penyajian Laporan Realisasi Anggaran (LRA) desa dalam 1 (satu) periode tertentu.
Contoh Laporan Realisasi Angggran
PEMERINTAH DESA KEROBOKAN
KECAMATAN SAWAN KABUPATEN BULELENG
Anggaran Realisasi Lebih/Kurang PENDAPATAN
Pendapatan Asli Desa 7,700,000.00 10,391,858.08 2,691,858,08 Pendapatan Transfer 1,619,844,000.00 1,585,551,000.0
0
34,293,000.00
Dana Desa 791,033,000.00 791,033,000.00 0.00
Bagian dari Hasil pajak dan Retribusi
102,196,000.00 67,903,000.00 34,293,000.00
Alokasi Dana Desa 576,615,000.00 576,615,000.00 0.00
Bantuan Keuangan Propinsi 150,000,000.00 150,000,000.00 0.00 Pendapatan Lain-lain 3,500,000.00 3,156,670.00 343,944,470,96
JUMLAH PENDAPATAN 1,631,044,000.00 1,599,099,529.0 4
31,944,470.96 BELANJA
Bidang Penyelenggaran
Pemerintah Desa 644,747,301.25 626,096,085.00 18,651,216.25 Bidang Pelaksanaan
Pembangunan Desa 514,248,514.97 507,562,700.00 6,685,814.97 Bidang Pembinaan
Kemasyarakatan Desa
160,232,500.00 160,232,500.00 0.00 Bidang Pemberdayaan
Masyarakat Desa
68,190,500.00 50,280,,500.00 17,910,000.00 Bidang Penggulangan bencana,
Keadaan Darurat dan Mendesak
307,292,441.32 287,494,250.00 19,798,191.32 JUMLAH BELANJA 1,694,711,257.54 1,631,666,035.0
0
63,045,222.54 SURFLUS/( DEFISIT ) (63,667,257.54) (32,566,505.96) (31,100,751.58 ) PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan 63,667,257.54 63,667,257.54 0.00
Pengeluaran Pembiayaan 0.00 0.00 0.00
PEMBIAYAAN NETTO 63,667,257.54 63,667,257,54 0.00
SILPA TAHUN BERJALAN 0.00 31,100,751.58 (31,100,751.58 ) berdasarkan data laporan Pemerintah desa kerobokan untuk tahun 2020 :
1. PENDAPATAN:
Pendapatan Asli Desa: Anggaran pendapatan asli desa adalah sebesar Rp 7,700,000. Realisasinya melebihi anggaran sebesar Rp 10,391,858.08. Ini menunjukkan bahwa pendapatan asli desa lebih tinggi dari yang diharapkan, dengan selisih positif sebesar Rp 2,691,858.08.
Pendapatan Transfer: Anggaran pendapatan transfer adalah sebesar Rp 1,619,844,000, tetapi realisasinya sedikit lebih rendah, yaitu Rp
1,585,551,000. Ada kekurangan pendapatan sebesar Rp 34,293,000.00.
Dana Desa: Anggaran dana desa dan realisasi sesuai anggaran, tidak ada selisih.
Bagian dari Hasil pajak dan Retribusi: Anggaran sebesar Rp 102,196,000, realisasi sebesar Rp 67,903,000, ada kekurangan sebesar Rp 34,293,000.
Alokasi Dana Desa: Anggaran dan realisasi sesuai anggaran, tidak ada selisih.
Bantuan Keuangan Propinsi: Anggaran dan realisasi sesuai anggaran, tidak ada selisih.
Pendapatan Lain-lain: Anggaran sebesar Rp 3,500,000, realisasi sebesar Rp 3,156,670. Ada selisih positif sebesar Rp 343,944,470.96.
2. JUMLAH PENDAPATAN: Total anggaran pendapatan adalah Rp 1,631,044,000.
Realisasinya adalah Rp 1,599,099,529.04, dengan selisih negatif sebesar Rp 31,944,470.96.
3. BELANJA:
Belanja terbagi menjadi beberapa bidang, dan dalam semua bidang kecuali
"Bidang Pembinaan Kemasyarakatan Desa," realisasi belanja lebih rendah daripada anggaran. Ini menghasilkan surplus pada "Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa" sebesar Rp 17,910,000.00.
4. JUMLAH BELANJA: Total anggaran belanja adalah Rp 1,694,711,257.54.
Realisasinya adalah Rp 1,631,666,035.00, dengan selisih negatif sebesar Rp 63,045,222.54.
5. SURPLUS/(DEFISIT): Pada akhir tahun, desa mengalami defisit sebesar Rp 31,100,751.58. Ini berarti bahwa pengeluaran desa melebihi pendapatannya.
6. PEMBIAYAAN: Desa mendapatkan pembiayaan sebesar Rp 63,667,257.54.
Pengeluaran pembiayaan tidak ada.
7. PEMBIAYAAN NETTO: Total pembiayaan netto adalah Rp 63,667,257.54, yang sesuai dengan penerimaan pembiayaan.
8. SILPA TAHUN BERJALAN: Saldo likuidasi pada akhir tahun adalah negatif sebesar Rp 31,100,751.58, menunjukkan bahwa desa mengakhiri tahun dengan defisit.
BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan
Akuntansi desa adalah pencatatan dan proses transaksi yang terjadi didesa, dibuktikan dengan nota-nota kemudian dilakukan pencatatan dan pelaporan keuangan sehingga akan menghasilakan informasi dalam bentuk laporan keungan yang digunakan pihak-pihak yang berhubungan dengan desa. Pihak-pihak yang menggunakan informasi keuangan desa diantaranya adalah: masyarakat desa, perangkat desa, pemerintah daerah dan pemerintah pusat.Desa perlu membuat pedoman sistem akuntansi desa, agar sukses akuntansi dan berlaporan keuangan lebih terjamin sistem berorientasi pada hal-hal penting saja, masalah akuntansi saja, agar pelaksana akuntansi selau mengawas diri.Pengelolaan keuangan desa kembali diubah. Perubahan pengelolaan keuangan desa diatur dalam pengaruran mentri dalam negeri nomor 20 tahun 2018 tentang pengelolaan keuangan desa dan mulai berlaku sejak tanggal diundangkannya permendagri no 20 tahun 2018 pada tanggal 8 mei 2018 oleh dirjen PP kemenkumham Widodo ekatjhajana.Implementasi undang-undang no.6 tahun 2014 tentang desa telah melhirkan ribuan badan usaha milik desa.namun,dalam menetapan desa perlu membuat pedoman sistem akuntasi desa,agar sukes akuntansi dan berlapoan keuangan lebih terjamin, sistem berorientasi pada hal-hal penting saja, masalah akuntansi saja,agar pelaksanaan akuntansi selalu mengawas diri.Pengelolaan keuangan desa kembali di ubah.
Perubahan pengelolaan keuangan desa di atur dalam peraturan mentri dalam negeri no 20 tahun 2018 tentang pengelolaan keuagan desa dan mulai berlaku sejak tanggal di undangkanya permendagri nomor 20 tahun 2018 pada tanggal 28 mei 2018 oleh dirjen PP kemenkumham Widodo eka tjahjana.Implementasi undang-undang no.6 tahun 2014 tentang desa telah melahirkan ribuan badan usaha milik desa. Namun, dalam menetapkan kebijakan, pelaksanaan, dan pengelolaan BUMDes masi banyak dijumpai masalah yang dihadapi BUMDes antara lain,terkait dengan aspek manajemen, standar akuntansi keuangan, dan legalitas hukum
DAFTAR PUSTAKA
Ardi Hamzah (2015), Tata Kelola Pemerintahan Desa Menuju Desa Manddiri, Sejahtera, dan Partisipatoris. Penerbit Pustaka Jawa Timur
Bahtiar Arif (2009). Akuntansi Pemerintahan. Jakarta: Akademia Jan Hoesada (2019). Akuntansi Desa, Jakarta : Salemba Empat
Mardiasmo (2019). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: CV. Andi Offset