MAKALAH ANTROPOLOGI PANGAN
BUDAYA DAN KULINER KHAS KOTA SEMARANG
DISUSUN OLEH :
EGA AYU SANITA DAMAYANTI 23696002
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNIK DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2024
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan yang tersebar dari mulai sabang sampai dengan merauke yang memiliki berbagai ragam suku dan ras sehingga menghasilkan kebudayaan yang beraneka ragam. Kekayaan yang dimiliki oleh negara Indonesia tidak hanya berupa kekayaan alam namun juga kekayaan akan suku bangsa dan kebudayaan yang tersebar merata dengan setiap daerahnya masing masing (Mahdayeni et al., 2019).
Kebudayaan dan kesenian merupakan salah satu aspek yang tidak pernah bisa jauh dari kehidupan manusia, terutama masyarakat Indonesia sendiri. Dimana kebudayaan memegang peran penting dalam kehidupan untuk kemajuan dari suatu Bangsa. Keanearagaman kebudayaan dan kesenian daerah di tiap wilayah memiliki ciri khas masing masing yang dapat merepresentasikan tempat tinggal dari suatu masyarakat. Keanekaragaman budaya sendiri dapat dijadikan sebagai salah satu potensi besar untuk pengembangan sektor wisata yang berada pada setiap daerah dengan berbagai keunikan masing masing yang dapat memikat masyarakat luas (Akbar et al., 2021).
Dimana kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendukungnya dan kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi kehidupan manusia.
Kebudayaan merupakan suatu fenomena universal yang dimiliki setiap negara dengan berbagai bentuk dan corak keunikan masing masing. Salah satunya adalah wilayah dengan berbagai keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia adalah Semarang. Semarang merupakan salah satu ibu kota yang terletak diwilayah Jawa Tengah dimana lokasi Kota Semarang terletak pada perlintasan jalur jalan utara pulau jawa yang menghubungkan kota Surabaya dan Jakarta, dimana secara budaya banyak yang dimiliki hal ini karena dilihat dari topografinya semarang merupakan wilayah yang terdiri dari daerah pantai, dataran rendah, dan perbukitan (Sudaryanto &
Wibawa, 2013).
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat ditarik kesimpulan mengenai : 1. Bagaimana sejarah terbentuknya Kota Semarang ?
2. Apa yang mendasari keanekaragaman Kebudayaan Kota Semarang ? 3. Apa saja kebudayaan yang berkembang di Kota Semarang ?
4. Selain kebudayaan berupa kesenian apa yang menjadi kuliner Khas Kota Semarang ? 1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui latar belakang terbentuknya Kota Semarang 2. Mengetahui apa saja yang menjadi ciri khas Kota Semarang
3. Mengetahui bagaimana kebudayaan berkembang di Kota Semarang
4. Mengetahui Kebudayaan dan Kuliner yang menjadi Khas dari Kota Semarang 1.4 Manfaat
Hasil dari penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai :
1. Bagaimana kebudayaan dapat berkembang pada setiap daerah Khususnya Kota Semarang
2. Memperkenalkan kebudayaan dan kuliner khas Kota Semarang yang belum banyak diketahui masyarakat luas
3. Menarik wisatawan untuk menjelajahi Kota Semarang
4. Meningkatkan wisata seni Kota Semarang dan melestarikan kebudayaan yang ada di Kota Semarang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kebudayaan
2.1.1 Pengertian Kebudayaan
Secara etimologi kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta dari kata Buddhi-tunggal, yang dapat diartikan sebagai budi atau akal atau pikiran yang kemudian mendaparkan awalan ke dan akhiran an sehingga kebudayaan dapat diartikan sebagai hal ihwal tentang alam pikiran manusia. Kata kebudayaan merujuk pada keseluruhan kompleks ide dan segala sesuatu yang dihasilkan manusia dalam pengalaman historinya dimana yang termasuk kedalamnya adalah pengetahuan, kepercayaan, seni, moral hukum, kebiasaan dan kemampuan serta perilaku lainnya yang diperoleh manusia sebagai salah satu anggota masyarakat (Mahdayeni et al., 2019).
Kebudayaan tidak diwariskan secara biologis melainkan hanya diperoleh dengan cara belajar. Menurut para ahli tentang kebudayaan berbeda tiap pandangannya namun sama sama memahami bahwa kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang terintegrasi. Unsur unsur kebudayaan terdapat pada setiap kebudayaan dari semua manusia dimanapun berada. Menurut Koentjaraningrat kebudayaan dapat disusun dalam tuju unsur yang bersifat universal berdasarkan pendapat para ahli antropologi. Tujuh unsur kebudayaan yang dimaksut adalah : a. Bahasa
Bahasa merupakan alat untuk perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik melalui tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat) dengan tujuan menyampaikan aspirasi kepada lawan bicara.
b. Sistem pengetahuan
Sistem pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan.
c. Organisasi sosial
Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara.
d. Sistem peralatan hidup dan teknologi
Teknologi menyangkut cara cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memlihara segala peralatan dan perlengkan.
e. Sistem mata pencarian hidup
Perhatian para ilmuan pada sistem mata pencaharian terfokus pada masalah masalah pencarian tradisional saja
f. Sistem religi
Agama merupakan sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia yang merupakan sebuah institusi dengan kenaggotaan yang diakui dan bisa kumpul bersama untuk beribadah dan untuk mendapatkan kebahagian sejati.
g. Sistem kesenian
Wujud kebudayaan sendiri dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide ide, gagasan, nilai nilai, norma norma, peraturan dan sebagainya.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
3. Wujud kebudayaan berupa benda benda hasil karya manusia.
2.1.2 Faktor – Faktor yang mempengaruhi Kebudayaan
Budaya merupakan penentu keinginan dan tingkah laku yang tercermin dari cara hidup, kebiasaan, dan tradisi dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap budaya terdiri dari subbab yang lebih kecil yang memberikan lebih banyak ciri ciri dan sosialisasi khusus bagi anggotanya.
Sub budaya terdiri dari bangsa, agama, kelompok ras dan letak geografis (Ramadhani &
Pangestu, 2022).
a. Faktor yang Mendorong perubahan kebudayaan
Adanya unsur unsur kebudayaan yang memiliki potensi mudah berubah, terutama unsur unsur teknologi dan ekonomi (kebudayaan material). Adanya individu individu yang
mudah menerima unsur unsur perubahan kebudayaan, terutama generasi muda. Adanya faktor adaptasi dengan lingkungan alam yang mudah berubah.
b. Faktor yang menghambat perubahan kebudayaan
Adanya unsur unsur kebudayaan yang memiliki potensi sukar berubah seperti adat istiadat, keyakinan agama. Adanya individu individu yang sukar menerima unsur unsur perubahan terutama generasi yang sebelumnya.
Secara garis besar faktor yang mempengaruhi perubahan sosial budaya diantaranya : 1. Faktor Internal yaitu perubahan demografis, konflik sosial, bencana alam, perubahan
lingkungan alam.
2. Faktor eksternal yaitu perdagangan, penyebaran agama dan peperangan (Fatimah, 2020).
2.2 Kebudayaan Kota Semarang
2.2.1 Sejarah Kota Semarang
Kota Semarang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia yang merupakan sekaligus kota metropolitas terbesar kelima di Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 2,5 juta jiwa. Semarang berkembang dengan pesat sejak kedatangan armada Laksamana Cheng Ho yang bersandar dipelabuhan Simongan pada tahun 1405 dan mendirikan klenteng Sam Po Kong (Gedung batu). Sejak samara g diserahkan pada Belanda tahun 1705 oleh Paku Buwono 1, Raja Mataram mulailah dibangun pemukiman pemukiman dan perkantoran yang saat ini dikenal sebagai Kota Lama Semarang (Sudaryanto & Wibawa, 2013).
Secara etimologis nama Semarang berasal dari kata “Sem” yang bererti pohon asam/asam dan kata “arang” yang berarti jarang yang Ketika digabungkan menjadi asam yang jarang jarang. Penamaan Semarang bermula Ketika Ki Ageng Pandanaran I datang ke sebuah pulau Bernama Pulau Tirang (dekat Pelabuhan bergota) dan melihat pohon asam yang jarang jarang tumbuh berdekatan. Penamaan Kota Semarang sempat berubah Ketika jaman kolonialisme Hindi-Belanda menjadi Semarang. Kota Semarang merupakan salah satu dari tiga pusat Pelabuhan penting bagi Hindia Belanda sebagai pemasok hasil bumi dari wilayah pedalaman jawa (Adolph, 2016).Seperti kota kota besar lainnya Kota Semarang mengenal
pembagian wilayah kota yang terdiri atas Semarang Tengah, Semarang Timur, Semarang Selatan, Semarang Barat dan Semarang Utara (Adolph, 2016).
2.2.2 Semarang Sebagai Kota Multikultural
Semarang dikenal sebgai kota multicultural, salah satunya dihuni oleh empat etnis yang berbeda. Selain itu keberadaan tempat ibadah dari masing masing agama tersebar di Kota Semarang seperti masjid, gereja, klenteng, vihara yang menjadi peninggalan pada masa lampau saat ini dijadikan sebagai wujud dari kearifan local Semarang. Semarang sebagai Kota Multikultural mulai berkembang di sepanjang jalan MT Haryono yaitu sekitar daerah pecinan hingga jurnatan, serta pasar johar sebagai salah satu tempat yang mempertemukan keempat etnis untuk berinteraksi. Kawasan tersebut banyak ditemukan dipemukiman warga berdasarkan identitas kelompok kulturnya masing masing. Pemberian nama berdasarkan identitas kultural ini merupakan dampak dari system administrasi pemerintah colonial Belanda pada tahun 1747 dimana memberlakukan system pemisahan ras untuk lebih mudah mengatur Masyarakat dengan mengelompokkan masing masing etnis wilayah tertentu (Sudaryanto & Wibawa, 2013).
2.3 Tradisi Semarang
2.3.1 Tradisi Rewanda
Tradisi rewanda berhubungan dengan legenda Sunan Kalijaga dan asal dari penamaan Gua Kreo. Setiap 3 syawal warga kampung Talunkacang. Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati Semarang, melaksanakan ritual sesaji rewanda.
Kera kera yang membantu Sunan Kalijaga untuk membangun Masjid Agung Demak pada masa itu mendapatkan anugerah Kawasan hutan disekitar gua. Mereka diberi kewenangan oleh Sunan untuk Ngreho atau Ngreksa (menjaga) kawasan itu.
Inilah yang menjadi asal mula penamaan Gua Kreo (Setiyowati et al., 2024).
Tradisi rewanda berupa gunungan buah buahan yang disajikan kepada monyet monyet di tempat itu. Dimana persembahan yang dilakukan merupakan bentuk ucapan rasa Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada tradisi ini Masyarakat menyediakan berbagai maknan yang disusun membentuk gunungan yang tingginya mencapai 2,5 meter. Gunungan berisis berbagai buah buahan,
sayuran, dan beberapa mengandung ketupat. Gunungan tersebut diberi nama sego kethek oleh Masyarakat yang dalam Bahasa Indonesia berarti nasi monyet. Semua lapisan Masyarakat bekerjasama dalam upacara sesaji rewanda, Dimana pihak Perempuan sibuk memasak lauk yang digunakan untuk membuat gunungan, sedangkan pihak laki laki ditugaskan untuk menyiapkan tempat upacara. Bagi anak anak diberikan tugas untuk menari saat upacara dengan menggunakan pakaian seperti monyet. Sesaji rewanda dilakukan dengan mengarak gunungan dari desa menuju Gua Kreo yang didampingi oleh empat pemuda dan anak anak dengan kostum kera, keempat pemuda tersebut dilambangkan sebagai sahaban Sunan Kalijaga yang diminta untuk membantu memindahkan kayu jati. Pada tradisi ini terdapat iringan gamelan untuk emmeriahkan acara. Kemudian Ketika sudah tiba di Gua Kreo dimulai dengan berdoa kepada sang pencipta yang biasanya dipimpin oleh tokoh adat setempat. Setelah berdoa kemudian dilanjutkan dengan peragaan tari oleh anak anak, setelah itu gunungan yang berisi makanan dibagikan tidak hanya kepada Masyarakat namun juga para monyet, sehingga Masyarakat dan monyet menikmati gunungan Bersama.
Setelah pembagian gunungan selesai dilanjutkan dengan Masyarakat melanjutkan perjalanan menuju ke puncak pendakian Goa Kreo, Dimana Masyarakat Kembali berkumpul dan duduk melingkar di Lokasi batu lingga-yoni satau disebut dengan “Batu Thengger” atau batu tanda tempat ritual selanjutnya dilakukan. Dimana ritual yang dilakukan adalah dengan pembacaan kidung rumeksa ing wengi, lagu ilir-ilir, Sejarah goa kreo dan tahlilan serta doa (Setiyowati et al., 2024).
Gambar 1. Tradisi Rewanda (Setiyowati et al., 2024)
2.3.2 Tradisi Popokan
Tradisi popokan merupakan sebuah upacara adat lempar lumpur yang dimiliki oleh Dusun Sendang Dimana tardisi ini dilaksanakan pada bulan agustus tepatnya pada hari jumat kliwon atau bulan September yang disesuaikan dengan masa panen. Tradisi popokan bermula dari munculnya seekor harimau yang merusak tanaman warga desa dan mengancam nyawa warga. Warga yang berusaha mengusirnya dengan berbagai senjata namun tidak berhasil, yang kemudian sesepuh desa menyarankan untuk mengusirnya dengan lumpur sawah. Tradisi popokan diawali dengan melakkan kirab hasil kreasi warga desa sendang, pada tradisi ini warga desa sendang terkhusus pada laki laki yang masih muda melemparkan lumpur satu dengan yang lainnya diarea persawahan desa, lumpur yang digunakan untuk upacara popokan adalah tipe lumpur yang lembek sehingga tidak menyakitkan apabila terkena pada area tubuh.
Warga desa membawa ambeng atau nasi yang dibentuk mirip dengan gunungan dan jajan pasar ke rumah bayan (pengurus kampung) untuk acara selamatan. Setelah selesai acara ambengan warga menuju perbatasan desa pertigaan Ntotog atau Dusun Ngasinan sebagai titik awal untuk diadakannya kirab atau arak Arakan dan selesai di balai desa, Dimana dalam acara kirab disajikan penampilan hasil kreasi warga, dan kesenian desa yang berupa reog atau jatilan, noknik (pagelaran wayang orang). Dimana pada bagian depan arak Arakan terdapat miniature harimau yang kemudian diikuti dengan rombongan yang berpakaian model adat. Kemudian miniature harimau tersebut dilempar dengan menggunakan lumpur sebagai penghormatan kepada sesepuh desa, kemudian saat sampai di tempat popokan, pemuka agama membacakan doa yang diikuti dengan perebutan nasi tumpeng oleh warga. Setelah pembacaan doa selesai popokan dilakukan dengan warga saling melempar lumpur ditengah persawahan, diperbatasn desa.
Secara garis besar tradisi popokan diklasifikasikan menjadi empat macam.
Yaitu yang pertama bersih sendang atau sumber mata air, Dimana para warga bekerja sama untuk membersihkan sendang dari endapan dalam air atau dedaunan
yang ada pada permukaan sendang agar sendang dapat terlihat jernih Kembali, kedua adalah tumpengan, Dimana pada nasi tumpeng juga disajikan lauk pauk khusus diantaranya kuluban, tuntuman atau sambel yang disajikan dengan parutan kelapa, biji mlanding, irisan Japan yang dibungkus dalam daun pisang kemudian dimask hingga matang. Ketiga kirab dan arak Arakan dalam ritual arak Arakan tumpengan yang tadi dibawa menuju Lokasi popokan dan yang terakhir baru tradisi popokan dengan saling melempar lumpur antar warga (Hafidz, 2017).
Gambar 2 : Tradisi Popokan (Hafidz, 2017) 2.3.3 Tradisi Mangenan
Tradisi manggenan merupakan salah satu tradisi yang identic dengan syukuran, Dimana didalamnya terdapat berbagai bentuk kegiatan dan makanan yang mengandung nilai nilai, nasehat, atau pesan secara langsung untuk Masyarakat setempat. Tradisi manggenan juga dapat dikatakan sebagai tradisi nyadran atau dikatakan sebagai sedekah bumi. Dimana tradisi ini dilakukan oleh Masyarakat untuk penghormatan terhadap apa yang mereka rasakan dan percayai sebagai yang gaib atau arwah leluhur. Tradisi manggenan dilakukan satu tahun sekali pada hari kamis pahing dibulan zulhijah, sebelum melakukan tradisi manggenan warga akan berbondong bonding untuk membersihkan tempat yang akan dijadikan untuk proses tradisi manggenan. Dimana tradisi mangenan dilakukan disumur yang dipercaya keramat oleh warga setempat pada prakteknya warga Masyarakat melaksanakan tradisi dengan mempersembahkan bunga, kemenyan, merang dan makan seperti ayam panggang dan kambing yang akan dipersembahkan. Yang menarik dari tradisi manggenan adalah tidak dilakukan tanggapan seperti tayuban (tari-tarian), wayang, atau sinden. Sesuai denga nasal Namanya maggenan berarti suatu makanan yang
disedekahkan, jadi yang menjadi inti dari tradisi manggenan adalah menyedekahkan makanan untuk dimakan Bersama sama warga (Daud & Husna, 2022).
Gambar 3 : Tradisi Manggenan (Daud & Husna, 2022) 2.3.4 Warak Ngendhog
Nama warak berasal dari Waro’a atau Wara’I dalam Bahasa arab yang memiliki arti menahan diri, warak ngendhog pertama kali muncul pada acara dugderan dengan cara diangkat oleh beberapa orang kemudian diarak sesuai dengan jalur dugderan. Secara sederhana bentuk warak ngendhog dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yang mengacu pada struktur warak ngendhog sesuai pakem (tradisi), modern, dan kontemporer. Warak ngendhog memiliki makna disetiap struktur tubuhnya, mulai dari kepala, leher, perut, kaki, bulu hingga telurnya. Bagian kepala diibaratkan kepala kambing yang menyimbolkan budaya dan etnis jawa sebagai mayoritas Masyarakat semarang.
Bagian leher diartikan sebagai leher unta sebagai binantang dari Saudi arabia yang memiliki keunggulan ketahanan tubuh yang luar biasa. Bagian perut diibaratkan perut naga atau liong hewan mitologi etnis cina yang diyakini sebagai penjaga Mustika. Bagian kaki seperti hewan pada umunya warak memiliki empat kaki yang menopang tubuhnya sebagai simbolis bahwa sebuah tubuh membutuhkan empat pilar agar dapat menjalankan fungsinya dengan sempurna. Arak Arakan warak ngendhog dimulai dari balaikota Ketika walikota sudah menbuka acara dan tari warag dugder sudah ditampilkan (Rachmawati, 2019).
Gambar 4 : Warak Ngendhog (Rachmawati, 2019) 2.3.5 Tari Semarangan
Kesenian gambang semarang merupakan salah satu sajian khas yang sebagai identitas Kota Semarang dan tercipta dari akulturasi budaya Cina-Jawa.
Kesenian ini diadaptasi dari kesenian gambang kromong yang berasal dari Jakarta.
Iringan tari gambang semarang merupakan penggabungan dua iringan gado gado semarang dan empat panar. Penggabungan dua iringan dilatbelakangi bahwa kedua lagu tersebut sudah menjadi legenda dan ciri khas dari identitas kota semarang, alat music yang digunakan yaitu kendhang, boning, gambang kontra bass, gambang melodi, kecrek, demung, saron, peking, gong kempul, dan chonghu. Tari gambang semarang direpresntasikan sebagai perpaduan antara budaya tionghowa dan Nusantara(Opsantini & Septiyan, 2023).
Gambar 5 : Tarian Semarang (Opsantini & Septiyan, 2023)
2.4 Kenekaragaman Kuliner Khas Semarang
2.4.1 Tahu Pong
Kedatangan orang orang Tionghoa, arab, eropa dan lainnya di kota semranag mempengaruhi budaya yang berkembang di kota semarang yang Sebagian besar dihuni oleh Masyarakat jawa. Sejumlah hidangan yang kemudian
dikelan sebagai kuliner khas semarang sesungguhnya merupakan hibridisasi dari tradisi dapur tionghoa. Belum ada data yang jelas kappan mulainya tahu pongbeksis dikota semarang, tahu pong sendiri merupakan tahu yang kopong.
Kopong berasal dari Bahasa jawa yang artinya kosong atau tanpa isi. Tahu pong memang memiliki tekstur yang berbeda dengan tahu biasa, bila digoreng tahu pong bisa mengembang, bagian dalamnya berongga, kulitnya tipis dan kering.
Tahu pong disajikan dengan berbagai pilihan pelengkap yang kemudian disantap degn menggunakan kuah yang terbuat dari kombinasi kecap, petis, dan bawang yang kemudian dilengkapi dengan irisan timun yang segar menciptakan rasa yang khas (Totten, 2024).
Gambar 6 : Tahu Pong Semarang (Totten, 2024) 2.4.2 Tahu Petis
Tahu petis berkembang pada akhir abad ke -19 atau awal ke-20. ahu, bahan dasar tahu petis, sudah dikenal luas di Indonesia sejak lama. Sementara petis, saus fermentasi udang khas Jawa Timur, diperkirakan masuk ke Semarang melalui jalur perdagangan. Perpaduan kedua bahan ini melahirkan tahu petis. Tahu, sebagai bahan dasar, melambangkan kesederhanaan dan kearifan lokal. Sementara petis, dengan aroma dan rasanya yang kuat, melambangkan keharmonisan dan kekayaan budaya. Perpaduan tahu dan petis dalam tahu petis, menggambarkan semangat masyarakat Semarang yang mampu menggabungkan berbagai budaya dan tradisi menjadi sesuatu yang unik dan khas. Rasa gurih dan manis tahu petis juga melambangkan kehidupan yang seimbang, di mana rasa manis mewakili kebahagiaan dan rasa gurih mewakili kesederhanaan (Ardiansyah,2023).
Gambar 7 : Tahu Petis Semarang (Yudhistira, 2020)
2.4.3 Kue Mochi Kacang
Kue mochi atau Kueh Moaci Gemini khas Semarang ini khas dengan tekstur kenyal dan apabila digigit di dalamnya terdapat manis dan legit. Gurihnya dengan perpaduan kacang cincang beserta gula, sampai dengan sekarang Kueh Moaci Gemini dikenal sebagai cemilan legendaris khas Kota Semarang. Kueh Moaci Gemini, hingga kini terus melakukan inovasi agar tetap dikenal dengan membuat ide-ide dalam membuat varian kue moaci dengan rasa yang beragam. Salah satunya dengan membuat moaci berbentuk bulat dan berbalut wijen, yang dahulunya, bentuk kue moaci tidak bulat seperti sekarang ini. Melainkan lonjong dan dipotong- potong beberapa bagian dengan hanya berbalut bubuk tepung dengan isi kacang.
Bubuk tepung dari Kueh Moaci Gemini yang menempel ketika dimakan dan membuat beberapa pelanggan tidak nyaman saat menikmati. Dari sinilah Sri Harsini membuat ide untuk membuat kue moci berbalut wijen. Pengembangan itu tidak membuat bibir ditempeli bubuk tepung (Totten, 2024).
Gambar 8 : Moachi Gemini Semarang (Totten, 2024)
2.4.4 Torakur
Tomat dapat tumbuh dengan subur di daerah ini dan bila musim panen tomat berlimpah, maka harga tomat dapat menurun drastis, sehingga merugikan petani tomat. Ditinjau dari aspek sosial budaya masyarakat dusun Kajang, ada kebiasaan jika harga tomat sudah terlalu anjlok, petani tidak jadi memanen tomat karena ongkos membayar upah buruh petik lebih mahal dibandingkan harga jualnya. Jika kondisi seperti itu, maka tomat yang sudah siap panen banyak yang jatuh di tanah atau membusuk begitu saja di pohonnya dan menjadi mubazir. Kondisi demikian tentu sangat memprihatinkan mengingat tomat merupakan bahan pangan yang begitu banyak manfaatnya
Salah satu produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah tomat yaitu torakur. Torakur adalah kependekan dari tomat rasa kurma. Manisan yang berbahan dasar tomat ini diolah dengan sedemikian rupa sehingga memiliki rasa dan bentuk seperti kurma. Industri pengolahan torakur dikembangkan sejak tahun 2002 oleh Ibu Sri Ngestiwati di Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang (Destyana et al., 2017).
Gambar 9 : Torakur (Destyana et al., 2017) 2.4.5 Waiki Lapis Legit
Sejarah kue lapis legit berkaitan erat dengan bangsa Belanda. Dahulu kala, kue ini dibuat oleh bangsa Belanda yang tinggal di Indonesia pada masa penjajahan.
Itulah mengapa nama lain kue ini disebut spekkoek, yang berasal dari bahasa Belanda. Bagi warga Tionghoa, kue lapis legit mempunyai makna tersendiri.
Hidangan yang terdiri dari berlapis-lapis kue ini membutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam membuatnya, sehingga konon dimaknai sebagai perjalanan hidup manusia. Selain itu, kue tingkat dan terdiri dari susunan demi susunan ini juga
menjadi simbolisasi akan kemakmuran dan rezeki yang melimpah. Tidak heran, kue lapis legit menjadi salah satu favorit untuk dijadikan hadiah ataupun dihidangkan di rumah saat Imlek (Totten, 2024).
Gambar 10 : Spiekok (Totten, 2024)
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perpaduan peninggalan sejarah, keanekaragaman budaya dan alam di Semarang.
Semarang merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia khususnya di Jawa Tengah. Kota Semarang menawarkan pengalaman berwisata yang unik. Selain itu, pengaruh budaya Tionghoa cukup kuat pada arsitektur dan budaya kota ini.
Kebangkitan Kota Lama Semarang semakin meningkatkan daya tarik Semarang sebagai destinasi wisata, khususnya bagi wisatawan domestik. Selain menarik perhatian wisatawan, berkat arsitektur, budaya, dan alamnya, Semarang juga menarik wisatawan yang mencari pengalaman langsung (Cooper, dkk, 2023). Keberagaman budaya kota yang menjadi pusat perdagangan dan kegiatan ekonomi di Jawa Tengah ini membuat wisatawan bisa menikmati banyak kuliner khas. Seiring berjalannya waktu, banyak wisatawan yang khusus datang ke Semarang karena ingin menikmati dan merasakan kenikmatan kuliner. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya konservasi dan menekankan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas dan sejarah kota Semarang. Meski masih dikenal secara luas, namun masih banyak masyarakat yang belum memahami nilai sejarahnya, sehingga menunjukkan perlunya edukasi dan promosi yang berkelanjutan. Upaya konservasi harus terkoordinasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.
Melalui strategi edukasi, promosi wisata kuliner dan inovasi penyajian diharapkan dapat terus menjadi bagian penting dari identitas dan warisan budaya kota Semarang.
Kota Semarang merupakan kota dengan banyak kuliner khas yang dikenal, dapat dikunjungi, dan disukai wisatawan sehingga menjadikannya sebagai simbol wisata kuliner di kota ini. Lambang wisata kuliner di kota semarang adalah tahu pong, tahu petis, torakur, moaci gemini, spikok (lapis legit) dan masih banyak lagi yang lainnya.
Salah satu kelebihannya, wisata kuliner mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan dan dimanfaatkan apabila dikelola secara profesional dan terorganisir bahkan dapat menjadi daya tarik tersendiri sehingga dapat meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung. Kota Semarang khususnya. Dengan dokumentasi dan
promosi yang tepat, kuliner khas Semarang dapat terus eksis dan dikenal oleh generasi mendatang, tidak hanya sebagai hidangan namun juga sebagai simbol kekayaan budaya dan sejarahnya. Kekayaan kota ini perlu dijaga dan dilestarikan agar tetap bisa bertahan dan berkembang. diketahui. kepada generasi mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Adolph, R. (2016). 済無No Title No Title No Title. 1–23.
Akbar, Y. Z., Akbar, Y. Z., Iswanto, D., & Indrosaptono, D. (2021). Pusat kebudayaan dan kesenian kota semarang. 02(14), 2031.
Daud, F. K., & Husna, R. F. (2022). Tradisi Manganan dalam Tinjauan Sosiologi Hukum Islam. Pa nangkaran: Jurnal Penelitian Agama Dan Masyarakat, 6(1), 88–106.
https://doi.org/10.14421/panangkaran.v6i1.2836
Destyana, N. S. G., Ferichani, M., & Riptanti, E. W. (2017). Strategi Pengembangan UKM TORAKUR (Tomat Rasa Kurma) di Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Agrista, 5 (1), 214–224.
Fatimah, S. (2020). Konsep Kebudayaan Di Indonesia.
https://repository.unikom.ac.id/63929/1/KONSEP KEBUDAYAAN DI INDONESIA_9.pdf Hafidz, M. (2017). POPOKAN, TRADISI PERANG LUMPUR Tradisi Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Sabda : Jurnal Kajian Kebudayaan, 12(2), 188.
https://doi.org/10.14710/sabda.12.2.188-197
Mahdayeni, M., Alhaddad, M. R., & Saleh, A. S. (2019). Manusia dan Kebudayaan (Manusia dan Sejarah Kebudayaan, Manusia dalam Keanekaragaman Budaya dan Peradaban, Manusia dan Sumber Penghidupan). Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(2), 154–165.
https://doi.org/10.30603/tjmpi.v7i2.1125
Opsantini, R. D., & Septiyan, D. D. (2023). Akulturasi Budaya dalam Tari Gambang Semarang.
MATRA: Jurnal Musik Tari Teater & Rupa, 2(2). https://doi.org/10.30870/m.v2i2.19554 Rachmawati, A. N. (2019). Makna Warak Ngendog Bagi Masyarakat Kota Semarang (Kajian
Antropologi Simbolik).
Ramadhani, N., & Pangestu, R. N. (2022). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Budaya: Ras, Perkembangan Teknologi Dan Lingkungan Geografis (Literature Review Perilaku Konsumen). Jurnal Ilmu Manajemen Terapan, 3(5), 515–528.
https://dinastirev.org/JIMT/article/view/999
Setiyowati, R., Rahman, L., & Anggraeni, N. L. (2024). Tradisi Sesaji Rewanda Dalam Perspektif Sakralitas dan Profanitas Emile Durkheim. Empirisma: Jurnal Pemikiran Dan Kebudayaan Islam, 33(2), 439–464. https://doi.org/10.30762/empirisma.v33i2.2126
Sudaryanto, S., & Wibawa, Y. S. (2013). Sejarah Perkembangan Kota Semarang (Jawa Tengah) di Masa Lalu dan Dampak Kehadiran Polutan Nitrat Pada Airtanah di Masa Kini. Jurnal RISET Geologi Dan Pertambangan, 23(1), 27. https://doi.org/10.14203/risetgeotam2013.v23.67 Totten, S. (2024). Document 7. An Oral and Documentary History of the Darfur Genocide, 3(1),
502–525. https://doi.org/10.5040/9798400693687.0385