• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN LAYANAN INDIVIDUAL DALAM LINGKUP SEKOLAH INKLUSI

N/A
N/A
Fah@mimi Mimi

Academic year: 2023

Membagikan "PENERAPAN LAYANAN INDIVIDUAL DALAM LINGKUP SEKOLAH INKLUSI"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN LAYANAN INDIVIDUAL DALAM LINGKUP SEKOLAH INKLUSI

MAKALAH

Dosen Pengampu :

Raisa Citra Ellena S.Psi., M.Psi.

Oleh :

Muhammad Fahmi Zainul Anwar (220210204118 / B)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayah- Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “PENERAPAN LAYANAN INDIVIDUAL DALAM LINGKUP SEKOLAH INKLUSI” dengan tepat waktu. Makalah disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Inklusi. Selain itu, makalah ini bertujuan menambah wawasan tentang layanan individu di SD bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Raisa Citra Ellena selaku dosen mata kuliah Pendidikan Inklusi. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Jember, 8 Mei 2023

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB 1. PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1.3 Tujuan...2

BAB II. PEMBAHASAN...3

2.1 Definisi Pelayanan Individual...3

2.2 Tujuan Pelayanan Individual...3

2.3 Persiapan Sebelum Melakukan Pelayanan Individual...5

2.4 Penanganan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus...6

BAB III. PENUTUP...9

3.1 Kesimpulan...9

3.2 Saran...9

DAFTAR PUSTAKA...10

(4)

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pendidikan termasuk hak asasi manusia yang mendasar, tidak ada pengecualian untuk anak normal maupun anak berkebutuhan khusus (ABK).

Undang – undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32 disebutkan bahwa: “Pendidikan khusus (pendidikan luar biasa) merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa”.

Menurut Sumiati dan Asra (2007), menyatakan bahwa interaksi ketiga komponen sangat berperan penting untuk terwujudnya tujuan pembelajaran.

Ketiga komponen yang dimaksud yaitu metode pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan. Peran guru dan peserta didik pada proses pembelajaran juga menjadi inti terlaksananya pembelajaran yang sesuai tujuan, peran guru sebagai pembangkit minat dan semangat peserta didik dan peserta didik sebagai pemberi feedback atas pelajaran yang dilakukan oleh guru.

Pendidikan inklusi tentunya hampir sama dengan sekolah pada umunya untuk tujuan dan bahkan membutuhkan penanganan lebih untuk peserta didiknya.

Keberadaan ABK atau anak berkebutuhan khusus dalam di sekolah adalah pembeda sekolah biasa dengan inklusi. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, tentunya ABK juga termasuk pada lingkup itu. ABK sangat membutuhkan perlakuan khusus dari pembimbing, karena setiap ABK selalu memiliki hambatan tertentu dalam pembelajaran. Seperti peserta didik yang mengalami disabilitas fisik maupun kecerdasan yang berada di bawah rata – rata dan tentunya setiap hambatan yang dialami oleh peserta didik memiliki penanganan yang berbeda – beda. Oleh karena itu pelayanan individual adalah elemen yang harus ada pada sekolah inklusi, karena ABK atau anak berkebutuhan khusus selalu butuh pendamping agar bisa memahami materi selayaknya anak normal.

(5)

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Pelayanan Individual ? 2. Apa tujuan dari Pelayanan Individual ?

3. Bagaimana persiapan melakukan Pelayanan individual ?

4. Bagaimana penanganan setiap ABK dalam Pelayanan Individual ? 1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Pelayanan Individual.

2. Untuk mengetahui tujuan dari Pelayanan Individual.

3. Untuk mengetahui persiapan sebelum melakukan Pelayanan Individual.

4. Untuk mengetahui cara – cara yang digunakan dalam penanganan ABK.

(6)

BAB II. PEMBAHASAN 2.1 Definisi Pelayanan Individual

Pelayanan individual adalah pelayanan bimbingan dan konseling yang langsung ditujukan pada perorangan. Dalam sekolah inklusi pelayanan ini sangat di butuhkan bagi peserta didik yang membutuhkan penanganan khusus untuk dapat memahami materi sekolah tanpa tertinggal.

Thomson (2004:21) mengatakan “hubungan tersebut berfokus pada pengalaman-pengalaman, perasaan, tingkah laku, alternatif, konsekuensi, dan tujuan-tujuan personal. Konseling memberikan kesempatan yang unik kepada individu untuk mengeksplorasi ide-ide, perasaan dalam lingkungan yang tidak menilai dan mengancam”.

Dengan adanya pelayanan ini diharapkan untuk menghilangkan sifat diskriminasi pada semua peserta didik dan menciptakan keadaaan kelas yang nyaman bagi siapa saja.

Pelayanan individual tidak hanya dilakukan untuk anak berkebutuhan khusus permanen saja, anak berkebutuhan khusus semestara bisa juga jadi target penerapan pelayanan individual. Jika ABK sementara didampingi dan sudah kembali seperti anak – anak normal pada umumnya, maka anak itu sudah bisa disebut anak normal dan bukan menjadi anak berkebutuhan khusus lagi.

2.2 Tujuan Pelayanan Individual

Pelayanan individual diterapkan pada sekolah inklusi untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif dan aman bagi anak berkebutuhan khsusus atau ABK. Tujuan diadakannya pelayanan individual antara lain :

a) Anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak tertinggal materi pembelajaran.

(7)

Dengan adanya pelayanan individual, guru sebagai konselor akan fokus pada permasalahan yang menghambat anak berkebutuhan khusus dalam memperoleh materi yang dijelaskan oleh guru.

b) Anak berkebutuhan khusus (ABK) merasa lebih diperhatikan.

Dengan adanya pelayanan individual ini anak berkebutuhan khusus akan semakin merasa di perhatikan oleh guru atau sekelilingnya.

Peserta didik yang berkebutuhan khusus akan menjadi percaya diri dengan adanya perlakuan istimewa atau perlakuan khusus diri mereka.

c) Terciptanya suasana kelas yang aman.

Dengan adanya perhatian khusus kepada peserta didik ABK, peserta didik lainnya akan ikut mengakui keberadaan anak berkebutuhan khusus dan tidak menganggap kebutuhan khusus anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai bahan untuk dibeda – bedakan.

d) Dipercaya oleh orang tua peserta didik.

Jika seorang peserta didik berkebutuhan khusus mendapatkan pelayanan yang istimewa dari pihak sekolah inklusi dan perlakuannya sangat baik. Orang tua akan mempercayakan anaknya pada pihak sekolah.

e) Mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus sementara.

Peserta didik dengan hambatan berkebutuhan khusus sementara bisa menjadi seperti anak normal pada umunya dengan catatan harus diberi pelayanan khusus dengan baik dan benar. Oleh karena itu, menjadi point penting untuk guru sebelum melakukan pelayanan yaitu membuat rancangan untuk menentukan hasil yang diinginkan.

(8)

2.3 Persiapan Sebelum Melakukan Pelayanan Individual

Langkah – langkah yang harus di lakukan pada penerapan pelayanan individual yaitu :

1. Meminta informasi atau data mengenai peserta didik ABK permanen maupun sementara. Informasi atau data ini bisa didapatkan dari beberapa sumber seperti orang tua, psikolog, ataupun dokter.

2. Melakukan penilaian atau diagnosis guna menentukan apakah peserta didik tersebut memiiki hambatan atau ketuaan tertentu.

Diagnosis inilah yang digunakan guru sebagai konselor untuk menangani hambatan peserta didik.

3. Mengidentifikasi ketunaan atau hambatan peserta didik. Pada proses ini guru mencari tahu ketuaan, ketidak mampuan belajar, perilaku menyimpang atau lain sebagainya.

4. Melakukan analysis service pada peserta didik. Guru menganalisis memastikan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus menerima layanan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Contohnya peserta didik yang memiliki hambatan pengelihatan diberi media yang timbul setiap hal yang membutuhkan pemetaan dan peserta didik yang kesulitan mendengar diberi bantuan alat bantu mendengar.

5. Membuat tujuan yang dicapai oleh guru dari peserta didik berkebutuhan khsusus. Disini guru memrancang tujuan pembelajaran sesuai apa yang di harapkan pada hasil akhir.

6. Dan yang terakhir melakukan service pada peserta didik. Pada tahap ini guru melakukan apa yang seharusnya dilakukan sesuai

(9)

dengan apa yang dirancang demi mencapai tujuan yang diharapkan. Pendampingan peserta didik dikelas termasuk dalam layanan ini.

2.4 Penanganan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

Setiap peserta diidk berkebutuhan khusus selalu membutuhkan penanganan yang berbeda – beda sesuai dengan hambatan yang mereka alami, ada yang bersifat sementara dan ada juga yang bersifat permanen.

Anak berkebutuhan khusus temporer adalah anak yang memiliki hambatan belajar atau hambatan perkembangan yang di sebabkan oleh faktor eksternal.

Contohnya anak yang memasuki kelas baru dan mengalami kehidupan dua bahasa yang berbeda. Kondisi ini dapat memicu kesulitan belajar karena anak tersebut perlu memahami dan beradaptasi dengan bahasa baru yang ada di kelas tersebut.

Anak berkebutuhan khusus permanen adalah anak yang memiliki hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang sifatnya internal seperti kecacatan fisik (pengelihatan, pendengaran, gangguan kecerdasan dan kognisi, gangguan motorik, gangguan komunikasi, gangguan emosi, sosial, dan prilaku.

Tentunya semua membutuhkan penanganan yang berbeda – beda untuk setiap hambatannya, antara lain :

a) Hiperaktif

Guru dituntut untuk memodifikasi jadwal peserta didik dan lingkungan agar cocok untuk keadaan mereka, hiperaktif bisa dikatakan sebagai kelebihan energi yang menjadikan anak sangat aktif bahkan berlebihan dibanding anak normal.

b) Gangguan komunikasi

(10)

Guru dituntut untuk mendorong minat peserta didik untuk berkomunikasi secara lisan dan teratur, disisi lain guru juga harus sekaligus menjadi wadah mereka dalam pendengar. Karena mereka sering berbicara tidak jelas, tugas guru dalam mendengar adalah menjadi pendengar yang sabar.

c) Gangguan emosi dan prilaku

Guru disini dituntut untuk memperlihatkan minat terhadap kemajuan peserta didik, karena saat merasa di perhatikan peserta didik akan dapat memendam emosinya. Aktivitas kelas yang dirancang sesuai minat peserta didik juga berpengaruh pada prilaku peserta didik.

Guru juga harus mewaspadai prilaku siswa yang berbahaya seperti melukai diri sendiri, orang lain, bahkan jika akan melakukan bunuh diri.

d) Autisme

Guru disini harus menjelaskan sesuatu berulang sampai mereka paham dan harus tetap gigih dan sabar, karena anak dengan gangguan autisme sangat berbeda dengan anak normal. Autisme membutuhkan kesabaran yang tinggi.

e) Keterbelakangan mental

Disini guru harus memberikan arahan secara terus menerus untuk memastikan peserta didik mengikuti materi tanpa tertinggal, dan guru juga harus menjelaskan secara konkrit tugas – tugas yang diberikan.

Disarankan juga pembelajaran menggunakan scaffolding untuk mendukung proses – proses kognitif efektifnya.

f) Tunanetra (pengelihatan)

(11)

Disini guru dapat memberikan waktu ekstra untuk siswa dalam belajar, untuk pembelajarannya dapat menggunakan Braille atau media timbul lain agar bisa melakukan interaksi. Pengelihatan pada penyandang hambatan ini sangat terbatas bahkan sampai ke tahap kebutaan, oleh karena itu guru juga harus memberikan waktu tambahan untuk mendampingi peserta didik yang memiliki hambatan ini.

g) Tunarungu (pendengaran)

Peserta didik dengan hambatan pendengaran ada bebeberapa cara untuk memberi pelayan yang tepat, antara lain, guru harus meminimalisir kebisingan yang tidak perlu dan bisa berkomunikasi dengan menggunakan gerak bibir atau bahasa isyarat, untuk pelajaran yang memuat angka juga bisa mempelajari angka menggunakan gerak jari.

h) Anak berbakat

Guru dapat memberikan tugas terindividualisme bagi anak berbakat. Bentuk kelompok belajar yang berisikan peserta didik dengan minat belajar dan kemampuan serupa. Jangan lupa juga untuk memberikan dorongan kepada siswa untuk menetapkan target yang tinggi atas belajarnya.

(12)

BAB III. PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Anak berkebutuhan khusus (ABK) ada beberapa macam jenisnya, dan di antaranya ada tunanetra, tunarunggu, tunadaksa, autisme dan lain sebagainya yang mengganggu jalannya pembelajaran peserta didik. Peran guru juga sebagai konselor sangat berpengaruh pada keberhasilan pembelajaran. Oleh karena itu di lingkup inklusi sangat dibutuhkan tenaga pendidik yang gigih dan juga memiliki kesabaran tinggi.

3.2 Saran

Saran bagi tenaga pendidik, kelengkapan data peserta didik berkebutuhan khusus sangat berpengaruh bahkan kunci awal untuk melakukan pelayanan individu kesabaran dan ketelatenan juga menjadi dasarnya.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Anidar, J. (2016). Layanan Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Institu Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang, 12 - 28.

Jannah, A. M., Setiyowati, A., Lathif, K. H., Devi, N. D., & Akhmad, F. (2021).

MODEL LAYANAN PENDIDIKAN INKLUSIF DI INDONESIA.

ANWARUL : Jurnal Pendidikan dan Dakwah, 1, 121-136.

Mareza, L. (2016). PENGAJARAN KREATIVITAS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA. Jurnal Indigenous Vol. 1 No. 2 2016, 1, 99 - 105.

Mirnawati. (2020). IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS di Sekolah Inklusi. (I. Yuwono, Penyunt.) Sleman, Yogyakarta, Indonesia:

Deepublish Publisher.

ULFIAH, P. I. (2016). PENERAPAN LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL UNTUK MENGATASI PERILAKU KEKERASAN SISWA KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH 02 MEDAN. SKRIPSI, 1 - 54.

Widiastuti. (2019, Juni). Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Yang Mengalami Kecacatan Fisik. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Volume 5, Number 1, Juni 2019,pp. 46-54, 5, 46 - 54.

Zulamri, & Juki, M. A. (2019, Desember). Pengaruh Layanan Konseling Individual Terhadap Keterbukaan Diri. JURNAL AT-TAUJIH

BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM Vol. 2 No. 2 - Desember 2019, 2, 19 - 36.

Referensi

Dokumen terkait