TUGAS MAKALAH HUKUM HUBUNGAN INDUSTRIAL
ANALISIS SEJARAH, PERATURAN, PERSELISIHAN SERTA UPAYA PEMERINTAH DALAM PENYELESAIAN PERSELISIAHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DI INDONESIA
Oleh;
Jiono 2021174201106
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM UNIVERSITAS 45 MATARAM
TAHUN 2024
i KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt, atas limpahan rahmat dan karunia- nya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat beserta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad saw. Sebagai sosok panutan umat islam disegala profesi kehidupan untuk menggapai kesuksesan dan kebahagiaan dunia-akhirat. Aamiin ya robbal ‘alamiin.
Makalah ini berjudul “Sejarah Hubungan Industrial”, disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Hukum Hubungan Industrial. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan didalamnya. Untuk itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun, umumnya bagi para pembaca. Aaamiin..
Mataram 13 Maret 2024 Penyusun
Jiono 2021174201016
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………...i DAFTAR ISI………ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang………1
B. Tujuan……….3
C. Rumusan Masalah………...3 BAB II PEMBAHASAN
A. Bagaimana perkembangan hubungan industrial di Indonesia?...5 B. Apa saja aturan yang berlaku dalam hubungan industrial?...11 C. Apa saja masalah yang muncul dalam hubungan industrial dan bagaimana kebijakan
pemerintah dalam menyelesaikan masalah tersebut?...13 BAB II PENUTUP
A. Kesimpulan………20
B. Saran………...21
DAFTAR PUSTAKA……….22
iii
1 BAB I
PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Hubungan industrial merupakan aspek penting dalam perekonomian suatu negara, termasuk Indonesia. Sejarah perkembangan hubungan industrial di Indonesia mencakup berbagai peristiwa penting yang telah membentuk kondisi kerja saat ini. Dengan memahami sejarah ini, kita dapat lebih memahami konteks dan alasan di balik berbagai aturan dan kebijakan yang ada saat ini.
Analisis terhadap sejarah perkembangan hubungan industrial di Indonesia juga penting untuk memahami dinamika hubungan antara pekerja dan pengusaha. Hubungan ini sering kali kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan ekonomi, teknologi, dan sosial. Dengan memahami bagaimana hubungan ini berkembang sepanjang waktu, kita dapat lebih memahami tantangan dan peluang yang ada dalam hubungan industrial saat ini.
Selain itu, analisis sejarah juga dapat membantu kita mengidentifikasi berbagai masalah yang muncul dalam hubungan industrial. Misalnya, kita dapat mempelajari bagaimana konflik kerja dan perselisihan industrial telah ditangani di masa lalu, dan bagaimana solusi tersebut dapat diterapkan atau dimodifikasi untuk menyelesaikan masalah serupa di masa depan.
Analisis sejarah juga penting dalam merumuskan kebijakan hubungan industrial di masa depan. Dengan memahami dampak kebijakan-kebijakan di masa lalu terhadap hubungan industrial, kita dapat mengembangkan kebijakan-kebijakan baru yang lebih efektif dan adil. Hal ini membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik dan efisien bagi semua pihak yang terlibat. Analisis sejarah juga dapat membantu dalam upaya peningkatan kesejahteraan pekerja. Dengan memahami bagaimana kondisi kerja dan hak
2 pekerja telah berkembang sepanjang waktu, kita dapat merumuskan strategi untuk melanjutkan peningkatan kesejahteraan pekerja.
Akhirnya, hubungan industrial yang baik dapat mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dengan memahami sejarah perkembangan hubungan industrial di Indonesia, kita dapat merumuskan strategi untuk mempromosikan hubungan industrial yang sehat dan produktif, yang pada gilirannya dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Dengan demikian, pentingnya menganalisis sejarah perkembangan hubungan industrial di Indonesia sangat luas, mulai dari pemahaman konteks dan alasan di balik aturan dan kebijakan yang ada, hingga merumuskan strategi untuk peningkatan kesejahteraan pekerja dan pertumbuhan ekonomi.
3 B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan hubungan industrial di Indonesia?
2. Apa saja aturan yang berlaku dalam hubungan industrial?
3. Apa saja masalah yang muncul dalam hubungan industrial dan bagaimana kebijakan pemerintah dalam menyelesaikan masalah tersebut?
C. Tujuan
1. Untuk menganalisa dan mengetahui hubungan Industrial di Indonesia
2. Untuk menganalisa dan mengetahui aturan hukum hubungan industrial di Indonesia
3. Untuk menganalisa dan mengetahui permasalahan dan Upaya pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul dalam hubungan industrial di Indonesia
4 BAB II
PEMBAHASAN
1. Bagaimana perkembangan hubungan industrial di Indonesia
Masyarakat industri adalah adalah Masyarakat yang kompleks dan dinamis terdiri dari kelompok, Masyarakat dan Lembaga,mereka saling berhubungan, namun mereka memiliki sikap dan presepsi yang berbeda. Mereka juga di pengaruhi oleh lingkungan eksternal yang berbeda beda. Bagi Masyarakat industri, kita tidak dapat mengabaikan salah satu aspek pekerjaan yaitu jam kerja yang seringkali mendominasi pekerjaan dan sebagaian besar waktu kerja, terlebih lagi terkait upah dan pendapatan buruh dikaitkan dengan kebutuhan hidup1
Hubungan Industrial adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk di antara para pelaku proses produksi barang dan jasa. Namun, hubungan industrial tidak dapat dilihat hanya sekedar sistem hubungan di antara para pelaku di tempat kerja tetapi meliputi sekumpulan fenomena, baik di dalam maupun di luar tempat kerja yang berkaitan dengan penetapan dan pengaturan hubungan ketenagakerjaan. Bahkan dalam perkembangan hubungan industrial tidak lepas dari hubungan sosial, ekonomi, dan politik yang lebih luas2
1 Fahmi Indris, Dinamika Hubungan industrial,Yogyakarta,CV Budi Utama,2019,hal 2
2 Argyo Demartoto, Hubungan Industrial Di Indonesia,Surakarta, Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Sebelas Maret,2017,hal 1
5 Menurut subijanto, Hubungan industrial adalah hubungan ketenagakerjaan (industrial) atau hubungan perburuhan pada hakekatnya merupakan hubungan antara pihak- pihak terkait dengan kepentingan, yaitu antara pekerja/buruh dan pengusaha (majikan), serta organisasi buruh (serikat pekerja) dan organisasi pengusaha
Hubungan industrial diartikan pula sebagai kegiatan yang mendukung terciptanya hubungan yang harmonis atara pelaku bisnis yaitu pengusaha, pekerja dan pemerintah, sehingga tercapai ketenangan berkerja dan kelangsungan berusaha, oleh karena itu, hubungan industrial tidak hanya sekedar manajemen organisasi Perusahaan, yang menempatkan pekerja sebagai pihak yang selalu di atur. Namun hubungan industrial meliputi fenomena baik di dalam maupun di luar tempat kerja yang berkaitan dengan penempatan dan pengaturan kerja.3
Hubungan industrial mulai dikenal di Eropa pada pertengahan abad 18 seiring dengan munculnya revolusi industri. Pada awalnya, hubungan industrial merupakan hubungan yang bersifat personal antara buruh dan pengusaha, bahkan hubungan yang terjadi bersifat kekeluargaan dan ketetanggan. Seiring dengan pekembangan teknologi bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas permasalahan yang muncul antara pekerja dengan pengusaha maka dirasakan perlunya membuat aturan hak dan kewajiban yang harus dipatuhi.
Pasca revolusi industri sampai akhir abad 19, akibat pengaruh paham liberalisme terhadap hubungan industrial adalah munculnya pandangan bahwa buruh merupakan benda atau objek ekonomi. Sehingga tidak mengherankan apabila buruh selalu menjadi pihak yang tertindas dan mengalami kondisi yang menyedihkan. Ketertindasan dan posisi lemah buruh membuat para buruh berupaya memperkuat diri mereka dengan cara menghimpun diri dalam suatu organisasi.4
3 Luis Marsinah, Hubungan Industrial dan Kompensasi,Yogyakarta, CV Budi Utama,2012,hal 2
4 Op.Cit
6 Pada akhir abad 19 dan permulaan abad 20 terjadi pergeseran pandangan dalam hubungan industrial. Muncul pendekatan baru dalam bidang manajeman yang dikenal dengan scientific management yang dipopulerkan oleh F.W. Taylor, dalam pandangan ini para pekerja mulai dipandang sebagai individu dan juga makhluk sosial yang berinteraksi dengan sesama.
Perkembagan Hubungan Industrial di Indoensia dapat kita lihat berdasarkan pada pemerintahan yang berkuasa
1) Era Presiden Soekarno
Di era kemerdekaan di bawah pemerintahan Soekarno, Hubungan Industrial di Indonesia diwarnai dengan perjuangan keas yang dimotori oleh Gerakan buruh sosial komunis yang bernaung dalam SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) yang merupakan oncerbouw dari Partai Komunis Indonesia dan sebagai Konsekwensinya pemerintah lebih pro buruh, bukan pro ke pemodal/pengusaha. Evolusi SOBSI merupakan kenyataan bahwa para aktivisnya merupakan lulusan Moscow seperti Sanusi dan Semaun5
2) Era Presiden Soeharto
Presiden Soeharto dapat menyatukan Gerakan kaum buruh sehingga dapat membantun suasana yang harmonis menalau wadah FBSI tersebut, walaupun system yang demikian dalam perjalanannya banyak mendapatkan kritik dari dunia internasional, misalnya petisi yang disampaikan oleh para aktivis burh internasional melalui 1978 sampaisengan tahun 1988 yang bergabung dalam sidang Labour Conference di Jenewa, Swis dimotori oleh aktifis dari serikat buruh Belanda (FNV), Tom Etty dan kawan kawan telah melahirkan ketidakpercayaan dunia internasional terhadap system hubungan industrial Indonesia yang dianggap pro Investor dan tidak memberdayakan
5 Ibid,Dinamika hubungan industrial,hal 24
7 kaum buruh. Gerakan ini menjadi opini Internasional dan pada tahun 1998, tahun Dimana pemerintahan Soeharto tumbang temlah melahirkan tuntutan yang mengarah pada dibukanya kran kebebasan berserikat bagi kaum buruh.
3. Era Presiden Habibi
Pemerintahan peralihan Presiden BJ Habibie terlah meratifikasi Konsensi ILO Nomor 87 tahun 1948 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi melalui Keppres Nomor 83 tahun 1998, yaitu hanya berselang 2 bulan sejak Presiden Habibie berkuasa. Keputusan besar tersebut telah melahirkan suasana hubungan industrial yang dinamis dan melahirkan serikat pekerja yang demokratis dan melahirkan perjanjian kerja6 Bersama (PKB) yang merupakan pengaturan mengenai hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaha di Tingkat Perusahaan. Walaupun tentu saja, ratifikasi konvensi ILO tidak cukup untuk mengatasi berbagai probelematika hubungan industrial di Indonesi terlebih di awal era reformasi tersebut 4. Era Presiden Abdurrahman Wahid
Pemerintahan Abdurrahman Wahid yang berkuasa semala 2 tahun telah melahirkan Undang – Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang serikat pekerja/serikat buruh yang pada dasarnya setiap 10 pekerja atau lebih dapat membentuk satu serikat pekerja dan setiap 5 pekerja dapat membentuk federasi serikat pekerja dan 3 federasi serikat dapat membentuk 1 konfederasi. Sampai dengan pertengahan tahun 2012 telah membentuk lebih 17.00 serikat pekerja, lebih dari 100 federasi dan 5 konfederasi serikat pekerja. Walapun banya yang tumbuh serikat pekerja ditingkat nasional, namun keanggotan serikat buruh pada Tingkat akar rumput tidak Nampak signifikan
5. Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
6 Ibid hal 26
8 Pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono berusaha sekuat tenaga membangun pencitraan yang diharapkan dapat menarik para investor asing dengan melahirkan Undang – Undang Penanaman Modal yang mengabungkan antara pemodal asing dan permodalan nasionaldalam negeri guna menghapus stigma asing dan local sehingga tercipta investasi yang kondusif. Guna membagun suasana yang demikian, di ciptakan membagun ekonomi khusus. Dasar Hukung Undang – undang Nomor 39 Tahun 2009 Tentang Kawasan Ekonomo Khusus yang merupakan inisiatif pemerintah.
Hingga akir masa jabatan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono telah membentuk 7 kawasan Ekonomi Khusus melalui Peraturan Pemerintah yakni : KEK Sei Mankei, KEK Palu, KEK Bitung, KEK Morotai, KEK Tanjung Api api, KEK Mandalika, KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan.
Namun demikian perlu di cermati persoalan sinergitas Undang – Undang Nomor 39 Tahun 2009 Tentang Kawasan Ekonomi Khusus ini dengan Peraturan Pemerintah Penganti Undang Undang (Perpu) Nomoer 1 Tahun 2007 Tentang Kawasan Perdagangan bebas di bintan, Batam, dan Karimun Sayangnya Undang – Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus ini mengamanatkan adanya peraturan khusus yang menyangkut hubungan industrial di Kawasan Ekonomi Khusus, misalnya pengaturan penetapan upah minimum di Kawsan Ekonomi Khusus, LKS Tripartit Khusus, Peijinan Tenanga kerja Asing ( TKA ), Pembentukan Forum Buruh di suatu Perusahaan, perjanjian keja Bersama dan sebagainya, apabila tidak di atur secara cermat kemungkinan akan menimbulkan persoalan baru berupa ketidak harmonisan dengan wilayah lain di luar Kawasan Ekonomi Khusus
Dalam persoalan upah minimum di Era Pemerintaha Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono , di keluarkan dua kali kebijakan yang penting dalam
9 mengantisipasi kondisi perekonomian pada saat itu yakni; pertama, pada tahun 2008 mengeluarkan SKB 4 Mentri yang intinya meminta Gubernur dalam menetapkan upah minimum, mengupayakan agar tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional, kedua pada tahun 2013 mengeluarkan Impres Nomor 9 Tahun 2013 tentang Upah Minimum yang intinya memberi perlindungan bagu usah mikro kecil dan menengah dari kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan pada saat itu. Namun perlu di sadari bahwa kebijakan pemerintah ini bersifat sementara, dan yang di perlukan sebenarnya adalah kebijakan pengupahan yang menyeluruh di dalamnya termasuk upah minimum.
Hingga tahun ke 8 Pemerintahannya, SBY masih berbenah pada penyelesaian sengkata upah (UMP,UMK) dan Outsourcing dengan menerbitkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor 19 Tahun 2012 tentang syarat – syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerja Kepada Perusahaan Lain
6. Era Presiden Joko Widodo
Sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla Nampak adanya keinginan kuat untuk membangun pola hubungan industrial yang saling menguntungkan, Dimana semua pihak di posisikan sejajar dan seimbang dalam menjalankan peran dan fungsinya. Tantangan kedepan adalah bagaimana pemerintahan Presiden Joko Widodo dapat mengakomodasi kepentingan stake Holder yang terlibat dalam proses produksi dan jasa sehingga pertemubuhan ekonomi per tahun mencapai 7 persen seperti yang di wacanakan dalam berbagai kesempatan
Pada akir tahun 2014, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Peraturan pemerintah ini merupakan peraturan pelaksanaan Undang – undang Nomor
10 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang mengatur secara lengkap mengenai upah, termasuk upah minimum yang selalu menjadi sumber gejolak hubungan industrial setiap tahun menjelang dan setelah penetapan upah minimum. Pokok – pokok pengaturan yang penting dalam peraturan pemenrintah ini antara lain:
a) Penegasan upah dan Non upah
b) Struktur dan skala upah yang wajib dibuat setiap Perusahaan
c) Formula penyesuaian upah yang jelas dipakai dalam penetapan upah setiap tahun
d) Penetapan upah berdasarkan atas kebutuhan hidup layak yang terdiri dari beberapa komponen. Komponen terdiri dari beberapa jenis kebutuhan hidup. Komponen dan jenis kebutuhan hidup ini di tinjau setiap 5 tahun
Presiden Joko Widodo sekarang ini juga telah menindaklanjuti pelaksanaan program program BPJS ketenagakerjaan dengan menerbitkan peraturan pemerintah RI Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Penyelengaraan Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian, Peraturan Pemerintah RI Nomor 45 Tentang Penyelengaraan Program Jaminan Pensiun Peraturan pemerintah Nomor 46 tentnag penyelengaraan Program Jaminan Hari tua. Demikian juga telah menindak lanjuti Program BPJS Kesehatan dengan Peraturan pemerintah Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan. Tantangan yang perlu mendapatkan perhatian adalah Upaya pemerintah mendorong BPJS, baik BPJS Ketenagakerjaan maupun BPJS Kesehatan, meningkatkan pelaksanaan program – program BPJS dengan meningkatkan pelayanan yang baik bagi para peserta. Tantangan khusus yang perlu di jawab dengan baik oleh pemenrintah adalah Tenaga Kerja Asing yang kian membanjiri, serta pola outsourcing yang terus mendapatkan sorotan dari berbagai pihak. Oleh
11 karena itu perlu segera direspon melalui kebijakan yang aspiratif dan implementatif
2. Apa saja aturan yang berlaku dalam hubungan industrial
Hubungan Industrial Di Indonesia,sejarah perkembangan Undang-Undang tentang perkerja/Buruh dimulai pada tahun 1887 ketika pemerintah Hindia-Belanda pertama kali mengeluarkan Ordonansi tentang Pengerahan Orang Hindia Belanda untuk Melakukan Pekerjaan di Luar Hindia-Belanda (Staatsblad Tahun 1887 Nomor 8), kemudian pada tahun 1925 mengeluarkan juga Organisasi tentang Pembatasan Kerja pada Anak dan Kerja Malam bagi Wanita (Staatsblad Tahun 1925 Nomor 647), kemudian pada tahun 1926 mengeluarkan Ordanisasi tentang Kerja Anak-anak dan Orang Muda di atas Kapal (Staatsblad Tahun 1926 Nomor 87). Selanjutnya, pada tahun 1939 pemerintah mengeluarkan kembali Ordanisasi yang mengatur tentang Pemulangan Buruh yang Diterima atau Dikerahkan dari luar Indonesia7. Pengaturan yang dikeluarkan pemerintah Hindia-Belanda untuk memberi perlindungan kepada pekerja/buruh masuk ke dalam perjanjian (kontrak) yang merupakan bagian dari Kitab Undang-undang Hukum Perdata ( KUHPerdata).
Sejak zaman kemerdekaan, pengaturan mengenai ketenagakerjaan di mulai pada tahun 1949 ketika pemerintah pertama kali mengeluarkan Ordanisasi Tahun 1949 tentang Pembatasan Kerja pada Anak (staatsblad Tahun 1949 Nomor 8), Pada tahun 1951 pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-Undang Kerja Tahun 1948 Nomor 12 dari Republik Indonesia untuk
7 Parlin Dony Sipayung DKK, Hukung Ketenagakerjaan,Yayasan Kita Menulis, 2022, hal 3
12 seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 2). Selanjutnya pada Tahun 1954 pemerintah mengeluarkan Undang - Undang Nomor 21 Tahu 1954 tentang Perjanjian Perubahan antara Serikat Buruh dan Majikan (Lembaran Negara Tahun 1954 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Nomor 598a), pada Tahun 1958 pemerintah mengeluarkan Undang - Undang Nomor 3 Tahun 1958 tentang Penempatan Tenaga Asing (Lembaran Negara tahun 1958 Nomor 8), tahun 1961 pemerintah mengeluarkan Undang - Undang Nomor 8 Tahun 1961 tentang Wajib Kerja Sarjana (Lembaran Negara Tahun 1961 Nomor 207, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2270), tahun 1963 pemerintah mengeluarkan Undang - Undang Nomor 7 Pnps Tahun 1963 tentang Pencegahan Pemogokan dan/atau Penutupan (Lock Out) di Perusahaan, Jawatan, dan Badan yang Vital (Lembaran Negara Tahun 1963 Nomor 67), tahun 1969 pemerintah mengeluarkan Undang - Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2912), tahun 1997 pemerintah mengeluarkan Undang - Undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 73, Tambahan Lembaran Nomor 3702), kemudian dengan Undang - Undang Nomor 11 Tahun 1998 tentang Perubahan Berlakunya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara 1998 Nomor 184, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3791), pada tahun 2000 pemerintah mengeluarkan Undang - Undang Nomor 28 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang - Undang Nomor 3 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang - Undang Nomor 11 Tahun 1998 tentang Perubahan Berlakunya Undang - Undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 240, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4042), dan pada tahun 2003 pemerintah mengeluarkan Undang - Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 39), dengan berlakunya
13 Undang-Undang ini maka seluruh peraturan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan seperti yang disebutkan di atas, dinyatakan tidak berlaku lagi.8
1. Apa saja perselisihan yang muncul dalam hubungan industrial dan bagaimana kebijakan pemerintah dalam menyelesaikan masalah tersebut?
I. Perselisihan Industrial
Dalam arti sempit perselisihan hubungan industrial berarti perselisihan antara pihak- pihak dalam perusahaan industri. Arti kamus 'perselisihan' adalah 'ketidaksepakatan', 'saling berselisih pendapat, kepentingan dll.' Jadi, perselisihan industrial adalah ketidaksepakatan/saling bertentangan gagasan, kepentingan dll antara pihak-pihak dalam industri. Dalam pengaturan industri pihak selalu pekerja dan manajemen9
Dalam proses bekerja, pekerja mengekspresikan kebutuhan, harapan, keinginan untuk pemenuhan dan kepuasan. Mereka menginginkan lebih banyak uang yaitu, upah yang menarik, tunjangan, insentif moneter yang manajemen mungkin tidak setuju untuk membayarnya. Pekerja menuntut tunjangan yang lebih baik, tunjangan kesehatan tetapi manajemen mungkin memberikan kurang dari kebutuhan mereka. Mereka menginginkan pengakuan, status, kekuasaan, kemajuan, kualitas kehidupan kerja yang lebih tinggi, tetapi manajemen mungkin enggan memberikannya. Dalam situasi seperti itu berkembang keadaan ketidaksepakatan/saling antagonisme antara pekerja dan manajemen yang melahirkan konflik industrial.
Jadi, perselisihan hubungan industrial merupakan suatu konsep yang umum, dan konflik ini berbentuk perselisihan hubungan industrial dalam suatu dimensi situasi tertentu.
8 Ibid
9 Dedi Rianto Rhardi, Hubungan Industrial Konsep dan teori,Tasikmalaya,2021, hal 50
14 Pada dasarnya, tidak ada perbedaan antara 'konflik industri' dan 'sengketa industri', variasi hanya terletak pada ruang lingkup dan cakupan.
Analisis ketentuan Undang-undang mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
1. Perselisihan hubungan industrial adalah perselisihan atau perbedaan (i) Antara pemberi kerja dan pemberi kerja, atau
(ii) Antara pengusaha dan pekerja atau (iii) Antara pekerja dan pekerja.
2. Perselisihan hubungan industrial terkait dengan (i) Pekerjaan atau (ii) Non-pekerjaan atau
(iii) Persyaratan kerja atau (iv) Kondisi kerja setiap orang.
Dari Analisa yang di paparkan di atas makan terdapat beberapa karakteristik perselisihan Industrial:
(1) Pihak:
Perselisihan industrial dapat terjadi di antara berbagai pihak, di antara pihak pihak tersebut adalah
(i) Pemberi kerja dan pemberi kerja, (ii) Pengusaha dan pekerja dan (iii) Pekerja dan Pekerja.
(2) Hubungan:
15 Masalah perselisihan mungkin berhubungan dengan pekerja atau majikan atau keduanya. Biasanya, ini berkaitan dengan pengangkatan atau pemberhentian seseorang; kondisi kerja atau kondisi kerja.
(3) Bentuk
Perselisihan industrial dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, seperti pemogokan, penguncian, Gherao, taktik lambat, pemogokan pena, dll.
(4) Lisan atau Tertulis
Perselisihan hubungan industrial tidak perlu ditulis. Ini mungkin lisan.
(5) Nyata:Ini harus nyata. Ini harus berhubungan dengan pekerjaan pekerja, pemutusan hubungan kerja, persyaratan kerja, kondisi kerja, dll. Hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi pekerja bukan merupakan perselisihan industrial.
(6) Bunga Substansial
Dalam hal yang berkaitan dengan perselisihan hubungan industrial, baik pengusaha maupun pekerja harus dilibatkan.
(7) Terkait dengan Industri
Suatu perselisihan dapat dimasukkan dalam perselisihan hubungan industrial apabila menyangkut perindustrian. Biasanya, perselisihan harus milik industri yang berfungsi. Perselisihan milik industri yang sejak itu ditutup tidak boleh dimasukkan ke dalamnya.
(8) Klarifikasi
Perselisihan hubungan industrial berkaitan dengan hal-hal yang sudah jelas.
Kecuali, kasus yang transparan penyelesaiannya tidak mungkin. Hal-hal yang jelas menemukan penyelesaian dengan mudah. Pihak yang berkepentingan dapat melindungi kepentingannya ketika masalahnya sudah jelas.
16 (9) Asal
Biasanya, perselisihan muncul ketika pekerja atau serikat pekerja mengajukan tuntutan mereka di hadapan majikan dan yang terakhir menolak untuk mempertimbangkannya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perselisihan industrial berarti tidak adanya perdamaian dalam industri. Ketika dalam suatu industri, persyaratan kedua belah pihak yang saling bertentangan menimbulkan perselisihan perburuhan yang buruk.10
Dari karakter diatas, perselisihan industrial di atas dapat kita klasifikasikan perselisihan tersebut menjadi 4 antara lain:
a) Sengketa Kepentingan
Konflik ini juga disebut 'konflik kepentingan' atau 'sengketa ekonomi'.
Perselisihan semacam itu berkaitan dengan penetapan syarat dan ketentuan kerja baru untuk pekerja badan umum, yaitu, yang mempengaruhi massa.
Umumnya, jenis perselisihan seperti itu berasal dari tuntutan serikat pekerja atau proposal untuk kenaikan upah atau pembayaran lain, tunjangan tambahan, keamanan kerja, atau persyaratan kerja lainnya. Tuntutan ini diajukan oleh serikat pekerja dengan maksud untuk berunding melalui perundingan bersama dan perselisihan ketika para pihak gagal dalam negosiasi untuk mencapai kesepakatan. Istilah 'konflik kepentingan' dan 'sengketa ekonomi' mengacu pada sifat masalah yang terlibat. Tidak ada prinsip yang ditetapkan untuk mencapai penyelesaian perselisihan kepentingan, dan harus ada jalan lain untuk kekuatan tawar-menawar, kompromi, dan terkadang ujian kekuatan ekonomi bagi para pihak untuk mencapai solusi yang disepakati. Perselisihan semacam itu biasanya diselesaikan atas dasar 'memberi dan menerima
10 Ibid, hal 52
17 b) Perselisihan atas Praktik Perburuhan yang Tidak Adil
Perselisihan tersebut timbul karena malpraktik yang dilakukan oleh manajemen terhadap pekerja atau serikat pekerja. Contoh malpraktik tersebut dapat berupa diskriminasi terhadap pekerja karena menjadi anggota serikat pekerja atau keterlibatan mereka dalam kegiatan serikat; gangguan, pengekangan atau pemaksaan karyawan untuk menggunakan hak mereka untuk berorganisasi, bergabung atau membantu serikat pekerja;
pembentukan serikat pekerja yang disponsori majikan dan memaksa pekerja untuk bergabung dengan serikat tersebut; penolakan untuk berunding dengan serikat pekerja yang diakui; merekrut karyawan baru pada saat mogok kerja yang tidak dinyatakan ilegal; kegagalan untuk melaksanakan penghargaan, penyelesaian atau kesepakatan; melakukan tindakan kekerasan. Praktik- praktik ini juga dikenal sebagai 'viktimisasi serikat pekerja'. Di beberapa negara, prosedur diberikan untuk menyelesaikan perselisihan semacam itu.
Dengan tidak adanya prosedur tersebut, perselisihan diselesaikan sesuai dengan ketentuan Undang-undang yang berkaitan dengan perselisihan industrial.
c) Keluhan atau Sengketa Hak
Perselisihan ini dikenal sebagai 'konflik hak' atau 'sengketa hukum'. Mereka melibatkan pekerja individu atau sekelompok pekerja dalam kelompok yang sama. Di beberapa negara, perselisihan semacam itu disebut 'perselisihan individu'. Perselisihan tersebut timbul dari hubungan kerja sehari-hari antara pekerja dan manajemen, biasanya sebagai protes pekerja atau pekerja terhadap tindakan manajemen yang dianggap melanggar haknya yang sah.
Keluhan biasanya muncul pada pertanyaan seperti disiplin, promosi, transfer atau pemecatan pekerja, pembayaran upah, tunjangan tambahan, lembur, tunjangan pensiun, senioritas aturan kerja, aturan cuti dll, yang bertentangan
18 dengan praktik dan mempengaruhi hak-hak mereka secara negatif. . Dalam beberapa kasus, perselisihan muncul terutama mengenai penafsiran dan penerapan perjanjian bersama.
Keluhan-keluhan tersebut, jika tidak ditangani sesuai dengan praktik, dapat memperburuk hubungan industrial dan dapat mengakibatkan perselisihan industrial, 'konflik hak' mengacu pada perselisihan berdasarkan dugaan pelanggaran hak yang ada atau dugaan perlakuan tidak adil oleh manajemen.
Ada, kurang lebih standar yang pasti untuk menyelesaikan perselisihan yaitu, ketentuan yang relevan dari Undang-undang atau perjanjian bersama, kontrak kerja, aturan atau undang-undang pekerjaan, atau kebiasaan atau kebiasaan.
d) Perselisihan Pengakuan
Jenis perselisihan seperti itu muncul ketika manajemen menolak untuk mengakui serikat pekerja untuk tujuan perundingan bersama. Isu-isu dalam kategori ini berbeda sesuai dengan penyebab yang menyebabkan manajemen menolak pengakuan. Di sini masalahnya adalah sikap. Namun penolakan manajemen mungkin dengan alasan bahwa serikat pekerja yang meminta pengakuan tidak mewakili sejumlah Pekerja tertentu. Dalam kasus seperti itu, penyelesaian masalah tergantung pada apakah aturan untuk pengakuan serikat pekerja ada atau tidak. Aturan tersebut dapat ditetapkan oleh hukum, karena mungkin Konvensional atau berasal dari praktik yang berlaku di negara tersebut.
II. Kebijakan Pemerintah dalam mengatasi Permasalahan tersebut
Hubungan industrial yang harmonis antara pengusaha dan pekerja/buruh merupakan faktor penting dalam dunia kerja. Namun, perselisihan dapat terjadi di antara kedua pihak tersebut. Untuk menyelesaikan perselisihan ini, Indonesia memiliki mekanisme yang telah
19 ditetapkan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial11
Berikut adalah beberapa mekanisme yang digunakan untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial di Indonesia:
a) Perundingan Bipartit Perundingan bipartit adalah solusi utama untuk mencapai kesepakatan dalam hubungan industrial. Pihak pengusaha dan pekerja/buruh bertemu untuk membahas permasalahan dan mencari solusi bersama. Dalam perundingan bipartit, kedua pihak memiliki kebebasan untuk menyampaikan pandangan dan kepentingannya. Tujuan utama dari perundingan bipartit adalah mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan dan menjaga hubungan kerja yang harmonis.
b) Mediasi melibatkan keterlibatan pihak ketiga netral, yang disebut mediator, untuk membantu menyelesaikan sengketa secara damai antara pengusaha dan pekerja/buruh. Mediator bertindak sebagai fasilitator dalam perundingan antara kedua pihak yang bertikai. Tujuan mediasi adalah mencapai kesepakatan yang dapat diterima oleh kedua belah pihak tanpa melalui proses peradilan.
c) Konsiliasi konsiliasi mirip dengan mediasi, namun konsiliasi melibatkan keterlibatan seseoorang konsiliator yang memberikan saran atau rekomendasi kepada semua pihak yang bertikai. Konsiliator tidak memiliki kekuasaan untuk mengambil Keputusan, tetapi memberikan nasehat yang dapat membantu kedua belalah pihak mencapai kesepakatan
d) Arbitrase adalah proses penyelesaian sengketa Dimana pihak – pihak yang berselisih setuju untuk membiarkan seseorang arbiter atau panel arbiter yang
11 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
20 indipenden mengambil Keputusan yang mengikat bagi kedua belah pihak.
Ketupusan arbitrase bersidat final dan mengikat dan biasanya tidak dapat diajukan banding ke pengadilan12
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Perkembangan hubungan Industrial di Indoensia dari Presiden Soekarno sampai saat ini dibawah Pemerintahan Presiden Joko Widodo mengalami perubahan yang signifkan, paradigma tentang hubungan industrial di Indonesia dari zaman kolonial, yang di anggap bahwa pekerja adalah budak dan di pelakukan semena mena, telah berubah, saat ini para pekerja memiliki posisi yang sama dangan para pemilik modal/pengusaha. Artinya saat ini bahwa pekerja dan pemilik modal/pengusaha memiliki hubungan keterkaitan dan saling membutuhkan
Untuk menyikapi hal tersebut pemerintah membuat regulasi berupa Undang – undang yang saat ini kita kenal dengan omnibuslaw, omnibuslaw sebagai barometer bagi pekerja dan pemilik modal/pengusaha dalam mengambil Keputusan dan Tindakan tentang bagaimana memperlakukan pekerja, sebaliknya bagaimana pekerja memperlakukan para pemilik modal/pengusaha dalam melaksanakan apa yang menjadi tangungjawab pekerja.
Sebagaimana yang telah di paparkan diatas, bahwa hubungan industrial muncul agar harmonisasi antara pekerja dan pemilik modal/pengusaha dapat berjalan dengan baik.
Dalam pelaksanaan kegiatan produksi dan interaksi sosial antara pekerja dan pemilik modal perselisihan antar keduanya tidak bisa di hindarkan, maka pemerintah membuat regulasi
12 Akbar Fauziah,http//readmore.id/Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di Indonesia: Mekanisme dan Contoh Kasus - Read More,diakses pukul 23.08 wita, tanggal 13/03/2023
21 undang undang untuk memfasilitasi hal tersebut seperti tertuang Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
B. Saran
Sejarah Hubungan Industrial di Indonesia: Sejarah hubungan industrial di Indonesia memiliki akar yang kuat dalam perjuangan buruh dan gerakan serikat pekerja.
Anda dapat mengulas peristiwa penting seperti Gerakan Buruh 1926, Pemberontakan Madiun 1948, dan Kongres Buruh Indonesia 1954. Jelaskan bagaimana peristiwa ini membentuk dinamika hubungan industrial di masa lalu dan memengaruhi regulasi ketenagakerjaan.
Perkembangan Undang-Undang Ketenagakerjaan: Analisis mengenai undang- undang ketenagakerjaan di Indonesia perlu mencakup Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Telusuri perubahan signifikan dalam regulasi ketenagakerjaan dari masa ke masa, termasuk peran pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja dalam pembentukan undang-undang.
Perselisihan Hubungan Industrial dan Mekanisme Penyelesaiannya: Fokus pada perselisihan hubungan industrial yang muncul antara pengusaha dan pekerja. Jelaskan jenis perselisihan, seperti perselisihan hak, kepentingan, dan pemutusan hubungan kerja. Tinjau mekanisme penyelesaian perselisihan, termasuk mediasi, arbitrase, dan peran lembaga seperti Dewan Pengupahan dan Pengadilan Hubungan Industrial.
22 DAFTAR PUSATAKA
UNDANG UNDANG
Staatsblad Tahun 1887 Nomor 8 tentang Ordonansi tentang Pengerahan Orang Hindia Belanda untuk Melakukan Pekerjaan di Luar Hindia-Belanda
Staatsblad Tahun 1925 Nomor 647 tentang Pembatasan Kerja pada Anak dan Kerja Malam bagi Wanita
Staatsblad Tahun 1926 Nomor 87 Ordanisasi tentang Kerja Anak-anak dan Orang Muda di atas Kapal
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) Pasal 42: Mengatur mengenai perjanjian kerja antara pekerja dan pengusaha. Pasal ini menetapkan bahwa perjanjian kerja harus memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti kesepakatan mengenai jenis pekerjaan, gaji, dan waktu kerja
staatsblad Tahun 1949 Nomor 8) tentang Pembatasan Kerja pada Anak
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-Undang Kerja
mengeluarkan Undang - Undang Nomor 21 Tahu 1954 tentang Perjanjian Perubahan antara Serikat Buruh dan Majikan
Undang - Undang Nomor 3 Tahun 1958 tentang Penempatan Tenaga Asing Undang - Undang Nomor 8 Tahun 1961 tentang Wajib Kerja Sarjana
Undang - Undang Nomor 7 Pnps Tahun 1963 tentang Pencegahan Pemogokan dan/atau Penutupan (Lock Out) di Perusahaan, Jawatan, dan Badan yang Vital
Undang - Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja
23 Undang - Undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan
Undang - Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan BUKU
Fahmi Indris, Dinamika Hubungan industrial,Yogyakarta,CV Budi Utama,2019
Luis Marsinah, Hubungan Industrial dan Kompensasi,Yogyakarta, CV Budi Utama,2012 Parlin Dony Sipayung DKK, Hukum Ketenagakerjaan,Yayasan Kita Menulis, 2022 Dedi Rianto Rhardi, Hubungan Industrial Konsep dan teori,Tasikmalaya, lentera ilmu madani 2021
KARYA ILMIAH
Argyo Demartoto, Hubungan Industrial Di Indonesia,Surakarta, Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Sebelas Maret,2017 INTERNET
Akbar Fauziah,http//readmore.id/Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di Indonesia: Mekanisme dan Contoh Kasus - Read More
24