• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH Ittihad dan Hulul

N/A
N/A
lord zarkos

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH Ittihad dan Hulul"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH Ittihad dan Hulul

Oleh:

Muhammad Zulfi Rio Dwitama Hanim Fikriyah

Program Studi Pendidikan Bahasa Arab

Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran Yogyakarta 2022

(2)

A. Pendahuluan

Harun Nasution berpendapat bahwa tasawuf adalah suatu jalan untuk mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan, sehingga ia dapat melihata-Nya dengan mata hati bahkan ruhnya dapat bersatu dengan Tuhan. Sedangan menurut Imam Junaid tasawuf adalah kondisi dimana Allah SWT mematikan atau menjauhkan seseorang dari dirinya sendiri dan

menghidupkannya di dalam-Nya. Definisi lain dari tasawuf yaitu suatu upaya untuk mensucikan diri (tazkiyatun nafs) dengan cara menjauhkan diri dari pengaruh kehidupan dunia dan

memfokuskan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berdasarkan sejarahnya tasawuf mengalami perkembangan, pada abad pertama dan kedua tasawuf mengajarkan tentang ajaran zuhud, pada abad ketiga ditandai dengan munculnya inti ajaran tasawuf yang terbagi menjadi tiga, yaitu ilmu jiwa, akhlak dan ilmu metafisika. Dan puncaknya pada abad ke enam Hijriyah terjadi perdebatan antara ulama tasawuf dan ulama syariat karena munculnya pemikiran hulul dan ittihad yang dihidupkan kembali oleh ulama tasawuf.

Pemikiran-pemikiran yang muncul kembali termasuk dalam tasawuf falsafi. Tasawuf falsafi merupakan tasawuf yang mengkonsep ajarannya untuk mengenali Tuhannya (ma’rifat) melalui pendekatan filsafat atau rasio tingkat tinggi, selain itu tidak hanya mengenali Tuhannya saja (ma’rifatullah) tetapi bisa melebihi tingkat tinggi lagi daripada itu yaitu penyatuan antara manusia dengan Tuhan atau ittihad serta penyatuan antara kodrat illahi dengan kodrat manusia atau hulul. Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang banyak menggunakan pemikiran-pemikiran filsafat

Hulul dan ittihad erat terkait dengan tauhid yang merupakan inti ajaran islam. Al-Ghazali membagi tauhid menjadi 4 tingkatan. Pertama, tauhid yang hanya di ucapkan lidah tapi di ingkari oleh hati; ucapan orang munafik. Kedua, tauhid yang di ucapkan lidah sekaligus diyakini hati;

tauhid muslim awam.ketiga, tauhid yang di barengin dengan penyaksian melalui penyingkapan [kasyf] bahwa yang beragam dan banyak berasal dari yang esa; tauhid orang yang di dekatkan [muqorrabin]. Keempat. tauhid shiddiqin yang melihat dalam wujud hanya satu, yang oleh para sufi disebut sima dalam tauhid [fana' fi al-tauhid], yang rahasia ilmu ini tidak seharusnya di tulis dalam buku. Oleh karena itu dalam memahami Hulul dan Ittihad para ulama tidak bergantung pada penalaran rasional semata, untuk memahami doktrin ini secara intelektual seseorang juga memerlukan kecerdasan intuitif -kontemplatif dan untuk sepenuhnya mengalami seseorang haruslah menjadi Sufi. Dalam kesempatan kali ini, kami berusaha untuk membahas lebih dalam tentang pengertian ittihad, pengertian Hulul, serta persamaan dan perbedaan ittihad dan hulul.

(3)

B. Pembahasan

a. Pengertian Ittihad

Ittihad adalah penyatuan atau berpadunya dua hal, artinya penyatuan dengan Tuhan tanpa disertai sesuatu apapun. Menurut para sufi ittihad berarti barcampur atau menyatunya antara khaliq dan makhluk. Al ittihad merupakan hakikat tasawuf yang tertinggi, untuk mencapai tingkatan ittihad menurut ulama tasawuf seorang sufi harus melewati tahapan fana’ dan baqa’.

Kata fana’ berarti hancur, sirna, dan lenyap, dan juga keadaan dari sesuatu yang tidak berakhir. Menurut ulama sufi fana’ yaitu hilnagnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Dengan kata lain hilangnya sifat –sifat

kemanusiaan dan digantikan dengan sifat ketuhanan.1

Adapun kata baqa’, secara etimologis berasal dar kata baqiya yang berarti tetap. Dalam pemahaman dunia tasawuf baqa’ adalah mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah SWT. Baqa’

adalah istilah di kalangan sufi yang akan diperoleh setelah melalui kegiatan pemusatan spiritual, penghayatan zikir, pencurahan terhadap segala sifat kebajikan, pengabdian yang sebenarnya kepada Tuhan, pemusnhan dan penghapusan unsur-unsur kejiwaan (fana’), maka yang tersisa dalam diri seorang sufi adalah sesuatu yang hakiki dan sesuatu yang abadi di balik segala

penampilan luaran. Dalam tasawuf, fana’ dan baqa tidak dapat dipisahkan dalam kaitannya untuk mencapai ittihad. Beberapa bentuk fana’ dalam kaitannya dengan baqa’ untuk mencapai ittihad yaitu, pertama, fana’ ash-shifat, yaitu lenyapnya sifat tercela, berganti dengan baqa’ tetapnya sifat yang baik. Kedua, fana’ al-iradah, yaitu fana’ nya manusia dari kehendaknya berganti dengan tetapnya kehendak Tuhan pada dirinya. Ketiga, fana’ an-nafs yaitu hilangnya kesadran manusia terhadap dirinya berganti dengan tetapnya kesadaran tentang Allah SWT pada diri sufi.2

Dalil tentang ittihad terdapat pada Q.S. Qaaf ayat 16 yang artinya: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”.

1 Muhamad Alif, “Tauhid dalam Tasawuf: Antara Ittihad dan Ittisal, Aqlania, vol, 08, 2017, Hal. 218-219.

2 Firmansyah, “Analisis Paham Al-Ittihad dan Al Hulul Dalam Tradisi Tasawuf Islam, Jurnal Kajian islam Interdisiplinier, vol. 01, No. 02, 2021. Hal. 211-213.

(4)

Dalam memahami tekas ayat diatas, penganut paham Ittihad berkeyakinan bahwa persatuan rohaniah antara Tuhan dan makhluk dapat saja terjadi, dan jalan untuk sampai kepada hal tersebut yaitu dengan tazkiyatun nafs.

b. Tokoh Ittihad

Abu Yazid al bustami merupakan tokoh tasawuf yang memperkenalkan paham Al Ittihad pertama kali. Abu Yazid lahir di bustam, bagian timur laut Persia tahun 188 H (847 M). Nama lengkapnya yaitu Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Adam bin Surusyan, semasa kecil beliau dianggil Thaifur.Dalam perjalanan menjadi seorang sufi, Abu Yazid memakan waktu puluhan tahun. Sebelum menjadi seorang sufi, ia terlebih dahulu menjadi seorang seorang Fakih dari mazhab Hanafi. Dalam perjalanan kehidupan zuhud selama 13 tahun, abu Yazid mengembara dari gurun-gurun pasir di Syam hanya dengan tidur, makan dan minum yang sedikit sekali.

Abu yazid adalah orang pertama yang mempopulerkan sebutan fana dan baqa’ dalam tasawuf. Ia adalah syaikh yang tinggi maqam dan kemuliaannya, ia sangat istimewa dalam kalangan sufi. Ia merupakan salah satu sufi terbesar karena ia menggabungkan penolakan

kesenangan dunia yang ketat dan kepatuhan pada agama dengan gaya intelektual yang luar biasa.

Ajaran tasawuf Abu Yazid Al Bustami antara lain:

1. Fana dan Baqa

Pencapaian Abu Yazid ke tahap fana’ dicapai setelah meninggalkan segala keinginan selain keinginan kepada Allah SWT, seperti yang terdapat dalam ceritanya. “ setelah Allah menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku

mendengar puas dari- Nya. Maka, diriku dicap dengan keridhaan-Nya. “Engkaulah yang aku inginkan,” jawabku, “ karena Engkau lebih utama daripada anugerah, lebih besar daripada kemurahan, dan melalui engkau aku mendapatkan kepuasan dalam diriMu…”3

2. Ittihad

3 Muhammad Toriqulatif, “Abu Yazid Al Bustami dan Pengalaman Tasawufnya”, Al falah, Vol. XVIII, No. 2, 2018, Hal. 258.

(5)

Ittihad merupakan tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia melalui tahpan fana dan baqa. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, bak substansi maupun perbuatannya. Dengan fana Nya Abu Yazid meninggalkan dirinya dan pergi ke hadirat Tuhan. Bahwa ia telah berada dekat pada Tuhan dapat dilihat dari Syathahat yang diucapkannya. Ketika berada dalam tahapan ittihad, Abu Yazid berkata:

“Tuhan berkata, “Semua mereka- kecuali engkau- adalah makhluk.” Aku pun berkata “ Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau”

Apa yang dikatakan Abu Yazid bukan berarti Abu Yazid sebagai Tuhan, tetapi kata-kata itu adalah suara Tuhan yang disalurkan melalui lidah Abu yazid. Proses ittihad di sisi Abu Yazid adalah naiknya jiwa manusia ke hadirat Allah, bukan melalui reinkarnasi, sirnanya segala sesuatu dari kesadaran dan pandangan yang disadari dan dilihat hanya hakikat yang satu yakni Allah.

c. Pengertian Hulul

Secara harfiah istilah hulûl berasal dari kata kerja halla-yahullu-hulûlan, yang berarti menempati, menjelma atau inkarnasi (incarnation). Dalam tasawuf filosofis, hulûl adalah

pengalaman spiritualseorang sufi, ketika demikan dekat dengan Allah, bersahabat, mengenal dan dikennal Allah, mencintai dan dicintai Allah dengan mendalam; kemudian Allah memilih sufi tersebut, menempati dirinya danmenjelma pada pada diri sufi tersebut.

Jadi, menurut pandang Al-Hallaj, ketika hulûl benar-benar terjadi pada diri seorang sufi, maka pada hakikatnya telah terjadi empat proses yang berikut:

 Tuhan turun mendekati sufi tersebut; Tuhan telah memilih sufi tersebut untuk dijadikan tempat hulûl

 Tuhan menjelma pada diri sufi

 Tuhan menyatu dengan sufi tersebut

Konsep hulûl secara filosofis dibangun di atas landasan teori lahut dan nasut. Lahut berasal dari perkataan ilah yang berarti tuhan, sedangkan lâhût berarti sifat keilahian atau ketuhanan.

(6)

Nâsût berasaldari perkatan nas yang berarti manusia; sedangkan nasut berarti sifat kemanusiaan. Dalam pandangan Al-Hallaj, yang memperkenalkan konsep hulûl dalam tasawuf filosofis, Tuhan memiliki lâhût dan nâsût.

Demikian juga manusia memiliki lâhût dan nâsût. Lahut Tuhan adalah dzat Allah yang ghaib al-ghuyub;sedangkan nâsût Tuhan adalah ruh Allah yang ditiupkan ke dalam tubuh manusia. Lahut manusia ialah ruh Allah yang ditiupkan ke dalam diri manusia; sedang nâsût manusia adalah sifat basyariyah, yaknisifat kemanusiaan manusia.

Menurut Al-Hallaj, hulûl dimungkinan terjadi antara nâsût Allah dengan lâhût manusia, yakni antara ruh Allah dengan ruh manusia, karena ruh manusia berasal dari ruh Allah.

Sebagaimana disebutkan pada ayat Al-Qur`an yang berikut:

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud, menghormati Adam”. (Q. S. al-Hijr/15 : 29 dan Q.S. Shad/38: 72).

Ayat di atas, secara harfiah, menunjukkan salah satu proses penciptaan manusia itu adalah Allah meniupkan ruh ke dalam janin (embrio), “Aku (Allah) telah meniupkan ruh-Ku ke dalam tubuh Adam”. Jadi, pada diri Nabi Adam dan manusia pada umumnya, menurut

pandangan para pendukung tasawuffilosofis, terdapat ruh Allah yang menjadi ruh manusia, karena Allah telah meniupkannya, ketika janin berusia 16 minggu setelah proses reproduksi sempurna. Ruh yang ditiupkan Allah ke dalam janin tetap milik Allah karena Allah tidak menghibahkanya. Manusia hanya memiliki hak guna dan hak pakai dalam batas waktu yang ditentukan Allah. Oleh sebab itu, ruh manusia sepenuhnya berada dalam penguasaan Allah dan menjadi wewenang Allah secara mutlak.

Ketika ajal sudah tiba, maka Allah menyabut ruhmanusia untuk dikembalikan kepada- Nya. Manusia yang berhasil membersihkan jiwanya dari kekufuran,kemusyrikan, kemunafikan, berbagai penyakit hati dan sifat-sifat tercela, maka jiwanya akan kembali bersih Tasawuf filosofis, yakni menghayati wujud Allah dengan kepekaan rasa dan ketajaman pemikiran,telah mengundangkan perdebatan di kalangan kaum Muslimin yang terbagi ke dalam tiga golongan.

(7)

1. golongan yang mendukung Al-Hallaj. Mereka meyakini bahwa Al-Hallaj tidak menjadi kafirdengan mengemukakan hulul tersebut.

2. para ulama fiqh, terutama dari kalangan Hanabilah, parapengikut Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka menyatakan bahwa Al-Hallaj telah sesat, bahkan telah keluardari Islam, karena menyatakan bahwa Allah telah hulul pada dirinya. Al-Hallaj telah mengambil teorihulûl dari kaum Nasrani yang meyakini bahwa Allah telah memilih tubuh Nabi Isa, menempati, dan menjelma pada diri Nabi Isa putra Maryam. Nabi Isa, dalam keyakinan Nasrani, menjadi Tuhan, karenanilai kemanusi-aannya telah hilang. Dalam keyakinan Nasrani Hulul Allah pada diri Nabi Isa bersifatfundamental dan permanen.

3. para ulama yang bersifat moderat dalam memahami hulul yangdialami Al-Hallaj.

Mereka, seperti Al-Ghazali meyakini bahwa Al-Hallaj tidak menjadi kafir atau keluardari Islam dengan mengalami hulul tersebut, tetapi ia tidak sepatutnya mengemukan

pandangan hulultersebut di depan orang banyak,karena akan menimbulkan fitnah. Hulul seharusnya hanya menjadipengalaman pribadi saja, bukan konsumsi untuk khalayak.

Para ulama yang moderat ini berpendapatbahwa hulûl-nya Allah pada diri Al-Hallaj bersifat sementara; tidak fundamental dan permanen. Al-Hallaj tidak menjadi Tuhan dan tidak menyatakan dirinya Tuhan. Ia hanya mengucapkan kata-kata syatahat, ana al-Haqq (aku Tuhan yang Maha Benar) yang tidak disadarinya selama syatahat. Oleh karenanya Al-Hallaj tidak bisa divonis kafir atau murtad, keluar dari keyakinan Islam. Ia pun tetap manusia, tidak menjadi Tuhan dan tidak kehilangan nilai kemanusiannya.

d. Tokoh Hulul

Manshur al-Hallaj lahir di Persia (Iran) pada tahun 224 H/858 M. Nama lengkapnya adalah Abu al-Mughist al-Husain ibn Mansur ibn Mahma al-Baidlawi al-Hallaj. Ayahnya bekerja sebagai pemital kapas. Kakeknya yang bernama Mahma adalah seorang Majusi. Ketika

masih kecil, ayahnya pindah ke Tustar, kota kecil dikawasan Wasith, dekat Baghdad.

Masa kecilnya banyak dihabiskan untuk belajar ilmu keagamaan. Sejak kecil, al-Hallaj mulai belajar membaca al-Qur’an, sehingga berhasil menjadi penghafal al-Qur’an (hafidz).

Pemahaman tasawuf pertama kali ia kenal dan pelajari dari seorang sufi yang bernama Sahl al- Tustari. Karena pengembaraannya yang intens, maka ia dikenal sebagai seorang sufi

yang berkelana ke berbagai daerah. Berkelananya ke berbagai daerah, mengantarkan ia dapat berkelana, bertmu, berteman dan bahkan berguru kepada para sufi kenamaan pada masa itu.

Menginjak usia 20 tahun, al-Hallaj meninggalkan Tustar menuju kota Basra dan berguru kepada Amr Makki. Untuk memperdalam keilmuannya, seterusnya pindah ke kota Bagdad untuk

(8)

menemui sekaligus berguru kepada tokoh sufi modern yang termasyhur, yaitu al-Junaid

al- Baghdadi. Ia digelari al-Hallaj karena penghidupannya yang dia peroleh dari memintal wol.

Dalam sumber lain dijelaskan, bahwa disebut al- Hallaj karena dapat membaca pikiran-pikiran manusia yang rahasia, maka terkenal dengan Hallaj al-Asror, penenun ilmu ghaib.

Selanjutnya, al-Hallaj muda pergi ke kota Makkah. Di kota suci ini, ia menetap selama kurang lebih satu tahun. Selama di kota suci ini ia tinggal dan bermukim di pelataran Masjid al- Haram sambil melakukan praktek kesufiannya. Pada situasi dan kondisi seperti inilah, ia mengalami dan merasakan sebuah pengalaman spiritual yang tiada tara bandingannya. Dalam sebuah pengakuannya, ia telah mengalami pengalaman mistik yang luar biasa, yang pada wacana berikutnya kemudian terkenal dengan istilah hulul.

Pada ujung proses merasakan dan mengalami pengalaman spiritual yang luar bisa tersebut, al-Hallaj memutuskan untuk kembali ke kota Baghdad dan menetap di kota ini sambil terus menyebarkan ajaran tasawufnya. Tetapi demikian, keadaan menentukan lain dan

memaksanya menjadi rakyat yang tertindas dari kekejaman penguasa saat itu. Pada tanggal 18 Dzulkaidah 309 H / 922 M ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh pengusa Dinasti Abbasiyah (Khalifah Al-Muktadir Billah). Motive dan latar belakang penangkapan dan vonis hukuman mati ini adalah bermuara dari tuduhan membawa paham hulul yang

dianggap menyesatkan ummat. Sisi lain, al-Hallaj juga dituduh mempunyai hubungan dengan Syiah Qaramitah.

C. Kesimpulan

Hulul adalah allah menyatu ke dalam hamba sedangkan ittihad adalah hamba menyatu kepada allah. ittihad dan hulul itu cuman di khayal/ di rasa tidak boleh masuk ke ranah keyakinan.

syatahat adalah (berbicara yang nyeleneh) para wali. Demikianlah dalam perspektif al-Hallaj dan al-Bustami bahwa Tuhan dan manusia dipahami memiliki dua sifat yang sama. Suatu saat apabila manusia berhasil menghilangkan sifat kemanusiaannya dengan membersihkannya lewat berbagai ibadah yang tulus ikhlas hanya mencari keridlaan Allah, maka dipastikan ia akan bisa bertemu dan menyatu dengan sifat Allah. Sebaliknya, apabila manusia tanpa mau berusaha menghilangkan atau melenyapkan sifat kemanusiaannya, maka sulit untuk bisa dipastikan akan bertemu dan menyatu dengan Allah.

(9)

Daftar Pustaka

Muhamad Alif, “Tauhid dalam Tasawuf: Antara Ittihad dan Ittisal, Aqlania, vol, 08, 2017, Hal.

218-219.

Firmansyah, “Analisis Paham Al-Ittihad dan Al Hulul Dalam Tradisi Tasawuf Islam, Jurnal Kajian islam Interdisiplinier, vol. 01, No. 02, 2021. Hal. 211-213.

Abd. Hadi, M., W, dalam pengantar Saleh Abdul Sabur, Tragei al-Hallaj, (Bandung, Pustaka, 1976)

https://arieslailiyah.blogspot.com/2020/11/ittihad-dan-hulul.html http://www.gudangmakalah.site/2016/03/ijtihad-dan-hulul.html

Referensi

Dokumen terkait