• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Konsep Al-Hulul & Al-Ittihad

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Konsep Al-Hulul & Al-Ittihad"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MEMBEDAH KONSEP AL-HULUL DAN AL-ITTIHAD MEMBEDAH KONSEP AL-HULUL DAN AL-ITTIHAD

DALAM DUNIA TASAWUF DALAM DUNIA TASAWUF

(Studi T

(Studi Tentang Konsep Ketuhanan Husain Ibn entang Konsep Ketuhanan Husain Ibn Manshur al-Hallaj dan AbuManshur al-Hallaj dan Abu Yazid al-Bustami)

Yazid al-Bustami)

A

A.. PPrroolologg

Manu

Manusia sia adaladalah ah makhmakhluk luk yang paling yang paling sempsempurna bila urna bila dibadibandingndingkankan dengan makhluk lain. Sejak lahir, manusia telah dibekali dengan berbagai dengan makhluk lain. Sejak lahir, manusia telah dibekali dengan berbagai kem

kemampampuanuan. . KemKemampampuan uan untuntuk uk menmendendengargarkankan, , melmelihaihat t dadan n memmemahaahamimi  berbagai fenomena alam berdasarkan kecerdasan dengan sarana panca indera  berbagai fenomena alam berdasarkan kecerdasan dengan sarana panca indera

yan

yang g semsempurpurna. na. BahBahkan kan daldalam am krokronolnologi ogi penpencipciptaataannynnya, a, sensengajgaja a AllAllahah memilihkan dengan prosedur (cara)

memilihkan dengan prosedur (cara) yang berbeda.yang berbeda.

Secara umum, dalam diri manusia terdapat dua dimensi yang antara Secara umum, dalam diri manusia terdapat dua dimensi yang antara kedu

keduanya anya salinsaling g mendmendukunukung.g.  Pertama , Pertama , dimedimensi nsi jasmajasmaniyaniyah h (jasa(jasad) d) yangyang

dalam kronologi penciptaannya berasal dari tanah.

dalam kronologi penciptaannya berasal dari tanah.11Fenomena ini membangunFenomena ini membangun sebuah argumentsi yang kokoh bahwa secara jasmaniyah manusia berasal dari sebuah argumentsi yang kokoh bahwa secara jasmaniyah manusia berasal dari tanah dan yang memuaskannya, semua berasal dari tanah serta ketika matipun, tanah dan yang memuaskannya, semua berasal dari tanah serta ketika matipun,  jasad dikembalikan ke tanah.

 jasad dikembalikan ke tanah. Kedua Kedua, dimensi ruhani (ruh) yang berasal dari, dimensi ruhani (ruh) yang berasal dari

Allah.

Allah.22 Konsekuensi logisnya, bahwa ruh berasal dari Allah dan yang bisaKonsekuensi logisnya, bahwa ruh berasal dari Allah dan yang bisa memuaskannya juga sesuatu yang berasal dari Allah serta ketika manusia memuaskannya juga sesuatu yang berasal dari Allah serta ketika manusia dinyatakan mati, maka ruh

dinyatakan mati, maka ruh kembali kepada Allah.kembali kepada Allah. D

Diimmeennssi i jjaassaadd, , mmeennggaannttaarrkkaan n mmaannuussiia a mmeemmiilliikki i ffiittrraahh (kece

(kecenderunderunganngan) ) membmembutuhkutuhkan an sesusesuatu atu yang yang bersibersifat fat matermateri. i. SebaSebaliknyliknya,a, dimensi ruh mengantarkan manusia memiliki fitrah insting keberagaman dimensi ruh mengantarkan manusia memiliki fitrah insting keberagaman33,, yang cenderung bernuansa spiritualis. Antara keduanya menjadi satu kesatuan yang cenderung bernuansa spiritualis. Antara keduanya menjadi satu kesatuan yang utuh dalam diri manusia. Perspektif manusia seperti ini memberikan yang utuh dalam diri manusia. Perspektif manusia seperti ini memberikan  pilihan yang bersifat probability bahwa manusia bisa terjerumus ke dalam  pilihan yang bersifat probability bahwa manusia bisa terjerumus ke dalam   j

  jururanang g kekeniniststaaaan n yayang ng jajauh uh dadari ri peperikrikememananususiaiaan an atatau au babahkhkan an mamampmpuu

11Lihat : al-Qur’an al-Karim Surat al-Mukminun (23) : 12-14.Lihat : al-Qur’an al-Karim Surat al-Mukminun (23) : 12-14.

22LIhat : al-Qur’an al-Karim surat al-Hijr (15) : 29 LIhat : al-Qur’an al-Karim surat al-Hijr (15) : 29 dan lihat juga dalam surat dan lihat juga dalam surat Shaad (38) :Shaad (38) :

72. 72.

33M. Quraish Shihab,M. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, Al-Asma’ al-Husna Dalam Perspektif al- Menyingkap Tabir Ilahi, Al-Asma’ Husna Dalam Perspektif

al-Qur’a

(2)

memahami secara komprehensif dan

memahami secara komprehensif dan mengantarkannymengantarkannya mendapat derajat a mendapat derajat yangyang tinggi baik

tinggi baik dihadapan dihadapan Allah maupun dihadapan sesama manusia.Allah maupun dihadapan sesama manusia.

Manusia yang mampu memahami dirinya secara utuh, maka akan Manusia yang mampu memahami dirinya secara utuh, maka akan sampai pada

sampai pada pengetahuan kedekatannypengetahuan kedekatannya a tentang Tuhan. Artinytentang Tuhan. Artinya, manusia a, manusia yangyang mampu mengenal dirinya sendiri, maka sungguh ia telah mengetahui dan mampu mengenal dirinya sendiri, maka sungguh ia telah mengetahui dan mengenal

mengenal TuhanTuhannya.nya.44 Pada tataran ini, tidak ada batas dan tidak ada sesuatuPada tataran ini, tidak ada batas dan tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi hubungan langsung antara manusia dengan Allah. yang dapat menghalangi hubungan langsung antara manusia dengan Allah. 55 Men

Menuruurut t HarHarun un NasNasutiution on “In“Intistisari ari dardari i mismististisme, me, tertermasmasuk uk diddidalaalamnymnyaa sufisme adalah kesadaran adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia sufisme adalah kesadaran adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhannya dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran dengan Tuhannya dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran  berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk i

 berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad bersatu denganttihad bersatu dengan Tuhan.

Tuhan.66

Manshur al-Hallaj

Manshur al-Hallaj dalam pengalaman spiritualnya, menemukan sebuahdalam pengalaman spiritualnya, menemukan sebuah formulasi komunikasi ideal antara manusia dengan Tuhannya. Formulasi ini formulasi komunikasi ideal antara manusia dengan Tuhannya. Formulasi ini dib

dibangangun un berberdasdasarkarkan an perpersesepsipsinya nya yayang ng utuutuh h babahwa hwa anantartara a mamanusnusia ia dadann Tu

Tuhan memhan memiliki dua siiliki dua sifat yanfat yang g samasama, yaitu, yaitu al-Lahut al-Lahut dandan al-Nasut al-Nasut . . ApabApabilaila

kedua sifat ini melebur jadi satu, maka berarti antar manusia dengan Allah kedua sifat ini melebur jadi satu, maka berarti antar manusia dengan Allah sebagai Tuhannya bisa menyatu. Momentum menyatunya antara

sebagai Tuhannya bisa menyatu. Momentum menyatunya antara al-Lahut al-Lahut dandan al-Nusut 

al-Nusut ini dalam teori tasawufnya Mansur al-Hallaj disebutini dalam teori tasawufnya Mansur al-Hallaj disebut al-Hullul al-Hullul ..

Abu

Abu YYazid azid al-Bual-Bustami stami dalam dalam pengpengalamalaman an spirispiritualnytualnya a menemenemukamukann sebuah formulasi yang dikenal dengan istilah

sebuah formulasi yang dikenal dengan istilah fana fana’,’, baqa’ baqa’ , dan, dan ittihad ittihad , istilah, istilah

ini lahir setelah beliau mengungkapkan perkataan ganjilnya yang seolah-olah ini lahir setelah beliau mengungkapkan perkataan ganjilnya yang seolah-olah  bertentangan dengan kebiasaan sehari-hari pada pengalaman banyak orang  bertentangan dengan kebiasaan sehari-hari pada pengalaman banyak orang

B.

B. KonsKonsep al-Hep al-Hulul dalulul dalam teoam teorinyrinya Mansa Mansur al-ur al-HallajHallaj 1.

1. SkSketetsa sa BiBiogograrafi fi dadan n BaBangngununan an PePemimikikiraran n KeKeagagamamaaaan n MaMansnsur ur al al--Hallaj.

Hallaj.

44 M. M. AmAmin in SyuSyukurkur,,   Zikir Menyembuhkan   Zikir Menyembuhkan KankeKankerku rku : : PengalPengalaman aman KeseKesembuhanmbuhan

 Seseorang Penderita Kanker Ganas yang Divonis Memiliki Hidup Hanya Tiga Bulan

 Seseorang Penderita Kanker Ganas yang Divonis Memiliki Hidup Hanya Tiga Bulan, Jakarta,, Jakarta,

Hikmah (PT Mizan Publika), Cetakan II, 2007, hal. 57. Hikmah (PT Mizan Publika), Cetakan II, 2007, hal. 57.

55Yusuf QardawiYusuf Qardawi , , Al-Iman wa al-Hayat  Al-Iman wa al-Hayat , (terj. Jaziratul Islamiyah), Jakarta, Mitra Pustaka,, (terj. Jaziratul Islamiyah), Jakarta, Mitra Pustaka,

Cetakan V, 2002, hal. 65. Cetakan V, 2002, hal. 65.

66 Harun Nasution,Harun Nasution, Falsafah dan Mistisme dalam IslamFalsafah dan Mistisme dalam Islam (Jakarta Bulan Bintang, 1973),(Jakarta Bulan Bintang, 1973),

56. 56.

(3)

Mans

Manshur al-Hallahur al-Hallaj j lahir di lahir di PersiPersia (Iran) a (Iran) pada tahun 224 H/858 M.pada tahun 224 H/858 M.   Na

  Nama ma lenlengkagkapnypnya a adaadalah Abu lah Abu al-al-MugMughishist t al-al-HusHusain ain ibn ibn ManMansur sur ibnibn Mahma al-Baidlawi al-Hallaj

Mahma al-Baidlawi al-Hallaj..77 Ayahnya bekerja sebagai pemital kapas.Ayahnya bekerja sebagai pemital kapas. Kakeknya yang bernama Mahma adalah seorang Majusi.

Kakeknya yang bernama Mahma adalah seorang Majusi.88 Ketika masihKetika masih ke

kecil, cil, ayayahnahnya ya pinpindah dah ke ke TTustustarar, , kotkota a kekecil cil dikdikawaawasan san WWasiasith, th, dekdekatat Baghdad.

Baghdad.

Masa kecilnya banyak dihabiskan untuk belajar ilmu keagamaan. Masa kecilnya banyak dihabiskan untuk belajar ilmu keagamaan. Sejak kecil, al-Hallaj mulai belajar membaca al-Qur’an, sehingga berhasil Sejak kecil, al-Hallaj mulai belajar membaca al-Qur’an, sehingga berhasil menjadi penghafal al-Qur’an (

menjadi penghafal al-Qur’an (hafidz)hafidz). Pemahaman tasawuf pertama kali ia. Pemahaman tasawuf pertama kali ia

kenal dan pelajari dari seorang sufi yang bernama

kenal dan pelajari dari seorang sufi yang bernama Sahl al-TustariSahl al-Tustari..99KarenaKarena

 pengembaraa

 pengembaraannya nnya yang intens, maka ia dikenayang intens, maka ia dikenal sebagai seorang sufi yanl sebagai seorang sufi yangg   b

  bererkekelalana na ke ke beberbrbagagai ai dadaererahah. . BeBerkrkelelananananya ya ke ke beberbrbagagai ai dadaererahah,, mengantarkan ia dapat berkelana, bertmu, berteman dan bahkan berguru mengantarkan ia dapat berkelana, bertmu, berteman dan bahkan berguru kepada para sufi kenamaan pada masa itu.

kepada para sufi kenamaan pada masa itu.

Menginjak usia 20 tahun, al-Hallaj meninggalkan Tustar menuju Menginjak usia 20 tahun, al-Hallaj meninggalkan Tustar menuju ko

kota ta BaBasrsra a dadan n bebergrgururu u kekepapadada   Am  Amr r MakMakkiki. . UnUntutuk k memempmpererdadalalamm

keilmuannya, seterusnya pindah ke kota Bagdad untuk

keilmuannya, seterusnya pindah ke kota Bagdad untuk menemui sekaligusmenemui sekaligus  berguru kepada tokoh sufi modern yang termasyhur, yaitu

 berguru kepada tokoh sufi modern yang termasyhur, yaitu al-Junaid al-Junaid al- Baghdadi

 Baghdadi. Ia digelari. Ia digelari al-Hallajal-Hallaj karena penghidupannya yang dia perolehkarena penghidupannya yang dia peroleh

dari memintal wol.

dari memintal wol.1010 Dalam sumber lain dijelaskan, bahwa disebut al-Dalam sumber lain dijelaskan, bahwa disebut al-Hallaj karena dapat membaca pikiran-pikiran manusia yang rahasia, maka Hallaj karena dapat membaca pikiran-pikiran manusia yang rahasia, maka terkenal dengan

terkenal dengan Hallaj al-Asror  Hallaj al-Asror , penenun ilmu ghaib., penenun ilmu ghaib.1111

Selanjutnya, al-Hallaj muda pergi ke kota Makkah. Di

Selanjutnya, al-Hallaj muda pergi ke kota Makkah. Di kota suci ini,kota suci ini, ia menetap selama kurang lebih satu tahun. Selama di kota suci ini ia ia menetap selama kurang lebih satu tahun. Selama di kota suci ini ia tinggal dan bermukim di pelataran Masjid al-Haram sambil melakukan tinggal dan bermukim di pelataran Masjid al-Haram sambil melakukan  praktek kesufiannya. Pada situasi dan kondisi seperti inilah, ia mengalami  praktek kesufiannya. Pada situasi dan kondisi seperti inilah, ia mengalami

77 Azyumardi Azra, et. Al.,Azyumardi Azra, et. Al.,  Ensiklopedia Islam  Ensiklopedia Islam, Jakarta, PT Ichtiar Baru van Hoeve,, Jakarta, PT Ichtiar Baru van Hoeve,

Cetakan X, 2002, hal. 74. Cetakan X, 2002, hal. 74.

88 Kamil Musthafa al-SyaibyKamil Musthafa al-Syaiby , ,   Syar  Syarah ah al-Diwal-Diwan an li li al-Halal-Hallaj laj (Beirut : Maktabah An-(Beirut : Maktabah

An- Nahdhoh, 1974), 19  Nahdhoh, 1974), 19

99Azyumardi Azra,Azyumardi Azra, I b i d  I b i d .. 10

10 M. Abd. Hadi W., dalam pengantar Saleh Abdul Sabur,M. Abd. Hadi W., dalam pengantar Saleh Abdul Sabur, Tragedi al-Hallaj Tragedi al-Hallaj , Pustaka,, Pustaka,

Bandung, 1976, viii. Bandung, 1976, viii.

11

11Simuh,Simuh,TTasawuf dan Perkembangannya asawuf dan Perkembangannya Dalam IslamDalam Islam(Jakarta, Raja Grafindo, 1997),(Jakarta, Raja Grafindo, 1997),

144. 144.

(4)

dan merasakan sebuah pengalaman spiritual yang

dan merasakan sebuah pengalaman spiritual yang tiada tara tiada tara bandingannybandingannya.a. Dalam sebuah pengakuanny

Dalam sebuah pengakuannya, ia a, ia telah mengalami pengalaman mistik yangtelah mengalami pengalaman mistik yang luar biasa, yang pada wacana berikutnya kemudian terkenal dengan istilah luar biasa, yang pada wacana berikutnya kemudian terkenal dengan istilah

hulul. hulul.1212

Pada ujung proses merasakan dan mengalami pengalaman spiritual Pada ujung proses merasakan dan mengalami pengalaman spiritual yang luar bisa tersebut, al-Hallaj memutuskan untuk kembali ke kota yang luar bisa tersebut, al-Hallaj memutuskan untuk kembali ke kota Ba

Baghghdadad d dadan n memenenetatap p di di kokota ta inini i sasambmbil il teterurus s memenynyebebararkakan n ajajararanan tasawufnya. Namun demikian, keadaan menentukan lain

tasawufnya. Namun demikian, keadaan menentukan lain dan memaksanyadan memaksanya menjadi rakyat yang tertindas dari kekejaman penguasa saat itu. Pada menjadi rakyat yang tertindas dari kekejaman penguasa saat itu. Pada tanggal 18 Dzulkaidah 309 H / 922 M ia ditangkap dan dijatuhi hukuman tanggal 18 Dzulkaidah 309 H / 922 M ia ditangkap dan dijatuhi hukuman ma

mati ti oleoleh h penpengusgusa a DinDinasasti ti AbbAbbasasiyaiyah h (Kh(Khalifalifah ah Al-Al-MukMuktadtadir ir BilBillahlah).). Motive dan latar belakang penangkapan dan vonis hukuman mati ini Motive dan latar belakang penangkapan dan vonis hukuman mati ini ad

adalaalah h bebermurmuara ara dardari i tudtuduhauhan n memembambawa wa pahpahamam hulul hulul  yang yang diandianggapggap

me

menynyesesatatkakan n umummamat. t. SiSisi si lalainin, , alal-H-Halallalaj j jujuga ga diditutududuh h memempmpununyayaii hubungan dengan Syiah Qaramitah.

hubungan dengan Syiah Qaramitah.1313

2.

2. KonKonsep sep al-al-HullHullul Mul Mansansur aur al-Hl-Hallallajaj

Ko

Konsnsep ep yayang ng didiususunung g ololeh eh MaMansnsur ur alal-H-Halallalaj j dadalalam m prprakaktetek k   pengalaman tasawufnya sebenarnya berpijak dari kedekatannya dengan  pengalaman tasawufnya sebenarnya berpijak dari kedekatannya dengan

T

Tuhauhan. n. KedKedekaekatan tan berberikuikut t dendengagan n segsegala ala atratribuibut t nuanuansa nsa spispirituritualnalnyaya   bert

  bertumpu pada umpu pada konskonsep ep teoloteologi gi yang masih yang masih dalam koridor dalam koridor spirispiritualittualitasas Islam (

Islam ( Islamic Spirituality Islamic Spirituality). Spiritualitas Islam). Spiritualitas Islam1414 yang senantiasa identik yang senantiasa identik 

de

dengangan n upupaya aya menmenyayaksiksikan kan YYang ang SatSatu, u, memengungungkngkap ap YYang ang SatSatu, u, dandan

12 12IbidIbid 13

13 Syiah Qaramitah adalah sebuah kelompok Syiah beraliran garis keras yang dipimpinSyiah Qaramitah adalah sebuah kelompok Syiah beraliran garis keras yang dipimpin

oleh Hamdan bin Qarmat yang menentang dan memusuhi pemerintah Dinasti Abbasiyah sejak  oleh Hamdan bin Qarmat yang menentang dan memusuhi pemerintah Dinasti Abbasiyah sejak  abad kesepuluh sampai dengan

abad kesepuluh sampai dengan abad ke sebelas, abad ke sebelas, Lihat : Azyumardi ALihat : Azyumardi Azra, et.alzra, et.al.,., Ibid  Ibid ., hal. 74-75.., hal. 74-75.

14

14 Spiritualis Islam (Islamic Sprirituality) sebagaimana dijelaskan secara khusus olehSpiritualis Islam (Islamic Sprirituality) sebagaimana dijelaskan secara khusus oleh

Say

Sayyeyed d HosHosseisein n NasNasr r adaadalah lah sebsebuah uah penpengalgalamaaman n dan dan penpengetgetahuahuan an akaakan n keekeesaasaan n AllAllah ah dandan realisasinya dalam pemikiran, perkataan, sikap, dan perbuatan, serta berangkat

realisasinya dalam pemikiran, perkataan, sikap, dan perbuatan, serta berangkat dari kemauan, jiwa,dari kemauan, jiwa, dan kecerdasan yang pada puncaknya adalah menjalani hidup dan melakukan perbuatan yang dan kecerdasan yang pada puncaknya adalah menjalani hidup dan melakukan perbuatan yang senantiasa sejalan kehendak Ilahi, mencintainya dengan segenap wujud, dan akhirnya senantiasa sejalan kehendak Ilahi, mencintainya dengan segenap wujud, dan akhirnya mengenal- Nya melalui pengetahuan integrative dan iluminatif, yang realisasinya tidak akan pernah dapat  Nya melalui pengetahuan integrative dan iluminatif, yang realisasinya tidak akan pernah dapat terpisahkan dari cinta, dan tidak akan mungkin tanpa kehadiran perbuatan yang benar. Lihat : terpisahkan dari cinta, dan tidak akan mungkin tanpa kehadiran perbuatan yang benar. Lihat : Say

Sayyeyed d HosHosseisein n NasNasr r (ed(ed.),.),   Ensi  Ensiklopeklopedi di TTematiematis s SpiritSpiritualitas ualitas Islam Islam : : ManifManifestasestasi i , , (t(timim

 penerjemah Mizan), Bandung, Mizan, 2003, hal. Xxiii.  penerjemah Mizan), Bandung, Mizan, 2003, hal. Xxiii.

(5)

me

mengengenalnali i YYang ang SaSatu, tu, TTuhauhan n daldalam am kemkemutlutlakaakan n ReaRealitalitas-Ns-Nya ya yayangng me

melamplampaui aui segsegala ala mamanifenifestastasi si dan dan detdetermerminainasi, si, SanSang g TTungunggal gal yanyangg ditegaskan dalam al-Qur’an

ditegaskan dalam al-Qur’an dengan nama Allah.dengan nama Allah.1515

Ajaran tasawuf al-Hallaj yang terkenal adalah konsep

Ajaran tasawuf al-Hallaj yang terkenal adalah konsep hulul hulul . Tuhan. Tuhan

di

dipapahahami mi memengngamambibil l tetempmpat at dadalalam m tutububuh h mamanunusisia a tetertertentntu u seseteltelahah manusia tersebut betul-betul berhasil

manusia tersebut betul-betul berhasil melenyapkan sifat kemanusiaan yangmelenyapkan sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuhnya.

ada dalam tubuhnya.

Menurut al-Hallaj bahwa Tuhan mempunyai dua sifat dasar, yaitu Menurut al-Hallaj bahwa Tuhan mempunyai dua sifat dasar, yaitu

al-lahut 

al-lahut  (sifat ketuhanan) dan(sifat ketuhanan) dan al-nasut al-nasut  (sifat kemanusiaan).(sifat kemanusiaan).1616 DemikianDemikian

 juga manusia juga memiliki dua sifat dasar yang sama. Oleh karena itu,  juga manusia juga memiliki dua sifat dasar yang sama. Oleh karena itu,

an

antatara ra TTuhuhan an dadan n mamanunusisia a teterdrdapapat at kekesasamamaan an sisifafat. t. ArArgugumementntasasii   pe

  pemahmahamaaman n ini ini dibdibanangun gun berberdasdasarkarkan an kankandundungan gan makmakna na dardari i sesebuabuahh hadits yang mengatakan bahwa

hadits yang mengatakan bahwa : “Sesungguhnya Allah menciptakan Ada: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adamm se

sesuasuai i dedengangan n benbentuktukNyaNya” ” sesebagbagaimaimana ana dirdiriwaiwayayatkatkan n oleoleh h BukBukharhari,i, Mu

Muslslimim, , dadan n AhAhamamad ad bibin n HaHambmbal al atatau au ImImam am HaHambmbalali. i. HaHadidits ts ininii memberikan wawasan bahwa di dalam

memberikan wawasan bahwa di dalam diri Adam as terdapat bentuk Tuhandiri Adam as terdapat bentuk Tuhan yang disebut

yang disebut al-lahut al-lahut . Sebaliknya di dalam diri Tuhan terdapat bentuk . Sebaliknya di dalam diri Tuhan terdapat bentuk 

manusia yang disebut

manusia yang disebut al-nasut al-nasut ..

Berdasarkan pemahaman adanya sifat antara Tuhan dan manusia Berdasarkan pemahaman adanya sifat antara Tuhan dan manusia tersebut, maka integrasi atau persatuan antara Tuhan dan manusia sangat tersebut, maka integrasi atau persatuan antara Tuhan dan manusia sangat mun

mungkigkin n terterjadjadi. i. ProProses ses berbersatsatunyunya a antantara ara TTuhauhan n dn dn manmanusiusia a dadalamlam  pemahaman ini adalah dalam bentuk 

 pemahaman ini adalah dalam bentuk hulul hulul ..1717

Be

Bersarsatunytunya a antantara Tuara Tuhan dan han dan manmanusiusia a harharus melalus melalui ui proprosesess   be

  bersyarsyaratrat, , dimdimana ana manmanakaakala la mamanusnusia ia berberkeikeinginginan nan menmenyayatu tu dendengangan T

Tuhuhanannynya, a, mamaka ka ia ia haharurus s mamampmpu u memelelenynyapapkakan n sisifafat t alal-n-nasasututnynya.a. Lenyapnya sifat al-nasut, maka secara otomatis akan dibarengi dengan Lenyapnya sifat al-nasut, maka secara otomatis akan dibarengi dengan mu

muncnculnulnya ya sisifafat t alal-la-lahuhut t dadan n dadalalam m kekeadadaaaan n sesepepertrti i ininililah ah teterjrjadadii  pengalaman

 pengalamanhulul.hulul.1818 15

15Sulaiman Al-Kumayi,Sulaiman Al-Kumayi, Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym, Semarang, Pustaka, Semarang, Pustaka

 Nuun, 2004, hal. 4.  Nuun, 2004, hal. 4.

16

16Azyumardi Azra, et.al.,Azyumardi Azra, et.al.,op.cit op.cit , hal. 75, hal. 75 17

17 Ibid  Ibid .. 18

(6)

Un

Untutuk k memelelenynyapapkakan n sisifafat t alal-n-nasasutut, , seseororanang g hahambmba a haharuruss memperbanyak ibadah. Dengan membersihkan diri melalui ibadah dan memperbanyak ibadah. Dengan membersihkan diri melalui ibadah dan  berhasil usahanya melenyapkan sifat ini, maka yang tinggal dalam dirinya  berhasil usahanya melenyapkan sifat ini, maka yang tinggal dalam dirinya hanya sifat al-lahut. Pada saat itulah sifat al-nasut Tuhan turun dan masuk  hanya sifat al-lahut. Pada saat itulah sifat al-nasut Tuhan turun dan masuk  ke dalam tubuh seorang Sufi, sehingga terjadilah hulul

ke dalam tubuh seorang Sufi, sehingga terjadilah hulul1919, dan peristiwa ini, dan peristiwa ini terjadi hanya sesaat.

terjadi hanya sesaat.

Pernyataan al-Hallaj bahwa dirinya tetap ada, yang terjadi adalah Pernyataan al-Hallaj bahwa dirinya tetap ada, yang terjadi adalah  bersatunya sifat Tuhan di dalam dirinya,

 bersatunya sifat Tuhan di dalam dirinya, sebagaimana ungkapasebagaimana ungkapan syairnya :n syairnya :

ب

بققااثثلل

 هه ــــــــــــتتوو

 

 ااننسس  ررسس

ههتتووسس ااررظ

ظأأ   مم  ااححسس  

ااششلل

 كك  ةةووص

ص  ى

ىفف

ررااظ

ظ  ههــــــــــــــــخخلل  دد

  

 

““Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya membukakan rahasiaMaha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya membukakan rahasia

ketu

ketuhanahanan-Nyn-Nya a yang yang gemigemilanglang. . KemuKemudian dian kelikelihatahatan n bagi bagi makhmakhluknluknyaya dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum”

dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum”..2020

Dalam syair di atas tampak Tuhan mempunyai dua sifat dasar Dalam syair di atas tampak Tuhan mempunyai dua sifat dasar ke-Tuha

Tuhanan, yaitu “Lahut” dan “Nasut”. Dua nan, yaitu “Lahut” dan “Nasut”. Dua istilah ini istilah ini oleh al-Hallaj diambiloleh al-Hallaj diambil dari falsafah Kristen yang mengatakan bahwa Nasut Allah mengandung dari falsafah Kristen yang mengatakan bahwa Nasut Allah mengandung tabiat kemanusiaan di dalamnya.

tabiat kemanusiaan di dalamnya.2121 Dalam konsep hulul al-Hallaj dimanaDalam konsep hulul al-Hallaj dimana Tuha

Tuhan dengan sifat n dengan sifat ketuhanan menyatu dalam dirinya, berbaur ketuhanan menyatu dalam dirinya, berbaur sifat Tuhansifat Tuhan itu dengan sifat

itu dengan sifat kemanusiaankemanusiaan..

Penyatuan antara roh Tuhan dengan roh manusia dilukiskan oleh Penyatuan antara roh Tuhan dengan roh manusia dilukiskan oleh al-Hallaj di dalam syairnya sebagai berikut :

al-Hallaj di dalam syairnya sebagai berikut :

ززلل  ءءااللاا  ةةرر

 ج

جززتت

ااكك  ى

ى

 ى

ىفف 

  

 ززمم  

ااــــــ

 كك  ى

ىفف  اا 

  

 ذذإإفف

ى

ىننــــــــــــــــــــــــــــمم  ئ

ئيي 

 مم  ذذإإفف  

““ JiwaMu disatukan dengan jiwaku, sebagaimana anggur dicampur  JiwaMu disatukan dengan jiwaku, sebagaimana anggur dicampur  de

dengangan n air air susuci. ci. DaDan n jikjika a ada ada sessesuatuatu u yanyang g memenyenyentuntuh h EngEngkakau, u, iaia menyentuh aku pula dan ketika itu

menyentuh aku pula dan ketika itu dalam setiap keadaaan Engkau adalahdalam setiap keadaaan Engkau adalah aku

aku”.”.2222

19

19Azyumardi Azra, et.al.,Azyumardi Azra, et.al.,op.cit op.cit ., hal. 75., hal. 75 20

20Kamil Musthafa al-Syaiby,Kamil Musthafa al-Syaiby, Syarah al-Diwan al-Hallaj  Syarah al-Diwan al-Hallaj , (Beirut, Maktabah, an-, (Beirut, Maktabah,

an- Nahdhoh, 1974), 18  Nahdhoh, 1974), 18

21

21Abdul Kadir Mahmud,Abdul Kadir Mahmud,al-Fikr al-Islami wa al-Falsafat al-Muaridlah fi al-Qadim waal-Fikr al-Islami wa al-Falsafat al-Muaridlah fi al-Qadim wa

al-Hadits

al-Hadits(Mesir : Hajah al-Misriyah al-Ammah li al-Kitab, 1986), 78(Mesir : Hajah al-Misriyah al-Ammah li al-Kitab, 1986), 78

22

22 Ajoeb Joebar, dalam pengantar Ibrahim Gazur I-Ilahi,Ajoeb Joebar, dalam pengantar Ibrahim Gazur I-Ilahi,

The Secret of Ana L-Haqq The Secret of Ana L-Haqq,,

(Jakarta : Rajawali, 1986), 21 (Jakarta : Rajawali, 1986), 21

(7)

Bahk

Bahkan an didaldidalam am syaisyairnya rnya yang lain, yang lain, al-Halal-Hallaj laj melukmelukiskaiskan n dengdenganan sangat jelas bahwa :

sangat jelas bahwa :

ااددــــ

 اانن

 اا

 حح

اا  

ووأأ  مم

 

ووأأ  مم  اا

ااررــــــ

  ههتترر

  ذذ

ههــــــــــــــــتترر

  ى

ىننتترر

 

 ذذاافف  

““ Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucinta adalah aku. Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucinta adalah aku.  Kami adalah dua roh yang bersatu dalam satu tubuh. Jika engkau lihat   Kami adalah dua roh yang bersatu dalam satu tubuh. Jika engkau lihat 

aku, engkau lihat Dia, dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat kami aku, engkau lihat Dia, dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat kami ”.”.2323

T

Tatkaatkala la perisperistiwa tiwa hulul hulul sedasedang ng berlaberlangsungsung, ng, kelukeluarlah arlah syatsyatahatahat (kata-kata aneh) dari lidah al-Hallaj yang berbunyi

(kata-kata aneh) dari lidah al-Hallaj yang berbunyi  Ana al-Haqq Ana al-Haqq (Aku(Aku

adalah Yang Maha Benar). Kata

adalah Yang Maha Benar). Kata al-Haqal-Haq dalam istilah tasawuf, berartidalam istilah tasawuf, berarti

Tuhan. Sebagian masyarakat saat itu menganggap al-Hallaj telah kafir, Tuhan. Sebagian masyarakat saat itu menganggap al-Hallaj telah kafir, ka

karenrena a ia ia menmengakgaku u dirdirinyinya a sebsebagaagai i TuTuhanhan. . PadPadahahal al yayang ng sesebenbenarnarnyaya,, dengan segala kearifan dan kerendahan hati spiritualnya, al-Hallaj tidak  dengan segala kearifan dan kerendahan hati spiritualnya, al-Hallaj tidak  me

mengangaku ku demdemikiikian. an. PePersprspektektif if ini ini dibdibangangun un berberdasdasarkarkan an unungkagkapapann syairnya yang lain dengan mengatakan bahwa :

syairnya yang lain dengan mengatakan bahwa :

ااننــــــــــــــــننيي

 

ررفف  



 ااأأ  

ااأأ  

ــــححلل  اامم  

ححلل  ررسس  ااأأ

““ Aku adalah Rahasia Yang Maha Benar, dan bukanlah Yang Maha Aku adalah Rahasia Yang Maha Benar, dan bukanlah Yang Maha

 Benar itu aku,

 Benar itu aku, aku hanya satu aku hanya satu dari yang benardari yang benar, dibedakanlah antara kami, dibedakanlah antara kami atau aku dan Dia Yang Maha Benar”

atau aku dan Dia Yang Maha Benar”.. 2424

Dalam pengertian lain dapat diungkapkan bahwa syatahat yang Dalam pengertian lain dapat diungkapkan bahwa syatahat yang ke

kelualuar r dardari i mulmulut ut al-al-HalHallaj laj tidtidak ak lailain n adaadalah lah ucucapaapan n TuTuhan han memelallaluiui lidahnya.

lidahnya.2525

Dengan ungkapan ini, semakin tidak mungkin untuk memahami Dengan ungkapan ini, semakin tidak mungkin untuk memahami  bahwa maksud al-Hallaj dengan hululnya dalam berbagai syairnya adalah  bahwa maksud al-Hallaj dengan hululnya dalam berbagai syairnya adalah

dirinya al-Haq. Jadi

dirinya al-Haq. Jadi karena sangat cintanya kepada Allah menjadikan tidak karena sangat cintanya kepada Allah menjadikan tidak  ada pemisah antara dirinya dengan kehendak Allah, seolah-olah dirinya ada pemisah antara dirinya dengan kehendak Allah, seolah-olah dirinya

23

23 NasutionNasution,, Falsafah dan Mistisme dalam IslamFalsafah dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1973), 90., (Jakarta, Bulan Bintang, 1973), 90.

Lihat juga Ajoeb Joebar, dalam pengantar Ibrahim Gazur I-Ilahi, Op. Cit., 23 Lihat juga Ajoeb Joebar, dalam pengantar Ibrahim Gazur I-Ilahi, Op. Cit., 23

24 24 Ibid  Ibid  25

(8)

dan Tuhan adalah satu. Sebagaimana diungkapkan dalam syairnya : “Aku dan Tuhan adalah satu. Sebagaimana diungkapkan dalam syairnya : “Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia

adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah aku”yang kucintai adalah aku” ..2626

Seandainya apa yang dikemukakan oleh Harun Nasution, tentang Seandainya apa yang dikemukakan oleh Harun Nasution, tentang tafsiran al-Hallaj mengenai perintah Tuhan agar sujud kepada Adam (QS. tafsiran al-Hallaj mengenai perintah Tuhan agar sujud kepada Adam (QS. 2 : 34) adalah pendapat yang sebenarnya yang dimaksud oleh al-Hallaj, 2 : 34) adalah pendapat yang sebenarnya yang dimaksud oleh al-Hallaj, tentu ini pandangan yang sesat. Karena apabila masuk ke jiwa seseorang tentu ini pandangan yang sesat. Karena apabila masuk ke jiwa seseorang misalnya Isa, maka jadilah Tuhan semisal Isa, ini bertentangan dengan misalnya Isa, maka jadilah Tuhan semisal Isa, ini bertentangan dengan firman Allah “Laisa kamitslihi syaiun”. Apabila dengan masuknya Tuhan firman Allah “Laisa kamitslihi syaiun”. Apabila dengan masuknya Tuhan ke dalam diri manusia tidak dengan tidak mengurangi keberadaan Tuhan, ke dalam diri manusia tidak dengan tidak mengurangi keberadaan Tuhan, maka berarti

maka berarti ada dua Tuhan atau ada dua Tuhan atau sekurang-kurangsekurang-kurangnya belahan Tuhan yangnya belahan Tuhan yang dapat dinamakan dengan anak Tuhan sebagaimana yang disebut penganut dapat dinamakan dengan anak Tuhan sebagaimana yang disebut penganut Kristen sekarang, tentu ini sangat bertentangan dengan Al-Qur’an Surat Kristen sekarang, tentu ini sangat bertentangan dengan Al-Qur’an Surat Al-Ikhlash.

Al-Ikhlash.

 Namun pendapat al-Hallaj bahwa dalam diri manusia terdapat sifat  Namun pendapat al-Hallaj bahwa dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan itu akan masuk ke dalam diri manusia dengan jalan fana’ yaitu ketuhanan itu akan masuk ke dalam diri manusia dengan jalan fana’ yaitu de

dengngan an memengnghilhilanangkgkan an sisifafat t kekemamanunusisiaaaan, n, hahal l inini i dadapapat t diditeterimrima.a. Seba

Sebagaimagaimana na menumenurut rut al-Haal-Hallaj llaj ia ia bukabukanlah Ynlah Yang ang Maha Maha BenaBenar, r, tetaptetapii hanyalah satu dari yang benar. Jadi menurutnya, ia bukan Tuhan. Oleh hanyalah satu dari yang benar. Jadi menurutnya, ia bukan Tuhan. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam manafsirkan atau memahami ajaran karena itu yang lebih tepat dalam manafsirkan atau memahami ajaran al-Hallaj adalah bahwa menurutnya,

Hallaj adalah bahwa menurutnya, Tuhan mengisi diri manusia-manusiaTuhan mengisi diri manusia-manusia tertentu dengan sifat ketuhanan

tertentu dengan sifat ketuhanan, maka jadilah manusia itu satu dari yang, maka jadilah manusia itu satu dari yang

 benar

 benar, dialah , dialah manusia yang memiliki / manusia yang memiliki / dikaruniai sifat Tuhan.dikaruniai sifat Tuhan. C.

C. Konsep al-Ittihad dalam teorinya Abu Yazid al-BustamiKonsep al-Ittihad dalam teorinya Abu Yazid al-Bustami 1.

1. SkSketetsa sa BiBiogograrafifi

 Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa Surusyan, juga  Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa Surusyan, juga dik

dikenaenal l dendengan gan BayBayaziazid. d. BelBeliau iau dikdikenaenal l sesebagbagai ai sasalah lah seoseoranrang g susufifi kenamaan Persia abad ke-III dari Bistam wilayah Qum,

kenamaan Persia abad ke-III dari Bistam wilayah Qum,2727 lahir pada tahunlahir pada tahun

26

26 KamiKamil l MusthMusthafa afa al-Syal-Syaibyaiby,,   Syar  Syarah ah al-Diwal-Diwan an al-Halal-Hallaj laj , , (Be(Beiruirut, t, MakMaktabtabah, ah, an-

an- Nahdhoh, 1974), 27  Nahdhoh, 1974), 27

27

27 Team Penyusun Ensiklopedia Islam,Team Penyusun Ensiklopedia Islam,  Ensiklopedi Islam  Ensiklopedi Islam, Jilid I, Jakarta, Ikhtiar Baru, Jilid I, Jakarta, Ikhtiar Baru

Van Hoeve : 1994, hal. 262. Van Hoeve : 1994, hal. 262.

(9)

874 M dan wafat pada usia 73 tahun.

874 M dan wafat pada usia 73 tahun.2828 Ayahnya seorang pemimpin diAyahnya seorang pemimpin di Bis

Bistam tam dan dan ibuibunya nya seseoraorang ng yayang ng zahzahid, id, sedsedangangkan kan kakkakekeknya nya seoseoranrangg Majusi yang memeluk Islam dan menganut madzhab Hanafi.

Majusi yang memeluk Islam dan menganut madzhab Hanafi.2929

Abu Yazid mengatakan “Dua belas tahun lamanya aku menjadi Abu Yazid mengatakan “Dua belas tahun lamanya aku menjadi  penempa besi bagiku. Kulempar diriku dalam tungku riyadhah. Kubakar   penempa besi bagiku. Kulempar diriku dalam tungku riyadhah. Kubakar  dengan api mujahadah. Kuletakkan diatas alas penyesalan diri sehingga dengan api mujahadah. Kuletakkan diatas alas penyesalan diri sehingga dapatlah kujumpai sebuah cermin diriku sendiri. Lima tahun lamanya aku dapatlah kujumpai sebuah cermin diriku sendiri. Lima tahun lamanya aku menjadi cermin diriku yang selalu kukilapkan dengan bermacam-macam menjadi cermin diriku yang selalu kukilapkan dengan bermacam-macam ibadah dan ketaqwaan. Setahun lamanya aku memandang cermin diriku ibadah dan ketaqwaan. Setahun lamanya aku memandang cermin diriku dengan penuh perhatian, ternyata diriku kulihat terlilit sabuk takabbur, dengan penuh perhatian, ternyata diriku kulihat terlilit sabuk takabbur, ke

kecocongngkakaanan, , ujujubub, , ririyya’a’, , keketetergrganantutungngan an kekepapada da keketataatatan an dadann membanggakan amal. Kemudian aku beramal selama lima tahun sehingga membanggakan amal. Kemudian aku beramal selama lima tahun sehingga sabuk itu putus dan aku merasa memeluk Islam kembali. Kupandang para sabuk itu putus dan aku merasa memeluk Islam kembali. Kupandang para makhluk dan aku lihat mereka semua mati, sehingga aku kembali dari makhluk dan aku lihat mereka semua mati, sehingga aku kembali dari  janazah mereka semua. Aku sampai

 janazah mereka semua. Aku sampai kepada Allah dengan pertolongan-Nyakepada Allah dengan pertolongan-Nya tanpa perantara makhluk”.

tanpa perantara makhluk”.3030

2.

2. KonsKonsep al-ep al-IttihIttihad ad Abu Abu YYazid aazid al-Bul-Bustastamimi a.

a. AlAl-F-Fanana’ a’ dadan aln al-B-Baqaqa’a’

Keadaan

Keadaan fana’-baqa’  fana’-baqa’ dandan ittihad ittihad sebagaimana yang dialami olehsebagaimana yang dialami oleh

Abu Yazid dalam pengalaman tasawwufnya, merupakan tiga aspek dalam Abu Yazid dalam pengalaman tasawwufnya, merupakan tiga aspek dalam suatu pengalaman sufi yang tejadi setelah tercapainya makam

suatu pengalaman sufi yang tejadi setelah tercapainya makam ma’rifat ma’rifat ..

Dan hal ini tidak banyak sufi yang mencapai tataran demikian, bahkan Dan hal ini tidak banyak sufi yang mencapai tataran demikian, bahkan ka

kalalaupupun un adada a mamaka ka tidtidak ak akakan an pepernrnah ah lelepapas s dadari ri didijumjumpapaininya ya prpro- o-ko

kontntraradadari ri kakalalangngan an umumat at IsIslalam m sesendndiriri, i, teterurutatama ma dadari ri kakalalangnganan mut

mutakaakallimllimun, un, karkarena ena peperjarjalanlanan an parpara a susufi fi padpada a maqmaqam am yanyang g setsetelaelahh me

mencancapai pai tingtingkatkatanan ma’rifat ma’rifat  hahampmpir ir seselalalu lu didinynyatatakakan an sesebabagagaii

28

28Harun NasutionHarun Nasution , Falsafah dan Mistisme Dalam Islam , Falsafah dan Mistisme Dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang : 1973,, Jakarta, Bulan Bintang : 1973,

hal. 81 hal. 81

29

29Team Penyusun Ensiklopedia IslamTeam Penyusun Ensiklopedia Islam , Op. Cit  , Op. Cit ., hal. 262., hal. 262 30

30Abu Abu al-Aal-A’la ’la al-Afifi,al-Afifi,Fi al-Tasawwuf al-Islamiyah wa Tarikhihi Fi al-Tasawwuf al-Islamiyah wa Tarikhihi , Kairo, Lajnah Taklif , Kairo, Lajnah Taklif 

wa al-Tar

(10)

 bertentangan dengan ajaran islam, meskipun upaya demikian dilakukan  bertentangan dengan ajaran islam, meskipun upaya demikian dilakukan

dalam rangka mendekatkan diri sedekat mungkin pada Sang Pencipta. dalam rangka mendekatkan diri sedekat mungkin pada Sang Pencipta.

Dalam perspektif sufi hal ini sangat penting, karena salah satu inti Dalam perspektif sufi hal ini sangat penting, karena salah satu inti tas

tasawuawuf f adaadalah lah perperasaasaan an hilhilangangnynya a selseluruuruh h sifsifat at kemkemananusiusiaan aan yayangng kmudian diganti dengan sifat-sifat ketuhanan. Kondisi ini tercapai dengan kmudian diganti dengan sifat-sifat ketuhanan. Kondisi ini tercapai dengan sebuah keyakinan bahwa seluruh sifat kemakhlukan manusia merupakan sebuah keyakinan bahwa seluruh sifat kemakhlukan manusia merupakan   b

  bayayining g sesemu mu yayang ng tidtidak ak tetetatap, p, sesedadangngkakan n sisifafat-st-sifaifat t tutuhahan n adadalalahah  permanen, yang diproses melalui penghilangan kepribadian dan perasaan  permanen, yang diproses melalui penghilangan kepribadian dan perasaan terhadap semua yang ada disekitarnya terlebih dahulu. Dengan hilangnya terhadap semua yang ada disekitarnya terlebih dahulu. Dengan hilangnya semua perasaan dan kehendak pada sesuatu itu, akan hilang pula berbagai semua perasaan dan kehendak pada sesuatu itu, akan hilang pula berbagai keinginan untuk memiliki benda duniawi.

keinginan untuk memiliki benda duniawi.

Seorang sufi yang hendak bersatu dengan tuhan;ittihad terlebih Seorang sufi yang hendak bersatu dengan tuhan;ittihad terlebih dahulu harus melalui dengan dua keadaan yang tidak dapat dipisahkan, dahulu harus melalui dengan dua keadaan yang tidak dapat dipisahkan, yaitu keadaan

yaitu keadaan fana’  fana’ , yakni, kesirnaan-peleburan; penghancuran perasaan, yakni, kesirnaan-peleburan; penghancuran perasaan

atau kesadaran seseorang tentang dirinya dan makhluk lain disekitarnya, atau kesadaran seseorang tentang dirinya dan makhluk lain disekitarnya, dan

dan baqa’ baqa’ , tetap, kekal, yakni tetap dalam kebajikan dan kekal dalam sifat, tetap, kekal, yakni tetap dalam kebajikan dan kekal dalam sifat

ketuhanan. ketuhanan.3131

 Fana’-baqa’ 

 Fana’-baqa’ merupakan pengetahuan atau pengalaman yang tidak merupakan pengetahuan atau pengalaman yang tidak 

 bisa diperoleh melalui pemikiran, tetapi diberikan oleh Tuhan melalaui  bisa diperoleh melalui pemikiran, tetapi diberikan oleh Tuhan melalaui  penerangan yang merupakan rahasia tuhan. Dikatakan demikian karena  penerangan yang merupakan rahasia tuhan. Dikatakan demikian karena  perjalanan ini diidentikan dengan hancurnya sifat jiwa,

 perjalanan ini diidentikan dengan hancurnya sifat jiwa, atau sirnanya sifat-atau sirnanya sifat-sifat tercela, maka barang siapa fana’ dari sifat-sifat tercela, maka pada dirinya sifat tercela, maka barang siapa fana’ dari sifat tercela, maka pada dirinya akan muncul sifat-sifat terpuji.

akan muncul sifat-sifat terpuji.3232

 Fana’ dan baqa’ 

 Fana’ dan baqa’ merupkn sesuatu yang kembar, karena ia terjadimerupkn sesuatu yang kembar, karena ia terjadi

dldm waktu yang bersamaan, sehingga jika terjadi

dldm waktu yang bersamaan, sehingga jika terjadi  fana fana’, dimana pada’, dimana pada

waktu kesadaran dengan diri dan alam sekelilingnya telah hilang maka waktu kesadaran dengan diri dan alam sekelilingnya telah hilang maka  bersamaan dengan itu ia mengalami

 bersamaan dengan itu ia mengalami baqa’ baqa’ , yaitu munculnya kesadaran, yaitu munculnya kesadaran

akan kehadirannya disisi Tuhan. akan kehadirannya disisi Tuhan.

31

31Harun Nasution,Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspek  Islam ditinjau dari berbagai aspek , Op. Cit., hal. 83, Op. Cit., hal. 83 32

32Abu Abu WWafa’ al-Ghanimi afa’ al-Ghanimi al-Tal-Taftazani,aftazani, Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam, Terj. Ahmad, Terj. Ahmad

Rafi’ Us

(11)

Abu Y

Abu Yazid mendapatkan pengalaman ini azid mendapatkan pengalaman ini setelah melalui setelah melalui perjalananperjalanan yang sangat berat yaitu ketika beliau

yang sangat berat yaitu ketika beliau melakukan ibadah haji;melakukan ibadah haji;

Aku pergi ke Makkah dan melihat sebuah rumah berdiri tersendiri, Aku pergi ke Makkah dan melihat sebuah rumah berdiri tersendiri, ak

aku u beberkrkatata; a; hahajikjiku u titidadak k diditeterimrima a kakarerena na akaku u memelilihahat t babanynyak ak babatutu semacam ini, aku pergi lagi dan melihat rumah itu dan juga Tuhan rumah semacam ini, aku pergi lagi dan melihat rumah itu dan juga Tuhan rumah itu. Aku berkata, ini masih bukan pengesahan yang hakiki. Aku pergi itu. Aku berkata, ini masih bukan pengesahan yang hakiki. Aku pergi untuk ketiga kalinya dan aku hanya melihat Tuhan rumah itu, kemudian untuk ketiga kalinya dan aku hanya melihat Tuhan rumah itu, kemudian suara dalam batinku berbisik; wahai bayazid, jika engkau tidak melihat suara dalam batinku berbisik; wahai bayazid, jika engkau tidak melihat dirimu sendiri engkau tidak akan menjadi seorang musyrik walau emgkau dirimu sendiri engkau tidak akan menjadi seorang musyrik walau emgkau melihat seluruh jagad raya. Karena engkau masih melihat dirimu sendiri, melihat seluruh jagad raya. Karena engkau masih melihat dirimu sendiri, engkau adalah seorang yang musyrik walaupun engkau buta terhadap engkau adalah seorang yang musyrik walaupun engkau buta terhadap seluruh jagad raya. Maka aku bertobat lagi, dan tobatku kali ini adalah seluruh jagad raya. Maka aku bertobat lagi, dan tobatku kali ini adalah tobat dari memandang wujudku sendiri.

tobat dari memandang wujudku sendiri.3333

Fana’ di kalangan sufi merupakan kejadian yang temporal, tidak  Fana’ di kalangan sufi merupakan kejadian yang temporal, tidak   berlangsung secara terus menerus, seandainya kejadian ini berlangsung  berlangsung secara terus menerus, seandainya kejadian ini berlangsung

se

secarcara a teruterus-ms-meneenerus rus nisniscaycaya a akakan an memerusrusak ak ibaibadah dah lailain n yayang ng jusjustrutru me

meruprupakaakan n hal hal yayang ng dapdapat at menmengagantantar r keakeadaadaannynnya a kepkepada ada tingtingkatkatanan demikian, maka dapat dikatakan bahwa hal ini akan bertentangan dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa hal ini akan bertentangan dengan ajaran syar’i

ajaran syar’i yang merupakan pantangan pula bagi pelaku sufi.yang merupakan pantangan pula bagi pelaku sufi. A

Abbu u YYaazziid d ddiikkeennaal l sseebbaaggaai i sseeoorraanng g ssuuffi i yyaanng g ssaannggaatt memperhatikan syariat dan ajaran agama, meskipun beliau hampir selalu memperhatikan syariat dan ajaran agama, meskipun beliau hampir selalu dalam keadaan “mabuk”hingga saat shalat tiba, ketika waktu shalat telah dalam keadaan “mabuk”hingga saat shalat tiba, ketika waktu shalat telah tiba, beliau kembali kepada kesadaran, seusai melaksanakan shalatnya, tiba, beliau kembali kepada kesadaran, seusai melaksanakan shalatnya, apabila di kehendaki ia kembali kepada

apabila di kehendaki ia kembali kepada fana fana’.’.3434

Dengan demikian seorang sufi tidak meninggalkan syariat agama, Dengan demikian seorang sufi tidak meninggalkan syariat agama,  bahkan ketaatan menjalankan seluruh ajaran akan senantiasa di upayakan  bahkan ketaatan menjalankan seluruh ajaran akan senantiasa di upayakan semaksimal mungkin dalam rangka memenuhi standar untuk menjaga semaksimal mungkin dalam rangka memenuhi standar untuk menjaga kesucian jiwanya dari sifat-sifat

kesucian jiwanya dari sifat-sifat tercela yang akan mengganggu kebersihantercela yang akan mengganggu kebersihan  jiwanya.

 jiwanya.

33

33Al-Hujriwi,Al-Hujriwi, Kasyf al-Mahjub Kasyf al-Mahjub, Mesir, Lajnah al-Ta’rif bi al-Islam, 1934, , Mesir, Lajnah al-Ta’rif bi al-Islam, 1934, hal 524hal 524 34

34Abu Bakar al-Kalbadzi,Abu Bakar al-Kalbadzi,al-Tal-Ta’arruf li a’arruf li Madzhab Ahl Madzhab Ahl al-Tal-Tasawwuf asawwuf , Kairo, Maktabah al-, Kairo, Maktabah

al-Kulliyah al-Azhariyyah, 1969, hal. 147 Kulliyah al-Azhariyyah, 1969, hal. 147

(12)

b

b.. AlAl--ItItttihihaadd

Keadaan ini merupakan suatu tingkatan dalam tasawuf, dimana Keadaan ini merupakan suatu tingkatan dalam tasawuf, dimana seorang sufi merasakan dirinya telah bersatu dengan Tuhan, saat yang seorang sufi merasakan dirinya telah bersatu dengan Tuhan, saat yang me

mencincintantai i dan dan yayang ng dicdicintintai ai teltelah ah menmenyayatu, tu, sehsehingingga ga salsalah ah sasatu tu dardarii mereka dapat memanggil yang lain dengan kata “hai aku”.

mereka dapat memanggil yang lain dengan kata “hai aku”. Itti

Ittihad had tidtidak ak munmuncul cul dendengan gan bebegitgitu u sasaja, ja, tettetapi api haharus rus setsetelaelahh menenpuh tingkatan

menenpuh tingkatan fana’-baqa’  fana’-baqa’ yang dapat ditempuh dengan menyadariyang dapat ditempuh dengan menyadari

keadaan dirinya sebagai individu yang

keadaan dirinya sebagai individu yang terpisah dari Tuhannya, dilanjutkanterpisah dari Tuhannya, dilanjutkan de

dengangan n memmemperperjuajuangkngkan an tertersinsingkagkapnypnya a pempembatbatas as yayang ng memenghnghalaalangingi   pa

  pandandangangan n matmata a hahatinytinya, a, dendengagan n menmengikgikis is sifsifat-sat-sifaifat t tertercelcela, a, yayangng dilakukan secara terus manarus.

dilakukan secara terus manarus. Setelah Abu

Setelah Abu YYazid azid mengalamimengalami ke-fana’anke-fana’an, dengan sirnanya segala, dengan sirnanya segala

se

sesuasuatu tu yayang ng selselain Allaain Allah h dardari i panpandadangangannynnya, a, sasaat at itu itu dia dia tidtidak ak laglagii menyaksikan selain hakikat yang satu, yaitu Allah. Bahkan dia tidak lagi menyaksikan selain hakikat yang satu, yaitu Allah. Bahkan dia tidak lagi me

melihalihat t dirdirinyinya a sensendirdiri i kakarenrena a dirdirinyinya a teltelah ah terterleblebur ur daldalam am Dia Dia yayangng disaksikannya. Dalam keadaan yang seperti ini terjadi penyatuan dengan disaksikannya. Dalam keadaan yang seperti ini terjadi penyatuan dengan Yang Maha Benar. Kondisi seperti itu telah menghilangkan batas antara Yang Maha Benar. Kondisi seperti itu telah menghilangkan batas antara sufi dengan Tuhan, antara yang mencintai dan yang dicintai. Pada saat sufi dengan Tuhan, antara yang mencintai dan yang dicintai. Pada saat seperti ini sufi dapat melihat dan merasakan rahasia Tuhan. Ketika sufi seperti ini sufi dapat melihat dan merasakan rahasia Tuhan. Ketika sufi telah menyatu dengan Tuhan, sering terjadi pertukaran peran antara sufi telah menyatu dengan Tuhan, sering terjadi pertukaran peran antara sufi dengan Tuhan. Saat itu sufi tidak lagi berbicara atas namanya, melainkan dengan Tuhan. Saat itu sufi tidak lagi berbicara atas namanya, melainkan atas nama Tuhan, atau Tuhan berbicara melalui mulut sufi, yang keluar  atas nama Tuhan, atau Tuhan berbicara melalui mulut sufi, yang keluar  da

dari ri mumululutntnyya a unungkgkapapanan-u-ungngkakapapan n yyanang g kekededengngararanannynya a gaganjnjilil,, sebagaimana yang pernah diungkapkan Abu Yazid; pada suatu ketika aku sebagaimana yang pernah diungkapkan Abu Yazid; pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan dan ia berkata “Abu Yazid, makhluk-Ku ingin dinaikkan kehadirat Tuhan dan ia berkata “Abu Yazid, makhluk-Ku ingin me

melihalihat t enengkagkau”u”, , akaku u menmenjawjawab ab “k“kekaekasihsihku ku aku aku tidatidak k ingingin in memelihalihatt mereka, tetapi jika itu kehendak-Mu, hiaslah aku dengan keesaan-Mu, mereka, tetapi jika itu kehendak-Mu, hiaslah aku dengan keesaan-Mu, sehingga jika makhluk-Mu melihat aku, mereka akan berkata ‘telah kami sehingga jika makhluk-Mu melihat aku, mereka akan berkata ‘telah kami lihat engkau’, tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau, karena lihat engkau’, tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau, karena ketika itu aku tidak

ketika itu aku tidak ada disana”.ada disana”.3535

35

35 SyaSyarah rah BinBinti ti MuhMuhsin sin ibn Abdulibn Abdullah lah ibn ibn JalJalawiawi,,  Nadz  Nadzariyyariyyah ah al-Ial-Ittishattishal l ‘ind ‘ind al-

al- Shufiyyah fi al-dhau’ al-Islam

(13)

Ketika terjadi ittihad secara utuh, Abu Yazid mengatakan dalam Ketika terjadi ittihad secara utuh, Abu Yazid mengatakan dalam

 syatahatnya

 syatahatnya : “Tuhan berkata ; semua mereka kecuali engakau adalah: “Tuhan berkata ; semua mereka kecuali engakau adalah

makhluk-Ku”, akupun berkata, “Aku adalah Engkau, Engaku adalah aku makhluk-Ku”, akupun berkata, “Aku adalah Engkau, Engaku adalah aku adalah Engkau”, maka pemilahanpun terputus, kata menjadi satu, bahkan adalah Engkau”, maka pemilahanpun terputus, kata menjadi satu, bahkan se

selulururuhnhnya ya memenjnjadadi i sasatutu. . DiDia a beberkrkatata, a, “H“Hai ai enengkgkauau”, ”, akaku u dedengnganan  perantara-Nya menjawab, “Hai aku”. Dia berkata, “Engkau yang satu”.  perantara-Nya menjawab, “Hai aku”. Dia berkata, “Engkau yang satu”. Aku menjawab, “Akulah yang satu”. Dia selanjutnya berkata, “Engkau Aku menjawab, “Akulah yang satu”. Dia selanjutnya berkata, “Engkau ad

adalaalah h enengakgaku”u”. . AkAku u memenjanjawabwab, , “Ak“Aku u adaadalah lah akaku”. u”. KatKata a aku aku yayangng diucapkan Abu Yazid bukanlah sebagai gambaran diri Abu Yazid tetapi diucapkan Abu Yazid bukanlah sebagai gambaran diri Abu Yazid tetapi sebagai gambaran Tuhan, karena saat itu Abu Yazid telah bersatu dengan sebagai gambaran Tuhan, karena saat itu Abu Yazid telah bersatu dengan Tuhan, dengan kata lain, dalam

Tuhan, dengan kata lain, dalam ittihad ittihad Abu Yazid berbicara dengan namaAbu Yazid berbicara dengan nama

Tuhan atau lebih tepat lagi, Tuhan berbicara melalui lidah Abu Yazid Tuhan atau lebih tepat lagi, Tuhan berbicara melalui lidah Abu Yazid ..3636

Dalam peristiwa lain, Abu Yazid dikunjungi seseorang, kemudian Dalam peristiwa lain, Abu Yazid dikunjungi seseorang, kemudian ia bertanya : “Siapa yang engkau cari ?”, jawabnya, jawabnya, “Abu ia bertanya : “Siapa yang engkau cari ?”, jawabnya, jawabnya, “Abu Yazid”, Abu Yazid mengatakan : “Pergilah, di rumah ini tak ada kecuali Yazid”, Abu Yazid mengatakan : “Pergilah, di rumah ini tak ada kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi”.

Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi”.3737 Den

Dengan gan ucaucapanpan-uc-ucapaapan n yayang ng teltelah ah dikdikemuemukakakankan, , Abu Abu YYazazidid terlihat telah bersatu dengan Tuhan. Sehingga dia tidak sadar akan diri dan terlihat telah bersatu dengan Tuhan. Sehingga dia tidak sadar akan diri dan lingkungannya karena yang ada saat itu hanya Allah semata. Sebenarnya lingkungannya karena yang ada saat itu hanya Allah semata. Sebenarnya Abu Y

Abu Yazid tetap azid tetap mengakui adanya wujud, Tuhan dan Makhluk, hanya sajamengakui adanya wujud, Tuhan dan Makhluk, hanya saja dia merasakan kebersatuan antara keduanya, sedangkan masing-masing dia merasakan kebersatuan antara keduanya, sedangkan masing-masing masih tetap dalam esensinya, Tuhan tetap Tuhan, makhluk tetap makhluk. masih tetap dalam esensinya, Tuhan tetap Tuhan, makhluk tetap makhluk. Ketika terjadinya

Ketika terjadinya ittihad ittihad , yang dimaksud bersatu adalah dalam arti ruhani,, yang dimaksud bersatu adalah dalam arti ruhani,

 bukan hakekat jazad.  bukan hakekat jazad.3838

 Ittihad 

 Ittihad  terjaterjadi di dengdengan an peranperantaratara  fana’-baqa’  fana’-baqa’  sebasebagaimagaimana na telahtelah

dikemukakan, digambarkan sebagai jiwa yang kehilangan semua hasrat, dikemukakan, digambarkan sebagai jiwa yang kehilangan semua hasrat,  perhatian dan menjadikan diri

 perhatian dan menjadikan diri sebagai obyek Tuhasebagai obyek Tuhan, dengan cinta di n, dengan cinta di dalamdalam  batin, pikiran sifat-sifat kebaikan yang menimbulkan kekaguman dalam  batin, pikiran sifat-sifat kebaikan yang menimbulkan kekaguman dalam dirinya. Sebagaimana diceritakan bahwa Abu Yazid pernah mengatakan dirinya. Sebagaimana diceritakan bahwa Abu Yazid pernah mengatakan

36

36Harun Nasution,Harun Nasution,Falsafah dan Mistisme Dalam IslamFalsafah dan Mistisme Dalam Islam, Op. Cit., hal. 85, Op. Cit., hal. 85 37

37Ibid, 86Ibid, 86 38

(14)

“Aku tidak heran terhadap cintaku pada-Mu, karena aku hanyalah hamba “Aku tidak heran terhadap cintaku pada-Mu, karena aku hanyalah hamba yang hina, tetapi aku heran terhadap cinta-Mu padaku, karena Engkau yang hina, tetapi aku heran terhadap cinta-Mu padaku, karena Engkau Raya Yang Maha Kuasa”. Dia juga menyatakan, “Manusia bertaubat dari Raya Yang Maha Kuasa”. Dia juga menyatakan, “Manusia bertaubat dari dosa-dosa mereka, tetapi aku taubat dari ucapanku “Tidak ada Tuhan dosa-dosa mereka, tetapi aku taubat dari ucapanku “Tidak ada Tuhan selain Allah”

selain Allah”, karena dalam hal ini , karena dalam hal ini aku memakai alat dan huruf, sedangkanaku memakai alat dan huruf, sedangkan Tuha

Tuhan tidak dapat dijangkau dengan alat n tidak dapat dijangkau dengan alat dan huruf”dan huruf” ..3939 Se

Semamakikin n lalarurutnytnya a dadalam lam ittittihihadad, , di di susuatatu u papagi gi sesetetelalah h shshalalatat sh

shububuhuh, , AbAbu u YYazazid id pepernrnah ah memelalafafalklkan an kakalimlimat at sasampmpai ai ororanang g lalainin m

meengngaangnggagapnpnyya a ooraranng g ggilila a dadan n mmeenjnjaauhuhininyya a ddenengagan n kakalilimmaat,t, “Sesungguh

“Sesungguhnya aku nya aku adalah Allah, tiada Tuhan selain aku, maka adalah Allah, tiada Tuhan selain aku, maka sembahlahsembahlah aku, maha suci aku, maha suci aku,

aku, maha suci aku, maha suci aku, maha besar aku”.maha besar aku”.4040 Ungkapan-un

Ungkapan-ungkapan yang gkapan yang dikeluarkan oleh Abu Yadikeluarkan oleh Abu Yazid diatas zid diatas tidak tidak  dapat dilihat secara harfiah, tetapi harus dipandang sebagai ungkapan dapat dilihat secara harfiah, tetapi harus dipandang sebagai ungkapan seorang sufi yang sedang dalam keadaan

seorang sufi yang sedang dalam keadaan fana’  fana’ , seluruh pikiran, kehendak , seluruh pikiran, kehendak 

dan tindakannya telah

dan tindakannya telah baqa’ baqa’ dalam Tuhan. Pada dasarnya semua wujud,dalam Tuhan. Pada dasarnya semua wujud,

se

selain lain wujwujud ud TTuhauhan n adaadalahlah  fana’  fana’ , , ataatau u segsegala ala sesesuasuatu tu selselain ain TTuhauhan,n,

dip

dipandandanang g dadari ri kebkeberaeradadaan an dirdirinyinya, a, sudsudah ah tidatidak k adaada  fana’  fana’ . . DeDengnganan

demikian satu-satunya wujud yang ada

demikian satu-satunya wujud yang ada hanyalah wujud Tuhanhanyalah wujud Tuhan.. Dalam

Dalam pengpengalamaalaman n tasatasawuf, wuf, keadkeadaanaan  fana’  fana’  papara ra sufsufi i berberbebedada

antara satu dengan yang lain. Ada yang kembali kepada keadaan normal antara satu dengan yang lain. Ada yang kembali kepada keadaan normal sehingga dia tetap menganggap dualitas antara Tuhan dan alam, tetapi ada sehingga dia tetap menganggap dualitas antara Tuhan dan alam, tetapi ada   pula

  pula yang yang betulbetul-betu-betul l merasmerasakanakan fana’  fana’  yang yang kemukemudian dian mengmengantaantarkanrkan

 bersatu dengan Tuhan, sehingga tidak ada perbedaan antara

 bersatu dengan Tuhan, sehingga tidak ada perbedaan antara TuhaTuhan, dengann, dengan alam, atau sebaliknya.

alam, atau sebaliknya.

Meskipun Abu Yazid di pandang sebagai tokoh terpandang dalam Meskipun Abu Yazid di pandang sebagai tokoh terpandang dalam  bidangnya, ternyata juga mendapat kritik, sebagai contoh adalah al-Thusi,  bidangnya, ternyata juga mendapat kritik, sebagai contoh adalah al-Thusi,

yang memaparkan bahwa

yang memaparkan bahwa ittihad ittihad  sebagaimana sebagaimana yang yang di lakukan di lakukan oleh oleh AbuAbu

Yazid, yang diawali oleh keadaan

Yazid, yang diawali oleh keadaan fana’  fana’ , patut diwaspadai bahaya-bahaya, patut diwaspadai bahaya-bahaya

yang akan di timbulkannya, karena menurutnya, sifat-sifat kemanusiaan yang akan di timbulkannya, karena menurutnya, sifat-sifat kemanusiaan tidak mungkin sirna dari manusia. Oleh karena itu persangkaan bahwa tidak mungkin sirna dari manusia. Oleh karena itu persangkaan bahwa

39

39Harun Nasution,Harun Nasution,Op. Cit Op. Cit . , hal. 84.. , hal. 84. 40

(15)

manusia bisa

manusia bisa  fana fana’, sehingga ia bersifat sebagaimana sifat ketuhanan,’, sehingga ia bersifat sebagaimana sifat ketuhanan,

ad

adalalah ah kekeliliruru. . AkAkibibat at keketidtidak ak tatahuhuanannynya, a, pependndapapat at itu itu hahanynya a akakanan mengantar mereka kepada hulul atau pendapat orang nasrani tentang isa mengantar mereka kepada hulul atau pendapat orang nasrani tentang isa al-Masih.

al-Masih.4141

 Namun juga tidak kurang dari tokoh sufi lain yang memberikan  Namun juga tidak kurang dari tokoh sufi lain yang memberikan dukungan, sebagaimana di sampaikan oleh Al-Junaidi, yang menyatakan dukungan, sebagaimana di sampaikan oleh Al-Junaidi, yang menyatakan dapat memahami ungkapan yang

dapat memahami ungkapan yang di keluarkan Abu Ydi keluarkan Abu Yazid. Bahkan Abd al-azid. Bahkan Abd al-Qadir al-Jailani memberikan komentar, “Terhadap apa yang di ucapkan Qadir al-Jailani memberikan komentar, “Terhadap apa yang di ucapkan  para sufi, tidak bisa dijatuhkan hukum, kecuali apa yang di ungkapkannya  para sufi, tidak bisa dijatuhkan hukum, kecuali apa yang di ungkapkannya

dalam keadaan sadar”

dalam keadaan sadar”4242 karena persoalannya tidak lebih dari psikis yangkarena persoalannya tidak lebih dari psikis yang sseedadang ng ddiaialalami mi ololeeh h mmasasiningg-m-maassining g pepelalaku ku susufi fi yyanang g sseedadanngg me

melanlangsugsungkngkan an tawtawajjajjuh uh dendengan gan AllAllah ah sehsehingingga ga keakeadaadaan n alaalam m dandan seisinya benar-benar tertutup dari jangkauan akal

seisinya benar-benar tertutup dari jangkauan akal mereka.mereka. D

D.. EEppiilloogg

Demikianlah dalam perspektif al-Hallaj dan al-Bustami bahwa Tuhan Demikianlah dalam perspektif al-Hallaj dan al-Bustami bahwa Tuhan dan manusia dipahami memiliki dua sifat yang sama. Suatu saat apabila dan manusia dipahami memiliki dua sifat yang sama. Suatu saat apabila ma

manunussia ia beberhrhaassil il mmenenghghililaangngkakan n ssififat at kekemmaanunusisiaaanannynya a dedengngaann membersihkannya lewat berbagai ibadah yang tulus ikhlas hanya mencari membersihkannya lewat berbagai ibadah yang tulus ikhlas hanya mencari keridlaan Allah, maka dipastikan ia akan bisa bertemu dan menyatu dengan keridlaan Allah, maka dipastikan ia akan bisa bertemu dan menyatu dengan sifat Allah. Sebaliknya, apabila manusia tanpa mau berusaha menghilangkan sifat Allah. Sebaliknya, apabila manusia tanpa mau berusaha menghilangkan atau melenyapkan sifat kemanusiaannya, maka sulit untuk bisa dipastikan atau melenyapkan sifat kemanusiaannya, maka sulit untuk bisa dipastikan akan bertemu dan

akan bertemu dan menyatu dengan Allah.menyatu dengan Allah.

BIBLIOGRAPY BIBLIOGRAPY

Abd

Abd. . HadHadi, i, M., M., WW, , daldalam am penpengagantantar r SalSaleh Abdul eh Abdul SabSaburur,, TrTragei agei al-Haal-Hallaj llaj ,,

(Bandung, Pustaka, 1976) (Bandung, Pustaka, 1976)

41

41Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taflazani,Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taflazani,Op. Cit Op. Cit ., hal. 109., hal. 109 42

(16)

Abdul Kadir Mahmud,

Abdul Kadir Mahmud, al-Fikr al-Fikr al-Ial-Islamslami i wa wa al-Faal-Falsafalsafat t al-Mal-Muariuaridhoh fi dhoh fi al- al-Qodim wa al-Hadits,

Qodim wa al-Hadits, (Mesir, Hajah al-Misriyah al-Ammah li al-Kitab,(Mesir, Hajah al-Misriyah al-Ammah li al-Kitab,

1986) 1986)

Abu, Wafa’, al-Ghanimi, al-Taftazani,

Abu, Wafa’, al-Ghanimi, al-Taftazani, Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam, Terj., Terj.

Ahmad Rafi’ Usman, Bandung, Pustaka ; 1985 Ahmad Rafi’ Usman, Bandung, Pustaka ; 1985 Abu

Abu BaBakar kar al-Kal-Kalbalbadzadzi,i, al-al-TTa’aa’arrurruf f li li MaMadzhdzhab ab Ahl Ahl al-al-TTasaasawwuwwuf f , , KaKairiro,o,

Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyyah, 1969, Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyyah, 1969, Abu al-A’la al-Afifi,

Abu al-A’la al-Afifi, Fi al-Tasawwuf al-Islamiyah wa Tarikhihi Fi al-Tasawwuf al-Islamiyah wa Tarikhihi , Kairo, Lajnah, Kairo, Lajnah

Taklif wa al-Tarjamah wa al-Nasyr : 1969, Taklif wa al-Tarjamah wa al-Nasyr : 1969, Ajoeb Joebar, dalam pengantar Ibrahim Gazur I-Ilahi,

Ajoeb Joebar, dalam pengantar Ibrahim Gazur I-Ilahi, The Secret of Ana L-HaqqThe Secret of Ana L-Haqq,,

(Jakarta : Rajawali, 1986) (Jakarta : Rajawali, 1986) Al-Hujriwi,

Al-Hujriwi, Kasyf al-Mahjub Kasyf al-Mahjub, Mesir, Lajnah al-Ta, Mesir, Lajnah al-Ta’rif bi ’rif bi al-Islam, 1934,al-Islam, 1934,

Amin Syukur, M,

Amin Syukur, M, Zikir Menyembuhkan Kankerku : Pengalaman Kesembuhan Zikir Menyembuhkan Kankerku : Pengalaman Kesembuhan  Seorang Penderita Kanker Ganas yang Divonis Memiliki Hidup Hanya  Seorang Penderita Kanker Ganas yang Divonis Memiliki Hidup Hanya

Tiga Bulan

Tiga Bulan, Jakarta, Hikmah (PT Mizan Publika), Cetakan II, 2007, Jakarta, Hikmah (PT Mizan Publika), Cetakan II, 2007

Amin Syukur, M,

Amin Syukur, M, Menggugat Tasawuf  Menggugat Tasawuf , Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1999, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1999

Azyumardi Azra, et. Al.,

Azyumardi Azra, et. Al., Ensiklopedia Islam Ensiklopedia Islam, Jakarta, PT Ichtiar Baru van Hoeve,, Jakarta, PT Ichtiar Baru van Hoeve,

Cetakan X, 2002 Cetakan X, 2002 Dep

Departeartemen men AgaAgama ma RepRepublublik ik IndIndoneonesiasia,,   Al-Q  Al-Qur’an ur’an dan dan TTerjeerjemahmahannyaannya,,

Semarang, CV Toha Putra, 1989. Semarang, CV Toha Putra, 1989. Hamka,

Hamka, Tasawuf Perkembangan dan PemurniannyaTasawuf Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta, Pustaka Panjimas,, (Jakarta, Pustaka Panjimas,

1993) 1993) Harun Nasution,

Harun Nasution, Falsafah dan Mistisme dalam IslamFalsafah dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta, Bulan Bintang,, (Jakarta, Bulan Bintang,

1973) 1973) Harun Nasution,

Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspek  Islam ditinjau dari berbagai aspek ,,

Kamil Musthafa al-Syaiby,

Kamil Musthafa al-Syaiby,  Syarah al-Diwan al-Hallaj   Syarah al-Diwan al-Hallaj , (Beirut, Maktabah, an-, (Beirut, Maktabah,

an- Nahdhoh, 1974)  Nahdhoh, 1974) Qur

Quraisaish h ShiShihabhab, , M,M,   M  Menyenyingingkap kap TTabiabir r IlaIlahi, hi, Al-Al-AsAsmama’ ’ al-al-HusHusna na DaDalamlam  Perspektif Al-Qur’an,

(17)

Syarah Binti Muhsin ibn Abdullah ibn Jalawi,

Syarah Binti Muhsin ibn Abdullah ibn Jalawi,   Nadzariyyah al-Ittishal ‘ind al-  Nadzariyyah Ittishal ‘ind al- Shufiyyah fi al-dhau’ al-Islam

 Shufiyyah fi al-dhau’ al-Islam, Jeddah, Dar al-Manarah ; 1991, Jeddah, Dar al-Manarah ; 1991

Sa

Sayyyyed ed HoHosssseiein n NaNasr sr (e(ed.d.),),   E  Ensnsikiklolopepedi di TTemematatis is SpSpirirituitualialitatas s IsIslalam m ::  Manifestasi 

 Manifestasi , (tim , (tim penerjemah Mizan), Bandung, Mizan, 2003penerjemah Mizan), Bandung, Mizan, 2003

Schimmel, Annemaric,

Schimmel, Annemaric, Dimensi Mistik Dalam Islam Dimensi Mistik Dalam Islam, (Jakarta, Pustaka Firdaus,, (Jakarta, Pustaka Firdaus,

1986) 1986) Simuh,

Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam IslamTasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, (Jakarta, Raja Grafindo, (Jakarta, Raja Grafindo

Persada, 1997) Persada, 1997) Sulaiman Al-Kumayi,

Sulaiman Al-Kumayi,   Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym  Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym, Semarang,, Semarang,

Pustaka Nuun, 2004 Pustaka Nuun, 2004

Team Penyusun Ensiklopedia Islam,

Team Penyusun Ensiklopedia Islam,  Ensiklopedi Islam  Ensiklopedi Islam, Jilid I, Jakarta, Ikhtiar , Jilid I, Jakarta, Ikhtiar 

Baru Van Hoeve : 1994, Baru Van Hoeve : 1994, Yusuf Qardawi,

Yusuf Qardawi, Al-Iman wa al-Hayat  Al-Iman wa al-Hayat , (terj. Jazirotul Islamiyah), Jakarta, Mitra, (terj. Jazirotul Islamiyah), Jakarta, Mitra

Pustaka, Cetakan V, 2002 Pustaka, Cetakan V, 2002

Referensi

Dokumen terkait

Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat, sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio

Seperti telah disinggung, jika dalam kajian tasawuf, orang suci yang telah sampai kepada Allah (wushul) diidentifikasi sebagai sufi atau wali, maka sosok dengan

Penulis menggunakan teori psikoanalisis sebagai pendekatan dalam membaca tafsir sufi untuk menjelaskan hubungan aḥwāl (keadaan jiwa se- saat) dan maqāmāt (keadaan jiwa stabil

Penyelidik juga merumuskan bahawa penolakan Imam al-Shafi’i r.h.m.bukan pada disiplin tasawuf, akan tetapi terhadap ahli sufi yang berpura-pura menunjukkan

itu adalah suatu ajaran dalam ilmu tasawuf falsafi yang disiapkan ntuk menjelaskan bagaimana kita bisa sampai ke Allah atau bagaimana kita bisa bersatu dengan Tuhan, nah untuk

Seorang sufi yang mempelajari tasawuf dan thariqah, tidak lepas dari tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk mencapai kedudukan tertinggi dekat pada Allah SWT.Tahapan tersebut

Corak tafsir sufi yang mempunyai karakteristik khusus, tidak lepas dari epistimogi yang dipakai oleh kaum tasawuf sendiri yaitu epistemology irfani yang dalam

Makalah ini membahas tentang aliran-aliran keagamaan dalam Islam bidang Tasauf dan