TEORI SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE
Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Semiotika Dosen Pengampu: Dr. Wildan Taufiq, M. Hum
Disusun oleh:
M. Yesha Zula Rosyadi ( 1205020103 ) Marsa Aghniya Nurul Hikmi Yusup ( 1205020106 ) Marwan Abdul Hafizh ( 1205020107 ) Mohammad Marwan Ramdani ( 1205020112 )
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2022
A. PENDAHULUAN
Semiotika merupakan disiplin ilmu sastra yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu Semeion yang berarti tanda. Jika ditinjau dari segi terminologis, semiotika didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek, peristiwa seluruh kebudayaan sebagai tanda. Sementara itu, Sobur (2003: 15) mendefenisikan semiotika sebagai suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Sejalan denga itu, Zoest (dalam Pilliang 1999: 12) mengemukakan pendapatnya bahwa semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda, dan produksi makna. Menurut Zoest tanda merupakan segala sesuatu yang bisa diamati atau dibuat teramati bisa disebut tanda.Semua karya sastra dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan semiotika. Hal tersebut didasarkan karena dalam karya sastra media dalam penyampaiannya adalah bahasa. Penggunaan tanda oleh pengarang dalam penyampaian gagasannya akan menunjukkan nilai estetik dari karya tersebut. Artinya, bahwa tanda- tanda yang dimunculkan oleh pengarang akan menghasilkan nilai keindahan dari karya sastra yang dituliskan.
B. Teori Semiotika Charles Sanders Peirce
Charles Sander Peirce dikenal dengan teorinya, yaitu segitiga makna.
Tanda memiliki tiga bagian, Representamen, Interpretan dan Objek.
Representamen merupakan sesuatu yang bisa diketahui dengan pancaindra.
Interpretan adalah sesuatu yang muncul dalam benak seseorang kemudian muncullah makna atas apa yang dilihat. Jika ada orang yang beranggapan/berpersepsi pada representamen kemudian muncul dalam pikiran, itu interpretan. Karena pancaindranya membaca representamen, maka timbul timbul suatu kesimpulan. Objek merupakan rujukan atau acuan dari interpretan.
Di jalan, ketika berkendara, ditemui ada tiang dengan lampu merah.
Kemudian karena ada lampu merah, tandanya kita harus berhenti. Di sini, lampu merah menjadi representamen dan “berhenti” menjadi interpretannya.
Kemudian kita berkesimpulan bahwa lampu merah itu mengharuskan kita
untuk berhenti. Objeknya itu adalah aturan lalu lintas yang telah dibuat agar dipatuhi.
Sesuatu bisa disebut tanda jika bisa dipersepsi baik dengan panca indra maupun dengan perasaan/pikiran. Kemudian sesuatu itu harus bisa mewakili sesuatu yang lain.
Interpretan (I)
Representamen (R) Objek (O)
Berhenti (I) Berhenti (I)
C. Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce
Dalam analisis tanda menggunakan teori semiotika Peirce, kami mengambil data dari beberapa karya sastra, diantaranya novel yang berjudul “ Rentang Kisah “ karya Gita Savitri, “ Habibie dan Ainun “ karya Bacharuddin Jusuf Habibie, “ Ranah 3 Warna “ karya Ahmad Fuadi, dan kumpulan cerpen yang berjudul “ Baḥr al-ādāb “ karya lafīf min al-asātiḏat.
Dengan pengambilan data yang kami lakukan pada karya sastra tersebut menunjukkan bahwa kami berfokus pada tanda verbal (bahasa). Telah
Pasal 287 ayat 2 UU Nomor 22 Tahun 2009 (O)
UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (O) Rambu-rambu UU Nomor 22
Tahun 2009 Pasal 287 ayat 2 Lampu Merah (R)
disebutkan di atas bahwa sebuah tanda bahasa (linguistik) menurut peirce masih termasuk kepada sebuah sistem semiotikanya.
Data 1
“Aku cukup malu dengan diriku sendiri. Buatku kerudung itu bukan sekedar kain, tapi simbol agama. Hubungannya langsung dengan Tuhan.” (hal 124) Dari kutipan di atas menggambarkan bahwa kerudung merupakan kewajiban bagi setiap muslimah, selain simbol agama, kerudung juga berfungsi untuk menutup aurat setiap muslimah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab: 59.
َنيِنِمؤؤُُُمؤلا ِءا َُُسِنَو َكُُِتاَنَبَو َكُُِجاَوؤز َ ِل ؤلُُُق ّيِبّنلا اَُُهّيَأ اَي
َلَف َنؤفَرُُؤعُي ؤنَأ ٰىَنؤدَأ َكُُِلَٰذ ّنِهِبيِب َلَج ؤنِم ّنِهؤيَلَع َنيِنؤدُي ۚ اًميِحَر اًروُفَغ ُهّللا َناَكَو َنؤيَذؤؤُي ۗ
“ Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. “ QS. Al-Ahzab: 59.
HR. Abu Dawud
ؤنَأ ؤحُل ؤُُصَت ؤمَل َضيِحَمؤلا ِتَغَلَب اَذِإ َة َأؤرَُُمؤلا ّنِإ ُءاَم ؤُُسَأ اَي ؤيّفَكَو ِهِهؤجَو ىَلِإ َرا َش َأَو اَذَهَو اَذَه ّلِإ اَهؤنِم ىَرُي
“ Wahai Asma’:, sesungguhnya apabila wanita itu sudah sampai masa haid, tidaklah boleh dilihat sebagian tubuhnya kecuali ini dan ini. Beliau menunjuk kepada muka dan kedua tapak tangannya” [HR. Abu Dawud]
Dalam perspektif semiotik Pierce, kutipan di atas merupakan representament (R), kerudung sebagai interpretant (I), QS. Al-Ahzab sebagai objek 1 (O1), dan HR. Abu Dawud sebagai objek 2 (O2),
Kerudung (I) Kerudung (I)
Data 2
“Barulah aku tahu, setelah syahadat bukan berarti kita nggak diuji lagi. Justru makin diuji. Tapi buatku kali ini beda, kali ini kami berdua berjalan ke depan tanpa rasa takut.” (hal 117)
Kutipan di atas terdapat unsur keimanan kepada Allah SWT, yaitu syahadat. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali-Imran: 18
ًمِٕى َق ِمؤلِعؤلا اوُلوُاَو ُةَكِٕى َمؤلاَو ُه ّلِا َهٰلِا َل هّنَا ُهّٰللا َدِه َش
ۢا ۤا ٰۤل َۙو
مؤيِكَحؤلا ُزؤيِزَعؤلا َوُه ّلِا َهٰلِا َل ؤسِقؤلاِب ِۗط
“ Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha-bijaksana”. QS. Ali-Imran: 18.
Dan dalam Hadist riwayat Muslim dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu
‘anhu, dia berkata,
ُلؤو ُُُسَر َلاَقَف ؟ ِمَلؤسِلا ِنَع يِنؤرِبؤخَأ ُدّمَحُم اَي : َلَاقَو
َ ل ؤنَأ َدَه ؤُُشَت ؤنَأ ُم َلؤسِلا : َمّلَسَو ِهؤيَلَع ُهللا ىّلَص ِهللا
، َةَل ُُّصلا َمؤيِقُتَو ، ِهُُللا ُلؤوُسَر اًدّمَحُم ّنَأَو ُهللا ّلِإ َهَلِإ
ِنِإ َتؤيَبلا ّجُحَتَو ، َنا َُُضَمَر َمؤو ُُُصَتَو ، َةاَُُ كّزلا َيِتؤؤُُُتَو ًلؤيِبَس ِهؤيَلِإ َتؤعَطَتؤسا
“ Dan ia berkata, “Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah SAW menjawab, “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada QS. Al-Ahzab: 59
(O1)
HR. Abu Dawud
“...Buatku kerudung (O2) itu bukan sekedar kain, tapi simbol agama...”
(R)
tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, serta mengerjakan haji ke Baitullah bila engkau mampu.” [HR Muslim]
Dalam perspektif semiotik Pierce, kutipan di atas merupakan representament (R), Syahadat sebagai interpretant (I), QS Al A'raf Ayat 54 sebagai objek 1 (O1), dan Hadits Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu sebagai (O2).
Syahadat (I) Syahadat (I)
Data 3
“Kemantapan imanku setelah menutup aurat lama-lama terasa makin kuat.
Seiring waktu berjalan makin berkobar semangatku untuk menjadi muslimah yang lebih baik lagi. Aku jadi merasa sangat dekat dengan Tuhan, yang dulu kuanggap sangat jauh.” (hal 132)
Dari kutipan di atas menggambarkan bahwa menutup aurat merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab: 59
َنيِنؤدُي َنيِنِمؤؤُمؤلا ِءاَسِنَو َكِتاَنَبَو َكِجاَوؤز َ ِل ؤلُق ّيِبّنلا اَهّيَأ اَي
َنؤيَذؤؤُي َلَف َنؤفَرؤعُي ؤن َأ ٰىَنؤدَأ َكِلَٰذ ّنِهِبيِبَلَج ؤنِم ّنِهؤيَلَع
ۗ ۚ
اًميِحَر اًروُفَغ ُهّللا َناَكَو
“ Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke
HR. Muslim (O2)
QS. Ali-Imran: 18 (O1)
“Barulah aku tahu, setelah syahadat bukan berarti kita nggak diuji lagi...”
(R)
seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. “ QS. Al-Ahzab: 59.
HR. Muslim
ىَلِإ ُةَأؤرَُُمؤلا َلَو ،ِلُُُجّرلا ِةَرؤوَُُع ىَلِإ ُلُُُجّرلا ُرُُُظؤنَي َل يِف ِلُُُجّرلا ىَلِإ ُلُُُجّرلا ي ُُِضؤفُي َلَو ،ِةَأؤرَُُمؤلا ِةَرؤوَُُع يِف َةَأؤرَُُمؤلا ىَلِإ ُةَأؤرَُُمؤلا ي ُُِضؤفُت َلَو ،ِدُُِح اَوُُؤلا ِبؤوّثلا
ِدِحَوؤلا ِبؤوّثلا
“ Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan jangan pula perempuan melihat aurat sesama perempuan lain, dan janganlah seoarang laki- laki masuk dengan laki-laki lain dalam satu selimut, serta janganlah seorang perempuan masuk bersama perempuan lain dalam satu selimut ” [HR.
Muslim].
Dalam perspektif semiotik Pierce, kutipan di atas merupakan representament (R), menutup aurat sebagai interpretant (I), QS. Al-Ahzab: 59 sebagai objek 1 (O1), dan HR. Muslim sebagai objek 2 (O2),
Menutup Aurat (I) Menutup Aurat (I)
Data 4
“ Ajakan bapak Besari saya terima dan menyanggupi untuk datang setelah sholat maghrib”. (hlm 5)
Kutipan diatas merupakan penjelasan bahwa Habibie diajak untuk mengobrol kembali dengan keluarga besari dikarenakan belum puas dengan
HR. Muslim (O2)
“Kemantapan imanku setelah menutup aurat lama-lama terasa makin kuat....”
(R)
QS. Al-Ahzab: 59 (O1)
jawaban Habibie, kemudian Habibie pamit untuk melaksanakan kewajiban shalat terlebih dahulu. Sebagaimana di dalam Hadits yang bebunyi:
َنيِعِكّٰرل َعَم وُعَكؤر َو َةٰوَكّزل وُتاَءَو َةٰوَلّصل وُميِق ٱ ۟ا ٱ ٱ ۟ا ٱ ۟ا َأَو
“ Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. “ (QS. Al baqarah: 43)
Sholat (Syariah) (I)
Ajakan bapak Besari… (R) (QS. Al baqarah: 43) (O)
Data 5
“ Ainun terus menerus dengan kesabaran dan ketabahan yang tulus memberi dorongan dan mengilhami saya dalam segala pekerjaan. “ (hlm 23)
Kutipan diatas merupakan mendeskripsikan Ainun yang selalu bersabar menunggu dan menemani Habibie disaat kerja karena sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar. Sebagaimana dalam firman Allah SWT,
َنؤيِرِبّٰصلاَعَم َهّٰللاّنِا وٰلّصلاَوِرؤبّصلاِباؤوُنؤيِعَتؤسااوُنَمٰاَنؤيِذّلااَهّيَآٰي ِۗة
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS.
Al baqarah : 153)
Sabar (Akhlak) (I)
Ainun terus menerus dengan kesabaran... (R) (QS. Al baqarah : 153) (O)
Data 6
“ Saya belajar menggunakan waktu secara maksimal sehingga semuanya dapat terselesaikan dengan baik mengatur menu murah tetapi sehat, membersihkan rumah, menjahit pakaian “, (hlm 26)
Kutipan diatas mendeskripsikan bahwa Ainun bisa memanfaatkan waktu dengan baik, karena ada seperti pepatah arab juga mengatakan مل نا فيسلاك تقولا كعطق هععععطقت yang artinya Waktu itu seperti pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu. Sebagaiman Allah SWT berfirman,
اًديِدَس ًلؤوَق اوُلوُقَو َهّللا اوُقّتا اوُنَمآ َنيِذّلا اَهّيَأ اَي
"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar," (QS. At-Taubah [9]: 119)
Memanfaatkan Waktu dengan baik (Akhlak) (I)
Saya belajar menggunakan waktu.. (R) QS. At-Taubah [9]: 119 (O)
Data 7
“ Wa’ang, Lif? Mau coba UMPTN? Emang sekolah kamu di SMA mana?”
tanya Armen kawanku dengan tergelak keheranan. Hatiku panas. Tapi aku mencoba menahan diri dengan hanya mengulum senyum pahit, tanpa suara.
(Halaman 7)
Kutipan di atas menggambarkan salah satu perbuatan tercela; meremehkan orang lain. Hal demikian tidak semestinya ditiru dan hendaknya dijauhi. Justru kita harus mendukung dan mendoakan, semoga cita-citanya tergapai.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al Hujurat ayat 11,
ؤنَا ى ُُٰٓسَع ٍمؤوَُُق ؤنّم ٌمؤوَُُق ؤرَخ ؤُُسَي َل اؤوُُُنَمٰا َنؤيِذّلا اَهّيَآٰي
ّنُكّي ؤنَا ى ُُٰٓسَع ٍء َُُسّن ؤنّم ٌء َُُسِن َلَو ؤمُهؤنّم اًرؤيَخ اؤوُنؤوُكّي ۤا ۤا اَُُقؤلَ ؤلاِب اؤوُزَباَُُنَت َلَو ؤمُك َُُسُفؤنَا آؤوُزُُِمؤلَت َلَو ُهؤنّم اًرُُؤيَخ
ِۗب ّۚن
َكِٕى وُاَف ؤبُتَي ؤمّل ؤنَمَو اَمؤيِ ؤلا َدؤعَب ُقؤوُسُفؤلا ُمؤس ِلا َسؤئِب ٰۤل ِۚن
َنؤوُمِلّٰظلا ُمُه
“ Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan- perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “. Q.S. Al Hujurat ayat 11.
Sabda Rasulullah SAW,
-ملسو هيلع هللا ىلص- ّىِبّنلا َىِل َلاَق َلاَق ّرَذ ىِب َأ ؤنع
ٍهؤجَوِب َكاَخ َأ ىَقؤلَت ؤنَأ ؤوَلَو اًئؤيَش ِفوُرؤعَمؤلا َنِم ّنَرِقؤحَت َل
ٍقؤلَط
Dari Abi Dzar radhiyallahu anhu, ia berkata : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.” [HR.
Muslim]
Meremehkan (I) Meremehkan (I)
“Wa’ang, Lif? Q.S. Al Hujurat ayat 11 (O) HR. Muslim (O) Mau coba UMPTN?
Emang sekolah kamu di SMA mana?” (R)
Data 8
“Tapi satu hal yang kau tak boleh lupa. Walau sedikit, setiap honor itu kau potong dulu. Sisihkan buat amal, kalau perlu kau antar sendiri ke panti asuhan.” (Halaman 155)
Kutipan di atas menggambarkan bilamana seorang manusia mendapat rezeki, walaupun tidak seberapa, hendaknya menyisihkan sedikit dari rezeki itu untuk mereka yang berhak menerimanya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 261 dan Q.S. Ali Imran ayat 134,
ٍةّبَح ِلَثَمَك ِهّٰللا ِلؤيِبَس ؤيِف ؤمُهَلاَوؤمَا َنؤوُقِفؤنُي َنؤيِذّلا ُلَثَم
ُهّٰللاَو ٍةّبَح ُةَئاّم ٍةَلُب ُس ّلُك ؤيِف َلِباَنَس َعؤبَس ؤتَتَب َا ۗ ْۢن ْۢن
ٌمؤيِلَع ٌعِساَو ُهّٰللاَو ُء َشّي ؤنَمِل ُفِعٰضُي ۗ ۤا
“ Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui”. Q.S. Al-Baqarah ayat 261
ٍةّبَح ِلَثَمَك ِهّٰللا ِلؤيِبَس ؤيِف ؤمُهَلاَوؤمَا َنؤوُقِفؤنُي َنؤيِذّلا ُلَثَم
ُهّٰللاَو ٍةّبَح ُةَئاّم ٍةَلُب ُس ّلُك ؤيِف َلِباَنَس َعؤبَس ؤتَتَب َا ۗ ْۢن ْۢن
ٌمؤيِلَع ٌعِساَو ُهّٰللاَو ُء َشّي ؤنَمِل ُفِعٰضُي ۗ ۤا
“ (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.
Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,” Q.S. Ali Imran ayat 134 Hadits Qudsi. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi ﷺ memberitahukan kepadanya,
َكؤيَلَع ؤقِفؤنُأ ؤقِفؤنَأ َمَدآ َنؤبا اَي ىَلاَعَتَو َكَراَبَت ُهّللا َلاَق
“Allah Tabaraka wa Ta’ala: Wahai anak Adam, berinfaklah, Allah akan mengganti infakmu.” [HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993]
Berinfak (I) Berinfak (I) Berinfak (I)
HR. Muslim (O) Q.S. Ali Imran
134 (O) Q.S. Al-Baqarah
261 (O)
“...Sisihkan buat amal...”(R)
Data 9
Baso menulis seperti ini: “Alif, bagiku belajar adalah segalanya. Ini perintah Tuhan, perintah Rasul, perintah kemanusiaan. Bayangkan, kata-kata pertama wahyu yang diterima Rasulullah itu adalah iqra. Bacalah. Itu artinya juga belajar. Makanya aku akan terus mempraktikkan ajaran Rasul itu, bahwa kita perlu belajar dari buaian samapi liang lahat. ... (Halaman 34)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban sekaligus prioritas utama orang-orang. Karena menuntut ilmu merupakan langkah untuk menghapus kebodohan dan melahirkan kecerdasan.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Mujadalah ayat 11,
ِسِلٰجَمؤلا ىِف اؤوُحّسَفَت ؤمُكَل َلؤيِق اَذِا آؤوُنَمٰا َنؤيِذّلا اَهّيَآٰي اؤوُز ُشؤناَف اؤوُز ُشؤنا َلؤيِق اَذِاَو ُكَل ُهّٰللا ِحَسؤفَي اؤوُحَسؤفاَف ْۚم
ٰجَرَد َمؤلِعؤلا اوُتؤوُا َنؤيِذّلاَو ُكؤنِم اؤوُنَمٰا َنؤيِذّلا ُهّٰللا ِعَفؤرَي
ٍۗت ْۙم
ٌرؤيِبَخ َنؤوُلَمؤعَت اَمِب ُهّٰللاَو
“ Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,”
maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan “. Q.S. Al-Mujadalah ayat 11
Sabda Rasulullah SAW,
ِهِب ُهَل ُهّللا َلّهَس اًمؤلِع ِهيِف ُسِمَتؤلَي اًقيِرَط َكَلَس ؤنَمَو
ِةّنَجؤلا ىَلِإ اًقيِرَط
"Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR Muslim, no. 2699).
َدؤنِع ِمؤلِعؤلا ُعِضاَوَو ٍمِلؤسُم ّلُك ىَلَع ٌةَضيِرَف ِمؤلِعؤلا ُبَلَط
َبَهّذلاَو َؤُلؤؤّللاَو َرَهؤوَجؤلا ِريِزاَنَخؤلا ِدّلَقُمَك ِهِلؤه َأ ِرؤيَغ
"Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim, dan siapa yang menanamkan ilmu kepada yang tidak layak seperti yang meletakkan kalung permata, mutiara, dan emas di sekitar leher hewan." (HR Ibnu Majah).
Menuntut Ilmu (I) Menuntut Ilmu (I) Menuntut Ilmu (I)
Data 10
َنْيّدلا ُهل َكرتو ، ُهَقَلْطأو دُبعلا كلذ ُديس قرف
‘ tuan hamba itu merasa kasihan dan melepaskannya, serta meninggalkan padanya hutang itu’ ( hal 10 )
Kutipan di atas merupakan perasaan seorang raja yang kasihan sehingga memberikan waktu untuk hambanya membayar hutang. Sikap ini yang seharusnya kita jadikan contoh ketika mau menagih hutang. Seperti firman Allah SWT berikut ini.
…ٍةَرَسؤيَم ىلإ ٌةَرِظَنَف ٍةَرؤسُع وُذ َناَك نِإَو
“Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan…” (QS. Al-Baqarah: 280).
Dalam perspektif semiotic Pierce, kutipan diatas merupakan representament ( R ), baik hati sebagai interpretant ( I ), QS. Al-Baqarah: 280 sebagai objek ( O ).
Baik hati (I)
12
“...bagiku belajar adalah segalanya.
Ini perintah Tuhan, perintah Rasul, perintah
kemanusiaan...” (R)
HR. Ibnu Majah (O)
Q.S. Al-Mujadalah 11 (O)
HR. Muslim no.
2699 (O)
QS. Al-Baqarah: 280 (O)
نيدلا هل كرتو ، هقلطأو دبعلا كلذ ديس قرف
‘ tuan hamba itu merasa kasihan
Data 11
ُهُقُن ْخي ذخأو ُهكسْمأف
‘ maka ia menahannya dan mencekiknya’ ( hal 10)
Kutipan di atas merupakan penganiayaan seorang hamba ketika menagih hutang kepada temannya, sikap itu merupakan akhlak yang buruk, seharusnya ketika kita mau menagih hutang, maka lakukanlah secara baik hati sebagaimana hadits berikut ini.
ٍفاَو ِرؤيَغ ؤو َأ ٍفاَو ٍفاَفَع ىِف ُهؤبُلؤطَيؤلَف اًقَح َبَلَط ؤنَم
“Siapa saja yang ingin meminta haknya, hendaklah dia meminta dengan cara yang baik baik pada orang yang mau menunaikan ataupun enggan menunaikannya.” [HR. Ibnu Majah no. 1965]
Dalam perspektif semiotic Pierce, kutipan diatas merupakan representament ( R ), sikap kasar sebagai interpretant ( I ), dan hadits sebagai objek ( O ).
Kasar (I)
Data 12
ْيِنَتلأَس َكأنل َكل ُهُتْكرت َكيلع يِل ناك ام ُلُك
HR. Ibnu Majah no. 1965 (O)
هل كرتو ، هقلطأو دبعلا كلذ ديس قرف هقنخي ذخأو هكسمأف
‘ maka ia menahannya dan mencekiknya’ ( hal 10) (R)
‘
semua milikku yang ada padamu aku biarkan untukmu karena kamu memintanya’ ( hal 10 )Kutipan di atas merupakan perkataan seorang raja kepada hambanya, dimana seorang raja mengikhlaskan hutang yang dimiliki oleh hambanya, sikap ikhlas ini merupakan akhlak karimah sebagaimana firman Allah SWT.
َنوُمَلؤعَت ؤمُتؤنُك ؤنِإ ؤمُكَل ٌرؤيَخ اوُقّدَصَت ؤن َأَو…
Dan jika kamu menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui,” (QS. Al-Baqarah: 280).
Dalam perspektif semiotic Pierce, kutipan diatas merupakan representament ( R ), sikap ikhlas sebagai interpretant ( I ), dan Qs. Al-Baqarah : 280 sebagai objek ( O ).
Ikhlas (I)
D. DAFTAR PUSTAKA
Taufiq, Wildan. 2016. Semiotika: untuk Kajian Sastra dan Al-Qur’an.
Bandung: Penerbit Yrama Widya.
Fatimah. 2020. “Semiotika Dalam Kajian Iklan Layanan Masyarakat”
(halaman 34-45). Gowa: TallasaMedia.
Savitri G. 2017. Rentang Kisah. Jakarta: Gagas Media.
Habibie, Bacharuddin Jusuf. 2012. Habibie dan Ainun. Jakarta: PT. Thc Mandiri.
Fuadi A. 2019. Ranah 3 Warna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Qs. Al-Baqarah : 280 (O)
ينتلأس كأنل كل هتكرت كيلع يل ناك ام لك
‘semua milikku yang ada padamu aku biarkan untukmu karena kamu memintanya’ ( hal 10 ) (R)
min al-asātiḏat, lafīf. 1925. Baḥr al-ādāb. al-juzʾ al-ṯsānī. Iskandariyah: بلطي ريرفلا ةلاكو نم