MAKALAH KELOMPOK II
Konsep Hukum Perdata Pada Masyarakat Suku
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Antropologi dan Sosiologi Dosen Pengampu : Dewi Sukarti, M. A
Disusun Oleh:
Salis Fauza Tamami (11210440000091) Irma Agustina D (11210440000107) Mamlu’ah Mubaarokah ( 11210440000108) Putri Maharani (11210440000119)
HUKUM KELUARGA
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2023
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ……….1
KATA PENGANTAR......2
BAB I......3
PENDAHULUAN......3
A. Latar Belakang...3
B. Rumusan Masalah...4
C. Tujuan Makalah...4
BAB II......5
PEMBAHASAN......5
A. Pengertian Hukum Perdata Adat...5
B. Hukum Perkawinan Adat...5
C. Hukum Kekeluargaan Adat...6
1. Pengertian Keluarga...7
2. Hukum Adat Kekeluargaan...8
D. Hukum Waris Adat...9
A. Kesimpulan...12
B. Saran...13
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah swt karena berkat rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik. Tak lupa sholawat serta salam kami haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw, semoga kita senantiasa berada dijalannya dan mendapatkan syafaatnya di hari akhir kelak.
Kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Dewi Sukarti, M. A sebagai dosen pengampu pada mata kuliah Antropologi dan Sosiologi karena telah memberikan kami tugas makalah ini sebagai pengembangan belajar mengajar kami dikelas dengan judul “ Konsep Hukum Perdata Pada Masyarakat Suku ”.
Dalam makalah ini kami akan merincikan dan menjelaskan lebih dalam lagi mengenai judul yang kami angkat. Terima kasih pula kami ucapkan kepada teman-teman yang telah membantu berpartisipasi dalam mencari data-data, informasi dalam menyelesaikan pengumpulan makalah ini dengan tepat waktu.
Kami menyadari makalah yang kami buat ini masih jauh dari kata sempurna, masih banyak yang perlu kami perbaiki dan pelajari lagi. Kami berharap untuk pembaca, teman-teman, dan dosen sekalian agar memeberikan masukan, saran, dan kritik agar terciptanya isi makalah yang baik dan sempurna.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara umum hukum perdata adalah serangkaian peraturan hukum yang mengatur hubungan subjek hukum (orang dan badan hukum)yang satu dengan subjek hukum yang lain dengan menitikberatkan pada kepentingan pribadi dari subjek hukum tersebut. Sedangkan hukum adat adalah hukum kebiasaan yang artinya aturan dibuat dari tingkah laku masyarakat yang tumbuh dan berkembang sehingga menjadi sebuah hukum yang ditaati secara tidak tertulis. Hukum adat diakui oleh negara sebagai hukum yang sah. Hukum adat merupakan salah satu sumber hukum di Indonesia yang dikemukakan oleh Scnouck Hugronje pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda di Indonesia sebagai suatu hukum kebiasaan dan sebagian dari hukum adat merupakan penerapan dari hukum Islam. Hukum adat meliputi hukum-hukum yang berdasarkan keputusan-keputusan dari hakim dan berisikan asas- asas hukum lingkungan yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, di mana hukum adat berakar pada kebudayaan tradisional yang bersifat lokal.
Hukum adat merupakan hukum yang tumbuh dan berkembang dari kesadaran masyarakat yang merupakan pencerminan dari cita dan akal budi sebuah bangsa.
Dalam perkembangannya di bidang hukum, menurut M. Kosnoe dalam bukunya, antara konsep hukum barat dengan hukum adat mempunyai perbedaan. Dalam hukum barat, individu dipandang sebagai makhluk yang merdeka dan bebas serta mempunyai suatu kepentingan, dan tiap-tiap dari individu tersebut akan berupaya keras keinginannya dapat dipenuhi secara maksimal. Untuk itu perlu adanya sanksi sebagai syarat jaminan supaya tidak terjadi pelanggaran terhadap hak orang lain. Hal tersebut berbeda dengan konsep hukum adat, yang memandang individu sebagai bagian dari masyarakat dan mempunyai sifat kebersamaan dan komunal yang kuat.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, kelompok kami akan membahas materi yang terkait, yaitu a. Pengertian hukum perdata adat
b. Hukum Perkawinan adat c. Hukum Kekeluargaan Adat d. Hukum waris adat
C. Tujuan Makalah
a. Untuk mengetahui Pengertian dari Hukum Perdata Adat
b. Untuk memahami apa saja yang masuk dalam Hukum Perkawinan Adat
c. Untuk mengetahui apa saja yang masuk dalam pembahasan Hukum Kekeluargaan Adat
d. Untuk mengetahui apa saja yang masuk dalam pembahasan Hukum Waris Adat
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Hukum Perdata Adat
D. Hukum Perkawinan Adat
E. Hukum Kekeluargaan Adat
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, satu anak atau lebih. Keluarga juga merupakan individu yang kemudian berkembang menjadi kesatuan tetangga yang kemudian membentuk masyarakat yang lebih kompleks, yaitu masyarakat adat. Keluarga yang terbentuk mengikat ikatan darah yang disebut keturunan kemudian keturunan dikeluarga yang satu dengan yang lain akan berbeda.
Hukum adat keluarga yang akan dibahas secara jelas dan rinci disini membicarakan hal-hal yang tidak jauh dari kedudukan pribadi dalam masyarakat atau kerabatnya,hubungan anak dengan orang tua atau kerabatnya beserta hal-hal lain mengenai keluarga pada umumnya.
Hukum adat keluarga yang akan dibahas pada materi ini secara jelas dan rinci yang membicarakan hal-hal yang tidak jauh dari kedudukan pribadi dalam masyarakat atau kerabat, hubungan anak dengan orang tua atau kerabatnya beserta hal-hal lain mengenai keluarga pada umumnya.
1. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan tempat dimana seorang individu tumbuh, berkembang dan belajar mengenai nilai-nilai yang dapat membentuk kepribadiannya. Proses belajar tersebut berjalan terus-menerus sepanjang individu tersebut hidup.
Ahmadi mengemukakan bahwa, keluarga adalah wadah yang sangat penting diantara individu dan grup, dan merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak-anak menjadi anggotanya, keluarga sudah barang tentu yang pertama-tama pula menjadi tempat untuk mengadakan sosialisasi kehidupan anak-anak1
Menurut Friedman, keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan.
Menurut Duvall, keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial dari tiap anggota. Keluarga merupakan aspek terpenting dalam unit terkecil dalam masyarakat, penerima asuhan, kesehatan anggota keluarga dan kualitas kehidupan keluarga saling berhubungan, dan menempati posisi antara individu dan masyarakat.2
Adapun keluarga dalam arti luas adalah kerabat (familie) yaitu kesatuan kemasyarakatan dalam hukum adat yang anggotanya terdiri atas keluarga inti ditambah saudara dari pihak ibu dan pihak beserta keturunannya. Untuk menghindari kesalahpahaman istilah maka dalam hukum adat digunakan istilah kekerabatan/kesanaksaudaraan karena tidak hanya mengatur hubungan hukum secara timbal balik antara suami dengan istri dan hubungan hukum secara timbal balik antara orang tua dengan anak, tetapi juga mengatur hubungan hukum antara anak dengan kerabat/saudara ayah dan saudara ibu3.
1 Irma Rostiana, Wilodati, Mirna Nur Alia A, Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Motivasi Anak untuk Bersekolah, Jurnal Sosietas, Vol. 5 No 2 hal. 1
2 Indra Amarudin Setiana, Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Masalah TBD
3 Wilbert D. Kolkman dkk ., Hukum Tentang Orang , Hukum Keluarga Dan Hukum Waris Di Belanda Dan Indonesia , Pustaka Larasan , Bali , 2012 , hlm . 163
2. Hukum Adat Kekeluargaan
Istilah lain hukum adat keluarga menurut beberapa ahli :
a. Prof. Dr. Mr. Barend Ter Haar, Bzn menyebutnya sebagai Hukum Kesanak- Saudaraan
b. Djaren Saragih, S.H menyebutnya sebagai Hukum Keluarga
c. Prof. H. Hilman Hadikusuma, S.H menyebutnya sebagai Hukum Adat Kekerabatan.
Menurut Istilah hukum adat keluarga/kekerabatan dapat didefinisikan sebagai hukum adat yang mengatur tentang bagaimana kedudukan pribadi seseorang sebagai anggota kerabat (keluarga), hubungan anak dan orang tua, kedudukan anak dan kerabat, dan masalah perwalian anak.4
Manusia mendapatkan status orang, badan pribadi atau person sejak manusia lahir. Oleh karena itu, sejak bayi manusia itu mempunyai kewenangan berhak (kewenangan hukum/ berhak) tetapi belum mempunyai kewenangan bertindak (kecakapan hukum/bertindak). Manusia yang masih bayi dapat dikatakan status keorangannya belum purna atau lengkap.
Kepurnaan status orang secara normaliter akan datang setelah dia matang jiwa dan raganya.
Menurut hukum adat, pada prinsipnya manusia menjadi anggota keluarga dan masyarakat mendapatkan status badan pribadi atau orang sebagai subjek hukum yaitu sejak saat ia lahir dan hidup di dunia. Dengan kata lain bahwa pada asasnya kewenangan hukum seseorang (bevoegheid) diperoleh sejak seseorang lahir di dunia dan hidup bersama yang satu dengan yang lainnya.
Adapun kecakapan hukum/kecakapan bertindak seseorang di dalam hukum adat dicapai secara penuh ketika sesorang dewasa dengan ciri-ciri, yakni:
a. Bekerja ( sudah mampu bekerja sendiri)
b. Cakap mengurus harta benda dan keperluannya sendiri, dan
c. Cakap melakukan segala pergaulan dalam kehidupan kemasyarakatan serta mempertanggung jawabkannya.
4 Fem Lee, Hukum Adat Kekeluargaan (Verwanischaps Recht), Batam
Dengan kata lain, hukum adat tidak mengenal perbedaan yang tajam antara orang yang sama sekali tidak cakap melakukan perbuatan hukum dengan orang yang dikatakan cakap melakukan perbuatan hukum (bekwaam).
Hal ini karena kecakapan bertindak dalam hu
kum adat diperoleh secara berangsur- angsur sesuai dengan perkembangan jiwa dan raga dan mencapai kesempurnaan jika telah kawin serta berumah tangga dan memiliki keluarga sendiri.5
F. Hukum Waris Adat
Untuk lebih memudahkan dalam pemahaman mengenai hukum waris adat,berikut ini akan disampaikan beberapa pengertian pengenai hukum waris adat. Soerojo Wignjodipoerno menyebut hukum adat waris meliputi norma-norma hukum yang menetapkan harta kekayaan baik yang materiel maupun yang immateriel dari seseorang yang dapat diserahkan kepada keturunannya serta yang sekaligus juga mengatur saat, cara dan proses peralihannya. Hukum waris adat menurut TerHaar6 merupakan peraturan yang meliputi peraturan hukum yang bersangkutan dengan proses yang sangat mengesankan serta yang akan selalu berjalan tentang penerusan dan pengoperan kekayaan materiel dan imateriel dari satu generasi kepada turunannya.
Soepomo menyebutkan hukum waris adat merupakan peraturan yang memuat pengaturan mengenai proses penerusan serta pengoperan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak termasuk harta benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia kepada turunannya. Wirdjono Prodjodikoro mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan hukum waris yaitu hukum yang mengatur apakah dan bagaimanakah hak-hak dan kewajiban- kewajiban tentang harta benda seseorang pada waktu ia meninggal dunia akan beralih kepada orang lain yang masih hidup.7 Adapun Hilman Hadikusuma8 memberikan pengertian Hukum waris adat meliputi aturan-aturan dan keputusan- keputusan hukum yang bertalian dengan proses penerusan/pengoperan dan peralihan/perpindahan harta kekayaan materiel dan non materiel dari generasi ke generasi.
Hukum kewarisan adat masyarakat Indonesia dianalisis, maka ditemukan lima asas hukum kewarisan adat. Hal dimaksud, diuraikan sebagai berikut.9
5 Wilbert D. Kolkman dkk., Op. Cit, hlm. 163- 164 6 Teer Haar, 1969, Op.Cit., h.197
7 Wirdjono Prodjodikoro, Hukum Wrisan di Indonesia,(Bandung; Sumur,1964), hlm.8 8 Hilman hadikusuma, Hukum Kekerabatan Aadat, (Jakarta, Fajar Agung,1987), hlm.121 9 Zainuddin, Pelaksanaan Hukum Waris Di Indoesia, Sinar Grafika, 2008, Hlm.8
a. Asas Ketuhanan dan Pengendalian Diri
Asas ketuhanan dan pengendalian diri, yaitu adanya kesadaran bagi para ahli waris bahwa rezeki berupa harta kekayaan manusia yang dapat dikuasai dan dimiliki merupakan karunia dan keridhoan Tuhan atas keberadaan harta kekayaan. Oleh karena itu, terbagi atau tidak terbaginya harta warisan bukan tujuan tetapi yang penting adalah menjaga kerukunan hidup diantara para ahli waris dan semua keturunannya.
b. Asas Kesamaan dan Kebersamaan Hak
Asas ini maksudnya yaitu setiap ahli aris mempunyai kedudukan yang sama sebagai orang yang berhak mewarisi harta peninggalan pewarisnya, seimbang antara hak dan kewajiban tanggung jawab bagi setiap ahli waris untuk memperoleh harta warisannya. Oleh karena itu, memperhitungkan hak dan kewajiban tanggung jawab setiap ahli waris bukanlah berarti pembagian harta warisan itu mesti sama banyak, melainkan pembagian itu seimbang berdasarkan hak dan tanggung jawab.
c. Asas Kerukunan dan Kekeluargaan
Asas kerukunan dan kekeluargaan, yaitu ahli waris mempertahankan untuk memelihara hubungan kekerabatan yang tentram dan damai, baik dalam meninkmati dan memanfaatkan harta warisan tidak terbagi maupun dalam penyelesaian pembagian harta warisan terbagi.
d. Asas Musyawarah dan Mufakat
Asas musyawarah dan mufakat, yaitu para ahli waris membagi harta warisannya melalui musyawarah yang dipimpin oleh ahli waris yang dituakan
dan bila terjadi kesepakatan dalam pembagian harta warisan, kesepakatan itu bersifat tulus ikhlas yang dikemukankan dengan perkataan yang baik yang keluar dari hati nurani pada setiap ahli waris.
e. Asas Keadilan
Asas keadilan, yaitu keadilan berdasarkan status, kedudukan, dan jasa, sehingga setiap keluarga pewaris mendapatkan harta warisan, baik bagian sebagai ahli waris maupun bagian sebagai bukan ahli waris, melainkan sebagai jaminan harta sebagai anggota keluarga pewaris.
Adapun Unsur-unsur Hukum Waris Adat, yaitu:10
a. Adanya subyek, yaitu manusia yang mewariskan sejumlah harta bendanya yang disebut pewaris dan kelompok manusia yang menerima harta warisan tersebut dari pewaris yang disebut ahli waris.
b. Ada obyek pewarisan, yaitu sejumlah harta benda baik berwujud maupun tidak berwujud benda.
c. Ada proses peralihan sejumlah harta benda, proses tersebut baik sebelum maupun sesudah pewaris meninggal dunia.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
10 Dominikus Rato, Hukum Perkawinan dan Waris Adat, Laksbang Yustitia, Surabaya,2011, Hlm.183
G. Saran
Kami sadar bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak kesalahan- kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Sebagai penyusun, kami mengharapkan kritik yang membangun agar kami bisa terus memperbaiki demi terciptanya makalah yang sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Jaenal Aripin, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di Indonesia (Jakarta : Kencana, 2008).
Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995)