• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH LIMBAH PUSAT PERBELANJAAN

N/A
N/A
Farel Putra Iriandi 2107112808

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH LIMBAH PUSAT PERBELANJAAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH TEKNIK PENYEHATAN

SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH

PUSAT PERBELANJAAN MODERN (SUPERMARKET)

Kelompok 6 Anggota :

Muhammad Al Taufik (1907113549) Farel Putra Iriandi (2107112808) Yusri Alfarizi (2107112798) Dhani Setiawan (2107135936) Sri Sallma Edwi (2107111364) Indah Sari Syafitri (2107111635)

PROGRAM STUDI S1 TEKNNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU

2024

(2)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI...i

KATA PENGANTAR...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

1. 1 Latar belakang... 1

1. 2 Rumusan Masalah...2

1. 3 Tujuan... 2

1. 4 Manfaat... 2

BAB II PEMBAHASAN...3

2. 1 Limbah Pusat Perbelanjaan...3

2.1.1 Jenis-Jenis Limbah Pusat Perbelanjaan Berdasarkan Senyawanya...4

2.1.2 Jenis-Jenis Limbah Pusat Perbelanjaan Berdasarkan Wujudnya...4

2.1.3 Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)...5

2. 2 Sumber Limbah Pusat Perbelanjaan...6

2.2.1 Limbah Padat... 6

2.2.2 Limbah Cair...7

2. 3 Tempat Pembuangan Limbah Pusat Perbelanjaan...10

2.3.1 Tempat Penampungan Sementara (TPS)...11

2.3.2 Tempat Pembuangan Akhir (TPA)...12

2.3.3 Tempat Penampungan Barang Bekas...13

2. 4 Pengelolaan Limbah Pusat Perbelanjaan...14

2.4.1 Dampak Pencemaran Limbah...14

2.4.2 Pengelolaan Limbah Pada Pusat Perbelanjaan...16

2. 5 Teknologi Modern Pengolahan Limbah Pusat Perbelanjaan...19

2. 6 Faktor Penghambat dalam Pengolahan Limbah Pusat Perbelanjaan...21

BAB III PENUTUP...23

3.1. Kesimpulan... 23

3.2. Saran... 24

DAFTAR PUSTAKA...26

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia–Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas makalah dari mata kuliah teknik penyehatan ini dengan baik tepat pada waktunya, yang berjudul “Sistem Pengelolaan Limbah Pusat Perbelanjaan Modern”

Pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terimakasi yang sebesar- besarnya kepada dosen mata kuliah teknik penyehatan yang telah memberikan tugas, penulis juga ingin mengucapkan terimakasi kepada pihak - pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa hasil penelitian yang dibuat masih jauh dari kata sempurna, dan memiliki kekurangan dari berbagai aspek. Untuk itu, penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan laporan penelitian ini.

Pekanbaru, September 2024

Penulis

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1. 1 Latar belakang

Pandangan masyarakat Indonesia tentang sampah masih sangat negatif hingga saat ini. Sebagian besar orang masih menganggap sampah sebagai barang yang tidak berguna yang tidak memiliki nilai dan perlu dimanfaatkan. Selain fasilitas umum dan permukiman penduduk, pusat perniagaan seperti pasar, swalayan, mall dan pusat pertokoan lainnya juga berkontribusi pada total volume sampah suatu kota. Selain fasilitas umum dan permukiman penduduk, pusat perbelanjaan seperti pasar dan pusat pertokoan lainnya juga berkontribusi pada total volume sampah suatu kota. Pusat perbelanjaan menempati urutan tertinggi dalam jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari.

Perilaku dan masalah pola hidup tidak akan mengatasi masalah sampah.

Kuantitas tumpukan sampah di lingkungan pasar sangat dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas pasar. Jika hubungan fungsional antara komponen sampah dapat diidentifikasi dan dipahami dengan baik, pengelolaan sampah akan menjadi lebih efektif dan terarah.

Setiap komponen sistem pengelolaan sampah, baik secara individual maupun secara keseluruhan, harus mempertimbangkan keterbatasan Seperti Biaya, Teknologi, Pendidikan, Dan Perilaku Masyarakat Agar Sistem Beroperasi Dengan Baik.

Pusat Perbelanjaan Adalah Tempat Di Mana Orang Bertransaksi Jual Beli Dan Banyak Orang. Karena Aktivitas Yang Tinggi, Banyak Sampah Yang Dihasilkan Setiap Hari. Beberapa Prosedur Digunakan Dalam Pengelolaan Sampah Dan Limbah Pasar, Termasuk Pemilahan, Pengumpulan, Pengangkutan, Pengelolaan, Dan Pemrosesan Akhir.

(5)

1. 2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka diambil rumusan masalah yaitu proses pengolahan limbah yang ada dipusat perbelanjaan, penanganan dalam mengelola limbah, faktor penghambat dalam mengelola limbah serta pemanfaatan limbah yang ada di pusat perbelanjaan.

1. 3 Tujuan

1. Untuk mengetahui proses pengolahan limbah yang terdapat pada suatu pusat perbelanjaan

2. Untuk mengetahui tata cara penanganan limbah-limbah yang ada pada pusat perbelanjaan

3. Untuk mengetahui teknologi yang dapat digunakan untuk pengolahan limbah 4. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat pengolahan limbah yang ada

pada pusat perbelanjaan 1. 4 Manfaat

1. Mendapat gambaran tentang menanggulangi dan mengolah limbah yang di keluarkan dari suatu tempat

2. dapat mengetahui lebih dalam mengenai teknologi pengolahan limbah dan cara penggunaannya

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2. 1 Limbah Pusat Perbelanjaan

Pusat perbelanjaan merupakan tempat yang sangat populer dimana banyak orang memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Adapun jenis pusat perbelanjaan tersebut terbagi dua diantaranya yaitu pusat perbelanjaan tradisional dan pusat perbelanjaan modern, namun pada makalah ini akan dibahas mengenai jenis dan pengelolaan limbah pada pusat perbelanjaan modern yaitu supermarket. Dengan beragam toko dan restoran, mal memudahkan untuk menemukan segala sesuatu mulai dari bahan makanan, pakaian, hingga barang elektronik. Selain itu, pusat perbelanjaan seringkali memiliki fasilitas tambahan seperti tempat hiburan, bioskop, dan tempat bermain anak, serta berlokasi sentral untuk berbelanja dan bersantai. Pusat perbelanjaan telah menjadi pusat kegiatan sosial dan ekonomi yang penting dalam masyarakat, berkat aksesnya yang mudah dan pilihan yang beragam.

Pusat perbelanjaan erat kaitannya dengan permasalahan sampah, karena aktivitas di pusat perbelanjaan setiap harinya menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

Aktivitas belanja, konsumsi makanan, dan penggunaan berbagai fasilitas di dalam pusat perbelanjaan menghasilkan limbah padat seperti kemasan, sisa makanan, dan barang-barang tidak terpakai. Limbah cair seperti kotoran dari toilet dan kafetaria juga menjadi permasalahan. Pengelolaan sampah yang efektif penting untuk meminimalkan dampak lingkungan dari pusat perbelanjaan. Akibatnya, banyak pusat perbelanjaan kini mengadopsi praktik daur ulang dan sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan untuk mengurangi jejak lingkungannya.

(7)

2.1.1 Jenis-Jenis Limbah Pusat Perbelanjaan Berdasarkan Senyawanya Menurut Sutarmiyati (2019) senyawa limbah dibagi lagi menjadi dua jenis, yakni limbah organik dan limbah anorganik.

a. Limbah organik, adalah limbah yang bisa dengan mudah diuraikan (mudah membusuk), dan mengandung unsur karbon. Limbah organik dapat anda temui dalam kehidupan sehari-hari, contohnya sayuran, kotoran hewan, dll.

b. Limbah anorganik, adalah jenis limbah yang sangat sulit atau bahkan tidak bisa untuk diuraikan (tidak bisa membusuk), dan tidak mengandung unsur karbon.

Contoh: limbah anorganik adalah plastik dan baja.

Gambar 2.1 Jenis-Jenis Limbah Berdasarkan Senyawanya (sumber : pinterest.com)

2.1.2 Jenis-Jenis Limbah Pusat Perbelanjaan Berdasarkan Wujudnya

Pengelompokansampahberdasarkanbentuknyabiasanyadilakukanberdasarkan bentuk fisik sampah tersebut. Misalnya sampah padat disebut sampah padat karena secara fisik padat, sedangkan sampah cair secara fisik disebut sampah, begitu pula sampah yang berbentuk gas. Menurut Sutarmiyati (2019) pengelompokan limbah terbagi menjadi tiga yaitu :

a. Limbahgasadalahlimbahyangberbentukgas,seperti:Karbondioksida(CO2), karbonmonoksida(CO),SO2,HCL,NO2danlain-lain

(8)

b. Limbahcairadalahjenislimbahyangsecarafisikberbentukzatcair. Contoh: airhujan,AC,aircucian,airsabun,minyakjelantah,dll.

c. Sampahpadatadalahjenissampahpadatsepertikemasanmakanan,plastik,dan banbekas.

2.1.3 Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Selain kategori limbah yang telah disebutkan, terdapat pula jenis limbah lainnya yaitu limbah B3. Limbah ini mengandung bahan yang berbahaya dan beracun karena bisa membahayakan manusia dan mencemari lingkungan.

Limbah B3 memiliki beberapa karakteristik yakni, mudah meledak, pengoksidasi, , mudah menyala, amat sangat beracun, sangat beracun, beracun, berbahaya, korosif, bersifat iritasi, dll (Anggarini et al., 2014). Contohnya Baterai bekas, Lampu TL dan bohlam, Oli bekas, Aki bekas, Pestisida, Deterjen pakaian, Pembersih lantai dll.

Gambar 2.2 Jenis-Jenis Limbah Berdasarkan Senyawanya (sumber : pinterest.com)

(9)

2. 2 Sumber Limbah Pusat Perbelanjaan

Merujuk pada berbagai sumber atau penyebab timbulnya limbah dalam lingkungan pusat perbelanjaan. Sumber-sumber ini mencangkup berbagai aktivitas yang berlangsung di pusat perbelanjaan, seperti aktivitas konsumen, penjual dan pemeliharaan fasilitas. Limbah ini bisa berbentuk padat, cair, atau gas dan meliputi sisa-sisa material yang tidak lagi berguna atau diperlukan.

Contoh sumber limbah di pusat perbelanjaan

1. Dari konsumen, sampah yang dihasilkan dari konsumsi makanan dan minuman, serta limbah dari penggunaan produk yang dibeli.

2. Operasional toko, limbah dari barang dagangan yang rusak, kemasan produk, dan material promosi.

3. Restoran dan food court, sisa makanan, minyak goreng bekas, dan kemasan makanan.

4. Pemeliharaan fasilitas pusat perbelanjaan, limbah cair dari pembersihan dan limbah b3 dari penggunaan bahan kimia pembersih dan pestisida.

2.2.1 Limbah Padat

Limbah padat di pusat perbelanjaan dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan asal dan komposisinya. Berikut adalah beberapa kategori utama limbah padat di pusat perbelanjaan:

1. Limbah kemasan

a) Plastik, termasuk kantong plastik, botol, pembungkus plastik, dan kemasan produk.

b) Kardus, kotak-kotak pengiriman dan kemasan karton dari barang-barang yang dijual.

c) Kertas, kertas struk, brosur, selebaran promosi, dan kemasan kertas.

2. Limbah organik

a) Sisa makanan sisa makanan dari restoran, food court, dan kios makanan.

b) Produk makanan rusak atau kedaluwarsa

(10)

c) Makanan yang tidak terjual dan sudah tidak layak dikonsumsi 3. Limbah elektronik (e-waste)

a) Peralatan elektronik rusak barang-barang seperti komputer, monitor, atau peralatan lainnya yang sudah tidak berfungsi.

b) Aksesoris elektronik

c) Kabel, baterai, dan komponen elektronik lainnya.

4. Limbah kertas

a) Kertas administratif seperti dokumen, faktur, dan catatan lainnya yang sudah tidak digunakan.

b) Karton dan kemasan kertas

c) Kardus dan pembungkus produk dari kertas.

5. Limbah anorganik

a) Kaleng dan logam seperti kaleng minuman, kemasan aluminium, dan sisa-sisa logam dari produk tertentu.

b) Kaca seperti botol dan wadah kaca dari minuman atau produk lainnya.

6. Limbah toko/retail

a) Barang dagangan rusak atau tidak terjual seperti pakaian, aksesoris, atau produk lain yang rusak atau tidak terjual.

b) Material promosi spanduk, poster, dan hiasan promosi yang tidak lagi digunakan.

7. Limbah kebersihan dan pemeliharaan

a) Alat kebersihan rusak seperti sapu, kain pel, dan alat kebersihan lainnya yang sudah tidak terpakai.

b) Material pemeliharaan

2.2.2 Limbah Cair

Limbah cair di pusat perbelanjaan dapat dikategorikan berdasarkan sumbernya dan jenis zat yang terkandung di dalamnya. Berikut adalah beberapa kategori utama limbah cair yang dihasilkan di pusat perbelanjaan.

(11)

1. Limbah Cair dari Sanitasi dan Kamar Mandi a) Air Buangan Toilet

Limbah dari toilet yang mengandung kotoran manusia dan bahan kimia dari produk pembersih.

b) Air Buangan dari Pencucian Tangan

Air yang mengandung sisa sabun, kotoran, dan minyak dari wastafel di kamar mandi.

2. Limbah Cair dari Restoran dan Food Court a) Air Buangan Pencucian

Air yang berasal dari proses mencuci piring, gelas, peralatan memasak, dan peralatan makan lainnya. Mengandung sisa makanan, minyak, dan deterjen.

b) Limbah Minyak Goreng

Minyak goreng bekas dari proses penggorengan yang dibuang setelah tidak lagi dapat digunakan.

3. Limbah Cair dari Pemeliharaan Gedung a) Air Buangan Pembersihan:

Limbah yang dihasilkan dari kegiatan pembersihan lantai, dinding, dan permukaan lainnya. Mengandung bahan kimia pembersih, debu, dan kotoran.

b) Air Kondensasi dari AC

Air yang terbentuk dari kondensasi sistem pendingin udara, umumnya relatif bersih tetapi perlu dikelola untuk mencegah genangan.

4. Limbah Cair dari Sistem Drainase a) Air Hujan Terkontaminasi

Air hujan yang masuk ke sistem drainase, mungkin terkontaminasi oleh limbah lain seperti minyak, debu, atau bahan kimia dari permukaan parkiran atau atap.

(12)

b) Air Bekas dari Peralatan

Air dari pembuangan peralatan seperti mesin cuci, freezer, atau peralatan lain yang menggunakan air dalam operasionalnya.

5. Limbah Bahan Kimia a) Sisa Bahan Pembersih

Limbah dari bahan kimia pembersih yang digunakan untuk membersihkan toilet, dapur, atau area lain di pusat perbelanjaan.

b) Sisa Bahan Pestisida

Cairan yang mengandung bahan pestisida yang digunakan untuk pengendalian hama di sekitar pusat perbelanjaan.

6. Limbah dari Pengolahan Makanan

a) Cairan dari Pengolahan dan Persiapan Makanan

Air dan cairan yang dihasilkan dari proses persiapan dan pengolahan makanan di restoran, seperti sisa cairan dari sayuran atau daging yang dicuci.

(13)

2. 3 Tempat Pembuangan Limbah Pusat Perbelanjaan

Tempat Pembuangan Limbah di pusat perbelanjaan berfungsi sebagai titik awal dalam pengelolaan limbah sebelum dikirim ke fasilitas pengolahan atau pembuangan akhir. Di pusat perbelanjaan, limbah yang dihasilkan bisa berasal dari berbagai aktivitas seperti operasional toko, restoran, serta area publik. Limbah ini mencakup limbah padat, seperti kemasan plastik, kertas, sisa makanan, dan bahan organik lainnya, serta limbah cair yang mungkin berasal dari proses pembersihan dan sanitasi. Pusat perbelanjaan biasanya memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang dirancang untuk menampung limbah ini secara aman, sebelum dilakukan pengangkutan oleh pihak yang bertanggung jawab. TPS ini berfungsi untuk meminimalkan dampak lingkungan, mencegah pencemaran, dan mengoptimalkan proses daur ulang.

Pengelolaan limbah di TPS pusat perbelanjaan dilakukan dengan pemisahan berdasarkan jenis limbahnya, seperti organik, non-organik, dan limbah berbahaya, sehingga setiap jenis limbah dapat dikelola dengan cara yang tepat. Selain itu, banyak pusat perbelanjaan yang kini menerapkan strategi pengurangan dan daur ulang untuk mengurangi volume limbah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir.

Pengelolaan limbah di pusat perbelanjaan menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya kesadaran publik tentang isu lingkungan dan keberlanjutan.

Manajemen limbah yang efektif di pusat perbelanjaan tidak hanya memberikan dampak positif bagi lingkungan tetapi juga memperbaiki citra perusahaan di mata konsumen. Konsumen semakin menghargai upaya pusat perbelanjaan yang peduli terhadap lingkungan dan berpartisipasi dalam program pengurangan limbah, daur ulang, dan pengelolaan limbah yang berkelanjutan.

(14)

2.3.1 Tempat Penampungan Sementara (TPS)

Menurut Peraturan Pemerintah No.81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah, Tempat penampungan sementara yang selanjutnya disingkat TPS adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu. Fungsi utama TPS adalah sebagai titik kumpul yang memudahkan proses pengumpulan dan transportasi sampah.

TPS pada supermarket biasanya terletak di bagian belakang supermarket atau area yang tidak terjangkau oleh pelanggan, untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan di area belanja. TPS berfungsi sebagai titik pengumpulan limbah harian yang dihasilkan dari berbagai aktivitas di supermarket, seperti operasional toko, penanganan bahan makanan, pembersihan, dan pengemasan.

Gambar 2.3 Tempat Penampungan Sementara (TPS) (Sumber: Internet)

Di TPS, limbah yang dihasilkan dipisahkan dan ditempatkan ke dalam wadah- wadah khusus sesuai dengan jenisnya. Misalnya, limbah organik seperti sisa makanan ditempatkan di wadah terpisah dari limbah non-organik seperti plastik dan kertas.

Limbah berbahaya, seperti bahan kimia pembersih, juga dipisahkan dan disimpan di tempat yang aman sesuai dengan peraturan keselamatan. Pemisahan ini penting untuk memudahkan proses daur ulang dan pengolahan lebih lanjut, serta untuk mencegah pencemaran atau bahaya kesehatan.

(15)

2.3.2 Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah fasilitas yang digunakan untuk penimbunan akhir dari limbah yang tidak dapat didaur ulang atau diproses lebih lanjut.

Di pusat perbelanjaan, seperti pasar maupun supermarket, TPA berperan penting dalam tahap akhir dari siklus pengelolaan limbah. Limbah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas di pusat perbelanjaan, setelah melalui proses pemilahan dan pengolahan awal di Tempat Penampungan Sementara (TPS), akan diangkut ke TPA untuk ditangani secara lebih permanen. Limbah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi atau yang tidak layak didaur ulang, seperti residu dari sisa makanan, bahan-bahan yang sudah terkontaminasi, dan jenis limbah lainnya, akan dibuang di TPA.

Gambar 2.4 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) (Sumber: Internet)

Di TPA, limbah yang diangkut dari pusat perbelanjaan akan ditimbun dalam lapisan tanah atau diolah dengan metode tertentu untuk mencegah dampak lingkungan yang berbahaya. Pengelolaan TPA yang baik harus memperhatikan aspek lingkungan, seperti pencegahan pencemaran air tanah, pengendalian gas metana yang dihasilkan dari pembusukan limbah organik, dan pengelolaan bau yang mungkin timbul. Beberapa TPA modern dilengkapi dengan teknologi pengolahan yang memungkinkan pemanfaatan kembali energi dari gas metana atau pemulihan material yang masih bernilai, meskipun dalam konteks yang terbatas.

(16)

2.3.3 Tempat Penampungan Barang Bekas

Tempat Penampungan Barang Bekas (TPBB) adalah fasilitas yang digunakan untuk menampung barang-barang bekas atau tidak terpakai yang masih memiliki nilai guna, sebelum didaur ulang, didonasikan, atau dijual kembali. Di pusat perbelanjaan seperti supermarket, TPBB berperan penting dalam mengurangi volume limbah yang akhirnya harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Barang bekas yang ditampung di TPBB bisa berupa produk yang sudah tidak laku, kemasan yang rusak, atau bahan promosi yang tidak terpakai lagi. Namun, tidak semua supermarket memiliki fasilitas khusus untuk Tempat Penampungan Barang Bekas (TPBB).

Keberadaan TPBB di supermarket biasanya tergantung pada kebijakan internal masing-masing perusahaan, ukuran supermarket, dan komitmen mereka terhadap keberlanjutan serta pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.

Gambar 2.5 Tempat Penampungan Barang Bekas (Sumber: Internet)

Di TPBB, barang-barang yang ditampung biasanya dipisahkan berdasarkan jenisnya, seperti produk makanan yang masih layak dikonsumsi tetapi mendekati tanggal kedaluwarsa, kemasan yang cacat namun masih bisa digunakan, atau barang- barang elektronik yang sudah tidak dipakai. Barang-barang ini kemudian dikelola dengan berbagai cara, seperti didonasikan ke organisasi amal, dijual dengan diskon besar, atau didaur ulang untuk diambil kembali material yang bernilai.

(17)

2. 4 Pengelolaan Limbah Pusat Perbelanjaan 2.4.1 Dampak Pencemaran Limbah

Pencemaran limbah pada pusat perbelanjaan bisa menimbulkan berbagai dampak negatif yang cukup signifikan, baik terhadap lingkungan, kesehatan manusia, maupun ekonomi. Berikut adalah penjelasan detail dan panjang mengenai dampak pencemaran limbah pada pusat perbelanjaan:

1. Dampak Terhadap Lingkungan

Pencemaran limbah di pusat perbelanjaan dapat berdampak langsung pada lingkungan sekitarnya. Limbah yang dihasilkan bisa berupa limbah padat, cair, maupun gas, yang berasal dari berbagai aktivitas seperti restoran, toko-toko, dan fasilitas lainnya. Berikut adalah beberapa dampak lingkungan yang mungkin terjadi:

 Kerusakan Tanah dan Air: Limbah cair yang mengandung bahan kimia berbahaya atau sisa makanan dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari air tanah. Jika limbah tersebut mengalir ke saluran pembuangan tanpa pengolahan yang memadai, ia bisa mencemari sungai dan danau terdekat, merusak ekosistem perairan dan membunuh organisme air. Contohnya, limbah minyak dari restoran dapat membentuk lapisan di permukaan air, menghalangi oksigen masuk ke dalam air dan mengganggu kehidupan air.

 Penumpukan Limbah Padat: Limbah padat seperti plastik, kertas, dan logam dapat menumpuk di tempat pembuangan sampah jika tidak dikelola dengan baik. Sampah plastik, misalnya, membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai dan dapat menyebabkan pencemaran visual serta ancaman bagi satwa liar yang mungkin menelannya atau terjebak di dalamnya.

 Polusi Udara: Pusat perbelanjaan yang tidak memiliki sistem ventilasi dan pengelolaan limbah gas yang baik dapat melepaskan gas beracun ke udara.

Misalnya, penggunaan bahan pembersih yang mengandung senyawa volatil organik (VOC) dapat mencemari udara dalam ruangan dan di sekitar pusat perbelanjaan.

(18)

2. Dampak Terhadap Kesehatan Manusia

Dampak dari pencemaran limbah di pusat perbelanjaan juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan pengunjung, pekerja, dan masyarakat sekitar:

 Penyebaran Penyakit: Limbah yang tidak dikelola dengan baik bisa menjadi tempat berkembang biaknya bakteri, virus, dan parasit. Ini dapat menyebabkan penyebaran penyakit melalui kontak langsung atau tidak langsung. Misalnya, limbah makanan yang membusuk dapat menarik lalat dan hewan pengerat yang dapat menjadi vektor penyakit.

 Kontaminasi Makanan dan Minuman: Pusat perbelanjaan sering kali memiliki area makanan yang luas. Jika limbah tidak dikelola dengan baik, risiko kontaminasi makanan meningkat, baik dari bahan kimia beracun, mikroorganisme berbahaya, atau pestisida. Ini bisa menyebabkan keracunan makanan bagi konsumen.

3. Dampak Ekonomi

Pencemaran limbah juga memiliki dampak ekonomi yang dapat memengaruhi berbagai aspek operasional pusat perbelanjaan serta masyarakat di sekitarnya:

 Biaya Pengelolaan dan Pemulihan: Pusat perbelanjaan yang terlibat dalam pencemaran limbah mungkin harus menanggung biaya tinggi untuk pengelolaan dan pembersihan limbah. Selain itu, biaya untuk pemulihan lingkungan yang rusak juga bisa sangat tinggi. Jika terjadi insiden besar pencemaran, perusahaan mungkin juga harus membayar denda atau ganti rugi.

 Penurunan Nilai Properti: Pencemaran limbah dapat menurunkan nilai properti di sekitar pusat perbelanjaan karena lingkungan yang tercemar dan risiko kesehatan yang meningkat. Investor dan pelanggan mungkin menghindari area tersebut, yang pada akhirnya dapat memengaruhi bisnis dan pendapatan pusat perbelanjaan.

(19)

4. Dampak Sosial

Selain dampak langsung terhadap lingkungan, kesehatan, dan ekonomi, pencemaran limbah di pusat perbelanjaan juga bisa menimbulkan dampak sosial:

 Pengaruh Terhadap Kualitas Hidup: Pencemaran yang berkelanjutan dapat mengurangi kualitas hidup penduduk setempat. Bau tidak sedap, peningkatan polusi udara, dan peningkatan risiko penyakit dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakpuasan di kalangan masyarakat.

 Konflik Sosial: Ketidakpuasan masyarakat terhadap pengelolaan limbah yang buruk dapat memicu protes dan konflik sosial. Penduduk mungkin menuntut tindakan dari pemerintah atau pengelola pusat perbelanjaan, yang dapat mempengaruhi stabilitas sosial dan hubungan komunitas.

5. Dampak Hukum dan Regulasi

Pusat perbelanjaan yang gagal mengelola limbah dengan benar juga bisa menghadapi masalah hukum. Peraturan lingkungan yang ketat mengharuskan perusahaan untuk mematuhi standar pengelolaan limbah tertentu. Pelanggaran terhadap peraturan ini dapat berakibat pada sanksi hukum, denda, atau bahkan penutupan operasi.

2.4.2 Pengelolaan Limbah Pada Pusat Perbelanjaan

Pengelolaan sampah didefenisikan berbagai kontrol terhadap penimbunan, pengumpulan, penyimpanan, dan pengangkutan sampah, di mana semua hal tersebut dikaitkan dengan prinsip-prinsip terbaik untuk kesehatan, ekonomi, keteknikan/engineering, konservasi, estetika, lingkungan juga terhadap sikap masyarakat. Setiap pemecahan masalah dianalisa dengan cara bersistem, melibatkan berbagai sistem yang terkait secara bersama-sama atau holistik, memanfaatkan berbagai ilmu/disiplin yang terlibat dan harus ada partisipasi sejak fase perencanaan dari seluruh stakeholder yang ada. Ekspolarasi kondisi eksiting manajemen/pengelolaan sampah yang ada saat ini hanya dipahami secara parsial, yaitu sebatas urusan memindahkan, membuang, memusnahkan, dan belum mengoptimalkan potensi daur ulang sampah, sehingga akhirnya dapat mengakibakan hilangnya jaminan

(20)

kesehatan serta keamanan hidup manusia di berbagai daerah. Eksplorasi kondisi eksisting disini merupakan bagian yang sangat vital, karena akan menjadi dasar dalam merancang manajemen/pengelolaan sampah yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

(Trihadiningrum, Y. 2007).

Cara-cara pengelolaan sampah antara lain sebagai berikut:

1. Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah

Pengumpulan sampah adalah menjadi tangung jawab dari masing-masing rumah tangga atau institusi yang menghasilkan sampah. Oleh sebab itu, masyarakat harus membangun dan mengadakan tempat khusus untuk pengumpulan sampah.

Kemudian dari masing-masing tempat pengumpulan sampah tersebut harus diangkut ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah, dan selanjutnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Mekanisme, sistem atau cara pengangkutanya untuk daerah perkotaan adalah tangung jawab pemerintah daerah setempat, yang didukung oleh partisipasi masyarakat produksi sampah, khususnya dalam hal pendanaan. Sedangkan untuk daerah pedesaan pada umumnya sampah dapat dikelola oleh masing-masing keluarga, tanpa memerlukan TPS maupun TPA. Sampah rumah tangga daerah pedesaan umumnya didaur ulang menjadi pupuk.

2. Pemusnahan dan Pengelolaan Sampah

Pemusnahan atau pengolahan sampah padat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain:

a. Ditanam (Landfill)

Ditanam (Landfill) yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang di tanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah. Prinsip dari Sanitary Landfiil (pengukuran tanah dengan sampah secara sehat) ialah sampah yang telah ditimbun kemudian segera diaduk dengan lapisan tanah yang padat setebal 30 cm.

Tanah uruk betul-betul padat dan minimum tebal 30 cm agar tempayak tak dapat menembus lapisan tanah uruk. Tanah uruk yang sudah datar dari hasil Sanitary Landfiil dapat dipergunakan untuk lapangan olah raga, taman-taman (kindergarten, perkebunan, pembuatan jalan-jalan setapak, menutup rawa.

(21)

b. Dibakar (Incinerator)

Dibakar (Incinerator) yaitu memusnahkan sampah dengan cara dibakar di dalam tungku pemusnah (incinerator). Pelaksanaan metode ini harus diusahakan sejauh mungkin dari pemukiman demi menghindari pencemaran udara. Hasil dari pembakaran ini menghasilkan dioksin, yaitu ratusan jenis kimia berbahaya seperti CDF (chlorinated dibenzo-p dioxin) dan PCB (polychlorinated biphenyls). Jika senyawa ini tidak dapat terurai maka akan terhirup oleh mahluk hidup dan akan mengendap dalam tubuh, yang pada kadar tertentu akan mengakibatkan kanker.

c. Dijadikan Pupuk (composting)

Composting yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk (kompos), khususnya untuk sampah organik daun-daunan, sisa makanan dan sampah lain yang mudah membusuk. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, pengelolaan sampah adalah “kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah”. Menurut Prihandarini (2004), dari definisi di atas maka tampak bahwa unsur- unsur pokok utama dalam pengelolaan sampah agar kita dapat memecahkan masalah secara efisien adalah sebagai berikut:

1) Penyimpanan Sampah (Refuse Storage)

Penyimpanan sampah ialah tempat sampah sementara, sebelum sampah tersebut dikumpulkan, untuk kemudian diangkut dan dimusnahkan. Untuk itu perlu disediakan suatu tempat sampah. Dalam penyimpanan sampah yang bersifat sementara ini, sebaiknya disediakan tempat sampah yang berbeda untuk macam jenis sampah tertentu. Maksud penyimpanan sampah dengan pemisahan ini untuk memudahkan pemusnahannya kelak.

2) Pengumpulan Sampah (Refuse Collection)

Sampah yang disimpan sementara ini seperti di rumah, atau restoran selanjutnya perlu dikumpulkan, maka perlu dibangun rumah sampah (SPM, 2017). Lazimnya penanganan sampah ini dilaksanakan oleh pemerintah atau oleh masyarakat secara

(22)

bergotong-royong.sama halnya dengan penyimpanan sampah, maka dalam pengumpulan sampah ini, sebaiknya dilakukan juga pemisahan yaitu dengan cara:

a) Sistem duet, artinya disediakan dua tempat sampah, yaitu: untuk sampah basah dan yang satunya lagi untuk sampah kering.

b) Sistem trio, yakni disediakan tiga bak sampah, pertama untuk sampah basah, kedua untuk sampah kering yang mudah dibakar, dan ketiga untuk sampah kering yang tidak mudah dibakar.

3. Pembuangan Sampah (Refuse Dissposal)

Sampah yang telah dikump/ulkan selanjutnya akan dibuang atau dimusnahkan.

Pembuangan sampah biasanya dilakukan di daerah tertentu sehingga tidak mengganggu kesehatan manusia. Syarat yang harus dipenuhi dalam membangun tempat pembuangan sampah yaitu seperti:

a. Tempat tersebut tidak dibangun dekat sumber air minum atau sumber air lainnya yang dipergunakan masyarakat setempat.

b. Tidak pada tempat yang sering terkena banjir.

c. Di tempat-tempat yang jauh dari tempat tinggal manusia.

2. 5 Teknologi Modern Pengolahan Limbah Pusat Perbelanjaan 1. Transformasi Limbah Menjadi Sumber Energi

Salah satu aspek penting dari teknologi pengolahan sampah modern adalah kemampuannya untuk mengubah sampah menjadi sumber energi terbarukan. Salah satu teknologi utama yang digunakan untuk ini adalah pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS). PLTS menggunakan proses pembakaran untuk mengkonversi sampah organik dan non-organik menjadi energi listrik dan panas. Proses ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga menghasilkan energi yang dapat digunakan untuk memasok kebutuhan listrik masyarakat.

2. Pemanfaatan Biogas dari Limbah Organik

Selain PLTS, teknologi pengolahan sampah modern juga mencakup pemanfaatan biogas dari limbah organik. Melalui proses fermentasi anaerobik, mikroorganisme

(23)

menguraikan materi organik dalam sampah menjadi biogas, yang terutama terdiri dari metana dan karbon dioksida. Biogas ini kemudian dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk memasok kebutuhan energi seperti pemanas atau pembangkit listrik.

Pemanfaatan biogas tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pembusukan sampah organik di TPA, tetapi juga memberikan sumber energi yang bersih dan terbarukan.

3. Daur Ulang dan Pemulihan Bahan

Teknologi pengolahan sampah modern juga menekankan pada daur ulang dan pemulihan bahan dari sampah. Melalui proses pemisahan otomatis dan manual, bahan- bahan berharga seperti kertas, plastik, logam, dan kaca dapat dipulihkan dari sampah dan diolah kembali menjadi bahan baku untuk produk baru. Daur ulang membantu mengurangi kebutuhan akan bahan mentah baru, mengurangi tekanan pada lingkungan dan mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke TPA. Dengan menerapkan teknologi sensor dan robotik, proses pemilahan dan daur ulang dapat dilakukan secara lebih efisien dan akurat.

4. Teknologi Cerdas untuk Manajemen Sampah

Selain itu, teknologi pengolahan sampah modern juga mencakup penggunaan sistem manajemen dan pemantauan cerdas untuk mengoptimalkan proses pengelolaan sampah. Sensor dan sistem pemantauan yang terintegrasi dapat digunakan untuk mengukur volume, komposisi, dan kualitas sampah secara real-time. Data yang dikumpulkan ini kemudian dapat digunakan untuk mengoptimalkan rute pengumpulan sampah, meningkatkan efisiensi operasional, dan mengidentifikasi tren pola pembuangan sampah yang dapat digunakan untuk perencanaan jangka panjang.

(24)

2. 6 Faktor Penghambat dalam Pengolahan Limbah Pusat Perbelanjaan

Faktor penghambat adalah merupakan sesuatu yang dapat mempengaruhi seseorang dalam mengimplementasikan sesuatu, seperti pengaruh yang disebabkan dari dalam diri sendiri yaitu rasa malas dan terbawa arus pergaulan remaja, selain itu faktor lingkungan, teman bahkan keluarga yang kurang mendukung akan memberikan dampak yang kurang baik.

Dalam hal ini, faktor – faktor yang dapat menghambat pengolahan dan pengelolaan sampah khususnya limbah pusat perbelanjaan diantaranya:

1. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah

Salah satu faktor utama yang menghambat pengolahan dan pengelolaan sampah di pusat perbelanjaan adalah kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah. Banyak pengunjung dan pengelola pusat perbelanjaan belum sepenuhnya memahami dampak lingkungan dari sampah yang dihasilkan atau cara-cara efektif untuk memilah dan mendaur ulang sampah. Kurangnya edukasi dan informasi yang memadai mengenai pemisahan sampah yang benar, serta kebiasaan membuang sampah sembarangan, menyebabkan tingkat partisipasi dalam program pengelolaan sampah menjadi rendah. Tanpa kesadaran dan partisipasi aktif dari masyarakat, upaya pengelolaan sampah menjadi kurang efektif dan dapat menyebabkan penumpukan sampah serta dampak lingkungan yang negatif.

Oleh karena itu, jika orang per orang telah memiliki kesadaran untuk mengelola sampah di lingkungannya sendiri dan atau sekitamya, kerja berat pusat-pusat pembuangan dan pegelolaan sampah ini menjadi lebih ringan. Paling tidak, potensi pencemaran dan kerugian lainnya bisa diperkecil.

2. Sarana dan Prasarana

Kelengkapan sarana dan prasarana tentu jadi pendukungnya dalam suatu pekerjaan khususnya bagi petugas kebersihan dan pengelola sampah lengkapnya alat-alat yang dibutuhkan dalam mengangkut sampah serta kelengkapan dalam pengelolaan sampah. Kurangnya sarana dan prasarana yang tersedia akan membuat pekerjaan tidak dapat dikerjakan dengan baik

(25)

Banyaknya sampah yang harus diangkut akan memerlukan banyak truk pengangkut, dengan keterbatasan jumlah truk yang dimiliki oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota, maka pengangkatan sampah tersebut menjadi tidak maksimal.

3. Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

TPA adalah tempatsampah mencapaitahap akhir pengelolaannya, mulaidari sumbernya hingga pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan, dan pembuangan (Harjanti & Anggraini, 2020). Di beberapa kota contohnya di Kota Pekanbaru saat ini hanya memiliki satu TPA yang digunakan untuk menampung seluruh sampah yang ada di pekanbaru yaitu TPA Muara Fajar didaerah Rumbai.

Akan tetapi semakin banyaknya volume sampah yang dibuang akan memerlukan TPA yang lebih luas. Sebagai konsekuensinya diperlukan tanah yang luas sebagai tempat pembuangan dan tanah penimbun sampah di TPA. Seharusnya untuk kota metropolitan, dengan jumlah penduduk lebih dari satu jita jiwa harus memiliki lebih dari 1 TPA.

(26)

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Makalah ini membahas secara komprehensif tentang limbah yang dihasilkan oleh pusat perbelanjaan dan berbagai aspek terkait pengelolaannya. Beberapa kesimpulan utama dari pembahasan ini meliputi:

1. Jenis Limbah: Limbah di pusat perbelanjaan dapat dikategorikan berdasarkan senyawanya, wujudnya, dan kandungan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Limbah ini mencakup limbah padat, cair, dan B3, yang memerlukan penanganan khusus karena dampaknya terhadap lingkungan.

2. Sumber Limbah: Limbah di pusat perbelanjaan berasal dari berbagai aktivitas, termasuk operasional toko, food court, dan kegiatan konsumsi lainnya. Limbah padat, seperti sisa makanan dan kemasan, serta limbah cair, seperti air limbah dari restoran dan toilet, merupakan komponen utama yang perlu dikelola dengan baik.

3. Tempat Pembuangan: Pusat perbelanjaan biasanya memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS) untuk mengumpulkan limbah sebelum dipindahkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selain itu, tempat penampungan barang bekas juga disediakan untuk memfasilitasi daur ulang dan pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.

4. Pengelolaan Limbah: Pengelolaan limbah yang efektif melibatkan pemilahan, penyimpanan, dan pengolahan limbah dengan cara yang aman dan sesuai regulasi. Ini termasuk upaya daur ulang, pengolahan limbah cair, dan pengelolaan limbah B3 dengan prosedur khusus.

5. Faktor Penghambat: Ada berbagai tantangan dalam pengelolaan limbah di pusat perbelanjaan, termasuk keterbatasan infrastruktur, kurangnya kesadaran, dan biaya yang tinggi. Faktor-faktor ini dapat menghambat efektivitas sistem pengelolaan limbah yang ada.

(27)

Secara keseluruhan, pengelolaan limbah di pusat perbelanjaan adalah proses yang kompleks yang memerlukan kerjasama antara manajemen pusat perbelanjaan, pemerintah, dan masyarakat. Dengan mengatasi tantangan yang ada dan menerapkan praktik pengelolaan limbah yang efektif, dampak negatif terhadap lingkungan dapat diminimalisir, dan pusat perbelanjaan dapat beroperasi secara lebih berkelanjutan.

3.2. Saran

1. Peningkatan Kesadaran dan Edukasi: Pusat perbelanjaan sebaiknya mengadakan program edukasi dan kampanye kesadaran lingkungan bagi pengunjung, tenant, dan karyawan. Ini bisa dilakukan melalui poster, seminar, dan kegiatan ramah lingkungan yang dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah.

2. Penerapan Sistem Pemilahan Limbah: Pusat perbelanjaan harus memperkuat implementasi sistem pemilahan limbah yang efektif. Setiap tenant harus dilengkapi dengan fasilitas pemilahan limbah organik, anorganik, dan B3.

Pengawasan yang ketat dan pelatihan untuk karyawan dapat memastikan pemilahan dilakukan dengan benar.

3. Kolaborasi dengan Pihak Ketiga: Untuk mengoptimalkan pengelolaan limbah, pusat perbelanjaan sebaiknya bekerja sama dengan perusahaan pengelola limbah profesional yang memiliki pengalaman dalam daur ulang dan pengolahan limbah B3. Hal ini bisa membantu memastikan limbah ditangani sesuai dengan standar lingkungan yang berlaku.

4. Inovasi Teknologi: Investasi dalam teknologi pengelolaan limbah seperti mesin kompos, teknologi daur ulang canggih, dan sistem pemantauan limbah digital dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah. Penggunaan teknologi ini juga dapat mengurangi volume limbah yang berakhir di TPA.

5. Peningkatan Infrastruktur dan Fasilitas: Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan fasilitas pengolahan limbah di pusat perbelanjaan perlu ditingkatkan baik dari segi kapasitas maupun kualitasnya. TPS yang memadai dan sesuai

(28)

standar akan memudahkan proses pengelolaan limbah dan mengurangi risiko pencemaran lingkungan.

6. Regulasi dan Kebijakan yang Ketat: Pusat perbelanjaan harus mematuhi semua regulasi lingkungan yang berlaku dan bisa membuat kebijakan internal yang lebih ketat terkait pengelolaan limbah. Pemberlakuan denda bagi tenant yang tidak mematuhi aturan pengelolaan limbah bisa menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kepatuhan.

7. Partisipasi Aktif Konsumen: Mengajak konsumen untuk berpartisipasi dalam pengurangan penggunaan bahan-bahan yang sulit didaur ulang, seperti plastik sekali pakai, dan memfasilitasi penggunaan produk ramah lingkungan di pusat perbelanjaan. Penyediaan insentif bagi konsumen yang mendukung program ramah lingkungan bisa menjadi motivasi tambahan.

Dengan menerapkan saran-saran di atas, diharapkan pengelolaan limbah di pusat perbelanjaan dapat menjadi lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan, sehingga dampak negatif terhadap lingkungan dapat diminimalisir.

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Abun, D. Rukmana, dan D. Saefulhadjar., 2007. Efek Pengolahan Limbah Sayuran Secara Mekanis terhadap Nilai Kecernaan pada Ayam Kampung Super JJ-101.

Jurnal Ilmu Ternak, Desember 2007, Vol. 7 No. 2, 81 – 86

Anggarini, N. H., Stefanus, M., & Prihatiningsih. (2014). Pengelolaan Dan Karakterisasi Limbah B3. Jurnal Beta Gamma, 5(1), 41–49.

Harjanti, I. M., & Anggraini, P. (2020). Waste Management at the Jatibarang Final Disposal Site, Semarang City. Jurnal Planologi, 17(2), 185.

Komite Teknis SPM. (2017). Standar Pelayanan Masyarakat pada Fasilitas Publik Pusat Perbelanjaan.

Sutarmiyati, N. (2019). Kreatifitas Masyarakat Dalam Berwirausaha Dengan Memanfaatkan Limbah Sampah Di Kurungan Nyawa Kabupaten Pesawaran.

Sosioteknologi Kreatif, 3(1), 417–422.

Gambar

Gambar 2.1 Jenis-Jenis Limbah Berdasarkan Senyawanya (sumber : pinterest.com)
Gambar 2.2 Jenis-Jenis Limbah Berdasarkan Senyawanya (sumber : pinterest.com)
Gambar 2.3 Tempat Penampungan Sementara (TPS) (Sumber: Internet)
Gambar 2.4 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) (Sumber: Internet)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang berlokasi di Dusun Ngablak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Populasi dalam

Limbah padat tanpa pengolahan dapat dibuang ke tempat tertentu yang difungsikan sebagai tempat pembuangan akhir karena limbah tersebut tidak.. mengandung unsur kimia yang beracun

Biodegradasi Polietilena Menggunakan Bakteri dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Gunung Tugel Kabupaten Banyumas.. Pemanfaatan Bakteri hasil Isolasi dari TPA

Dengan tujuan menghasilkan potensi gas Landfill yang dihasilkan dari penguraian limbah organik Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang Kabupaten Bekasi sebagai

Inventarisasi emisi GRK dari kegiatan pengelolaan limbah pada panduan ini tidak hanya mencakup kegiatan penanganan limbah di tempat pembuangan akhir (TPA) atau

1) Setiap Orang yang menghasilkan Limbah B3 yang akan melakukan Penimbunan Limbah B3 pada fasilitas penimbusan akhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 146 ayat (3) wajib melakukan

Pemilahan sampah yang dilakukan di bank sampah memperoleh sampah yang dapat didaur ulang lagi dan limbah B3 yang tidak dapat didaur ulang dan dikirim ke TPA, sampah yang dapat diterima

Klinik ini akan menyediakan tempat untuk pembuangan limbah sebesar 27 m2 dengan menghitung analogi dari fasilitas kesehatan yang sama yaitu jumlah limbah yang dihasilkan dari berbagai