• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah K3 Materi “KESELAMATAN KERJA DAN PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA”

N/A
N/A
One Line Art Painting Kit

Academic year: 2025

Membagikan "Makalah K3 Materi “KESELAMATAN KERJA DAN PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA”"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

KECELAKAAN KERJA”

Dosen Pengampu:

Defi Irwansyah, ST., M.Eng Disusun Oleh:

Kelompok 3

Bunaiya Ridha (210130052)

Najwa Sakillah Parmanta (220130008)

Suhanna (220130016)

Sandy (220130026)

Putri Ullir Rahmah (220130037) Roland Verdian Poyangbi (220130128)

PRODI TEKNIK INDUSTRI

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

2024

(2)

i

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya yang senantiasa mengiringi langkah- langkah penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam juga penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi teladan bagi umat manusia dalam segala aspek kehidupan. Dengan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas kelompok untuk mata kuliah Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan Kerja dengan judul makalah “Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Kerja”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah memberikan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan penulis melalui tugas ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan karena keterbatasan pengetahuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran konstruktif dari pembaca agar penulis dapat terus berkembang dan meningkatkan kualitas penulisan di masa depan. Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan kita semua. Aamiin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Lhokseumawe, 29 September 2024

Kelompok 3

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penulisan... 3

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)... 4

2.1.1 Konsep K3 Menurut Para Ahli ... 4

2.1.2 Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ... 4

2.1.3 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ... 5

2.1.4 Jenis-Jenis Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ... 6

2.1.5 Aspek-Aspek Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ... 8

2.1.6 Indikator Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ... 8

2.1.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku K3 ... 9

2.1.8 Masalah Kesehatan dan Keselamatan Kerja ... 12

2.2 Prinsip dan Metode Pencegahan Kecelakaan Kerja ... 13

2.2.1 Prinsip Pencegahan Kecelakaan Kerja ... 13

2.2.2 Metode Pencegahan Kecelakaan Kerja ... 15

2.3 Konsep Penyebab Terjadinya Kecelakaan Kerja ... 17

2.3.1 Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja ... 17

2.4 Prinsip Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Industri ... 21

2.4.1 Occupational Safety and Health Concerns ... 21

2.4.2 Prinsip Dasar K3 yang Harus Ada dalam Lingkungan Kerja ... 22

2.4.3 Prinsip K3 Berdasarkan Ketentuan Penerapan SMK3 ... 23

2.4.4 Penilaian Penerapan SMK3 ... 24

2.4.5 Manfaat Penerapan Prinsip-Prinsip Dasar K3 ... 25

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ... 28

3.2 Saran ... 28 DAFTAR PUSTAKA

(4)

1 1.1 Latar Belakang

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan hal yang tidak dapat lepas dari sistem ketenagakerjaan dan sumber daya manusia dalam setiap organisasi ataupun perusahaan. Tidak hanya penting bagi pekerja, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) berperan penting dalam menentukan produktivitas suatu pekerjaan dan tentunya hal ini akan berdampak positif pada pekerjaan. Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini dilakukan agar pekerja terhindar dari berbagai kecelakaan kerja yang dapat berdampak pada tingkat produktivitas pekerja dan dapat mempengaruhi kualitas produk dalam suatu produksi.

Angka kecelakaan kerja di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Mengutip data BPJS Ketenagakerjaan, jumlah angka kecelakaan kerja sejak pandemi 2020 hingga 2022 angkanya meningkat, yaitu berada di sekitar 200 ribuan kasus. Pada tahun 2020 terjadi sebanyak 221.740 kasus kecelakaan kerja, sedangkan pada 2021 ini menyentuh angka 234.270 kasus. Hingga November 2022, angka kecelakaan kerja pada tahun 2023 mencapai 265.334 kasus. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja bukan hanya menimbulkan kerugian material maupun korban jiwa serta gangguan kesehatan bagi pekerja tetapi dapat mengganggu proses produksisecara menyeluruh bahkan merusak lingkungan yang akhirnya berdampak kepada masyarakat luas.

Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1970, kecelakaan kerja merupakan suatu masalah yang harus segera ditangani bersama. Kasus kecelakaan dapat ditangani melalui pembangunan suatu sistem yang jelas, terukur dan terarah untuk mengatur setiap kegiatan menjadi aman, maka perlu adanya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Penerapan SMK3 memberikan banyak hal positif pada perusahaan. SMK3 dapat mengurangi risiko bahaya di tempat kerja dan dapat menciptakan kondisi kerja yang produktif.

Berdasarkan UU Nomor 13 tahun 2003 menjelaskan tentang pelaksanaan SMK3 yang berupa kewajiban diatur dalam pasal 87 ayat (1) yang berbunyi “Setiap

(5)

Perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”. SMK3 bukan hanya suatu kewajiban perusahaan untuk memenuhi tuntutan dari negara, tetapi merupakan upaya untuk melindungi pekerja. Seperti yang terdefinisi di dalam SMK3 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012, SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif.

Perusahaan harus menerapkan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang diharapkan dapat menurunkan tingkat kecelakaan kerja dan menciptakan tempat kerja yang aman dan nyaman bagi pekerja. Jika seorang karyawan mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh rasa tidak aman dan nyaman saat melakukan atau menjalankan pekerjaan mereka, pekerja akan merugikan perusahaan dan diri mereka sendiri. Kecelakaan kerja menimbulkan kerugian, baik berupa kerugian perseorangan maupun perusahaan, kerugian ini dapat bersifat temporal ataupun seumur hidup.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan suatu program atau aturan yang dirancang untuk mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Tujuan adanya penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan sehat akan mengurangi angka kecelakaan di tempat kerja serendah mungkin. Diharapkan dengan peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dapat berdampak pada penurunan angka kecelakaan kerja di perusahaan. Perusahaan menyadari bahwa pekerja adalah aset penting perusahaan sehingga mereka harus mementingkan dan memperhatikan kesejahteraan pekerja melalui aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Pengetahuan tentang prosedur keselamatan kerja bagi pekerja adalah bagian terpenting dalam menjaga keselamatan jiwa dan keselamatan peralatan kerja.

Prosedur keselamatan kerja ini telah distandardisasi secara nasional dan internasional untuk memastikan bahwa wajib digunakan saat melakukan kegiatan kerja. Proses keselamatan kerja mencakup pelindung diri, persiapan badan dan kaki, dan prosedur saat melakukan suatu pekerjaan. Dengan demikian, kenyamanan kerja

(6)

dapat diciptakan di tempat kerja dan kecelakaan yang disebabkan oleh kelelahan atau kelalaian manusia dapat dikurangi atau dihindari.

Dengan adanya upaya keselamatan kerja yang benar dan kontrol pengawasan, diharapkan risiko kecelakaan kerja saat kegiatan dapat dikurangi ataupun dihilangkan sama sekali. Berdasarkan hasil uraian latar belakang tersebut, maka makalah ini ditulis untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai pentingnya penerapan konsep keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam suatu perusahaan demi mengurangi risiko kecelakaan akibat kerja.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah “Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Kerja” adalah sebagai berikut:

1. Faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan di tempat kerja?

2. Apa saja metode yang dapat dilakukan suatu perusahaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja?

3. Apa saja prinsip-prinsip dasar dari keselamatan dan kesehatan kerja di lingkup industri?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah “Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Kerja” adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan di tempat kerja.

2. Untuk mengetahui metode yang dapat dilakukan suatu perusahaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja.

3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dasar dari keselamatan dan kesehatan kerja di lingkup industri.

(7)

4

2.1 Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 2.1.1 Konsep K3 Menurut Para Ahli

Terdapat beberapa konsep keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menurut para ahli, di antaranya:

1. Mangkunegara (2002) menggambarkan keselamatan dan kesehatan kerja sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan, baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.

2. Menurut Prawirosentono (2002), keselamatan dan kesehatan kerja adalah tindakan yang dilakukan perusahaan untuk memastikan bahwa semua karyawan dapat bekerja dengan aman dan selalu dalam keadaan sehat di tempat kerja mereka.

3. “Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur," kata Sibarani Mutiara (2012).

4. Menurut Prawirosentono Suyadi (2002), "menciptakan suasana dan lingkungan kerja yang menjamin kesehatan dan keselamatan karyawan agar tugas pekerjaan di wilayah kerja perusahaan dapat berjalan lancar" adalah definisi dari keselamatan dan kesehatan kerja (Lewaherilla, 2009)

2.1.2 Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Menurut ILO/WHO (1980), keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah suatu pendekatan komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan, menjaga, dan memelihara derajat kesehatan fisik, mental, dan sosial para pekerja di berbagai sektor pekerjaan. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) mencakup usaha pencegahan dari segala bahaya yang dapat memicu kecelakaan kerja, penyakit

(8)

akibat kerja, serta kerusakan lingkungan kerja. Definisi ini menekankan pentingnya menciptakan kondisi kerja yang aman dan sehat, serta melindungi pekerja dari faktor-faktor risiko yang dapat merusak kesejahteraan mereka, baik secara langsung seperti kecelakaan fisik, maupun secara tidak langsung seperti stres atau penyakit psikososial.

Keselamatan (safety) mencakup perlindungan karyawan atau para pekerja dari cedera, luka-luka yang disebabkan oleh kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan (the protection of employees from injuries caused by work-related accidents). Keselamatan tersebut adalah komponen yang berkaitan dengan cedera yang berulang, stres, dan kekerasan dalam rumah tangga dan tempat kerja.

Kesehatan kerja (occupational health), juga dikenal sebagai kesehatan industri (industrial hygiene), mencakup usaha, penyakit dalam pekerjaan, dan upaya untuk menjaga kesehatan pekerjaan dan pencemaran di tempat kerja. Kesehatan mengacu pada kebebasan dari penyakit fisik atau emosional. Masalah di bidang-bidang ini dapat berdampak signifikan pada produktivitas dan kualitas kehidupan kerja karyawan (Bahtiar, 2019).

Implementasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus melibatkan seluruh pihak terkait dalam menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, yang mendukung keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan pekerja dalam jangka panjang. Oleh karena itu, ILO (1980) dalam tujuannya mengungkapkan bahwa ada standar mendasar sehubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja, di antaranya yaitu:

1. Pekerjaan harus berada dalam ruang tindakan yang sehat, selamat, serta aman.

2. Pekerja memiliki pekerjaan yang sesuai dengan keadaan dan keahlian.

3. Saat bekerja diharuskan sesuatu yang jelas karena perseorangan, sumber kerinduan perseorangan dan bantuan masyarakat.

2.1.3 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Secara umum, adanya kewajiban menyelenggarakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di dalam sebuah perusahaan bertujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat aktivitas di tempat kerja serta melindungi

(9)

semua sumber produksi agar dapat digunakan secara efektif. Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif bagi setiap pekerja, serta melindungi mereka dari berbagai risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Putra, 2020).

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga berperan penting dalam menjaga kesejahteraan fisik, mental, dan sosial pekerja, sehingga dapat meningkatkan efisiensi, kualitas, serta kesejahteraan di tempat kerja. Melalui penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang baik, diharapkan dapat meminimalisir kecelakaan, mengurangi biaya akibat insiden, dan menciptakan budaya kerja yang lebih bertanggung jawab serta berkelanjutan.

Beberapa tujuan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam lingkungan kerja adalah sebagai berikut:

1. Mencegah kerugian fisik dan finansial, baik dari pihak karyawan dan perusahaan.

2. Mencegah terjadinya gangguan terhadap produktivitas perusahaan.

3. Menghemat biaya premi asuransi.

4. Menghindari tuntutan hukum dan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan kepada karyawan (Putri, 2020).

Selain itu, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja dengan menciptakan tempat kerja yang nyaman dan efisien, serta mendorong tanggung jawab bersama antara pengusaha dan pekerja dalam menjaga keselamatan di tempat kerja.

2.1.4 Jenis-Jenis Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Setiap jenis keselamatan dan kesehatan kerja (K3) berfokus pada pengendalian dan pencegahan bahaya spesifik, seperti keselamatan kerja fisik yang berhubungan dengan peralatan dan mesin, kesehatan kerja yang mencakup pencegahan penyakit akibat lingkungan kerja, serta ergonomi yang memastikan kenyamanan dan efisiensi kerja. Selain itu, ada juga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang berkaitan dengan aspek psikososial, yang meliputi pencegahan stres dan gangguan mental akibat tekanan di tempat kerja.

(10)

Beberapa jenis keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah sebagai berikut:

1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fisik

Jenis ini berkaitan dengan pengendalian bahaya fisik di tempat kerja, seperti penggunaan alat berat, mesin, atau peralatan lainnya yang dapat menyebabkan cedera. Langkah-langkah pengamanan, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan prosedur kerja yang aman merupakan bagian dari keselamatan dan kesehatan kerja (K3) fisik untuk mencegah kecelakaan kerja.

2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kesehatan

Fokusnya adalah pada pencegahan penyakit yang timbul akibat kondisi lingkungan kerja yang buruk, seperti paparan bahan kimia berbahaya, debu, asap, kebisingan, atau radiasi. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) kesehatan juga mencakup program kesehatan pekerja, seperti pemeriksaan kesehatan rutin dan penanganan kondisi medis di tempat kerja.

3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Ergonomi

Jenis ini berkaitan dengan desain tempat kerja, peralatan, dan tugas yang disesuaikan dengan kemampuan manusia. Tujuannya untuk mencegah cedera akibat postur yang buruk, penggunaan alat yang tidak sesuai, atau beban kerja yang berlebihan. Ergonomi yang baik meningkatkan kenyamanan dan efisiensi kerja.

4. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Psikososial

Jenis keselamatan dan kesehatan kerja (K3) ini berfokus pada aspek mental dan emosional pekerja, termasuk pencegahan stres, burnout, atau gangguan mental akibat tekanan kerja. Program kesejahteraan psikososial membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih seimbang secara emosional dan mendukung kesehatan mental pekerja.

5. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kebakaran

Jenis keselamatan dan kesehatan kerja (K3) ini berkaitan dengan pencegahan risiko kebakaran di tempat kerja. Ini mencakup penggunaan alat pemadam api, sistem alarm kebakaran, pelatihan evakuasi, dan

(11)

pemeliharaan fasilitas sesuai standar keselamatan untuk mencegah atau menangani kebakaran secara cepat.

6. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Listrik

Bahaya listrik bisa sangat berisiko di lingkungan kerja. Jenis K3 ini berfokus pada perlindungan terhadap risiko cedera atau kematian yang disebabkan oleh penggunaan dan penanganan perangkat listrik yang tidak aman.

Inspeksi rutin dan penerapan standar kelistrikan yang baik sangat penting (Mutu, 2021).

2.1.5 Aspek-Aspek Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Menurut Borman dan Motowidlo (1993), perilaku keselamatan atau safety behavior terdiri dari dua aspek, yaitu sebagai berikut:

1. Pelaksanaan Keselamatan (Safety Compliance)

Pelaksanaan keselamatan merupakan perilaku karyawan dalam menerapkan perilaku keselamatan seperti membawa tata krama keselamatan dan mengikuti prosedur keselamatan ke dalam pekerjaan yang dilakukan.

Contoh dari pelaksanaan keselamatan adalah pekerja wajib mengikuti prosedur keselamatan kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan tempat di mana individu bekerja.

2. Partisipasi Keselamatan (Safety Partisipation)

Partisipasi keselamatan perilaku karyawan dalam merealisasikan keselamatan pada lingkungan kerja meliputi partisipasi dalam membantu rekan kerja, mempromosikan program keselamatan di tempat kerja, inisiatif dalam mendemonstrasikan perilaku keselamatan, dan ikut berusaha untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan di tempat kerja. Contoh dari partisipasi keselamatan kerja pada pekerja adalah turut berpartisipasi dan berusaha guna meningkatkan keselamatan dan keamanan di tempat kerja (Riadi, 2022).

2.1.6 Indikator Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Indikator perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah faktor penting yang digunakan untuk menilai sejauh mana kesadaran dan kepatuhan

(12)

pekerja terhadap prosedur keselamatan di tempat kerja. Perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3) mencakup sikap, tindakan, dan kebiasaan yang menunjukkan tanggung jawab dalam menjaga keselamatan diri sendiri dan rekan kerja. Indikator perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang baik mencerminkan budaya kerja yang berfokus pada keselamatan dan kesehatan, serta mendorong partisipasi aktif setiap individu dalam upaya pencegahan kecelakaan.

Indikator perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

1. Lingkungan Kerja Fisik

Lingkungan kerja fisik mencakup semua elemen material di tempat kerja yang memengaruhi kenyamanan dan keselamatan pekerja. Faktor-faktor yang termasuk dalam lingkungan fisik antara lain suhu, pencahayaan, ventilasi, kebisingan, getaran, tata letak peralatan, dan kualitas udara.

Kondisi lingkungan fisik yang buruk dapat menyebabkan kelelahan, stres, bahkan kecelakaan kerja, sehingga penting untuk menciptakan lingkungan fisik yang sesuai dengan standar keselamatan dan kenyamanan bagi pekerja.

Contoh penerapannya adalah pengaturan suhu ruangan yang nyaman, pencahayaan yang cukup, dan peralatan kerja yang aman.

2. Lingkungan Kerja Sosial

Lingkungan kerja sosial melibatkan aspek-aspek hubungan interpersonal dan interaksi di tempat kerja, seperti komunikasi antara pekerja, hubungan antara atasan dan bawahan, kerja sama tim, serta dinamika sosial lainnya yang memengaruhi iklim kerja. Lingkungan kerja sosial yang positif menciptakan rasa kebersamaan, motivasi, dan dukungan emosional di antara pekerja, yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mental mereka. Di sisi lain, lingkungan sosial yang negatif, seperti adanya konflik atau tekanan berlebihan dapat memicu stres, ketidaknyamanan, dan penurunan kinerja (Sapriadi, 2014).

2.1.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku K3

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan elemen-elemen yang dapat mempengaruhi seberapa baik

(13)

pekerja dan perusahaan dalam mematuhi dan melaksanakan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di tempat kerja. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yaitu:

1. Faktor Organisasi

a) Kepemimpinan dan Komitmen Manajemen

Peran manajemen dalam memberikan contoh dan dukungan yang kuat terhadap praktik keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sangat penting.

Manajemen yang memberikan prioritas tinggi pada keselamatan akan mendorong karyawan untuk juga memprioritaskan keselamatan mereka.

b) Kebijakan dan Prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3)

Organisasi yang memiliki kebijakan dan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang jelas, terdokumentasi, dan terkomunikasi dengan baik cenderung memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi terhadap keselamatan di tempat kerja.

c) Budaya Perusahaan

Budaya keselamatan yang baik akan mendorong perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3) positif di kalangan pekerja. Budaya ini tercipta dari upaya bersama, termasuk partisipasi karyawan dan manajemen dalam menjaga keselamatan.

2. Faktor Individual (Pribadi) a) Pengetahuan dan Pelatihan

Pekerja yang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan mendapat pelatihan yang memadai cenderung memiliki perilaku yang lebih aman di tempat kerja.

b) Sikap dan Motivasi

Sikap individu terhadap keselamatan, seperti seberapa besar mereka menghargai kesehatan dan keselamatan mereka sendiri, akan mempengaruhi perilaku mereka. Motivasi untuk bekerja secara aman dapat berasal dari kesadaran akan risiko atau karena adanya insentif dan penghargaan.

(14)

c) Pengalaman Kerja

Pekerja dengan pengalaman kerja lebih lama biasanya lebih memahami risiko dan lebih mampu mengidentifikasi situasi berbahaya, meskipun pengalaman ini bisa membuat mereka cenderung lebih santai atau kurang hati-hati jika tidak disertai dengan pembaruan pelatihan.

3. Faktor Lingkungan Kerja a) Desain Tempat Kerja

Tempat kerja yang dirancang dengan baik, yang memperhatikan faktor ergonomis dan keselamatan, akan meminimalkan risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

b) Alat dan Perlengkapan Kerja

Penggunaan alat pelindung diri (APD) yang tepat dan berkualitas baik akan memengaruhi keselamatan pekerja. Jika peralatan kerja tidak memadai atau rusak, risiko kecelakaan meningkat.

c) Kondisi Fisik Lingkungan

Faktor-faktor seperti penerangan, ventilasi, suhu, dan kebisingan juga mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja. Lingkungan yang nyaman dan aman akan membantu pekerja tetap fokus dan produktif.

4. Faktor Sosial dan Budaya a) Norma Sosial

Di lingkungan kerja, perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bisa dipengaruhi oleh norma dan kebiasaan yang berkembang. Jika mayoritas pekerja mematuhi prosedur keselamatan, maka pekerja lain akan cenderung mengikuti, demikian pula sebaliknya.

b) Dukungan Rekan Kerja

Kerja sama dan dukungan antar pekerja juga memainkan peran penting dalam menjaga perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Saling mengingatkan dan membantu satu sama lain dalam menjaga keselamatan sangat diperlukan.

(15)

5. Faktor Eksternal

a) Peraturan Pemerintah

Peraturan pemerintah terkait keselamatan dan kesehatan kerja (K3), seperti Undang-Undang Ketenagakerjaan, memaksa organisasi untuk mematuhi standar keselamatan tertentu. Pengawasan dari instansi terkait juga mempengaruhi tingkat kepatuhan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

b) Teknologi dan Inovasi

Kemajuan teknologi seperti alat pelindung yang lebih canggih atau sistem manajemen keselamatan berbasis teknologi dapat meningkatkan perilaku K3 dengan memudahkan pengawasan dan pelaksanaan prosedur keselamatan.

2.1.8 Masalah Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Kinerja (performance) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultan dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja.

Bila ketiga komponen tersebut serasi, maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya, bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.

1. Kapasitas Kerja

Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum memuaskan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30– 40%

masyarakat pekerja kurang kalori protein, 30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia. Kondisi kesehatan seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal.

2. Beban Kerja

Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain yang turut memperberat beban kerja, antara lain tingkat gaji dan jaminan

(16)

sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres bagi pekerja.

3. Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja, dapat menimbulkan kecelakaan kerja (occupational accident), penyakit akibat kerja, dan penyakit akibat hubungan kerja (occupational disease & work related diseases).

2.2 Prinsip dan Metode Pencegahan Kecelakaan Kerja 2.2.1 Prinsip Pencegahan Kecelakaan Kerja

Pencegahan kecelakaan adalah langkah penting dalam menjaga keselamatan di berbagai lingkungan, baik itu di tempat kerja, di jalan, atau dalam aktivitas sehari-hari. Terdapat beberapa prinsip yang dapat digunakan untuk mencegah kecelakaan, di antaranya:

1. Identifikasi Bahaya

Mengidentifikasi bahaya adalah langkah awal yang penting dalam mencegah kecelakaan. Ini melibatkan pengamatan dan analisis menyeluruh terhadap lingkungan kerja atau tempat aktivitas untuk menemukan sumber- sumber potensi bahaya yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Bahaya ini bisa berupa:

a) bahaya fisik: mesin, alat berat, kondisi lantai licin, kabel yang tergeletak, atau benda tajam.

b) Bahaya kimia: paparan bahan kimia berbahaya, tumpahan zat asam, atau penggunaan pelarut beracun.

c) Bahaya biologis: kontaminasi mikroorganisme, darah, atau bahan biologis lainnya.

d) Bahaya psikologis: stres akibat beban kerja yang tinggi atau kondisi kerja yang tidak kondusif.

Contohnya, di sebuah pabrik mesin dengan bagian bergerak dapat diidentifikasi sebagai bahaya fisik karena dapat menyebabkan cedera pada pekerja.

(17)

2. Penilaian Risiko

Setelah bahaya diidentifikasi, langkah berikutnya adalah mengevaluasi seberapa besar kemungkinan bahaya tersebut menyebabkan kecelakaan (frekuensi) dan seberapa serius dampak kecelakaannya (severitas).

Penilaian risiko ini akan membantu memprioritaskan langkah-langkah pencegahan. Beberapa tingkatan risiko, yaitu:

a) Risiko tinggi: harus segera diatasi karena dapat menyebabkan cedera parah atau kematian.

b) Risiko sedang: memerlukan tindakan pengendalian segera.

c) Risiko rendah: memerlukan pemantauan, namun bisa ditangani belakangan.

Contohnya, penggunaan bahan kimia beracun yang dapat menyebabkan luka bakar harus dinilai sebagai risiko tinggi karena berpotensi mencederai pekerja.

3. Pengendalian Bahaya

Setelah risiko dinilai, langkah-langkah pengendalian diambil untuk mengurangi atau menghilangkan bahaya. Pengendalian dapat berupa eliminasi bahaya, penggantian, rekayasa, administratif, atau penggunaan alat pelindung diri.

a) Eliminasi: menghapus sumber bahaya.

b) Penggantian: menggunakan bahan atau metode yang lebih aman.

c) Rekayasa: memasang pengaman, ventilasi, atau teknologi lain untuk mengurangi risiko.

d) Administratif: mengatur waktu kerja, membatasi akses, atau mengubah prosedur kerja.

e) Alat pelindung diri (APD): memberikan pelindung kepada pekerja seperti helm, sarung tangan, atau masker.

Contohnya, di sebuah laboratorium penggunaan APD seperti sarung tangan tahan bahan kimia adalah langkah pengendalian bahaya.

4. Partisipasi dan Kesadaran

Pencegahan kecelakaan tidak hanya bergantung pada sistem dan alat, tetapi juga pada partisipasi aktif seluruh individu yang terlibat. Kesadaran dan

(18)

pemahaman terhadap bahaya dan langkah-langkah keselamatan harus ditingkatkan melalui pelatihan dan komunikasi yang efektif. Contohnya, di sebuah lokasi konstruksi semua pekerja diharuskan mengikuti pelatihan keselamatan reguler dan menggunakan APD sesuai kebutuhan.

5. Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan

Keselamatan adalah proses berkelanjutan yang harus terus dievaluasi dan ditingkatkan. Inspeksi berkala, analisis terhadap insiden kecelakaan, dan masukan dari pekerja dapat digunakan untuk memperbaiki prosedur keselamatan yang sudah ada. Contohnya, setiap enam bulan perusahaan manufaktur melakukan audit keselamatan untuk memastikan bahwa semua alat dalam kondisi baik dan standar keselamatan diikuti.

2.2.2 Metode Pencegahan Kecelakaan Kerja

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mencegah kecelakaan, di antaranya:

1. Rekayasa Teknik (Engineering Controls)

Rekayasa teknik adalah metode untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya melalui perubahan fisik pada peralatan, lingkungan, atau proses.

Rekayasa teknik adalah langkah yang paling efektif setelah eliminasi bahaya karena dapat mengurangi risiko tanpa memerlukan interaksi manusia secara langsung.

Contoh: Memasang pelindung pada mesin untuk mencegah tangan pekerja terkena bagian yang bergerak atau menggunakan teknologi otomatisasi untuk pekerjaan yang berbahaya.

2. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

APD digunakan untuk melindungi pekerja dari bahaya yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Alat ini dirancang untuk memberikan perlindungan pribadi terhadap bahaya tertentu, seperti helm untuk melindungi kepala, sarung tangan untuk melindungi tangan, atau masker untuk melindungi saluran pernapasan.

Contoh: Di tempat kerja dengan risiko ledakan, pekerja harus menggunakan pakaian tahan api dan pelindung mata.

(19)

3. Edukasi dan Pelatihan Keselamatan

Memberikan pelatihan secara berkala kepada pekerja atau orang yang terlibat mengenai prosedur keselamatan yang benar adalah metode penting untuk mencegah kecelakaan. Pelatihan ini melibatkan pendidikan tentang bahaya, cara menggunakan peralatan dengan aman, serta langkah-langkah darurat.

Contoh: Pelatihan pemadaman api atau penggunaan alat pemadam api adalah langkah penting dalam industri yang rawan kebakaran.

4. Prosedur Kerja Aman (Safe Work Procedures)

Menyusun dan mengimplementasikan prosedur kerja standar yang aman memastikan bahwa setiap pekerjaan dilakukan dengan cara yang benar dan aman. Prosedur ini harus jelas, terdokumentasi, dan dipahami oleh semua pekerja.

Contoh: Di sebuah laboratorium kimia, prosedur standar penanganan bahan berbahaya harus diikuti untuk menghindari kontak langsung atau tumpahan.

5. Inspeksi dan Audit Rutin

Melakukan inspeksi dan audit keselamatan secara rutin adalah cara penting untuk memastikan bahwa lingkungan kerja aman dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Inspeksi dapat mencakup pengecekan alat, kondisi lingkungan, dan kepatuhan terhadap peraturan keselamatan.

Contoh: Di sebuah pabrik, inspeksi terhadap alat berat dilakukan setiap minggu untuk memastikan bahwa alat tersebut berfungsi dengan baik dan aman digunakan.

6. Sistem Pelaporan Insiden dan Hampir Kecelakaan (Near Misses)

Menerapkan sistem pelaporan insiden dan hampir kecelakaan (near miss) memungkinkan organisasi untuk mempelajari potensi bahaya dan mencegah kejadian yang lebih serius di masa depan. Setiap insiden atau kondisi yang mendekati kecelakaan harus dilaporkan dan dianalisis untuk diambil tindakan pencegahan.

Contoh: Jika ada hampir kecelakaan akibat lantai licin, manajemen dapat segera melakukan pembersihan atau pemasangan tanda bahaya agar tidak ada kecelakaan di masa depan.

(20)

Dengan penerapan prinsip dan metode pencegahan kecelakaan ini, risiko kecelakaan dapat dikurangi secara signifikan, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat bagi semua orang yang terlibat.

2.3 Konsep Penyebab Terjadinya Kecelakaan Kerja

OHSAS (Occupational Health and Safety Assessment Series) mendefinisikan kecelakaan kerja sebagai "kejadian yang tidak terduga yang terjadi selama pekerjaan atau dalam hubungan dengan pekerjaan, yang mengakibatkan cedera, penyakit, kerusakan harta benda, atau hilangnya waktu kerja". Definisi ini menekankan aspek kejadian yang tidak terduga yang berhubungan dengan pekerjaan, hal ini merupakan ciri khas kecelakaan kerja. Konsep dan teori kecelakaan kerja menurut OHSAS menekankan pada pendekatan proaktif dalam mencegah kecelakaan, dengan fokus pada identifikasi dan mitigasi risiko (Azka, 2020).

2.3.1 Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja. Kecelakaan kerja adalah hal yang paling dihindari dalam mengerjakan segala jenis pekerjaan.

Bagaimana tidak, kecelakaan dapat mengakibatkan beragam dampak buruk khususnya bagi para pekerja sehingga kejadian ini harus dihindari. Dengan mengetahui penyebab kecelakaan kerja diharapkan dapat membuat pekerja menjadi lebih hati-hati. Kecelakaan kerja biasanya terjadi karena human error yang tidak memenuhi aturan atau langkah dalam standart operational procedure (SOP).

Kecelakaan kerja menjadi hal yang penanggulangannya tidak dipersiapkan dan tentu tidak dapat dicegah. Namun, setidaknya kecelakaan kerja dapat diminimalkan dengan menggunakan prosedur keselamatan dan kesehatan yang mumpuni. Prosedur keselamatan harus dijalankan oleh semua pihak yang terlibat dalam pekerjaan. Jangan sampai kelalaian satu pihak dapat menyebabkan kerugian bagi berbagai pihak. Selain kesalahan dan kelalaian, terdapat dua faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja, yaitu:

(21)

1. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah elemen yang berasal dari lingkungan luar yang dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan di tempat kerja. Penyebab kecelakaan dari faktor eksternal adalah segala aspek di luar kendali individu yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan.

Faktor eksternal ini mencakup kondisi lingkungan, peralatan, serta faktor- faktor lain di sekitar individu yang dapat memengaruhi keselamatan. Faktor eksternal meliputi kondisi cuaca, kondisi jalan, peralatan yang rusak, serta desain tempat kerja yang tidak aman. Beberapa contoh pada faktor eksternal adalah:

a) Tempat Kerja

Tempat kerja harus memenuhi syarat-syarat keselamatan kerja, seperti ukuran ruangan tempat kerja, penerangan, ventilasi udara, suhu tempat kerja, lantai dan kebersihan ruangan, kelistrikan ruang, pewarnaan, gudang dan lain sebagainya. Jika tempat kerja tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, maka kecelakaan kerja sangat mungkin terjadi.

b) Kondisi Alat

Mesin-mesin dan peralatan kerja pada dasarnya mengandung bahaya dan menjadi sumber terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya karena mesin atau peralatan yang berputar, bergerak, bergesekan, bergerak bolak-balik, belt atau sabuk yang berjalan, roda gigi yang bergerak, transmisi serta peralatan lainnya. Oleh karena itu, mesin dan peralatan yang potensial menyebabkan kecelakaan kerja harus diberi pelindung agar tidak membahayakan operator atau manusia.

c) Bahan-Bahan dan Peralatan Bergerak

Pemindahan barang-barang yang berat atau yang berbahaya (mudah meledak, pelumas, dan lainnya) dari satu tempat ke tempat yang lain sangat memungkinkan terjadi kecelakaan kerja. Untuk menghindari kecelakaan kerja tersebut, perlu dilakukan pemikiran dan perhitungan yang matang, baik metode memindahkannya, alat yang digunakan, jalur yang akan di lalui, siapa yang bisa memindahkan, dan lain sebagainya.

(22)

Untuk bahan dan peralatan yang berat diperlukan alat bantu seperti forklift, orang yang akan mengoperasikan alat bantu ini harus mengerti benar cara menggunakan forklift, jika tidak, akan timbul kemungkinan kesalahan dan mengancam keselamatan lingkungan maupun tenaga kerja lainnya.

d) Transportasi

Penggunaan alat yang tidak tepat (asal-asalan), beban yang berlebihan (overloading), jalan yang tidak baik (turunan, gelombang, licin, sempit), kecepatan kendaraan yang berlebihan, penempatan beban yang tidak baik, semua hal ini bisa berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja. Upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memastikan jenis transportasi yang tepat dan aman, melaksanakan operasi sesuai dengan standart operational procedure (SOP), jalan yang cukup, penambahan tanda-tanda keselamatan, pembatasan kecepatan, jalur khusus untuk transportasi (misal dengan warna cat), dan lain sebagainya.

e) Cuaca

Faktor cuaca adalah elemen meteorologi yang dapat mempengaruhi keselamatan kerja, terutama dalam kegiatan di luar ruangan.

Memperhatikan faktor cuaca penting untuk merencanakan kegiatan kerja dan memastikan keselamatan pekerja.

f) Desain Tempat Kerja

Bangunan beserta desainnya akan sangat berpengaruh pada kecelakaan kerja. Meskipun semua tempat kerja telah didesain dengan aman, namun tetap saja bangunan akan menjadi faktor kecelakaan dalam pekerjaan.

g) Lokasi Kerja

Lingkungan sangat berpengaruh pada kecelakaan kerja. Misalkan saja ketinggian atau tempat akan memiliki pengaruh besar pada kecelakaan sehingga penting untuk melakukan mitigasi risiko sebanyak-banyaknya sebelum membangun tempat kerja di suatu lokasi tertentu (Daya, 2019).

(23)

2. Faktor Internal

Penyebab kecelakaan yang bersumber dari faktor internal mengacu pada segala bentuk kondisi atau keadaan yang berasal dari dalam diri individu yang berperan dalam terjadinya kecelakaan. Faktor-faktor ini meliputi aspek fisik, psikologis, dan perilaku seseorang yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka dalam bekerja atau menjalankan tugas dengan aman.

Faktor internal termasuk di dalamnya kondisi kesehatan, tingkat konsentrasi, serta kemampuan kognitif individu yang berperan besar dalam menentukan sejauh mana seseorang dapat bekerja secara efisien dan aman.

Beberapa contoh pada faktor internal adalah:

a) Ketidaktahuan

Hal ini menjadi penting karena jika tidak tahu apa yang harus dilakukan maka akan membahayakan pekerja karena pekerja dapat melakukan segala hal sesukanya. Faktor ini dapat dikurangi dengan adanya pelatihan yang menjelaskan mengenai hal-hal apa saja yang harus mereka lakukan. Jangan sampai hanya karena kekurangan pelatihan membuat malapetaka yang sangat merugikan.

b) Keterampilan

Jika pekerja tidak terampil dan lihai dalam pengoperasian maka akan menyebabkan kesalahan fatal sehingga penting bagi pekerja untuk mengimbangi antara bekal pengetahuan dan keterampilan bagi para pekerja.

c) Disiplin

Banyak kecelakaan kerja terjadi hanya karena masalah sepele yaitu disiplin. Pekerja yang tergesa-gesa, kurang sadar, bermain, dan hanya mementingkan dilakukan akan membuat kondisi yang sangat bahaya.

Pasalnya dari ketidakdisiplinan inilah yang menjadi Faktor utama terjadinya kecelakaan kerja.

d) Mengabaikan Keselamatan

Faktor lain yang juga kerap ditemukan adalah banyaknya petugas yang masih mengabaikan keselamatan diri dan lingkungan sekitar. Mereka

(24)

akan menganggap remeh setiap prosedur perusahaan. Bahkan di antara mereka akan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan prosedur.

e) Bermain-Main

Karakter seseorang yang suka bermain-main dalam bekerja bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya angka kecelakaan kerja.

Perilaku sering tergesa-gesa dan sembrono juga bisa menyebabkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, dalam setiap melakukan pekerjaan sebaiknya dilaksanakan dengan cermat, teliti, dan hati-hati agar keselamatan kerja selalu bisa terwujud. Terlebih lagi untuk pekerjaan yang menuntut adanya ketelitian, kesabaran dan kecermatan, tidak bisa dilaksanakan dengan bekerja sambil bermain (Channel, 2022).

2.4 Prinsip Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Industri 2.4.1 Occupational Safety and Health Concerns

Occupational safety and health concerns adalah penerapan prinsip ilmiah dalam memahami sifat risiko terhadap keselamatan manusia dan properti baik di lingkungan industri maupun non-industri. Occupational safety and health concerns adalah profesi multidisiplin yang berdasarkan pada fisika, kimia, biologi, dan ilmu perilaku dengan aplikasi di bidang manufaktur, transportasi, penyimpanan, dan penanganan bahan berbahaya serta kegiatan domestik dan rekreasi.

ILO dalam resolusinya menyatakan ada tiga prinsip dasar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), yaitu:

1. Pekerjaan harus dilakukan di lingkungan kerja yang aman dan sehat.

2. Kondisi kerja harus sejalan dengan kesejahteraan pekerja dan martabat manusia.

3. Pekerjaan harus menawarkan kemungkinan nyata untuk pencapaian pribadi, pemenuhan diri, dan layanan kepada masyarakat.

Dalam penerapan prinsip-prinsip dasar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) industri, terdapat poin-poin yang harus menjadi perhatian, yaitu:

1. Penerapan prinsip-prinsip sains (application of scientific principles).

2. Pemahaman pola risiko (understanding the nature of risk).

(25)

3. Ruang lingkup keilmuan K3 cukup luas baik di dalam maupun di luar industri.

4. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan multidisiplin profesi.

5. Ilmu-ilmu dasar yang terlibat dalam keilmuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah fisika, kimia, biologi, dan ilmu-ilmu perilaku.

6. Area cakupan atau garapan adalah industri, transportasi, penyimpanan dan pengelolaan material, domestik dan kegiatan lainnya seperti rekreasi.

2.4.2 Prinsip Dasar K3 yang Harus Ada dalam Lingkungan Kerja

Prinsip-prinsip dasar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang harus ada dalam lingkungan kerja disesuaikan dengan potensi risiko bahaya yang dapat terjadi. Alasannya karena masing-masing perusahaan mempunyai tingkat risiko bahaya yang berbeda. Namun, secara umum prinsip dasar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terdiri dari:

1. Ketersediaan APD (Alat Pelindung Diri) dalam kondisi baik dan jumlah yang cukup di tempat kerja.

2. Terdapat buku petunjuk atau pedoman penggunaan alat dan isyarat bahaya.

3. Sudah ada pembagian tugas dan tanggung jawab berkaitan dengan K3.

4. Tempat kerja yang sesuai dengan standar SSLK (Syarat-syarat lingkungan kerja), yaitu lingkungan kerja yang steril dari kotoran, asap, radiasi, dan lain sebagainya. Tempat yang aman dengan fasilitas memadai juga harus menjadi prioritas.

5. Tersedia fasilitas penunjang kesehatan jasmani maupun rohani di lokasi kerja.

6. Tersedia sarana dan prasarana lengkap.

7. Adanya kesadaran di antara pegawai untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja.

Dengan memastikan semua prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) ini terpenuhi, pegawai dapat melakukan pekerjaan dengan aman serta merasa terjamin keselamatannya sekalipun melakukan pekerjaan yang berisiko tinggi.

(26)

2.4.3 Prinsip K3 Berdasarkan Ketentuan Penerapan SMK3

Menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di perusahaan juga bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Selain itu, dapat meningkatkan reputasi perusahaan atau lembaga. Oleh sebab itu, penting bagi perusahaan untuk benar-benar memperhatikan terjalannya prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan kerja, caranya yaitu dengan menerapkan SMK3 di perusahaan. SMK3 merupakan bagian dari sistem manajemen di dalam perusahaan secara keseluruhan. SMK3 bertujuan untuk melakukan pengendalian risiko yang berhubungan dengan pekerjaan, agar tercipta lingkungan kerja yang aman, nyaman, efisien, serta produktif.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012, penerapan SMK3 ini terdiri dari lima prinsip, di antaranya:

1. Penetapan Kebijakan

Untuk dapat menetapkan kebijakan, perusahaan harus melakukan tinjauan awal bagaimana kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) saat ini di lingkungan kerja. Tinjauan ini meliputi proses identifikasi bahaya, komparasi penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan lain yang bergerak di sektor yang sama. Kemudian melakukan analisa sebab akibat suatu kejadian membahayakan bisa terjadi, mempertimbangkan kompensasi, dan melihat sumber daya yang tersedia. Selain melakukan peninjauan, perusahaan juga harus memperhatikan segala bentuk masukan dari pekerja dan serikat pekerja.

2. Perencanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dalam prosesnya, perencanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) ini mengacu pada kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang sudah ditetapkan. Penyusunan rencana keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga harus melibatkan wakil pekerja, ahli keselamatan dan kesehatan kerja (K3), panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta pihak terkait lainnya dari dalam perusahaan. Rencana keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sedikitnya perlu memuat penjelasan tentang tujuan dan saran, skala prioritas, upaya pengendalian bahaya, penetapan sumber daya, jangka waktu pelaksanaan, indikator pencapaian, serta sistem pertanggungjawaban.

(27)

3. Pelaksanaan Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Setelah perencanaan selesai, prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) berikutnya yaitu pelaksanaan rencana keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Dalam menerapkan rencana keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang sudah disusun perusahaan, perlu didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten di bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta ditunjang dengan sarana yang memadai. Selain itu, pelaksanaan rencana keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus diintegrasikan ke dalam kegiatan manajemen di perusahaan dan dikomunikasikan ke seluruh pihak. Kemudian, pelaksanaan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dilakukan berdasarkan pedoman yang sudah dibuat sebelumnya.

4. Pemantauan Serta Evaluasi Kinerja Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Setelah menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), perusahaan masih harus melakukan pemantauan serta evaluasi kinerja keselamatan dan kesehatan kerja (K3), yaitu dengan melakukan pemeriksaan, pengujian, dan juga pengukuran, serta melakukan audit internal SMK3 secara berkala. Hal ini dilakukan untuk mengecek efektivitas penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan kerja.

5. Peninjauan dan Peningkatan Kinerja SMK3

Setelah melakukan evaluasi, perusahaan perlu melakukan peninjauan dan juga peningkatan kinerja SMK3. Nantinya, hasil dari peninjauan dipakai untuk melakukan perbaikan dan juga peningkatan. Perbaikan dilakukan jika terjadi perubahan aturan atau ada perundang-undangan yang baru. Selain itu, masukan dari pekerja, perkembangan teknologi, hasil kajian kecelakaan, dan pelaporan juga dapat mendorong perbaikan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Hal ini perlu dilakukan guna pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

2.4.4 Penilaian Penerapan SMK3

Dari lima prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang sudah dijelaskan sebelumnya, penerapan pedoman keamanan di lingkungan kerja akan berlanjut pada tahapan penilaian SMK3. Hal ini untuk memastikan bahwa semua

(28)

prinsip tersebut berjalan dengan baik dan efektif. Proses audit SMK3 ini dilakukan oleh lembaga audit atau sertifikasi yang telah ditunjuk kementerian tenaga kerja, namun tetap berdasarkan permohonan dari perusahaan.

Penilaian penerapan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) akan dilihat dari banyak aspek pertimbangan, beberapa di antaranya yaitu pembangunan dan pemeliharaan komitmen, pembuatan dan pendokumentasian rencana keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pembelian dan pengendalian produk, dan lainnya. Semua penilaian penerapan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sudah tertera dengan rinci pada lampiran Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012.

Setelah penilaian SMK3 selesai, masih ada tahap pengawasan yang perlu dilakukan secara berkala. Pengawasan umumnya dilakukan oleh pengawas ketenagakerjaan dari pusat, provisi, atau kabupaten/kota, namun pengawasan juga bisa dilakukan oleh instansi lain dan harus tetap berkoordinasi dengan pihak dari pengawasan ketenagakerjaan. Dalam penerapannya, Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 menekankan bahwa penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus melalui Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

Penerapan SMK3 ini bertujuan untuk:

1. Meningkatkan efektivitas kegiatan perlindungan K3 secara terstruktur, terencana, dan terintegrasi.

2. Mengurangi dan menghindari risiko kecelakaan dan penyakit yang terkait dengan aktivitas pekerjaan, dengan melibatkan seluruh pihak di lingkungan kerja.

3. Menciptakan keamanan dan kenyamanan dalam lingkungan kerja, yang pada gilirannya akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

2.4.5 Manfaat Penerapan Prinsip-Prinsip Dasar K3

Setelah memahami pengertian, prinsip, dan tujuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), sangat penting untuk mengenali manfaat dari penerapan keselamatan dan kesehatan kerja K3) di suatu perusahaan. Manfaat ini tidak hanya dirasakan oleh satu pihak, melainkan oleh tiga stakeholder atau golongan yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3),

(29)

yaitu perusahaan, pekerja, dan masyarakat/negara. Manfaat yang diperoleh oleh masing-masing pihak yaitu:

1. Manfaat untuk Perusahaan a) Peningkatan Produktivitas

Dengan menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), perusahaan dapat mengurangi jumlah kecelakaan dan cedera, yang pada gilirannya dapat mengurangi absensi pekerja dan meningkatkan produktivitas.

b) Peningkatan Citra Perusahaan

Perusahaan yang menjunjung tinggi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menciptakan citra positif di mata publik dan calon pekerja. Hal ini dapat membantu dalam menarik bakat-bakat terbaik dan menjaga reputasi perusahaan.

c) Kepatuhan Hukum

Dengan mematuhi peraturan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), perusahaan memastikan kepatuhan hukum dan menghindari potensi sanksi hukum yang dapat merugikan perusahaan.

2. Manfaat untuk Pekerja

a) Keamanan dan Kesehatan

Pekerja merasakan manfaat langsung dari keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan memiliki lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat. Mereka dapat bekerja tanpa risiko yang tinggi terkait kecelakaan atau masalah kesehatan.

b) Perlindungan Hak-Hak Pekerja

Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melindungi hak-hak pekerja untuk bekerja dalam kondisi yang aman dan sehat, serta mendapatkan kompensasi jika terjadi kecelakaan kerja.

c) Kesejahteraan Sosial

Pekerja yang sehat dan aman akan memiliki kesejahteraan sosial yang lebih baik, termasuk kualitas hidup yang lebih tinggi.

(30)

3. Manfaat untuk Masyarakat/Negara a) Pengurangan Beban Kesehatan

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang baik mengurangi jumlah cedera dan penyakit terkait pekerjaan, yang pada gilirannya mengurangi beban kesehatan masyarakat dan biaya perawatan medis.

b) Peningkatan Produktivitas Nasional

Dengan pekerja yang sehat dan produktif, masyarakat dan negara secara keseluruhan mendapatkan manfaat dalam bentuk peningkatan produktivitas ekonomi.

c) Pengurangan Biaya Sosial

keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang baik dapat mengurangi biaya sosial terkait dengan kecelakaan kerja, termasuk biaya perawatan medis dan kompensasi.

(31)

28 3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan makalah

“Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Kerja” adalah sebagai berikut:

1. Terdapat dua faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi letak posisi tempat kerja, kondisi alat yang digunakan, bahan-bahan dan peralatan yang bergerak, transportasi, kondisi cuaca, desain tempat kerja, dan lokasi kerja. Sedangkan faktor internal meliputi meliputi ketidaktahuan pekerja mengenai pekerjaan, keterampilan pekerja, sikap disiplin, mengabaikan keselamatan, dan bermain-main saat bekerja.

2. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja yaitu melakukan rekayasa teknik, menggunakan alat pelindung diri (APD), melakukan edukasi dan pelatihan mengenai keselamatan saat bekerja, menyusun dan mengimplementasikan prosedur kerja aman, melakukan inspeksi dan audit keselamatan secara rutin, dan menerapkan sistem pelaporan insiden.

3. Secara umum prinsip dasar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terdiri dari ketersediaan APD, terdapat buku petunjuk penggunaan alat dan isyarat bahaya, sudah ada pembagian tugas dan tanggung jawab berkaitan dengan K3, tempat kerja yang sesuai dengan standar SSLK, tersedia fasilitas penunjang kesehatan jasmani maupun rohani di lokasi kerja, tersedia sarana dan prasarana lengkap, serta adanya kesadaran di antara pegawai untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja.

3.2 Saran

Adapun saran yang dapat penulis berikan dari penulisan makalah

“Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Kerja” adalah sebagai berikut:

1. Dengan adanya makalah ini, diharapkan penulis dan pembaca dapat mengetahui informasi mengenai konsep K3 di lingkungan kerja.

(32)

2. Diharapkan dapat menambah wawasan pembaca dan penulis melalui informasi yang didapatkan melalui makalah ini.

3. Diharapkan perusahaan dapat mengimplementasikan konsep keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebaik-baiknya di lingkup perusahaan demi kesejahteraan pekerja dan perusahaan.

(33)

Risiko dan Strategi Pencegahan. tekniksipil.id. https://tekniksipil.id/konsep- dan-teori-kecelakaan-kerja-menurut-ohsas/#

Bahtiar, A. (2019). Pengertian K3, Tujuan, Prinsip, Ruang Lingkup, SOP, dan Penerapan. titikdua.net.

Channel, D. (2022). Faktor dan Penyebab Kecelakaan Kerja yang Perlu Anda Ketahui. Gardaoto.com.

Daya, M. M. (2019). Faktor Kecelakaan Kerja. pelatihank3kemenaker.com.

https://pelatihank3kemenaker.com/faktor-kecelakaan-kerja/

Lewaherilla, N. (2009). Keselamatan dan kesehatan kerja. In CV. MEDIA SAINS INDONESIA (Nomor May). http://103.12.84.208/epel/edok/49ed0_8_- _Modul_K3L.pdf

Mutu, T. (2021). Memahami Jenis-Jenis Bahaya K3. mutuinstitute.com.

https://mutuinstitute.com/post/jenis-bahaya-k3/

Putra. (2020). PENGERTIAN K3: Fungsi, Tujuan & Prosedur Keselamatan Kerja.

salamadian.com. https://salamadian.com/pengertian-k3-kesehatan-dan- keselamatan-kerja/

Putri, D. (2020). Makalah Konsep Dasar K3. scribd.com.

Riadi, M. (2022). Perilaku keselamatan (Safety Behavior) - Pengertian, Aspek, dan

Contoh. Kajianpustaka.com.

https://www.kajianpustaka.com/2021/10/perilaku-keselamatan-safety- behavior.html

Sapriadi. (2014). Pengaruh Program Keselamatan & KesehatanKerja (K3) Dan Lingkungan Kerja TerhadapKinerja Karyawan Outsoursing PadaPt.

Swakarya Insan MandiriPekanbaru. 12–38.

Yuliandi, C. D., & Ahman, E. (2019). Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Di Lingkungan Kerja Balai Inseminasi Buatan (Bib) Lembang.

Jurnal MANAJERIAL, 18(2), 98–109.

https://doi.org/10.17509/manajerial.v18i2.18761

Referensi

Dokumen terkait

Laporan Akhir ini menjelaskan mengenai Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Karyawan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang.. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan

Menurut Sutedi (2009:170), Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat bagi pekerja/buruh maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan

“Pengaruh Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Serta Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Tingkat Kecelakaan Kerja Pada Karyawan” guna memenuhi

Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada karyawan yang beresiko tinggi mengalami kecelakaan kerja. Secara umum, K3 yang

Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi bahaya dan juga mengetahui kategori resiko yang berhubungan keselamatan dan kesehatan kerja operator

Judul untuk tugas sarjana ini adalah Analisis Penerapan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Bagian Produksi dengan Metode 5S sebagai Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya perusahaan dalam menciptakan kondisi kerja yang aman dan tenang sehingga dapat mencegah dan

Modul Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Umum ini disusun berbekal pengalaman di lapangan tentang kebutuhan pengetahuan tentang keselamatan dalam melakukan pekerjaan dan kesehatan dalam lingkungan