MAKALAH
MAHAR DALAM PERNIKAHAN Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Ilmu Munakahat Dosen Pengampu : Dr., Siyono M.Pd.I.
Disusun oleh :
1. Muhamad Wahyu Fatkhur R (23010220023) 2. Tazakka Na’imatush Sholihah (23010220026) 3. Listyawati Nur Rohmah (23010220033)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SALATIGA 2024
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb.
Puji dan Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa kita ke dunia yang penuh dengan kedamaian. Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai “Mahar dalam Pernikahan”. Dengan terselesaikannya pembuatan makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr., Siyono M.Pd.I. Selaku dosen pengampu mata kuliah Ilmu Munakahat dan semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu penulis berharap pembaca dapat memberikan saran serta kritik yang membangun. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Demikian pengantar dari penulis, apabila terdapat kesalahan penulis mohon maaf, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Salatiga, 8 April 2024
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I... 1
PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan... 1
BAB II... 2
PEMBAHASAN...2
A. Pengertian Mahar...2
B. Jenis-Jenis Mahar...3
C. Hukum Mahar... 5
BAB III... 7
PENUTUP...7
A. Kesimpulan...7
B. Saran... 7
DAFTAR PUSTAKA...8
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar BelakangPernikahan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia yang tidak hanya berkaitan dengan aspek sosial, tetapi juga spiritual dan hukum. Dalam konteks Islam, pernikahan diatur dengan ketentuan yang jelas, salah satunya adalah mengenai mahar. Mahar, atau maskawin, memiliki makna yang dalam dan simbolis, sebagai bentuk penghargaan dan komitmen dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan.
Di dalam masyarakat, mahar sering kali menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam proses pernikahan. Namun, pemahaman mengenai mahar tidak selalu sama di setiap kalangan. Ada yang menganggapnya sebagai kewajiban yang harus dipenuhi, sementara yang lain melihatnya sebagai tradisi yang dapat bervariasi sesuai dengan kondisi sosial dan ekonomi masing-masing pasangan.
Dengan adanya perbedaan pandangan ini, penting untuk memahami pengertian, jenis-jenis, serta hukum yang mengatur mahar dalam pernikahan.
Hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat mengenai pentingnya mahar, serta untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat muncul dalam proses pernikahan.
B.
Rumusan Masalah 1. Apa Pengertian Mahar?2. Apa Saja Jenis-Jenis Mahar?
3. Bagaimana Hukum Mahar?
C.
Tujuan1. Mengetahui Apa Pengertian Mahar 2. Mengetahui Apa Saja Jenis-Jenis Mahar 3. Mengetahui Bagaimana Hukum Mahar
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Mahar
Kata mahar yang telah menjadi menjadi bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab al-mahr , jama’nya al-muhur atau al-muhurah. Kata yang semakna dengan mahar adalah al shadaq, nihlah, faridhah, ajr, dan ‘ala’iq serta nikah. Kata- kata tersebut dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan mahar atau maskawin. Mahar juga diartikan sebagai “harta yang menjadi hak istri dari suaminya dengan adanya akad atau dukhul”.
Mahar secara etimologi artinya maskawin. Secara terminologi mahar adalah “pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri sebagai ketulusan hati calon suami untuk menimbulkan rasa kasih bagi seorang istri kepada calon suaminya”. Atau “suatu pemberian yang diwajibkan bagi calon suami kepada calon istrinya, baik dalam bentuk benda atupun jasa (memerdekakan, mengajar dsb).
Mahar dalam bahasa Arab Shadaq. Asalnya isim masdar dari kata ashdaqa, masdarnya ishdaq diambil dari kata shidqin (benar). Dinamakan shadaq memberikan arti benar-benar cinta nikah dan inilah yang pokok dalam kewajiban mahar atau maskawin. Pengertian menurut syara’ mahar adalah sesuatu pemberian yang wajib sebab nikah atau bercampur atau keluputan yang dilakukan secara paksa seperti menyusui dan ralat para saksi.
Kemudian mengenai definisi mahar ini dalam Kompilasi Hukum Islam, juga dijelaskan mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam
Islam sangat memperhatikan dan menghargai kedudukan seorang wanita dengan memberi hak kepadanya, diantaranya adalah hak untuk menerima mahar (maskawin). Mahar hanya diberikan oleh calon suami kepada
calon isteri, bukan kepada wanita lainnya atau siapapun walaupun sangat dekat dengannya.
dapat dipahami bahwa mahar itu merupakan suatu kewajiban yang harus dipikul oleh setiap calon suami yang akn menikahi calon istrinya. Jadi mahar itu menjadi hak penuh bagi istri yang menerimanya bukan hak bersama dan bukan juga hak walinya.
B. Jenis-Jenis Mahar
Suatu pernikahan harus berjalan dengan adanya mahar yang akan diberikan kepada calon mempelai wanita. Hubungan antara suami istri dalam pernikahan turut diperkuat dengan adanya mahar yang telah diberikan oleh mempelai pria. Islam memberikan pilihan kemudahan dalam pernikahan dengan mahar yang disepakati berrsama dengan penuh ketulusan dan komitmen bersama. Aturan terperinci tidak disebutkan jenis kualitas (mutu) dan kuantitas (jumlah) mahar dalam Islam.
Hal ini terkait adanya perbedaan status sosial antara yang kaya dan miskin, berkedudukan dan tidak berkedudukan.
Kantitas dan kualitas mahar dalam islam tergantung kepada kedua mempelai pria dan wanita. Nilai mahar mahar tidak ditetapkan secara rinci dengan berdasar besar kecil jumlah.
Nilai penting yang diajarkan dalam islam adalah ketulusan kemudahan komitmen kasih sayang cinta yang diikat dalam pernikahan1.
Zumhur ulama sepakat bahwa membayar mahar itu adalah wajib. Kemudian macam-macam mahar dapat dibedakan menjadi dua yaitu: Mahar Musamma dan Mahar
1 Edo Ferdian, “Batasan Jumlah Mahar (Maskawin) Dalam Pandangan Islam Dan Hukum Positif,” Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS) 3, no. 1 (10 Juni 2021): 49–59, https://doi.org/10.33474/jas.v3i1.10984.
Mitsil. Untuk lebih jelasnya tentang kedua jenis mahar tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
1. Mahar Musamma
Mahar musamma adalah mahar yang telah jelas dan ditetapkan bentuk dan jumlahnya dalam sighat akad.
Disepakati oleh kedua belah pihak yaitu pengantin pria dan wanita yang disebutkan dalam redaksi akad, para ulama sepakat bahwa tidak ada jumlah maksimal dalam mahar tersebut. Jenis mahar ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
Mahar Musamma Mu’ajjal dan Mahar Musamma Ghair Mu’ajjal.
a. Mahar Mu’ajjal, yakni mahar yang segera diberikan kepada mempelai perempuan. Menyegerakan pembayaran mahar termasuk perkara yang sunnah dalam Islam.
b. Mahar Musamma Ghair Mu’ajjal, yakni mahar yang telah ditetapkan bentuk dan jumlahnya, akan tetapi ditangguhkan pembayarannya2.
Ulama’ sepakat bahwa membayar mahar menjadi wajib apabila telah berkhalwat (bersepi-sepian/berdua-duan) dan juga telah dukhul. Sehingga jika belum terbayarkan maka termasuk utang piutang. Namun, jika sang isteri rela terhadap maharnya yang belum dibayarkan oleh suaminya, sementara suaminya telah meninggal, maka tidak wajib ahli warisnya membayarkan maharnya.
Jika isterinya tidak rela, maka pembayaran mahar itu diambilkan dari harta warisannya oleh ahli warisnya. Apabila terjadi talak sebelum terjadinya dukhul, sementara bentuk
2 Leo Perkasa Maki, “Kedudukan dan Hikmah Mahar dalam Perkawinan,”
Syakhshiyyah Jurnal Hukum Keluarga Islam 2, no. 2 (23 Desember 2022): 137–
49, https://doi.org/10.32332/syakhshiyyah.v2i2.6138.
dan jumlahnya telah ditentukan dalam akad, maka wajib membayar mahar separuhnya saja dari yang telah ditentukan dalam mahar3.
2. Mahar Mitsil
Mahar mitsil merupakan mahar yang jumlahnya ditetapkan menurut jumlah yang biasa diterima oleh oleh keluarga pihak istri, karena pada waktu akad nikah jumlah mahar belum ditentukan bentuknya. Mahar mitsil adalah mahar yang diputuskan untuk wanita yang menikah tanpa menyebutkan mahar dalam akad, ukuran mahar disamakan dengan mahar wanita yang ketika menikah dari keluarga bapaknya seperti saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan tunggal bapak.
Menurut Ulama Syafi’iyyah mahar mitsil adalah dengan melihat beberapa keluarga wanita ashabah perempuan untuk mencari persamaan ukuran mahar. Mahar mistli diwajibkan dalam tiga kemungkinan:
a. Dalam keadaan suami tidak menyebutkan sama sekali mahar atau jumlahnya ketika berlangsungnya akad nikah.
b. Suami menyebutkan mahar musamma namun mahar tersebut tidak memenuhi syarat yang ditentukan atau mahar tersebut cacat seperti mahar dengan minuman keras.
c. Suami menyebutkan mahar musamma, namun kemudian suami istri berselisih dalam jumlah atau sifat mahar tersebut dan tidak dapat terealisasikan4.
3 Muhammad Ridwan, “Kedudukan Mahar Dalam Perkawinan,” Jurnal
Perspektif 13, no. 1 (30 Juni 2020): 43–51,
https://doi.org/10.53746/perspektif.v13i1.9.
4 abd. Kafi, “Mahar Pernikahan Dalam Pandangan Hukum Dan Pendidikan Islam,” Paramurobi: Jurnal Pendidikan Agama Islam 3, no. 1 (26 September 2020): 55–62, https://doi.org/10.32699/paramurobi.v3i1.1436.
C. Hukum Mahar
Sebagai sumber hukum utama, Alquran telah tegas dan jelas memerintahkan untuk mengadakan mahar pada proses pernikahan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 4 yakni: Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.
Islam menganjurkan kepada calon suami untuk memberi sesuatu yang bernilai harta kepada perempuan yang akan dinikahinya guna menunjukkan maksud baiknya tersebut. Perlu diketahui mahar bukan sebagai tanda nilai harga untuk memiliki seorang perempuan, tetapi mahar merupakan pemberian sebagai tanda untuk menghargai kedudukan perempuan yang di mana pemberian seorang laki-laki baik berupa uang atau barang yang menjadi hak penuh bagi seorang perempuan untuk menerimanya.
Ulama dari kalangan hanafiyah menjabarkan definisi dari mahar merupakan pemberian harta yang diwajibkan dikeluarkan oleh suami saat akad nikah berlangsung sebagai tanda diterimanya untuk menikmati berhubungan badan. Imam Malik menjelaskan definisi mahar sebagai bentuk persyaratan yang sah akibat terjadinya pernikahan, serta mahar merupakan bagian rukun pernikahan dan hukumnya wajib ada dan diberikan kepada berhak menerimanya5
Ibrahim Muhammad al-Jamal mengatakan mahar adalah pemberian sesuai kemampuan seorang laki-laki kepada seorang perempuan, dan perempuan terpenuhi haknya serta menyukai pemberian dari seorang lakilaki tersebut
Mahar tidak masuk dalam ranah syarat dan rukun nikah tetapi wajib harus ada dalam perkawinan. Pemberian mahar ini merupakan bukti upaya Islam dalam meninggikan harkat kaum perempuan yang sebelumnya hanya
5 Nazil Fahmi, ‘TINJAUAN PERSPEKTIF FIKIH TERHADAP PELAKSANAAN MAHAR DALAM PERNIKAHAN’, Familia: Jurnal Hukum Keluarga 2, no. 1 (29 December 2021): 5, https://doi.org/10.24239/.v2i1.26.
dipandang sebelah mata. Sehingga semenjak saat itu dengan adanya mahar kaum perempuan tidak bisa dengan seenaknya saja dinikahi oleh orang lain.
Setiap laki-laki yang berniat menjadikan seorang perempuan sebagai isterinya, maka ia harus mempersiapkan sesuatu yang bernilai guna diberikan kepada isterinya saat akad nikah 6.
Meskipun keberadaan mahar ini wajib menurut para ulama, namun mengenai kisaran jumlahnya, baik minimal maupun maksimal, tidak ada ketentuannya dalam nash al-Qur’an dan hadis. Terkait dengan hal ini para fuqaha sepakat mengenai tidak ada batas maksimal dari mahar. Oleh karena itu mahar tidak boleh ditetapkan dengan suatu ukuran tertentu.
Dalam KHI Pasal 31 dikatakan “Penentuan mahar berdasarkan asas kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh ajaran Islam”. Pasal ini memberikan penjelasan bahwa jumlah yang dianjurkan dari mahar adalah ukuran kesederhanaan sedangkan kesederhanaan sifatnya relatif bergantung pada batas kemampuan dan kesanggupan mempelai pria 7.
6 Apriyanti, Historiografi Mahar dalam Pernikahan, Jurnal Kajian Gender dan Anak, no 12-02 (2017) (163-178).Pdf’, n.d,.
7 Muhammad Ridwan, ‘Kedudukan Mahar Dalam Perkawinan’, Jurnal Perspektif 13, no. 1 (30 June 2020): 4, https://doi.org/10.53746/perspektif.v13i1.9.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Mahar merupakan pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri sebagai ketulusan hati calon suami untuk menimbulkan rasa cinta kasih bagi seorang istri kepada calon suaminya. Atau suatu pemberian yang diwajibkan bagi calon suami kepada calon istrinya, baik dalam bentuk benda maupun jasa.
Agama tidak menetapkan jumlah minimum dan begitu pula jumlah maksimum dari mahar. Hal inidisebabkan oleh perbedaan tingkatan kemampuan manusia dalam memberikannya. Mahar boleh dilaksanakan dan diberikan dengan kontan atau utang,
Jadi dalam Islam, pada dasarnya mahar bukan sebagai harga seorang perempuan sehingga isteri bisa dimiliki seperti barang. Namun mahar merupakan bukti keseriusan laki-laki kepada perempuan untuk membina kehidupan rumah tangga. Hal ini berarti suami dan isteri merupakan patner yang akan menjalani kehidupan secara bersama-sama demi mewujudkan keluarga yang samara.
B. Saran
Dengan dibuatnya makalah ini, penyusun menyarankan kepada pembaca agar mendeskripsikan dan mendiskusikan lebih lanjut tentang mahar dalam pernikahan. Hal ini perlu dilakukan karena dengan mencari informasi lebih detail atau lebih banyak dapat menambah pengetahuan maupun wawasan.
Semoga kita semua dapat beristiqomah dalam belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Fahmi, Nazil. ‘TINJAUAN PERSPEKTIF FIKIH TERHADAP PELAKSANAAN MAHAR DALAM PERNIKAHAN’. Familia: Jurnal Hukum Keluarga 2, no. 1 (29 December 2021): 88–103. https://doi.org/10.24239/.v2i1.26.
Ferdian, Edo. ‘BATASAN JUMLAH MAHAR (MASKAWIN) DALAM PANDANGAN ISLAM DAN HUKUM POSITIF’. Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS) 3, no. 1 (10 June 2021): 49–59.
https://doi.org/10.33474/jas.v3i1.10984.
Kafi, Abd. ‘MAHAR PERNIKAHAN DALAM PANDANGAN HUKUM DAN PENDIDIKAN ISLAM’. PARAMUROBI: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 3, no. 1 (26 September 2020): 55–62.
https://doi.org/10.32699/paramurobi.v3i1.1436.
Maki, Leo Perkasa. ‘Kedudukan dan Hikmah Mahar dalam Perkawinan’.
Syakhshiyyah Jurnal Hukum Keluarga Islam 2, no. 2 (23 December 2022):
137–49. https://doi.org/10.32332/syakhshiyyah.v2i2.6138.
Ridwan, Muhammad. ‘Kedudukan Mahar Dalam Perkawinan’. Jurnal Perspektif 13, no.1(30 June 2020): 43–51. https://doi.org/10.53746/perspektif.v13i1.9.
Apriyanti, Historiografi Mahar dalam Pernikahan, Jurnal Kajian Gender dan Anak, no 12- 02 (2017) (163-178).Pdf’, n.d,.