i
IMPLEMENTASI PASAL 32 KOMPILASI HUKUM ISLAM TENTANG MAHAR MENJADI HAK PRIBADI CALON MEMPELAI WANITA (Studi Kasus di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa)
Oleh:
Eka Sucitra NIM: 170202015
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2021
ii
IMPLEMENTASI PASAL 32 KOMPILASI HUKUM ISLAM TENTANG MAHAR MENJADI HAK PRIBADI CALON MEMPELAI WANITA (Studi Kasus di Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa)
Skripsi
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar
Sarjana Hukum
Oleh:
Eka Sucitra NIM: 170202015
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2021
iv
v
vii
viii MOTTO
ْنَع ْمُكَل َنْبِّط ْنِّاَف ۗ ًةَلْحِّن َّنِّهِّتٰقُدَص َءۤاَسِّ نلا اوُتٰا َو اًسْفَن ُهْنِّ م ٍءْيَش
أًـْۤي ِّرَّم أًـْۤيِّنَه ُه ْوُلُكَف
Artinya: dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati. (QS. An-Nisa 4:4).1
1 QS. An-Nisa [4]:4.
ix
PERSEMBAHAN
“Skripsi ini sebagai rasa syukur kepada Allah yang memberikan kesehatan serta kesempatan untuk menuntut ilmu, kepada kedua orang tua dan orang-orang yang saya sayangi, selalu memberikan dukungan serta do’a agar lancar dalam penulisan skripsi ini.”
x
KATA PENGANTAR
Puji bagi Allah SWT Tuhan pemilik alam semesta yang senantiasa melimpahkan nikmat, berkah dan hidayah-Nya. Sholawat dan salam tak lupa tercurahkan kepada Nabiyallah Muhammad Saw yang telah diutus oleh Allah kemuka bumi sebagai rahmatan lil aalamin yang telah menggempurkan kesesatan dan mengibarkan panji-panji kebenaran, memperjuangkan Islam hingga umat terdahulu dapat merasakan nikmatnya Islam serta manisnya keimanan.
Peneliti penyadari dalam penyusunan skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan doa dari beberapa pihak. Karena itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih.
Peneliti juga ingin berterima kasih kepada berbagai pihak yang telah turut meberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu kepada:
1. Bapak Dr. H. Usman, M.Ag. selaku Dosen Pembimbing I dan Bapak M.
Nor, S.Ag., M.H.I. selaku Dosen Pembimbing II. Telah meluangkan waktu untuk membimbing selama penyusunan skripsi ini, serta memberikan kritikan juga saran hingga terselesaianya skripsi ini.
2. Bapak Rudi Satria selaku kepala Desa Lantung Kecamatan Lantung kabupaten Sumbawa, yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian.
3. Bapak Prof. H. Mutawali, M.Ag., selaku Rektor Universitas Islam Negeri Mataram (UIN) karena telah memfasilitasi sarana dan prasarana yang memadai.
xi
4. Bapak Dr. H. Musawar, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram, atas kesempatan yang diberikan untuk kelengkapan persyaratan surat-surat yang peneliti perlukan untuk penelitian.
5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Syaraiah Universitas Islam Negeri Mataram yang telah memberikan ilmu kepada peneliti;
6. Teman-teman seperjuangan beserta teman kelas yang telah mendukung dan menyemangati saya selama proses pembuatan skripsi dari awal sampai ahir
Meski peneliti telah berusaha sebaik mungkin dalam menyelesaikan skripsi ini, peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih ada kekurangan. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi menyempurnakan segala kekurangan dalam skripsi ini. Akhir kata, peneliti berharap semoga skripsi ini berguna bagi para pembaca dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Mataram, 5 Juli 2021
Peneliti.
xii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN LOGO ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
NOTA DINAS PEMBIMBING ... v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... vi
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vii
HALAMAN MOTTO ... viii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
ABSTRAK ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 6
E. Telaah Pustaka ... 7
F. Kerangka Teori ... 12
G. Metode Penelitian ... 20
H. Sistematika Pembahasan ... 26
BAB II PRAKTEK PEMBERIAN MAHAR TERHADAP CALON MEMPELAI WANITA di DESA LANTUNG KECAMATAN LANTUNG KABUPATEN SUMBAWA ... 28
A. Gambaran Umum Desa Lantung Kecamatan Lantung Kebupaten Sumbawa ... 28
xiii
B. Praktik Pemberian Mahar Terhadap Calon Mempelai Wanita
di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa. ... 33
BAB III IMPLEMENTASI PASAL 32 KOMPILASI HUKUM ISLAM TENTANG MAHAR MENJADI HAK PRIBADI CALON MEMPELAI WANITA ... 48
A. Analisis Praktek Pemberian Mahar Terhadap Calon Mempelai Wanita di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa ... 48
B. Analisis Implementasi Pasal 32 Kompilasi Hukum Islam dalam Praktek pemberian Mahar Terhadap Calon Mempelai Wanita di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa ... 58
BAB IV PENUTUP ... 66
A. Kesimpulan ... 66
B. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
LAMPIRAN ... 71 xiii
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa, 27.
Tabel 2. 2 Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa, 30.
xv
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Izin Penelitian Dari Kampus
Lampiran 2 Surat Pernyataan Telah Melakukan Penelitian Lampiran 3 Kartu Konsultasi Skripsi
Lampiran 4 Surat Plagiasi
Lampiran 5 Foto Dokumentasi Penelitian
xvi
IMPLEMENTASI PASAL 32 KOMPILASI HUKUM ISLAM TENTANG MAHAR MENJADI HAK PRIBADI CALON MEMPELAI WANITA (Studi Kasus di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa)
Oleh:
EKA SUCITRA NIM: 170202015
ABSTRAK
Syariat Islam telah menjelaskan bahwa mahar adalah pemberian calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai wanita, dijelaskan juga dalam pasal 32 Kompilasi Hukum Islam, Namun praktek yang terjadi di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa mahar yang telah diberikan kepada calon mempelai wanita dikuasai kembali oleh mertua. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui praktek pemberian mahar terhadap calon mempelai wanita dan implementasi pasal 32 Kompilasi Hukum Islam dalam Praktek pemberian mahar di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa. Adapun jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis sosiologis yaitu untuk melihat implementasi peraturan yang berlaku dan menghubungkannya dengan praktik yang terjadi di tengah masyarakat. Metode pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi demi mendapatkan fakta-fakta yang berkaitan dengan penelitian yang peneliti lakukan Hasil dari penelitian yang peneliti lakukan implementasi pasal 32 Kompilasi Hukum Islam tentang mahar menjadi hak pribadi calon mempelai wanita tidak maksimal diterapkan pada masyarakat Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa. Sebagian dari masyarakat justru mengusai mahar yang seharusnya menjadi hak
Kata Kunci: Implementasi, Mahar, Pasal 32, Kompilasi Hukum Islam.
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di dalam Islam, perkawinan merupakan sesuatu yang sangat sakral bermakna ibadah dan mengikuti sunah Rasulullah s.a.w, dengan kesiapan yang matang untuk menikah dengan mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam Kompilasi Hukum Islam, BAB II pasal 2 yaitu:
“perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah”.2
Perkawinan diatur oleh berbagai etika dan aturan-aturan yang menjunjung nilai kemanusiaan.3 Menurut Kompilasi Hukum Islam tentang rukun dan syarat perkawinan, pada pasal 14 meliputi: calon suami, calon istri, wali nikah, dua orang saksi, ijab dan qabul. Menurut kesepakatan para ulama, mahar ditetapkan sebagai syarat sahnya perkawinan.4 Oleh karena itu mahar menjadi wajib adanya sebelum melaksanakan pernikahan, terlepas dari apapun jenis dan bentuknya.
Mahar biasanya tergantung pada kedudukan seseorang itu dalam masyarakat, status sosial, pihak-pihak keluarga, atau bisa juga antar Negara dari waktu ke waktu dapat berubah-ubah. Mahar seharusnya disetujui oleh
2 Kompilasi Hukum Islam, (Jakarta: permata press), hlm. 2.
3 Beni Ahmad Saibani, Perkawinan dalam Hukum Islam dan Undang-Undang, (Bandung:
Pustaka Setia, 2008), hlm. 13.
4 Amir Nurudin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta:
Kencana, 2019), hlm. 52.
kedua belah pihak baik calon pengantin laki-laki atau perempuan. Besar atau kecilnya suatu mahar asalkan berharga maka bisa dijadikan mahar. Dalam ketentuannya, mahar tetap harus mempertimbangkan asas kesederhanaan dan kemudahan.5
Seperti yang terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam. BAB V, pasal 31 yaitu “penentuan mahar berdasarkan atas kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh ajaran Islam”.6 Artinya, mahar tidak terkesan memberatkan calon suami dan tidak pula merendahkan harga diri calon istri.
Dalam Islam jumlah mahar tidak ditetapkan karena bergantung pada kebiasaan dan kondisi. Pihak perempuan berhak memilih dan menentukan jumlah mahar yang akan diminta, dalam bentuk kecil atau besar akan tetapi jumlah yang paling berkah adalah permintaan yang murah dan sederhana. Jumlah mahar seharusnya berpegang pada kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh Islam.7
Mahar dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu pemberiannya. Mahar musamma adalah mahar yang telah disepakati bentuk dan jumlahnya dalam sighat akad, mahar yang diberikan segera oleh calon suami kepada calon istri disebut dengan mahar musamma mu’ajjal sedangkan mahar yang ditangguhkan pemberiannya disebut mahar musamma ghair mu’ajal dan mahar yang diberikan oleh calon suami kepada calon istri berdasarkan yang
5 Ibid., hlm. 53.
6 Kompilasi Hukum Islam …, hlm. 5.
7 Beni Ahmad Saibani, Perkawinan …, hlm. 104
jumlahnya diberikan berdasarkan kebiasaan yang diterima oleh keluarga pihak calon istri, mahar ini disebut mahar mitsil. 8
Apabila mahar yang telah ditetapkan belum dibayar sebagian tetapi suami akan mentalak istrinya maka suami wajib membayar sebagian mahar tersebut. Apabila suaminya meninggal dunia maka sebagian dari mahar dibayarkan dari harta peninggalan suami. Terdapat di dalam pasal 35 Kompilasi Hukum Islam, ayat ke-1 berbunyi: “suami yang mentalak isterinya qobla al-dukhul wajib membayar setengah mahar yang telah ditentukan dalam akad nikah”. Ayat ke-2 berbunyi “apabila suami meninggal dunia qobla al- dukhul tetapi besar mahar belum ditetapkan maka suami wajib membayar mahar mitsil”. Mahar diberikan oleh calon suami kepada calon istri sebagai lambang menghargai, memuliakan dan kecintaan.9
Mahar adalah hak mutlak istri, selain istri tidak boleh ada yang menjamah atau menggunakanya meskipun oleh suaminya sendiri, kecuali dengan ridho dan kerelaannya.10 Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam BAB V, pasal 32, yaitu: “mahar diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan sejak itu menjadi hak pribadinya”.
Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan di Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa, peneliti melihat terdapat praktek mahar yang telah diberikan kepada istri akan tetapi tidak benar-benar menjadi hak pribadi istri. Misalnya, mahar tersebut masih dipakai oleh mertua tanpa seizin dari menantu padahal sebelumnya sudah diberikan sebagai mahar.
8 Beni Ahmad Saibani, Perkawinan …, hlm. 110.
9 Mardani, Hukum Keluarga Islam di Indonesia, (Jakarta, Kencana, 2016), hlm.47.
10Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh munakahat, (Jakarta: Kencana, 2006), cet. ke-2, hlm. 84.
Contohnya, tanah yang sebelumnya dijadikan sebagai mahar akan tetapi di tahun yang sama masih diambil hasilnya tanpa meminta izin dari menantu tersebut.11
Berangkat dari masalah di atas, pembahasan ini sangat penting peneliti bahas, agar mahar yang telah ditentukan bisa benar-benar menjadi hak pribadi istri dan tidak diganggu gugat oleh pihak ketiga yaitu mertua tanpa seizin dari istri, dengan kata lain siapapun yang akan memanfaatkan mahar tersebut harus meminta izin dan mendapatkan izin dari istri sesuai dengan kerelaan atau keridhoan hatinya.
Hal ini yang mendorong peneliti mengangkat dan meneliti tentang IMPLEMENTASI PASAL 32 KOMPILASI HUKUM ISLAM TENTANG MAHAR MENJADI HAK PRIBADI CALON MEMPELAI WANITA ( Studi Kasus di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa) .
B. Rumusan Masalah
Sebagaimana latar belakang di atas maka fokus penelitian ini kami rumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana praktek pemberian mahar terhadap calon mempelai wanita di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa?
2. Bagaimana impelementasi pasal 32 Kompilasi Hukum Islam, dalam praktek pemberian mahar terhadap calon mempelai wanita di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa?
11 Nurmania Karmila, Wawancara, Lantung , 22 februari 2021
C. Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka peneliti merumuskan tujuan dan manfaat sebagai berikut:
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui praktik pemberian mahar terhadap calon mempelai wanita di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa.
b. Untuk mengetahui implementasi pasal 32 Kompilasi Hukum Islam dalam praktik pemberian mahar terhadap calon mempelai wanita di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa.
2. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat baik secara teoretis maupun praktis.
a. Manfaat Teoretis
Diharapkan dapat memperkaya dan menambah khazanah keilmuan Islam, khususnya mengenai pasal 32 Kompilasi Hukum Islam terkait mahar menjadi hak pribadi calon mempelai wanita.
b. Manfaat Praktis
1) Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi peneliti selanjutnya yang fokus pada pasal 32 Kompilasi Hukum Islam, khususnya bagian yang belum tersentuh oleh penelitian ini.
2) Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi masyarakat dan para pembaca agar dapat dijadikan sebagai rujukan guna mengetahui lebih jelas mengenai pemberian mahar sehingga tidak terjadi konflik antar keluarga di kemudian hari.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, agar tidak terjadi bias maka dirumuskan sebagai berikut:
1. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian mencerminkan implementasi pasal 32 Kompilasi Hukum Islam yang dilaksanakan masyarakat Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa. memaparkan pemahaman masyarakat Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa terhadap mahar diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan sejak itu menjadi hak pribadinya.
2. Setting Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa, untuk mengetahui penerapan mahar yang menjadi hak pribadi calon mempelai wanita dan implementasi pasal 32 Kompilasi Hukum Islam tentang mahar yang menjadi hak pribadi calon mempelai wanita di Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa.
E. Telaah Pustaka
Telaah pustaka disajikan guna menyampaikan penelitian-penelitain terdahulu yang ada hubungannya dengan penelitian ini untuk meminimalisir terjadinya plagiat, berikut beberapa penelitian yang dimaksud:
1. “Pengaruh Pengembangan Tambang Emas Tradisional Terhadap Tingginya Mahar (Study Kasus Di Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat)” skripsi ini ditulid oleh Firmansyah, NIM: 152072002, IAIN Mataram.12
Pada penelitian ini Firmansyah memfokuskan pada pengaruh pengembangan tambang emas tradisional terhadap tingginya mahar, untuk memperlancar penelitian peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersumber pada informan sebagai sumber data primer dan buku-buku serta dokumen yang terkait dengan penelitian sebagai sumber data sekunder. Dari hasil penelitian menyatakan bahwa semenjak adanya tambang emas di kecamatan sekotong masyarakat sengaja meninggikan mahar.
Terdapat persamaan penelitian yang peneliti angkat dengan penelitian Firmansyah sama-sam membahas tentang mahar dan subjek peneliannya adalah masyarakat. Perbedaan dari penelitian peneliti dan Firmansyah adalah fokus penelitian yaitu, firmansyah berfokus pada pengaruh tambang emas terhadap tingginya mahar sementara penelitian
12 Firmansyah, “Pengaruh Pengembangan Tambang Emas Tradisional Terhadap Tingginya Mahar (Study Kasus Di Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat”, (Skripsi, FS IAIN Mataram, Mataram, 2012).
yang peneliti angkat berfokus pada mahar diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan menjadi hak pribadinya.
2. “Konsep Mahar Dalam Al-Qur’an Dan Relevansinya Dengan Kompilasi Hukum Islam” skripsi ini ditulis oleh Muhammad Luqman Hakim, NIM:
12210020, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang13
Pada penelitian ini Muhammad Luqman Hakim memfokuskan pada konsep mahar dalam al-qur’an dan relevansinya dengan kompilasi hukum Islam. Untuk memperlancar penelitian, peneliti menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) yang bersumber dari buku, makalah, artikel, jurnal, dll. Dari hasil penelitian menyatakan bahwa banyak perbedaan pendapat dalam mengartikan mahar, ada satu pendapat mufasir yang dirasa sama dengan pernyataan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yaitu Rasyid Ridha.
Terdapat persamaan penelitian yang peneliti angkat dengan Muhammad Luqman Hakim adalah, sama-sama membahas mengenai mahar dan dikaitkan dengan Kompilasi Hukum Islam sebagai salah satu sumber hukum yang digunakan dalam pembahasan. Perbedaanya adalah terdapat pada jenis penelitian, yaitu Muhammad Luqman Hakim menggunakan penelitian pustaka sementara peneliti menggunakan penelitian kualitatif. Muhammad Luqman Hakim memfokuskan pada konsep mahar dalam Al-Qur’an dan relevansinya dengan kompilasi hukum Islam, sementara peneliti hanya fokus pada satu pasal dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yaitu pasal 32 yang membahas tentang “mahar
13 Muhammad Luqman, “Konsep Mahar dalam Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Kompilasi Hukum Islam”, (skripsi, FS UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang, 2018).
diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan sejak itu menjadi hak pribadinya”14
3. “Analisis Hukum Islam Terhadap Pemberian Jumlah Mahar Yang Disesuaikan Dengan Waktu Pelaksanaan Pernikahan (Studi Kasus KUA Karang Pilang Surabaya)”, skripsi ini ditulis oleh Nurul Lailatus Saidah, NIM. C01214019, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.15
Dari hasil penelitian ini, pemberian mahar yang disesuaikan dengan waktu pernikahan di KUA Karangpilang dilakukan karena ingin mengikuti trend dan kesan unik terhadap mahar itu sendiri. Dalam perspektik hukum Islam perbuatan melakukan pemberian mahar yang disesuaikan dengan waktu pernikahan memiliki dua implikasi hukum yaitu, mubah dan makruh.
Persamaan penelitian yang peneliti angkat dengan Nurul Lailatus Saidah, adalah menggunakan jenis penelitian kualitatif untuk mempermudah penelitian dan membahas mengenai mahar, menggunakan Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai salah satu sumber hukum dalam pembahasan. Perbedaanya adalah fokus penelitian, yaitu penelitian Nurul Lailatus Saidah berfokus pada analisis hukum Islam terhadap pemberian jumlah mahar yang disesuaikan dengan waktu pelaksanaan pernikahan.
Peneliti berfokus pada implementasi pelaksanaan pasal 32 Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang mahar menjadi hak pribadi mempelai wanita.
14 Kompilasi Hukum Islam …, hlm. 10.
15 Nurul Lailatus Saidah, “Analisis Hukum Islam Terhadap Pemberian Jumlah Mahar Yang Disesuaikan Dengan Waktu Pelaksanaan Pernikahan (Studi Kasus KUA Karang P ilang Surabaya)”, (Skripsi, Fsh Uin Sunana Ampel, Surabaya, 2018).
Selain itu, lokasi penelitian juga berbeda, peneliti mengambil tempat penelitian di Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa.
Sementara Nurul Lailatus Saidah meneliti di KUA Karang Pilang Surabaya.
4. “Pandangan Pasangan Suami Istri Terhadap Uang Mahar Sebagai Hiasan (Studi Kasus Desa Paron Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk)” skripsi ini ditulis oleh Fahmi Rahmatika, Nim: 13210019, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang16.
Dalam hasil penelitian ini, tujuan dibuatkan uang mahar sebagai hiasan adalah kerena maraknya masyarakat yang menghias mahar dengan sedemikian rupa maka secara tidak langsung bagi pasangan yang akan menikah pun melakukan hal yang sama. Selain itu juga, atas keinginan seorang calon istri, yang menginginkan mahar dari uang yang telah dipajang dengan cantik agar pernikahannya berkesan dan sebagai kenang- kenangan akan bukti pernikahan yang sah dan sebagai pengingat suami istri, kewajiban suami menafkahi istri dan hak istri untuk mendapat nafkah dari suami.
Persamaan penelitian Fahmi Rahmatika dengan penelitian yang peneliti angkat adalah sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif, membahas mengenai mahar yang tentunya akan diberikan kepada istri oleh suami sebagai lambang cinta, kehormatan dan menghargai istri.
16Fahmi Rahmatika, “Pandangan Pasangan Suami Istri Terhadap Uang Mahar Sebagai Hiasan (Studi kasus Desa Paron Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk)”, (skripsi, FS UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang, 2017).
Perbedaan dari penelitian yang peneliti angkat dan penelitian dari Fahmi Rahmatika adalah, fokus pada penelitian Fahmi Rahmatika yaitu pandangan pasangan suami istri terhadap uang mahar sebagai hiasan (studi kasus Desa Paron Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk), sementara fokus penelitian yang peneliti angkat adalah, implementasi pasal 32 Kompilasi Hukum Islam “mahar diberikan langsung kepada mempelai wanita dan sejak saat itu menjadi hak pribadinya”, selain itu lokasi penelitian yang berbeda akan membawa hasil penelitian ynag berbeda juga.
5. “Meninggikan Mahar Sebagai Cara Menaikkan Stratifikasi Sosial Menurut Pandangan Tokoh Al-Washliyah Dan Muhammadiyah (Studi Kasus di Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan)” skripsi ini ditulis oleh Aulia Ulfa Mingka, NIM. 22.14.4.027, Universitas Islam Negeri Sumatra Utara, Medan. 17
Berdasarkan hasil penelitian ini peninggian mahar ini karena adanya masyarakat yang berbincang-bincang dengan sesama temannya mengenai permasalahan nilai mahar dalam pernikahan, tidak ingin menjatuhkan marwah keluarga. Artinya setiap keluarga menginginkan mahar yang terbaik sesuai keadaan keluarga. Hal ini juga menyebabkan masyarakat sebagian lainnya menjadi terpengaruh dengan adanya kebiasaan ini.
17 Aulia Ulfa Mingka, “Meninggikan Mahar Sebagai Cara Menaikkan Stratifikasi Sosial
Menurut Pandangan Tokoh al-Washliyah dan Muhammadiyah (Studi Kasus di Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan”, (skripsi, FSH UIN Sumatra Utara , Medan , 2018)
Persamaan penelitian yang ditulis oleh Aulia Ulfa Mingka dan peneliian yang peneliti angkat adalah fokus penelitian, mahar yang penting adanya di dalam pernikahan dibahas secara umum dalam pembahasan dan objek penelitian yang berfokus pada masyarakat, dan Perbedaannya adalah penelitian Aulia Ulfa Mingka secara khusus membahas pembahasan dari pandangan tokoh al-washliyah dan muhammadiyah. Sementara pementian yang peneliti angkat secara khusus tentang mahar yang menjadi hak pribadi calon mempelai wanita yang terdapat di dalam pasal 32 Kompilasi Hukum Islam.
F. Kerangka Teori
1. Kompilasi Hukum Islam
Sebelum membahas mengenai Kompilasi Hukum Islam, terlebih dahulu kterlebih dahulu peneliti membahas arti dari Kompilasi. Istilah
“Kompilasi” diambil dari perkataan “Compilare” yang mempunyai arti mengumpukan, bersama-sama dalam artian mengumpulkan peraturan- peraturan yang berserakan dan tersebar dimana-mana. Istilah ini kemudian dikembangkan menjadi “Compilation” dalam bahasa Inggris dan
“Compilatie” dalam bahasa Belanda, istilah ini kemudian digunakan dalam bahasa Indonesia menjadi “Kompilasi”. Kompilasi berarti kegiatan pengumpulan berbagai kegiatan bahan tertulis yang diambil dari buku/tulisan mengenai suatu persoalan tertentu. Jadi, yang dimaksud dengan Kompilasi Hukum Islam adalah Kumpulan aturan yang spesifik
membahas mengenai keislaman yang dalam hal ini seperti perkawinan, Waris, Zakat dan Wakaf. 18
Kompilasi Hukum Islam disahkan pada tanggal 10 Juni 1991 sebagai Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991.
Selain Instruksi Presiden, juga dalam bentuk Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 154 Tahun 1991 tentang Pelaksanaan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tanggal 22 Juli 1991.19 2. Pasal 32 Kompilasi Hukum Islam
Mahar hanya diatur secara lengkap pada Kompilasi Hukum Islam.
Kompilasi Hukum Islam (KHI) merupakan rangkuman pendapat hukum yang diambil dari berbagai kitab yang ditulis oleh ulama fikih yang biasa digunakan sebagai referensi pada pengadilan agama untuk diolah dan dikembangkan serta dihimpun ke dalam suatu himpunan, himpunan tersebut inilah dinamakan Kompilasi Hukum Islam. Selanjutnya, untuk penyerahan mahar, diatur pada Pasal 32 yaitu: “Mahar diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan sejak itu menjadi hak pribadinya.”
Pada ketentuan pasal tersebut dipahami bahwa:
a. Mahar yang telah diserahkan secara tunai dan telah diterima oleh mempelai wanita, sejak saat penerimaan mahar itu menjadi hak pribadi wanita tersebut.20
b. Hal tersebut menunjukkan bahwa mahar diberikan kepada calon istrinya bukan kepada wali atau keluarganya, maka dengan
18 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Akademia pressindo, 2010), hlm. 9-11.
19 Harijah Damis, “Konsep Mahar dalam Perspektif Fikih dan Perundang-Undangan”, Jurnal Yudisial, Vol. 9 No. 1, April 2016, hlm. 26.
20 Ibid., hlm. 27.
demikian setelah pemberian mahar kepada calon istri maka mahar tersebut menjadi hak milik istri, kecuali istri ridho memberikan maharnya kepada orang lain.21
3. Pengertian Mahar
Mahar dalam bahasa arab disebut dengan delapan nama, yaitu:
mahar, shadaq, nihla, faridhah, hiba’, ujr, ‘uqar, dan alaiq.22 Mahar adalah pemberian seorang calon suami sebelum, sesudah atau pada saat dilangsungkannya akad nikah. Sebagai lambang kecintaan antara calon suami kepada calon istri.23 Dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam), mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang, atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. 24
Mahar hanya diberikan oleh calon suami kepada calon istri bukan termasuk orang lain yang dekat dengannya. Selain istri tidak boleh ada yang menjamah atau menggunakanya meskipun oleh suaminya sendiri, kecuali dengan ridho dan kerelaanya sendiri. 25
4. Hukum Membayar Mahar
Menurut Ibnu Rusyd, bahwa membayar mahar menurut kesepakatan ulama, hukumnya adalah wajib dan merupakan salah satu syarat nikah.26 Ulama sepakat mengatakan bahwa dengan berlangsungnya akad nikah yang sah berlakulah kewajiban untuk membayar separuh dari
21 Khusniati Rofiah, “Konsep Mahar menurut imam syafi’I dan relevansinya dengan Kompilasi hukum islam”, (skripsi, FS IAIN Porogo, Ponorogo, 2018), hlm. 50.
22Amir syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (jakarta: Kencana, 2014), cet. ke-5, hlm. 84.
23 Mardani, Hukum…, hlm. 47.
24 Kompilasi Hukum Islam …, hlm. 10.
25 Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh munakahat, (Jakarta: Kencana, 2006), cet. ke-2, hlm. 84.
26 Mardani, Hukum…, hlm. 48.
jumlah yang telah ditentukan waktu akad. Alasannya ialah walaupun perkawinan tersebut putus sebelum dukhull, namun suami telah wajib membayar separuh mahar yang disebutkan waktu akad.
Ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabalah sepakat tentang dua syarat, yaitu: hubungan kelamin dan matinya salah seorang diantara setelah berlangsungnya akad (Ibnu al-Humam, 322).27
Ulama Hanafiyah menambahkan satu syarat, yaitu berlangsungnya talaq bain, walaupun belum berlangsung hubungan kelamin. Ulama malikiyah menambahkan satu syarat lagi yaitu istri telah serumah dengan suaminya selama satu tahun, sedangkan menurut ulama Hanabalah semenjak bersentuhan dengan bernafsu antara suami istri telah wajib membayar mahar kesseluruhanya. (al- Jaziriy, Ibid) 28
5. Syarat-Syarat Mahar
Mahar tidak sah diberikan apabila tidak memenuhi syarat-syarat berikut ini.
a. Harta yang berharga, mahar dianggap tidak sah apabila tidak berharga walaupun tidak ditentukan banyak atau sedikitnya, akan tetapi apabila maharnya sedikit, tetapi bernilai tetap dianggap sah.29
b. Barang yang suci dan bisa diambil manfaatnya, mahar dianggap tidak sah apabila yang diberikan berupa khamar, babi, atau darah karena semuanya haram dan tidak berharga.
27 Amir syarifuddin, Hukum…,hlm. 88.
28 Ibid.
29 Tihami, Fiqh Munakahat: Kajian Fiqh Nikah Lengkap, (Jakarta: charisma putra utama
offset, 2014) cet.ke-4, hlm. 40.
c. Bukan barang ghasab, ghasab artinya mengambil milik orang lain tanpa seizinnya namun tidak bermasuk untuk memilikinya karena ada niat mengembalikkannya. Barang yang diberikan dari hasil ghasab tidak sah, tetapi akadnya sah.
d. Barang tersebut tidak jelas keadaannya, memberikan barang yang tidak jelas keadaannya ataupun jenisnya atau tidak disebutkan dianggap tidak sah. 30
6. Jenis-Jenis Mahar
Mengenai kewajiban membayar mahar para fuqaha telah sepakat bahwa mahar diberikan oleh calon suami kepada calon istri. Mahar tersebut terdiri dari beberapa macam yaitu:
a. Mahar Musamma
Mahar musamma adalah mahar yang telah ditetapkan bentuk dan jumlahnya dalam sighat akad. Adapun jenis mahar musamma terbagi menjadi dua macam yaitu:
1) Mahar musamma mu’ajjal, yakni mahar yang diberikan langsung oleh calon suami kepada calon istri.
2) Mahar musamma ghair mu’ajjal , yakni mahar yang cara pemberian tidak langsung diberikan ketika setelah akad atau ditangguhkan pemberiannya.31
Mahar musammah sebaiknya diserahkan langsung secara tunai pada waktu akad nikah supaya selesai pelaksanaan kewajiban.
30 Ibid.
31 Ali Fauzi, “Standar Pemberian Mahar Minimal Pada Perkawinan Dalam Tinjauan Hukum Islam ( Studi Masyarakat Adat Ogan Kecamatan Bumiratu Nuban Lampung Tengah)”, (Tesis, FS UIN Raden Intan Lampung, Bandar Lampung, 2020), hlm. 25.
Meskipun demikian, dalam keadaan tertentu dapat saja tidak diserahkan secara tunai, bahkan dapat pembayarannya secara cicilan.
Sebagian ulama diantaranya Malikiyah menghendaki pemberian pendahuluan mahar bila setelah akad berlangsung si suami menghendaki bergaul dengan istrinya. (Ibnu Rusyd: 16)32
b. Mahar Mitsil
Mahar mitsil yang bentuk dan jumlahnya ditetapkan menurut yang jumlah yang biasa diterima oleh keluarga pihak istri. Karena pada waktu akad nikah, jumlah dan bentuk mahar belum ditetapkan. Para fuqaha berbeda pendapat mengenai pembayaran mahar yang ditunda, sebagiannya melarang sementara sebagian ulama membolehkan.33
Ulama hanafiyah secara spesifik memberi batasan mahar mitsil itu dengan mahar yang pernah diterima oleh saudaranya, bibinya, dan anak saudara perempuan pamannyayang sama dan sepadan umurnya, kecantikannya, kecerdasannya, tingkat keberagamaannya, negeri tempat tinggalnya, dengan istri yang menerima mahar tersebut. (Ibnu al-Humuam:368; al-Thusiy, 299)34
Imam malik menegaskan menunda pembayaran mahar diperbolehkan, tetapi apabila hendak menggauli istrinya hendaklah suami membayar separuhnya. Penundaan membayar mahar harus ditentukan waktunya dan tidak boleh terlaupau terlalu lama.35
32 Amir syarifuddin, Hukum…,hlm. 84.
33 Beni Ahmad Saibani, Perkawinan Dalam Hukum Islam Dan Undang-Undang, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 111.
34 Amir syarifuddin, Hukum…,hlm. 84.
35 Beni Ahmad Saibani, Perkawinan,…hlm. 111.
7. Jumlah Mahar
Dalam Islam jumlah mahar tidak ditetapkan karena bergantung pada kebiasan dan kondisi. Pihak perempuan berhak memilih dan menentukan jumlah mahar yang akan diminta, dalam bentuk kecil atau besar akan tetapi jumlah yang paling berkah adalah permintaan yang murah dan sederhana. Jumlah mahar seharusnya berpegang pada kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh Islam. 36
Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq, Abu Tsaur dan fuqaha Madinah dari kalangan tabi’in berpendapat bahwa mahar tidak mengenal batas tinggi rendah dan besar kecil. Segala sesuatu yang berharga dapat dijadikan mahar. Ibnu Wahab juga berpendapat demikian dari kalangan pengikut imam malik. 37
Imam Malik berpendapat minimal sesuatu yang layak dijadikan mahar seperempat dinar emas dan atau tiga dirham perak. Karena pada saat Abdurrahman bin Auf menikah memberikan mahar emas seberat biji kurma atau seperempat dinar emas, ukuran itulah menjadi nishab pencurian menurut mereka karena seukuran itu dipotong tangan seorang pencuri dan dibawah itu tidak dipotong, maka itulah minimal mahar. 38
Imam Hanafi menganggap bahwa mahar adalah pemberian suami kepada istri dan merupakan kerelaan, mazhab Hanafi menganggap bahwa
36 Ibid., hlm. 104.
37 Ibid., hlm. 105.
38 Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Munakahat,
Khitbah, Nikah Dan Talak, (Jakarta: Amzah, 2011), cet. ke-2, hlm. 182.
mahar paling sedikit adalah 10 dinar atau 1 dirham = 5 gram emas selain itu bentuknya harus sesuatu yang bermanfaat.39
8. Kedudukan Mahar dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam)
Di dalam kompilasi hukum Islam pada BAB V membahas tentang mahar pasal 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36,37, 38. mahar tidak termasuk dalam rukun dan syarat sah perkawinan, tetapi tidak ada nikah yang sah jika tidak ada mahar. Salah satu syarat sahnya pernikahan yaitu dengan adanya ijab qabul kemudian didalam ijab qabul harus disebutkan mahar yang diberikan oleh calon suami. Oleh karena itu kedudukan mahar sama dengan syarat-syarat dalam perkawinan, nikah tanpa mahar tidak dibenarkan dalam hukum Islam. 40
9. Hikmah Mahar
Syariat’ mewajiban seorang calon suami memberikan mahar kepada calon isterinya pasti mempunyai tujuan dan hikmah. Adapun himahnya, antara lain :
a. Mahar menunjukkan kemuliaan untuk kaum perempuan. Pemberian mahar ini sebagai sebuah pemberian, hibah dan hadiah, dan bukan sebagai pembayaran harga perempuan tersebut.
b. Sebagai ungkapan rasa cinta dan kasih sayang seorang suami kepada isterinya.
c. Melambangkan kesungguhan laki-laki.
39 Hafidz Al-Ghafiri, “Konsep Besarnya Mahar Menurut Imam As-Syafi’i “, (Skripsi, FS
IAIN Ponorogo, Ponorogo, 2017).
40 Beni Ahmad Saibani, Perkawinan Dalam Hukum Islam Dan Undang-Undang, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 136.
d. Suami akan lebih bertanggung jawab serta tidak semena-mena menghancurkan rumah tangga hanya karena masalah sepele.41
e. Menumbuhkan tali kasih untuk memperkuat hubungan.
f. Menjadikan istri senang dan ridho menerima kekuasaan suaminya, g. Menghargai kedudukan wanita. 42
G. Metode Penelitian
Sebagai karya ilmiah maka tidak bisa lepas dari penggunaan metode, peneliti sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Penelitian kualitatif merupakan risert yang bersifat deskriptif, proses dan makna ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, mengetahui makna yang tersembunyi.43
Alasan peneliti menggunakan penelitian kualitatif karena peneliti mengumpulkan yang berkaitan dengan permasalahan baik data primer dan sekunder dan meneliti langsung ke lapangan (field research), dalam hal ini Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa.
2. Pendekatan Penelitian
Jenis pendekatan penelitian yang peneliti gunakan yaitu yuridis sosiologis. Pendekatan yuridis adalah pendekatan yang melihat kenyataan hukum di masyarakat, untuk melihat aspek-aspek hukum dalam interaksi
41 Ali Fauzi, “Standar Pemberian Mahar Minimal Pada Perkawinan Dalam Tinjauan Hukum Islam ( Studi Masyarakat Adat Ogan Kecamatan Bumiratu Nuban Lampung Tengah)”, (Tesis, FS UIN Raden Intan Lampung, Bandar Lampung, 2020)., hlm. 41.
42 Mardani, Hukum …, hlm.47.
43Juliansyah Noor, Metodologi penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Karya Ilmiah, (Jakarta: Kencana, 2012), cet. ke-7, hlm. 34.
sosial, dan mengklasifikasikannya ke dalam temuan bahan non hukum bagi keperluan penelitian. 44
Alasan peneliti menggunakan pendekatan yuridis sosiologis karena penelitian ini berhubungan langsung dengan masyarakat sebagai subyek penelitian. Jadi, penelitian ini untuk melihat bagaimana implementasi pasal 32 Kompilasi Hukum Islam tentang mahar menjadi hak pribadi calon mempelai wanita.
3. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti dalam hal ini sangatlah penting dan utama, dalam penelitian kualitatif kehadiran peneliti sendiri atau bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama45
Dalam penelitian ini, peneliti langsung yang terjun ke lapangan bermaksud mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian yang berkaitan dengan implementasi pasal 32 Kompilasi Hukum Islam tentang mahar menjadi hak pribadi calon mempelai wanita di Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa.
4. Sumber Data
Sumber data adalah salah satu yang paling vital dalam penelitian, dalam hal ini sumber data terbagi menjadi dua yaitu:
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya.46 Data ini bisa berupa kata-kata atau tindakan dari orang
44 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika,2015),cet. ke-6, hlm.
105.
45 Ibid,. hlm .36
yang diwawancarai dalam hal ini yang menjadi sumber data adalah:
Pemerintah Desa, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan calon mempelai, dan mertua di Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa.
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dikumen resmi, buku-buku yang berhubungan dengan objek penelitian, hasil penelitian dalam bentuk laporan, skripsi, tesis, dan peraturan perundang-undangan. 47
Sumber data sekunder penulis peroleh dari Kompilasi Hukum Islam, termasuk propil desa dan jurnal-jurnal, buku yang berkaitan dengan mahar yang diberikan menjadi hak pribadi calon mempelai wanita yang terdapat didalam pasal 32 Kompilasi Hukum Islam ataupun data-data penting lainnya.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan kompenen penting dan paling utama dalam penelitian. Dalam melakukan penelitian ini peneliti menggunakan metode pengumpulan data berikut:
a. Observasi
Observasi adalah pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun secara tidak langsung untuk memperoleh
46 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika,2015),cet. ke-6, hlm.
106.
47 Ibid
data yang harus dikumpulkan dalam penelitian.48 Observasi terdiri dari observasi partisipan dan observasi non partisipan dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi non partisipan.
Observasi non partisipan dilakukan dengan terjun langsung ke lokasi untuk memastikan kejadian sebenarnya yang terjadi di lapangan dengan melihat secara langsung kehidupan masyarakat Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Sumbawa. Alasan peneliti menggunakan observasi non partisipan adalah sebagai pengamat dan tidak terlibat langsung dalam urusan mereka. Baik sebagai pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para pihak. Tujuannya untuk mengetahui implementasi pasal 32 Kompilasi hukum Islam, pemahaman masyarakat serta praktek yang terjadi.
b. Wawancara
Wawancara adalah proses bertukar pikiran informasi secara lisan (langsung), dalam menggali keterangan.49 Wawancara terdiri dari wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur karena peneliti akan melakukan wawancara secara bebas untuk mengumpulkan data, peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang tersusun secara sistematis karena akan bersifat terbatas.
48 Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metodelogi penelitian kualitatif, (Bandung:
Alfabet, 2014) , Cet. ke-6,hlm. 105.
49Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, ( Jakarta: PT Bumi Aksara,2012) cet. ke-6, hlm.83.
Peneliti melakukan wawancara menggunakan bahasa daerah yang membuat informan mudah memahami maksud dari peneliti.
Dalam kegiatan wawancara peneliti mewawancarai istri, suami, mertua, pemerintah desa, toko masyarakat, tokoh agama, sejarawan, dan tokoh adat. Peneliti akan mencatat dengan cermat dan merekam isi kegiatan tanya jawab dari awal sampai ahir sehingga peneliti dapat memastikan tidak ada informasi yang tertinggal dari setiap informan.
c. Dokumentasi
Dengan teknik dokumentasi ini, peneliti dapat memperoleh informasi bukan hanya dari narasumber, akan tetapi dari macam- macam sumber tertulis.50
Dengan teknik dokumentasi dapat menambah kepercayaan dan memastikan penelitian tersebut benar-benar berlangsung. Dokumen yang digunakan dalam penelitian adalah dokumen resmi seperti profil desa dan foto-foto selama melakukan penelitian. Sebelumnya peneliti telah meminta izin dari para informan untuk mengambil gambar sebagai bukti penelitian.
6. Analisis Data
Analisis data adalah suatu pengelolahan dan untuk menata secara sistematis hasil dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman peneliti terhadap kasus yang diteliti.51 Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode yang dikemukakan
50Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metodologi penelitian,(Bandung: Alfabeta,2014), cet. ket-7, hlm. 148.
51 Ibid., hlm. 150.
oleh Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
a. Reduksi data, ialah data-data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi kemudian dirangkum dengan menitikberatkan pada hal-hal yang dianggap penting oleh peneliti, sehingga data yang direduksi memberikan gambaran lebih rincih.
b. Penyajian data, dilakukan oleh peneliti dengan menyajikan data-data yang didapat oleh peneliti selama melakukan penelitian dalam bentuk teks naratif dan table.
c. Penarikan kesimpulan, peneliti melakukan penarikan kesimpulan terhadap data-data yang telah dikumpulkan. Sehingga peneliti akan mengetahui dengan jelas mengenai penelitian yang telah dilakukan.
7. Validitas Data
Mengecek keabsahan data menjadi bukti bahwa apa yang peneliti amati sesuai dengan yang sebenarnya terjadi dilapangan.52 Untuk mendapatkan data yang valid dan benar penulis melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data.53 Dalam penelitian ini peneliti hanya akan menggunakan triangulasi sumber. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan
52Burhan Bungin, Metode Penelitian kualitatif, (Jakarta: Rajawali, 2010), hlm.57
53 Ibid., hlm 330
data yang telah diperoleh dari hasil wawancara informan yang satu dengan informan yang lain.
Dalam melakukan penelitian, peneliti melakukan seluruh metode pengumpulan data yang telah disebutkan dari mulai wawancara dengan berbagai sumber, kemudian melakukan observasi dilapangan untuk memperkuat kevalidan dan kebenaran data yang diperoleh dari narasumber serta peneliti mencantumkan beberapa dokumen agar data yang diperoleh semakin kuat. Kemudian peneliti membuat rangkuman serta kesimpulan sementara.
b. Kecukupan Refrensi
Dalam melakukan pengecekan keabsahan data tidak pernah terlepas dari refrensi-refrensi, seperti buku, dokumen-dokumen, dll.
Refrensi yang dikumpulkan tentunya berkaitan dengan topik penelitian dan digunakan sebagai bahan penyusunan penelitian. Referensi dianggap sudah cukup dan memadai ketika peneliti tidak menemukan referensi lain.
H. Sistematika Pembahasan
Agar mempermudah peneliti dalam penulisan skripsi, maka disusunlah sistematika pembahasan berikut ini:
1. Bagian awal, meliputi: halaman sampul, halaman judul, halaman persetujuan pembimbing, halaman nota dinas pembimbing, halaman pengesahan, motto peneliti, halaman persembahan, kata pengantar, daftar isi, abstrak.
2. Bagian isi, merupakan bagian penting dari atau inti dari penelitian ini, meliputi:
Bab I
Dalam bab ini menguraikan secara singkat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian, sistematika pembahasan.
Bab II
Dalam bab ini peneliti memaparkan data dan temuan peneliti baik data-data tentang Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa, maupun data tentang pelaksanaan pasal 32 Kompilasi Hukum Isalm.
Bab III
Dalam bab ini memuat Impelementasi penerapan pasal 32 Kompilasi Hukum Islam tentang mahar menjadi hak pribadi calon mempelai wanita di Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa.
Bab IV
Dalam bab ini peneliti membuat kesimpulan dari dari hasil penelitian merupakan penutup dari bagian isi dan saran-saran.
3. Bagian akhir
Bagian ahir terdiri dari daftar pustaka dan daftar lampiran- lampiran.
28 BAB II
PRAKTEK PEMBERIAN MAHAR TERHADAP CALON MEMPELAI WANITA DI DESA LANTUNG, KECAMATAN LANTUNG,
KABUPATEN SUMBAWA
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Kondisi Geografis
Letak geografis Desa Lantung berada sebelah utara Kabupaten Sumbawa, warga masyarakat Desa Lantung pada umumnya sehari-hari bekerja sebagai petani dengan menggarap sawah dan kebun dengan luas tanah keseluruhan 450 Ha dengan penghasilan ± dari 6 ton/Ha. Sebagian Masyarakat juga bekerja sebagai pencari madu sehingga mampu menghasilkan ± 700 liter pertahun, selain itu masyarakat juga telah menambang emas dari tahun 2013 sampai saat ini namun tidak aktif, tidak diketahui pasti pendapatan masyarakat dari hasil menambang emas tersebut karena hasil yang tidak pasti dan harga emas yang naik turun. 54
Jarak tempuh dari kabupaten Sumbawa ke Desa Lantung membutuhkan waktu ± 8-10 jam apabila berjalan kaki atau tidak menggunakan kendaraan, ± 1 jam apabila menggunakan sepeda motor, dan
± 2 jam apabila menggunakan kendaraan umum berupa bis. 55
54Propil Desa Lantung, Desa Lantung, November 2019, hlm. 7
55 Ibid., hlm. 80
2. Keadaan Demografi Desa Lantung a. Jumlah Penduduk Desa Lantung 56
Tabel 2.1
Jumlah Penduduk Desa Lantung
Usia Lk. Pr. Usia Lk. Pr.
0-12
bln 6 Orang 9 Orang 39 thn 8 Orang 8 Orang 1 thn 2 Orang 3 Orang 40
4 Orang 9 Orang 2 3 Orang 4 Orang 41 4 Orang 10 Orang 3 4 Orang 11 Orang 42 9 Orang 6 Orang 4 12 Orang 7 Orang 43 9 Orang 5 Orang 5 3 Orang 8 Orang 44 6 Orang 2 Orang 6 7 Orang 3 Orang 45 8 Orang 4 Orang 7 4 Orang 4 Orang 46 4 Orang 3 Orang 8 3 Orang 3 Orang 47 3 Orang 7 Orang 9 9 Orang 5 Orang 48 5 Orang 2 Orang 10 8 Orang 6 Orang 49 5 Orang 7 Orang 11 3 Orang 8 Orang 50 3 Orang 6 Orang 12 5 Orang 3 Orang 51 3 Orang 4 Orang 13 3 Orang 8 Orang 52 8 Orang 7 Orang 14 6 Orang 6 Orang 53 2 Orang 4 Orang 15 6 Orang 7 Orang 54 10 Orang 11 Orang 16 6 Orang 15Orang 55 5 Orang 4 Orang 17 7 Orang 12 Orang 56 1 Orang 1 Orang 18 7 Orang 5 Orang 57 4 Orang 2 Orang 19 6Orang 4 Orang 58 1 Orang 1 Orang 20 10 Orang 1 Orang 59 8 Orang 12 Orang 21 12 Orang 11 Orang 60 2 Orang 2 Orang 22 5 Orang 3 Orang 61 4 Orang 4 Orang 23 4 Orang 5 Orang 62 0 Orang 0 Orang 24 2 Orang 7 Orang 63 1 Orang 0 Orang 25 9 Orang 7 Orang 64 3 Orang 6 Orang 26 7 Orang 6 Orang 65 1 Orang 4 Orang 27 4 Orang 9 Orang 66 0 Orang 5 Orang 28 3 Orang 9 Orang 67 4 Orang 5 Orang 29 8 Orang 6 Orang 68 1 Orang 11 Orang
56 Ibid., hlm. 24
30 7 Orang 1 Orang 69 6 Orang 6 Orang 31 6 Orang 4 Orang 70 0 Orang 2 Orang 32 6 Orang 2 Orang 71 0 Orang 3 Orang 33 7 Orang 2 Orang 72 2 Orang 1 Orang 34 5 Orang 7 Orang 73 0 Orang 0 Orang 35 3 Orang 8 Orang 74 0 Orang 0 Orang 36 6 Orang 8 Orang 75 0 Orang 0 Orang 37 7 Orang 5 Orang Lebih
dari 75 0 Orang 0 Orang
38 1 Orang 3 Orang Total 392 426
Orang
b. Luas Wilayah Menurut Penggunaan
Luas Pemukiman : 6 ha/m2
Luas Persawahan : 450 ha/ma
Luas Perkebunan : 5 ha/m2
Luas kuburan : 1 ha/m2
Luas Pekarangan : 0 ha/m2
Luas Taman : 0 ha/m2
Perkantoran : 3 ha/m2
Luas Prasarana Umum Lainnya : 0,5 ha/m2
Total Luas : 465,5 ha/m257
c. Pemilikan Lahan Pertanian Tanaman Pangan
Jumlah keluarga memiliki tanah pertanian : 248 Keluarga
Tidak memiliki : 0 Keluarga
Memiliki kurang 1 ha : 154 Keluarga Memiliki 1,0 – 5,0 ha : 94 Keluarga
57 Ibid., hlm. 2
Memilik 5,0 – 10 ha : 0 Keluarga Memilik lebih dari 10 ha : 0 Keluarga Jumlah total keluarga petani : 248 Keluarga58 d. Batas Desa
Sebelah Utara : Desa Pungkit, Kecamatan Lopok Sebelah Selatan : Desa Sepukur, Kecamatan Lantung Sebelah Timur : Desa Labangka, Kecamatan Labangka Sebelah Barat : Desa Aimual, Kecamatan Lantung. 59 e. Keadaan Sosial
Tingkat keamanan masyarakat relatif aman, walau pernah terjadi kasus pencurian akan tetapi masih dapat teratasi oleh masyarakat dengan cara kekeluargaan. Seiring dengan perubahan zaman, dari tahun ketahun desa mengalami perubahan baik secara sosial, budaya dan keagamaan, dengan terjadinya perubahan yang signifikan ini maka terjadi peningkatan pada bagian-bagian tertentu yaitu:
1) Jumlah Sarana Peribadatan.
a) Masjid = 1 unit b) Musholah = 1 unit c) Kelompok Pengajian = 2 kelompok 2) Jumlah Kesenian dan Budaya
a) Qosidah = 2 grup 3) Jumlah Sarana Kesehatan.
58 Ibid., hlm. 6
59 Ibid., hlm. 2
a) Puskesmas = 1 unit
b) Posyandu = 2 unit
c) Bidan = 10 orang 60
f. Pendidikan
1) Sarana Pendidikan
a) PAUD = 1 unit
b) TK = 1 unit
c) SD = 1 unit
d) SMP = 1 unit
2) Tingkat Pendidikan Penduduk61
Tabel 2.2
Tingkat Pendidikan Penduduk
Jumlah penduduk buta aksara dan huruf latin 0 orang Jumlah penduduk usia 3-6 tahun yang masuk TK
dan Kelompok Bermain Anak 50 orang
Jumlah anak dan penduduk cacat fisik dan mental 1 orang Jumlah penduduk sedang SD / sederajat 98 orang Jumlah penduduk tamat SD / sederajat 20 Orang Jumlah penduduk tidak tamat SD / sederajat 0 orang Jumlah penduduk sedang SLTP / sederajat 57 orang Jumlah penduduk tamat SLTP / sederajat 0 Orang Jumlah penduduk sedang SLTA / sederajat 19 orang Jumlah penduduk tidak tamat SLTP / sederajat 0 orang Jumlah penduduk tamat SLTA / sederajat 0 Orang
Jumlah penduduk sedang D-1 0 orang
Jumlah penduduk tamat D-1 0 orang
Jumlah penduduk sedang D-2 0 orang
Jumlah penduduk tamat D-2 0 orang
Jumlah penduduk sedang D-3 0 Orang
Jumlah penduduk tamat D-3 7 orang
Jumlah penduduk sedang S-1 0 orang
Jumlah penduduk tamat S-1 23 orang
Jumlah penduduk sedang S-2 0 orang
60 Ibid., hlm. 82
61 Ibid., hlm. 80
Jumlah penduduk tamat S-2 0 orang
Jumlah penduduk tamat S-3 0 orang
Jumlah penduduk sedang SLB A 0 orang
Jumlah penduduk tamat SLB A 0 orang
Jumlah penduduk sedang SLB B 0 orang
Jumlah penduduk tamat SLB 0 orang
Jumlah penduduk sedang SLB C 0 orang
Jumlah penduduk tamat SLB C 0 orang
Jumlah penduduk cacat fisik dan mental 1 orang
% Penduduk buta huruf [(1): jumlah penduduk] x
100 % %
% Penduduk tamat SLTP / sederajat
[(3): jumlah penduduk ] x 100 % %
g. Keadaan Ekonomi
Perubahan di bidang sosial tentu membawa perubahan pada bidang ekonomi karena saling berkaitan satu sama lain, sampai tahun 2021 ini keadaan ekonomi masyarakat meningkat dengan adanya pekerjaan utama masyarakat yaitu sebagai petani yang menopang kehidupan mereka.
selain itu masyarakat juga mempunyai pekerjaan sampingan yaitu berupa, menambang emas, jual beli madu murni, dan jajanan khas Sumbawa. hal ini sangat mendukung untuk menunjang perekonomian masyarakat Desa Lantung. Adapun sarana ekonomi yang ada adalah:
BUMDES (badan usaha milik desa), usaha rumahan seperti, kios, tukang jahit, tukang pijat dll.
B. Praktek Pemberian Mahar Terhadap Calon Mempelai Wanita di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa
Pemberian mahar pada masyarakat Desa Lantung, Kecamatan Lantung dilakukan dengan cara diberikan secara langsung kepada mempelai wanita setelah akad, bila mahar tersebut berupa benda yang bisa dibawa seperti
seperangkat alat sholat dan emas. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rudi Satria selaku Kepala Desa Lantung bahwa:
“amen pameli nan tana atau hewan yam kebo, sampi, ke jaran maka ndi ya sengita leng mentua ke teres mo ya beang kam pida ano jure pengantan pang ke ciri-ciri kam ya bada. Biasa de kepeno tau sekitar 70% ya beang uma kea tau hewan. 30% seperangkat alat sholat ke emas atau uang. (Apabila mahar tersebut berupa tanah atau hewan peliharaan seperti kerbau, sapi dan kuda maka akan diperlihatkan oleh suami atau mertuanya dan langsung diserahkan setelah beberapa hari namun tempat dan ciri fisiknya telah dijelaskan. Diantara jenis mahar yang sering diberikan sekitar ± 70% masyarakat Desa Lantung memberikan sawah atau hewan peliharaan. Sisanya ± 30%
seperangkat alat sholat dan emas atau uang.(Terjemahan penulis)).” 62 Menurut penuturan dari pak Rudi Satria, masyarakat Desa Lantung biasa memberi mahar tanah atau hewan ternak sebesar ± 70% sisanya memberikan emas atau uang.
Kemudian hal yang sama juga diungkapkan oleh Arrahman Bejeng sebagai Sejarawan bahwa :
“Dunung mentua ya beang bale, uma tana ke hewan de patik pina pemeli leng tau dunung amen pengantan ya sejodoh leng ina bapak.
Tau dunung peno uma tana ke hewan yam jaran, sampi, ke kebo, tapi amen to tau ya pili beang amen no orong ba hewan deme de peno si jure pengantan ya seterima. (Pada zaman dahulu para mertua bahkan memberikan rumah, sawah, dan hewan ternak sebagai mahar karena dahulu orang yang menikah dijodohkan oleh orang tua mereka. Orang dulu juga mereka mempunyai lahan yang luas dan hewan yang banyak seperti kuda, sapi dan kerbau, akan tetapi pada saat ini ada yang memilih memberikan antara sawah atau hewan tergantung yang banyak mereka memiliki setelah menikah diserahkan. (Terjemahan Penulis)).”63
Berdasarkan keterangan di atas, orang-orang pada jaman dahulu terbiasa memberikan mahar lebih banyak dari sekarang, karena mereka
62Ibid,.
63 Abdurrahman Bejeng (Sejarawan), wawancara, Lantung, 6 Mei 2021.
dijodohkan oleh orang tua. Sehingga kebiasaan tersebut terbawa hingga sekarang. Mahar tersebut akan langsung diberikan kepada mempelai wanita dengan suka rela setelah akad.
Selanjutnya hal yang senada juga disampaikan oleh pak H. Samaun Sidik selaku Tokoh Agama, beliau menyatakan bahwa:
“De ku to tom le ke pengajar kaleng ina’ bapa tu dunung ne leng aku ngere kaku beang jaran dadi pameli nantuku. Singen pameli wajib tu beang lako pangantan sewai. Amen tau dunung ne ade ya pina pameli nan bale panggung, ba ndi ina bapa de selaki pina mo bale beru na leng dean kam dadi hak nantu. (Selama ini yang saya tau dan pelajaran juga dari orang tua-tua zaman dahulu, karena saya juga memberikan menantu saya kuda sebagai mahar. namanya mahar wajib diserahkan kepada mempelai wanita. Kalo zaman dahulu yang dijadikan mahar itu berupa rumah panggung (rumah dari kayu) maka orangtuanya laki-laki akan membuat rumah sendiri karena sudah jadi hak menantunya.(terjemahan penulis)).”64
Berdasarkan keterangan di atas, mahar yang telah disebutkan akan segera diserahkan oleh mertua atau mempelai suami kepada istri setelah akad nikah berlangsung.
Praktik pemberian mahar yang terjadi di Desa Lantung adalah dengan cara, mahar yang telah disebutkan oleh calon mempelai laki-laki dalam akad nikah akan langsung diberikan oleh mertua atau suami setelah akad nikah.
Sebagian orang yang memelihara hewan peliharaan mereka jauh dari kampung akan membutuhkan waktu beberapa hari untuk menemukannya, karena kebiasaan masyarakat yang melepas hewan peliharaannya di gunung atau tidak sengaja terlepas. Sebagaimana yang disampaikan oleh pak Rudi Satria selaku Kepala Desa memberi keterangan berikut:
64 H. Samaun Sidik (Tokoh Agama), wawancara, Lantung, 28 April 2021.
“Amen tu bahas tentang penyerahan pameli ta, sepengeto kaku pameli de kam ya tetapkan loe ke bentuk ne harus lema ya beang kaleng keluarga de selaki lako keluarga de sawai ke teres bakal dadi hak de sawai nan. Kaleng beberapa de ku ingo ampo ne kapeno tau teres ya beang apa de ka ya pina pameli ta jure akad nikah kele no langsung ano nan ya seterima. yam orong, ndi kaleng pihak de selaki ne yam mentua ya ajak nantu ta ke selaki nan ko orong ya alo sangita orong nan de ka ya sepan pang dalam akad nikah nan na nan si luk yam sampi atau jaran, tergantung apa ka pemeli, teres mo setelah nan dadi hak sewai (Kalau membahas mengenai penyerahan mahar, setahu saya mahar yang telah ditetapkan jumlah dan bentuknya harus diberikan segera oleh pihak laki-laki kepada pihak wanita dan itu secara otomatis menjadi hak pribadinya dia. Dari beberapa yang saya lihat juga mereka akan menyerahkan mahar tersebut setelah akad nikah walau tidak langsung hari itu juga. Seperti contohnya sawah, nanti dari pihak laki-laki misalnya mertua akan mengajak menantu dan suaminya kesawah untuk menunjuk langsung tanah yang dimaksudkan dalam akad nikah begitupun dengan sapi atau kuda, tergantung maharnya apa, setelah itu akan menjadi haknya dia istri tersebut (terjemahan oleh penulis))”65
Menurut keterangan di atas, bahwa mahar yang telah disepakati dan disebutkan dalam akad nikah harus diserahkan secara langsung kepada calon mempelai wanita namun apabila berupa berupa hewan dan sawah akan diserahkan beberapa hari setelah akad.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh pak Heriadi selaku Tokoh Masyarakat menyatakan bahwa:
“Sepengeto kaku pemeli nan pameang kaleng selaki lako sowai, de besingen pameang ta nomonda hak sai-sai sate yang kuda-kuda dean selen sowai. Amen mentua ya sate kenang beleng nong ke nantu daka kenang dean pun amen iklas baeng amen no ba nobau. Biasa amen ka pameli nan uma teres mo dadi nantu baeng ya seterima jure nikah.
(setau saya mahar itu pemberian dari suami kepada istri, yang namanya pemberian ya tidak ada hak siapapun lagi selain istri. Kalau mertua memang ingin menggunakan harus berbicara terlebih dahulu dengan menantu sebelum menggunakannya kalo menantu tidak iklas maka tidak boleh. Jika maharnya berupa sawah maha langsung diberikan setelah menikah. (terjemahan penulis))”. 66
65 Ibid.
66 Heriadi (Tokoh Masyarakat), wawancara, Lantung, 20 April 2021.