BAB III IMPLEMENTASI PASAL 32 KOMPILASI HUKUM
B. Analisis Implementasi Pasal 32 Kompilasi Hukum Islam
sesuai dengan apa yang mereka janjikan sebelumnya. Sehingga mereka (mertua) mengambil kembali mahar tersebut tanpa adanya komunikasi terlebih dahulu dengan pihak wanita dan tidak menggantikannya dengan mahar yang lain. Istri yang diperlakukan seperti itu oleh mertuannya hanya bisa pasra dan tidak berani protes apapun kepada mertua. Dalam KHI pasal 38 ayat 2 dijelaskan bahwa:
Apabila istri menolak menerima mahar karena cacat, suami harus menggantinya dengan mahar lain yang tidak cacat. Selama penggantiannya belum diserahkan, mahar dianggap masih belum lunas. 98
B. Analisis Implementasi Pasal 32 Kompilasi Hukum Islam dalam Praktek
Pihak mertua dalam menggunakan mahar tersebut tidak mencoba berkomunikasi atau meminta izin terlebih dahulu terhadap menantu, serta mengambil keputusan secara sepihak. Hal ini yang membuat menantu merasa keberatan atas apa yang dilakukan oleh mertua, namun demikian menantu sendiri tidak dapat berbuat apa-apa untuk mempertahankan haknya, mereka khawatir apabila mencoba protes terhadap mertua akan menyebabkan masalah yang lebih besar timbul didalam rumah tangga. Hal ini bertentangan dengan yang terdapat didalam pasal 32 KHI yang berbunyi sebagai berikut:
“Mahar diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan sejak itu menjadi pribadinya”.99
Berdasarkan isi dari pasal diatas dapat dipahami bahwa mahar wajib diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan sejak saat diberikan itu menjadi hak pribadi dari mempelai wanita, artinya seorang istri tidak diwajibkan memberikan maharnya kepada orang lain baik sebagian maupun seluruhnya. Makna kata “pribadi” dalam pasal diatas juga menegaskan bahwa wanita yang telah menerima mahar tersebut diberikan kebebasan dalam menggunakan dan memanfaatkan mahar tersebut untuk kesenangannya tanpa memerlukan izin dari orang lain. Akan tetapi apabila orang lain misaalnya suami, yang meminta mahar tersebut maka wajib baginya untuk mendapat izin dari pemilik mahar (istri).
Dalam pasal 32 KHI secara tekstual mengatur mengenai mahar yang diterima oleh calon mempelai wanita diberikan secara langsung tanpa
99 Ibid,. hlm. 10
perantara, kemudian dapat dimiliki atau digunakan secara pribadi, namun penerapan yang terjadi di Desa Lantung, tidak demikian. Mahar yang diterima tidak dapat menjadi hak istri sepenuhnya, akan tetapi dikuasai oleh mertua sampai jangka waktu tertentu, sehingga kepemilikan mahar tidak melekat secara keseluruhan berada pada istri.
Apabila terjadi kesalahpahaman dan perselisihan pendapat antara pihak suami dan pihak istri mengenai mahar yang telah ditetapkan maka penyelesainya di bawah ke Pengadilan Agama terdekat agar dapat memberikan keadilan bagi kedua belah pihak yang berselisih. Sebagaimana yang terdapat dalam pasal 37 Kompilasi Hukum Islam.
“Apabila terjadi selisih pendapat tentang jenis dan nilai mahar yang ditetapkan, penyelesaiannya dianjurkan ke Pengadilan Agama.”100
Mahar memepunyai kekuatan di dalam Islam, maksunya adalah hal-hal yang memperkuat mahar sehingga tidak ada pengaruh pengguguran dan pengurangan. Ulama fiqh sepakat bahwa mahar menjadi kuat posisinya dengan salah satu dari tiga hal perkara berikut:
1. Bercampur, bercampur maksudnya terjadi hubungan seksual antara suami dan istri. Dengan demikian istri telah melaksanakan kewajiban terhadap suami dan menyerahkan dirinya dan suami telah memenuhi haknya, yaitu dengan bercampur. Hak istri menjadi kuat dalam menerima mahar secara sempurna, percampurannya tidak disyaratkan berkali-kali tetapi sudah kuat dengan sekali bercampur. Bercampur yang benar-benar memperkuat
100 Ibid,. hlm. 11.
mahar, baik mahar mitsil ataupun mahar yang disebutkan, baik sebelum waktu akad atau setelahnya. 101
2. Salah satu dari pasangan suami istri meninggal dunia. Jika salah satu dari pasangan suami istri meninggal saat belum bercampur, posisi mahar tetap kuat. Istri atau warisnya tetap berhak menerimanya baik meninggal secara wajar, dibunuh suami atau bunuh diri.
Jika istri membunuh suami, mahar gugur seluruuhnya dan ia tidak mendapat apapun. Karena pembunuh ia terhalang sebagai ahli waris apalagi mahar. Al-Khatib Asy-Syarbini berkata: “jika wanita membunuh suaminya sebelum bercampur, mahar tidakbertahan.”
Jika istri membunuh dirinya, mahar tidak bisa gugur tetapi diberikan kepada ahli warisnya. Demikian menurut ulama Syafi’i, Maliki, Hanabilah, Hanafiyah kecuali imam Zufar, menurutnya sebab dalam kondisi ini mahar menjadi gugur. 102
3. Bersunyian yang sah, maksudnya suami dan istri sebelum bercampur bersunyian disuatu tempat yang aman dari penglihatan orang dan tidak ada seorangpun yang masuk, kedua pasangan suami istri dapat melihat rahasia berdua dan tidak ada yang mencegah persenggamaanpada istri, baik secara hakiki, syar’i, dan alami. Kemudian datang suatu pertanyaan, apakah dapat memperkuat mahar dalam persunyian yang sah?. Para fukaha berbeda pendapat menjadi dua yaitu:
101 Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahab Sayyed Hawwas, Fiqh Munakahat,
(Jakarta, Sinar Grafika Offset, 2009), hlm. 191.
102 Ibid,. hlm. 192.
Pertama, bersunyian belaka tanpa tanpa bergaul intim tidak dapat memperkuat mahar bagi istri, ia hanya mendapatkan separuh mahar yang wajib diberikan sebab akad dan tidak ada pengaruh bersunyian dalam kewajiban mahar. Ini pendapat Asy-Syafi’i dalam qaul jaded-nya (fatwa di Mesir) dan ulama Malikiyah, seperti yang dikemukakan Syuraih, Asy- Sya’ib, Thawus, dan Ibnu Sirin dan menceritakan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas.
Kedua, Imam Ahmad meriwayatkan dari Zararah bin Abi Adfa, bahwa ia berkata: “khulafaur Rasyidin memutuskan bahwa barang siapa yang menutup pintu dan memanjangkan penutupnya, maka wajib mahar dan waib iddah. 103
Berdasarkan pendapat para ulama diatas, kekuatan mahar untuk dimiliki oleh istri sangat kuat. Sehingga tidak dapat digeser oleh siapapun selama istri masih menjalankan syariat-syariat Islam dan tidak melenceng dari ajaran-ajaran Islam. Dalam Islam yang dikategorikan dapat menerima mahar hanyalah seorang wanita yang dinikahi oleh laki-laki yang bertujuan untuk menjadikannya istri. Selain daripada itu tidak berhak menerima mahar tersebut, selama istri masi hidup, ia berhak memberikannya kepada siapaun yang ia inginkan, apabila ia meninggal dunia maka mahar diberikan kepada (ahli warisnya)
Berdasarkan keterangan para ulama juga dapat dipahami bahwa sekalipun seorang istri meninggal dunia maka yang utama menerima
103 Ibid,. hlm. 192-194
mahar tersebut adalah ahli warisnya. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa mertua tidak mempunyai hak dan posisi untuk dapat menerima mahar tersebut apalagi sampai mengambil dan memanfaatkannya tanpa seizin seorang istri sebagai pemilik sah mahar tersebut. Sebagaimana yang terdapat dalam QS. An-Nisa ayat 21, Allah berfirman:
اًقاَثيِّم ْمُكْنِّم َنْذَخَأ َو ٍضْعَب ىَلِّإ ْمُكُضْعَب ىَضْفَأ ْدَق َو ُهَنوُذُخْأَت َفْيَك َو اًظيِّلَغ
Artinya: Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami istri). Dan mereka (suami istri) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu.104
Seorang istri sebelum akad nikah adalah haram bagi suami, dan tidaklah ia merelakan dirinya agar halal baginya kecuali dengan mahar tersebut yang telah diberikan suami kepadanya, dan bila ia telah bercampur dengannya, menggaulinya dan menyentuhnya dengan sentuhan yang awalnya haram dan tidaklah ia mau menyerahkannya kecuali dengan kompensasi, sesungguhnya ia telah merenggut hal yang harus diberikan konpensasi tersebut, maka wajiblah atasnya memberikan konpensasi tersebut, lalu bagaimana mungkin ia mengambil hal yang harus diberikan konpensasi kemudian setelah itu ia mau menarik konpensasi itu darinya?
Inilah kezaliman dan kesewenang-wenangan yang paling besar, Allah juga
104 QS An-Nisa [4]:21.
telah mengambil perjanjian yang kuat dari para suami dengan adanya akad dan perintah untuk memenuhi hak-hak istri. 105
Istri adalah amanah suami dan begitupun sebaliknya, suami adalah amanah bagi istri. Sebab orang tua telah memberikan restu kepada keduanya dengan rasa percaya dan aman. Seorang istri yang telah meninggalkan kedua orang tua yang telah membesarkannya dan membiayai seluruh hidupnya hingga ia menikah, kemudian meninggalkan semua itu dengan hidup bersama lelaki “asing” dengan menjadi seorang istri, lalu kemudian mengabdikan hidup bersama dengan suami, serta tidak ada rahasia diantara mereka lagi.
Seorang suami tidak boleh acuh terhadap permasahan yang sedang dialami oleh istrinya. Karena suami adalah pemimpin dalam rumah tangga.
Layaknya seorang pemimpin yang mampu untuk melindungi amanah yang sedang ia emban, suami juga harus mampu melindungi hak-hak istrinya termasuk mahar tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an surat An-Nisa ayat 34.
َب ُ هاللّٰ َلَّضَف اَمِب ِءْۤاَسِ نلا ىَلَع َن ْوُما َّوَق ُلاَج ِ رلَا ٓاَمِب َّو ٍضْعَب ىٰلَع ْمُهَضْع
ْمِهِلا َوْمَا ْنِما ْوُقَفْنَا
Artinya: Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian
105 Syeh Abdurrahman bin Nashir As-sa’di, Tafsir As-Sa’di, terj. Muhammad Iqbal, (Jakarta, Pustaka Sahifa, 2007), hlm. 56.
yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.106
Berdasarkan ayat diatas terdapat dua alasan yang dikemukakan yaitu:
1. Karena Allah melebihkan mereka atas sebagian yang lain, dan
2. Karena mereka (para suami diwajibkan) untuk menafkahkan sebagian dari harta mereka (untuk istri atau keluarganya). 107
Sebuah keberhasilan perkawinan akan tercapai apabila kedua belah pihak memerhatikan hak satu sama lain, sebab suami sebagai pemimpin atas istrinya maka wajib baginya untuk memperhatikan hak dan kepentingan istrinya. Istri pun wajib untuk mendengarkan perintah dan melaksanakn perintah suami selama masih dalam aturan-aturan Islam, dalam hal ini istri juga berhak menyampaikan pendapatnya kepada suaminya untuk mencari jalan terbaik dalam masalah yang mereka hadapi sehingga suami dapat mengetahui dan mempertimbangkan pendapat dari istri.
106 QS An-Nisa [4]:34.
107 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung, PT Mizan Pustaka, 2014), hlm.239.
66 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis akan menyimpulkan hasil dari penelitian yang penulis lakukan diantaranya sebagai berikut:
1. Praktek pemberian mahar terhadap calon mempelai wanita di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa Penyerahannya kepada calon mempelai wanita ditunda karena dimanfaatkan oleh mertua tanpa adanya izin dari mempelai wanita.
Hal ini bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam karena mahar seharusnya diterima oleh calon mempelai wanita dan tidak ada yang berhak menerimanya, apabila istri dengan suka rela memberikan mahar tersebut kepada suami atau mertuanya maka mereka boleh menggunakannya dengan senang hati, namun apabila tanpa keridhoan istri maka manjadi haram apabila menggunakannya.
2. Implementasi pasal 32 Kompilasi Hukum Islam dalam praktek penyerahan mahar di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa belum ter-implementasi secara utuh oleh masyarakat sesuai dengan ketentuan pasal 32 Kompilasi Hukum islam, dalam pasal 32 Kompilasi Hukum Islam ditegaskan bahwa mahar menjadi hak pribadi calon mempelai wanita artinya ia berhak atas mahar tersebut
sepenuhnya, akan tetapi yang terjadi mahar dikuasai oleh mertua tanpa seizin dari menantu (istri).
B. Saran
Berdasarkan penelitian di atas, maka peneliti memberi saran sebagai bahan pertimbangan dikemudian hari sebagai berikut:
Sebaiknya Pemerintah Desa, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama memberikan sosialisasi di tengah masyarakat terlebih dalam bidang perkawinan. Secara terjadwal dan terus-menerus agar pemahaman masyarakat bertambah luas sehingga menambah keharmonisan dalam rumah tangga.
68
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Munakahat, Khitbah, Nikah Dan Talak, Jakarta: Amzah, 2011.
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahab Sayyed Hawwas, Fiqh Munakahat, Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2009.
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Akademia pressindo, 2010).
Abd. Somad, Hukum Islam, Jakarta: Kencana, 2017.
Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Shahih Fiqih Sunnah, Jakarta: Pustaka Azzam, 2007.
Ahmad Saibani Beni, Perkawinan Dalam Hukum Islam Dan Undang-Undang.
Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Al-Ghafiri Hafidz, Konsep Besarnya Mahar Menurut Imam As-Syafi’i, Skripsi. FS IAIN Ponorogo, Ponorogo, 2017.
Ali Zainuddin, Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Sinar Grafika, 2015.
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2014, cet. ke-5.
Al-Imam Muhammad usman Abdullah Al-Migrani, Mahkota Tafsir, terj. Bahrun Abu Bakar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009.
Atun Wardatun dan Hamdan, Kontekstualisasi Hukum Keluarga di Dunia Islam, Mataram: Lembaga Pengkajian Publikasi Islam dan Masyarakat LEPPIMDI IAIN Mataram, 2014.
Bungin Burhan, Metode Penelitian kualitatif, Jakarta: Rajawali, 2010.
Boedi Abdullah, Pengantar Hukum Keluarga, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka, 1989.
Dedi Junaedi, Bimbingan Perkawinan, Jakarta: Akademika Pressindoo,2010.
Fauzi Ali, “Standar Pemberian Mahar Minimal Pada Perkawinan Dalam Tinjauan Hukum Islam Studi Masyarakat Adat Ogan Kecamatan Bumiratu
Nuban Lampung Tengah”, Tesis. FS RADEN INTAN LAMPUNG, Bandar Lampung, 2020.
Harijah Damis, “Konsep Mahar dalam Perspektif Fikih dan Perundang- Undangan”, Jurnal Yudisial, Vol. 9 No. 1, April 2016.
Khusniati Rofiah, “Konsep Mahar menurut imam syafi’I dan relevansinya dengan Kompilasi hukum islam”, (skripsi, FS IAIN Porogo, Ponorogo, 2018).
Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: permata press, 2014.
Narbuko Cholid dan Achmadi Abu, Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012.
Nurudin Amir dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia.
Jakarta: Kencana, 2019.
Mardani, Hukum Keluarga Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2016.
Mardani, Hadis Ahkam, Jakarta: Kencana, 2017.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Penerbit Lentera Hati, 2000.
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2014.
Halimah. B, “Konsep Mahar (Maskawin) dalam Tafsir Kontemporer”, Al-Daulah, Vol. 6. Nomor 2, Desember 2017.
Kadar M. Yusuf, Tafsir Ayat Ahkam, Jakarta: Paragonatama Tama Jaya, 2013.
Kaumi Adi, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tatacara Penetapan dan Penyerahan Mahar dalam Adat Perkawinan Simuelue Barat”, (skripsi, FSH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Banda Aceh, 2020, hlm. 46-48.
Lailatus Saidah Nurul, “Analisis Hukum Islam Terhadap Pemberian Jumlah Mahar Yang Disesuaikan Dengan Waktu Pelaksanaan Pernikahan Studi Kasus KUA Karang P ilang Surabaya”, Skripsi. FSH Uin Sunana Ampel, Surabaya, 2018.
Luqman Muhammad, “Konsep Mahar Dalam Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Kompilasi Hukum Islam”, skripsi. FS UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang, 2018.
Rahman Ghazaly, Abd. Fiqh munakahat. Jakarta: Kencana, 2006
Rahmatika Fahmi, “Pandangan Pasangan Suami Istri Terhadap Uang Mahar Sebagai Hiasan Studi kasus Desa Paron Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk”, skripsi. FS UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang, 2017.
Satori Djam’an dan Aan Komariah, Metodologi penelitian. Bandung: Alfabeta, 2014.
Syeh Abdurrahman bin Nashir As-sa’di, Tafsir As-Sa’di, terj. Muhammad Iqbal, Jakarta: Pustaka Sahifa, 2007.
Syeh Abdul Halim Hasan, Tafsir Al-Ahkam, Jakarta: Kencana, 2006
Suhailah Zainul Abidin Hammad, Menuai Kasih Sayang di Tengah Keluarga, Jakarta: Mustaqiim, 2002
Tihami, Fiqh Munakahat: Kajian Fiqh Nikah Lengkap, Jakarta: Charisma Putra Utama Offset, 2014
Tihami, Fikih Munakahat, Jakarta: Kharisma Putra Utama Offset, 2012.
71
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Wawancara dengan Bapak Rudi Satria selaku Kepala Desa Lantung dan Bapak Heriadi selaku Tokoh Masyarakat. 20April 2021.
Wawancara dengan Bapak Samaun Sidik Selaku Tokoh Agama. 28 April 2021.
Wawancara dengan Bapak Abdurrahman Bejeng dan Ibu Ratna selaku sejarawan 6 mei 2021.
Wawancara dengan Bapak Arrahman selaku Tokoh Adat. 20 April 2021.
Wawancara dengan Ibu Nurmania Karmila selaku menantu yang maharnya dimanfaatkan oleh mertua. 23 April 2021.
Wawancara dengan Bapak Riski Sumantri selaku Suami dari Ibu Nurmania karmila 23 April 2021.
Wawancara dengan Ibu Nurnaning selaku menantu yang maharnya dimanfaatkan oleh mertua 23 April 2021.
Wawancara dengan Bapak Irmansyah selaku suami dari Ibu Nurnaning 23 April 2021.
Wawancara dengan Pak Iksan selaku suami dari ibu lilis dan Ibu Lilis Suryani selaku menantu yang maharnya dimanfaatkan oleh mertua 21 April 2021.
Wawancara dengan Bapak Al-Kahfi selaku suami dari Ibu Idayati, 20 April 2021.
Wawancara dengan Ibu Idayati Selaku menantu yang maharnya dimanfaatkan oleh mertua. 20 April 2021.
Wawancara dengan Bapak Saharudin dan Ibu Bunaiyah selaku mertua yang memanfaatkan mahar 23 April 2021.
Wawancara dengan Ibu Ande Selaku Mertua yang memanfaatkan mahar, 21 April 2021.
Wawancara dengan pak Amen dan Ibu Tenrieja selaku mertua yang memanfaatkan mahar 24 April 2021.
Wawancara dengan Bapak Sanapiah dan Ibu Sridaya selaku mertua yang memanfaatkan mahar, 21 April 2021.
Buku nikah Bapak M.iksan dan Ibu Lilis Suryani.
Buku nikah Bapak Al-Kahfi dan Ibu Idayati.
Buku nikah Bapak Irmansyah dan Ibu Nurnaning.
Buku nikah Ibu Nurmania Karmila dan Bapak Riski Sumantri.