• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRAKTEK PEMBERIAN MAHAR TERHADAP CALON

PRAKTEK PEMBERIAN MAHAR TERHADAP CALON MEMPELAI WANITA DI DESA LANTUNG, KECAMATAN LANTUNG,

KABUPATEN SUMBAWA

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Kondisi Geografis

Letak geografis Desa Lantung berada sebelah utara Kabupaten Sumbawa, warga masyarakat Desa Lantung pada umumnya sehari-hari bekerja sebagai petani dengan menggarap sawah dan kebun dengan luas tanah keseluruhan 450 Ha dengan penghasilan ± dari 6 ton/Ha. Sebagian Masyarakat juga bekerja sebagai pencari madu sehingga mampu menghasilkan ± 700 liter pertahun, selain itu masyarakat juga telah menambang emas dari tahun 2013 sampai saat ini namun tidak aktif, tidak diketahui pasti pendapatan masyarakat dari hasil menambang emas tersebut karena hasil yang tidak pasti dan harga emas yang naik turun. 54

Jarak tempuh dari kabupaten Sumbawa ke Desa Lantung membutuhkan waktu ± 8-10 jam apabila berjalan kaki atau tidak menggunakan kendaraan, ± 1 jam apabila menggunakan sepeda motor, dan

± 2 jam apabila menggunakan kendaraan umum berupa bis. 55

54Propil Desa Lantung, Desa Lantung, November 2019, hlm. 7

55 Ibid., hlm. 80

2. Keadaan Demografi Desa Lantung a. Jumlah Penduduk Desa Lantung 56

Tabel 2.1

Jumlah Penduduk Desa Lantung

Usia Lk. Pr. Usia Lk. Pr.

0-12

bln 6 Orang 9 Orang 39 thn 8 Orang 8 Orang 1 thn 2 Orang 3 Orang 40

4 Orang 9 Orang 2 3 Orang 4 Orang 41 4 Orang 10 Orang 3 4 Orang 11 Orang 42 9 Orang 6 Orang 4 12 Orang 7 Orang 43 9 Orang 5 Orang 5 3 Orang 8 Orang 44 6 Orang 2 Orang 6 7 Orang 3 Orang 45 8 Orang 4 Orang 7 4 Orang 4 Orang 46 4 Orang 3 Orang 8 3 Orang 3 Orang 47 3 Orang 7 Orang 9 9 Orang 5 Orang 48 5 Orang 2 Orang 10 8 Orang 6 Orang 49 5 Orang 7 Orang 11 3 Orang 8 Orang 50 3 Orang 6 Orang 12 5 Orang 3 Orang 51 3 Orang 4 Orang 13 3 Orang 8 Orang 52 8 Orang 7 Orang 14 6 Orang 6 Orang 53 2 Orang 4 Orang 15 6 Orang 7 Orang 54 10 Orang 11 Orang 16 6 Orang 15Orang 55 5 Orang 4 Orang 17 7 Orang 12 Orang 56 1 Orang 1 Orang 18 7 Orang 5 Orang 57 4 Orang 2 Orang 19 6Orang 4 Orang 58 1 Orang 1 Orang 20 10 Orang 1 Orang 59 8 Orang 12 Orang 21 12 Orang 11 Orang 60 2 Orang 2 Orang 22 5 Orang 3 Orang 61 4 Orang 4 Orang 23 4 Orang 5 Orang 62 0 Orang 0 Orang 24 2 Orang 7 Orang 63 1 Orang 0 Orang 25 9 Orang 7 Orang 64 3 Orang 6 Orang 26 7 Orang 6 Orang 65 1 Orang 4 Orang 27 4 Orang 9 Orang 66 0 Orang 5 Orang 28 3 Orang 9 Orang 67 4 Orang 5 Orang 29 8 Orang 6 Orang 68 1 Orang 11 Orang

56 Ibid., hlm. 24

30 7 Orang 1 Orang 69 6 Orang 6 Orang 31 6 Orang 4 Orang 70 0 Orang 2 Orang 32 6 Orang 2 Orang 71 0 Orang 3 Orang 33 7 Orang 2 Orang 72 2 Orang 1 Orang 34 5 Orang 7 Orang 73 0 Orang 0 Orang 35 3 Orang 8 Orang 74 0 Orang 0 Orang 36 6 Orang 8 Orang 75 0 Orang 0 Orang 37 7 Orang 5 Orang Lebih

dari 75 0 Orang 0 Orang

38 1 Orang 3 Orang Total 392 426

Orang

b. Luas Wilayah Menurut Penggunaan

Luas Pemukiman : 6 ha/m2

Luas Persawahan : 450 ha/ma

Luas Perkebunan : 5 ha/m2

Luas kuburan : 1 ha/m2

Luas Pekarangan : 0 ha/m2

Luas Taman : 0 ha/m2

Perkantoran : 3 ha/m2

Luas Prasarana Umum Lainnya : 0,5 ha/m2

Total Luas : 465,5 ha/m257

c. Pemilikan Lahan Pertanian Tanaman Pangan

Jumlah keluarga memiliki tanah pertanian : 248 Keluarga

Tidak memiliki : 0 Keluarga

Memiliki kurang 1 ha : 154 Keluarga Memiliki 1,0 – 5,0 ha : 94 Keluarga

57 Ibid., hlm. 2

Memilik 5,0 – 10 ha : 0 Keluarga Memilik lebih dari 10 ha : 0 Keluarga Jumlah total keluarga petani : 248 Keluarga58 d. Batas Desa

Sebelah Utara : Desa Pungkit, Kecamatan Lopok Sebelah Selatan : Desa Sepukur, Kecamatan Lantung Sebelah Timur : Desa Labangka, Kecamatan Labangka Sebelah Barat : Desa Aimual, Kecamatan Lantung. 59 e. Keadaan Sosial

Tingkat keamanan masyarakat relatif aman, walau pernah terjadi kasus pencurian akan tetapi masih dapat teratasi oleh masyarakat dengan cara kekeluargaan. Seiring dengan perubahan zaman, dari tahun ketahun desa mengalami perubahan baik secara sosial, budaya dan keagamaan, dengan terjadinya perubahan yang signifikan ini maka terjadi peningkatan pada bagian-bagian tertentu yaitu:

1) Jumlah Sarana Peribadatan.

a) Masjid = 1 unit b) Musholah = 1 unit c) Kelompok Pengajian = 2 kelompok 2) Jumlah Kesenian dan Budaya

a) Qosidah = 2 grup 3) Jumlah Sarana Kesehatan.

58 Ibid., hlm. 6

59 Ibid., hlm. 2

a) Puskesmas = 1 unit

b) Posyandu = 2 unit

c) Bidan = 10 orang 60

f. Pendidikan

1) Sarana Pendidikan

a) PAUD = 1 unit

b) TK = 1 unit

c) SD = 1 unit

d) SMP = 1 unit

2) Tingkat Pendidikan Penduduk61

Tabel 2.2

Tingkat Pendidikan Penduduk

Jumlah penduduk buta aksara dan huruf latin 0 orang Jumlah penduduk usia 3-6 tahun yang masuk TK

dan Kelompok Bermain Anak 50 orang

Jumlah anak dan penduduk cacat fisik dan mental 1 orang Jumlah penduduk sedang SD / sederajat 98 orang Jumlah penduduk tamat SD / sederajat 20 Orang Jumlah penduduk tidak tamat SD / sederajat 0 orang Jumlah penduduk sedang SLTP / sederajat 57 orang Jumlah penduduk tamat SLTP / sederajat 0 Orang Jumlah penduduk sedang SLTA / sederajat 19 orang Jumlah penduduk tidak tamat SLTP / sederajat 0 orang Jumlah penduduk tamat SLTA / sederajat 0 Orang

Jumlah penduduk sedang D-1 0 orang

Jumlah penduduk tamat D-1 0 orang

Jumlah penduduk sedang D-2 0 orang

Jumlah penduduk tamat D-2 0 orang

Jumlah penduduk sedang D-3 0 Orang

Jumlah penduduk tamat D-3 7 orang

Jumlah penduduk sedang S-1 0 orang

Jumlah penduduk tamat S-1 23 orang

Jumlah penduduk sedang S-2 0 orang

60 Ibid., hlm. 82

61 Ibid., hlm. 80

Jumlah penduduk tamat S-2 0 orang

Jumlah penduduk tamat S-3 0 orang

Jumlah penduduk sedang SLB A 0 orang

Jumlah penduduk tamat SLB A 0 orang

Jumlah penduduk sedang SLB B 0 orang

Jumlah penduduk tamat SLB 0 orang

Jumlah penduduk sedang SLB C 0 orang

Jumlah penduduk tamat SLB C 0 orang

Jumlah penduduk cacat fisik dan mental 1 orang

% Penduduk buta huruf [(1): jumlah penduduk] x

100 % %

% Penduduk tamat SLTP / sederajat

[(3): jumlah penduduk ] x 100 % %

g. Keadaan Ekonomi

Perubahan di bidang sosial tentu membawa perubahan pada bidang ekonomi karena saling berkaitan satu sama lain, sampai tahun 2021 ini keadaan ekonomi masyarakat meningkat dengan adanya pekerjaan utama masyarakat yaitu sebagai petani yang menopang kehidupan mereka.

selain itu masyarakat juga mempunyai pekerjaan sampingan yaitu berupa, menambang emas, jual beli madu murni, dan jajanan khas Sumbawa. hal ini sangat mendukung untuk menunjang perekonomian masyarakat Desa Lantung. Adapun sarana ekonomi yang ada adalah:

BUMDES (badan usaha milik desa), usaha rumahan seperti, kios, tukang jahit, tukang pijat dll.

B. Praktek Pemberian Mahar Terhadap Calon Mempelai Wanita di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa

Pemberian mahar pada masyarakat Desa Lantung, Kecamatan Lantung dilakukan dengan cara diberikan secara langsung kepada mempelai wanita setelah akad, bila mahar tersebut berupa benda yang bisa dibawa seperti

seperangkat alat sholat dan emas. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rudi Satria selaku Kepala Desa Lantung bahwa:

amen pameli nan tana atau hewan yam kebo, sampi, ke jaran maka ndi ya sengita leng mentua ke teres mo ya beang kam pida ano jure pengantan pang ke ciri-ciri kam ya bada. Biasa de kepeno tau sekitar 70% ya beang uma kea tau hewan. 30% seperangkat alat sholat ke emas atau uang. (Apabila mahar tersebut berupa tanah atau hewan peliharaan seperti kerbau, sapi dan kuda maka akan diperlihatkan oleh suami atau mertuanya dan langsung diserahkan setelah beberapa hari namun tempat dan ciri fisiknya telah dijelaskan. Diantara jenis mahar yang sering diberikan sekitar ± 70% masyarakat Desa Lantung memberikan sawah atau hewan peliharaan. Sisanya ± 30%

seperangkat alat sholat dan emas atau uang.(Terjemahan penulis)).” 62 Menurut penuturan dari pak Rudi Satria, masyarakat Desa Lantung biasa memberi mahar tanah atau hewan ternak sebesar ± 70% sisanya memberikan emas atau uang.

Kemudian hal yang sama juga diungkapkan oleh Arrahman Bejeng sebagai Sejarawan bahwa :

Dunung mentua ya beang bale, uma tana ke hewan de patik pina pemeli leng tau dunung amen pengantan ya sejodoh leng ina bapak.

Tau dunung peno uma tana ke hewan yam jaran, sampi, ke kebo, tapi amen to tau ya pili beang amen no orong ba hewan deme de peno si jure pengantan ya seterima. (Pada zaman dahulu para mertua bahkan memberikan rumah, sawah, dan hewan ternak sebagai mahar karena dahulu orang yang menikah dijodohkan oleh orang tua mereka. Orang dulu juga mereka mempunyai lahan yang luas dan hewan yang banyak seperti kuda, sapi dan kerbau, akan tetapi pada saat ini ada yang memilih memberikan antara sawah atau hewan tergantung yang banyak mereka memiliki setelah menikah diserahkan. (Terjemahan Penulis)).”63

Berdasarkan keterangan di atas, orang-orang pada jaman dahulu terbiasa memberikan mahar lebih banyak dari sekarang, karena mereka

62Ibid,.

63 Abdurrahman Bejeng (Sejarawan), wawancara, Lantung, 6 Mei 2021.

dijodohkan oleh orang tua. Sehingga kebiasaan tersebut terbawa hingga sekarang. Mahar tersebut akan langsung diberikan kepada mempelai wanita dengan suka rela setelah akad.

Selanjutnya hal yang senada juga disampaikan oleh pak H. Samaun Sidik selaku Tokoh Agama, beliau menyatakan bahwa:

“De ku to tom le ke pengajar kaleng ina’ bapa tu dunung ne leng aku ngere kaku beang jaran dadi pameli nantuku. Singen pameli wajib tu beang lako pangantan sewai. Amen tau dunung ne ade ya pina pameli nan bale panggung, ba ndi ina bapa de selaki pina mo bale beru na leng dean kam dadi hak nantu. (Selama ini yang saya tau dan pelajaran juga dari orang tua-tua zaman dahulu, karena saya juga memberikan menantu saya kuda sebagai mahar. namanya mahar wajib diserahkan kepada mempelai wanita. Kalo zaman dahulu yang dijadikan mahar itu berupa rumah panggung (rumah dari kayu) maka orangtuanya laki-laki akan membuat rumah sendiri karena sudah jadi hak menantunya.(terjemahan penulis)).”64

Berdasarkan keterangan di atas, mahar yang telah disebutkan akan segera diserahkan oleh mertua atau mempelai suami kepada istri setelah akad nikah berlangsung.

Praktik pemberian mahar yang terjadi di Desa Lantung adalah dengan cara, mahar yang telah disebutkan oleh calon mempelai laki-laki dalam akad nikah akan langsung diberikan oleh mertua atau suami setelah akad nikah.

Sebagian orang yang memelihara hewan peliharaan mereka jauh dari kampung akan membutuhkan waktu beberapa hari untuk menemukannya, karena kebiasaan masyarakat yang melepas hewan peliharaannya di gunung atau tidak sengaja terlepas. Sebagaimana yang disampaikan oleh pak Rudi Satria selaku Kepala Desa memberi keterangan berikut:

64 H. Samaun Sidik (Tokoh Agama), wawancara, Lantung, 28 April 2021.

“Amen tu bahas tentang penyerahan pameli ta, sepengeto kaku pameli de kam ya tetapkan loe ke bentuk ne harus lema ya beang kaleng keluarga de selaki lako keluarga de sawai ke teres bakal dadi hak de sawai nan. Kaleng beberapa de ku ingo ampo ne kapeno tau teres ya beang apa de ka ya pina pameli ta jure akad nikah kele no langsung ano nan ya seterima. yam orong, ndi kaleng pihak de selaki ne yam mentua ya ajak nantu ta ke selaki nan ko orong ya alo sangita orong nan de ka ya sepan pang dalam akad nikah nan na nan si luk yam sampi atau jaran, tergantung apa ka pemeli, teres mo setelah nan dadi hak sewai (Kalau membahas mengenai penyerahan mahar, setahu saya mahar yang telah ditetapkan jumlah dan bentuknya harus diberikan segera oleh pihak laki-laki kepada pihak wanita dan itu secara otomatis menjadi hak pribadinya dia. Dari beberapa yang saya lihat juga mereka akan menyerahkan mahar tersebut setelah akad nikah walau tidak langsung hari itu juga. Seperti contohnya sawah, nanti dari pihak laki-laki misalnya mertua akan mengajak menantu dan suaminya kesawah untuk menunjuk langsung tanah yang dimaksudkan dalam akad nikah begitupun dengan sapi atau kuda, tergantung maharnya apa, setelah itu akan menjadi haknya dia istri tersebut (terjemahan oleh penulis))”65

Menurut keterangan di atas, bahwa mahar yang telah disepakati dan disebutkan dalam akad nikah harus diserahkan secara langsung kepada calon mempelai wanita namun apabila berupa berupa hewan dan sawah akan diserahkan beberapa hari setelah akad.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh pak Heriadi selaku Tokoh Masyarakat menyatakan bahwa:

“Sepengeto kaku pemeli nan pameang kaleng selaki lako sowai, de besingen pameang ta nomonda hak sai-sai sate yang kuda-kuda dean selen sowai. Amen mentua ya sate kenang beleng nong ke nantu daka kenang dean pun amen iklas baeng amen no ba nobau. Biasa amen ka pameli nan uma teres mo dadi nantu baeng ya seterima jure nikah.

(setau saya mahar itu pemberian dari suami kepada istri, yang namanya pemberian ya tidak ada hak siapapun lagi selain istri. Kalau mertua memang ingin menggunakan harus berbicara terlebih dahulu dengan menantu sebelum menggunakannya kalo menantu tidak iklas maka tidak boleh. Jika maharnya berupa sawah maha langsung diberikan setelah menikah. (terjemahan penulis))”. 66

65 Ibid.

66 Heriadi (Tokoh Masyarakat), wawancara, Lantung, 20 April 2021.

Menurut pernyataan tersebut, mahar yang telah diberikan kepada istri, tidak berhak dimiliki oleh orang lain termasuk mertua.

Selanjutnya pak H. Samaun Sidik menambahkan dalam keterangannya bahwa:

“pemeli noroa tu lee lalo, ngka balong ke nda tau bau ete selen ke sewai amen ada tau sate kakan pameli nan ne ba pasti ya dadi lenge pang keluarga nan, amen no sakit ne ba nosy a balong. Amen de ka ya pina pameli nan orong arti cuma sewai bae de bau kakan hasil amen sate ya beang lako selaki atau anak ba sedekahnya dean siong kewajibannya, karena kewajiban selaki beang nafkah tawa keluarga.

(Mahar itu penyerahannya tidak boleh terlalu lama diundur apalagi sampai berlarut-larut, nggak baik dan juga tidak ada yang bisa mengambilnya selain istri apabila mereka bersih keras untuk memakan mahar itu, maka pasti akan ada bencana dikeluarga itu, entah mereka akan sakit atau tidak harmonis. Jika yang dijadikan mahar itu tanah sawah maka hasil dari sawah itu hanya istri yang boleh makan selebihnya kalo istri mau memberi dengan suka rela kepada anak dan suaminya itu sedekahnya istri bukan kewajibannya dia, kewajiban suamilah yang memberi nafkah bagi keluarga.

(terjemahan oleh penulis))”. 67

Menurut keterangan di atas, bahwa mahar yang telah disebutkan dalam akad nikah itu penyerahannya tidak boleh diundur telalu lama, berminggu-minggu apalagi sampai berbulan-bulan karena akan menyebabkan bencana.

Hal yang senada juga disampaikan oleh pak Arrahman sebagai tokoh Adat dan menambahkan.

“Amen kaleng pengalaman kaku saat ku hadir pang akad tau, biasa de ya pina pameli nan teres ya serah terima kaleng mentua lako menantu, misal ka pameli nan jaran no bau ya bawa ko pang akad leng biasa tau desa ya lepas menan si pang rau ke pasti butuh waktu ya buya, tapi nos le paling seminggu kam ya seterima ke nantu jure nan meleng nya mo ya kuda-kuda, sate ya semele atau ya jual

67H. Samaun Sidik (Tokoh Agama), wawancara, Lantung, 28 April 2021.

nomonda tau pelang ya mentua ke atau orang tua de sewai nomonda hak pang ana. (Berdasarkan pengalaman saya saat menghadiri akad nikah masyarakat, biasanya sesuatu yang dijadikan mahar itu akan dengan segera diserah terima dari mertua kepada menantu, misal maharnya berupa kuda tidak memungkinkan untuk dibawa ketempat akad, karena biasanya orang-orang yang memelihara hewan dikampung ini melepaskan hewan mereka dan membutuhkan waktu untuk mencarinya, tapi tidak lama paling satu minggu sudah diberikan kepada menantunya dan terserah mereka mau diapakan, mau disembelih atau dijual tidak akan ada yang menghalagi baik dari mertua atau orang tua pihak wanita sendiri, mereka tidak ada hak lagi di sana. (terjemahan oleh penulis))”. 68

Sesuai keterangan di atas, mahar dari jaman dahulu langsung diserahkan, para mertua juga tidak mempunyai hak untuk mengatur mahar yang telah diberikan.

Berdasarkan keterangan Kepala Desa, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, dan Sejarawan, mereka mengatakan hal yang sama, bahwa mahar yang telah ditetapkan bentuk dan jenisnya didalam akada nikah maka mahar tersebut akan diserahkan kepada calon mempelai wanita setelah akad nikah. Akan tetapi masi terdapat ditengah- tengah masyarakat mertua yang dengan sengaja mengambil atau memanfaatkan mahar yang telah di berikan oleh anak mereka kepada istrinya (menantu), tanpa meminta izin dan mendapat persetujuan dari menantunya terlebih dahulu, hal tersebut sebagaimana yang disampai oleh pasangan suami istri yaitu pak Al-Kahfi dan ibu Idayati, pak Al-Kahfi mengatakan bahwa:

“Pemeli nan bale, kam tu ete jure pengantan, tu sebalong mo apa, kam seten ya ete leng bapa kebali neng ka remade diri bagian bungkak bale de beang tu, ba nomongka tu beleng leng diri baeng bale.(Maharnya itu rumah, sudah kami ambil setelah menikah, lalu

68 Arrahman (Tokoh Adat), wawancara, Lantung 20 april 2021.

kami merenovasi rumah itu setelah satu tahun diambil lagi oleh bapa karena katanya beliau hanya bagian belakang rumah yang diberikan, akhirnya kami tidak berbica panjang lebar lagi karena beliau yang punya rumah. (terjemahan penulis)).” 69

Dari wawancara di atas mengatakan bahwa, rumah yang sebelumnya telah diberikan sebagai mahar diambil kembali oleh orang tuanya sebab beliau hanya memberikan setengah dari rumah tersebut.

Kemudian ibu Idayati mengulang hal yang sama dan menambahkan pernyataan suaminya.

“Leng kam ya ete bale nan, nomongka tu beleng kaleng ate tu bae mo.

Kena dadi lenge pang kami, kele diri nosoka beleng mula. Me kena sate beang ke ya kuda-kuda mo nomongka tu urus, kena makin belo amen yatu tuntun ke diri. Tu sepakat mo kami dua tu ndi datang rejeki len lebe kaleng nan. (Kerena rumah itu sudah diambil, kami tidak bicara panjang lebar tinggal hati saja yang bicara (kecewa). Takutnya juga jadi makin buruk, padahal sebelumnya beliau tidak bicara seperti itu. Sekarang kemanapun rumah itu mau diberikan dan mau diapakan juga kami tidak peduli, nanti permasalahannya makin panjang jika kami menuntut. Kami juga sepakat nanti rejeki juga pasti ada lebih dari itu. (terjemahan penulis))”.70

Sebagaimana penuturan di atas mengatakan bahwa rumah yang diambil oleh mertua tidak perlu diperdebatkan lagi, mereka hanya bisa pasrah oleh keadaan dan berharap akan mendapatkan rejeki yang lebih dikemudian hari.

Hal yang serupa juga disampaikan oleh pasangan suami istri yaitu pak M. Iksan dan ibu Lilis Suryani, pak M. Iksan menyatakan bahwa:

Kan pemeli ne seperangkat alat sholat ke kebo selaki sopo, kebo ya pelihara mo leng bapa selama seten ten, apa katu eneng ngka rebeang tu jual anti rea nong leng ke kenang reboat, kam kira kurang lebe satu ten ne nanpo katu ete na.(Maharnya itu seperangkat alat sholat dan kerbau laki-laki, kerbau itu dipelihara bapa selama satu tahun, soalnya

69 Al-Kahfi (Suami Idayati), wawancara, Lantung, 20 April 2021.

70 Idayati (Istri pak Al-Kahfi), wawancara, Lantung, 20 April 2021.

pas kami minta tidak dikasi katanya tunggu besar dulu dan dipakai garap sawah, kira kurang lebih dua tahun baru kami ambil.

(terjemahan penulis)).71

Berdasarkan keterangan di atas mengatakan bahwa, mahar yang telah diberikan berupa satu ekor kerbau, namun dikuasai oleh mertua selama satu tahun dan dimanfaatkan jasanya.

Selanjutnya ibu Lilis Suryani menambahkan pernyataan suaminya.

“Sebenar amen tu ete ampo jure pengantan nan nosoda hak diri ya pelang tu jual apa kam aku baeng, leng tu hargai diri nanbua tu terpaksa mo tu pasrah, bua sate tu ete ampo leng yatu pina bale si bau nom le tu besai bale ke diri. (Sebenarnya jika kami ingin ambil setelah kami menikah sudah tidak ada hak beliau lagi untuk melarang kami menjualnya karena itu sudah milik saya, karena kami menghargai beliau jadi kami dengan terpaksa pasrah, alasan kami mengambilnya juga karena ingin menjualnya untuk membuat rumah agar tidak lama-lama satu rumah dengan beliau. (terjemahan penulis))”. 72

Menurut penuturan karena menghargai mertuanya sehingga hanya bisa pasra saat mertuanya tidak mengizinkan untuk menjual kerbau yang telah dijadikan mahar tersebut.

Selanjutnya pernyataan dari pasangan pak Riski Sumantri dan ibu Nurmania Karmila, pak Riski Sumantri menyatakan bahwa:

“Amen pameli ne ka seperangkat alat sholat ke sebangkat uma de kaku sepan pang ijab kabul nan, sebenar telu bangkat uma de tu pina pemeli nan. Pas tu pengantan kami uma nan kamo ya tanam leng ema ke bapa, leng parak panen ampo tu pengantan ne berema ke diri ntu perlu uang nanbua ya bau mo uma de ya pina pemeli nan.(Yang dijadikan mahar itu seperangkat alat sholat dan satu petak sawah yang saya sebutkan dalam kabul, sebenarnya tiga petak yang dijadikan mahar. Pas kami menikah sawah itu sudah ditanami oleh ibu dan bapa, karena sudah dekat penen juga kami menikah berbarengan dengan

71 M.Iksan (Suami ibu Lilis Suryani), wawancara, Lantung, 21 April 2021.

72 Lilis Suryani (istri pak M.Iksan), wawancara, Lantung, 21 April 2021.

beliau perlu uang makanya hasil sawah itu diambil. (terjemahan penulis))”. 73

Menurut pernyataan di atas, sawah yang dijadikan mahar hasilnya diambil oleh orang tua beliau karena saat itu sudah mendekati waktu panen.

Selanjutnya Ibu Nurmania karmila menambah pernyataan suaminya dan menyatakan.

“Ao yasi, setelah nan ten angkang ne nanpo tu tanam ke tu bau leng kami, sebenar aku nosoka ku keberatan ke diri ya bau uma nan apa.

Tingka ka remade diri ke kami ne nosi tu buya masalah diri ngka beleng ke kami. Kami tu dadi anak batu tedu bae si apa no beang ku beleng leng selaki saya ke ma ampo.(Iya benar, setelah satu tahun kedepannya baru kami menanami padi dan kami panen, sebenarnya saya tidak merasa keberatan sama sekali dengan sikap beliau yang mengambil hasil panen. Seandainya beliau memberi tahu terlebih dahulu kamki juga tidak ingin mencari masalah dengan beliau tapi beliau tidak bicara apapun sebelumnya kami sebagai anak cuma bisa diam soalnya suami dan ibu saya juga melarang saya bicara.

(terjemahan penulis))”.74

Berdasarkan pernyataan tersebut, mahar yang diberikan berupa sawah, namun dikuasai oleh mertua serta hasil dari padi tersebut digunakan secara pribadi.

Hal serupa juga disampaikan oleh pasangan suami istri pak Irmansyah dan ibu Nurnaning, pak Irmansyah menyatakan bahwa:

“Pameli ne seperangkat alat sholat ke jaran nara, nosoka bau sebulan kira ka seminggu ne kam sengitaku leng bapa jaran de pina pemeli nan, kam selang dua atau telu bulan ne tu jual mo jaran nan apa nanpo ka beang tu jual leng diri ampo.(Maharnya seperangkat alat sholat dan kuda betina, tidak sampai satu bulan mungkin seminggu diperliharkan oleh bapa kepada saya. Setelah dua atau tiga

73 Riski Sumantri (Suami ibu Nurmania Karmila, wawancara, Lantung, 23 April 2021.

74 Nurmania Karmila (Istri Pak Riski Sumantri), wawancara, Lantung, 23 April 2021.:

Dokumen terkait