• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PEMIKIRAN KONTEKSTUAL DALAM MEMAHAMI NASH

N/A
N/A
Riri Rhmdhn

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH PEMIKIRAN KONTEKSTUAL DALAM MEMAHAMI NASH"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PEMIKIRAN KONTEKSTUAL DALAM MEMAHAMI NASH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Makalah Mata Kuliah Ushul Fiqh lll

Dosen Pengampu : Dr.Mhd Fadhlan Is, Lc., M.A

Disusun oleh : Kelompok 2

1. Neni Masitoh (22070005) 2. Salwah Nasution (22070006) 3. Nur Madinah (22070018)

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

MANDAILING NATAL

T.A (2024/2025)

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil‟alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pemikiran Kontekstual Dalam Memahami Nash. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW yang kita nanti-nantikan syafaatnya kelak.

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ushul Fiqh lll.

Dalam penyelesaian makalah ini, kami mendapatkan bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Mhd Fadhlan Is, Lc., M.A., selaku dosen mata kuliah Ushul Fiqh lll, serta teman-teman yang sudah memberikan konstribusinya dalam penyelesaian makalah ini.

Kami menyadari dalam penyusunan malakah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang Pemikiran Kontekstual Dalam Memahami Nash.

Wassalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Panyabungan, 23 Maret 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...i

DAFTAR ISI ...ii

ABSTRAK...1

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...1

C. Tujuan Makalah...2

BAB II PEMBAHASAN...3

A. Defenisi Pemikiran Kontekstual dalam Memahami Nash...3

B. Ciri, karakteristik dan landasan dalamPemikiran Kontekstual...3

C. Implementasi Metode Kontekstual dalam Memahami Nash...5

BAB III PENUTUP...9

A. Kesimpulan...9

B. Saran...9

DAFTAR PUSTAKA...10

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bagi kaum Muslimin yang hidup pada masa awal Alquran diturunkan, pemahaman mereka terhadap Alquran secara benar bukanlah suatu masalah.

Keseriusan para sahabat dalam membaca, menghafal dan mencerna Alquran menjadi dinamika yang aman dari segala misunderstanding. Selain itu, keberadaan Nabi Muhammad sebagai sumber utama penjelas Alquran menjadi garansi terjaganya originalitas ayat-ayat Alquran beserta maksudnya. Namun, permasalahan muncul semenjak Rasulullah wafat, pemahaman yang dianggap paling benar akan Alquran menjadi masalah yang mulai menjadi debatable hingga mencapai puncaknya pada pertempuran Shiffin.1 Semenjak saat itulah muncul perdebatan tentang dasar dan metode pengambilan hukum Islam.

Sampai saat ini, Alquran dah hadist Nabi dipahami oleh umat Islam secara beragam. Keragaman corak pemahaman umat Islam terhadap Alquran dah hadist sangat dipengaruhi oleh cara memahami teks, konteks, sosio-historisnya, dan lain sebagainya.2 Secara umum, cara memahami teks keagamaan dapat dikategorikan menjadi dua cara, yakni tekstual dan kontekstual. Tekstual dapat diartikan memahami teks sesuai dengan normatifitas dan simbol-simbol tertulis (book oriented). Adapun kontekstual ialah memahami teks bukan sebagai teks semata sebab secara implisit dan eksplisit makna kontekstual itu melekat pada teks. Oleh karena itu aspek budaya, sosial, politik dan lainnya yang signifikan bekaitan dengan teks. Dengan ini mari sama sama untuk membahas bagaimana pemikiran kontekstual dalam memahami nash (Al-Quran dan Hadist).

1 Ahmad Zaini, “Mengurai Sejarah Timbulnya Pemikiran Ilmu Kalam dalam Islam”, Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf, Volume 1, No.1, Januari-Juni 2015, hlm. 167-168.

2 M. Syuhudi Ismail, Hadist Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah tentnag Ma‟ani Al-Hadist tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal, dan Lokal Cetakan ke-2 (Jakarta:

Bulan Bintang, 2009), hlm. 3.

(5)

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang di maksud dengan pengertian pemikiran kontekstual dalam memahami Nash?

2. Bagaimana ciri, karakteristik dan landasan dalam pemirikan kontekstual?

3. Bagaimana implementasi metode kontekstual dalam memahami Nash?

C. Tujuan Makalah

1. Mendefenisikan yg di maksud dengan pemikiran kontekstual dalam memahami Nash

2. Menjelaskan ciri, karakteristik dan landasan dalam pemirikan kontekstual 3. Menjelaskan implementasi metode kontekstual dalam memahami Nash

(6)

BAB II PEMBAHASAN

A. Defenisi Pemikiran Kontekstual dalam Memahami Nash

Kontekstual, secara etimologis (lughowi), berasal dari kata benda bahasa Inggris “context”, yang berarti suasana, keadaan.3 Dalam penjelasan lain disebutkan konteks berarti bagian dari teks atau pernyataan yang meliputi kata atau bagian tertulis tertentu yang menentukan maknanya; dan situasi di mana suatu peristiwa terjadi. Konteks dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Sehingga kata kontekstual dapat diartikan sebagai sesuatu cara, metode, pendekatan atau apa saja yang mengacu pada konteks (realitas).

Pemikiran kontekstual adalah pemahaman yang didasarkan bukan hanya pada pendekatan kebahasaan, tetapi juga teks dipahami melalui situasi dan kondisi ketika teks itu muncul. Dari pengertian ini, maka pemikiran kontekstual dalam memahami nash, secara umum dapat diartikan sebagai kecenderungan suatu pandangan yang mengacu pada konteks. Abuddin Nata menegaskan bahwa yang dimaksud dengan pemikiran kontekstual dalam memahami nash adalah upaya memahami ayat-ayat Alquran sesuai dengan konteks dan aspek sejarah ayat itu, sehingga nampak gagasan atau maksud yang sesungguhnya dari setiap yang dikemukakan oleh Alquran.4

B. Ciri, Karakteristik dan Landasan Pemikiran Kontekstual

3 Jhon M. Echols dan Shadilly Hasan. Kamus Inggris…, hlm. 143.

4 Abudin Nata, al-Qur‟an dan Hadits (Dirasah Islamiah I), cet. II, (Jakarta: Rajawali Press, 1993), hlm. 146.

(7)

Ciri pemikiran kontektual ini hendak menunjukkan bahwa pikiran bukan sekedar sebuah ide, tetapi sebuah realitas eksistensi dengan konteksnya yang nyata dan jelas. Maksudnya, setiap pemikiran filsafat, selalu bertumbuh dan berkembang dalam konteks hidup manusia secara nyata. Pikiran filsafat karenanya, merupakan bagian dari cara berpikir dan cara bertindak manusia atau masyarakat dalam menyiasati dan memecahkan masalah-masalah kehidupannya secara nyata. Pemikiran kontekstual mengandaikan kejeniusan lokal (local genius) dalam membangun sebuah struktur keberadaan. Pemikiran filsafat juga mencirikan sebuah pemikiran yang fungsional dalam menyiasati serta membangun tanggungjawab budaya maupun sosial kemasyarakatannya.5

Ada beberapa karakteristik pemikiran kontekstual menurut Usman dan Raja :6

 Proses pendidikan dilakukan secara menyenangkan

 Pembelajaran yang dilakukan dalam situasi nyata berarti siswa dilatih untuk memecahkan masalah nyata

 Pembelajaran memberi siswa kesempatan untuk menyelesaikan tugas penting

 Pembelajaran dilakukan melalui pengalaman yang bermakna bagi siswa

 Pembelajaran dilakukan lewat kerja kelompok, diskusi, dan koreksi satu sama lain

 Kebersamaan, kerja sama, dan pemahaman satu sama lain adalah komponen pembelajaran yang menyenangkan

 Pembelajaran dilakukan secara aktif, kreatif, produktif, dan menghasilkan sesuatu yang diukur dengan kerja sama.

Dengan munculnya karakteristik pemikiran kontektual ini ada landasan teori dalam pemikiran kontekstual yaitu sebagai berikut :

5 The Liang Gie, Filsafat Ilmu, Liberty, (Yogyakarta. 1996) h 119

6 Usman, Raja, Penggunaan Metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar. Cet. Ke-6 (Yogyakarta : Kompas.com, 2017) h. 2

(8)

Knowladge Based Contructivism, yaitu teori yang menekankan pada pentingnya seorang peserta didik untuk membangun pengetahuan mereka sendiri dengan terlibat langsung dalam pembelajaran.

Effort Based Learning/Incremental Theory of Intellegennce. Teori yang beranggapan bahwa bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang akan memotivasi seseorang untuk terlibat dalam kegiatan belajar.

Socialization, menekankan bahwa belajar adalah proses sosial yang menentukan tujuan belajar, oleh karenanya faktor sosial dan budaya perlu diperhatikan selama perencanaan pengajaran.

Situated Learning, pengetahuan dan pembelajaran harus dikondisikan dalam fisik tertentu dan konteks sosial (masyarakat, rumah, dan sebagainya) dalam mencapai tujuan belajar.

Distributed Learning, manusia merupakan bagian terintegrasi dari proses pembelajaran. Oleh karenanya harus berbagi pengetahuan dan tugas-tugas.

C. Implemestasi Metode Kontekstual dalam Memahami Nash

Pemikiran kontekstual, menurut Qamaruddin Hidayat, seorang penafsir memposisikan sebuah teks ke dalam sebuah jaringan wacana, hal itu diibaratkan sebuah gunung es, teks adalah fenomena kecil dari puncak gunung yang tampak di permukaan. Oleh karena itu tanpa mengetahui latar belakang sosial budaya dari mana dan dalam situasi apa sebuah teks muncul, maka sulit menangkap makna pesan dari sebuah teks.7

Sama dengan Al-qur’an, sejumlah hadits dalam upaya pemahaman sangat erat hubungannya dengan konteks tertentu, misalnya kapan Rasulullah menyampaikan berita atau bersikap, bertindak atau berperilaku, dimana, dalam kondisi bagaimana, kepada siapa beliau menyampaikan, dan sebagainya.

7 Ibid, hlm 214.

(9)

Alquran meruapakan wahyu Allah yang bersifat absolut. Di dalamnya terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang Islam sebagai agama yang tidak memberatkan umatnya. Ajaran Islam selalu relevan disepanjang zaman. Oleh karena itu, maka diperlukan pemahaman Islam secara tekstual dan kontekstual.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahawa Islam tekstual adalah Islam yang dipahami berorientasi pada teks dalam dirinya. Oleh karena itu, wahyu dipahami melalui pendekatan kebahasaan, tanpa melihat latar sosiohistoris, kapan dan di mana wahyu itu diturunkan.36 Sedangkan Islam kontekstual adalah Islam yang dipahami sesuai dengan situasi dan kondisi dimana Islam itu dikembangkan.

Adanya Islam kontekstual didasarkan pada latar belakang sejarah ketika Islam diturunkan, sebagaimana diturunkannya Alquran. Alquran yang diturunkan selama tiga belas tahun di Makkah (Surat Makkiyyah) misalnya, 37 berbeda dengan Alquran yang diturunkan selama sepuluh tahun di Madinah (Surat Madaniyah). terjadinya perbedaan corak dan isi tersebut disebabkan antara lain karena perbedaan sasaran, tantangan, dan masalah yang dihadapi di dua daerah tersebut.

Alquran yang turun pada bangsa Arab, awalnya ditanggapi secara serius oleh mereka karena adanya benturan antara nilai-nilai yang dibawa oleh Alquran dengan nilai-nilai warisan leluhur yang telah berakar kuat dan menyatu dengan kehidupan mereka. Benturan itu pada umumnya berkaitan dengan misi Alquran yang ingin meluruskan bentuk-bentuk keyakinan, budaya, dan ikatan-ikatan primordial bangsa Arab waktu itu. Bahkan dalam memahami hadist Nabi pun melibatkan aspek konteks. Sebagaimana pendapat Yusuf Qardhawi, diantara cara yang baik memahami hadis Nabi SAW adalah dengan memperhatikan sebabsebab khusus yang melatarbelakangi diucapkannya suatu hadis, atau kaitannya dengan suatu „illat (alasan/sebab) yang dinyatakan dalam hadis tersebut ataupun dapat dipahami melalui kejadian yang menyertainya.38

Oleh karena itu, kontekstual dalam hal ini mengandung tiga pengertian utama yaitu: (1) upaya pemaknaan dalam rangka mengantisipasi persoalan dewasa ini yang umumnya mendesak, sehingga arti kontekstual identik dengan situasional;

(2) pemaknaan yang melihat keterkaitan masa lalu, masa kini, dan masa

(10)

mendatang; di mana sesuatu akan dilihat dari sudut makna historis dulu, makna fungsional saat ini, dan memprediksikan makna (yang dianggap relevan) di kemudian hari; dan (3) Mendudukkan keterkaitan antara teks Alquran dan terapannya.8

Kajian mengenai pendekatan kontekstual dalam studi Islam dewasa ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Fazlur Rahman, sebagai seorang intelektual Islam, Rahman memiliki keperdulian yang tinggi dan berkhidmat untuk menghidupkan khazanah keilmuan Islam dengan cara “menafsir” kembali Islam lewat pengkajian Alquran secara kontekstual. Ia mengemukakan alasan-alasan mengapa perlu memikirkan kembali Islam, di antarnya adalah Islam pada masa kini yang sudah diwarnai oleh ketertutupan ijtihad. Akibatnya, Islam tidak mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Upaya kontekstualisasi nilai-nilai universal Islam yang terkandung di dalam Alquran, tampaknya, tidak akan pernah berhenti sepanjang sejarah kehidupan manusia. Sejarah telah mencatat berbagai upaya tengah dilakukan para pemikir untuk memberikan solusi terhadap berbagai problem kemanusiaan tersebut: kemiskinan, peperangan, penindasan, dan bahkan dekadensi moral. Dalam konteks inilah, Fazlur Rahman kemudian hadir dengan tawaran metodologis bagaimana Alquran sebaiknya dipahami sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya selalu aktual dan relevan dengan isu-isu dan problematika yang dihadapi. Seperti halnya menyangkut masalah-masalah kekinian yang menjadi persoalan mendesak umat diperlukan kontekstualisasi pesan Alquran. Sebagaimana yang dilakukan oleh Fazlur Rahman, yang memandang latar belakang ayat dan kondisi sosial yang melingkupi masyarakat Mekkah ketika Alquran diturunkan sebagai sesuatu yang sangat membantu dalam memahami pesan Alquran dan sarana dalam menemukan prinsip-prinsip umum yang sangat bermanfaat dalam mengentaskan persoalan umat Islam kontemporer.

9

8 Ahmad Syukri Saleh, Metodologi Tafsir Kontemporer dalam Pandangan Fazlur Rahman (Jakarta: Gaung Persada press, 2007), hlm. 58.

9 Muh. Ikhsan, “Tafsir Kontekstual Al-Qur‟an (Telaah atas Metodologi Tafsir Fazlur Rahman)”, dalam ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/shautut-tarbiyah/article/view/151, 2011, hlm. 99-101.

(11)

Metode kontekstual, seperti telah dikemukakan Rahman adalah metode yang mencoba menafsirkan Alquran berdasarkan pertimbangan analisis bahasa, latar belakang sejarah, sosiologi, dan antropologi yang berlaku dan berkembang dalam kehidupan Arab pra-Islam dan selama proses wahyu Alquran berlangsung.

Metode kontekstual ini secara substansial berkaitan erat dengan hermeneutika, yang merupakan salah satu metode penafsiran teks yang dapat berangkat dari kajian bahasa, sejarah, sosiologis dan filosofis.10 Pendapat Rahman ini senada dengan Abdullah Saeed, ia menegaskan bahwa pencarian metode yang bisa diterima dalam periode modern seharusnya tidak mengabaikan dan melupakan tradisi penafsiran klasik secara keseluruhan. Saeed percaya akan perlunya menghargai, belajar dan memanfaatkan apa yang masih relevan dan berguna dari tradisi klasik bagi masalah-masalah kontemporer.11

Dengan demikian, apabila metode ini dipertemukan dengan kajian teks Alquran, maka persoalan dengan tema pokok yang dihadapi adalah bagaimana teks Alquran hadir di tengah masyarakat, lalu dipahami, ditafsirkan, diterjemahkan, dan didialogkan dalam rangka menghadapi realitas sosial dewasa ini. Kehadiran metode ini setidaknya dipicu oleh kekhawatiran yang akan ditimbulkan ketika penafsiran Alquran dilakukan secara tekstual, dengan mengabaikan situasi dan latar belakang turunnya suatu ayat sebagai data sejarah yang penting.12 Menurut penelitian Ngainun Naim, ia menyimpulkan bahwa studi Islam masih membutuhkan perbaikan dalam berbagai aspek. Langkah strategis dan tindakan aplikatif yang diperlukan untuk menghasilkan kerangka yang lebih komprehensif ialah pengembangan dan reorientasi, kontekstualisasi dan penguatan basis filsafat.13

10 Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, (Evanston: Northwestrn University Press, 1969), hlm. 34-35.

11 Abdullah Saeed, The Quran: An Introduction, (New York: Routledge, 2008), hlm. 4-5.

12 Ahmad Syukri Saleh, Metodologi Tafsir…, hlm. 58.

13 Ngainun Naim, “Rekonstruksi Studi Islam”, Sosio-Religia, Vol. 9, No. 3, Mei 2010, hlm.

942.

(12)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Nash (Al-Quran dan Hadist) merupakan firman Allah dan sabda Nabi Saw yang mengandung banyak makna yang tersembunyi. Hal ini tidak bisa didapatkan dalam kajian yang hanya sepintas saja. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami berbagi disiplin ilmu dan berbagai macam pendekatan untuk memahami maksud dan tujuan dari suatu Nash (Al-Quran dan Hadist). Karena hal itu pulalah, Pendekatan Kontekstual dalam Memahami Nash (Al-Quran dan Hadist) menyusun berbagai macam metode untuk memahami hadis salah satunya dengan pendekatan kontekstualan dan macamnya. Oleh karenanya penting pendekatan ini untuk dipahami agar bisa lebih mudah dalam menggapai makna yang tersembunyi dalam suatu Nash (Al-Quran dan Hadist).

B. Saran

Demikianlah makalah ini disusun. Penulis menyadari akan kekurangan dalam penulisan ini. Untuk itu, penulis mengharapkan supaya adanya kritik dan saran yang membangun dari pembaca guna perbaikan dari makalah ini. Sehingga makalah ini akan menjadi sumber belajar yang tepat dalam mengimplementasikan metode kontekstual dalam memahami Nash.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Saeed, The Quran: An Introduction, (New York: Routledge, 2008) Abudin Nata, al-Qur‟an dan Hadits (Dirasah Islamiah I), cet. II, (Jakarta:

Rajawali Press, 1993)

Ahmad Zaini, “Mengurai Sejarah Timbulnya Pemikiran Ilmu Kalam dalam Islam”, Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf, Volume 1, No.1, Januari-Juni 2015

Ahmad Syukri Saleh, Metodologi Tafsir Kontemporer dalam Pandangan Fazlur Rahman (Jakarta: Gaung Persada press, 2007)

M. Syuhudi Ismail, Hadist Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah tentnag Ma‟ani Al-Hadist tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal, dan Lokal Cetakan ke-2 (Jakarta: Bulan Bintang, 2009)

Muh. Ikhsan, “Tafsir Kontekstual Al-Qur‟an (Telaah atas Metodologi Tafsir Fazlur Rahman)”, dalam ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/shautut- tarbiyah/article/view/151, 2011

Ngainun Naim, “Rekonstruksi Studi Islam”, Sosio-Religia, Vol. 9, No. 3, Mei 2010

Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, (Evanston: Northwestrn University Press, 1969)

The Liang Gie, Filsafat Ilmu, Liberty, (Yogyakarta. 1996)

Usman, Raja, Penggunaan Metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar. Cet.

Ke-6 (Yogyakarta : Kompas.com, 2017)

Referensi

Dokumen terkait