Makalah Penistaan Agama dan Penghinaan Terhadap Rasulullah SAW
Tugas ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Semester 1.
Disusun oleh:
Nama : Wulan Dwi Fitriani NPM : 0819014771
Kelas : PAGI B
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pekalongan Tahun 2019
Makalah Penistaan Agama dan Penghinaan Terhadap Rasulullah SAW
Tugas ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Semester 1.
Disusun oleh:
Nama : Ratna Arianti Safitri NPM : 0819014841
Kelas : PAGI B
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pekalongan Tahun 2019
BAB I
PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang
Penistaan agama merupakan tindak penghinaan, penghujatan, atau ketidaksopanan terhadap tokoh-tokoh suci, artefak agama, adat istiadat, dan keyakinan suatu agama.
Penistaan Agama marak karena mereka pada umumnya menawarkan surga yang bersifat instan. Selanjutnya adanya penistaan Agama yang melakukan tindak pidana penipuan yang menjanjikan pembersihan dosa dengan syarat pembayaran sejumlah uang kepada pengikutnya. Selain itu, sejumlah penistaan Agama terkadang juga menawarkan aturan yang meringankan pengikutnya berupa pengurangan kewajiban-kewajiban yang selama ini berlaku di agama konvensional. Faktor lain yang mendorong tumbuh suburnya aliran sesat, adalah ringannya sanksi pidana yang berlaku sehingga tidak memberikan efek jera terhadap pelaku penista Agama. Konsep tindak pidana penistaan Agama membawa konsekuensi apabila suatu perbuatan menodai Agama, namun tidakmengganggu ketentraman orang beragama perbuatan tersebut tidak dapat di pidana, karena tidak mengganggu ketertiban umum. Kebijakan formulasi tindak pidana penistaan Agama menunjukan bahwa kepentingan hukum yang dilindungi adalah Agama itu sendiri. Konsep demikian membawa konsekuensi, tanpa mengganggu ketertiban umum apabila seseorang melakukan perbuatan yang menista Agama maka perbuatan tersebut dapat dipidana.
Para mahasiswa dijadikan sasaran karena mereka dinilai akan cukup efektif untuk direkrut dan diajak menyebarkan penistaan Agama. Mahasiswa yang masih dangkal pemahamannya tentang dasar keagamaan, tentu akan lebih mudah disusupi ajaran yang berunsur sesat. Mereka kemudian seperti tidak punya kekuatan menolak hal yang diperintahkan aliran yang diikutinya. Kalau mereka dipilih sebagai target penyebaran aliran, hal itu bukan saja karena mereka punya prestise sebagai mahasiswa dan pelajar, tetapi setelah itu juga akan mudah mempengaruhi yang lain, mudah mengeluarkan uang, tenaga dan siap melakukan apa saja untuk kepentingan aliran, bahkan demi untuk mendapatkan uang aliran- aliran tersebut memberikan janji-janji palsu (penipuan) guna untuk mendapatkan dana untuk kepentingan penista Agama tersebut. Kalau sudah begitu, mereka tidak lagi peduli adanya tindak kriminal dan apa kata orang tentang aliran yang diikuti dan disebarkannya.
1.2Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu penistaan agama dan penghinaan terhadap Rasulullah SAW?
1.2.2 Bagaimana penistaan agama di Indonesia, adakah contohnya?
1.3Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui penistaan agama dan penghinaan terhadap Rasulullah SAW.
1.3.2 Untuk mengetahui penistaan agama di Indonesia.
BAB II PEMBAHASAN
2.1Penistaan Agama dan Penghinaan terhadap Rasulullah SAW
Pengagungan terhadap Allâh dan Rasul-Nya, mengikat dirinya dengan syariat-Nya dan ridha dengan hukum-hukum Islam adalah indikasi keimanan dan ketakwaan seseorang itu baik, sebagaimana dijelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:
Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [An-Nisâ/4:65].
Sebaliknya, menghina Allâh Azza wa Jalla , Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agama Islam menandakan imannya buruk, bahkan bisa menghilangkan statusnya sebagai Mukmin –‘iyâdzan billâh-.
Menghina agama, sebuah sifat tercela yang melekat pada orang kafir dan munafik serta para penentang Nabi, sehingga Allâh Azza wa Jalla mencela dan mengkafirkan pemilik sifat ini serta menyebut mereka dengan sebutan mujrimîn (orang-orang berdosa) dan zhâlimîn, seperti dalam firman-Nya:
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. [Al-Muthaffifîn/83:29].
Namun sayang, banyak kaum Muslimin yang tidak tahu bahwa mencela agama Islam dengan segala bentuknya, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sungguh-sungguh maupun hanya sekedar bersenda gurau, bisa membatalkan keislamannya. Akibat dari ketidahtahuan ini, ungkapan celaan ini sering terdengar. Jika perkataan buruk itu terlontar dari mulut orang kafir, meski sangat menyakitkan hati kita, tapi itu tidak mengherankan, karena mereka jelas-jelas kafir, tidak beriman dengan agama Islam.
Nabi Muhammad adalah salah satu Nabi utusan Allah SWT yang wajib untuk kita imani sebagai seorang muslim. Bahkan, dalam dua kalimat syahadat, yang merupakan satu syarat untuk menjadi seorang muslim, selain kita bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah kita juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Maka, kita tahu bahwa kedudukan Nabi Muhammad haruslah kita muliakan. Lalu, bagaimana jika ada seseorang yang menghina atau melecehkan Nabi Muhammad?
Melecehkan Nabi Muhammad tentu bukan perkara yang sederhana. Bentuk pelecehan terhadap Nabi Muhammad juga bisa bermacam-macam. Sebagai contoh adalah menjelek- jelekkan Nabi Muhammad dengan segala fitnah, membuat karikatur beliau, dan lain sebagainya.
Segala bentuk pelecehan atau penghinaan pada Nabi Muhammad tentu akan membawa hukum tersendiri.
Dengan menghina Nabi Muhammad, jika dia seorang muslim maka dia dihukumi sama dengan keluar dari agama Islam. Menghina Nabi Muhammad membatalkan saksi di dalam kalimat syahadat yang pernah dia ucapkan. Oleh karena itu, siapapun yang telah menghina Nabi Muhammad, maka dia telah murtad dari agama Islam.
Tidak hanya itu, tindakan penghinaan pada Nabi Muhammad sama saja telah menghina agama Islam dan seluruh umat muslim. Oleh karena itu, umat muslim boleh marah dan menghukum pelaku penghinaan tersebut. Berikut ini akan dibahas hukum menghina Nabi Muhammad.
Berdasarkan kesepakatan para ulama, jika seorang muslim menghina Nabi Muhammad, maka dia telah murtad dari agama Islam. Dalam surat At Taubah ayat 64-66 disebutkan,
“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka:
‘Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)’. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…”
Dari surat At Taubah itu, kita bisa mengetahui bahwa siapa pun yang menghina Allah, ayat Allah dan Rasul Allah termasuk kafir. Hukum ini tidak membedakan antara yang menghina dengan sungguh-sungguh atau sekedar bercanda. Siapa pun orang yang menghina Nabi Muhammad telah dihukumi kafir dan bisa menerima hukuman seperti orang yang keluar dari agama Islam.
Seseorang yang menghina atau meremehkan Nabi Muhammad dan ajaran yang dibawanya juga berarti telah menghina atau meremehkan Allah. Mereka tidak akan memiliki kasih sayang dan ridho Allah di dunia. Maka, tidak jarang orang yang menghina Nabi Muhammad dan ajarannya akan mendapatkan azab atau hukuman di dunia.
Banyak para penghina Nabi Muhammad saw yang mati karena terbunuh oleh para sahabat ataupun suami/istrinya sendiri yang merasa sakit hati akibat penghinaan tersebut. Meski sebelumnya telah diingatkan dan dilarang untuk menghina Nabi Muhammad, orang-orang tersebut tidak bertaubat dan hal inilah yang menyebabkan kemarahan para sahabat Nabi dan umat muslim pada umumnya. Namun, ada juga sejarah yang menceritakan pemberian ampunan kepada penghina Nabi Muhammad yang bertaubat dan masuk Islam, yaitu pada kisah Ka’ab bin Zuhair.
Di zaman sekarang pun masih ada beberapa azab berupa kematian yang merupakan akibat dari seseorang tersebut menghina Nabi Muhammad saw. Seperti yang terjadi pada Theo van Gogh, seorang sutradara film berkebangsaan Belanda. Dia membuat film yang menilai Islam memberi perlakuan buruk pada para muslimah yang membuat marah umat muslim. Hal ini yang membuatnya terbunuh pada tahun 2004, tahun yang sama dengan peluncuran filmnya. Masih ada beberapa contoh serupa lainnya, seperti kasus Charlie Hebdo, Pendeta Omega Suparno dan Pendeta Suradi.
Tidak hanya itu, terdapat cerita-cerita yang sedikit di luar nalar yang terjadi menimpa para penghina Nabi Muhammad saw. Seperti kisah matinya seseorang yang murtad dan menjelek- jelekkan Nabi Muhammad lalu dia mati digigit oleh seekor anjing tepat ketika dia sedang berpidato menjelek-jelekkan Nabi Muhammad saw. Selain itu, ada kisah lainnya yang menceritakan matinya seorang yang murtad dan menghina Nabi Muhammad lalu dia mati dalam keadaan murtad. Maka, ketika dia dikuburkan, jenazahnya kembali keluar dari kubur seolah-olah tidak diterima oleh bumi. Wallahu a’lam. (Baca juga: Azab Meninggalkan Shalat Jumat)
Terlepas dari semua kematian atau akhir hidup yang mengerikan yang dialami oleh para penghina Nabi, masih ada penghina Nabi Muhammad lainnya yang masih hidup hingga sekarang. Bahkan, beberapa di antara mereka yang justru mendapat perlindungan dari negara, bahkan menerima penghargaan atas penghinaan yang mereka lakukan. Hanya para ulil amri atau
khalifah yang sah lah yang berhak untuk memberikan hukuman kepada pelaku penghinaan terhadap Nabi Muhammad.
Untuk hukuman berdasarkan dalil sendiri, masih ada beberapa perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat bahwa jika pelaku penghinaan tersebut mengakui kesalahannya dan bertaubat dengan taubatan nasuha, maka taubatnya bisa diterima. Seperti yang disebutkan bahwa Abdullah bin Sa’d adalah salah satu penulis wahyu. Kemudian, dia murtad dan mengklaim bahwa dia telah menambah sesuatu dalam penulisan wahyu sesuai dengan keinginannya. Ini adalah dusta dan mengada-ada terhadap Nabi Muhammad dan termasuk bentuk penghinaan kepada Nabi Muhammad. Kemudian, dia masuk Islam dan memperbaiki keislamannya. Semoga Allah meridhainya (As Sharim, 115).
Sementara itu, pendapat lainnya yang dianggap benar adalah para ulama menyebutkan bahwa orang yang menghina Nabi Muhammad telah melanggar dua hak, yaitu hak Allah dan hak manusia. Dia telah melanggar hak Allah karena telah menghina utusan-Nya, kitab dan agama- Nya. Sementara itu, dia juga melanggar hak manusia karena telah melakukan perbuatan keji terhadap Nabi Muhammad lewat penghinaannya. Sehingga hukuman yang berkaitan dengan pelanggaran hak Allah dan hak manusia tidak bisa dihilangkan dengan taubat.
Kewajiban menghormati Nabi Muhammad. Jika kita telah dilarang keras untuk menghina Nabi Muhammad, maka kita diwajibkan untuk menghormati Nabi Muhammad. Hal ini bisa kita lakukan dengan senantiasa mengagungkan ajaran Nabi Muhammad dalam keseharian kita.
Terdapat keutamaan dalam mengagungkan ajaran Nabi Muhammad, seperti pada surat An Nisa ayat 80, “Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah”.
2.2Kejadian penistaan agama dan penghinaan terhadap Rasulullah SAW
2.2.1
Lia Aminudin, atau Lia Eden - mengaku sebagai imam Mahdi dan
mendapat wahyu dari malaikat Jibril, 2006
Lia -yang mengaku pernah bertemu Bunda Maria- dijebloskan ke penjara dua kali.
Pertama pada Juni 2006, divonis dua tahun karena terbukti menodai agama dan tiga tahun kemudian pada 2009 juga dengan alasan yang sama setelah polisi menyita ratusan brosur yang dinilai menodai agama.
2.2.2 Arswendo Atmowiloto - penulis yang dijeboloskan penjara karena survei tabloid Monitor, 1990
Penulis dan wartawan Arswendo Atmowiloto dipenjara selama empat tahun enam bulan, keputusan banding di Pengadilan Tinggi dan Mahkahmah Agung, terkait survei untuk tabloid Monitor dengan lebih 33.000 kartu pos dari pembaca. Dalam survei tokoh pilihan pembaca tersebut, Presiden Soeharto kala itu berada di tempat pertama sementara Nabi Muhammad di urutan ke-11. Survei ini menimbulkan aksi massa.
2.2.3 HB Jassin, cerpen Langit Makin Mendung, 1968
Sastrawan HB Jassin banyak dikritik setelah menerbitkan cerita pendek Langit Makin Mendung karena penggambaran Allah, Nabi Muhammad dan Jibril dan menyebabkan kantor majalah Sastra di Jakarta diserang massa.
HB Jassin telah meminta maaf namun tetap diadili karena penistaan dan dijatuhi hukuman percobaan selama satu tahun. Kasus-kasus di atas, menurut Rumadi Ahmad,
"Dari HB Jassin, Arswendo, (Lia Aminudin), yang dijadikan argumen bukan semata- mata dia memenuhi norma penodaan agama dalam kasus 156a KUHP tapi yang jadi pintu masuk utama apakah ada keresehan sejumlah orang atau tidak." Rumadi menyebut sejumlah kasus yang tidak menimbulkan aksi massa besar dan tertuduh tidak sampai dijebloskan ke penjara. Kasus yang disebut Rumadi termasuk Teguh Santosa, pemimpin Rakyat Merdeka online pada tahun 2006 dan harian The Jakarta Post pada 2014.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :
1. Penyebab timbulnya kejahatan penistaan agama didasari oleh faktor;
Pertama, minimnya pengetahuan mengenai ilmu Agama, sehingga dalam pergaulan hidup sehari-hari dapat dipengaruhi oleh penistaan Agama yang dianggap sesatyang memiliki faham berbeda dengan ajaran agama yang diakui sebenarnya.
Sehingga dapat dengan mudah Doktrin-doktrin dari aliran sesat tersebut masuk ke pada orang-orang yang minim ilmu tentang Agama. Kedua, Lemahnya penegakan hukum, dalam penegakan hukum tindak pidana penistaan Agama selalu bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), dan kepentingan sosial yang menyangkut orang banyak. Sehingga dalam penjatuhan hukuman bagi pelaku penistaan Agama adanya ketidak tegasan dalam pengambilan keputusan oleh para penegak hukum sehingga tidak maksimal yang dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku dan bagi oknum-oknum yang lain. Ketiga, munculnya pembela aliran sesat atau penista agama, munculnya pembelaan-pembelaan bagi para penista agama yang mengatasnamakan akan hak Asasi Manusia (HAM) membuat para penista agama beranggapan bahwa keyakinan yang mereka jalankan adalah benar berdasarkan Hak Asasi Manusia (HAM) dan menumbuhkan rasa keberanian untuk mempertahankan keyakinan tersebut.
Keempat, media tidak berpihak pada umat islam, dalam pemberitaan di media umat islam selalu menjadi pihak yang antagonis dalam perkara terebut hal ini disebabkan karena penista agama melakukan kejahatan sosial yang
menyebabkan umat islam, takut akan penistaan Agama tersebut menyebar dan merusak ajaran agama islam yang berdasarkan syariat. Dalam hal ini pun tidak ada kontrol dari pemuka islam yang ada sehinggan terjadi kerusuhan.