• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Psychological and Psychiatric Foundations of Criminal Behavior

N/A
N/A
Zahra Khumairah

Academic year: 2024

Membagikan " Makalah Psychological and Psychiatric Foundations of Criminal Behavior"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PERILAKU KRIMNAL DALAM TINJAUAN PSIKOLOGI MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Admnistrasi Peradilan Dosen Pengampu :

Disusun Oleh :

Intan Sri Maulani 1213010070

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2024

KATA PENGHANTAR

(2)

Bismillahirrahmanirrahim Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena dengan limpahan rahmat dan hidayahnya akhirnya makalah ini dapat kami selesaikan dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Kami menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, penyusunan makalah ini tidak akan berjalan dengan baik, untuk itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Terutama kami sangat mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga kami mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Psikologi Hukum dengan Judul “Perilaku Kriminal Dalam Tinjauan Psikologi”.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk makalah ini tentunya yang bersifat membangun demi kesempurnaan atau bisa lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Terimakasih.

Bandung, 31 Maret 2024

(3)

DAFTAR ISI

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sejak zaman dahulu sudah banyak kasus-kasus kriminal yang terjadi di Indonesia, seperti pencurian, perampokan, penganiayaan, perampasan, korupsi, dan lain sebagainya. Ditambah dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat para pelaku tindak kriminal semakin gencar menjalankan aksinya dengan berbagai cara. Banyak faktor yang mempengaruhi para pelaku tindak kriminal tersebut, salah satunya yaitu faktor psikologi.

Psikologi sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno : psyche yang artinya jiwa dan logos yang artinya kata. Dalam arti bebas, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa atau mental. Psikologi sendiri tidak mempelajari kondisi jiwa secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada bagian ekspresi juga manifesti dari kondisi jiwa tersebut, yaitu berupa tingkah laku dan proses kegiatannya. Sehingga psikologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai tingkah laku dan proses mental atau jiwa seseorang.

Terdapat tiga tradisi besar orientasi teori psikologi dalam menjelaskan perilaku manusia.

Pertama, perilaku disebabkan dari alam (deternimistik). Kedua, faktor disebabkan oleh pengaruh lingkungan atau proses belajar. Ketiga, faktor disebabkan interaksi manusia dan lingkungan. Berdasarkan teori-teori psikologi tersebut dapat dilihat bahwa dalam proses perkembangan kehidupan manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan satu sama lain menjadi suatu sintesa yang membentuk karakter watak secara psikologis tiap- tiap individu.

Psikologi memiliki berbagai peran dalam kehidupan manusia. Salah satunya yaitu peran psikologi dalam kriminologi. Pada era modern, kriminologi diartikan sebagai ilmu yang mengkaji dan membahas kejahatan dan penyimpangan tingkah laku manusia baik sebagai sebuah gejala sosial maupun psikologi. Oleh karena itu, dunia hukum membutuhkan disiplin ilmu lain yang mampu menjelaskan setiap penyimpangan, kaitannya dengan perilaku, serta situasi psikologis tertentu yang memotivasi perilaku kejahatan (terdesak, panik, marah, cemburu, depresi, gangguan jiwa)

(5)

Psikologi dalam dunia kriminal sering disebut dengan psikologi kriminal. Penentu psikologis perilaku menyimpang atau kriminal dituangkan dalam berbagai istilah, seperti karakteristik kepribadian eksploitatif, kontrol impuls yang buruk, gairah emosional, kepribadian yang belum matang, dan sebagainya.

Namun, sebelum memulai pembahasan teori psikologi kriminal, perlu diberikan gambaran singkat tentang terminologi yang digunakan untuk menggambarkan studi psikologis tentang kejahatan dan kriminalitas. Psikologi forensik adalah penelitian dan teori psikologi yang berkaitan dengan efek-efek dari faktor kognitif, afektif, dan perilaku terhadap proses hukum. Tidak seperti psikolog forensik (yang umumnya bergelar PhD), psikiater forensik adalah dokter medis, dan psikiatri forensik adalah subspesialisasi medis yang menerapkan psikiatri untuk kebutuhan pencegahan dan solusi kejahatan, rehabilitasi kriminal, dan masalah hukum pidana.

B. Rumusan Masalah 1.

(6)

BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Psikologi Kriminal

Menurut Sigmund Freud, psikologi kriminal adalah dengan menggunakan teori psikoanalisa menghubungkan antara delinquent (kejahatan) dan perilaku kriminal dengan suatu conscience (hati nurani) yang baik dia begitu menguasai sehingga menimbulkan perasaan bersalah atau ia begitu lemah sehingga tidak dapat mengontrol dorongandorongan individu.

Psikologi kriminal merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari psikologi (kondisi perilaku atau kejiwaan) pelaku tindak kriminal serta semua atau yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan tindakan yang dilakukan dan keseluruhan- keseluruaan akibatnya. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat di tarik pemahaman bahwa ilmu psikologi kriminal merupakan suatu metode yang dipergunakan guna mengidentifikasi penyebab terjadinya kejahatan yang diakibatkan oleh kelainan perilaku atau faktor kejiwaan si pelaku tindak kriminal.

Psikologi kriminal dalam hal ini juga mempelajari tingkah laku individu itu khususnya dan juga mengapa muncul tingkah laku asosial maupun bersifat kriminal. Tingkah laku individu atau manusia yang asosial ataupun yang bersifat kriminal tidaklah dapat dipisahkan dari manusia lain, karena manusia yang satu dengan lainnya adalah merupakan suatu jaringan dan mempunyai dasar yang sama.

2. Sejarah Teori Psikologi Kriminal

Dua gagasan utama yang mencirikan awal teori-teori psikologi adalah kepribadian dan behaviorisme. Teori kepribadian dibangun di atas bidang perkembangan ilmu kognitif termasuk gangguan kepribadian, proses perkembangan moral, dan pikiran. Dari teori ini dapat dilihat bahwa aspek pandangan dan kemampuan individu dalam proses pembelajaran afektif, kognitif dan psikomotorik sangat berperan dalam membentuk karakter individu, dalam proses perkembangannya sebagai individu dalam masyarakat sehingga dalam hal ini dapat diambil pemahaman bahwa karakter manusia terbentuk karena adanya kontak antara pengaruh positif dan negatif.

(7)

Sedangkan behaviorisme atau yang dikenal sebagai teori perilaku, mengkaji pembelajaran sosial dengan penekanan pada pengkondisian perilaku. Premis dasar dari teori ini menyatakan bahwa perilaku manusia selain disebabkan faktor lingkungan juga disebabkan faktor internal. Artinya manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan lingkungan juga dapat dipengaruhi manusia. Kedua bidang ini berperan dalam membentuk fondasi awal psikologi kriminal.

3. Teori Psikologi Kriminal a. Trait Theory (Teori Sifat)

Pada tahun 1964, Hans J. Eysenck, seorang psikolog Inggris, menerbitkan sebuah buku

“Kejahatan dan Kepribadian”, di mana dia menjelaskan kejahatan sebagai hasil dari karakteristik kepribadian yang mendasar atau sifat-sifat yang dia yakini sebagian besar diwariskan. Karakteristik kepribadian individu sifatnya relatif tetap dan konsisten serta tiap- tiap individu berbeda.

Menurut teori sifat, ketika seorang bertambah tua atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain, kepribadiannya sebagian besar tetap utuh didefinisikan oleh ciri-ciri yang membentuknya. Orang yang cenderung melakukan tindakan kriminal dicirikan oleh egoisme, ketidakpedulian terhadap penderitaan dan kebutuhan orang lain, impulsif, dan kontrol diri yang rendah, dominansi sangat kuat, power yang lebih, cenderung asertif.

b. Cognitive Theory (Teori Kognitif)

Teori kognitif adalah teori belajar yang mengkaji proses berpikir dan berusaha menjelaskan bagaimana orang (1) belajar memecahkan masalah, termasuk yang melibatkan pertanyaan tentang nilai dan moralitas, dan (2) memahami dan menafsirkan lingkungan sosial. Teori kognitif memiliki cabang, termasuk yang berfokus pada perkembangan moral dan intelektual. Berikut adalah cabang-cabang teori kognitif :

1. Moral Development Theory (Teori Perkembangan Moral)

Cabang pertama dari teori kognitif yaitu teori perkembangan moral. Menurut teori perkembangan moral bahwa individu menjadi kriminal ketika mereka tidak berhasil menyelesaikan perkembangan intelektualnya dari anak-anak hingga dewasa. Salah satu peta komprehensif pertama tentang perkembangan psikologis manusia diciptakan oleh

(8)

perkembangan psikolog Swiss Jean Piaget. Piaget percaya bahwa pemikiran manusia dan proses intelektual melewati sejumlah tahap perkembangan biopsikologis.

Piaget mengemukakan empat tahap perkembangan intelektual manusia: (1) Tahap sensorik-motorik, yang berlangsung sejak lahir hingga usia dua tahun. Selama tahap ini, anak-anak sangat egosentris atau fokus pada diri mereka sendiri dan pengalaman pribadi mereka serta belajar tentang dunia melalui indera fisik dan gerakan tubuh mereka. (2) Tahap praoperasional, yang berlangsung dari usia dua sampai tujuh tahun. Selama tahap ini, anak-anak tidak dapat bernalar dengan baik atau menggunakan pemikiran logis, tetapi egosentrisme mulai melemah, dan keterampilan motorik diperoleh. (3) Tahap operasional konkret, yang berlangsung dari usia 7 hingga 11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai mengembangkan kemampuan menalar dan berpikir logis, meskipun sangat konkret pemikirannya, dan seringkali membutuhkan alat bantu praktis seperti kancing-kancing atau koin untuk membantu dalam menghitung dan aritmatika. Pada saat anak mencapai tahap ini, mereka tidak lagi egosentris dan mampu menghargai kebutuhan dan perasaan orang lain. (4) Tahap operasional formal, yang berlangsung dari usia 11 hingga 16 tahun dan berlanjut hingga dewasa. Pada tahap ini, remaja berkembang dan memperoleh keterampilan penalaran abstrak serta belajar bagaimana berpikir dan bernalar tanpa memerlukan bantuan dari luar.

Inti dari perspektif Piaget tentang perkembangan moral adalah gagasan bahwa ketika anak-anak tumbuh dan belajar, mereka menjadi mampu merefleksikan tindakan mereka sendiri dan memperoleh pemahaman tentang aturan tak tertulis yang mengatur interaksi manusia. Ketika seorang anak telah melewati empat perkembangan tahap tersebut, dia akan berpindah dari moral absolutisme (dimana anak tanpa ragu menerima perintah orang tua atau pengasuhnya) ke relativisme moral (dimana tindakan dipandang benar atau salah tergantung pada keadaan di mana tindakan itu dilakukan).

2. Cognitive Information Processing Theory (Teori Pemrosesan Informasi kognitif) Bidang kedua dari teori kognitif yang berlaku untuk kriminologi adalah teori pemrosesan informasi kognitif. Teori ini melibatkan studi tentang persepsi manusia, pemrosesan informasi, dan pengambilan keputusan. Penelitian psikologis menunjukkan bahwa orang membuat keputusan dengan terlibat dalam serangkaian proses berpikir yang kompleks, atau langkah-langkah. Pada langkah pertama, mereka mengodekan dan

(9)

menginterpretasikan informasi yang disajikan atau pengalaman yang mereka miliki. Pada tahap selanjutnya, mereka mencari respon yang tepat. Lalu pada tahap ketiga, mereka bertindak berdasarkan keputusan mereka.

Beberapa ahli teori pemrosesan informasi percaya bahwa yang melakukan kekerasan individu mungkin menggunakan informasi kemudian membuat keputusan secara tidak benar. Penelitian yang mendukung menunjukkan bahwa beberapa orang terlibat dalam serangan kekerasan terhadap orang lain karena mereka percaya bahwa mereka sebenarnya membela diri, bahkan dalam menghadapi ancaman yang salah persepsi.

Karena beberapa cara alami orang memproses informasi, mereka tidak dapat mengenali bahaya yang mereka lakukan kepada orang lain.

c. Script Theory

Pada akhir 1970-an, Roger C. Schank dan Robert P. Abelson dari Universitas Yale mengembangkan teori skrip untuk menjelaskan proses pemahaman selama situasi atau peristiwa yang terjadi. Skrip merujuk pada pengetahuan umum tentang hal-hal tertentu, jenis situasi yang tersimpan dalam pikiran. Secara lebih formal, Schank dan Abelson menggambarkan skrip sebagai sesuatu yang telah ditentukan sebelumnya atau urutan tindakan stereotip yang mendefinisikan suatu situasi.

Menurut Helen Gavin dan David Hockey, dua kriminolog Inggris, skrip digunakan untuk memandu perilaku karena skrip memberikan serangkaian kepada pemegangnya tentang apa yang akan terjadi selama berlangsungnya suatu peristiwa, sehingga menawarkan cara memprediksi hasil dan membantu individu untuk bertindak. Penjahat menggunakan skrip untuk melakukan kejahatan dan banyak yang menjadi rutinitas dari waktu ke waktu.

d. The Psychoanalytic Perspective Criminal Behavior as Maladaptation

Sigmund Freud menciptakan istilah psikoanalisis pada tahun 1896 dan mendasarkan seluruh teori perilaku manusia di atasnya. Freud tidak mengatakan apa-apa tentang perilaku kriminal, dan baru kemudian psikoanalis lain mulai menerapkan konsep yang telah dikembangkan Freud untuk mempelajari perilaku kriminal. Dari sudut pandang psikoanalisis, perilaku kriminal adalah maladaptif, atau produk dari kekurangan kepribadian pelaku.

Ketidakcukupan yang signifikan dapat mengakibatkan penyakit mental yang parah, yang dapat

(10)

menjadi penyebab langsung kejahatan. Perspektif psikoanalitik mencakup pengertian yang beragam seperti kepribadian, neurosis, dan psikosis, dan konsep yang lebih spesifik seperti transferensi, sublimasi, dan represi.

Teori psikoanalisa Sigmund Freud tentang kriminalitas menghubungkan delinquent (kejahatan) dan perilaku kriminal dengan suatu conscience (hati nurani) yang baik dia begitu menguasai, sehingga menimbulkan perasaan bersalah atau ia begitu lemah sehingga tidak dapat mengontrol dorongan-dorongan individu, dan bagi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi segera.

Seseorang melakukan perilaku yang terlarang karena hati nurani, atau superego-nya begitu lemah atau tidak sempurna sehingga ego-nya (yang berperan sebagai suatu penengah antara superego dan id) tidak mampu mengontrol dorongan-dorongan dari id (bagian dari kepribadian yang mengandung keinginan dan dorongan yang kuat untuk dipuaskan dan dipenuhi). Karena superego intinya merupakan suatu citra orang tua yang begitu mendalam, terbangun ketika anak menerima sikap-sikap dan nilai-nilai moral orang tuanya, maka selanjutnya apabila ada ketiadaan citra seperti itu mungkin akan melahirkan id yang terkendali dan berikutnya delinquency.

e. Frustration-Aggression Theory (Teori Frustasi-Agresi)

Dalam tulisan awalnya, Freud menyarankan bahwa perilaku agresif adalah respons alami terhadap frustrasi dan keterbatasan yang dikenakan pada seseorang. Teori frustrasi-agresi ini kemudian dikembangkan lebih lengkap dalam tulisan-tulisan J. Dollard, Albert Bandura, Richard H. Walters, dan lain-lain. Teori frustrasi-agresi Dollard menyatakan bahwa frustrasi dapat menyebabkan berbagai bentuk perilaku termasuk regresi, sublimasi, dan fantasi agresif langsung terhadap orang lain dan itu adalah konsekuensi yang paling mungkin terjadi.

Karena setiap orang terkadang mengalami frustrasi dalam hidup.

f. Crime as Adaptation (Kejahatan sebagai Adaptasi)

Beberapa psikiater melihat kejahatan sebagai adaptasi terhadap tekanan hidup. Menurut Seymour L. Halleck, seorang psikiater dan asisten profesor hukum di University of North Carolina di Chapel Hill, beralih ke kejahatan dapat memberikan rasa pada individu yang kehilangan hak kekuasaan dan tujuan. Jadi, kejahatan menurut Halleck, menyediakan sumber

(11)

daya yang nyaman untuk menyangkal, melupakan atau mengabaikan kekurangan lainnya.

Pilihan kejahatan untuk mengurangi stres individu dihadapi dengan menghasilkan perubahan lingkungan, hal ini disebut sebagai adaptasi aloplastik.

Ketika kejahatan mengarah pada pengurangan stres sebagai akibat dari perubahan internal dalam kepercayaan, sistem nilai dan sebagainya, itu disebut autoplastik adaptasi.

Pelaku yang mampu menyangkal tanggung jawab atas kegagalan lain dengan beralih ke kejahatan dikatakan mencari autoplastik adaptasi. Karena bentuk perilaku lain juga dapat memenuhi banyak kebutuhan yang sama seperti kejahatan. Halleck menunjukkan bahwa seorang individu dapat memilih kejahatan di atas berbagai alternatif perilaku lainnya hanya ketika tidak ada alternatif masuk akal lainnya yang tersedia atau ketika perilaku kriminal memiliki keuntungan yang melekat.

g. Attachment Theory (Teori Keterikatan)

Pendekatan psikologis lain untuk menjelaskan kejahatan dan kenakalan adalah teori keterikatan, pertama kali diusulkan oleh psikiater anak di Inggris, John Bowlby (1907-1990), yang mengamati anak-anak selama masa studinya. Menurut teori keterikatan, perilaku nakal muncul ketika keterikatan aman tidak diciptakan. Anxious-avoidant attachment berkembang ketika anak-anak merasakan penolakan dan kurang percaya diri mengenai dukungan orang tua dan perhatian. Keterikatan tahan kecemasan berkembang dari pengalaman dan menghasilkan perasaan ketidakpastian, menyebabkan anak dan kemudian, orang dewasa merasa cemas, takut terhadap lingkungannya.

Teori keterikatan memprediksi bahwa individu yang paling bermasalah adalah mereka yang ditinggalkan pada usia dini, yang mengalami banyak penempatan seperti di panti asuhan dan sebagainya, yang harus menghadapi ketidakhadiran awal salah satu atau kedua orang tua, dan yang menghadapi traumatis kondisi fisik, seksual, atau pelecehan lainnya pada saat usia dini. Tes teori keterikatan tampaknya mengkonfirmasi bahwa kesulitan di masa kanak-kanak (terutama sebelum usia delapan tahun) menghasilkan kriminalitas di kemudian hari.

Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan di lingkungan yang tidak aman cenderung terlibat dalam perilaku kekerasan sebagai orang dewasa dan masa kanak- kanak itu. Ketidakamanan mengarah pada kurangnya empati. Beberapa ahli teori keterikatan percaya bahwa pengembangan empati adalah satu-satunya faktor terpenting yang

(12)

mengarah pada konformitas. Ketika anak-anak tidak menerima empati dari orang-orang di sekitar

(13)

mereka, mereka tampaknya juga tidak dapat melihat orang lain layak mendapatkan empati dan menjadi lebih mungkin untuk melukai orang lain.

h. Behavior Theory (Teori Perilaku)

Teori perilaku kadang disebut sebagai stimulus perilaku manusia. Ketika perilaku individu menghasilkan penghargaan atau umpan balik yang individu anggap menyenangkan dan diinginkan, maka perilaku tersebutakan kemungkinan menjadi lebih sering. Dalam keadaan seperti itu, perilaku tersebut diperkuat, dan penghargaan itu sendiri disebut sebagai bala bantuan. Sebaliknya, ketika hukuman mengikuti perilaku, kemungkinan frekuensi perilaku tersebut akan berkurang.

Menurut teori perilaku, melalui penerapan penghargaan dan hukuman itulah perilaku dibentuk. Teori perilaku berbeda dari teori psikologi lainnya dalam hal determinan utama perilaku dibayangkan ada di lingkungan sekitar individu daripada di dalam individu.

Mungkin pendukung paling terkenal teori perilaku adalah BF Skinner (1904-1990).

Teori perilaku penting dalam studi kriminologi karena banyak perilaku manusia adalah hasil dari pengkondisian dan orang dapat dikondisikan untuk menanggapi situasi dengan perilaku prososial atau antisosial. Ini juga penting, karena ini adalah fondasi di mana teori kognisi sosial dibangun.

i. Modeling Theory (Teori Pemodelan)

Teori pemodelan mengakui fakta bahwa orang belajar bagaimana bertindak melalui pengalaman hidup mereka dan terutama dengan mengamati orang lain. Bandura menulis bahwa "Kebanyakan perilaku manusia dipelajari melalui pengamatan melalui pemodelan dari mengamati orang lain, seseorang membentuk gagasan tentang bagaimana perilaku baru dilakukan, dan pada kesempatan berikutnya informasi kode ini berfungsi sebagai panduan untuk bertindak."

Kritik Terkait Teori Psikologi dan Psikiatri dalam Kriminologi

a. Teori Freud telah dikritik pada beberapa tingkatan. Kritik pertama dan paling mendasar dari teori ini adalah kurangnya dukungan ilmiah. Kritik menunjukkan bahwa teori Freud tidak didasarkan pada penelitian dan tidak ada dukungan substansial untuk konsep- konsepnya. Dengan demikian, teori Freud dipandang kurang sebagai penjelasan ilmiah untuk perilaku manusia.

(14)

b. Selain itu, beberapa mengklaim bahwa teori psikiatri, yang dibedakan dari yang psikologis, hanya cocok untuk penjelasan tentang kognisi abnormal dan tidak berlaku baik untuk orang normal yang beralih ke kejahatan.

c. Teori perilaku telah dikritik karena mengabaikan peran yang dimainkan dalam perilaku manusia. Para martir misalnya, bertahan dalam apa yang mungkin didefinisikan oleh masyarakat luas sebagai perilaku yang tidak diinginkan, bahkan dalam menghadapi hukuman berat termasuk kehilangan nyawa mereka sendiri.

d. Teori pemodelan, bentuk yang lebih canggih dari teori kognitif telah dikritik karena kurang memiliki kekuatan penjelas yang komprehensif.

(15)

BAB III PENUTUP

Psikologi kriminal merupakan suatu metode yang dipergunakan guna mengidentifikasi penyebab terjadinya kejahatan yang diakibatkan oleh kelainan perilaku atau faktor kejiwaan si pelaku tindak kriminal. Dua gagasan utama yang mencirikan awal teori-teori psikologi adalah kepribadian dan behaviorisme. Yang termasuk teori psikologi kriminal antara lain :

j. Trait Theory (Teori Sifat)

k. Cognitive Theory (Teori Kognitif) l. Script Theory

m. The Psychoanalytic Perspective Criminal Behavior as Maladaptation n. Frustration-Aggression Theory (Teori Frustasi-Agresi)

o. Crime as Adaptation (Kejahatan sebagai Adaptasi) p. Attachment Theory (Teori Keterikatan)

q. Behavior Theory (Teori Perilaku) r. Modeling Theory (Teori Pemodelan)

Kritik terkait teori psikologi dan psikiatri dalam kriminologi antara lain : (1) Teori Freud telah dikritik pada beberapa tingkatan. Kritik pertama dan paling mendasar dari teori ini adalah kurangnya dukungan ilmiah. (2) Selain itu, beberapa mengklaim bahwa teori psikiatri yang dibedakan dari yang psikologis, hanya cocok untuk penjelasan tentang kognisi abnormal. (3) Teori perilaku telah dikritik karena mengabaikan peran yang dimainkan dalam perilaku manusia. (4) Teori pemodelan, bentuk yang lebih canggih dari teori kognitif telah dikritik karena kurang memiliki kekuatan penjelas yang komprehensif.

(16)

DAFTAR PUSTAKA Buku :

Achjani, Eva, dan Topo Santoso. 2010. Kriminologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Schmalleger, Frank. 2017. Criminology Today : An Integrated Introduction. (Edisi ke-8).

Pembroke : Universitas Carolina Utara

Thahir, Andi. 2016. Psikologi Kriminal. Bandar Lampung.

Website :

Indonesia, CNN. 2019. Bunuh Adik Ipar, Eks Wakapolres Tak Dibui karena Sakit Jiwa.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190207164230-12-367226/bunuh-adik-ipar- eks-wakapolres-tak-dibui-karena-sakit-jiwa (diakses pada 12 September 2021 pukul 17.23 WIB)

Referensi

Dokumen terkait