MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM
“WALI SONGO PENYEBAR ISLAM”
Dosen Pengampuh : Dr Jarir M.Ag
Disusun Oleh :
KARINA (11754202174)
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU
2019
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan banyak nikmat hidup dan nikmat iman serta kesempurnaan dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain. Sebagai manusia kita wajib untuk senantiasa mensyukuri nikmatnya dan berusaha membalas semua kebaikan yang Allah berikan kepada kita semua dengan cara menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, seorang Rosul yang di dalam dirinya terdapat suri tauladan yang baik bagi kita semua. Dalam makalah yang berjudul “Wali Songo Penyebar Islam” Alhamdulillah telah bisa disusun dengan mengumpulkan berbagai macam referensi. saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu, saya mohon maaf atas kekurangan tersebut. Besar harapan saya agar makalah ini dapat berguna untuk semua orang yang membaca.
Pekanbaru, 15 Desember 2019
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi ini, hampir semua bidang kehidupan rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam telah dirambah oleh bangsa lain, terutama bangsa barat yang note bene bukan Islam bahkan cenderung tidak menghiraukan norma-norma agama. Saya sengaja menyusun makalah mengenai Wali Songo ini dengan harapan agar para orang tua, para guru, para penulis, dan para anak-anak mempunyai wawasan lebih luas mengenai penyebaran agama Islam.
Makalah ini berisi riwayat para penyebar agama Islam, asal-mula kemunculan Islam di tanah Jawa menempati realitas unik sehingga pada dasawarsa terakhir ini muncul statemen untuk menghidupkan dinamika keagamaan dan keberagamaan masyarakat di Jawa umumnya dengan semangat menghidupkan Islam Nusantara. Pengkultusan pola Islam yang muncul di tengah- tengah kehidupan masyarakat Jawa sejatinya ingin meneguhkan eksitensi kenusantaraan Islam di Jawa bahwa Islam mulai berkembang di Nusantara sekitar abad 13 M . Hal tersebut tak lepas dari peran tokoh serta ulama yang hidup pada saat itu, dan diantara tokoh yang sangat berjasa dalam proses Islamisasi di Nusantara terutama di tanah Jawa adalah “Wali Songo”. Peran Wali Songo dalam proses Islamisasi di tanah Jawa sangat besar. Tokoh Wali Songo yang begitu dekat dikalangan masyarakat muslim kultural Jawa sangat mereka hormati. Hal ini karena ajaran- ajaran dan dakwahnya yang unik serta sosoknya yang menjadi teladan serta ramah terhadap masyarakat Jawa sehingga dengan mudah Islam menyebar ke seluruh wilayah Nusantara.
Para Wali sama sekali tidak menggunakan kekerasan untuk berdakwah. Mereka menempuh jalan damai, dakwah bil hal, dengan tingkah laku dan perbuatan mereka sendiri yang sesuai denga ajaran Islam. Sehingga tampak mutu dan ketinggian agama Islam yang sangat demokratis. Mereka juga memanfaatkan media masyarakat pada saat itu sebagai sarana penunjang dakwah. Mereka berusaha keras menciptakan budaya baru yang penuh kreatifitas
sehingga lahirlah aneka jenis mainan dan dolanan anak-anak yang bernafaskan falsafah Islami, baik berupa tembang atau lagu, gending tarian dan aneka jenis permainan lainnya.
Mereka juga menciptakan sastra Jawa yang sangat tinggi nilai estetis dan falsafahnya, seperti Suluk, lakon Wayang Caranga Dewa Ruci, dan beberapa karya sastra lainnya. Kisah perjuangan mereka sangat unik. Pada saat berhadapan dengan rakyat jelata, rakyat awam, orang- orang sakti, para sarjana (Brahmana dan pendeta Budha) maupun ketika berhadapan dengan para penguasa. Keberhasilan para Wali Songo pantas kita renungkan, kita jadikan pijakan untuk melangkah di zaman modern ini dengan tantangan dakwah yang berbeda namun pada hakekatnya sama yaitu mengembangkan agama islam di daerah masing-masing.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa pengertian Wali Songo?
b. Siapa saja tokoh-tokoh Wali Songo?
c. Apa saja strategi dan metode dakwah Wali Songo?
d. Bagaimana peran Wali Songo dalam penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia?
e. Apa saja aktifitas dakwah Wali Songo?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui apa pengertian Wali Songo?
b. Untuk mengetahui siapa saja tokoh-tokoh Wali Songo?
c. Untuk mengetahui apa saja strategi dan metode dakwah Wali Songo?
d. Untuk mengetahui bagaimana peran Wali Songo dalam penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia?
e. Untuk mengetahui apa saja aktifitas dakwah Wali Songo?
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Wali Songo
Istilah wali berasal dari bahasa Arab, artinya tercinta, pembantu, penolong dan pemimpin. Bentuk pluralnya adalah auliya’. Al-Qur’an menyifati para wali Allah sebagai orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Tidak adak kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Wali Songo disini diartikan sekumpulan orang (semacam dewan dakwah) yang dianggap memiliki hak untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat Islam di bumi Nusantara pada zamannya.1
Kata “wali” menurut istilah, ialah sebutan bagi orang-orang Islam yang dianggap keramat, penyebar agama Islam, mereka dianggap “kekasih Allah”, orang-orang yang dekat dengan Allah, dikaruniai tenaga gaib, mempunyai kekuatan-kekuatan batin yang sangat berlebih, mempunyai ilmu yang sangat tinggi, dan sakti berjaya-kewijayaan (Effendy Zarkasi, 1977: 52).
Sebagian penulis berpendapat bahwa istilah Wali Songo berasal dari bahasa Arab , yaitu wali dan tsana’(mulia), sehingga berarti para wali yang mulia. Sebagian lagi berpendapat istilah Wali Songo berasal dari bahasa Jawa, yaitu wali dan sana (baca: sono), yaitu tempat. Ada pula yang menyebut dengan Wali Songo berarti sembilan wali atau bahkan ada yang menyatakan Wali Sangha.
Dari berbagai pendapat tersebut, yang paling kuat adalah berdasarkan istilah dan fakta sejarah, yaitu bahwa Wali Songo adalah sebuah dewan dakwah, dewan mubaligh2, organisasi ulama dalam bentuk lembaga dakwah para wali yang berjumlah sembilan. Setiap ada yang wafat atau meninggalkan Jawa maka diangkat wali lain sebagai penggantinya sehingga tetap berjumlah
1 Mas’udi, “DAKWAH NUSANTARA (Kerangka Harmonis Dakwah Walisongo dalam Diseminasi Ajaran Islam di Nusantara)”, dalam kearsipan STAIN Kudus, STAIN, 2015, hlm. 286.
2 Rachmad Abdullah, Wali Songo Glora Dakwah Dan Jihad Ditanah Jawa (1404-1482 M)(Solo: Al-Wafi, 2015), hal. 68
sembilan. Para Wali Songo adalah pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasa dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat jawa mulai dari perniagaan, pelayaran dan perikanan, bercocok tanam dan persawahan, pengobatan, kebudayaan, kesenian, pendidikan, kemasyarakatan, hingga kedalam masalah aqidah, politik, militer, hukum, dan pemerintahan dikerajaan-kerajaan Islam.
2.2 Tokoh-tokoh Wali Songo
Ada pun nama-nama sembilan orang Wali Songo yang umumnya dikenal adalah Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik (wafat Tahun 1419), Sunan Ampel (lahir tahun 1401), Sunan Giri atau dikenal pula sebagai Raden Paku, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah atau juga dikenal dengan Fatahillah (wafat tahun 1570), Suan Muria atau Raden Said, Sunan Kudus atau dikenal pula sebagai Syekh Ja’far Shadiq, Sunan Drajat atau Raden Qasim, Sunan Kali Jaga yang juga digelari sebagai Raden Mas Syahid, Sunan Bonang atau Raden Ibrahim (1449-1525). Adapun penjelasan tokoh-tokoh Wali Songo adalah sebagai berikut:
1. Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim)
Syekh Maulana Malik Ibrahim berasal dari Turki merupakan putra dari syekh Jumadil Kubra (Maulana Akbar), dia adalah seorang ahli irigasi dan tata negara yang ulung.
Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke pulau Jawa pada tahun 1404 M bertepatan dengan masa kepemimpinan khalifah Turki Utsmani. Jauh sebelum beliau datang, islam sudah ada walaupun sedikit, ini dibuktikan dengan adanya makam Fatimah binti Maimun yang nisannya bertuliskan tahun 1082.
Syekh Maulana Malik Ibrahim memiliki tiga istri3 yaitu:
a. Siti Fatimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil, dirinya memiliki 2 anak yaitu Mualana Moqfaro dan Syafirah Sarah.
b. Siti Maryam binti Syekh Subakir, darinya memiliki 4 putra, yaitu Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad.
c. Wan Jamilah binti Ibrahim Zinuddin Al-Akbar Asmaraqandi, darinya memiliki 2 anak, yaitu Abbas dan Yusuf.
3 Ibid, hlm.80
Dikalangan rakyat jelata Sunan Gresik atau sering dipanggil Kakek Bantal sangat terkenal terutama di kalangan kasta rendah yang selalu ditindas oleh kasta yang lebih tinggi.
Sunan Gresik menjelaskan bahwa dalam Islam kedudukan semua orang adalah sama sederajat hanya orang yang beriman dan bertaqwa tinggi kedudukannya di sisi Allah. Dia mendirikan pesantren yang merupakan perguruan Islam, tempat mendidik dan menggenbleng para santri
sebagai calon mubaligh.
Di Gresik, beliau juga memberikan pengarahan agar tingkat kehidupan rakyat gresik semakin meningkat. Beliau memiliki gagasan mengalirkan air dari gunung untuk mengairi sawah dan ladang. Syekh Maulana Malik Ibrahim seorang wali songo yang dianggap sebagai ayah dari wali songo. Beliau wafat di gresik pada tahun 882 H atau 1419 M.
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Raden Rahmat adalah putra Syekh Maulana Malik Ibrahim dari istrinya bernama Dewi Candrawulan. Beliau memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat dengan Surabaya. Di antara pemuda yang dididik itu tercatat antara lain Raden Paku (Sunan Giri), Raden Fatah (Sultan pertama Kesultanan Islam Bintoro, Demak), Raden Makdum Ibrahim (putra Sunan Ampel sendiri dan dikenal sebagai Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat), dan Maulana Ishak.
Menurut Babad Diponegoro, sunan Ampel sangat berpengaruh di kalangan istana Manjapahit, bahkan istrinya pun berasal dari kalangan istana Raden Fatah, putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit, menjadi murid Ampel. Sunan Ampel tercatat sebagai perancang Kerajaan Islam di pulau Jawa. Dialah yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertama Demak. Disamping itu, Sunan Ampel juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479 bersama wali-wali lain.
Pada awal islamisasi pulau Jawa, Sunan Ampel menginginkan agar masyarakat menganut keyakinan yang murni. Ia tidak setuju bahwa kebiasaan masyarakat seperti kenduri, selamatan, sesaji dan sebagainya tetap hidup dalam sistem sosio-kultural masyarakat yang telah memeluk agama Islam. Namun wali-wali yang lain berpendapat bahwa untuk sementara semua kebiasaan tersebut harus dibiarkan karena masyarakat sulit meninggalkannya secara serentak.
Akhirnya, Sunan Ampel menghargainya. Hal tersebut terlihat dari persetujuannya ketika Sunan Kalijaga dalam usahanya menarik penganut Hindu dan Budha, mengusulkan agar adat istiadat Jawa itulah yang diberi warna Islam.
Sunan Ampel salah seorang wali yang berjuang menegakkan Islam.
Jasanya sangat besar dalam menggelorakan dakwah dan jihad ditanah Jawa.4 Dan beliau wafat pada tahun 1478 dimakamkan disebelah masjid Ampel.
3. Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim)
Nama aslinya adalah Raden Makdum Ibrahim. Beliau Putra Sunan Ampel. Beliau diperkirakan lahir tahun 1465 M diampel dari seorang perempuan bernama Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang terkenal sebagai ahli ilmu kalam dan tauhid. Beliau dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Setelah belajar di Pasai, Aceh, Sunan Bonang kembali ke Tuban, Jawa Timur, untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang menjadi muridnya berdatangan dari berbagai daerah.
Sunan Bonang dan para wali lainnya dalam menyebarkan agama Islam selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan. Mereka memanfaatkan pertunjukan tradisional itu sebagai media dakwah Islam, dengan menyisipkan napas Islam ke dalamnya. Syair lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi pesan tauhid, sikap menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukannya. Setiap bait lagu diselingi dengan syahadatain (ucapan dua kalimat syahadat);
gamelan yang mengirinya kini dikenal dengan istilah sekaten, yang berasal dari syahadatain. Sunan Bonang sendiri menciptakan lagu yang dikenal dengan tembang Durma, sejenis macapat yang melukiskan suasana tegang, bengis, dan penuh amarah. Sunan Bonang wafat di pulau Bawean pada tahun 1525 M.
4. Sunan Giri
Sunan Giri merupakan putra dari Maulana Ishak dan ibunya bernama Dewi Sekardadu putra Menak Samboja. Kebesaran Sunan Giri terlihat antara lain sebagai anggota dewan Walisongo.
4 Ibid, hlm.92
Nama Sunan Giri tidak bisa dilepaskan dari proses pendirian kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak. Ia adalah wali yang secara aktif ikut merencanakan berdirinya negara itu serta terlibat dalam penyerangan ke Majapahit sebagai penasihat militer.
Sunan Giri atau Raden Paku dikenal sangat dermawan, yaitu dengan membagikan barang dagangan kepada rakyat Banjar yang sedang dilanda musibah. Beliau pernah bertafakkur di goa sunyi selama 40 hari 40 malam untuk bermunajat kepada Allah. Usai bertafakkur ia teringat pada pesan ayahnya sewaktu belajar di Pasai untuk mencari daerah yang tanahnya mirip dengan yang dibawahi dari negeri Pasai melalui desa Margonoto sampailah Raden Paku di daerah perbatasan yang hawanya sejuk, lalu dia mendirikan pondok pesantren yang dinamakan pesantren Giri.
Tidak berselang lama hanya dalam waktu tiga tahun pesantren tersebut terkenaldi seluruh Nusantara. Sunan Giri sangat berjasa dalam penyebaran Islam baik di Jawa atau nusantara baik dilakukannya sendiri waktu muda melalui berdagang tau bersama muridnya. Beliau juga menciptakan tembang-tembang dolanan anak kecil yang bernafas Islami, seperti jemuran, cublak suweng dan lain- lain.
5. Sunan Drajat
Nama aslinya adalah Raden Syarifudin. Ada sumber lain yang mengatakan namanya adalah Raden Qasim, putra Sunan Ampel dengan seorang ibu bernama Dewi Candrawati. Jadi Raden Qasim itu adalah saudaranya Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Oleh ayahnya yaitu Sunan Ampel, Raden Qasim diberi tugas untuk berdakwah di daerah sebalah barat Gresik, yaitu daerah antara Gresik dengan Tuban. Di desa Jalang itulah Raden Qasim mendirikan pesantren.
Dalam waktu yang singkat telah banyak orang-orang yang berguru kepada beliau.
Setahun kemudian di desa Jalag, Raden Qasim mendapat ilham agar pindah ke daerah sebelah selatan kira-kira sejauh satu kilometer dari desa Jelag itu. Di sana beliau mendirikan Mushalla atau Surau yang sekaligus dimanfaatkan untuk tempat berdakwah. Tiga tahun tinggal di daerah itu, beliau mendapat ilham lagi agar pindah tempat ke satu bukit. Dan di tempat baru itu beliau berdakwah dengan menggunakan kesenian rakyat, yaitu dengan menabuh seperangkat gamelan untuk mengumpulkan orang, setelah itu lalu diberi ceramah agama. Demikianlah kecerdikan Raden Qasim dalam mengadakan pendekatan kepada rakyat dengan menggunakan kesenian
rakyat sebagai media dakwahnya. Sampai sekarang seperangkat gamelan itu masih tersimpan dengan baik di museum di dekat makamnya.
6. Sunan Kalijaga
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman. Beliau merupakan putra Raden Sahur putra Temanggung Wilatika Adipati Tuban. Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon.
Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam ‘kungkum’ di sungai (kali) atau “jaga kali”.5 Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab
“qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan. Raden Sahid sebenarnya anak muda yang patuh dan kuat kepada agama dan orang tua, tapi tidak bisa menerima keadaan sekelilingnya yang terjadi banyak ketimpangan, hingga dia mencari makanan dari gudang kadipaten dan dibagikan kepada rakyatnya. Tapi ketahuan ayahnya, hingga dihukum yaitu tangannya dicampuk 100 kali sampai banyak darahnya dan diusir.
Setelah diusir selain mengembara, ia bertemu orang berjubah putih, dia adalah Sunan Bonang. Lalu Raden Sahid diangkat menjadi murid, lalu disuruh menunggui tongkatnya di depan kali sampai berbulan-bulan sampai seluruh tubuhnya berlumut. Maka Raden Sahid disebut Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dalam rangka penyebaran Islam, antara lain dengan wayang, sastra dan berbagai kesenian lainnya. Pendekatan jalur kesenian dilakukan oleh para penyebar Islam seperti Walisongo untuk menarik perhatian di kalangan mereka, sehingga dengan tanpa terasa mereka telah tertarik pada ajaran-ajaran Islam sekalipun, karena pada
5 Kriswantoro Kawarasan, “Sejarah Wali Songo Lengkap (Cerita Wali Songo)” diakses dari
https://juragansejarah.blogspot.com/2013/05/sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html pada tanggal 14 Oktober 2019 pukul 09:19
awalnya mereka tertarik dikarenakan media kesenian itu. Misalnya, Sunan Kalijaga adalah tokoh seniman wayang. Ia tidak pernah meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu disisipkan ajaran agama dan nama-nama pahlawan Islam.
7. Sunan Kudus (Ja’far Sadiq)
Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya.
Beliau memiliki keahlian khusus dalam bidang agama, terutama dalam ilmu fikih, tauhid, hadits, tafsir serta logika. Karena itulah di antara walisongo hanya ia yang mendapat julukan wali al-‘ilm (wali yang luas ilmunya), dank arena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di Nusantara.
Ada cerita yang mengatakan bahwa Sunan Kudus pernah belajar di Baitul Maqdis, Palestina, dan pernah berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban di Palestina. Atas jasanya itu, oleh pemerintah Palestina ia diberi ijazah wilayah (daerah kekuasaan) di Palestina, namun Sunan Kudus mengharapkan hadiah tersebut dipindahkan ke Pulau Jawa, dan oleh Amir (penguasa setempat) permintaan itu dikabulkan. Sekembalinya ke Jawa ia mendirikan masjid di daerah Loran tahun 1549, masjid itu diberi nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar (Masjid Menara Kudus) dan daerah sekitarnya diganti dengan nama Kudus, diambil dari nama sebuah kota di Palestina, al-Quds. Dalam melaksanakan dakwah dengan pendekatan kultural, Sunan Kudus menciptakan berbagai cerita keagamaan. Yang paling terkenal adalah Gending Makumambang dan Mijil. Cara-cara berdakwah Sunan Kudus adalah sebagai berikut:
a. Strategi pendekatan kepada masa dengan jalan
1. Membiarkan adat istiadat lama yang sulit diubah
2. Menghindarkan konfrontasi secara langsung dalam menyiarkan agama islam 3. Tut Wuri Handayani
4. Bagian adat istiadat yang tidak sesuai dengan mudah diubah langsung diubah.
b. Merangkul masyarakat Hindu seperti larangan menyembelih sapi karena dalam agama Hindu sapi adalah binatang suci dan keramat.
c. Merangkul masyarakat Budha
Setelah masjid, terus Sunan Kudus mendirikan padasan tempat wudlu denga pancuran yang berjumlah delapan, diatas pancuran diberi arca kepala Kebo Gumarang diatasnya hal ini disesuaikan dengan ajaran Budha “ Jalan berlipat delapan atau asta sunghika marga”.
d. Selamatan Mitoni, biasanya sebelum acara selamatan diadakan membacakan sejarah Nabi.
Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 M dan dimakamkan di Kudus.
Di pintu makan Kanjeng Sunan Kudus terukir kalimat asmaul husna yang berangka tahun 1296 H atau 1878 M.
8. Sunan Muria (Raden Umar Said)
Salah seorang Walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaaan Pulau Jawa adalah Sunan Muria. Beliau lebih terkenal dengan nama Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria (18 km di sebelah utara Kota Kudus sekarang).Beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said, dalam berdakwah ia seperti ayahnya yaitu menggunakan cara halus, ibarat menganbil ikan tidak sampai keruh airnya. Muria dalam menyebarkan agama Islam. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan dan rakyat jelata. Beliau adalah satu-satunya wali yang mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah dan beliau pulalah yang menciptakan tembang Sinom dan kinanthi. Beliau banyak mengisi tradisi Jawa dengan nuansa Islami seperti nelung dino, mitung dino, ngatus dino dan sebagainya.
Lewat tembang-tembang yang diciptakannya, sunan Muria mengajak umatnya untuk mengamalkan ajaran Islam. Karena itulan sunan Muria lebih senang berdakwah pada rakyat jelata daripada kaum bangsawan. Cara dakwah inilah yang menyebabkan suna Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwak tapa ngeli yaitu menghanyutkan diri dalam masyarakat.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Salah seorang dari Walisongo yang banyak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa, terutama di daerah Jawa Barat; juga pendiri Kesultanan Cirebon. Nama aslinya Syarif Hidayatullah. Dialah pendiri dinasti Raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten. Sunan Gunung Jati adalah cucu Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.
Setelah selesai menuntut ilmu pasa tahun 1470 dia berangkat ketanah Jawa untuk mengamalkan ilmunya.
Syarifah Mudain minta agar diizinkan tinggal dipasumbangan Gunung Jati dan disana mereka membangun pesantren untuk meneruskan usahanya Syeh Datuk Latif gurunya pangeran Cakra Buana. Oleh karena itu Syarif Hidayatullah dipanggil sunan gunung Jati. Lalu ia dinikahkan dengan putri Cakra Buana Nyi Pakung Wati kemudian ia diangkat menjadi pangeran Cakra Buana yaitu pada tahun 1479 dengan diangkatnya ia sebagai pangeran dakwah islam dilakukannya melalui diplomasi dengan kerajaan lain.
Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah Kerajaan Islam yang bebas dari kekuasaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha mempengaruhi kerajaan yang belum menganut agama Islam. Dari Cirebon, ia mengembangkan agama Islam ke daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten.
2.3 Stretegi Dan Metode Dakwah Wali Songo 2.3.1 Strategi Dakwah Wali Songo
Strategi dapat diartikan sebagai tata cara dan usaha-usaha untuk menguasai dan mendayagunakan segala sumber daya untuk mencapai tujuan (Ali Motofo, 1971: 7). Dengan demikian, strategi dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo itu bisa diartikan menjadi segala cara yang ditempuh oleh para wali untuk mengajak manusia ke jalan Allah dengan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki. Beberapa strategi Wali Songo dalam pelaksanaan dakwah dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut:
Pertama, Pembagian Wilayah Dakwah. Para Walisongo dalam melakukan aktivitas dakwahnya antara lain sangat memperhitungkan wilayah strategis. Beranjak dari sinilah, para Walisongo yang dikenal jumlahnya ada sembilan orang tersebut melakukan pemilihan wilayah dakwahnya tidak sembarangan. Penentuan tempat dakwahnya dipertimbangkan pula dengan faktor geostrategis yang sesuai dengan kondisi zamannya. Kalau kita perhatikan dari kesembilan wali dalam pembagian wilayah kerjanya ternyata mempunyai dasar pertimbangan geostrategis yang mapan sekali. Kesembilan wali tersebut membagi kerja dengan rasio 5:3:1 (Suryanegara, 1995: 104). Para wali melihat realiatas masyarakat yang masih dipengaruhi oleh budaya yang bersumber dari ajaran Hindu dan Budha. Saat itu para Wali mengakui seni sebagai media
komunikasi yang mempunyai pengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat. Oleh kerana itu, seni dan budaya yang sudah berakar di tengah-tengah masyarakat menurut mereka perlu dimodifikasi, dan akhirnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah.
Kedua, sistem dakwah dilakukan dengan pengenalan ajaran Islam melalui pendekatan persuasif yang berorientasi pada penanaman aqidah Islam yan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Rangkaian penggunaan sistem dakwah ini, misalnya kita dapati ketika Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan kawan-kawan berdakwah kepada Adipati Aria Damar dari Palembang. Berkat keramahan dan kebijaksanaan Raden Rahmat, akhirnya Raden Aria Damar sudi masuk Islam bersama istrinya, yang diikuti pula oleh hampir seluruh anak negerinya (Ali Murtopo, 1971:88).
Ketiga, melakukan perang ideologi untuk memberantas etos dan nilai-nilai dogmatis yang bertentangan dengan aqidah Islam, di mana para ulama harus menciptakan mitos dan nilai- nilai tandingan baru yang sesuai dengan Islam. Salah satu tugas utama dari para ulama yang telah dikader oleh Raden Rahmat adalah menyebarkan ajaran Islam.
Keempat, melakukan pendekatan terhadap para tokoh yang dianggap mempunyai pengaruh di suatu tempat dan berusaha menghindari konflik. Salah satu azas dakwah yang dicanangkan oleh Walisongo adalah menghindari konflik-konflik dengan cara melakukan pendekatan kepada para tokoh setempat, diilhami oleh cara dakwah yang dilakukan oleh para Nabi Muhammad saw, apa yang pernah dirintis oleh para Rasulullah untuk memperkuat kedudukan Islam di tengah peradaban Jahiliyah dewasa itu, yang kenyataannya relevan juga untuk diterapkan di Jawa oleh para Wali, meski dengan taktik yang disesuaikan. (Ridin Sofwan, dkk, 2000: 262)
Kelima, berusaha mengguasai kebutuhan-kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, baik kebutuhan yang bersifat materil maupun spiritual. Faktor kebutuhan pokok amat vital bagi masyarakat dewasa itu adalah menyangkut masalah air, baik air sebagai kebutuhan keluarga sehari-hari maupun sebagai irigasi pertanian. (Ridin Sofwan, dkk, 2000:
262)
2.3.2 Metode Dakwah Wali Songo
Keberhasilan dakwah para Wali Songo tentu juga tidak terlepas dari metode yang mereka aplikasikan dalam pelaksanaan di lapangan. Secara umum, dapat dikatakan bahwa metode
dakwah para Walisongo tidak terlepas dari metode ini digunakan oleh mereka dalam tokoh-tokoh khusus seperti pemimpin, orang terpandang dan terkemuka dalam dalam masyarakat, seperti para bupati, adipati, raja-raja ataupun menghadapi para bangsaan lainnya.
Metode al-hikmah sebagai sistem dan cara-cara berdakwah para wali merupakan jalan kebijaksanaan yang diselenggarakan secara popular, atraktif, dan sensational. Cara ini mereka pergunakan dalam menghadapi masyarakat awam. Dengan tata cara yang amat bijaksana, masyarakat awam itu mereka hadapi secara massal. Kadang-kadang terlihat sensasional bahkan ganjil dan unik sehingga menarik perhatian umum. Dalam rangkaian metode ini kita dapati misalnya, Sunan Kalijaga dengan gamelan Sekatennya. Beberapa metode penting lainnya yang diterapkan oleh para walisongo sebagaimana dikemukakan oleh Ridin Sofwan dkk (2000: 271- 284) yaitu:
Pertama, metode pembentukan dan penanaman kader, serta penyebaran juru dakwah ke berbagai daerah. Tempat yang dituju ialah daerah- daerah yang sama sekali kosong dari penghuni atau kosong dari pengaruh Islam.
Kedua, dakwah melalui jalur keluarga/perkawinan. Sunan Ampel misalnya, putri beliau yang bernama Dewi Murthosiyah misalnya, dikawinkan dengan Raden Patah (Bupati Demak), Putri Sunan Ampel yang bernama ‘Alawiyah’ dikawinkan dengan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sedangkan Putri beliau yang bernama Siti Sariyah dikawinkan dengan Usman haji dar Ngudung.
Ketiga, mengembangkan pendidikan pesantren yang mula-mula dirintis oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah suatu model pendidikan Islam yang mengambil bentuk pendidikan biara dan asrama yang dipakai oleh pendeta dan biksu dalam mengajar dan belajar.
Oleh sebab itu, pesantren di masa itu pengaruhnya masih terlihat sampai saat ini.
Keempat, dengan mengembangkan kebudayaan Jawa. Dalam kebudayaan Jawa Walisongo memberikan andil yang sangat besar. Bukan hanya pada pendidikan dan pengajaran, tetapi juga meluas pada bidangbidang hiburan, tata sibuk (perintang waktu luang), kesenian dan aspek-aspek lain dibidang kebudayaan pada umumnya.
Kelima, metode dakwah melalui sarana dan prasarana yang berkait dengan masalah perekonomian rakyat. Misalnya untuk efisiensi dalam perekonomian para wali berijtihad tentang kesempurnaan alat-alat pertania, perabotan dapur, dan barang pecah belah. Dalaam pada itu, Sunan Kaslijaga menyumbangkan karya- karya yang berkenaan dengan pertanian seperti filsafat
bajak dan cangkul. Dengan membuat jasa dalam bidang kemamuran rakyat melalui penyempurnaan sarana dan prasara menjadi lebih sempurna, beliau berharap dapat menarik perhatian dan ketaatan masyarakat agar menuruti ajakan Sunan Kalijaga serta wali-walinya.
Keenam, dalam mengembangkan dakwa Islamiyah di tanah Jawa para wali menggunakan sarana politik untuk mencapai tujuannya. Berangkat dari pemikiran ini, maka kehadiran keraton Demak tidak mungkin diabaikan begitu saja peranannya dalam sejarah penyebaran Isalam pada masa itu. Pentingnya kekuasan politik bagi kelangsungan dakwah ini tentunya didasari oleh para Walisongo, sehingga tidaklah mengherankan kalau mereka juga banyak terlibat dalam percaturan politik ini. Kebanyakan para wali adalah panglima perang, penasehat saja, atau juga penguasa itu sendiri. Pada saat Demak menyerang Majapahit, misalnya, yang menjadi penglima perang adalah Sunan Ngudung , yang kemudain digantikan oleh Sunan Kudus, dan dibantu oleh wali yang lain.
Dimanfaatkannya jalur kekuasaan dalam dakwah dapat dilihat juga pada proses pendirian masjid Demak. Masjid ini adalah masjid yang didirikan bersama oleh para wali sebagai pusat dakwah mereka. Namun tidak seperti pada umumnya, masjid ini tidak dikelola oleh seorang wali.
Masjid Demak adalah masjid keraton yang pengelolaannya langsung dibawah penguasaan sultan bertahta dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pusat dakwah walisanga tidak di tempat salah seorang wali atau pun masing–masing wali, tetapi di pusat kekuasaan politik di keraton. Selain itu, pada jaman Demak ini pula dikenal adanya semacam lembaga dakwah yang beranggotakan para wali dan dipimpin langsung oleh sultan.
2.4 Peran Walisongo dalam Penyebaran dan Perkembangan Islam di Indonesia
Sejarah walisongo berkaitan dengan penyebaran Dakwah Islamiyah di Tanah Jawa.
Sukses gemilang perjuangan para Wali ini tercatat dengan tinta emas. Dengan didukung penuh oleh kesultanan Demak Bintoro, agama Islam kemudian dianut oleh sebagian besar manyarakat Jawa, mulai dari perkotaan, pedesaan, dan pegunungan. Islam benar-benar menjadi agama yang mengakar.
Para wali ini mendirikan masjid, baik sebagai tempat ibadah maupun sebagai tempat mengajarkan agama. Konon, mengajarkan agama di serambi masjid ini, merupakan lembaga pendidikan tertua di Jawa yang sifatnya lebih demokratis. Pada masa awal perkembangan Islam, sistem seperti ini disebut ”gurukula”, yaitu seorang guru menyampaikan ajarannya kepada
beberapa murid yang duduk di depannya, sifatnya tidak masal bahkan rahasia seperti yang dilakukan oleh Syekh Siti Jenar. Selain prinsip-prinsip keimanan dalam Islam, ibadah, masalah moral juga diajarkan ilmu-ilmu kanuragan, kekebalan, dan bela diri.
Sebenarnya Walisongo adalah nama suatu dewan da’wah atau dewan mubaligh. Apabila ada salah seorang wali tersebut pergi atau wafat maka akan segera diganti oleh walilainnya. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia.
Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Kesembilan wali ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa pada abad ke-15. Adapun peranan walisongo dalam penyebaran agama Islam antara lain:
1. Sebagai pelopor penyebarluasan agama Islam kepada masyarakat yang belum banyak mengenal ajaran Islam di daerahnya masing-masing.
2. Sebagai para pejuang yang gigih dalam membela dan mengembangkan agama Islam di masa hidupnya.
3. Sebagai orang-orang yang ahli di bidang agama Islam.
4. Sebagai orang yang dekat dengan Allah SWT karena terus-menerus beribadah kepadaNya, sehingga memiliki kemampuan yang lebih.
5. Sebagai pemimpin agama Islam di daerah penyebarannya masing-masing, yang mempunyai jumlah pengikut cukup banyak di kalangan masyarakat Islam.
6. Sebagai guru agama Islam yang gigih mengajarkan agama Islam kepada para muridnya.
7. Sebagai kiai yang menguasai ajaran agama Islam dengan cukup luas.
8. Sebagai tokoh masyarakat Islam yang disegani pada masa hidupnya.
2.5 Aktivitas Dakwah Walisongo
Walisongo dipercaya sebagai peletak batu pertama Islam di pulau Jawa. Kiprah Walisongo dalam peta dakwah Islam di Indonesia pada umumnya, di pulau Jawa khususnya memang merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Oleh sebab itulah, wajar jika H.J.
Vanden Berg pun tanpa ada rasa keraguan mengatakan, “Adapun yang memimpin penyebaran Islam ini adalah para Wali, merekalah yang memimpin pengembangan agama Islam di seluruh Jawa” (Van Den Berg, 1959: 393).
Walisongo masyhur sebagai juru syiar kebenaran dan pekerja giat dalam menggembleng masyarakat, lahir-batin, di semua lapisan sosial, dari kelas “akar rumput” hingga ke para punggawa dan pembesar negeri. Di samping tetap memelihara yang sudah sesuai dengan ajaran Islam murni, juga tidak tanggung-tanggung memberantas kebiasaan dan kepercayaan yang berbau kemusyrikan, lalu digiringnya kembali ke tauhid sejati. Seperti yang pernah dikemukakan oleh M. Natsir Arsyad dalam bukunya yang berjudul Seputar Sejarah & Muamalah, paling tidak ada lima prinsip utama yang merupakan titik berat kiprah dakwah para Walisongo yang dijadikan patokan sembari menggodok kader:
1. Memelihara keyakinan beragama dengan membentanginya dari sekalian unsur yang bakal mencemari, apalagi merontokkannya.
2. Menjaga keselamatan harta, nyawa dan jiwa (ruh) umat dari aneka ragam ancaman, seperti misalnya perampasan hak, pengibulan, frustrasi, bunuh diri, dan lain-lain.
3. Menanamkan pemahaman tentang berbagai hukum: pergaulan sosial, pernikahan, kesehatan, kebersihan, ilmu pengetahuan, demi menjaga anak keturunan, kesehatan jasad dan ruh, akhlak luhur, kecerdasan dan akal waras umat.
4. Melindungi akal pikiran sehat rakyat dari segala yang bisa menumpulkan dan merendahkannya, seperti menenggak minuman keras, malas belajar dan bekerja, dan mo- limo lainnya (Arsyad, 1993: 130).
5. Membendung atau menepis pengaruh-pengaruh luar yang dapat memerosotkan kehormatan dan martabat nilai-nilai sosial, kemanusiaan dan agama.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Agama Islam merupakan agama yang universal, yang tidak hanya membawa hal-hal tentang agama, tetapi juga membawa kebudayaannya dan mempengaruhi terhadap berbagai hal, di antaranya pegaruh dibidang bahasa, pengaruh di bidang pendidikan, arsitektur dan juga kesenian. Kedatangan islam membawa pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sosial, ekonomi maupun politik di dunia. Walisongo dipercaya sebagai peletak batu pertama Islam di pulau Jawa. Kiprah Walisongo dalam peta dakwah Islam di Indonesia pada umumnya, di pulau Jawa khususnya memang merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Para Walisongo dalam melakukan aktivitas dakwahnya antara lain sangat memperhitungkan wilayah strategis.
Beranjak dari sinilah, para Walisongo yang dikenal jumlahnya ada sembilan orang tersebut melakukan pemilihan wilayah dakwahnya. Walisongo ketika itu sangat bijak memanfaatkan seni yang telah berakar dan berkembang dalam masyarakat untuk menopang keberhasilan dakwah mereka.
3.2 Saran
Saran dalam penulisan makalah ini, saya menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan, baik dari segi isi maupun cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati saya sangat berharap ada kritikan dan saran yang sifatnya untuk membangun.
Terakhir saya berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi saya begitu juga pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, R. 2015. Wali Songo Glora Dakwah Dan Jihad Ditanah Jawa (1404-1482 M).Solo: Al-Wafi Hatmansyah, 2017. “Strategi dan Metode Dakwah Walisongo”.
https://www.researchgate.net/publication/317432160_Strategi_dan_Metode_Dakwah_Walisongo di akses pada tanggal 13 Oktober 2019 pukul 21:47
Ahmad Multazam, 2014. “Peranan Wali Songo Dalam Penyebaran Dakwah Di Indonesia”
https://multazam-einstein.blogspot.com/2013/05/makalah-peran-walisongo-dalam.html di akses pada tanggal 13 Oktober 2019 pukul 22:11
Zakky, 2018. “Nama-Nama Wali Songo Beserta Sejarah, Silsilah, Kisah dan Fotonya”
https://www.zonareferensi.com/nama-nama-wali-songo/ di akses pada tanggal 14 Oktober 2019 pukul 01:11
Wisnu Gilang Ramdhan, 2014. “Pembahasan Makalah”
https://www.slideshare.net/wisnuwolstenholme/pembahasann-makalah di akses pada tanggal 14 Oktober 2019 pukul 01:25
Kriswantoro Kawarasan,2013. “Sejarah Wali Songo Lengkap (Cerita Wali Songo)”
https://juragansejarah.blogspot.com/2013/05/sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html diakses pada tanggal 14 Oktober 2019 pukul 09:19
Mas’udi, 2015 “DAKWAH NUSANTARA (Kerangka Harmonis Dakwah Walisongo dalam Diseminasi Ajaran Islam di Nusantara)” file:///D:/pelajaran%20semester%205/Sejarah
%20Peradaban%20Islam/0c8360e5d9ae285261fe2e65c45f5a842687.pdf diakses pada tanggal 14 Oktober 2019 pukul 09:39