• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES DAN DINAMIKA SOSIAL DALAM PENDIDIKAN (INTERAKSI SOSIAL SEBAGAI DASAR PROSES SOSIAL)

N/A
N/A
Khairun Nisa

Academic year: 2023

Membagikan " PROSES DAN DINAMIKA SOSIAL DALAM PENDIDIKAN (INTERAKSI SOSIAL SEBAGAI DASAR PROSES SOSIAL)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PROSES DAN DINAMIKA SOSIAL DALAM PENDIDIKAN (INTERAKSI SOSIAL SEBAGAI DASAR PROSES SOSIAL)

Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata kuliah: Sosiologi Pendidikan

Dosen Pengampu: Khairun Nisa, M.Pd

Disusun Oleh: Kelompok 2 SEMESTER V/ PAI-5

Baron Lesmana (0301203254)

Nining Mulyani (0301203057)

Najihani (0301202184)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA

MEDAN 2022

(2)

i

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Tuhan semesta alam yang mana dengan kasih sayang dan hidayah-Nya serta nikmat yang Allah SWT berikan sehingga kami mampu menyelesaikan Makalah ini. Shalawat beriringkan salam tetap tercurahkan untuk junjungan Nabi Muhammad SAW, yang membawa agama islam sebagai pedoman bagi manusia guna meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dosen Sosiologi Pendidikan, yakni Ibu Dosen Khairun Nisa, M.PD yang telah memberikan arahan kepada kami dalam menyusun tugas ini. Kami juga sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa didalam tugas ini terdapat kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Maka dari itu, dengan segala kerendahan hati kritik dan saran sangat kami harapkan dari pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaiki pembuatan tugas yang lain dan pada waktu yang akan mendatang. Semoga hasil makalah ini dapat di pahami bagi siapapun yang membacanya.

Medan, 14 September 2022

Kelompok 2

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I ...1

PENDAHULUAN ...1

1.1. Latar Belakang ...1

1.2. Rumusan Masalah ...2

1.3. Tujuan Masalah ...2

BAB II ...3

PEMBAHASAN ...3

2.1. Interaksi Sosial ...3

2.2. Surah Didalam Al-Qur’an Yang Berhubungan Tentang Sesama Manusia (Hablum Minnannas)...4

2.3. Syarat-Syarat Terjeadinya Interaksi Sosial ...6

2.4. Faktor-Faktor Interaksi Sosial ...8

2.5. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial ...9

BAB III ... 15

PENUTUP ... 15

3.1. Kesimpulan ... 15

3.2. Saran ... 16

DAFTAR PUSTAKA ... 17

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis.

Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya.

Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Karp dan Yoels menunjukkan beberapa hal yang dapat menjadi sumber informasi bagi dimulainya komunikasi atau interaksi sosial. Sumber Informasi tersebut dapat terbagi dua, yaitu Ciri Fisik dan Penampilan.

Interaksi sosial memiliki aturan, dan aturan itu dapat dilihat melalui dimensi ruang dan dimensi waktu dari Robert T Hall dan Definisi Situasi dari W.I. Thomas. Hall membagi ruangan dalam interaksi sosial menjadi 4 batasan jarak, yaitu jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik. Selain aturan mengenai ruang Hall juga menjelaskan aturan mengenai Waktu. Pada dimensi waktu ini terlihat adanya batasan toleransi waktu yang dapat mempengaruhi bentuk interaksi. Aturan yang terakhir adalah dimensi situasi yang dikemukakan oleh W.I. Thomas. Definisi situasi merupakan penafsiran seseorang sebelum memberikan reaksi. Definisi situasi ini dibuat oleh individu dan masyarakat.

(5)

2 1.2. Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan interaksi social?

b. Apa saja surah didalam Al-Qur’an yang berhubungan tentang sesame manusia (hablum minnannas)?

c. Apa saja syarat-syarat terjeadinya interaksi social?

d. Apa saja faktor-faktor interaksi social?

e. Apa saja bentuk-bentuk interaksi social?

1.3. Tujuan Masalah

a. Untuk Mengetahui apa yang dimaksud dengan interaksi social.

b. Untuk Mengetahui apa saja surah didalam Al-Qur’an yang berhubungan tentang sesame manusia (hablum minnannas).

c. Untuk Mengetahui apa saja syarat-syarat terjeadinya interaksi social.

d. Untuk Mengetahui apa saja faktor-faktor interaksi social.

e. Untuk Mengetahui apa saja bentuk-bentuk interaksi social.

(6)

3 BAB II PEMBAHASAN 2.1. Interaksi Sosial

Secara singkat interaksi diartikan sebagai proses di mana orang-orang yang berkomunikasi saling mempengaruhi dalam pikiran dan dalam tindakan. Hal yang terpenting dalam proses itu ialah adanya pengaruh timbal balik.1 Interaksi sosial (social interaction) adalah merupakan hubungan- hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi social (social interaction) merupakan hubungan dinamis yang mempertemukan orang dengan orang, kelompok dengan kelompok maupun orang dengan kelompok. Bentuknya tidak hanya bersifat kerjasama, tetapi juga bisa berbentuk persaingan, pertikaian dan sejenisnya.

Interaksi sosial (social interaction) adalah kunci dari semua kehidupan sosial oleh karena itu tanpa adanya interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama.

Interaksi sosial dimaksudkan sebagai pengaruh timbal balik antar individu dengan golongan didalam usaha mereka untuk memecahkan persoalan yang diharapkan dan dalam usaha mereka untuk mencapai tujuannya.2

Menurut Walgito interaksi sosial (social interaction) adalah hubungan antara individu satu dengan individu yang lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat adanya hubungan yang saling timbal balik. Sementara menurut Ahmadi bahwa interaksi sosial (social interaction) adalah pengaruh timbal balik antara individu dengan golongan dalam usaha mereka untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya dan didalam usaha mereka untuk mencapai tujuannya. Atau dengan kata lain proses dua arah dimana setiap individu/ group menstimulir yang lain dan mengubah tingkah laku dari pada partisipan. 3

1 Bernard Raho, SVD, sosiologi, (Yogyakarta: Moya Zam Zam, 2016), hlm. 63

2 Binti Maunah, Dialektika Pembelajaran Sosiologi Pendidikan, (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2019), hlm. 21

3 Walgito, Sosiologi Pendidikan, (Bandung: PT. Refika Aditama, 1998), hlm. 65.

(7)

4

Interaksi sosial (social interaction) merupakan syarat utama terjadinya berbagai aktivitas sosial karena di dalam intereksi sosial terdapat kontak dan komunikasi dengan orang lain. Interaksi sosial terjadi jika masing-masing pihak sadar akan kehadiran pihak lain. Jadi, walaupun orang-orang saling bertatap muka, akan tetapi tidak saling bicara, tetap telah terjadi suatu interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan social baik itu dalam proses pendidikan formal terjadi interaksi antara guru dan siswa, karena tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama.

Dalam pendidikan formal terjadi proses pembelajaran yang melibatkan interaksi antara dosen dan mahasiswa. Dimana dalam interaksi tersebut melibatkan penyampaian informasi terhadap mahasiswa berupa dukungan atau arahan.4

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah sebuah hubungan antara individu dengan individu, kelompok, maupun lingkungan yang dapat mempengaruhi satu dengan yang lainnya sehingga menimbulkan respon atau menciptakan hubungan sosial yang dinamis. Dalam interaksi terdapat pertukaran antar pribadi yang masing- masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka dan masing-masing perilaku mempengaruhi satu sama lain.

2.2. Surah Didalam Al-Qur’an Yang Berhubungan Tentang Sesama Manusia (Hablum Minnannas)

Allah SWT. mengatur hubungan lahir antara manusia dengan Allah dalam rangka menegakkan hablum minallah dan hubungan antara sesama manusia hablum minannas yang biasa di sebut dengan muamalat, yang keduanya merupakan misi kehidupan manusia yang di ciptakan sebagai khalifah di atas muka bumi. Hubungan antara sesama manusia itu bernilai ibadah pula bila dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah SWT.5

Hablum minannas adalah perjanjian dari kaum Mukminin dalam bentuk jaminan keamanan bagi orang kafir dzimmi dengan membayar upeti bagi kaum Mukminin melalui pemerintahnya untuk hidup sebagai warga negara Islam dari kalangan minoritas

4 Nismawati, Pengaruh Syarat Interaksi Sosial Guru Terhadap Motivasi Belajar Sosiologi Siswa di SMAN 1 Mallusetasi Kabupaten Barru, (Malang: Jurnal Sosiologi Pendidikan Universitas Negeri Malang, 2014), hlm. 64.

5 Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh, (Bogor: Prenada Media, 2003), hlm. 175

(8)

5

non Muslim. Atau dengan bahasa lain ialah dalam berinteraksi dengan sesama manusia, maka jaminan yang bisa dipercaya hanyalah dari kaum muslimin yang dibimbing oleh Syari'at Allah Ta'ala. Dengan demikian, akhlaqul karimah dibangun di atas kerangka hubungan dengan Allah melalui perjanjian yang diatur dalam Syari'at-Nya berkenaan dengan kewajiban menunaikan hak-hak Allah Ta'ala dan juga kerangka hubungan dengan sesama manusia melalui kewajiban menunaikan hak-hak sesama manusia baik yang muslim maupun yang kafir. Dari kerangka inilah kemudian diuraikan kriteria akhlaqul karimah. Hak-hak Allah itu ialah mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain-Nya. Yaitu menunaikan tauhidullah dan menjauhi syirik, mentaati Rasul-Nya dan menjauhi bid'ah (penyimpangan dari ajarannya).6

Berikut ayat tentang hubungan sesame manusia (Hablum Minnannas)

ب ْوُعُش ْمُكٰنْلَعَج َو ىٰثْنُاَّو ٍرَكَذ ْنِ م ْمُكٰنْقَلَخ اَّنِا ُساَّنلا اَهُّيَآٰٰي ِٰاللّ َدْنِع ْمُكَمَرْكَا َّنِا ۚ ا ْوُفَراَعَتِل َلِٕىۤاَبَق َّو ا

ْيِلَع َ ٰاللّ َّنِاۗ ْمُكىٰقْتَا ٌرْيِبَخ ٌم

Artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Q.S Al Hujurat : 13)7

Makna dari ayat ini ialah Allah memberitahukan kepada umat manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka dari satu jiwa dan telah menjadikan dari jiwa itu pasangannya.

Itulah Adam dan Hawa. Dan Allah SWT juga telah menciptakan mereka berbangsa- bangsa dan bersuku-suku. Maka kemuliaan manusia dipandang dari kaitan ketanahannya dengan Adam dan Hawa a.s adalah sama.8 Hanya saja kemuliaan mereka itu bertingkat- tingkat bila dilihat dari sudut keagamaan, seperti dalam hal ketaatan kepada Allah SWT dan kepatuhan kepada Rasul-Nya, karena itu, setelah Allah SWT melarang manusia berbuat ghibah dan menghina satu sama lain, maka Dia mengingatkan bahwa mereka itu sama dalam segi kemanusiaannya, ”Hai, manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu

6http://mossdefcommunity.blogspot.com/2010/02/pengertian-hablum-minallah-dan hablum.html

7 Departemen Agama,Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta:YayasanPenyelenggara Penafsir danPenerjemah Al-Qur‟an, 2003), hlm. 847

8 Muhammad Nasibar-Rifa‟i,Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4. TerjSyihabuddin, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 437

(9)

6

dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku- suku supaya kamu saling mengenal. “Yaitu, agar tercapai ta‟aruf “saling kenal” di antara mereka. Masing-masing berpulang ke kabilahnya sendiri. Abu Isa Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Pelajarilah silsilah kamu yang dengannya kamu akan menyambungkan tali kekeluargaan, karena menyambung tali kekeluargaan menimbulkan kecintaan di dalam keluarga, kekayaan dalam harta, dan tongkat dalam menyusuri jejak, “Kemudian Tirmidzi mengatakan bahwa hadist ini gharib.Tidak kami ketahui kecuali dari jalur ini.

2.3. Syarat-Syarat Terjeadinya Interaksi Sosial

Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi social (social interaction) tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu: adanya kontak sosial, dan adanya komunikasi.

a. Kontak Sosial

Secara harfiah kontak adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. Kontak sosial merupakan usaha pendekatan pertemuan fisik dan rohaniah. Kontak sosial dapat bersifat primer (face to face) dan dapat bersifat sekunder (berhubungan dengan media, surat kabar, TV, radio, dan sebagainya). Kontak social juga dapat bersifat positif seperti kerjasama dan kontak sosial bersifat negatif seperti pertentangan atau konflik atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan interaksi sosial.

Kontak sosial sebagai gejala sosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah, karena orang dapat mengadakan hubungan tanpa harus menyentuhnya, seperti misalnya dengan cara berbicara dengan orang yang bersangkutan. Dengan berkembangnya teknologi dewasa ini, orang-orang dapat berhubungan satu sama lain dengan melalui telepon, telegraf, radio, dan yang lainnya yang tidak perlu memerlukan sentuhan badaniah. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk yaitu sebagai berikut:

(10)

7

1. Antara orang perorangan Kontak sosial ini adalah apabila anak kecil mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui komunikasi, yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana dia menjadi anggota.

2. Antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya.

Kontak sosial ini misalnya adalah apabila seseorang merasakna bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat.

3. Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.

Umpamanya adalah dua partai politik yang bekerja sama untuk mengalahkan partai politik lainnya.9

Kontak sosial memiliki beberapa sifat, yaitu kontal sosial positif dan kontak sosial negative. Kontak social positif adalah kontak sosial yang mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negative mengarah kepada suatu pertentangan atau bahkan sama sekalitidak menghasilkan kontak sosial. Selain itu kontak sosial juga memiliki sifat primer atau sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka, sebaliknya kontak yang sekunder memerlukan suatu perantara.

b. Komunikasi

Komunikasi (communication) adalah usaha penyampaian informasi kepada manusia lainnya. Tanpa komunikasi tidak akan terjadi interaksi sosial. Dalam komunikasi sering muncul berbagai macam perbedaan penafsiran terhadap makna suatu tingkah laku orang lain akibat perbedaan konteks sosialnya. Komunikasi menggunakan isyarat-isyarat sederhana adalah bentuk paling dasar dan penting dalam komunikasi.10 Dengan komunikasi (communication) memungkinkan kerja sama antar perorangan dan atau antar kelompok. Tetapi disamping itu juga komunikasi bisa menghasilkan pertikaian yangterjadi karena salah paham yang masing-masing tidak mau mengalah.

9 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm 59.

10 Ibid., 63

(11)

8

Interaksi sosial (social interaction) dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial. Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan.

2.4. Faktor-Faktor Interaksi Sosial

Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada berbagai faktor antara lain:

a. Faktor Imitasi adalah proses meniru apa yang dimiliki oleh orang lain menjadi miliknya sendiri. Imitasi dapat berlangsung dalam berbagai bentuk seperti cara berbahasa, bertingkah laku, cara memberi hormat, mode, adat istiadat, tradisi dan lain sebagainya lainnya. Imitasi berlangsung apabila seseorang menaruh minat atau perhatian yang cukup besar dan adanya sikap menyanjung atau mengagumi sesuatu yang ditiru. 11

b. Faktor Sugesti Sugesti muncul ketika si penerima dalam kondisi tidak netral sehingga tidak dapat berpikir rasional. Pada umumnya sugesti berasal dari orang yang mempunyai wibawa, kharismatik, memiliki kedudukan tinggi, dari kelompok mayoritas kepada minoritas.

c. Faktor Identifikasi-Identifikasi merupakan kecenderungan sesorang untuk menjadi sama dengan pihak lain, sifatnya lebih mendalam dari imitasi karena membentuk kepribadian

seseorang.

d. Faktor Simpati Simpati merupakan proses dimana seseorang merasa tertarik dengan pihak lain.

e. Faktor Empati Empati merupakan simpati yang mendalam, dapat mempengaruhi kejiwaan, dan fisik seseorang12

11 Umi hanik, INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT PLURAL AGAMA, (Yogyakarta:

Kelompok CV. Penerbit Kutub, 2019), hlm. 9

12 Sanapiah Faisal, Sosiologi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional. 2000), hlm. 75

(12)

9 2.5. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial, oleh karena itu interaksi social merupakan syarat utama terjadinya aktivitas dalam masyarakat. Bentuk lain dari proses sosial hanya merupakan bentuk-bentuk khusus dari interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, dengan kelompok manusia.

Upaya manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dilaksanakan melalui proses sosial yang disebut interaksi sosial, yaitu hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok dalam masyarakat. Berikut bentuk-bentuk dari interaksi social:

1. Proses Asosiatif (Processes of Association) a. Kerja Sama (Cooperation)

Beberapa sosiolog menganggap bahwa kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok. Sosiolog lain menganggap bahwa kerja sama merupakan proses utama. Golongan terakhir tersebut memahamkan kerja sama untuk menggambarkan sebagian besar bentuk-bentuk interaksi social atas dasar bahwa segala macam bentuk inetarksi tersebut dapat dikembalikan kepada kerja sama. Kerja sama di sini dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.

Bentuk dan pola-pola kerja sama dapat dijumpai pada semua kelompok manusia. Kebiasaan-kebiasaan dan sikap-sikap demikian dimulai sejak masa kanak-kanak di dalam kehidupan keluarga atau kelompok-kelompok kekerabatan.

Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat digerakkan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja srta balas jasa yang akan diterima. Dalam perkembangan selanjutnya, keahlian- keahlian tertentu diperlukan bagi mereka yang bekerja sama, agar rencana kerja samanya dapat terleksana dengan baik.

(13)

10

Sehubungan dengan pelaksanaan kerja sama, ada lima bentuk kerja sama, yaitu:

1) Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.

2) Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih.

3) Ko-optasi (Co-optation), yaitu suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilisasi organisasi yang bersangkutan.

4) Koalisi (Coalition), yaitu kombinasi antara dua ornagisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan

yang tidak stabil untuk sementara waktu,

karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi karena maksud utama adalah untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnya alaha kooperatif.

5) Joint-ventrue, yaitu kerja sama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya pemboran minyak, pertambangan batu bara, perfilman, perhotelan, dll.

b. Akomodasi (Accomodation)

1) Pengertian Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti yaitu untuk menunjuk pada suatu keadaan dan untuk menunjuk pada suatu proses. Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti adanya suatu keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi antara orang-peorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma- norma sosial dan nilai-nilai social yang berlaku di dalam masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan.

Menurut Gillin dan Gillin, akomodasi adalah suatu pengertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-

(14)

11

hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian adaptasi (adaptation) yang dipergunakan oleh ahli-ahli biologi untuk menunjuk pada suatu proses dimana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan dirinya dengan alam sekitarnya. Dengan pengertian tersebut dimaksudkan sebagai suatu proses dimana orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang mula-mula saling bertentangan, saling mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. 13

Tujuan akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu:

a) Untuk mengurangi pertentangan antara orang perorangan atau kelompok- kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham. Akomodasi disini

bertujuan untuk menghasilkan suatu sintesa

antara kedua pendapat tersebut, agar menghasilkan suatu pola yang baru.

b) Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu.

c) Untuk memungkinkan terjadinya kerja sama antara kelompok- kelompok sosial yang hidupnya terpisah sebagai akibat faktor- faktor sosial psikologis dan kebudayaan, seperti yang dijumpai pada masyarakat yang mengenal sistem kasta.

d) Mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok social yang terpisah.

2) Bentuk-bentuk akomodasi

a) Coercion, adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan.

b) Compromise, adalah suatu bentuk akomodasi dimana pihak- pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.

c) Arbitration, merupakan suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri.

d) Mediation hampir menyerupai arbitration. Pada mediation diundanglah pihak ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada.

13 Gerungan, W. A. 2004. Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.

(15)

12

e) Conciliation, adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan- keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.

f) Toleration, juga sering disebut sebagai tolerant-participation. Ini merupakan suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya.

g) Stalemate, merupakan suatu akomodasi, dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada

suatu titik tertentu dalam melakukan

pertentangannya

h) Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.

3) Hasil-hasil akomodasi

a) Akomodasi, dan integrasi masyarakat, telah berbuat banyak untuk menghindari masyarakat dari benih-benih perentangan latent yang akan melahirkan pertentangan baru.

b) Menekan oposisi. Seringkali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu demi kerugian pihak lain.

c) Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda.

d) Perubahan lembaga-lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang berubah.

e) Perubahan-perubahan dalam kedudukan.

f) Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi.

c. Asimilasi (Assimilation)

Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok kelompok manusia dan juga meliputi usaha- usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.

(16)

13

Secara singkat, proses asimilasi ditandai dengan pengembangan sikap-sikap yang sama, walau kadangkala bersifat emosional, dengan tujuan untuk mencapai kesatuan, atau paling sedikit mencapai integrasi dalam organisasi, pikiran, dan tindakan. Proses asimilasi timbul bila ada:

a. Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya.

b. Orang perorangan sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama.

c. Kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing- masing berubah dan saling menyesuaikan diri.

Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi adalah:

1) Toleransi

2) Kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi 3) Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya

4) Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat 5) Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan

6) Perkawinan campur (amalgamation) 7) Adanya musuh bersama di luar.

Faktor-faktor umum yang dapat menjadi penghalang terjadinya asimilasi adalah:

1) Terisolasi kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat.

2) Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi.

3) Perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi.

4) Perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya

5) Perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniah.

6) In-group feeling yang kuat.

7) Golongan minoritas mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa.

8) Perbedaan kepentingan dan pertentangan-pertentangan pribadi

(17)

14 2. Proses Disosiatif

Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional processes, persis halnya dengan kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan system social masyarakat

bersangkutan. Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahuan, oposisi atau proses- proses yang disosiatif dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu :

a. Persaingan (competition) b. Kontravensi (contravention)

c. Pertentangan atau pertikaian (conflict)14

14 Sosiologi, Tim. 2003. Sosiologi Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas 1 SMA.

Jakarta: Yudhistira.

(18)

15 BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan

Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya. Suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi.

Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk yaitu antara orang perorangan, antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya, antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya. Komunikasi adalah bahwa seseorang yang memberi tafsiran kepada orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak- gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan. Dengan adanya komunikasi sikap dan perasaan kelompok dapat diketahui oleh kelompok lain atau orang lain. Hal ini kemudian merupakan bahan untuk menentukan reaksi apa yang akan dilakukannya.

Bentuk-bentuk interaksi sosial ada yang disebut Proses Asosiatif (Processes of Association) dan Proses Disosiatif (Processes of Dissociation). Yang termasuk proses asosiasi adalah (1) Kerja Sama (Cooperation), yang mempunyai lima bentuk, yaitu:

Kerukunan, Bargaining, Ko-optasi (Co-optation), Koalisi (Coalition), dan Joint-ventrue.

(2) Akomodasi (Accomodation), yang mempunyai betuk-bentuk: Coercion, Compromise, Arbitration, Mediation, Conciliation, Toleration, Stalemate, dan Adjudication. (3) Asimilasi (Assimilation). Yang termasuk proses disosiatif yaitu Persaingan (competition), Kontravensi (contravention), dan Pertentangan atau pertikaian (conflict).

Yang termasuk bentuk persaingan yaitu Persaingan ekonomi, Persaingan kebudayaan, Persaingan kedudukan dan peranan, dan Persaingan ras. Yang termasuk ke dalam bentuk kontravensi yaitu kontravensi yang umum, sederhana, intensif, rahasia, dan taktis. Bentuk-bentuk pertentangan antara lain: Pertentengan pribadi, Pertentangan rasial, Pertentangan antara kelas-kelas sosial, Pertentangan politik, dan Pertentangan yang bersifat internasional.

(19)

16

Ada tiga jenis interaksi sosial, yaitu: Interaksi antara Individu dan Individu, Interaksi antara Kelompok dan Kelompok, dan Interaksi antara Individu dan Kelompok.

Interaksi sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang, Ada komunikasi antarpelaku, Ada dimensi waktu, dan Ada tujuan-tujuan tertentu. Faktor-faktor dalam interaksi sosial yaitu Faktor Imitasi, Faktor Sugesti, Fakor Identifikasi, dan Faktor Simpati.

3.2. Saran

Kami menyadari pembahasan tentang proses dam dinamika social dalam pendidikan (interaksi social sebagai dasar proses sosial) yang telah dijelaskan dalam makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang sifatnya membangun untuk penulisan makalah di kemudian hari.

(20)

17

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama,Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta:YayasanPenyelenggara Penafsir danPenerjemah Al-Qur‟an, 2003)

Faisal, Sanapiah. Sosiologi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional. 2000) Gerungan, W. A. 2004. Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama

Hanik, Umi. INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT PLURAL AGAMA, (Yogyakarta:

Kelompok CV. Penerbit Kutub, 2019)

Maunah, Binti. Dialektika Pembelajaran Sosiologi Pendidikan, (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2019)

Nismawati. Pengaruh Syarat Interaksi Sosial Guru Terhadap Motivasi Belajar Sosiologi Siswa di SMAN 1 Mallusetasi Kabupaten Barru, (Malang: Jurnal Sosiologi Pendidikan Universitas Negeri Malang, 2014)

Raho, Bernard. SVD, sosiologi, (Yogyakarta: Moya Zam Zam, 2016)

Rifa‟i, Muhammad Nasibar. Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4. Terj Syihabuddin, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001)

Soekanto, Soerjono Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003) Sosiologi, Tim. 2003. Sosiologi Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas 1 SMA.

Jakarta: Yudhistira.

Syarifuddin, Amir. Garis-garis Besar Fiqh, (Bogor: Prenada Media, 2003) Walgito. Sosiologi Pendidikan, (Bandung: PT. Refika Aditama, 1998)

http://mossdefcommunity.blogspot.com/2010/02/pengertian-hablum-minallah-dan hablum.html

Referensi

Dokumen terkait

INTERAKSI ADALAH SUATU HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA DUA ATAU LEBIH INDIVIDU, DIMANA PRILAKU INDIVIDU YANG SATU MEMPENGARUHI, MENGUBAH, ATAU MEMPERBAIKI PRILAKU INDIVIDU LAIN,

perbuatan. Karena ada aksi dan reaksi, maka interaksi pun terjadi. Karena itu, interaksi akan berlangsung bila ada hubungan timbal balik antara dua orang atau

Pengaruh Interaksi Edukatif terhadap Konsep Pemahaman Diri Siswa dalam Belajar Interaksi edukatif adalah suatu hubungan timbal balik (feed-back) antara individu yang satu dengan

Interaksi sosial yaitu hubungan timbal balik dan pengaruh-mempengaruhi antar individu dalam masyarakat, serta antar individu dalam masyarakat, serta antar

perbuatan. Karena ada aksi dan reaksi, maka interaksi pun terjadi. Karena itu, interaksi akan berlangsung bila ada hubungan timbal balik antara dua orang atau

Interaksi timbal balik dalam tidak hanya dapat dilakukan dalam struktur sosial yang paling kecil yakni individu, tetapi juga dapat dilakukan pada struktur sosial yang lebih besar

Interaksi sosial dalam keluarga adalah hubungan timbal balik antara siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Palembang dengan sekumpulan orang, atau individu dengan individu

Menurut Wulansari (2009 : 34) interaksi sosial merupakan bentuk umum dari proses sosial dapat didefinisikan sebagai hubungan- hubungan timbal balik antara individu