MAKALAH STATISTIK
VARIABLE, HIPOTESIS, SAMPLING
DOSEN PENGAMPU:
Riski Sovayunanto, S.Psi., M. Si
DI SUSUN OLEH :
1. Arengga Akbar Gumilang 2040606012
2. Aline Faustina Azaria 2040606011
3. Ita Cahya Anameswari 2040606065
4. Verra Septiana Wati 2040606061
5. Wiwi Sartika 2040606014
6. Yemima Surang 2040606054
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah yang berjudul Variabel Penghubung ini tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Statistik. Kami berharap makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Variabel dalam sebuah penelitian. Dalam hal ini pun penyusun masih dalam tahapan belajar, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah dari awal sampai akhir.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...1
DAFTAR ISI...2
BAB 1 PENDAHULUAN...3
1.1 Latar Belakang...3
1.2 Rumusan Masalah...3
1.3 Tujuan...5
BAB 2 PEMBAHASAN...6
2.1 Variable...6
a) Variable penghubung...6
b) Variable Bebas...7
c) Variable Tergantung...10
d) Variable Moderator...15
e) Variable Kontrol...16
f) Variable Random...20
2.2 Hipotesis...22
1. Hipotesis Nol atau Null hypothesis (H0)...24
2. Hipotesis Alternatif atau Alternative Hypothesis (H1)...24
2.3 Teknik Sampling...29
BAB 3 PENUTUP...33
3.1 Kesimpulann...33
DAFTAR PUSTAKA...34
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Variabel ini menjadi sangat penting karena tidak mungkin peneliti melakukan penelitian tanpa adanya variabel. Namun terkadang banyak hal juga yang menyebabkan kita kurang
mengetahui mengenai apa dan seperti apa variabel serta apa saja jenis variabel dalam penelitian itu.
Banyak hal yang menjadi pertanyaan dan itulah sebabnya membahas variabel menjadi suatu hal yang sangat penting. Istilah “variabel” merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian, F.N. Kerlinger menyebut variabel sebagai sebuah konsep sepertihalnya laki-laki dalam konsep jenis kelamin, insaf dalam konsep kesadaran.
Menurut Y. W. Best yang disunting Sanpiah Faisal yang disebut variabel penelitian adalah kondisi-kondisi yang oleh peneliti dimanipulasikan, dikontrol atau diobservasi dalam suatu
penelitian. Sedagkan menurut Direktorat Pendidikan Tinggi Dekdikbud menjelaskan bahwa yang dimaksud variabel penelitian adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian Variabel dapat diaartikan sebagai pengelompokan yang logis dari dua atribut atau lebih. Misalnya variabel jenis kelamin (laki-laki dan wanita), variabel ukuran industri (kecil, sedang dan besar), variabel jarak angkut (dekat, sedang dan jauh), variabel sumber modal (modal dalam negeri dan modal asing) dan sebagainya.
Sutrisno Hadi mendefinisikan variabel sebagai gejala yang bervariasi misalnya, jenis kelamin, karena jenis kelamin mempunyai variasi: laki-laki – perempuan; berat badan, karena ada berat 40 kg, 45 kg dan sebagainya. Gejala adalah objek penelitian, sehinggavariabel adalahobjek penelitian yang bervariasi. Dinamakan variabel karena ada variasinya. Misalnya berat badandapat dikatakan variabel, karena berat badan sekelompok orang itu bervariasi antara satu orang dengan orang lain. Dalam upaya untuk membuktikan hipotesis, peneliti dapat dengan sengaja menyebabkan atau membuat gejala. Musyawarah ini disebut percobaan atau eksperimen.
Menurut Prof. Dr. S. Nasution, Hipotesis adalah dugaan tentang apa yang kita amati dalam upaya untuk memahaminya. (Nasution:2000)
Zikmund (1997:112), Menurut Zimund Hipotesis adalah proposisi atau dugaan belum terbukti bahwa tentatif menjelaskan fakta atau fenomena, serta kemungkinan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian
Teknik sampling adalah teknik yang dilakukan untuk menentukan sampel. Jadi, sebuah penelitian yang baik haruslah memperhatikan dan menggunakan sebuah teknik dalam menetapkan sampel yang akan diambil sebagai subjek penelitian. menurut Margono (2004)
1.2 Rumusan Masalah
a) Apa yang dimaksud dengan Variable?
Apa itu Hipotesis?
c) Apa saja Teknik Sampling?
1.3 Tujuan
a) Mengetahui Variable dan jenis-jenisnya.
b) Mengetahui apa itu Hipotesis.
c) Mengetahui Teknik-teknik Sampling.
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Variable
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan. Secara teoritis, variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau obyek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain. Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.
a) Variable penghubung
Variabel Penghubung adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antar variabel independen dengan dependen, tetapi tidak bisa diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela antara yang terletak diantara variabel independen dan dependen sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi perubahannya atau terjadi timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2010).
Pada Penelitian ini menjadi variabel penghubung adalah Kinerja Manajerial (Z).
Menurut Henry Simamora (2012:121 Kinerja Manajerial dapat didefinisikan sebagai berikut: “Hasil pekerjaan atau kegiatan seseorang maupun kelompok dalam suatu organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu”
Fungsi Variabel Penghubung
Variabel intervening berfungsi menghubungkan variabel satu dengan variabel lain.
Hubungan itu dapat menyangkut sebab akibat ataupun pengaruh atau terpengaruh.
Variabel ini merupakan variabel penyela atau antara yang terletak diantara variabel independen dan variabel dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.
Syarat-syarat atau hal-hal penting dalam penilitian - Sistematis
Penelitian dilaksanakan dan disusun dengan menggunakan pola, mulai dari yang palling sederhana hingga paling kompleks.
- Terencana
Penelitian dilaksanakan dengan pertimbangan dan terencana yang matang. Hal ini termasuk penggunaan metode penelitian yang sudah diperhitungkan sebelumnya.
- Menerapakan konsep ilmiah
Penilitian dilaksnakan dari awal hingga akhir dengan menerapakan konsep ilmiah sesuai dengan bidang ilmu sesuai dengan bidang
Contoh dari Variabel Intervening
Sebab sifat pembeli adalah rasional. Ini adalah salah satu contoh variabel intervening apabila anda memiliki:
Variabel Independen: Implementasi atas kebijakan harga baru Variabel Dependen: Meningkatnya volume penjualan
Gaya hidup. Variabel ini merupakan variabel intervening apabila anda memiliki:
Variabel Independen: Penghasilan Variabel Dependen: Gaya hidup
Hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan konsumen dan loyalitas.
Hubungan antara kualitas pelayanan (variabel independen).
Kepuasan konsumen (variabel intervening).
Loyalitas (variabel dependen).
Diterapkan kebijakan harga baru diikuti peningkatan volume penjualan, sebab pembeli bersifat rasional.
Diterapkan kebijakan harga baru (variabel Independen).
Diikuti peningkatan volume penjualan(variabel depanden).
Sebab pembeli bersifat rasional (variabel Intervening).
Diterapkan kebijakan harga baru diikuti peningkatan volume penjualan, sebab pembeli bersifat rasional.
Diterapkan kebijakan harga baru (variabel Independen).
Diikuti peningkatan volume penjualan(variabel depanden).
Sebab pembeli bersifat rasional (variabel Intervening).
b) Variable Bebas
Variabel bebas adalah variabel yang merupakan penyebab atau yang mempengaruhi perubahan pada variabel terikat atau yang menyebabkan terjadinya variasi bagi variabel terikat. Apabila variabel bebas berubah, maka variabel terikat juga akan berubah. Variable bebas merupakan variabel yang faktornya diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi.
Apabila digambarkan dalam suatu grafik, variabel bebas dan terikat selalu berada di tempat yang sama. Hal tersebut akan memudahkan kita untuk dapat melihat dengan cepat variabel mana yang bebas dan mana yang terikat ketika melihat grafik atau bagan. Dalam model persamaan matematik, variabel bebas selalu berada di sumbu x, atau sumbu horizontal, sedangkan variabel terikat berada pada sumbu y, atau sumbu vertikal.
Ciri-ciri varibel bebas
terdapat beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait variabel bebas, antara lain:
1. Variabel independen juga disebut “input” untuk fungsi, yang secara tradisional diplot pada sumbu x grafik, sedangkan variabel dependen dicatat pada sumbu y. Cara mudah untuk mengingat kedua variabel tersebut adalah dengan menggunakan singkatan DRY MIX, yang merupakan singkatan:
DRY : D – Dependent (Terikat); R – Responding (Tanggapan); Y – Y-axis (Sumbu Y)
MIX : M – Manipulated (Dimanipulasi); I – Independent (Bebas); X – X-axis (Sumbu X)
2. Nama lain variabel independen diantaranya yaitu:
(1) Variabel yang dikendalikan (2) Variabel penjelas
(3) Variabel paparan (dalam teori reliabilitas) (4) Variabel yang dimanipulasi
(5) Variabel predictor
(6) Faktor risiko (dalam statistik medis).
3. Variabel independen kadang-kadang disebut variabel “pengelompokan”, karena setiap kelompok memiliki level atau nilai tertentu dari variabel tersebut. Semua anggota dari setiap kelompok akan menerima atau berpartisipasi dalam intervensi yang sama, tetapi akan
berbeda untuk kelompok yang berbeda.
4. Variabel bebas memiliki tiga sifat yaitu:
5. Karena itu (seharusnya) merupakan “penyebab,” itu adalah semacam “perlakuan” atau kondisi yang bertindak (stimulus) pada subjek penelitian.
6. Peneliti memilih nilai (level, jumlah, dan lain-lain) dari “perlakuan” yang didapat partisipan.
7. Peneliti memilih partisipan mana yang menerima “perlakuan” dan mana yang tidak.
Cara Membuat Varibel Bebas
Variabel bebas merupakan adalah asumsi yang mengubah urutan untuk menilai dampaknya terhadap variabel terikat (hasil). Dengan kata lain, variabel bebas sebagai input dan variabel terikat sebagai output.
Variabel bebas sebagai suatu “penyebab”, atau semacam “perlakuan” atau kondisi (stimulus) yang bertindak pada objek yang akan. Peneliti memilih nilai (tingkat, jumlah, dan lain-lain) dari “perlakuan” yang didapatkan oleh objek yang diteliti. Peneliti memilih objek mana yang menerima “perlakuan” dan mana yang tidak.Jangan merasa buruk jika kita bingung dalam menentukan variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian ilmu sosial dan perilaku.
Namun, penting bagi kita untuk mempelajari perbedaan antara variabel bebas dan variabel terikat karena membingkai penelitian menggunakan variabel-variabel ini adalah pendekatan umum untuk mengatur elemen-elemen penelitian ilmu sosial untuk menemukan hasil yang relevan dan bermakna. Khususnya, penting untuk dua alasan berikut yaitu:
Kita perlu memahami dan dapat mengevaluasi penerapan variabel tersebut dalam penelitian orang lain.
Kita perlu menerapkannya dengan benar dalam penelitian kita sendiri.
Variabel penelitian hanya mengacu pada seseorang, tempat, benda, atau fenomena yang akan kita coba ukur dalam beberapa cara. Cara terbaik untuk memahami perbedaan antara variabel bebas dan terikat adalah memahami bahwa makna masing-masing tersirat pada kata-kata yang memberi tahu kita tentang variabel yang kita gunakan.
Kita dapat melakukan ini dengan latihan sederhana dari situs web, Tutorial Grafis. Gunakan kalimat, “[variabel bebas] mengakibatkan perubahan pada [variabel terikat] dan tidak mungkin [variabel terikat] dapat mengakibatkan perubahan dalam [variabel bebas]”.
Masukkan nama-nama variabel yang kita gunakan dalam kalimat dengan cara yang paling masuk akal. Ini akan membantu kita mengidentifikasi setiap jenis variabel. Jika masih belum yakin, konsultasikan dengan profesor kita sebelum mulai menulis.
Penentuan variabel bebas dan terikat dalam sebuah penelitian atau eksperimen dapat dipahami dari contoh berikut yaitu Eksperimen Anti-Rasisme yang dilakukan oleh seorang guru bernama Jane Elliott.
Eksperimen guru kelas 3 bernama Jane Elliott yang membagi kelasnya menjadi dua kelompok yaitu anak-anak bermata biru dan bermata cokelat. Dia memberi anak-anak
bermata biru hak istimewa tambahan dan menekankan betapa superior mereka terhadap mata cokelat, yang sekarang menjadi “kelompok minoritas.”
Akibatnya, anak-anak bermata coklat mengalami penurunan kepercayaan diri, kinerja akademik dan peningkatan bullying. Namun, ketika dia kemudian memberi label kelompok mata biru sebagai inferior, efek tersebut menunjukkan kondisi yang sebaliknya.
Dalam hal ini, variabel bebasnya adalah status kelompok, yaitu apakah anak-anak berada dalam kelompok istimewa atau tidak. Ini memiliki berbagai efek yang dapat diamati pada anak-anak. Yang perlu diingat dalam hal ini bahwa warna mata anak-anak bukanlah variabel bebas. Warna mata adalah pilihan acak yang dibuat oleh guru untuk menarik kesejajaran dalam hal rasisme dan prasangka.
Contoh Variabel Bebas
Contoh variabel bebas dalam penelitian antara lain:
Seorang ilmuwan sedang menguji efek gelap dan terangnya cahaya terhadap perilaku ngengat dengan menyalakan dan mematikan lampu. Variabel bebas dalam hal ini adalah jumlah cahaya, sedangkan variabel terikatnya adalah reaksi ngengat
Seorang peneliti ingin mengetahui pengaruh suhu pada pigmentasi tanaman. Variabel bebas (penyebab) dalam hal ini adalah suhu, sedangkan variabel terikatnya (efek) jumlah pigmen atau warna.
Seorang peneliti ingin mengukur apakah jumlah tidur memengaruhi nilai tes. Variabel bebas dalam hal ini adalah jam tidur, sedangkan sedangkan variabel terikatnya adalah skor tes.
Seorang ilmuwan mempelajari dampak suatu obat terhadap kanker. Variabel bebas dalam hal ini adalah pemberian obat – dosis dan waktu, sedangkan variabel terikatnya adalah dampak obat terhadap kanker.
Seorang peneliti ingin tahu bagaimana asupan kalori mempengaruhi berat badan. Variabel bebas dalam hal ini adalah asupan kalori, sedangkan variabel terikatnya adalah berat badan
c) Variable Tergantung
Variabel Tergantung atau Variable dependen adalah apa yang diukur dalam percobaan. Ini adalah perubahan karena adanya perubahan pada variabel independen.
Variabel penelitian ini disebut dependen karena “bergantung” pada variabel independen.
Dalam eksperimen ilmiah, Anda tidak dapat memiliki variabel dependen tanpa adanya variabel independen.
Variabel dependen juga disebut variabel output, kriteria, atau konsekuensial. itu adalah akibat atau pengaruh yang ditimbulkan oleh variabel bebas. Penelitian ini mengamati dan mengukur variabel dependen untuk mengetahui pengaruh variabel independen.
Di sini, variabel dependen disebut juga variabel yang terpengaruh atau dihasilkan karena variabel independen. Variabel terikat tidak dapat berubah kecuali terjadi sesuatu yang lain atau mempengaruhi itu. Yang dapat mempengaruhi variabel terikat adalah variabel bebas.
Karakteristik Variabel Dependen
Berbagai karakteristik dari variabel dependen antara lain:
1. Variabel dependen mengacu pada jenis variabel yang mengukur pengaruh variabel bebas pada eksperimen.
2. Peneliti memutuskan untuk mengukur variabel dependen karena menurutnya variabel tersebut mencerminkan proses yang seharusnya dipengaruhi oleh variabel independen.
3. Variabel dependen disebut dengan variabel terikat karena dianggap tergantung pada beberapa variasi variabel independen.
Jadi bagaimana para ilmuwan mendefinisikan variabel dependen yang baik? Stabilitas seringkali merupakan pertanda baik kualitas variabel dependen. Jika eksperimen yang sama diulangi dengan partisipan, kondisi, dan manipulasi eksperimental yang sama, efek pada variabel dependen harus sangat mirip dengan apa yang dilakukan pertama kali.
Ciri-Ciri Varibel Dependen
Berikut ini ciri-ciri variabel dependen atau dikenal dengan juga dengan variabel bebas, antara lain:
1. Sebagai variabel yang diukur atau diuji atau dimanipulasi dalam percobaan atau eksperimen
Variabel dependen adalah variabel yang diukur atau diuji dalam percobaan. Sebagai contoh, dalam sebuah studi kasus yang mengamati bagaimana les berdampak nilai tes, variabel dependen akan menjadi nilai tes peserta, karena itulah yang sedang diukur.
2. Selalu berubah seiring perubahan pada variabel independen
Sesuai namanya, varibel dependen atau variabel terikat akan selalu dipengaruhi oleh variabel bebas, sehingga ketika peneliti memberikan perlakuan atau mengubah variabel bebas, maka variabel terikat juga akan ikut berubah, ataua dengan kata lain variabel dependen adalah jenis variabel yang sepenuhnya bergantung pada variabel independen.
3. Memiliki variasi yang beragam dalam menanggapi perubahan variabel lain
Jika itu adalah sesuatu yang bervariasi dalam menanggapi perubahan dalam variabel lain, itu adalah variabel dependen. Dalam banyak eksperimen dan studi psikologi, variabel dependen adalah ukuran aspek tertentu dari perilaku partisipan.
Pada percobaan yang melihat bagaimana tidur mempengaruhi kinerja tes, variabel dependen akan menguji kinerja karena itu adalah ukuran perilaku peserta.
4. Variabel dependen disebut juga variabel prediktif
Nama lain untuk variabel dependen ialah variabel prediktif karena variabel dependen memiliki nilai-nilai yang diprediksi atau diasumsikan oleh variabel prediktor/independen.
5. Variabel dependen disebut juga variabel endogen
Dalam Structural Equation Modelling (SEM) atau permodelan persamaan struktural, variabel dependen juga dinamakan sebagai variabel endogen.
6. Memiliki beragam nama lain
Selain variabel prediktor atau prediktif dan variabel indogen, variabel terikat disebut juga
“variabel respons,” “regresi,” “variabel terukur,” “variabel yang diamati,” “variabel yang merespons,” “variabel yang dijelaskan,” “variabel hasil,” “variabel eksperimental,” dan
“variabel output “.
8. Dalam statistik multivariat variabel dependen disebut juga variabel target
9. Dalam tool data mining (untuk statistik multivariat dan pembelajaran mesin), variabel dependen diberi peran sebagai variabel target (atau dalam beberapa alat sebagai atribut label), sedangkan variabel independen dapat diberi peran sebagai variabel reguler.
Nilai yang diketahui untuk variabel target disediakan untuk set data pelatihan dan set data uji, tetapi harus diprediksi untuk data lainnya. Variabel target digunakan dalam algoritma pembelajaran terawasi tetapi tidak dalam pembelajaran tanpa pengawasan.
8. Dalam pemodelan matematika, variabel dependen dipelajari untuk melihat variasi variabel independen
Dalam pemodelan matematika, variabel dependen dipelajari untuk melihat apakah dan seberapa bervariasi karena variabel independen bervariasi. Dalam model linear stokastik sederhana yi = a + bxi + ei istilah yi adalah nilai ke-i dari variabel dependen dan xi adalah nilai ke-i dari variabel independen. Istilah ei dikenal sebagai “eror” dan berisi variabilitas variabel dependen yang tidak dijelaskan oleh variabel independen.
9. Jika variabel dependen memiliki lebih dari dua kategori (yaitu, itu bukan biner), analisis diskriminan dapat digunakan
Jika variabel dependen memiliki lebih dari dua kategori (yaitu, itu bukan biner), analisis diskriminan dapat digunakan untuk mengidentifikasi variabel yang paling baik
mengklasifikasikan data.
Jika variabel dependen kontinu (numerik), regresi linier dapat digunakan untuk
memprediksi nilai-nilai variabel dependen dari satu set variabel independen. Jika formula yang akan dipasang diketahui sebelumnya, dan parameternya non-linear, maka teknik non- linear akan menjadi yang paling tepat untuk digunakan.
Jika variabel dependen adalah biner, seperti halnya untuk diagnosis yang hasilnya positif atau negatif, maka model regresi logistik akan digunakan. Jika variabel bias, seperti dalam
“waktu sejak pembelian terakhir,” teknik yang sesuai akan mencakup “Tabel Kehidupan,”
“Kaplan-Meier,” atau regresi jenis “Cox”.
10. Variabel dependen yang bersifat homogen
Ketika variabel dependen bersifat homogen dan didefinisikan sebagai fungsi dari parameter yang kontinu, seperti dalam spektra atau kromatogram, karena korelasi yang tinggi di antara prediktor tetangga, akan lebih bermakna untuk memilih kelompok variabel daripada satu, dalam satu waktu.
Salah satu cara untuk melakukannya, dalam konteks metode berbasis variabel laten adalah dengan menggunakan apa yang disebut pendekatan interval.
Cara Membuat Variabel Dependen
Sebagai contoh, “konsumsi kopi mengarah pada peningkatan produktivitas.” Kalimat ini tidak akan masuk akal jika Anda dibingungkan tentang penentuan variabel independen atau variabel dependen serta membuat kalimat terbalik “produktivitas meningkatkan konsumsi kopi”.
Terkadang sulit untuk membedakan antara variabel dependen dan independen. Jika Anda tidak yakin, tanyakan pada diri Anda variabel mana yang dipengaruhi atau yang
mempengaruhi. Cobalah untuk membangun kalimat kausal di mana variabel independen adalah penyebab dan variabel dependen adalah akibat.
Jika Anda mengubah satu variabel, tentang apakah itu? Misalnya, jika memeriksa laju pertumbuhan tanaman yang menggunakan pupuk berbeda, dapatkah Anda mengidentifikasi variabelnya? Anda bisa memikirkan apa yang nantinya akan Anda ukur dalam penelitian yang akan dilakukan.
Jenis pupuk merupakan variabel independen. Tingkat pertumbuhan adalah variabel dependen. Jadi, untuk menjalankan percobaan, Anda bisa menggunakan satu pupuk dan mengukur perubahan tinggi tanaman dari waktu ke waktu. Kemudian beralih ke pupuk lain dan ukur tinggi tanaman selama periode yang sama.
d) Variable Moderator
variabel Moderator adalah adalah variabel yang mempengaruhi kuat lemahnya hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung.
Variabel moderator secara metodologis adalah bagian dari variabel bebas karena memberikan pengaruh baik langsung atau tidak langsung terhadap variabel tergantung.
Level data variabel moderator dapat berbentuk data nominal (misalnya jenis kelamin), ordinal atau interval. Untuk mempermudah pemahaman mengenai terhadap berlakunya variabel moderator, biasanya peneliti mengkategorikan variabel moderator menjadi dua level, misalnya tinggi-rendah. Pengkategorian ini tidak berlaku pada variabel moderator yang sejak awal sudah berbentuk kategori.
Dalam konsep korelasi, variabel moderator adalah variabel ketiga yang mempengaruhi korelasi dua variabel. Dalam konsep hubungan kausal (sebab-akibat), jika X adalah variabel prediktor dan Y adalah variabel penyebab, maka Z adalah variabel moderator yang
mempengaruhi hubungan kasual dari X dan Y. Untuk mengetahui apakah sebuah variabel berfungsi sebagai moderator atau tidak, kita dapat mengujinya.
Tujuan varibel moderator
Tujuan variabel moderasi adalah untuk mengukur kekuatan hubungan antara Variabel independen dengan variabel dependen. Misalnya, jika umur adalah (variabel moderator) antara gaji (variabel independen) dan biaya pemeriksaan kesehatan (variabel dependen), maka hubungan antara gaji dengan biaya pemeriksaan kesehatan akan lebih besar untuk orang yang lebih tua dibanding dengan orang yang lebih muda.
Contoh Variabel Moderator
Contoh variabel moderator adalah sebagai berikut:
Apabila suku bunga simpanan dinaikkan, maka masyarakat akan banyak yang menabung.
Masyarakat tidak mempunyai sisa uang untuk ditabung atau masyarakat kurang percaya pada bank.
Jika harga emas turun, maka masyarakat akan banyak yang membeli emas. Masyarakat tidak mempunyai emas atau masyarakat tidak ingin membeli emas jika harganya mahal.
Hubungan motivasi dan prestasi belajar akan semakin kuat jika peran guru dalam menciptakan lingkugnan belajar sangat baik. Hubungan akan semakin rendah jika peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar kurang baik.
Apabila harga emas turun, maka masyarakat akan banyak yang membeli emas.
Masyarakat tidak mempunyai emas atau masyarakat tidak ingin membeli emas karena harganya mahal.
e) Variable Kontrol
Pengertian variabel kontrol secara umum dapat diartikan sebagai variabel yang dapat dikendalikan oleh si peneliti. Variabel kontrol sifatnya tidak dapat dipengaruhi oleh faktor luar dan sering digunakan untuk penelitian eksperimen. Variabel kontrol menurut Sugiyono (2017) adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga variabel
independen terhadap variabel dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Umumnya, jenis penelitian ini lebih sering digunakan untuk mengontrol perusahaan, leverage, dan profitabilitas.
Ciri-ciri variabel kontrol
maka sebelum masuk ke contoh variabel kontrol, ada beberapa ciri-ciri variabel kontrol.
1. Sebagai Variabel terkendali
Variabel kontrol lebih familiar disebut dengan variabel kendali. Karena fungsinya memang untuk mengendalikan variabel-variabel yang lain. Selain itu, variabel terkendali disebut juga dengan variabel yang dinetralisir.
2. Untuk Membandingkan
Disadari atau tidak, variabel kontrol juga sering digunakan untuk membandingkan. Terutama dalam penelitian eksperimental, maka variabel kontrol lebih sering digunakan untuk melakukan pembandingan dengan sampel yang tengah diangkat oleh peneliti.
3. Meningkatkan Presisi dari Estimasi Koefisien
Ternyata variabel kontrol dapat meningkatkan presisi dari estimasi koefisien. Sebenarnya hal ini dikarenakan pengaruh dari keputusan atau penentu hipotesis penelitian yang diangkat oleh peneliti.
4. Variabel Kontrol Tidak Dapat Hilang Begitu Saja
Adapun ciri dari variabel kontrol, yaitu variabel kontrol yang dilakukan pengukuran tidak dapat dihilangkan, namun juga tidak dapat sepenuhnya dihapus dari koefisien. Menurut Homburg dkk (2012c) diperlukan penelitian standar tinggi yang sama untuk bisa mengukur variabel kontrol yang mirip dengan menggunakan pretesting, skala multi-item, dan informan.
Oh iya, satu tambahan lagi, peneliti tidak disarankan menggunakan variabel kontrol proksi.
Alasannya sederhana, karena hubungan antara variabel kontrol proksi dengan variabel dependen tidak memiliki hubungan yang kuat.
5. Variabel Kontrol dalam Diskusi dan interpretasi
Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan. Maka peneliti dapat melaporkan efek variabel kontrol dari variabel dependen. Umumnya, banyak peneliti yang mengabaikan hal ini. Nah, dalam interpretasi diskusi, peneliti perlu mempertimbangkan apakah kesimpulan kausal sesuai dengan hasil data dan variabel yang diperoleh di lapangan.
6. Pengukuran Variabel Terkendali
Dalam melakukan sebuah penelitian, tidak semua peneliti memiliki ketekunan dan perhatian selama pengambilan data. Apalagi bagi mahasiswa semester akhir, membangun mood dan semangat menyelesaikan penelitian bukanlah hal gampang. Maka tidak heran jika banyak peneliti mahasiswa akhir yang memakan waktu bertahun-tahun.
Akan beda cerita lagi jika peneliti adalah orang yang berkompeten dan memiliki jam terbang tinggi. bagi yang sudah professional, penelitian sudah menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun, tetap ada juga yang tidak peduli dengan masalah pengukuran. Sehingga tidak memperhatikan dan tidak mempedulikan kehadiran variabel kontrol.
Ternyata, variabel terkendali atau variabel kontrol dapat digunakan sebagai pengukuran yang andal dan valid. Dan ini dibenarkan oleh Homburg dan Giering (1996). Jadi, variabel kontrol sudah tidak diragukan lagi.
7. Meningkatkan Interpretasi Kausal
Jika kita melihat contoh variabel kontrol yang dipublikasikan di internet, di sana kita bisa temukan bahwa variabel kontrol dapat membantu dalam meningkatkan interpretasi kausal dari estimasi koefisien.
Menurut Edwards dan Bagozzi (2000) terdapat empat sitesis literature yang mempengaruhi kriteria interpretasi kausal yang sedang diamati. Keempat sintesis literature tersebut meliputi sebab dan akibat harus fenomena yang berbeda, sebab harus mendahului efek dalam waktu, sebab dan akibat harus dikaitkan dan penjelasan sebab akibat alternatif dari hubungan yang diamati harus dikesampingkan.
8. Tidak Selalu Dalam Bentuk Eksplisit
Jadi variabel kontrol dalam sebuah penelitian tidak selalu ditunjukan secara eksplisit. Namun khusus penelitian yang bersifat eksperimental, maka variabel kontrol sangat penting dan mendasar. Hal ini disebabkan karena variabel kontrol dalam penelitian eksperimental bertanggungjawab untuk mengurai kerumitan yang kompleks dalam penelitian yang tengah diangkat.
9. Bersifat konstans
Jadi variabel kontrol adalah variabel yang tidak bisa diubah-ubah. Hal ini karena variabel kontrol sebagai elemen yang tidak mengalami perubahan selama percobaan. Dengan kata lain, variabel kontrol sebagai variabel stimulus yang memudahkan peneliti untuk memahami variabel yang dilakukan pengujian.
Saat variabel yang lain dapat diberi perlakuan khusus, maka fungsi variabel kontrol berdiri sendiri, sebagai alat ukur. Tanpa variabel kontrol, maka susah mengukur variabel yang diberi perlakuan tersebut.
Itulah beberapa ciri variabel kontrol yang perlu digaris bawahi. Dari beberapa ciri di atas, sebenarnya tidak semua peneliti menerapkannya. Justru banyak yang abai dan tidak peduli. Buat Anda yang sudah tidak sabar dengan contoh variabel kontrol, langsung saja kita intip pembahasan sebagai berikut.
Manfaat varibel kontrol
Secara umum, terdapat beberapa manfaat dari pemanfaatan variabel kontrol dalam suatu penelitian. Berikut ini adalah manfaat-manfaat dari menggunakan variabel kontrol dalam menganalisis suatu fenomena.
1. Meningkatkan Akurasi
Manfaat pertama dari menggunakan variabel kontrol adalah akurasi dari penelitian kalian akan meningkat. Hal ini terjadi karena kalian bisa memastikan bahwa yang mempengaruhi variabel terikat hanyalah variabel bebasnya. Tidak ada intervensi dari variabel-variabel lain karena mereka dijaga agar konstan.Bahkan, banyak penelitian yang sama sekali tidak bisa dilakukan jika tidak menggunakan variabel kontrol karena terdapat banyak variabel yang berpotensi menjadi variabel bebas. Oleh karena itu, jika tidak dilakukan kontrol dan standarisasi variabel, bisa jadi hasilnya tidak representatif dan justru menyesatkan.
2. Mempermudah Penjelasan
Karena kalian sudah bisa memastikan bahwa variabel-variabel terikat yang ada pasti hanya dipengaruhi oleh variabel bebas, maka kalian dapat menjelaskan dengan lebih mudah hubungan-hubungan yang terjadi antar variabel.Hal ini sangat penting, terutama jika kalian melakukan penelitian yang cukup kompleks dan melibatkan banyak variabel.
Di tengah jalan, kalian pasti akan kesulitan untuk menganalisis tiap-tiap variabel dan hubungan yang terjadi antar variabel tersebut. Oleh karena itu, penetapan variabel kontrol sangatlah penting.Jangan sampai kompleksitas dan jumlah variabel yang banyak membuat penelitia kalian jadi tidak akurat dan sulit untuk dijelaskan kepada para pembaca jurnal.
Adapun untuk fungsi adanya variabel kontrol, antara lain;
1. Memberikan Kontrol Pengaruh Percobaan
Variabel ini terkadang dapat memengaruhi percobaan saat Anda tidak menginginkannya. Agar Anda dapat melakukan penelitian dengan tepat, Anda harus mengatur lingkungan yang tepat dan terkontrol sebaik mungkin. Anda perlu memastikan bahwa Anda memiliki banyak faktor atau variabel yang dapat Anda gunakan untuk membuktikan hipotesis penelitian Anda
2. Menjadi Bagian daripada Penelitian
Adanya bentuk variabel kontrol sejatinya akan tetap sama selama seluruh penyelidikan.
Ini adalah variabel kontrol atau variabel konstan. Penjelasan ini tentusaja tidak turut berperan dalam eksperimen, meskipun mungkin secara tidak langsung menjadi bagian dari eksperimen.
3. Memahatkan Korelasi Variabel Dependen dan Independen
Variabel kontrol sejatinya menjadi bagian daripada apa yang dijaga tetap sama selama percobaan, dan itu tidak menjadi perhatian utama dalam hasil eksperimen. Setiap perubahan dalam variabel kontrol dalam percobaan akan mematahkan korelasi variabel dependen (DV) ke variabel independen (IV), sehingga hasilnya miring.
Contoh variabel kontrol
Contoh 1 : Selera Makan Kucing Berdasarkan Suhu Ruangan
Penelitian terhadap nafsu makan kucing dipengaruhi oleh suhu ruangan. Di dalam penelitian selain pengaruh suhu ruangan juga terdapat beberapa variabel dan analisis lain. Diketahui bahwa terdapat variabel bebasnya adalah suhu ruangan. Variabel terikatnya adalah nafsu makan si kucing. Ternyata nafsu makan kucing tidak hanya dipengaruhi oleh suhu ruangan saja. Tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor lain yang mengikutinya. Ada banyak faktor,misalnya faktor jenis kucing juga akan mempengaruhi nafsu makan. Kucing kampung dengan kucing Persia tentu saja memiliki perilaku yang berbeda. Maka dari itu, agar tidak mempengaruhi variabel terikat, dibutuhkan variabel kontrol secara ketat agar hasilnya objektif.
Contoh 2 : Pengaruh Hubungan prestasi mahasiswa bidikmisi terhadap keberhasilan masa depan
Sebuah penelitian mengangkat tema tentang hubungan prestasi mahasiswa bidikmisi dalam keberhasilan di masa depan. Dalam penelitian tersebut, variabel kontrolnya adalah jurusan perkuliahan.
Contoh 3 : Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap pendapatan keluarga
Dalam sebuah penelitian yang mengambil topik penelitian tentang pengaruh tingkat pendidikan terhadap pendapatan keluarga ditentukan bahwa variabel bebasnya adalah tingkat pendidikan, sementara variabel terikat ada pendapatan keluarga yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Ternyata dalam hasil penelitian, ditemukan bahwa tingkat pendapatan keluarga hanya salah satu pengaruh terhadap tingkat pendidikannya saja. Masih ada beberapa faktor yang mempengaruhi, misalnya dipengaruhi oleh faktor tempat tinggal, kondisi keutuhan keluarga dan masalah pertumbuhan ekonomi yang ada di tempat tinggalnya. Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan keluarga. Selain karena tingkat pendidikan, juga dipengaruhi oleh faktor pendapatan keluarga, kebutuhan keluarga, tempat tinggal, dan pertumbuhan ekonomi tempat tinggalnya.
Contoh 4 : Mengetahui hubungan pengetahuan Pelajar dengan pergaulan bebas
Penelitian yang mengambil topik tentang hubungan pengetahuan pelajar dengan pergaulan bebas. Dalam penelitian tersebut variabel kontrolnya adalah tingkat pendidikan akan mempengaruhi seorang pelajar dalam bergaul.
Contoh 5 : Laju Pertumbuhan Tanaman Yang Tercukupi Sinar Matahari
Dalam sebuah penelitian yang meneliti tentang laju pertumbuhan tanaman yang cukup mendapat sinar matahari, maka yang dijadikan sebagai variabel terikat adalah kecepatan pertumbuhan tanaman.
Di dalam penelitian tersebut ternyata laju pertumbuhan tanaman tidak dipengaruhi oleh tercukupinya sinar matahari. Tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain, faktor kadar zat hara di tanah dan kesuburan tanah juga pengaruh. Termasuk pula faktor frekuensi pengairan juga menjadi salah satu faktor.
Dari beberapa faktor di atas, jika diberikan secara tidak terkontrol, juga dapat menyebabkan laju pertumbuhan tanaman mengalami hambatan dan masalah. Maka dari itu tetap dibutuhkan variabel kontrol agar tetap konstan saat dilakukan pengujian.
f) Variable Random
Variabel random atau dikenal juga dengan peubah acak merupakan suatu fungsi yang memetakan setiap anggota ruang sampel ke bilangan riil. Variabel random dinotasikan dengan huruf kapital, contoh X, Y, atau Z. Nilai yang mungkin dari variabel random dinotasikan dengan huruf kecil, contoh x, y, atau z.
Misalkan dalam eksperimen pelemparan koin sebanyak tiga kali, hasil eksperimen adalah munculnya sisi angka (A) atau sisi gambar (G), sehingga didapatkan ruang sampel
S={AAA, AAG, AGA, GAA, AAG, GAG, AGG, GGG}Jika didefinisikan variabel random X yang menyatakan banyaknya sisi G yang muncul, maka nilai x yang mungkin adalah 0, 1, 2, dan 3.
Macam –macam variabel random
Variabel acak dapat diklasifikasikan ke dalam variabel acak diskrit dan variabel acak kontinu.
a. Variabel acak diskrit, berhubungan dengan hasil sebuah peristiwa yang ruang sampelnya terhingga dan terhitung. Sedangkan distribusi peluangnya disebut distribusi peluang variabel acak diskrit. Umumnya variabel diskrit berhubungan dengan pencacahan terhadap suatu objek atau indvidu. Contoh lihat tabel 1 di atas. Kita tidak mungkin
mengatakan jumlah laki-laki = ½. atau ¼ . Beberapa contoh variabel diskrit :
1. Jumlah kesalahan pengetikan
2. Jumlah kendaraan yang melewati persimpangan jalan 3. Jumlah kecelakaan per minggu
b. Variabel acak kontinu, didefinisikan sebagai suatu variabel yang nilai-nilainya berada dalam ruang sample takterhingga. Variabel ini bisa mempunyai sebuah harga dimana harga-harga x dibatasi oleh -¥ < X < ¥. Variabel acak kontinu dapat diilustrasikan sebagai titik-titik dalam sebuah garis.
Pengukuran fisik seperti waktu atau panjang merupakan contoh yang paling mudah dipahami untuk variabel acak kontinu ini.
2.2 Hipotesis
Hipotesis statistik merupakan suatu dugaan atau pernyataan mengenai satu atau lebih sebuah populasi dalam penelitian. Hipotesis statistik merupakan salah satu cara pengujian dalam analisis dengan menggunakan sebagian data dari keseluruhan data pada penelitian kuantitatif.
Hipotesis statistik adalah suatu pernyataan operasional dalam penelitian kuantitatif yang diterjemahkan dalam bentuk angka-angka statistik sesuai dengan alat ukur yang dikehendaki oleh peneliti. Hipotesis statistik bisa berupa dua hal, yaitu penjelasan sementara atau prediksi tentang suatu hal yang akan diteliti. Hipotesis statistik tersebut harus berkaitan dengan aspek-aspek keseluruhan data yang digunakan.
Hipotesis menjadi sebagai prediksi ketika hipotesis tersebut memberikan gambaran tentang suatu fenomena sosial ke depan. Sedangkan hipotesis tersebut menjadi sebagai penjelasan sementara ketika hipotesis tersebut memuat adanya hubungan atau tidak antarvariabel, atau memberikan gambaran mengenai sebab akibat pada variabel- variabel tersebut.
Hipotesis yang digunakan dalam hipotesis statistika adalah statistika inferensial.
Statistika inferensial adalah metode statistik yang digunakan dalam menganalisis data sampel yang hasilnya akan digeneralisasikan pada populasi dari sampel tersebut berasal. Bentuk dari hipotesis statistik bisa berupa satu variabel, seperti, normal, binomial, dan poison, atau nilai dari suatu parameter, yaitu, varians, mean, standar deviasi, dan proporsi.
Ciri-ciri hipotesis
Ada beberapa ciri-ciri yang menunjukkan bahwa hipotesis tersebut baik. Ciri-cirinya seperti di bawah ini.
1. Hipotesis harus sesuai dengan fakta 2. Hipotesis harus dapat menerangkan fakta 3. Hipotesis harus menyatakan hubungan 4. Hipotesis harus sesuai dengan ilmu
5. Hipotesis harus dapat diuji 5. Hipotesis harus sederhana
Fungsi hipotesis
Hipotesis merupakan syarat utama dalam penelitian kuantitatif. Hipotesis memiliki beberapa fungsi dalam melancarkan suatu penelitian. Fungsinya dapat dirinci sebagai berikut.
Membantu membuat kerangka penyusunan simpulan penelitian
Membantu proses pengujian kebenaran teori
Membantu mengarahkan proses penelitian
Memberikan gagasan baru dalam pengembangan teori
Memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala
Memudahkan perluasan pengetahuan pada suatu bidang
Memberikan gambaran pola pada suatu penelitian
Memberikan dasar dalam pemilihan sampel
Memberikan prosedur yang harus dilakukan dalam penelitian
Memudahkan penyajian dalam penarikan simpulan
Manfaat penggunaan atau penempatan hipotesis
Ada beberapa manfaat yang didapatkan oleh peneliti ketika menggunakan atau menetapkan hipotesis dalam penelitiannya. Beberapa manfaatnya sebagai berikut.
Hipotesis bisa sebagai panduan dalam pengujian dan penyesuaian antarfakta dan dengan fakta
Hipotesis bisa menjadi alat yang sederhana untuk memfokuskan fakta dalam penelitian yang acak tanpa perlu koordinasi dalam suatu satu kesatuan yang menyeluruh dan penting
Hipotesis dapat memperkecil jangkauan dan memberikan batasan kerja suatu penelitian
Hipotesis dapat menyiagakan peneliti pada hubungan antarfakta dan kondisi fakta yang kadangkala luput dari perhatian para peneliti.
Jenis-jenis hipotesis
Jenis-jenis hipotesis statistika dibagi menjadi 2, yaitu seperti di bawah ini.
1. Hipotesis Nol atau Null hypothesis (H0)
Hipotesis nol yaitu berupa pernyataan yang tidak ada perbedaan parameter atau karakteristik dalam populasi. Pada hipotesis nol selalu mengandung data yang ada di tingkat populasi, dan biasanya ditandai dengan tanda sama dengan “=”.
Contohnya seperti di bawah ini.
Hipotesis nol (H0): “x sama dengan y”.
Hipotesis nol (H0): “x setidaknya y”.
Hipotesis nol (H0): “x paling banyak y”
2. Hipotesis Alternatif atau Alternative Hypothesis (H1)
Hipotesis Alternatif (H1), yaitu berupa pernyataan yang bertentangan dengan H0. Hipotesis alternatif bisa menunjukkan perbedaan dua kelompok, dan juga dapat menjelaskan hubungan antarvariabel. Contohnya seperti di bawah ini.
Hipotesis alternatif (H1): “x kurang dari y”
Hipotesis alternatif (H1): “x tidak sama dengan y”
Hipotesis alternatif (H1): “x lebih besar dari y”
Hipotesis alternatif dibagi menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut.
Hipotesis nondireksional atau tak terarah (Nondirectional Hypothesis) adalah menegaskan satu nilai yang berbeda dengan nilai yang lain. Selain itu, disebut juga hipotesis 2 sisi.
Ditandai dengan tanda tidak sama dengan “≠”.
Hipotesis Direksional atau terarah (Directional Hypothesis) adalah menegaskan bahwa ada satu ukuran yang lebih kecil atau lebih besar dibandingkan ukuran lainnya dengan sifat serupa. Selain itu, disebut juga dengan hipotesis 1 sisi, ditandai dengan lebih kecil “<” atau lebih besar “>”.
Perbedaan hipotesis statistik dan hipotesis penilitian
Hipotesis statistik berbeda dengan hipotesis penelitian. Bagaimana perbedaan antara keduanya? Simak penjelasannya di bawah ini.
1. Hipotesis Statistik
Hipotesis statistik yaitu suatu pernyataan atau dugaan yang belum terbukti mengenai suatu populasi dalam penelitian yang dinyatakan dengan angka-angka statistik.
Contohnya mengenai penelitian Hubungan antara usia dan kepuasan kerja perusahaan
H0: p = 0 H1: p ≠ 0
2. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian adalah dugaan sementara atau jawaban sementara dari sebuah permasalahan yang berbentuk pernyataan. Hipotesis penelitian merupakan pernyataan yang dibuat oleh peneliti ketika berspekulasi atau menduga suatu hal secara realistis dan dapat diuji pada suatu penelitian.
Contohnya mengenai penelitian tentang Hubungan antara keaktifan mahasiswa di organisasi dan tingkat IPK. Hipotesisnya adalah sebagai berikut.
H1: Ada hubungan yang signifikan antara mahasiswa yang aktif mengatur dan menjadi administrator organisasi
H2: Ada hubungan signifikan antara mahasiswa yang aktif berorganisasi untuk mencapai tingkat IPK minimum
H3: Ada hubungan yang signifikan antara mahasiswa yang aktif mengatur dan memimpikan pekerjaan yang diinginkan setelah lulus
H4: Ada hubungan yang signifikan antara mahasiswa yang aktif berorganisasi dengan lama kuliah 4 tahun
Macam-macam hipotesis
Hipotesis dibagi dalam 4 macam berdasarkan bentuknya. Di bawah ini adalah penjelasan 4 macam-macam hipotesis tersebut.
1. Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif adalah suatu jawaban atau pernyataan sementara pada sampel dalam suatu kelompok yang memiliki beberapa perbedaan di dalamnya. Pada hipotesis deskriptif ini dapat menunjukkan hubungan antara variabel secara implisit. Selain itu, hipotesis deskriptif dapat disebut juga dengan dugaan sementara terhadap nilai suatu variabel tunggal dalam satu sampel, walaupun di dalamnya bisa jadi terdapat beberapa kategori.
2. Hipotesis Komparatif (Perbandingan)
Hipotesis komparatif adalah suatu jawaban atau pernyataan sementara pada suatu rumusan masalah pada dua sampel atau lebih dalam satu komparasi atau perbandingan. Pada hipotesis komparatif ini dapat dilakukan dengan 2 atau lebih sampel yang dapat berupa dua hal, yaitu;
Komparasi tidak berhubungan (independen) Komparasi berhubungan (related)
3. Hipotesis Asosiatif (Korelasional/Hubungan)
Hipotesis asosiatif adalah jawaban-jawaban atau pernyataan-pernyataan sementara pada suatu hubungan atau asosiasi antara variabel satu dengan variabel lain dalam suatu penelitian. Hipotesis asosiatif disebut juga dengan hipotesis yang mengukur kekuatan hubungan antardua variabel dalam suatu sampel penelitian. Pada hipotesis asosiatif terdapat hubungan yang tidak menunjukkan adanya sebab akibat.
4. Hipotesis Kausal
Hipotesis kausal adalah suatu jawaban sementara atau dugaan pada rumusan masalah yang mempertanyakan bagaimana pengaruh faktor terhadap variabel respon. Selain itu,
hipotesis kausal dapat dikatakan sebagai hipotesis yang menyatakan hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih. Pada hipotesis kausalitas terdapat hubungan yang menunjukkan adanya sebab akibat.
Prosedur penguji hipotesis
Tujuan utama statistik adalah menguji hipotesis. Contohnya ketika kamu sedang melakukan penelitian dan menemukan bahwa ternyata suatu obat efektif dalam
mengobati sakit kepala, akan tetapi kamu tidak dapat mengulangi percobaan tersebut dan tidak ada yang percaya dengan hasil penelitianmu. Untuk itu, kamu harus menerapkan pengujian hipotesis terlebih dahulu.
Pengujian hipotesis adalah suatu proses yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan bukti dari sampel dan memberikan kerangka kerja untuk membuat penentuan terkait dengan populasi penelitian, yaitu memberikan metode untuk memahami seberapa andal seseorang dalam mengeksplorasi temuan yang diamati dalam sampel yang diteliti ke populasi dari mana sampel tersebut diambil (Davis & Mukamal, 2006).
Pada dasarnya, penelitian kuantitatif itu menguji teori, sehingga hipotesis sangat dibutuhkan dalam untuk pengujian teori tersebut. Pengujian hipotesis statistik haruslah diuji, karena dapat menentukan suatu teori tersebut diterima atau ditolak. Jika hipotesis
tersebut diterima, pengujian tersebut membenarkan pernyataan tersebut, sedangkan apabila ditolak, maka ada penyangkalan dari pernyataan tersebut.
Pengujian hipotesis adalah tindakan dalam statistik yang mengharuskan seorang analis atau peneliti untuk menguji mengenai parameter populasi pada suatu penelitian.
Pengujian hipotesis digunakan untuk menilai apakah hipotesis tersebut masuk akal atau tidak berdasarkan sampel data yang dipilih. Data sampel tersebut mungkin berasal dari populasi yang lebih besar, atau dari proses yang menghasilkan data.
Ada 4 tahap dalam pengujian hipotesis. Langkah-langkahnya pengujian hipotesis seperti di bawah ini.
Pertama, menyatakan dua hipotesis sehingga hanya ada salah satu yang benar
Kedua, merumuskan rencana analisis, yaitu menguraikan bagaimana data tersebut akan dievaluasi
Ketiga, melaksanakan rencana dan menganalisis data sampel secara fisik
Keempat, menganalisis hasil dan menolak hipotesis nol (H0) atau menyatakan hipotesis nol (H0) tersebut masuk akal berdasarkan datanya.
Contoh hipotesis
1. Contoh Hipotesis Statistik Asosiatif (Korelasional)
Contoh hipotesis asosiatif atau korelasional, penjelasannya seperti di bawah ini.
Ada hubungan antara tingkat disiplin mahasiswa dan nilai yang diperoleh.
H0: p ≤ 0 H1: p > 0
Ada hubungan antara tingkat disiplin mahasiswa dan nilai yang diperoleh; yaitu makin tinggi disiplin mahasiswa, maka nilai yang akan didapatkan akan semakin tinggi pula.
H0: p ≤ 0 H1: p > 0
2. Contoh Hipotesis Statistik Kausalitas (Sebab akibat)
Contoh hipotesis kausalitas atau sebab akibat penjelasannya seperti di bawah ini.
Ada pengaruh antara tingkat kesadaran dengan pengetahuan konsumen H0: β = 0
H1: β ≠ 0
Pada hipotesis di atas angkat yang bukan nol nilainya bisa jadi negatif, bisa juga positif.
Digunakan pada hipotesis tak terarah, dengan menolak H0, pengaruhnya bisa jadi positif, mungkin negatif.
Ada pengaruh antara ukuran perusahaan dengan efektivitas karyawan H0: β = 0
H1: β ≠ 0
3. Contoh Hipotesis Statistik Komparatif (Perbedaan)
Contoh hipotesis komparatif atau perbedaan penjelasannya seperti di bawah ini.
Apakah terdapat perbedaan produktivitas karyawan perusahaan A sebelum dilatih dengan setelah dilatih
Uji satu pihak (pihak kiri)
H0: μ1 = μ2 (tidak terdapat perbedaan produktivitas karyawan sebelum dilatih dengan setelah dilatih)
H1: μ1 < μ2 (produktivitas karyawan sebelum dilatih lebih kecil dibandingkan dengan sesudah dilatih)
Uji satu pihak (pihak kanan)
H0: μ1 = μ2 (tidak terdapat perbedaan produktivitas karyawan sebelum dilatih dengan setelah dilatih)
H0: μ1 > μ2 (produktivitas karyawan sebelum dilatih lebih besar dibandingkan dengan setelah dilatih)
Uji dua pihak
H0: μ1 = μ2 (tidak terdapat perbedaan produktivitas karyawan sebelum dilatih dengan setelah dilatih)
H0: μ1 ≠ μ2 (terdapat perbedaan produktivitas karyawan sebelum dilatih dibandingkan dengan setelah dilatih)
2.3 Teknik Sampling
Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.
Langkah dalam mencari teknik pengambilan sampel
Menurut Dalen (1981), beberapa langkah yang harus diperhatikan peneliti dalam menentukan sampel, yaitu:
1. Menentukan populasi,
2. Mencari data akurat unit populasi, 3. Memilih sampel yang representative, 4. Menentukan jumlah sampel yang memadai.
Jenis Teknik Penentuan Sampel
Untuk menentukan sampel dalam penelitian, terdapat berbagai teknik pengambilan sampel yang digunakan. Teknik sampling berdasarkan adanya randomisasi, yakni pengambilan subyek secara acak dari kumpulannya, dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu sampling nonprobabilitas dan sampling probabilitas. Teknik-teknik sampling tersebut dapat dilihat pada skema berikut.
1. Probability Sampling
Probability sampling adalah salah satu teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Dengan probability sampling, maka pengambilan sampel secara acak atau random dari populasi yang ada.
Teknik sampel probability sampling meliputi:
a. Simple Random Sampling
Simple Random Sampling dinyatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
Simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Maka setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang
terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili populasinya. Cara tersebut dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.
Teknik tersebut dapat dipergunakan bila jumlah unit sampling dalam suatu populasi tidak terlalu besar. Cara pengambilan sampel dengan simple random sampling dapat dilakukan dengan metode undian, ordinal, maupun tabel bilangan random Untuk penentuan sample dengan cara ini cukup sederhana, tetapi dalam prakteknya akan menyita waktu. Apalagi jika jumlahnya besar, sampelnya besar.
b. Proportionate Stratified Random Sampling
Proportionate Stratified Random Sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis. Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.
Kelemahan dari cara ini jika tidak ada investigasi mengenai daftar subjek maka tidak dapat membuat strata.
c. Disproportionate Stratified Random Sampling
Disproportionate Stratified Random Sampling digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional.
d. Cluster Sampling (Area Sampling)
Cluster Sampling (Area Sampling) juga cluster random sampling. Teknik pengambilan sampel ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu atau cluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas.
Kelemahan teknik pengambilan sampel ini dapat dilihat dari tingkat error samplingnya. Jika lebih banyak di bandingkan dengan pengambilan sampel berdasarkan strata karena sangat sulit memperoleh cluster yang benar-benar sama tingkat heterogenitasnya dengan cluster yang lain di dalam populasi.
2. Nonprobability sampling
Nonprobability sampling adalah salah satu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Jenis teknik sampling ini antara lain:
a. Sampling Sistematis atau Systematic Sampling
Sampling sistematis adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.
b. Sampling Kuota atau Quota Sampling
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quorum tertentu terhadap kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah jatah terpenuhi, maka pengumpulan data dihentikan.
Teknik ini biasanya digunakan dan didesain untuk penelitian yang menginginkan sedikit sampel dimana setiap kasus dipelajari secara mendalam. Dan bahayanya, jika sampel terlalu sedikit, maka tidak akan dapat mewakili populasi.
c. Sampling Aksidental atau Accidental Sampling
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu sesuai sebagai sumber data.
Dalam teknik sampling aksidental, pengambilan sampel tidak ditetapkan lebih dahulu.
Peneliti langsung saja mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemui.
d. Sampling Purposive
Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling, didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Maka dengan kata lain, unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian atau permasalahan penelitian.
e. Sampling Jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasinya relatif kecil, kurang dari 30 orang. Sampel jenuh disebut juga dengan istilah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
f. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel yang awal mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Dan begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel makin lama makin banyak. Ibaratkan sebuah bola salju yang menggelinding, makin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak
menggunakan sampel purposive dan snowball.
Tujuan Teknik Pengambilan Sampel Apa tujuan utama dari pengambilan sampel?
Tujuan pengambilan sampel menurut ahli adalah (Soegeng dalam Tahir):
1. Mengurangi jumlah objek atau orang yang diteliti, jumlah tenaga yang terlibat, waktu yang diperlukan, dan biaya yang harus dikeluarkan.
2. Membuat simpulan atau ringkasan dari fenomena yang sangat banyak jumlahnya
3. Menonjolkan sifat-sifat umum dari populasi, ciri-ciri khas individual diabaikan. (Soegeng dalam Tahir, 2011:37).
Tujuan pengambilan sampel menurut Sugiarto dalam Martono (2010:75)
1. Apabila kita tidak mungkin mengamati seluruh anggota populasi yang ada, hal tersebut dapat terjadi jika anggota populasi sangat banyak.
2. Pengamatan terhadap seluruh anggota populasi dapat bersifat merusak.
3. Menghemat biaya, waktu dan tenaga yang digunakan.
4. Mampu memberikan suatu informasi yang akurat, lebih menyeluruh dan mendalam (komprehensif). (Martono, 2011:75).
Pemilihan teknik pengambilan sampel harus berdasarkan 2 hal penting yaitu, reliabilitas dan efisiensi. Sampel yang reliable adalah sampel yang memiliki reliabilitas tinggi. Hal tersebut dapat diartikan bahwa semakin kecil kesalahan sampling, reliabilitas sampling semakin rendah. Jika dikaitkan dengan varian nilai statistiknya berlaku kriteria bahwa semakin rendah varian, maka reliabilitas sampel yang diperoleh semakin tinggi pula.
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulann
Variable , Hipotesis, dan Teknik Sampling saling berhubungan dan dibutuhkan dalam sebuah penelitian. Sebuah instrument yang saling berhubungan untuk memudahkan Menyusun sebuah laporan dan agar laporan tersebut akurat. Dalam Statistik.
Statistik mengandung instrument-instrumen seperti Variable, Hipotesis, dan S ampling bertujuan agar semua bersifat jelas dan nyata bukan malah menjadi nomina fiktif yang entah datangnya darimana.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2010. Prosedur penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Hatch, E., dan Farhady, H. 1981. Research Design & Statistics for Applied Linguistics.
Tehran: Rahnama Publications.
Sugiarto, M. 2017. Metodologi Penelitian Bisnis. Yogyakarta: Andi.
Purwanto. 2007. Instrumen Penelitian Sosial dan Pendidikan. Bandung: Alfabeta Sudjarwo dan Basrowi. 2007. Manajemen Penelitian Sosial. Bandung: Mandar Maju Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian.Bndung: Alfabeta
Suharsimi Arikunto.2006.Prosedur Penelitian, Suatu pendekatan Praktik. Jakarta:Rineka Cipta.
Widoyoko, S.E.Putro.2012.Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian.Yogyakarta : Pustaka Pelajar