• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Teori Akomodasi Komunikasi

Bayu Putra

Academic year: 2023

Membagikan "Makalah Teori Akomodasi Komunikasi"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Matakuliah

Kajian dan Pengembangan Teori Komunikasi Dosen Pengampu Dr. Yasir, M.Si

“MAKALAH TEORI AKOMODASI KOMUNIKASI”

Disusun Oleh:

Bayu Putra 2310246550

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS RIAU 2023

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alikum Warahmatullahi Wabarakuh.

Puji syukur penulis sanjungkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, rahmat, karunia, dan hidayah yang di berikan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Teori Akomodasi Komunikasi dengan sebaik-baiknya.

Shalawat dan salam tidak lupa pula penulis ucapkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, dengan mengucapkan “Allahumma shalli ala saidina Muhammad, wa’ala alihisaidini Muhammad”.

Penulis dan penyusun Tugas Teori Akomodasi Komunikasi ini tidak terlepas dengan adanya bantuan dari berbagai pihak yang telah memberikan masukan- masukan kepada penulis sehingga menjadi seperti saat ini. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Dr. Yasir, M. Si, selaku Dosen Pembimbing matakuliah Kajian dan Pengembangan Teori Komunikasi.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari tugas ini, baik dari materi maupun teknik seperti penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman dari penulis. Untuk itu penulis sangat menerima segala bentuk kritik dan saran guna membangun laporan ini agar lebih baik dan dapat memenuhi syarat, serta bermanfaat bagi siapa saja yang membancanya.

Akhir kata penulis ucapkan terimakasi, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pekanbaru, 30 Agustus 2023 Hormat Penulis,

Bayu Putra

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......i

DAFTAR ISI.....ii

BAB I PENDAHULUAN.....1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1.3 Tujan...2

BAB II PEMBAHASAN.....3

2.1 Pengertian Teori Akomodasi Komunikasi...3

2.2 Asumsi dasar mengenai Teori Akomodasi Komunikasi...4

2.3 Tahap dan Proses dari Teori Akomodasi Komunikasi...5

2.4 Hasil Penelitian Terbaru...9

BAB III PENUTUP...11

3.1 Kesimpulan...11 DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa terlepas dari kegiatan komunikasi dan selalu melakukan interaksi dengan orang-orang di sekitarnya (Dyatmika, 2021). Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita amati bahwa terdapat banyak komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang berbeda budaya. Hal ini biasa kita sebut dengan komunikasi antar budaya (Ammaria, 2017).

Komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang berbeda budaya disebabkan karena banyak faktor. Misalkan seperti kebutuhan pemenuhan standart pedidikan, kebutuhan pekerjaan, dan lain sebagainya yang mengharuskan mereka untuk berpindah ke tempat yang baru dan bertemu dengan orang-orang baru yang berbeda budaya. Dalam menjalani kehidupan dengan berbagai budaya, tentu terdapat banyak perbedaan yang membuat proses komunikasi menjadi terhambat.

Perbedaan tersebut anatar lain adalah bahasa, gaya berbicara seperti logat dan kecepatan berbicara, tata cara, baik verbal maupun non verbal. Karakteristik budaya yang berbeda yang dibawa saat keduanya berinteraksi juga dapat menimbulkan konflik (Mulyana & Pengantar, 2003).

Dalam melakukan komunikasi, setiap individu memiliki tujuan tertentu. Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan sosial dengan budaya yang beragam, individu perlu mengetahui cara-cara mengakomodasikan pesan saat berkomunikasi agar komunikasi yang dilakukan menjadi efektif sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai (Edi Harapan & Syarwani Ahmad, 2022).

Dalam permasalahan ini kemudian munculah Communication Accommodation Theory sebagai jawaban dari persoalan akan perbedaan seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain. Dalam teori ini dijelaskan bagaimana orang dapat berkomunikasi dengan identitas yang ada dalam dirinya dengan orang lain yang tentunya memiliki identitas perbeda. Oleh karena itulah disini penulis akan membahas mengenai Teori Komunikasi Akomodasi.

(5)

I.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Teori Akomodasi Komunikasi?

2. Bagaimana asumsi dasar mengenai Teori Akomodasi Komunikasi?

3. Bagaimana tahap dan proses dari Teori Akomodasi Komunikasi?

4. Apa kegunaan dan kelemahan yang ada pada teori tersebut?

5. Mengenal dan Menganalisis fenomena dari Teori Akomodasi Komunikasi I.3 Tujan

1. Mengetahui dan memahami maksud dari Teori Akomodasi Komunikasi.

2. Mengetahui dan memahami asumsi dasar dari Teori Akomodasi Komunikasi.

3. Mengetahui dan memahami bagaimana tahap dan proses dari Akomodasi Komunikasi.

4. Mengetahui dan memahami apa kegunaan dan kelemahan dari Teori Akomodasi Komunikasi.

(6)

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Teori Akomodasi Komunikasi

Pengertian dari Teori Akomodasi merupakan pengembangan dari definisi Speech Accommodation Theory (Giles, Coupland, and Coupland) yang dimana menganggap akomodasi merupakan suatu usaha dari komunikator untuk membuat lebih banyak persamaan dari target yang diajak berbicara untuk dapat mengembangkan komunikasi mereka (Holland & Gentry, 1999).

Merujuk dari Mesick and Mackie (1998) Communication Accommodation Theory merupakan teori utama pada interaksi antara bahasa, komunikasi, dan psikologi sosial yang kemudian digunakan untuk menjelaskan secara luas level dari micro-macro dalam komunikasi (Pfefferman, 1994).

Teori ini semula berkembang sebagai reaksi berlebihan dari peran dan norma dalam perilaku komunikatif (Bat, 1984) Teori ini menekankan pada hubungan interpersonal, motivasi untuk menyatu atau berpisah, dan atribusi yang dibuat oleh teman bicara (Pfefferman, 1994).

Communication Accommodation Theory (CAT) pada mulanya berasal dari Speech Accommodation Theory. CAT pertama berkembang hanya untuk menjelaskan mengenai perilaku berbicara dalam suatu situasi dimana suatu waktu pembicara menjadi lebih mendengar di waktu yang lain (Giles, Mulac, Bradac, &

Johnson, 2012).

Teori Akomodasi Komunikasi berpijak pada premis bahwa ketika seorang pembicara berinteraksi, mereka menyesuaikan pembicaraan, pola vokal, dan serta perilaku mereka untuk mengakomodasi orang lain. Giles dan koleganya berpendapat bahwa pembicara memiliki berbagai alasan untuk mengakomodasikan orang lain.

Teori Akomodasi Komunikasi berawal sejak tahun 1973 dimana ketika itu Giles memperkenalkan pemikirannya mengenai model “mobilitas aksen” yang didasarkan pada berbagai aksen yang dapat didengar dalam situasi wawancara. Akomodasi sendiri diartikan sebagai kemampuan untuk menyesuaikan, memodifikasi, atau mengatur perilaku seseorang dalam responnya terhadap orang lain. Akomodasi biasanya dilakukan secara tidak sadar. Akomodasi diibaratkan seperti bermain kartu

(7)

Rodex dimana kita membutuhkan kartu balasan untuk setiap kartu yang kita keluarkan.

Teori Akomodasi Komunikasi (CAT) ini terbentuk dari penilitian dari bidang ilmu lain yaitu psikologi sosial dan juga didasarkan oleh teori lain yaitu Social Identity Theory (Teori Identitas Sosial).

II.2 Asumsi dasar mengenai Teori Akomodasi Komunikasi

Dari penjelasan mengenai pengertian dari CAT, kemudian terdapat beberapa asumsi yang mendasari dari Teori Akomodasi Komunikasi ini, diantaranya:

1. Persamaan dan Perbedaan Berbicara dan Perilaku Terdapat di Dalam Semua Percakapan.

Pada asumsi pertama ini menjelaskan CAT memiliki keyakinan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan di antara para komunikator dalam sebuah percakapan. Persamaan dan perbedaan ini didasarkan dari pengalaman individu masing-masing yang tentu berbeda. Pengalaman ini sendiri akan menentukan sejauh mana orang dapat berakomodasi dengan orang lain.

Semakin seseorang memiliki kesamaan dengan orang lain, maka dia akan semakin tertarik untuk berkomunikasi dengan orang tersebut.

2. Cara Dimana Kita Memersepsikan Tuturan dan Perilaku Orang Lain Akan Menentukan Bagaimana Kita Mengevaluasi Sebuah Percakapan

Akomodasi Komunikasi merupakan teori yang memfokuskan bagaimana orang mempersepsikan dan mengevaluasi apa yang terjadi dalam sebuah percakapan. Persepsi sendiri merupakan sebuah proses memperhatikan dan menginterpetasikan pesan, sedangkan evaluasi (evaluation) merupakan proses minilai percakapan tersebut (misalnya kemampuan bicara atau bahasa dari lawan bicara) sebelum mereka memutuskan bagaimana mereka akan berperilaku dalam percakapan. Motivasi merupakan kunci dari proses presepsi dan evaluasi dalam Teori Akomodasi komunikasi. Maksudnya, kita dapat mempersepsikan tuturan dan perilaku seseorang tetapi kita tidak selalu mengevaluasinya. Tetapi terkadang kita mempersepsikan kata-kata dan perilaku orang lain yang menyebabkan evaluasi kita terhadap orang tersebut.

Misalnya, ketika kita akan menyapa seseorang dan kemudian bicara tetapi kemudian terkejut ketika mendengar bahwa orang tersebut baru saja putus dari

(8)

kekasihnya. Saat itulah kita memutuskan proses evaluative dan komunikatif kita. Bagaimana kita menanggapi hal tersebut dengan ungkapan bahagia sedih atau dukungan. Kita melakukan ini dengan terlibat dalam suatu gaya komunikasi yang mengakomodasi.

3. Bahasa dan Perilaku Memberikan Informasi Mengenai Status Sosial dan Keanggotaan Kelompok

Secara khusus bahasa memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan status dan keanggotaan kelompok di antara para komunikator dalam sebuah percakapan. Bahasa yang digunakan dalam percakapan, cenderung merefleksikan individu dengan status spsial yang lebih tinggi. Selain itu, keanggotaan kelompok menjadi hal yang penting karena sebagaimana dapat ditarik dari kutipan ini terdapat keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok yang "dominan".

4. Akomodasi Bervariasi dalam Hal Tingkat Kesesuai, dan Norma Mengarahkan Proses Akomodasi

Terakhir, asumsi keempat berfokus pada norma dan isu mengenai kepantasan sosial. Kita telah melihat bahwa akomodasi dapat bervariasi dalam hal kepantasan sosial. Tentu saja, terdapat saat-saat ketika mengakomodasi tidaklah pantas. Misalnya, Melanie-Booth-Butterfield dan Felicia Jordan (1989) menemukan bahwa orang dari budaya yang termginalisasi biasanya mengharapkan untuk mengadaptasi (mengakomodasi) orang lain.

II.3 Tahap dan Proses dari Teori Akomodasi Komunikasi

Teori akomodasi komunikasi menyatakan bahwa dalam percakapan orang memiliki pilihan , yaitu konvergensi, divergensi dan akomodasi berlebihan.

1. Konvergensi (Convergence) : Melebur Pandangan

Proses pertama yang berhubungan dengan teori akomodasi komunikasi ini adalah konvergensi. Giles , Nikolas Coupland dan Justin Coupland (1991) mendefinisikan konvergensi : ‘’ Strategi dimana individu beradaptasi terhadap perilaku komunikatif satu sama lain’’. Konvergensi merupakan proses yang selektif, tidak selalu memilih strategi konvergen dengan orang lain. Ketika orang

(9)

melakukan konvergensi , mereka bertumpu pada persepsi mereka mengenai pembicaraan atau perilaku orang lain.

Selain persepsi yang dihasilkan dari komunikasi terhadap orang lain, konvergensi pun didasarkan pada ketertarikan. Biasanya , para komunikator ini saling tertarik maka mereka akan melakukan konvergensi dalam percakapan mereka. Ketertarikan dalam istilah yang luas dan juga mencakup beberapa karakteristikseperti karisma, kredibilitas dan sebagainya. Giles dan Smith (1979) ada beberapa yang mempengaruhi ketertarikan kita pada orang lain ; misal : kemungkinan adanya interaksi berikutnya dengan pendengar, kemampuan pembicara untuk berkomunikasi, perbedaan status yang dimiliki masing- masing komunikator. Apabila mereka memiliki keyakinan, perilaku, kepribadian yang sama maka akan menyebabkan ketertarikan dan sangat memungkinkan untuk terjadinya sebuah konvergensi.

Contohnya Shobha Pais (1997) menyebutkan bahwa wanita India di Amerika seringkali dianggap aneh karena memakai sari (kain yang disampirkan pada bahu) atau salwar kamezz (celana panjang). Selain itu Charmaine Shutiva mengeluhkan fakta bahwa budaya orang Indian Ameriaka sering disala persepsikan sebagai budaya yang dingin dan tidak memiliki emosi, padahal kenyataanya budaya ini melibatkan banyak humor dan kegembiraan. Contoh ini menunjukkan bahwa banyak dari kelompok budaya yang terus distereotipkan.

Dalam hal ini persepsi stereotip dapat mempengaruhi sejauh mana seseorang akan melakuka konvergensi.

2. Divergensi (Divergence) : Hidup Perbedaan

Divergensi merupakan salah satu cara beradaptasi dalam akomodasi komunikasi. Divergensi adalah strategi yang digunakan untuk menonjolkan perbedaan verbal dan nonverbal di antara para komunikator. Divergensi terjadi ketika tidak terdapat usaha untuk menunjukkan persamaan antara para pembicara. Mereka berkomunikasi tanpa adanya kekhawatiran dalam mengakomodasikan pesan antara yang satu dengan yang lain Namun dalam hal ini, divergensi bukan berarti tidak mempedulikan lawan bicara. Ketika melakukan divergensi, mereka memutuskan untuk mendisosiasikan diri mereka dari komunikator dan percakapan.

(10)

Terdapat beberapa alasan mengapa orang melakukan divergensi:

1) Alasan pertama adalah untuk mempertahankan identitas sosial.

2) Alasan kedua mengapa orang melakukan divergensi adalah berkaitan dengan kekuasaan dan perbedaan peranan dalam percakapan.

3) Alasan ketiga terjadinya divergensi adalah karena lawan bicara dalam percakapan dipandang sebagai anggota kelompok yang tidak diinginkan, dianggap memiliki sikap-sikap yang tidak menyenangkan, atau menunjukkan penampilan yang jelek.

Contohnya dalam pertemanan tentu ada satu atau beberapa orang yang kita tidak sukai baik perilaku maupun penampilannya. Ketika kita bertemu dengan teman kita tersebut, cara kita merespon ketika dia sedang mencoba berbicara pada kita tentu akan berbeda atau kontras dengan apa yang dia sampaikan.

Misalnya dengan menjawab dengan kalimat yang seadanya tiap dia bertanya.

Bersikap layaknya mengacuhkan atau memberi batasan kepadanya untuk berkomunikasi dengan kita.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa divergensi akan terjadi karena seseorang ingin mempertahankan identitas sosial, ingin menunjukkan bahwa yang lainnya kurang berkuasa, dan divergensi juga merupakan cara untuk mengomunikasikan nilai sebagaimana dikemukakan oleh asumsi ketiga bahwa bahasa dan perilaku seringkali mengomunikasikan status

3. Akomodasi Belebihan (Overaccommodation) : Miss Communication dengan Tujuan

Merupakan lebel yang diberikan kepada penutur yang dianggap terlalu berlebihan, istilah ini diberikan kepaa orngyang bertindak berdasarkan niat yang baik justru dianggap merendahkan. Akomodasi berlebihan terjadi dalam tiga bentuk :

1) Pertama komodasi berlebihan sensoris (Sensory Over Accommodation) bentuk pertama ini terjai ketika seseorang berlebihan ingin mengadaptasi pada lawan bicara yang dianggap memiliki keterbatasan Bahasa dan fisik.

Contohnya adalah pada saat kita berkomunikasi dengan seorang lansia

(11)

permasalahan baru-baru ini,karena kita menganggap bahwa jika kita berbicara tentang masalah yang sudah dulu,seorang lansia tersebut tidak akan mengerti atau orang tersebut sudah lupa karena pikun (permasalahan fisik). Ini akan membuat seorang lansia tersebut tampak lebih tidak kompeten dibandingkan yang sebenarnya.

2) Akomodasi berlebihan ketergantungan (Dependenci Over Accommodation) yang teradi ketika seseorang secara sadar atau tidak menempatkan lawan bicara pada peran yang lebih rendah sehingga lawan bicara erlihat seperti tergantung pada sifat tersebut. Lawan bicara juga meyakini bahwa penutur juga memiliki control atas percakapn sehingga menunjukkan status peran yang lebih tinggi.

Contohnya adalah saat mahasiswa lama berkomunikasi dengan mahasiswa baru. Mahasiswa lama menjelaskan tentang kehidupan kampus.

Para mahasiswa baru mungkin akan merasa bahwa cukup tergantung ke mahsiswa lama,karena mereka adalah mahasiswa baru dalam kehidupan kampus yang tidak faham dengan peraturan,norma,nilai yang terdapat di kampus,sehingga para mahasiswa baru ini mungkin akan cukup tergantung dengan apa yang dibicarakan mahasiswa lama tersebut. Persepsi mengenai mereka semakin dapat dipastikan.

3) Akomodasi berlebihan antar kelompok (Intergroup Over Accommodation) Tipe ini melibatkan penutur dan lawan bicara yang berlebihan sehingga gagal dalam mendekati setiap orang sebagiindividu. Inti dari akomodai ini adalah muncul nya stereotype dan pada akhirnya akan membuat jarak semakin jauh antara para pelakukomunikasi. Akomodasi berlebihan akan menyebabkan pendengar memberkan persepsi bahwa diri mereka tdak setara. Ada beberapa implikasi yang serius dari akomodasi berlebihan, yaitu kehilangan motivasi untuk memahami Bahasa lawanbicara secara mendalam, membentuk sikap negative terahdap penutu dan masyarakat, dan menghindaripercakapan. Jika salah satu tujuan komunikasi mecapai salah satu makna yang diinginkan maka akomodasi berlebihan akan menjadi pengalang yang signifikan bagi tujuan tersebut (zuengler).

Contohnya adalah ketika kita sebagai anak dari malang,bertemu dengan teman baru yang berasal dari Jakarta. Kita kemudian beranggapan bahwa anak Jakarta ini borjuis dan susah untuk di ajak susah. Anggapan seperti ini

(12)

akhirnya menimbulkan reaksi atau akomodasi negative dari anak Jakarta,misalnya menghindari untuk bercakap dengan anak Malang.

II.4 Hasil Penelitian Terbaru

No Judul Penelitian Nama Peneliti Kesimpulan

1

Strategi Adaptasi Komunikasi dalam menghadapi Gegar Budaya Mahasiswa Asal Jawa di Universitas Sam Ratulangi

(Sam, Manado, &

Bahu, 2023)

Kesimpulan penelitian ini untuk menjawab strategi adaptasi komunikasi dalam menghadapi gegar budaya mahasiswa asal Jawa di Universitas Sam Ratulangi. 1.

Motivasi adalah istilah yang berasal dari kata latin “movere” kata ini berarti dorongan atau menggerakan. 2. Bagi mahasiswa asal Jawa, perbedaan kosakata, makna kata, inronasi, pola komunikasi menjadi penghambat dalam berkomunikasi. 3. Strategi adaptasi komunikasi yang diakukan oleh mahasiswa asal Jawa di Universitas Sam Ratulangi.

2

Adaptation Strategy to Speak Sundanese as Intercultural

Communication In Padjadjaran University (SINTA 4)

(Muhamad Rafi Said Pratama &

Dirgantara, 2022)

Penelitian ini dapat disimpulkan dari ketiga informan yang mereka gunakan strategi yang sama yaitu konvergensi. Dan alasannya hampir sama. Yakni beradaptasi dan berbaur dengan masyarakat lokal. Karena ketika kita berada di negara yang memiliki budaya berbeda, hal terbaik yang harus dilakukan adalah menghormati penduduk setempat dan mendapatkan rasa hormat serta simpati mereka adalah dengan mempelajari budaya mereka. Bisa dari bahasanya, cara mereka berperilaku, cara mereka berbicara, cara menyiasatinya.

3 Strategi Akomodasi Komunikasi dalam Proses Pembelajaran Secara Daring Selama Masa Pandemi Covid-19

(Rahardaya &

Irwansyah, 2021)

Dalam kegiatan belajar mengajar selama pandemi Covid-19, membuat para pengajar memikirkan strategi yang tepat untuk digunakan agar proses kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan metode wawancara, para pengajar mayoritas menggunakan strategi konvergensi dengan melakukan penyesuaian cara belajar, cara penyampaian

(13)

pesan, dan cara akomodasi komunikasi terhadap siswa. Selain itu, terdapat pula strategi lain dan dampak yang dirasakan oleh perserta didik akibat perubahan metode pembelajaran yang semula tatap muka namun menjadi pembelajaran daring. Hal tersebut menyebabkan, murid cenderung sulit mengerti mengenai materi yang diajarkan dan cenderung pasif dalam berinteraksi serta menanggapi guru ketika pembelajaran berlangsung.

4

Adaptasi Budaya Mahasiswa Asal Indonesia di Australia (SINTA 3)

(Soemantri, 2019)

dapat disimpulkan bahwa adaptasi budaya yang dilakukan oleh mahasiswa asal Indonesia di Australia lebih mudah untuk dilalui dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan era globalisasi. Mahasiswa asal Indonesia dapat melakukan persiapan yang matang, sehingga saat melakukan proses adaptasi jarang ditemui perasaan putus asa dan depresi karena kesulitan dalam menyesuaikan dengan budaya baru.

(14)

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Communication Accommodation Theory (CAT) merupakan pengembangan dari Speech Accomodation Theory. Teori Akomodasi Komunikasi berpijak pada premis bahwa ketika seorang pembicara berinteraksi, mereka menyesuaikan pembicaraan, pola vokal, dan serta perilaku mereka untuk mengakomodasi orang lain. Giles dan koleganya berpendapat bahwa pembicara memiliki berbagai alasan untuk mengakomodasikan orang lain. Akomodasi sendiri berarti sebagai kemampuan untuk menyesuaikan, memodifikasi, atau mengatur perilaku seseorang dalam responnya terhadap orang lain. Dalam Teori Akomodasi terdapat dua teori lagi yang menjadi dasar dari adanya teori ini yaitu Social Psychology dan Social Identity Theory.

Teori Akomodasi Komunikasi didasarkan pada banyak prinsip dan konsep yang sama dengan Teori. Teori Akomodasi Komunikasi memiliki empat asumsi diantaranya : persamaan dan perbedaan berbicara dan perilaku terdapat di dalam semua percakapan, cara dimana kita memersepsikan tuturan dan perilaku orang lain akan menentukan bagaimana kita mengevaluasi sebuah percakapan, bahasa dan perilaku memberikan informasi mengenai status sosial dan keanggotaan kelompok, dan akomodasi bervariasi dalam hal tingkat kesesuai, dan norma mengarahkan proses akomodasi. Dalam Teori Akomodasi Komunikasi terdapat tiga cara beradaptasi yaitu: konvergensi, divergensi, dan akomodasi berlebihan.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Ammaria, H. (2017). Komunikasi Dan Budaya. Jurnal Peurawi: Media Kajian Komunikasi Islam, 1(1).

Dyatmika, T. (2021). Ilmu komunikasi. Zahir Publishing.

Edi Harapan, D. M. P., & Syarwani Ahmad, D. M. M. D. (2022). Komunikasi Antarpribadi: Perilaku Insani Dalam Organisasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada. Retrieved from https://books.google.co.id/books?id=0955EAAAQBAJ Giles, H., Mulac, A., Bradac, J. J., & Johnson, P. (2012). Speech accommodation

theory: The first decade and beyond. In Communication yearbook 10 (pp. 13–

48). Routledge.

Holland, J., & Gentry, J. W. (1999). Ethnic consumer reaction to targeted marketing:

A theory of intercultural accommodation. Journal of Advertising, 28(1), 65–77.

Muhamad Rafi Said Pratama, & Dirgantara, P. (2022). Adaptation Strategy to Speak Sundanese as Intercultural Communication In Padjadjaran University. Medium, 9(2), 321–331. https://doi.org/10.25299/medium.2021.vol9(2).10199

Mulyana, D., & Pengantar, I. K. S. (2003). Komunikasi Antar Budaya. Sc (Editor), Komunikasi Antarbudaya, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Pfefferman, R. (1994). Accommodation in small groups: patterns and consequences of adjustments in group member communication style over time. University of Southern California.

Rahardaya, A. K., & Irwansyah, I. (2021). Strategi Akomodasi Komunikasi dalam Proses Pembelajaran Secara Daring Selama Masa Pandemi Covid-19. Jurnal

Lensa Mutiara Komunikasi, 5(1), 110–122.

https://doi.org/10.51544/jlmk.v5i1.1662

Sam, U., Manado, R., & Bahu, J. K. (2023). Strategi Adaptasi Komunikasi dalam menghadapi Gegar Budaya Mahasiswa Asal Jawa di Universitas Sam Ratulangi. 5, 1–6.

Soemantri, N. P. (2019). Adaptasi Budaya Mahasiswa Asal Indonesia di Australia.

46–56.

Referensi

Dokumen terkait