Muh Aksan Putra Awal. 2021. Maksim Santunan Dalam Tindak Pidato Remaja Di Romang Lompoa Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa. Tesis, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk tuturan remaja sebagai realisasi tindak tutur yaitu maksim kesantunan menurut Geoffrey Leech yang tertuang dalam rapat pendiri panitia turnamen sepak bola. Setiap pembelajar tindak tutur bertanggung jawab atas tindakan dan penyimpangan kaidah bahasa dalam interaksi berbahasa (Allan v Putu, 1996).
Pernyataan Allan yang berbunyi “setiap partisipan dalam suatu tindak tutur bertanggung jawab atas tindakan dan penyimpangan kaidah kebahasaan dalam interaksi kebahasaan…” menggambarkan bahwa sering terjadi penyimpangan kaidah kebahasaan. Menurut peneliti, penelitian yang mengkaji maksim kesantunan tindak tutur masyarakat sangat tepat, karena sebagai mahasiswa program pendidikan bahasa dan sastra Indonesia perlu mengetahui ilmu linguistik, salah satunya pragmatik. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penulis mencoba menyelidiki dan menganalisis penyimpangan prinsip kesantunan pada kategori maksim hormat dan maksim kesederhanaan dalam percakapan remaja Romang Lompoa.
Rumusan Masalah
Dalam keadaan darurat, misalnya seseorang yang berusaha menyelamatkan diri karena tenggelam, tentu saja akan memilih bentuk tuturan yang pertama. Akan sangat aneh jika seseorang yang sedang tenggelam di kolam renang meminta pertolongan dengan menggunakan ucapan kedua. Demikian pula, seseorang yang meminta bantuan sebaiknya tidak mengucapkan kalimat pertama dengan suara dan intonasi yang sama.
Percakapan remaja yang menjadi bahan analisis saya adalah Maksim Santun dalam Tindak Tutur Remaja Romang Lompoa Kecamatan Bonto Marannu Kabupaten Gowa.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Tindak tutur adalah kegiatan melakukan tindak tutur (Rustono. Jenis-jenis tindak tutur antara lain: 1) konstatif dan performatif; 2) lokusi, ilokusi dan perlokusi; 3) representatif, membimbing, ekspresif, memerintah dan menyatakan;. Tindak tutur tersebut dapat digolongkan menjadi lima jenis, yaitu: (a) representatif atau afirmatif, (b) instruktif atau memaksakan, (c) ekspresif atau evaluatif, (d) imperatif, dan (e) deklaratif atau isbati. Tindak tutur representasional adalah tindak tutur yang mengasosiasikan penutur dengan kebenaran sesuatu yang dikatakan.
Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penutur dengan maksud agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan tersebut. Tindak tutur ekspresif merupakan tindak tutur yang diutarakan oleh penutur yang dimaksudkan sebagai evaluasi terhadap hal-hal yang disebutkan dalam tuturan tersebut. Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penutur untuk melakukan sesuatu yang disebutkan dalam tuturannya.
Tindak tutur deklaratif adalah tindak tutur yang penuturnya bermaksud untuk menciptakan suatu hal baru (status, situasi, dan sebagainya). Selain itu, tindak tutur dapat dibedakan menjadi tindak tutur literal dan tindak tutur non-literal.
Kerangka Pikir
Terkadang tutur kata menjadi tidak sopan karena penutur sengaja ingin menyudutkan lawan bicaranya dan membuatnya tidak berdaya.
Pragmatik Pragmatik
Lokusi 2. Ilkusi
Hal ini sejalan dengan pernyataan Sukmadinata (2009:72) yang mengatakan bahwa penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan atau mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada. Lebih lanjut metode penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang sistematis, faktual dan tepat mengenai data, ciri-ciri dan hubungan fenomena yang diteliti sesuai dengan sifat data itu sendiri dalam Djajasudarma (2012:16). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan cara berbahasa remaja di Desa Romang Lompoa Kecamatan Bonto Marannu Kabupaten Gowa.
Penelitian kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala sebagaimana adanya pada saat penelitian dilakukan.
Data dan Sumber Data
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
Relevansi
Ini merupakan studi kasus yang dilakukan peneliti dimana peneliti harus terjun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data penelitian sebagai cerminan pelanggaran dan kepatuhan terhadap teori Leech yaitu maksim kesantunan. Akan menarik untuk mengetahui apakah pidato remaja yang terjadi dalam pertemuan tersebut lebih mematuhi enam maksim kesopanan Leech daripada yang ditemukan dalam tinjauan literatur, atau mungkin sebaliknya. Perlu dipahami bahwa baik mematuhi maupun melanggar enam maksim kesantunan dalam berinteraksi atau berkomunikasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keselarasan komunikasi.
Hasil Penelitian
Terkadang bahasa yang sangat berperan penting dalam interaksi agar apa yang disampaikan dapat diterima oleh lawan bicaranya akan menyulitkan penuturnya untuk mencapai hal tersebut, karena mengabaikan prinsip kesantunan berbahasa yang menurut Leech berkaitan dengan hal tersebut. dengan hubungan antara lawan bicara. dua orang partisipan dalam tuturan, yang disebut dirinya sendiri atau pembicara dan orang lain atau lawan bicaranya. Yang terbaik adalah ketika berinteraksi dalam forum pertemuan, Anda harus selalu bersikap bijaksana, penuh hormat, murah hati dan rendah hati, merasa cocok dan bersimpati terhadap orang lain. Dari penelitian yang dilakukan suatu hari di ruang konferensi, peneliti menemukan tuturan remaja yang melanggar prinsip kesantunan. Di bawah ini peneliti akan menyajikan data penelitian mengenai Maksim Kesantunan, dalam Tindak Tutur Remaja Romang Lompoa Kecamatan Bonto Marannu Kabupaten Gowa yang melanggar dan menaati maksim kesantunan.
Hasil penelitian yang disajikan berdasarkan teori kesantunan Leech dalam bahasa Indonesia dapat diwujudkan dengan berbagai cara. Penelitian ini akan mendeskripsikan pidato berupa statement (pernyataan) dan pertanyaan (question) dalam pertemuan pembentukan panitia turnamen futsal yang akan dilaksanakan di Romang Lompoa, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Dari data yang diperoleh dalam penelitian ditemukan bahwa dalam rapat pembentukan panitia turnamen sepak bola futsal terdapat penyimpangan terhadap prinsip etika berbahasa, baik disengaja maupun tidak disengaja atau adat istiadat dalam berbahasa sehari-hari.
Semua data yang dikumpulkan berdasarkan observasi dan keterlibatan langsung, terdapat beberapa bahasa yang menyimpang dari prinsip etika berbahasa pada saat proses pengumpulan data. Dari sekian banyak percakapan yang didengar peneliti, terbagi atas penyimpangan dari maksim prinsip etiket linguistik. Penyebab terjadinya penyimpangan terhadap prinsip-prinsip etika berbahasa dalam bertutur kata ketika anak berinteraksi antara lain penyimpangan yang disebabkan oleh kesengajaan menuduh penutur, kesengajaan berbicara di luar konteks, tidak memberikan rasa simpati, protektif terhadap pendapat, mendorong emosi penutur, langsung mengkritik dengan menggunakan bahasa. kata-kata kasar dan mengejek.
Tuturan Remaja dalam Pemilihan/penetapan Ketua Panitia
- Tuturan Remaja dalam Penetapan Sekretaris Panitia
- Tuturan Remaja dalam Penetapan Bendahara Panitia
- Analisis Deskriftif Maksim Kesopanan, dalam Tindak Tutur Remaja Romang Lompoa Kecamatan Bonto Marannu Kabupaten Gowa
- Tabel Jumlah Tuturan yang Mematuhi Maksim
- Tabel Jumlah Tuturan yang Melanggar Maksim
Pidato yang diberi warna merah di atas merupakan bentuk pidato yang memenuhi maksim apresiasi, karena ketua rapat meminta ketua panitia terpilih untuk memimpin rapat secara langsung. Pada pidato di atas tercetak jelas merupakan bentuk pidato yang sesuai dengan maksim kesederhanaan, karena ucapan terima kasih selalu diungkapkan kepada para peserta rapat yang tanpa berbangga diri memilihnya sebagai ketua panitia. Pada tuturan di atas tercetak jelas merupakan bentuk tuturan yang mematuhi maksim kesederhanaan, karena berusaha merendahkan diri.
Pada pidato di atas yang diberi warna merah merupakan bentuk pidato yang memenuhi asas musyawarah mufakat karena menyetujui Ardiansyah menjadi sekretaris panitia. Pada pidato di atas yang diberi warna merah merupakan bentuk pidato yang memenuhi maksim apresiasi karena terlebih dahulu menanyakan kesiapan orang yang terpilih menjadi sekretaris panitia. Pada tuturan yang tercetak di atas merupakan tuturan yang memenuhi asas mufakat karena penutur meminta persetujuan peserta tutur yang lain. 03.03).
Dalam pidato di atas, mering tercetak merupakan salah satu bentuk pidato yang menaati maksim hikmah, karena penuturnya meyakini bahwa laki-laki juga bisa memimpin panitia, yang penting untuk mengelola uang. Pada tuturan di atas merupakan tuturan yang memenuhi maksim konsensus karena salah satu penutur sepakat dengan penutur lainnya. Pada tuturan di atas yang diberi warna merah merupakan tuturan yang mematuhi maksim hikmah karena penutur ingin sahabatnya dan orang lain mempunyai kesempatan untuk belajar.
Pada pidato di atas, mering tercetak merupakan salah satu bentuk pidato yang memenuhi proposisi apresiasi karena penutur mempercayakan temannya menjadi bendahara panitia. Dalam pidato yang tercetak di atas merupakan bentuk pidato yang memenuhi asas musyawarah mufakat, karena semua peserta rapat sepakat bahwa Erwin hendaknya menjadi bendahara panitia. Pada pidato di atas, cetakan berwarna merah merupakan salah satu bentuk pidato yang memenuhi proposisi apresiasi karena berusaha memuji lawan bicara.
Pada tuturan di atas tercetak jelas merupakan bentuk tuturan yang mematuhi maksim kesederhanaan karena penuturnya berusaha bersikap rendah hati dan mengatakan bahwa ia masih memerlukan bimbingan orang lain. 03.21). Pada pidato di atas yang dicetak dengan warna merah merupakan pidato yang mematuhi maksim apresiasi karena berusaha memuji lawan bicara. Pada tuturan di atas yang dicetak secara fusion merupakan bentuk tuturan yang mematuhi maksim hikmah karena penutur terlebih dahulu mengulangi hasil rapat sebelum menutup rapat.
Pembahasan
Dengan kata lain, setiap peserta percakapan meminimalkan manfaat bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan manfaat bagi orang lain. Dengan terjalinnya hubungan dengan lawan bicara maka dapat meningkatkan keeratan komunikasi antar peserta pembicaraan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam tuturan siswa SMK Tapango karya Randi Pratama dan tuturan kalangan remaja, penulis menyelidiki kecocokan antara penutur dan mitra tutur.
Pernyataan ini menunjukkan seorang penutur menaati maksim konsensus karena penutur berusaha menciptakan kecocokan antara penutur dan mitra tuturnya. Dengan kata lain, setiap peserta percakapan meminimalkan hinaan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian terhadap orang lain. Lawan bicaranya akan menganggap bahwa penuturnya adalah orang yang baik hati dan penuh rasa hormat terhadap orang lain.
Berbicara dengan sopan juga membuat lawan bicara merasa dihargai dan dihormati, serta dapat mengurangi konflik. Tuturan yang tidak menonjolkan diri artinya penutur tidak mau menyombongkan diri, tidak mau memuji diri sendiri, yang nantinya akan menimbulkan penilaian lawan bicara bahwa penutur mempunyai citra diri yang angkuh atau angkuh dan selalu ingin demikian. dipuji. Strategi untuk membentuk sikap hormat terhadap mitra tutur dengan tidak menunjukkan kekurangan atau kesalahan pembicara.
Menonjolkan kekurangan lawan bicara dapat membuatnya merasa terhina dan terhina, sehingga tindakan tersebut tidak mencerminkan rasa hormat terhadap lawan bicaranya. Sebaliknya dengan tidak menonjolkan kekurangan atau kesalahan penutur, berarti penutur tetap menjaga kehormatan penutur. Ketika lawan bicara sedang berbicara hendaknya penutur mendengarkan dan tidak menyela pembicaraannya, tindakan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap pendapat lawan bicaranya.
Penutur harus berhati-hati dalam memilih kata agar penutur tidak bingung dengan ketidaksepakatan penutur.
Simpulan
Saran
Analisis Maksim Tindak Pidato Anggota Klub Motor di Kabupaten Jember Jember: Universitas Jember.