Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memercikkan setetes dari lautan luas ilmu-Nya sehingga penulisan buku Tata Laksana Lembaga Keagamaan ini dapat diselesaikan. Manusia yang sudah beragama kemudian akan membentuk atau mengikuti lembaga keagamaan tertentu yang dianutnya.
Fungsi manajemen
Oleh karena itu manajemen adalah suatu proses yang dilakukan agar suatu usaha dapat berjalan dengan baik, yang memerlukan perencanaan, pemikiran, bimbingan dan pengelolaan, serta secara efektif dan efisien mendayagunakan segala potensi, pribadi maupun materi yang ada.
Pengertian Lembaga Keagamaan
Pengertian lembaga keagamaan ini tentu mempersatukan seluruh pemeluknya dalam satu komunitas moral yang dilandasi oleh nilai-nilai bersama, dan lembaga keagamaan merupakan lembaga yang sangat penting dalam menyatukan aspirasi manusia yang paling dominan dan paling besar pengaruhnya, dimana jumlahnya sangat banyak. moral, sumber tatanan sosial dan kedamaian batin individu terdapat di dalamnya untuk mewujudkan pribadi manusia yang beradab dalam menunaikan kewajiban sosialnya.
Konsep Lembaga Keagamaan
Hal ini juga dijumpai pada masyarakat Katolik Roma di zaman modern, misalnya di Portugal dan Spanyol. Tipe 3, relatif jarang, misalnya, adalah sekelompok penganut pemisahan agama di Amerika Serikat, yang terpisah dari suasana kegiatan yang terorganisir, hanya menyebarkan literatur keagamaan dan bertemu sesekali.
Pendahuluan
RUANG LINGKUP LEMBAGA KEAGAMAAN
Fungsi lembaga Keagamaan
- Fungsi manifes lembaga keagamaan
- Fungsi laten lembaga Keagamaan
Melalui lembaga keagamaan, setiap masyarakat meyakini bahwa hidupnya akan terselamatkan, baik di dunia maupun di kehidupan selanjutnya. Lembaga keagamaan mampu menyatukan kelompok atau golongan masyarakat yang heterogen baik dari segi budaya, ras dan suku menjadi satu keluarga besar lembaga keagamaan.
Contoh Lembaga Keagamaan
- Islam
- Kristen
- Katolik
- Budha
- Hindu
- Khonghucu
Jenis lembaga keagamaan selanjutnya dalam keyakinan hidup adalah Parisada Hindu Dharma Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan (PHDI). Kementerian Agama (Kemenag) merupakan salah satu contoh lembaga keagamaan yang memberikan kontribusi terhadap peran pendidikan secara umum.
Unsur - unsur dan ciri-ciri lembaga keagamaan,
Saat ini banyak organisasi atau lembaga yang menampung umat beragama untuk menjalankan ibadahnya, seperti KWI, Majelis Taklim, Paroki dan PGI. Seperti pengalaman spiritual orang yang sakit parah yang dokternya telah menjatuhkan hukuman mati, tetapi karena doa orang sakit dan keluarganya, orang sakit itu bisa sembuh.
PERAN LEMBAGA KEAGAMAAN DALAM MEMBINA KEUMATAN
- Peran Lembaga Keagamaan
- Peran Pemerintah Dalam Membina Kerukunan
- Langkah-langkah Yang Dilakukan Agar Negara Damai, Rukun Antar Umat Beragama
- Hambatan Dalam Menciptakan Kerukunan Umat Beragama
- Solusi Masalah Kerukunan Antar Umat Beragama
Menciptakan suasana kehidupan beragama yang kondusif untuk memperkokoh pendalaman dan penghayatan iman dan pengakuan, yang mendukung berkembangnya kerukunan intern dan antar umat beragama. Fungsi forum musyawarah antaragama harus diperkuat untuk menjembatani kerukunan antarumat beragama.
OPTIMALISASI PERAN TOKOH AGAMA DALAM MENINGKATKAN KESADARAN
Keterlibatan tokoh agama karena tokoh agama pada hakekatnya memiliki dua fungsi keagamaan yang agak sentral, yaitu fungsi memelihara dan mengembangkan ajaran agama. Karena fungsi pemeliharaan inilah maka para pemuka agama akan selalu mengajarkan umatnya untuk melakukan ritual keagamaan dengan benar dan berperilaku sesuai dengan ajarannya.
UMAT BERAGAMA
Pengertian Status, Peran dan Tokoh Agama
Peran penting di sini karena pemuka agama dalam stratifikasi atau struktur sosial menempati posisi atau status pemimpin (informal) dalam urusan sosial keagamaan tanpa perlu prosesi pengangkatan. Peran di sini lahir dari kedudukan atau status seorang pemuka agama atau seseorang dalam struktur sosialnya. Dalam analisis Kartini Kartono, pemuka agama dapat dikategorikan sebagai pemimpin informal yang tidak memerlukan penunjukan formal, namun karena jangkauan sifat-sifat unggul yang dimilikinya, mereka mencapai posisi orang-orang yang mampu mempengaruhi keadaan psikologis dan perilaku kelompok. atau. perusahaan.
Dalam hal ini, sebagai pemimpin informal, pemimpin agama didasarkan pada penerimaan atau pengakuan dan kepercayaan masyarakat. Pemuka agama katolik, dalam bahasa Indonesia disebut sebagai romo atau pendeta, padri atau bapa.
Konsep Kerukunan Umat Beragama
Jadi kerukunan hidup beragama dapat diartikan sebagai hidup rukun dalam suasana yang baik dan damai, bukan sebagai perang antar umat beragama. Jadi kerukunan yang diperlukan oleh semua umat beragama adalah kerukunan hakiki, bukan kerukunan semu, melainkan kerukunan murni yang bernilai dan berharga tinggi serta bebas dari pengaruh dan kemunafikan apapun yang berdasarkan dan diilhami oleh ajaran agama apapun. Adapun konsep kerukunan umat beragama yang resmi digunakan oleh pemerintah meliputi tiga kerukunan, yaitu kerukunan internal umat beragama, kerukunan antarumat beragama, dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah.
Tentu saja, kerukunan hidup beragama tidak sekedar menciptakan situasi dimana tidak ada konflik antar umat beragama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah. Saling menghargai dan bekerjasama antar pemeluk agama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah yang sama-sama bertanggung jawab dalam membangun bangsa dan negara.
Konsep Konflik Umat Beragama
Konflik agama merupakan bagian dari berbagai jenis konflik yang terjadi dalam konteks Indonesia. Konflik yang kerap mewarnai dinamika kehidupan beragama di Indonesia sejak awal Orde Baru hingga Reformasi adalah persoalan perjumpaan Islam dan Kristen/Katolik yang dinamis dan fluktuatif. Lebih lanjut dikemukakan bahwa konflik antar umat beragama atau konflik bernuansa agama yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor seperti paham keagamaan yang literal dan radikal, kepentingan politik dan ekonomi, pendirian tempat ibadah, siaran keagamaan, kesalahpahaman informasi antar pemeluk agama. agama. , penegakan hukum yang tidak efektif dan juga kurangnya pengembangan dini dari sistem pencegahan konflik.
Hal ini menegaskan bahwa konflik dengan orang yang berbeda agama yang terjadi di Indonesia bukan disebabkan. Sedangkan konflik yang disebabkan oleh faktor agama terkait dengan konstruksi objek kultus dan transmisi agama, serta masalah lain yang terkait dengan masalah dan simbol agama.
Kesadaran Beragama
Kesadaran beragama meliputi perasaan keagamaan, pengalaman ketuhanan, keyakinan, sikap dan perilaku keagamaan yang tertata dalam sistem mental kepribadian. Dalam kehidupan sehari-hari, aspek-aspek tersebut sulit dipisahkan, karena merupakan sistem kesadaran beragama yang utuh dalam diri seseorang. Dalam kesadaran religius dan pengalaman religius menggambarkan sisi batin seseorang yang terhubung dengan sesuatu yang sakral dan dunia yang tidak terlihat.
Faktor usia, individu yang memasuki masa remaja dan dewasa akan memiliki rasa kesadaran beragama yang tinggi, karena ketika memasuki usia tersebut biasanya individu tersebut memiliki semangat yang sangat besar untuk mencari nilai-nilai kebenaran agamanya. Faktor jenis kelamin, individu yang berjenis kelamin laki-laki lebih memiliki rasa kesadaran beragama dibandingkan dengan perempuan.
Aspek-aspek Kesadaran Beragama
- Aspek Kesadaran
- Dimensi Keagamaan
- Aspek-aspek kesadaran keagamaan a. Aspek afektif dan konatif
Maka berhubung dengan sesuatu yang suci, ia dapat membangkitkan kekuatan akal, yang kemudiannya mereka menghargai dan meyakini bahawa ada sesuatu yang objeknya suci, untuk dijadikan tempat dan tujuan pengabdian diri. Kesedaran ini timbul hasil daripada luahan perasaan, sikap dan perhubungan antara manusia dan sesuatu yang dianggap suci. Kesedaran juga boleh timbul melalui eksperimen di mana penghayatan dan pengalaman agama dapat dilakukan dengan baik setelah seseorang yang beragama melihat dan mengiktiraf kebenaran agama sebagai sesuatu yang penting dalam hidupnya iaitu seseorang itu akan merasai kedamaian dan ketenteraman dalam hidupnya setelah mereka dekat. pada sesuatu yang bertawakal kepada-Nya (Allah SWT) dan mengembalikan segala masalah yang dihadapinya kepada-Nya hanya dari seorang yang tidak mengenal agama.
Ketiga, akidah yang berkaitan dengan jalan terbaik untuk mencapai tujuan ketuhanan, seperti umat Islam hendaklah meyakini bahawa untuk melaksanakan amal soleh, mereka hendaklah mengamalkan pengabdian kepada Allah SWT dan berbakti kepada sesama manusia. Dimensi pengalaman adalah berkaitan dengan perasaan keagamaan yang dialami oleh penganut agama atau boleh dianggap sebagai pengalaman keagamaan dalam psikologi.
AGAMA SEBAGAI PEREKAT SOSIAL PADA MASYARAKAT MULTIKULTURAL
Agama dalam Berbagai Perspektif
Agama merupakan fenomena universal yang selalu berkaitan dengan manusia, oleh karena itu kajian agama akan selalu terus berkembang dan tetap menjadi kajian penting seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Seiring dengan perkembangan ilmu agama, telah banyak definisi agama yang dikemukakan oleh para ahli teori agama, namun belum ada kesepakatan di antara mereka. Atau dengan kata lain, agama adalah suatu sistem kepercayaan dan peribadatan yang digunakan oleh berbagai bangsa dalam perjuangannya untuk mengatasi masalah tertinggi dalam kehidupan manusia.
Menurutnya, agama merupakan ekspresi dari suatu bentuk ketergantungan terhadap kekuatan di luar diri kita, yaitu kekuatan yang dapat dikatakan sebagai kekuatan spiritual atau moral. Menurutnya, agama adalah seperangkat keyakinan dan praktik yang terkait dengan sesuatu yang sakral, yaitu sesuatu yang dikesampingkan dan dilarang - keyakinan dan praktik yang menyatukan komunitas moral tunggal - semua orang yang tunduk padanya.
Peran Agama Pada Masyarakat Multikultural
Konsep ini didasarkan pada asumsi bahwa kelompok etnis yang berbeda satu sama lain harus didorong untuk mengembangkan sistem budayanya sendiri secara bersama-sama sehingga dapat memperkaya kehidupan masyarakatnya yang majemuk. Konsep di atas menggambarkan bahwa dalam masyarakat yang majemuk perlu adanya ruang asimilasi antar suku yang berbeda dengan latar belakang budaya yang berbeda. Dalam peran ini, agama telah membantu menciptakan sistem nilai sosial yang kohesif dan utuh.
Dalam perspektif teori struktural-fungsional, masyarakat dengan demikian dipahami sebagai suatu sistem sosial yang terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling berhubungan dan bersatu dalam keseimbangan, perubahan yang terjadi pada satu bagian akan menyebabkan perubahan pada bagian lainnya. Agama merupakan salah satu subsistem sosial dalam masyarakat, tentunya agama dalam konteks ini memiliki peran penting dalam masyarakat.
Agama Sebagai Komoditas
Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa kedekatan agama menjadi salah satu faktor dominan dalam mempererat hubungan antar kelompok sosial. Potensi agama sebagai kekuatan negosiasi untuk mendirikan negara diperkuat oleh legitimasi konflik agama dan nasionalisme. Sejarah mencatat, sidang konstitusi pada 1950-an gagal mencapai kesepakatan karena elit politik menjadikan agama sebagai komoditas kepentingan, sehingga rumusan agenda nasional gagal terwujud.
Kita bisa mengambil kisah bagaimana Kahar Muzakar, Daud Bareureuh, Kartosuwiryo mampu mengemas agama sebagai perekat negara. Banyak sarjana melihat munculnya dan berkembangnya sekte-sekte keagamaan sebagai akibat dari ketidaktahuan para pengikutnya terhadap ajaran Islam dan berbagai aspeknya.
DINAMIKA ALIRAN KEAGAMAAN
- Aliran Keagamaan: Sebuah Gejala Fragmentasi Otoritas Keagamaan
- Aliran Keagamaan: Sebagai Akibat Rendahnya Pengetahuan Agama
- Munculnya Aliran Keagamaan Sebagai Dampak Kollapsnya Lembaga Keagamaan
- Kementerian Agama
- Majelis Ulama Indonesia (MUI)
- Organisasi sosial keagamaan
- Peran Lembaga Keagamaan Dalam Menangani Perkembangan Aliran Keagamaan
Rendahnya pemahaman keberagamaan masyarakat muslim Indonesia, khususnya yang menjadi pengikut salah satu sekte aliran keagamaan, juga dipengaruhi oleh rendahnya peran lembaga keagamaan. Oleh karena itu, untuk memprediksi perkembangan sekte-sekte keagamaan perlu dilakukan upaya pada dua level sekaligus, yaitu pada level akademik dan itu. Pada tataran teoretis-akademik, sejumlah upaya telah dilakukan para ulama untuk mengatasi perkembangan sekte-sekte keagamaan.
Dalam tataran praktis, upaya membendung penyebaran aliran-aliran agama sempalan merupakan pemahaman terhadap realitas masyarakat di mana ajaran-ajaran tersebut berkembang. Dalam menghadapi perpecahan sekte-sekte keagamaan tersebut, peran lembaga keagamaan, khususnya perguruan tinggi Islam menempati posisi yang strategis dan menentukan.
AGAMA DAN ORGANISASI KEAGAMAAN
Pengertian Agama
Ensiklopedi Islam Indonesia menyebutkan bahwa religi berasal dari kata Sanskerta yang pada mulanya diimpor ke Indonesia sebagai nama kitab suci golongan Hindu Siwa (kitab suci mereka disebut 'Agama'). Kata tersebut kemudian dikenal luas di masyarakat Indonesia, namun dalam pemakaiannya saat ini tidak mengacu pada kitab suci, melainkan dipahami sebagai sejenis nama untuk suatu kepercayaan hidup tertentu yang dianut masyarakat, seperti kata dharma (juga berasal dari dari bahasa Sanskerta) ). Terlepas dari masalah pendapat mana yang benar, umat beragama pada umumnya menganggap agama sebagai pandangan hidup yang dijaga dan diwariskan oleh umat secara turun-temurun, agar kehidupannya tertib, damai dan tidak semrawut.
Pengertian Organisasi Keagamaan
Pola Keagamaan
Organisasi keagamaan tidak dapat dipisahkan dari semua kegiatan masyarakat lainnya, terkait dengan kegiatan ekonomi, politik, keluarga, rekreasi, dll. Fungsi agama dalam masyarakat model kedua ini lebih kompleks dibandingkan dengan masyarakat model pertama. Agama tetap memberikan arti penting bagi sistem nilai masyarakat, namun terkadang menimbulkan konflik sosial dalam masyarakat.
Dalam model masyarakat yang kedua ini juga tidak dapat dihindarkan adanya konflik kepentingan antara organisasi keagamaan dan politik. Meski pengaruh organisasi keagamaan melemah, nilai-nilai fundamental dan universal keagamaan tetap bertahan dan berkontribusi pada kohesi masyarakat.
Tipologi Sikap Beragama
- Eksklusivisme
- Inklusivisme
- Pluralisme Atau Paralelisme
- Eklektivisme
- Universalisme
Posisi ini menjadi pandangan dominan dari masa ke masa, dan terus dipertahankan hingga saat ini. Kedua, jika posisi ini menerima berbagai ekspresi 'kebenaran agama' untuk merangkul bahkan sistem pemikiran yang paling bertentangan sekalipun, terpaksa membuat kebenaran menjadi relatif murni. Pertama, posisi ini tampaknya bertentangan dengan pengalaman sejarah bahwa tradisi agama dan manusia yang berbeda biasanya muncul dari saling campur tangan, pengaruh dan pemupukan.
Kedua, kedudukan ini dengan tergesa-gesa menganggap bahawa setiap tradisi manusia mengandungi di dalam dirinya semua elemen untuk pertumbuhan dan pembangunan. Menurut orang Islam pluralis (seperti Schuon dan Hossein Nasr), setiap agama pada asasnya distrukturkan oleh dua perkara: "perumusan iman" dan "pengalaman iman."